VI. HASIL DAN PEMBAHASAN
6.1.2 Responden Rumahtangga
Identifikasi kelangkaan sumberdaya air di Desa Cijeruk dilakukan
berdasarkan persepsi dari responden rumahtangga yang memanfaatkan sumber
mata air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari dilihat dari tiga indikator yaitu:1.
tingkat ketergantungan terhadap mata air, 2. pemanfaatan sumberdaya air oleh
perusahaan air minum dan 3. kelangkaan sumberdaya air. Berdasarkan ketiga
indikator tersebut, persepsi responden rumahtangga di Desa Cijeruk terhadap
kelangkaan sumberdaya air untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari tersaji pada
45 Tabel 9. Persepsi Responden Rumahtangga Terhadap Kelangkaan
Sumberdaya Air di Desa Cijeruk Tahun 2010.
No. Indikator Ya Tidak Total
Jml % Jml % Jml % I. Tingkat ketergantungan terhadap
mata air:
1. Sumber air untuk kebutuhan 45 100 0 0 45 100
sehari-hari berasal dari mata air. 2. Ada upaya yang dilakukan untuk 30 67 15 33 45 100
memenuhi kebutuhan air bersih. II. Pemanfaatan sumberdaya air oleh
perusahaan air:
1. Mengetahui adanya perusahaan 45 100 0 0 45 100 air minum yang mengambil air
dari mata air. 2. Mengetahui pengambilan air yang 45 100 0 0 45 100
dilakukan perusahaan air minum
dilakukan secara berlebihan. 3. Merasa dirugikan dengan adanya 30 67 15 33 45 100
perusahaan air minum. III. Kelangkaan sumberdaya air:
1. Menurunnya jumlah air yang 45 100 0 0 45 100 dapat dimanfaatkan dari sumber
mata air.
2. Merasakan adanya kelangkaan air 30 67 15 33 45 100
bersih. Sumber: Data primer (diolah)
Berdasarkan hasil persepsi responden rumahtangga pada Tabel 9, didapat
bahwa 100% responden menyatakan air yang digunakan berasal dari mata air.
Seluruh responden juga menyatakan bahwa mereka mengetahui adanya
46
dilakukan secara berlebihan. Hal ini menyebabkan rumahtangga merasa dirugikan
dengan adanya perusahaan air minum. Hasil yang diperoleh selanjutnya didapat
bahwa seluruh responden rumahtangga menyatakan telah terjadi kerusakan
sumber mata air yang ditandai dengan semakin menurunnya jumlah air sehingga
rumah tangga merasakan adanya kelangkaan air bersih.
Berdasarkan hasil yang diperoleh, bahwa responden rumahtangga sangat
tergantung dengan sumber mata air karena sumber mata air tersebut digunakan
untuk kebutuhan sehari-hari. Adanya pemanfaatan sumberdaya air oleh
perusahaan air minum, rumahtangga merasakan sumberdaya air menjadi sulit
didapat. Hal ini disebabkan pemanfaatan yang berlebihan oleh perusahaan air
minum terhadap sumber mata air.
6.2 Pengelolaan Sumberdaya Air
Sumberdaya air di Desa Cijeruk sebagian besar berasal dari sumber mata
air. Sebagian besar masyarakat memanfaatkan sumber mata air untuk kebutuhan
rumahtangga serta kebutuhan pertanian. Pemanfaatan sumber mata air dilakukan
secara adil dan merata ke masyarakat berdasarkan musyawarah seluruh
masyarakat. Kepemilikan dari sumber mata air tersebut didasarkan pada
kepemilikan tanah yang menjadi tempat sumber mata air. Kepemilikan sumber
mata air yang menjadi lokasi penelitian yaitu mata air Cikiara di RW 04 Desa
Cijeruk dan mata air Legok Adung di RW 05 Desa Cijeruk dimiliki oleh
individu/penduduk lokal yang juga pemilik lahan dari lokasi mata air tersebut.
Masyarakat yang berada di RW 04 dan 05 Desa Cijeruk seluruhnya
47 pertanian. Sebelum adanya perusahaan air minum yang memanfaatkan sumber
mata air tersebut, masyarakat tidak kesulitan dalam hal mendapatkan air. Air
disalurkan secara merata ke setiap rumah tangga dan irigasi pertanian melalui pipa
langsung dari sumber mata air. Lokasi sumber mata air yang tidak jauh dari
pemukiman warga, menjadikan masyarakat lebih mudah untuk memanfaatkan
serta mengelola sumber mata air tersebut.
Pengelolaan terhadap sumber mata air sebelum adanya perusahaan air
minum di RW 04 dan 05 Desa Cijeruk dilakukan secara swadaya oleh masyarakat
berdasarkan musyawarah bersama. Berdasarkan musyawarah yang dilakukan
masyarakat, dalam hal pendistribusian serta pemeliharaan sumber mata air,
masyarakat dikenakan iuran setiap bulan untuk pemeliharaan. Pemerintah
Kecamatan Cijeruk pada saat itu memberikan bantuan instalasi pendistribusian air
ke rumah warga, sehingga warga hanya dikenakan iuran setiap bulannya untuk
pemeliharaan saluran distribusi air. Besarnya iuran setiap bulan untuk
pemeliharaan ditetapkan berdasarkan musyawarah bersama. Iuran tersebut
dikelola di setiap RT oleh aparat pengurus RT tersebut sedangkan
pemeliharaannya dilakukan secara bersama-sama oleh seluruh penduduk desa.
Pengelolaan sumber mata air yang diperuntukkan untuk irigasi pertanian dikelola
oleh setiap kelompok tani. Pengelolaannya meliputi pembuatan serta
pemeliharaan saluran irigasi.
Semenjak adanya perusahaan air yang mulai juga memanfaatkan sumber
mata air membuat masyarakat semakin sulit memperoleh air. Hal ini disebabkan
jumlah debit air yang mengalir ke masyarakat serta ke saluran irigasi pertanian
48
menyalurkan air dari sumber mata air ke tempat produksi perusahaan tersebut
melalui pipa penyaluran. Oleh sebab itu masyarakat membuat bak penampungan.
Banyaknya perusahaan air yang memanfaatkan sumber mata air
disebabkan oleh semakin banyaknya kepemilikan tanah yang awalnya dimiliki
oleh masyarakat lokal setempat kemudian berpindah ke pihak swasta dan
individu di luar Desa Cijeruk. Pemerintah setempat hanya melakukan legalitas
terhadap pengelolaan sumberdaya air sehingga tidak ada aturan yang jelas
mengenai pembagian serta pembayaran ganti rugi terhadap masyarakat. Hal ini
mencerminkan pemerintah belum dapat menerapkan isi dari UU nonor 7 tahun
2004 tentang sumberdaya air yaitu mengenai adanya asas efisiensi dan keadilan
dalam mendapatkan sumberdaya air. Masyarakat tidak bisa berbuat banyak terkait
pengelolaan sumber mata air serta ganti rugi perusahaan air minum kepada
masyarakat. Hal ini disebabkan kurangnya perhatian serta dukungan dari
pemerintah setempat. Musyawarah yang dilakukan antara pihak perusahaan
dengan masyarakat sudah sering dilakukan untuk menentukan penyaluran air
secara merata serta mengenai bantuan terhadap masyarakat, tetapi pihak
perusahaan selalu tidak melaksanakan hasil dari musyawarah tersebut. Berikut
tersaji pada Tabel 10 perbandingan pengelolaan sumber mata air sebelum dan
49 Tabel 10. Perbandingan Pengelolaan Sumber Mata Air Sebelum dan Sesudah Adanya Pemanfaatan Oleh Perusahaan Air Minum di Desa Cijeruk Tahun 2010.
No. Keterangan Sebelum Sesudah
1. Hak kepemilikan penduduk lokal penduduk di luar
Desa Cijeruk dan pihak swasta
2. Pemanfaatan air seluruhnya dimanfaatkan sebagian besar masyarakan dimanfaatkan
perusahaan air
air minum
3. Biaya pemanfaatan air iuran bulanan untuk peningkatan iuran pemeliharaan instalasi bulanan untuk pemeliharaan instalasi serta pembuatan bak penampungan
4. Kelembagaan dalam - RT/RW = pengelola - RT/RW =
pengelolaan sumber sumber mata air pengelola sumber mata air sumber mata air - pemerintah desa = - pemerintah desa belum ada campur = pemberi izin tangan pemanfaatan sumber mata air - pemilik sumber mata - pemilik sumber air = belum ada cam mata air = tangan penjual sumber mata air
Sumber: Data primer (diolah)
Berdasarkan Tabel 10, adanya perusahaan air minum yang memanfaatkan
sumber mata air disebabkan oleh semakin banyaknya kepemilikan tanah yang
awalnya dimiliki oleh masyarakat lokal setempat kemudian berpindah ke pihak
swasta dan penduduk di luar Desa Cijeruk. Pemerintah setempat hanya melakukan
legalitas terhadap pengelolaan sumberdaya air sehingga tidak ada aturan yang
50
Masyarakat tidak bisa berbuat banyak terkait pengelolaan sumber mata air serta
ganti rugi perusahaan air minum kepada masyarakat. Hal ini disebabkan
kurangnya perhatian serta dukungan dari pemerintah setempat. Musyawarah yang
dilakukan antara pihak perusahaan dengan masyarakat sudah sering dilakukan
untuk menentukan penyaluran air secara merata serta mengenai bantuan terhadap
masyarakat, tetapi pihak perusahaan selalu tidak melaksanakan hasil dari
musyawarah tersebut.
Masyarakat Desa Cijeruk khususnya di RW 04 dan 05 berharap
pemerintah bersikap tegas terhadap perusahaan air minum dalam hal pembagian
air serta ganti rugi perusahaan air kepada masyarakat. Masyarakat berharap sikap
tegas pemerintah dicerminkan dengan adanya aturan yang jelas mengenai
pengelolaan serta pemanfaatan sumberdaya air. Aturan tersebut juga diharapkan
mengedepankan kepentingan masyarakat serta jangan hanya mengedepankan
kepentingan pihak perusahaan.
6.3 Estimasi Nilai Economic Losses
Pemanfaatan sumber mata air yang dilakukan oleh perusahaan air minum
menimbulkan kelangkaan sumberdaya air yang dialami oleh masyarakat baik
rumahtangga maupun petani padi. Hal ini berdampak pada sulitnya mendapatkan
air dari sumber mata air sehingga masyarakat harus mengeluarkan biaya lebih
untuk mendapatkan air. Selain itu, petani padi mengalami kerugian dengan
semakin berkurangnya jumlah panen yang didapat. Oleh karena itu perlu
dilakukan penghitungan kerugian yang dialami masyarakat dengan menghitung
51 Nilai economic losses dari semakin berkurangnya jumlah air yang
mengalir ke masyarakat ditentukan berdasarkan analisis perubahan pendapatan
serta analisis biaya tambahan. Analisis perubahan pendapatan dilakukan kepada
responden petani padi sedangkan analisis biaya tambahan dilakukan kepada
responden rumahtangga. Analisis perubahan pendapatan mengacu pada
pendapatan petani padi sebelum adanya perusahaan air minum dengan pendapatan
petani padi setelah adanya perusahaan air minum. Analisis biaya tambahan
mengacu pada adanya biaya tambahan yang dikenakan rumahtangga setelah
adanya perusahaan air minum.