4.2.2 Mekanisme Koping
4.2.2.2 Respon Suami dan Keluarga Mengenai Kejadian
Abortus
Respon atau tanggapan suami dari 8 ibu akan muncul secara berbeda-beda. Untuk mengetahuinya, peneliti melakukan wawancara terhadap 8 ibu, tentang bagaimana respon suami dan keluarga saat mengetahui ibu mengalami abortus. Berikut hasil wawancaranya.
I1.14 Mau bilang apa ibu. Saya pu bapa mantu yang mangamok bilang “jang sampe ko kamu dua sengaja itu?”. (melotot) eh...pikir ko saya sengaja na, ko saya ju mau ada anak lai te saya pu anak pertama ini nona. Saya mau anak laki-laki.
Mau bilang apa lagi. Mertua saya sangat marah katanya “janga-jangan kalian berdua memang sengaja?” (melotot) ah...mereka pikir saya sengaja, saya juga ingin punya anak lagi karena anak pertama saya perempuan. Saya ingin anak laki-laki
I2.14 Baptua ju kaget ibu, ini su karmana lai? Saya pu keluarga belom tau kalo saya ada hamil. Saya pu baptua ju dia tidak marah, te dia bilang mau marah bikin apa ko ini kita bukan sengaja. Hehehe
Suami saya juga terkejut, kenapa begini? Keluarga saya belum tahu jika saya sedang hamil. Suami saya tidak mat=ra, dia hanya mengatakan mau marah apa gunanya kita bukan sengaja. Hehehe
I3.14 Te mau bilang apa. Hehehe (melihat ke arah
tn.S). Kami hanya berdoa saja. Baptua hanya
bilang barang su abis, memang ada kaka satu yang marah ma hanya begitu sa. Hehehe
Apa yang harus dikatakan. Hehehe (melihat ke arah tn.S). kami hanya berdoa. Suami saya
69
mengatakan semuanya sudah terjadi, memang ada seorang kakak saya yang marah tapi begitu saja. Hehehe
I4.12 Baptua mau bilang apa, kita jato andia ko begitu. Na saya pu mama ini dia yang datang ko cerewet mau mati, dia bakalai sam saya bilang saya tenganga andia begitu. Ini kita jato, su kas tau mamtua ma dia tatobi saya itu dia mengamok terus ibu ko saya pu kepala tamba sakit. Hehehe
Apa yang harus suami saya katakan, kita terjatuh akhirnya seperti itu. Nah mama saya yang sangat cerewet, dia marah kepada saya katanya saya tidak berhati-hati. Kita terjatuh, saya sudah memberitahukan kepada mama saya tapi saat saya dikompres tetap saja dia marah-marah membuat saya sakit kepala
I5.16 Baptua dia biasa sa, saya pu kaka nona itu yang marah, tiap hari kerja turun naek motor terakhir gugur buang, pikir ko anak hanya satu sa ini baek na. Saya pu baptua yang ada basambung deng dia, ko saya mau bilang apa. Saya ju tidak mau ini barang kejadian.
Suami saya biasa saja, kakak perempuan saya yang marah ketika itu, setiap hari menggunakan motor akhirnya keguguran, satu anak saja tidak baik. Suami saya yang meladeninya saat dia marah-marah, saya tidak tahu harus berkata apa? Saya juga tidak mau hal ini terjadi
I6.13 Pertama kali dia marah, bilang saya tidak hati-hati. Abis itu kali kedua deng brikut-brikut dia hanya diam sa, tidak tau mau bilang apa. Hanya begitu sa ibu. Ais itu masok di kamar ju menangis (tersenyum).Tidak bilang apa-apa, saya pu mama mantu yang omong sa bilang ini su 4 kali na mau kapan lai dapa anak? Hehehe.
Pertama kali suami saya marah katanya saya tidak berhati-hati. Setelah itu keguguran kedu dan berikutnya dia hanya terdiam, tidak tahu harus berkata apa. Seperti itu. Kemudian dia masuk ke kamar dan menangis (tersenyum). Tidak mengatakan apapun, kata mertua saya sudah 4 kali keguguran dan kapan lagi akan memiliki anak? Hehehe
I7.11 Hanya bilang sudah lai te ini barang bukan kita ju mau, menangis terus ko mau pi ame itu darah dong ko kas masok lai (tersenyum) saya pu laki itu ibu suka maen gila, jadi kita ada tegang ju dia sante sa. Tapi dia tida marah ibu, hanya ke kaget sa begitu karna ini su dua kali. Kaget ibu, ko ini barang saya su alami dua kali jadi semua pikir ini su kenapa lai? Kaka nona ini pu laki pas datang dari Kapan ju tanya sam saya kenapa ko bisa begitu? Saya tidak tau
70 mau jawab bilang apa. Ko takuju sa dia keluar, kadang ada sodara lain dong yang bilang jang sampe ko saya mandul, baru omong-omong yang tidak-tidak ma saya tidak pusing ko saya pu laki tidak marah saya te kamu yang stengah mati.
Hanya berkata sudahlah ini juga bukan keinginan kita, terus menangis apakah kita harus pergi dan mengambil kembali darah tersebut untuk kembali dimasukkan? (tersenyum) suami saya suka bergurau, kita lagi tegang tetapi dia santai saja. Tetapi dia tidak marah, hanya saja terkejut karena dua kali saya keguguran.
Terkejut, sudah dua kali saya mengalaminya. Semua berpikir kenapa bisa seperti itu? Suami kakak perempuan saya datang dari Kapan dia juga ikut bertanya kenapa bisa jadi begitu? Saya tidak tahu harus menjawab apa. Tiba-tiba saja keguguran, terkadang ada saudara yang lain mengatakan jangan-jangan saya mandul, dan membicarakan tentang saya tetapi saya tidak ambil pusing, suami saya tidak marah tetapi kenapa kalian yang harus seperti itu
I8.9 Dia marah tapi hanya marah-marah begitu sa ibu, bilang selama lu hamil minta apa saya beli kasih baru lu tidak jaga ko anak jato buang. Hehehe. Saya kasian yang pas dia bilang begitu, ko pas hamil itu hari saya minta apa sa dia beli kas saya (tersenyum).
Hanya mama deng bapa di sini yang marah, yang lain tidak tau ibu. Tau te orang tua kalo marah ju paling begitu sa ais itu ju kami su babae kembali (tersenyum).
Dia marah tetapi begitu saja, dia katakan selama saya hamil apapun yang saya minta dia akan penuhi tapi saya tidak menjaganya hingga keguguran. Hehehe. Saya kasihan saat dia bilang seperti itu, karena saat hamil dulu apapun yang saya minta akan dia belikan (tersenyum).
Hanya mama dan bapak di sini yang marah, yang lain tidak tahu. Jika orang tua yang marah, sebentar saja sudah baikan (tersenyum)
Dari hasil wawancara ini diketahui bahwa, respon dari suami dan keluarga ibu yang mengalami abortus spontan bermacam-macam, yakni ada yang marah, terkejut dan merasa kecewa dengan kejadian tersebut.
71 Respon yang terjadi ini, dapat memberikan dampak buruk bagi kondisi psikologis ibu. Hal ini dapat diatasi dengan cara memberikan pengertian terhadap kejadian yang menimpa sehingga tidak menimbulkan polemik dalam rumah tangga dan keluarga.