BAB IV RESPON MASYARAKAT TERHADAP EKSISTENSI
B. Respon Pemerintah Indonesia Terhadap Ajaran-Ajaran
Ajaran-ajaran atau teologi Jemaat Ahmadiyah tidak bisa dipungkiri lagi telah membuat masyarakat resah dan memberontak, entah itu memberontak secara anarkis dengan menghancurkan masjid-masjid serta menyerang oknum Ahmadiyah atau mereka memberontak secara akademis seperti dengan membuat sebuah karya buku yang isinya menjelaskan dengan gamblang kesesatan Ahmadiyah.
Atas dasar desakan dari masyarakat yang resah dengan penyebaran ajaran-ajaran Jemaat Ahmadiyah di Indonesia maka pihak pemerintahan membuat tindakan atau respon terhadap ajaran-ajaran serta aktivitas kegiatan Jemaat Ahmadiyah. Respon itu muncul dari pihak-pihak pemerintahan sebagai berikut: 1. Fatwa Sesat oleh Majlis Ulama Indonesia (MUI)
Fatwa MUI mengenai Jemaat Ahmadiyah Qadiyan pada tahun 1980 M yang berbunyi sebagai berikut:7
6
Majelis Ulama Indonesia dalam Musyawarah Nasional II tanggal 11-17 Rajab 1400 H/ 26 Mei -1 Juli 1980 M di Jakarta menfatwakan tentang Jemaat Ahmadiyah sebagai berikut:
1. Sesuai dengan data dan fakta yang diketemukan 9 (Sembilan) buah buku Jemaah Ahmadiyah, Majelis Ulama Indonesia memfatwakan bahwah Ahmadiyah adalah Jemaah di luar Islam, sesat dan menyesatkan.
2. Dalam menghadapi persoalan Ahmadiyah hendaknya Majelis Ulama Indonesia selalu berhubungan dengan Pemerintah.
Fatwa MUI itu kemudian dipertegas pada tahun 2005 M dalam Musyawarah Nasional MUI VII, pada 19-22 Jumadil Akhir 1426 H / 26-29 Juli 2005 M. yang keputusannya adalah sebagai berikut:8
Dengan bertawakal kepada Allah SWT, MEMUTUSKAN
MENETAPKAN: FATWA TENTANG ALIRAN AHMADIYAH 1. Menegaskan kembali fatwa MUI dalam Munas II Tahun 1980 yang
menetapkan bahwa Aliran Ahmadiyah berada di luar Islam, sesat dan menyesatkan, serta orang Islam yang mengikutinya adalah murtad (keluar dari Islam).
2. Bagi mereka yang terlanjur mengikuti Aliran Jemaat Ahmadiyah supaya segera kembali kepada ajaran Islam yang hak (ruju’ ila al-haqq), yang sejalan dengan Al-Qur’an dan Al-Hadis.
3. Pemerintah berkewajiban untuk melarang penyebaran paham Ahmadiyah di seluruh Indonesia dan membekukan organisasi serta menutup semua tempat kegiatannya.
2. Surat Keputusan Bersama Tiga Mentri 2008
Surat Keputusan Bersama Tiga Mentri diterbitkan pada 9 Juni 2008. Surat Keputusan Bersama (SKB) ini muncul setelah rapat Badan Koordinasi Pengawas Aliran Kepercayaan (Bakor Pakem) selesai. Hasil rapat Bakor
7Majlis Ulama Indonesia, Himpunan Fatwa Majelis Ulama Indonesia Sejak 1975 (Jakarta: Erlangga,
2011), 40. 8Ibid., 99.
Pakem tersebut berisi tentang perintah untuk memberikan peringatan keras kepada warga JAI untuk menghentikan kegiatannya. Kegiatan tersebut meliputi penafsiran keagamaan menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama Islam yang dianut di Indonesia.
Hasil dari rapat Bakor Pakem tersebut kemudia disampaikan pada Mentri Agama, Jaksa Agung, dan Mentri Dalam Negeri. Atas dasar rekomendasi hasil rapat Bakor Pakem dan disamping itu kondisi masyarakat yang resah dengan ajaran-ajaran Jemaat Ahmadiyah, maka Surat Keputusan Bersama Tiga Mentri Nomor 3 Tahun 2008 diterbitkan. SKB itu berisi 6 butir, yang isinya sebagai berikut:9
1. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk tidak menceritakan, menganjurkan, dan mengusahakan dukungan umum melakukan penafsiran tentang suatu agama yang dianut di Indonesia atau melakukan kegiatan keagamaan yang menyerupai kegiatan keagamaan dari agama itu yang menyimpang dari pokok-pokok ajaran agama itu.
2. Memberi peringatan dan memerintahkan kepada penganut, anggota, dana tau anggota pengurus JAI sepanjang mengaku beragama Islam untuk menghentikan penyebaran penafsiran dan kegiatan yang menyimpang dari poko-pokok ajaran agam Islam yaitu penyebaran faham yang mengakui adanya Nabi dengan segala ajarannya setelah Nabi Muhammad Shalallahu Ailaihi wa Sallam.
3. Penganut, anggota, dana tau anggota pengurus JAI yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dalam SKB ini dapat dikenai sanksi sesuai ketentuan peraturan perundangan termasuk terhadap organisasi dan badan hukumnya.
4. Memberi perintah dan memerintahkan kepada warga masyarakat untuk menjaga dan memelihara kerukunan umat beragama serta ketentraman
9Aimmatul Alawiyah, “SK Gubernur Nomor 188/94/KPTS/013/2011 Tentang Larangan Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia di Jawa Timur dalam Perspektif External Protection dan Internal Retriction Will Kymlicka” (Skripsi, UIN Sunan Ampel, Fakultas Ushulluddin dan Filsafat, Surabaya, 2015), 38.
dan ketertiban kehidupan masyarakat dengan tidak melakukan perbuatan dana tau tindakan melawan hukum terhadap penganut, anggota dan atau anggota pengurus JAI.
5. Warga masyarakat yang tidak mengindahkan peringatan dan perintah dalam SKB ini dapat dikenai sanksi sesuai dengan ketentuan peraturan perundang-undangan.
6. Memerintahkan kepada aparat pemerintah dan pemerintah daerah untuk melakukan langkan-langkah pembinaan dalam rangka pengamanan dan pengawasan pelaksanaan keputusan bersama ini. 7. Surat Keputusan Gubernur No.188/94/KPTS/013/2011
Pada tanggal 28 pebruari 2011, Gubernur Jawa Timur menerbitkan Surat Keputusan Gubernur No.188/94/KPTS/013/2011 tentang larangan aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia. Tujuan penerbitan Surat Keputusan tersebut adalah untuk melakukan pembatasan terhadap aktivitas Jemaat Ahmadiyah di Jawa Timur yang dianggap mampu membahayakan bagi kondisi kerukunan antar umat beragama di Indonesia, khususnya Jawa Timur.
Terbitnya Surat Keputusan tersebut disebabkan karena beberapa faktor diantaranya fatwa MUI tentang sesatnya Ahmadiyah, kemudian dari perstiwa penyerangan terhadap Jemaat Ahmadiyah di Cikeusik, dan juga yang paling mempengaruhi yakni SKB Tiga Mentri yang diterbitkan pada 9 Juni 2008. Isi dari Surat Keputusan Gubernur No. 188/94/KPTS/013/2011 yang intinya sebagai berikut:10
10 Arsip, Analisis Pelanggaran Kebebasan Beragama/Berkeyakinan dampak Surat Keputusan Gubernur Nomor 188/49/KPTS/013/2011 tentang Pelarangan Aktivitas Ahmadiyah di Jawa Timur, Dokumen CMARs.
PERTAMA :Melarang Aktivitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) yang dapat memicu dan/atau menyebabkan terganggunya keamanan dan ketertiban masyarakat di Jawa Timur.
KEDUA :Larangan sebagaimana dimaksud dalam Diktum PERTAMA antara lain meliputi:
a. Menyebarkan ajaran Ahmadiyah secara lisan, tulisan maupun melalui media elektronik;
b. Memasang papan nama organisasi Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) di tempat umum;
c. Memasang papan nama pada masjid, mushola lembaga pendidikan, dan lain-lain dengan identitas Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI);
d. Menggunakan atribut Jemaat Ahmadiyah Indonesia (JAI) dalam segala bentuknya.
KETIGA : Keputusan ini mulai berlaku pada tanggal ditetapkan.
Surat Keputusan Gubernur tersebut telah ditetapkan pada tanggal 28 Pebruari 2011 di Surabaya oleh bapak gubernur Jawa Timur yakni Dr. H. Soekarwo.
C. Respon Masyarakat Terhadap Eksistensi Jemaat Ahmadiyah di Sidoarjo