Baik (oriented) 5 Pembicaraan kacau 4 Kata-kata tak tersusun 3 Suara 2 Tidak ada 1 D. REAKSI PUPIL TERHADAP CAHAYA
Normal 5 Lambat 4 Respon tak sama 3 Besar tak sama 2 Tidak ada 1 E. REFLEX SARAF OTAK TERTENTU
Semua ada 5 Reflex bulu mata (-) 4 Reflex Kornea (-) 3 RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
PENILAIAN TINGKAT KESADARAN DIREKTUR RS
(METODE GLASGOW-PITTSBURGH COMA SCALE) Halaman :
f. KEJANG Tidak ada 5 Kejang fokal 4 Umum intermitten 3 Umum kontinyu 2 Flaksid 1 g. NAPAS SPONTAN Normal 5 periodik 4 Hiperventilasi sentral 3 Hipoventilasi/ irreguler 2 Apnea 1 IGD, SMF SARAF, ICU
Prosedur Prosedur Unit Terkait Page 31PROSEDUR TETAP Tujuan RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN DIREKTUR RS Halaman :
KENAIKAN TEKANAN INTRAKRANIAL
Peningkatan volume/jumlah tekanan dari struktur di dalam rongga tengkorak yang terdiri dari otak, otak dan pembuluh darah serta cairan serebrospinal. Sebagai panduan penanganan kenaikan intrakranial
Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan gejala sisa serta menurunkan mortalitas.
1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien.
2. Kenali gejala, tanda penyakit
sakit kepala, muntah, perubahan kepribadian, diplopia, kejang, penurunan kesadaran, dilatasi pupil.
3. Pemeriksaan laboratorium dan penunjang atas indikasi: pengukuran tekanan intrakranial, CT Scan kepala, Funduskopi 4. Pengobatan
Tergantung pada penyebabnya : 1) Endema otak a. Endema vasogenik Unit Terkait Prosedur Pengertian Kebijakan Page 32PROSEDUR TETAP Halaman :
patogen Kortikosteroid Monitol 0,5 - 1 gr/kgBB/6-8 jam b. Endema sitotoksik Manitol 0,5-1gr/KgBB/6-8 jam c. Endema interstitial Azetazolamid 25-50 mg/KgBB/hr 2). Hidrosefalus : VP shunting 3). Tumor,perdarahan,SOL a. Konsul bedah saraf, operatif b. Atasi faktor penyebabnya.
5. Pemantauan efek samping pengobatan berupa gangguan elektrolit, gangguan keseimbangan cairan dan sirkulasi, hipertensi dan komplikasi penyakit yaitu tanda-tanda herniasi dan cushing syndrome.
ICU, SMF Saraf, SMF Anak, ICCU Unit Terkait
Prosedur
* Pemeriksaan CT scan kepala, EEG atas indikasi. 3. Pemeriksaan penunjang
* Darah perifer lengkap, gula darah, elektrolit darah, biakan darah. * Lumbal pungsi (jumlah sel, kadar protein, kadar gula, pewarnaan gram, biakan dan uji resistensi)
RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE:
DITETAPKAN
MENINGITIS BAKTERI DIREKTUR RS
Pengertian Tujuan
Sebagai panduan penanganan menigitis bakteri Kebijakan
Prosedur
Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas
1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien.
2. Kenali gejala dan tanda meningitis bakteri.
- sering didahului infeksi saluran nafas atau saluran cerna dengan gejala panas, batuk, pilek, diare dan muntah serta nyeri kepala
- Penurunan kesadaran, kaku kuduk, tanda rangsang meningeal yang lain, kejang dan defisit neurologis fokal.
Page 33PROSEDUR TETAP
* uji pendengaran * uji penglihatan
Komplikasi penyakit subdural effusion subdural empyema, abses cerebri, hidrocefalus.
MENINGITIS BAKTERI DIREKTUR RS
Halaman : * uji fungsi hati * uji fungsi ginjal Cefotaxime Ampicillin Chloramphenicol
2) Terapi Antibiotik sesuai kultur LCS 5. Pemantauan efek samping pengobatan * pemeriksaan darah tepi
RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
4. Pengobatan Supuratif
Atasi kejang, turunkan panas, cegah hipoxia otak, cegah dekubitus, keratitis Prosedur
ICU, SMF Saraf, SMF Anak unit Terkait
Prosedur
Lama pengobatan : 10-14 hari 3) Kortikosteroid : dexamethasone
4) Bedah : jika ditemukan emyema subdural, abses otak, hidrosefalus. aspirasi, turunkan tekanan inttrakranial yang meningkat
Jika ditemukan endema otak dapat diberikan manitol 0,5-1gr/KgBB setiap 8 jam dan kortikosteroid.
Pengobatan kausatif
1) Pengobatan empirik antibiotik Page 34PROSEDUR
TETAP Kebijakan mortalitas.
1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien
Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN TETANUS DIREKTUR RS Halaman :
Suatu penyakit toksemia akut dan fatal yang disebabkan oleh Clostridium tetani dengan tanda utama kekauan otot (spasme) tanpa disertai gangguan kesadaran Sebagai panduan penanganan ketoasidoasis diabetik
Pengertian Tujuan PROSEDUR
Derajat I (tetanus ringan) * Trismus ringan sampai sedang * Kekakuan umum
* Kaku kuduk, opistotonus, perut papar. * Tidak dijumpai disfagia ringan
* Tidak dijumpai kejang
* Tidak dijumpai gangguan aspirasi Derajat II (tetanus sedang)
* trismus sedang * kekakuan jelas
2. Kenali gejala, tanda, derajat dan komplikasi penyakit Page 35PROSEDUR TETAP # bronkopneumonia # atelektasis # empisema mediastinal # pneumothorax # sepsis # fraktur vertebra
3. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi
Liquor cerrebrospinal dan biakan kuman anaerobik 4. Terapi dasar tetanus
Antibiotik
* Penicillin prokain 50.000 IU/KgBB/Kali IM, tiap 12 jam atau * Ampicillin 150 mg/KgBB/hari IV dibagi 4 dosis atau
* tetrasiklin 25-50 mg/KgBB/Hari PO dibagi 4 dosis (max 2 gram) atau
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN TETANUS DIREKTUR RS Halaman :
* hipertensi berat dan takikardi atau * hipertensi dan bradikardi
* hipertensi berat atau hipotensi berat Penyakit pada tetanus
# gangguan ventilasi paru # aspirasi pneumonia Derajat III (tetanus berat) * trismus berat
* otot spastis, keajng spontan * takipnea, takikardi
* Apneic spell * disfagia berat
* aktifitas sistem autonom meningkat Derajat IV (tetanus stadium terminal) * derajat III ditambah dengan * gangguan autonom berat PROSEDUR
* dijumpai kejang rangsang * tidak ada keajng spontan
* takipnea * disfagia ringan Page 36PROSEDUR TETAP
5. Terapi suportif
* bebaskan jalan nafas
* hindarkan aspirasi dengan menghisap lendir perlahan-lahan dan memindah-mindahkan posisi pasien
* perawatan dengan stimulasi minimal
* pemberian cairan dan nutrisi adekuat, bila trismus berat dapat dipasang sonde nasogastrik
* bantuan nafas pada tetanus berat atau tetanus neonatorum * pemantuan atau monitoring kejang dan tanda penyulit 6. Tetanus ringan dan sedang
* terapi dasar tetanus
* perhatian khusus pada keadaan jalan nafas akibat kejang dan aspirasi * pemberian cairan parenteral bila perlu nutrisi secara parenteral. Tetanus berat
* terapi dasar seperti diatas
* perawatan dilakukan di ICU, diperlukan intubasi dan pemakaian ventilator * balans cairan dimonitor secara adekuat
PROSEDUR * dalam keadaan berat : diazepam drip 20 mg/KgBB/hari dirawat di ICU * dosis pemerliharaan 8 mg/KgBB/hari PO dibagi 6-8 dosis
perawatan luka atau pot d'entrée
tiap 6 jam, atau
* eritromisin 40-50 mg/KgBB/hari PO dibagi 4 dosis
(bila ada sepsis/pneumonia dapat ditambahkan sefalosporin) Netralisasi toksin :
^ anti tetanus serum (ATS) 50.000 - 100.000 IU setengah dosis diberikan IM dan setengahnya IV dilakukan uji kulit terlebih dahulu.
^ apabila tersedia dapat diberikan human tetanus immunoglobulin (HTIG) 3000-6000 IU IM
Anti konvulsi
* diazepam0,1-0,3 mg/KgBB/Kali IV tiap 2-4 jam RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN TETANUS DIREKTUR RS Halaman :
* metronidazole loading dose 15 mg/KgBB/jam selanjutnya 7,5 mg/KgBB Page 37 * apabila spasme sangat hebat, berikan pankuronium bromida 0,02 mg/KgBB/Kali IV diikuti 0,05 mg/KgBB/kali diberikan tiap 2-3 jam * apabila terjadi aktifitas simpatis yang berlebihan, berikan beta bloker seperti propanolol dan labetalol
PROSEDUR TETAP Unit Terkait
PROSEDUR
kematian atas namanya dan selanjutnya jenazah ditempatkan di kamar janazah. 8. Dalam hal pasien diapsang alat penunjang kehidupan (respirator) maka untuk penentuan kematiannya dikemudian hari harus menggunakan kriteria diagnosis Diagnosa kematian batang otak harus melalui prosedur yang ditetapkan
1. Setiap pasien yang dibawa ke IGD dianggap masih dalam keadaan hidup dan diperlakukan sebagaimana layaknya meninggal.
2. Pernyataan meninggal cukup dilakukan seorang dokter kecuali bila pasien dipersiapkan menjadi donor cadaver maka harus dibuat oleh minimal oleh 2 orang dokter yang tidak terlibat dalam proses transplantasi.
3. Sebelumnya dokter harus melakukan pemeriksaan teliti
4. Bila sudah terdapat henti jantung dan paru maka perlu resusitasi pasling sedikit 10 menit atau dipasang alat respirator kecuali dokter yakin bahwa tindakan medik tersebut tidak ada gunanya.
5. Jika sesudah resusitasi tidak menunjukkan tanda-tanda berhasil maka segala upaya dapat dihentikan dan kemudian pasien ditempatkan di ruang observasi selama 2 jam untuk kepentingan konfirmasi kecuali dokter yakin bahwa pasien telah benar-benar meninggal.
7. Setiap pasien yang telah dinyatakan meninggal oleh dokter dibuatkan surat Kebijakan PROSEDUR RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
PENENTUAN KEMATIAN BATANG OTAK DIREKTUR RS
Halaman :
Mati batang otak adalah suatu keadaan jaringan otak rusak sedemikian beratnya, sehingga fungsi vitalnya rusak, irreversible dan tidak lagi tergantung pada keadaan jantung
Untuk menyamakan penilaian/diagnosa kematian batang otak. Pengertian
Tujuan
Page 38PROSEDUR TETAP
SIRS (Systemic inflammatory Response syndrome) :
Respon sistemik terhadap berbagai kelainan klinik berat ( misalnya infeksi, trauma dan luka bakar) yang ditandai dengan ≥ 2 dari 4 kriteria sebagai berikut: * Hipertermi ( > 38,5 0 C) atau Hipotermi (< 36 0C)
* Takikardi yaitu peningkatan HR > 2 SD diatas normal sesuai umur dalam
keadaan tidak terdapat stimulasi external. Pemakaiaan obat-obat jangka panjang atau rangsangan nyeri atau
bradikardi : HR< persentil 10 sesuai umur tanpa stimulasi vagal external, Bangsal perawatan, ICU, IGD
Unit terkait RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
SEPSIS DIREKTUR RS Halaman :
Sepsis adalah SIRS dengan bukti atau dugaan infeksi sebagai penyebab. Sebagai panduan penanganan sepsis.
yang bersumber pada konsep "brain stem death is death" Pengertian
Tujuan PROSEDUR
PROSEDUR Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas
1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien
2. kenali definisi, gejala dan tanda sepsis
SIRS (Systemic inflammatory Response syndrome)
Respon sistemik terhadap berbagai kelainan klinik berat ( misalnya infeksi, trauma dan luka bakar) yang ditandai dengan ≥ 2 dari 4 kriteria sebagai berikut: * Hipertermi ( > 38,5 0 C)
* Takikardi yaitu peningkatan HR > 2 SD diatas normal sesuai umur dalam
keadaan tidak terdapat stimulasi external. Pemakaiaan obat-obat jangka panjang, atau rangsangan nyeri kenali definisi, gejala dan tanda sepsis
Page 39PROSEDUR TETAP
bukti infeksi meliputi penemuan positif pada pemeriksaan klinis, pencitraan /test laboratorium ( misalnya pada sel darah putih pada cairan tubuh normal steril
perforasi usus, foto ronsen dadamenetap adanya pnemonia, ruam ptekiae atau * Syok Septik → asam laktat, BAG, LFT, Elektrolit dan EKG
4. Pengelolaan : 1) diagnosis dini
2) Early Goal Directed Therapy (EGDT)
resutansi cairan agresif dengan koloid atau kristaloid, pemberian obat-obatan inotroprik dan atau vasopresor dalam waktu 6 jam sesudah sesudah
purpura atau purpura fulminal). SEPSIS BERAT
sepsis dengan disfungsi organ cardiovaskuler/ ARDS atau ≥ 2 disfungsi organ lain. SYOK SEPTIK
Sepsis dengan disfungsi organ cardiovaskuler ( lihat tabel 2) 3.Pemeriksaan laboratorium dan penunjang atas indikasi : * Darah rutin, Hb, Ht, Leukosit, Trombosit
* GDS, CRP * Studi Koagulasi * Kultur darah berseri
* Hapus darah tepi : lekopenia/ lekositosis , granula toksis, shif to the left * urinalisis * Foto Thoraks TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN SEPSIS DIREKTUR RS
Halaman :
Infeksi disebabkab adanya kuman patogen atau sindrom klinis yang berhubungan dengan kemungkinan besar infeksi.
pemakaian ß-Bloker, atau penyakit jantung bawaan.
* Takipneu dengan RR > 20 SD diatas normal sesuai umur atau ventilator mekanik yang akut yang tidak berhubungan dengan penyakit neuromuskuler atau penggunaan anastesi umum
* Jumlah lekosit yang meningkat atau menurun
( yang bukan akibat dari kemoterapi) sesuai umur atau neurofil imatur > 10% ( Lihat Tabel 1)
SEPSIS
SIRS dengan bikti atau dugaan infeksi sebagai penyebab. PROSEDUR
INFEKSI
Suatu kecurigaan atau bukti ( dugaan kultur positif, pengecatan jaringan/ uji POR) RSU
PROSEDUR
Page 40PROSEDUR TETAP
a. Profilaksis stress Ulcers
b. Profilaksis trombosis Vena dalam c. Pencegahan hipoglikemia pada sepsis
d. Penatalaksanaan disfungsi organ paru,saluran cerna, koagulasi, & renal Tabel 1. Tanda vital khusus sesuai umur & variabel laboratorium ( batas bawah untuk HR jumlah leukosit & TD sistolik untuk persentil 5 & batas atas
untuk frekuensi jantung, laju napas/ hitung leukosit untuk persentil 95) Kelompok Usia Heart rate, X/ Menit Laju napas Σ lekosit Tekanan (mmHg) takikardi brikardi x/Permenit (x 103/mm2 Sistol 0 hari - I > 80 < 100 > 50 > 34 < 65
minggu
1 minggu - 1 bulan> 180 < 100 > 40 >19.5 atau < 5 < 75 1 Bulan - 1 Tahun >180 < 90 > 34 > 17.5 atau < 5 < 100 2- 5 tahun > 140 Not applicable > 22 > 15.5 atau <6 < 94 6- 12 tahun >130 Not applicable > 18 > 13.5 atau , 4.5< 105 13-18 tahu > 110 Not applicable > 14 > 11 atau < 4.5 < 117 12) Intervenous Imunoglobulin (IMG)
Disfungsi Kardiovaskuler
meskipun pemberian bolus cairan intravena isotonis ≥ 40 mg/kg BB dalam 1 jam Tabel 2. Kriteria disfungsi Organ
diagnosis ditegakkan di unit gawat darurat sebelum masuk PICU. 3) Inotropik/ Vasopresor/ Vasodilator
4) Extra Corporeal Membrane Oxigenation (ECMO) 5) Suplemen Oksigen
6) Koreksi Asidosis 7) terapi antibiotika 8) Eradikasi sumber infeksi 9) Terapi Kortikosteroid 10) Anti - inflamasi
11) Granulocyte Macrophage Colony Stimulating Factor ( GMCSF) RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN SEPSIS DIREKTUR RS Halaman :
13) Transfusi tukar/ hemafiltrasi 14) Terapi suportif
* Penurunan tekanan darah ( hipotensi) < persentil 5 Th. Sesuai usia atau sistolik < 2 SD dibawah normal sesuai usia ATAU
* Membutuhkan obat vasioaktif untuk mencegah tekanan darah dalam rentang normal (dopamin> 5 mg/kg/ menit atau dobutamin epineprin atau norepineprin pada berbagai dosis)
* Dua hari berikut ini : asidosis metabolik yang dapat dijelaskan, defisit basa> 5.0 mEq/L Meningkatnya laktat arteri > 2 kali batas atas atau normal
PROSEDUR
Page 41PROSEDUR TETAP
Unit Terkait
* Membutuhkan ventilasi mekanik non efektif invasif atau non invasif RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN SEPSIS DIREKTUR RS
Halaman :
Oligori , urine < 0,5 cc/kgBB/jam Pemanjangan cappilary refill > 5 detik Beda suhu core dan perifer > 3o C Pernapasan
* PaO2/FiO2 < 300 tanpa adanya penyakit jantung sianotik atau penyakit paru sebelumnya ATAU * PaCO2 > 65 torr atau 20 mmHg diatas PaCO2 normal ATAU
* dibutuhkan FiSO2 > 50 % untuk menjaga saturasi diatas 92% ATAU * Glasgow Coma scale ≤ 11
* Perubahan akut pada status mental dengan penurunan GCS ≥ 3 poin dari keadaan abnormal Hematologi
* Hitung Trombosit < 80 mm2 atau penurunan 50% hitung trombosit dari nilai tertinggi yang dicatat dalam 3 hari terakhir untuk pasien hematologi onkologi kronik ) ATAU
Ginjal
* Serum kreatinin ≥ 2 kali batas atas normal sesuai usia 2 kali lipat peningkatan dari kreatinin awal Hepar
* Bilirubin Total ≥ 4 mg/dl ( tidak untuk neonatus) ATAU * SGPT 2 kali diatas batas normal sesuai usia
Neurologi
Page 42PROSEDUR TETAP
5. Tidak sadar
GDS> 100 mg% atau kondisi lain yang memerlukan perawatan di ICU Management Airway dan breathing
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN KETOASIDOSIS DIREKTUR RS Halaman :
Ketoasidosis diabetik (KAD) adalah kegawatan penyakit metabolik dan endokrin sebagai komplikasi Diabetes Mellitus tipe karena defisiensi insulin yang ditandai kadar gula darah > 300 mg di ketonimia dan asidosis (pH < 7,32 dan kadar bikarbonat < 15 mEq)
Sebagai panduan penanganan ketoasidosis diabetik Intubasi dan pemakaian ventilator mekanik jika perlu. Pengertian
Tujuan Kebijakan PROSEDUR Unit terkait
Penanganan segera dan tepat akan mencegah komplikasi dan menurunkan mortalitas
1. Tentukan prosedur perawatan dan meminta ijin tertulis untuk melakukan tindakan medis kepada keluarga pasien
2. Kenali gejala dan tanda diabetes atau riwayat poliuria dan polidipsi beberapa hari sebelumnya kemudian kesadaran menurun sampai koma.
Tanda-tanda asidosis dan dehidrasi kadang sampai syok:
dan hipotermia.
3. Timabang berat badan, tentukan derajat dehidrasi, tingkat kesadaran dan keadaan sirkulasi (ukur tekanan darah dan nadi)
4. Pemeriksaan laboratorium atas indikasi : gula darah, fungsi ginjal, urinalisa, AGD Page 43PROSEDUR
TETAP Tujuan
Resusitasi jantung paru adalah suatu tindakan untuk mengembalikan fungsi pernapasan dan jantung guna kelangsungan hidup pasien.
Mengembalikan fungsi jantung dan fungsi paru Indikasi:
1) Henti nafas 2) Henti jantung Persiapan 1) Alat
a. Alat pelindung diri (masker, handscoen) RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
RESUSITASI JANTUNG PARU DIREKTUR RS
Halaman :
* Laryngoskop lurus dan bengkok (anak dan dewasa) * Magil force
* Pipa trakhea berbagai ukuruan * trakhea tube berbagai ukuran * Gudel berbagai ukuran * CVP set
* Infus set/blood set * Papan resusitasi * Gunting verban * bag resusitasi lengkap c. EKG
d. DC shock lengkap 2) Pasien
a. Keluarga diberi penjelasan tentang tindakan yang akan dilakukan b. Posisi pasien diatur terlentang di tempat datar dan alas keras c. Baju bagian atas pasien dibuka
Pelaksanaan
1. petugas menggunakan alat pelindung diri (masker, handscoen) Pengertian
PROSEDUR
Page 44PROSEDUR TETAP
1. Evaluasi pernapasan pasien tiap 1 menit saat dilakukan RJP BC kombinasi 2. Lakukan RJP BC sampai :
8. Jika arteri carotis tidak teraba lakukan kombinasi nafas buatan dan kompresi jantung luar dengan perbandingan 15 : 2 untuk dewasa baik 1 atau 2 penolong dan 3 : 1 untuk neonatus
9. Setiap 4 siklus (4 kali kompresi dan 5 kali ventilasi) cek pernapasan
h. Jika nafas tetap belum ada lanjutkan tehnik kombinasi dimulai dengan kompresi jantung luar.
2. mengecek kesadaran pasien dengan cara: memanggil nama
menanyakan keadaannya
menggoyangkan bahu pasien/ mencubit pasien 3. Jika pasien tidak sadar/respon, aktifkan SPGDT
4. Buka jalan nafas dengan head lift chin lift dan bersihkan jalan nafas dari sumbatan
RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
RESUSITASI JANTUNG PARU DIREKTUR RS
Halaman : PROSEDUR PROSEDUR
timbul napas spontan diambil alih alat/petugas lain dinyatakan meninggal
penolong tidak mampu atau sudah 30 menit tidak ada respon 3. Kompresi jantung luar dilakukan dengan cara :
a) dewasa
* penekanan menggunakan dua pangkal telapak tangan dengan kejutan bahu * penekanan pada daerah sternum 2-5 jari di atas processus xyphoideus * kedalaman tekanan 3-5 cm
* frekuensi penekanan 80-100 kali per menit b) anak
*penekanan menggunakan satu pangkal telapak tangan * kedalaman tekanan 2-3 cm
* frekuensi penekanan 80-100 kali per menit c) neonatus
5. Menilai pernafasan dengan cara : melihat pergerakan dada/perut
mendengar suara keluar/masuk udara dari hidung
merasakan adanya udara dari mulut/hidung pipi atau punggung tangan 6. Jika pasien tidak bernafas, berikan nafas buatan dengan resuscitator sebanyak 2 kali secara perlahan
7. Periksa denyut jantung pasien dengan cara meraba arteri karotis, jika arteri carotis teraba cukup berikan nafas buatan setiap 5 detik sekali
Page 45 * jari tangan dan telunjuk tanagn penolong menekan dada bayi pada posisi sejajar putting susu 1 cm ke bawah
* kedalaman tekanan 1-2 cm
* perbandingan kompresi jantung dengan begging adalah 3 :1 PROSEDUR
* punggung bayi diletakkan pada lengan bawah kiri penolong sedangkan tangan kiri memegang lengan atas bayi sambil meraba arteri brachalis sebelah kiri Page 46PROSEDUR
TETAP Kebijakan Prosedur
dipakai di loket IGD
SMF Saraf, SMF THT, SMF Jiwa, SMF Mata, TPP
7. Pasien / keluarganya menyelesaikan administrasi IGD dan obat yang
Unit Terkait SMF Anak, SMF Bedah, SMF penyakit dalam, SMF Kebidanan, ICU/ICCU, OK, 5. Dokter dan perawat jaga IGD mendokumentasikan semua tindakan yang
sudah dilakukan dalam catatan medik (status pasien)
6. Pasien diobservasidi IGD selama 2-6 jam. Setelah 6 jam, dokter jaga IGD menentukan pasien boleh pulang atau rawat inap.
1. Pasien diterima oleh perawat dan dokter Instalasi Gawat Darurat yang bertugas di ruang tindakan
2. Pasien gawat bedah (trauma) dan atau non trauma yang perlu tindakan misalnya retensi urin, corpus alienum, intoksikasi, langsung dilakukan tindakan life saving oleh dokter jaga atau perawat jaga IGD
3. Lakukan konsultasi untuk penanganan lebih lanjut pada pasien oleh dokter jaga IGD bila perlu ( kasus bedah, kasus medik )
4. Pasien gawat yang memerlukan tindakan bedah cito, langsung disiapkan pelayanan operasinya di IGD. Dan setelah kamar operasi (Instalasi Bedah a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
pelayanan Rumah Sakit
c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan keperawatan Halaman :
Prosedur yang mengatur tentang proses penerimaan dan penanganan pasien a. Agar sistem pelayanan yang dilakukan di Instalasi Gawat Darurat sesuai dengan alur yang ditetapkan
b. sebagai acuan dalam pelaksanaan penanganan pasien di Instalasi Gawat darurat, langkah-langkah mengenai batasan tugas dan dokter dan perawat RSU
TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN
PENERIMAAN DAN PENANGANAN PASIEN DIREKTUR RS
DI INSTALASI GAWAT DARURAT di instalasi gawat darurat. jaga IGD
Tujuan Pengertian
di Unit Gawat Darurat
Sentral) sudah siap, pasien segera diantar oleh perawat IGD untuk dilakukan operasi di kamar operasi
47PROSEDUR TETAP Pengertian
Tujuan Kebijakan Prosedur
tindakan IGD disertai rekam medik (status) pasien
5. Apabila pasien tidak perlu mendapat tindakan maka pasien diperbolehkan pulang dan keluarga menyelesaikan administrasinya.
dokter jaga triage
2. Lakukan seleksi dengan memberi label sesuai tingkat kegawatan pasien. 3. Keluarga atau pengantar pasien mendaftar ke ruang TPP untuk dicatat kelengkapan data atau identitas pasien dan mendapatkan status untuk catatan medis selanjutnya yang akan diisi oleh dokter jaga triage
4. Apabila pasien perlu mendapat tindakan makan pasien dibawa ke ruang pengobatan oleh dokter jaga dan dibantu oleh perawat IGD
5. Triage dalam keadaan bencana/disaster digunakan untuk menentukan prioritas penanganan pasien berdasarkan beratnya cedera dan atau kegawatan pasien serta probabilitas hidupnya ( label merah didahulukan). A. Triage dalam keadaan sehari-hari
1. Pasien diterima oleh perawat jaga triage dan dilakukan pemeriksaan oleh 1. Pelayanan pasien di triage dilakukan oleh dokter/perawat jaga triage 2. Label seleksi pasien sebagai berikut :
∆ Pasien yang telah meninggal dunia (Hitam) = 0 Halaman :
Sistem penerimaan dan seleksi untuk pelayanan sehari-hari dan atau
Agar semua pasien dapat menerima dan dilayani, diklaifikasikan tingkat & jenis ∆ Pasien gawat darurat mengancam nyawa (Merah) = 1
∆ Pasien gawat darurat dengan keadaan umum stabil (Kuning) = 2 ∆ Pasien gawat darurat palsu/false emergency (Hijau) = 3
3. Pasien dengan kriteria biru dan merah sesudah dilakukan life saving ( penanganan segera oleh dokter)
4. Pasien dengan kriteria kuning dan hijau diberikan perawatan dan a. Undang-undang no 23 Tahun 1992 tentang Kesehatan
b. SK.Menkes No.1333 Tahun 1999 tentang Penerapan standar/ pelayanan Rumah Sakit
c. SK Direktur Rumah Sakit Umum Daerah tentang pelayanan Semua pasien di triage dilakukan oleh dokter/perawat jaga triage RSU TANGGAL TERBIT REVISI KE: DITETAPKAN PELAYANAN TRIAGE DIREKTUR RS
mengadakan seleksi penderita pada keadaan bencana atau musibah massal kegawatannya sehingga diarahkan pada pertolongan yang tepat dan cepat