BAB VII RESPON WARGA DAN KONFLIK YANG TIMBUL
7.2 Respon Warga di Komplek HBTB terhadap Pengadaan Tanah
Kedatangan Walikota Depok Nurmahmudi Ismail ke wilayah mereka, dinilai warga sebagai awalan yang baik dan dinilai positif untuk memunculkan kepercayaan warga terhadap pemerintah. Walikota berjanji bahwa warga akan mendapatkan ganti untung dan modal usaha tanpa mendzolimiwarga. Warga pun
saat itu, menyatakan mendukung sepenuhnya program pemerintah.
Hal yang dilakukan warga pada awal munculnya rencana pembangunan jalan tol, adalah mencari informasi sebanyak-banyaknya dari berbagai media massa terutama koran dan internet. Menurut penuturan warga, sedikit sekali informasi yang disampaikan langsung oleh pemerintah pada warga yang terkena pengadaan tanah. Penuturan Ketua RT Bapak Drm,
“ Informasi kita dapat sendiri dari Koran dan Internet, sedikit sekali yang resmi dari pemerintah”.(2 September 2007)
Ketakutan dari warga tersebut memperlihatkan adanya ketidakpercayaan pada pemerintah dan belum jelasnya prosedur yang harus diketahui warga. Ketakutan warga tersebut mengakibatkan mereka sering berkumpul untuk rapat warga dan membentuk posko. Pada rapat tersebut warga membicarakan kekuatan atau keunggulan apa saja yang dimiliki tempat tinggal mereka untuk menaikkan posisi tawar mereka di forum musyawarah. Selain itu, rapat diadakan untuk membahas apa saja yang mereka harapkan dari pemerintah.
Ketika proses berjalan, ternyata dinilai tidak sesuai dengan apa yang dijanjikan, sehingga mengubah kondisi menjadi tidak aman. Hal tersebut mengakibatkan ikatan sosial menguat dan terbentuk solidaritas. Solidaritas masyarakat, dan kesadaran untuk berkumpul ini tidak lepas dari peran tokoh masyarakat dan Ketua RT yang ternyata sering mengunjungi dan menelepon warga yang lain untuk menjaga warga agar tetap satu suara. Kekhawatiran yang tinggi akan adanya tindakan yang curang dari pemerintah dan calo tanah membuat warga semakin solid. Solidaritas yang terbentuk cukup efektif dalam membangun semangat masyarakat dalam menaikkan posisi tawar mereka di hadapan pemerintah dengan merumuskan sendiri harga yang mereka anggap pantas.
Masa sanggah yang diberikan sejak musyawarah pertama kurang lebih selama 10 hari sejak pertemuan pertama. Untuk persiapan memasuki masa sanggah, warga berkesempatan mengajukan keberatan-keberatannya kepada pemerintah. Warga mengadakan rapat yang bertujuan meningkatkan daya tawar mereka pada pemerintah. Selain itu, mereka juga merumuskan harga minimal dari tanah mereka yaitu sebesar 4,5 juta/m2 dan bangunan 3 juta /m2. Akhirnya, warga merumuskan tabel kompensasi penggusuran perumahan HBTB.
Tabel 5Tabel Kompensasi Penggusuran Perumahan HBTB
Sumber: Tokoh Masyarakat HBTB
Sumber: Dokumentasi Pribadi
Gambar 12 Hasil Rapat Warga Komplek HBTB
Masa sanggah dan pertemuan kedua cukup mengecewakan warga. Warga kecewa karena ternyata mereka hanya berhak memutuskan untuk diri mereka sendiri dan tidak boleh membawa nama kelompok bahkan memakai kata “kami”
pada saat musyawarah pun dilarang. Seorang tokoh masyarakat Bapak Al mengungkapkan:
“Bahkan membawa kata-kata “kami” pun tidak boleh, jika P2T ingin mendengarkan per individu sebaiknya warga tidak usah dikumpulkan datangi saja door to door (rumah ke rumah)”.(4 November 2007)
Adanya pernyataan bahwa harga tidak bisa dinaikkan lagi juga sistem sanggah individual dengan kesepakatan yang individual pula, membuat soliditas warga mulai goyah. Goyahnya soliditas masyarakat ini terlihat dari 4 orang warganya yang akhirnya menyepakati harga 600.000/m2 yang masih diperjuangkan. Menurut penuturan tokoh masyarakat Bapak Al, orang-orang yang menyetujui harga yang ditawarkan oleh pemerintah adalah warga yang sangat membutuhkan uang.
Panitia pengadaan tanah menjanjikan akan ada 3 kali pertemuan untuk membahas masalah harga tanah, sehingga warga masih menyimpan harapan untuk memperjuangkan harga tanah mereka. Ternyata jarak antara pertemuan pertama dan kedua memiliki jeda waktu yang cukup panjang, bahkan warga sendiri yang meminta untuk bertemu. Namun, hingga 3 bulan belum ada tanggapan dari P2T. Kondisi ini membuat warga bingung dan merasa digantung dengan waktu yang terus-menerus diulur.
Keberadaan tokoh masyarakat yang bekerja sebagai kontraktor di perusahaan kontruksi yang berpengalaman dalam pembebasan tanah, membuat masyarakat semakin yakin dengan langkah yang akan ditempuh. Warga HBTB juga berkomunikasi dengan warga perumahan lain seperti di Kelurahan Curug terdapat Komplek Perumahan Departemen Koperasi dan Perumahan Pertamina.
Mereka membentuk satu organisasi bernama Forkot yang diprakarsai oleh warga Raffles Hill dan diketuai oleh seorang mantan anggota DPRD. Forkot sudah beranggotakan kurang lebih 600 warga yang terkena pengadaan tanah. Mereka bersama-sama mengadakan demonstrasi ke Kantor Pemerintah Kota. Namun, ternyata strategi yang dilancarkan oleh pemerintah dengan ‘menggantung’ dalam ketidakpastian akhirnya merobohkan semangat mereka untuk mempertahankan harga yang layak untuk tanah mereka.
Beberapa orang akhirnya mulai menyerah dan dengan terpaksa setuju dengan harga yang ditawarkan oleh pemerintah. Situasi ini ternyata mudah sekali menular, warga lain yang tadinya masih terus bertahan bertambah resah karena sama sekali belum melihat iktikad baik dari pemerintah untuk melakukan pertemuan selanjutnya dan menaikkan harga tanah. Penyebab lainnya adalah mereka sudah mengambil kredit rumah di tempat lain dengan harapan tanahnya segera mendapatkan pembayaran dengan harga yang layak.
Forkot merupakan salah satu dampak yang kongkrit dari proses pengadaan tanah yang dilakukan. Bergabungnya warga HBTB dengan Forkot Cijago membuat mereka lebih kritis dengan apa yang terjadi. Adanya jaringan sosial dengan komplek-komplek lain dan kecamatan lain membuat warga mendapatkan lebih banyak informasi. Forkot Cijago juga berhasil memperjuangkan adanya kesamaan harga di komplek HBTB. Banyak hal yang diperjuangkan warga HBTB bersama Forkot. Beberapa hal yang menjadi tuntutan warga dalam demonstrasi yang dilakukan adalah:
1. Menuntut untuk diadakannya musyawarah lanjutan 2. Menuntut kenaikan harga
3. Menuntut TPT mencabut pernyataan yang menunjukkan bahwa harga tidak bisa dinaikan, padahal harga ditentukan melalui mekanisme musyawarah dan SK Kepala Daerah.
4. Diadakan evaluasi wilayah, hal ini karena tidak ada perbedaan antara wilayah rawa dan wilayah usaha yang ada di pinggir jalan. Forkot juga banyak mencatat kejanggalan dan pelanggaran yang dilakukan oleh pemerintah dalam hal ini P2T dan TPT terutama yang dilakukan oleh ketua TPT Bapak Sgd yang diminta warga untuk diganti, karena Bapak Sgd menyatakan tidak lagi ada kenaikan harga.
Dari beberapa kejanggalan dan pelanggaran itu adalah:
1. Mengenai kesalahan surat-surat keputusan yang dibuat oleh Walikota, mereka menilai surat-surat tersebut cacat hukum dan tidak sesuai dengan ketentuan Tata Usaha Negara, karena mengeluarkan secara sepihak tanpa sebelumnya melibatkan warga yang terkena pengadaan tanah.
2. Adanya pemberitahuan tentang masa sanggah yang dinilai bersifat intimidasi yaitu, “Apabila tidak melakukan keberatan/sanggahan
dalam batas waktu yang ditetapkan maka pemilik dianggap setuju dengan pengumuman”.(Terlampir)
3. Diterapkannya Koefisien Kualitas konstruksi dan Koefisien Susut Bangunan sebagai pengurang dana yang akan dibayarkan pemerintah ke pada warga.
4. Pemerintah tidak memasukkan kerugian-kerugian tidak langsung yaitu biaya pemasangan listrik, telepon dan biaya kepindahan.
Pemerintah juga tidak memperhatikan kerugian secara immaterial yang dirasakan warga.
Warga HBTB yang awalnya solid dan aktif dalam setiap kegiatan yang diadakan oleh Forkot, mundur satu-persatu dari Forkot. Bapak Drm (40) yang menjadi Ketua RT dan menjadi informan peneliti awalnya sangat aktif dalam kegiatan Forkot akhirnya memilih untuk mundur. Beliau menyetujui ganti rugi dengan menyerahkan sertifikat tanahnya pada Bulan Mei 2008. Hal ini disebabkan karena warga kompleknya yang lain juga sudah banyak yang pindah dari komplek. Ada pun yang masih bertahan adalah warga yang tanahnya masih menjadi sengketa karena sebagian tidak masuk ke wilayah yang terkena proyek dan rumah-rumah yang hanya dijadikan investasi oleh pemiliknya. Hal ini juga disebabkan warga Komplek HBTB yang bekerja sebagai pegawai swasta dan anak-anak mereka yang bersekolah memilki rutinitas yang menuntut stabilitas tempat tinggal.
Walaupun ditinggalkan oleh anggotanya satu-persatu, tidak menjadikan Forkot Cijago menjadi mundur, bahkan mereka bertambah berani dan intensif melakukan demonstrasi. Aktivitas yang mereka lakukan selain demonstrasi adalah menuntut melalui jalur hukum dengan memberi somasi dan mengirimkan surat kepada Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pekerjaaan Umum juga Presiden. Mereka juga merumuskan daftar hasil inventarisasi independen atas pemilik yang belum setuju besarnya nilai ganti rugi untuk klarifikasi dan evaluasi dalam rangka kenaikan ganti rugi pengadaan tanah untuk pembangunan jalan tol Cinere- Jagorawi.
7.3 Respon Warga Di Kampung Kalimanggis Terhadap Pengadaan Tanah
Kampung Kalimanggis yang masih banyak terdapat tanah kosong, ternyata memiliki potensi jaringan sosial keluar. Hal itu disebabkan karena tanah kosong tersebut merupakan tanah investasi dan pemiliknya tinggal di luar wilayah Kalimanggis. Salah satunya pemiliknya adalah Ibu En yang tinggal di Jakarta. Menurut penuturan RT setempat Ibu En, memiliki adik seorang pengacara yang saat ini menjadi kuasa hukum mereka. Namun, hanya sebagian saja warga yang mau ikut terus memperjuangkan harga tanahnya, bahkan 50 % sertifikat bidang tanah sudah didapatkan oleh pemerintah sisanya hanya bidang tanah besar dan dimiliki oleh beberapa orang saja.
Akan tetapi, warga Kalimanggis masih berjuang untuk mempertahankan tanah mereka yaitu dengan mempercayakan kepada Ibu En yang sedang mengurus kasus tanah ini melalui jalur hukum. Peneliti agak kesulitan untuk megetahui sejauh mana langkah yang sedang dilakukan oleh Ibu En karena beliau tidak tinggal di Kampung Kalimanggis. Sedangkan informan yang menjadi nara sumber tidak mengetahui dengan jelas perihal tuntutan yang mereka ajukan.
Namun, tuntutan dari warga Kalimanggis pada intinya adalah kenaikan harga. Menurut pengakuan dari Bapak Enj warga Kalimanggis sempat beberapa kali mengadakan audiensi dengan walikota dan konferensi pers yang menyatakan tidak setuju dengan harga yang ditawarkan dan meminta kenaikan harga. Warga Kalimanggis yang masih bertahan adalah warga yang sebelumnya juga terkena pengadaan tanah pembangunan Tol Cibubur dan tinggal di sana sejak tahun 2003 dan masih memiliki hubungan kekerabatan dengan ketua RT.
7.4 Konflik yang Timbul