• Tidak ada hasil yang ditemukan

Responsibilitas menjelaskan apakah pelaksanaan kegiatan organisasi publik dilakukan sesuai dengan prinsip-prinsip administrasi yang benar atau sesuai dengan kebijakan organisasi. Responsibilitas dapat dinilai dengan mencocokan pelaksanaan kegiatan dan program organisasi dengan prosedur administrasi dan ketentuan-ketentuan yang ada dalam organisasi.

Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan semua kegiatan pengawasan terhadap peredaran produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya berpedoman dan merujuk kebijakan organisasi yaitu Rencana Strategis (Renstra) Balai Besar POM Yogyakarta dalam pengawasan obat dan makanan. Renstra pengawasan obat dan makanan dijabarkan menjadi tujuan strategis, sasaran strategis, indikator sasaran, dan didukung oleh program-program pengawasan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu D saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Semua kegiatan pengawasan Balai Besar POM Yogyakarta berpedoman dan merujuk pada Rencana Strategis (Renstra) pengawasan obat dan makanan. Renstra Balai Besar POM Yogyakarta pengawasan obat dan makanan tersebut mempunyai tujuan strategis, sasaran trategis, indikator sasaran dan program pengawasan. pokok programnya yaitu program pengawasan, program peyuluhan/sosialisasi dan program peningkatan kompetensi pegawai”.

Dari penuturan informan menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta telah melakukan semua kegiatan pengawasan berdasarkan pada Renstra. Renstra Balai Besar POM Yogyakarta tahun

2010-2014 mempunyai 1 tujuan strategis dengan menetapkan 2 sasaran strategis dengan penjabaran 9 indikator sasaran dan didukung oleh 19 program.

Renstra Balai Besar POM Yogyakarta tahun 2010-2014 mempunyai tujuan meningkatkan perlindungan masyarakat di Daerah Istimewa Yogyakata dari produk obat dan makanan yang beresiko terhadap kesehatan. Tujuan tersebut dituangkan dalam 2 sasaran strategis yaitu pertama, meningkatkan efektivitas pengawasan obat dan makanan dalam rangka melindungi masyarakat. Kedua, Meningkatkan kinerja pengawasan obat dan makanan.

Setiap pengawasan rutin yang dilakukan Balai Besar POM Yogyakarta berupa pengawasan sarana produksi dan distribusi produk obat dan makanan berpedoman terhadap peraturan yang berlaku pada setiap masing-masing komoditi. Untuk pengawasan sarana produksi produk obat dan makanan, peraturan-peraturan yang digunakan antara lain CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik), CPOB (Cara Produksi Obat yang Baik), CPPB-IRT (Cara Produksi Pangan yang Baik untuk Industri Rumah Tangga), CPPB (Cara Produksi Pangan yang Baik). Sementara untuk pengawasan sarana distribusi produk obat dan makanan, peraturan-peraturan yang digunakan antara lain CDOTB (Cara Distribusi Obat Tradisional yang Baik), CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik), CDMB (Cara Distribisi Makanan yang

Baik). Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Kami dalam melakukan pengawasan sarana produksi dan distribusi produk obat dan makanan selalu berpedoman pada peraturan-peraturan yang berlaku seperti CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik), CPOB (Cara Produksi Obat yang Baik). Jadi peraturan-peraturan tersebut menjadi pegangan kami untuk melakukan pemeriksaan ke sarana produksi dan maupun distribusi”.

Dari penuturan informan di atas menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta dalam setiap pengawasan telah berlandaskan pada peraturan yang berlaku pada setiap masing masing komoditi seperti CPOTB (Cara Produksi Obat Tradisional yang Baik) yang termuat dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor Hk.03.1.23.06.11.5629 Tahun 2011 dan CDOB (Cara Distribusi Obat yang Baik) yang termuat dalam Peraturan Kepala Badan Pengawas Obat Dan Makanan Republik Indonesia Nomor Hk.03.1.34.11.12.7542 Tahun 2012.

Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan semua kegiatan pengawasan terhadap peredaran produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya dan beresiko terhadap kesehatan dengan melakukan pemeriksaan sarana produksi dan distribusi produk obat dan makanan serta pemeriksaan dengan melakukan sampling dan uji terhadap produk obat dan makanan selalu berdasarkan perencanaan tahunan. Perencanaan tahunan tersebut meliputi rencana pemeriksaan sarana produksi dan distribusi serta rencana sampling produk obat dan

makanan. Perencanaan tahunan tersebut dijabarkan ke dalam rencana bulanan, rencana minggunan hingga rencana harian. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Jadi perencanaan pengawasan kami sesuai dengan rencana strategis 5 tahun tersebut lalu diturunkan ke rencana tahunan, di jabarkan lagi ke rencana bulanan, mingguan hingga rencana harian. Rencana tersebut untuk menentukan jadwal pengawasan, jumlah target pegawasan, menentukan lokasi mana saja yang akan diawasai, jumlah personil yang diturunkan, hingga apa saja yang diperlukan dalam proses pengawasan”.

Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Ibu D saat wawancara pada senin, 27 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Jadi setiap program pengawasan maupun program layanan informasi itu sudah ada jadwalnya masing-masing dan perencanaan yang tentu itu berpedoman pada rencana strategis kita .”

Dari penuturan kedua informan di atas menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta telah merencanakan seluruh kegiatan pengawasan yang di jabarkan hingga rencana harian. Rencana tersebut untuk menentukan jadwal dalam melakukan pengawasan, baik pengawasan sarana produksi dan distribusi maupun sampling produk. Rencana tersebut juga terkait untuk menentukan berapa jumlah target pengawasan, baik dari jumlah sarana produksi dan distribusi yang diperiksa maupun dari jumlah produk obat dan makanan yang mau di sampling serta untuk menentukan lokasi mana saja yang akan di

periksa, baik sarana produksi dan distribusi yang diperiksa maupun toko atau minimarket yang akan di sampling produknya.

Pengawasan produk obat dan makanan yang dilakukan oleh Balai Besar POM Yogyakarta sudah sesuai dengan Strandar Operating Procedure (SOP) pengawasan pada masing-masing komoditi. Setiap produk obat dan makanan sudah mempunyai SOP masing-masing. SOP pengawasan tersebut menjadi acuan untuk melakukan pemeriksaan pada masing-masing produk obat dan makanan, baik di sarana produksinya maupun di sarana distribusinya. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Dalam melakukan pemeriksaan, setiap produk obat dan makanan mempunyai SOP yang berbeda-beda. Jadi setiap produk layoutnya berbeda, poin-poin pemeriksaannya berbeda, indikator-indikator yang diperiksa berbeda, formulir pemeriksaan berbeda dan aturannya berbeda”.

Pendapat informan diatas didukung oleh dokumen Strandar Operating Procedure (SOP) Pengawasan Balai Besar POM Yogyakarta seperti pada tabel 9 sebagai berikut.

Tabel. 9 Strandar Operating Procedure (SOP) Pengawasan

Sumber : Dokumen Strandar Operating Procedure (SOP) Pengawasan Nomor Formulir POM-15.SOP/F02

Nama Dokumen Formulir Daftar Dokumen

Nama Dokumen Nomor Dokumen

1. Penyusunan Rencana Inspeksi Tahunan

POM-03SOP.01.IK.01(96)

2. Perencanaan Pemeriksaan Tahunan Dan Bulanan

POM-03SOP.01.IK.02(96)

3. Persiapan Pemeriksaan Sarana Produksi Dan Distribusi

POM-03SOP.01.IK.04(96)

4. Pelaksanaan pemeriksaan Sarana Pedagang Besar Farmasi (PBF)

POM-03SOP.01.IK.06(96)

5. Pemeriksan Sarana Apotek POM-03SOP.01.IK.08(96) 6. Pelaksanaan Pemeriksan Sarana

Produksi Obat Tradisional

POM-03SOP.01.IK.11(96)

7. Pemeriksaan Sarana Toko Obat POM-03SOP.01.IK.10(96) 8. Pelaksanaan Pemeriksaan Sarana

Produksi Pangan

POM-03SOP.01.IK.14(96)

9. Pelaksanaan Pemeriksaan Sarana Distribusi Pangan

POM-03SOP.01.IK.14(96)

10. Tatacara Pengisian Form Penilaian CPPOB Sarana MD

POM-03SOP.01.IK.19(96)

11. Tatacara Pengisian Form Pemeriksaan Sarana Produksi Rumah Tangga Pangan

Dari penuturan informan dan tabel 9 menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta telah melaksanakan pengawasan produk obat dan makanan sesuai Strandar Operating Procedure (SOP) masing-masing produk yang terdiri dari poin-poin pemeriksaan, indikator-indikator yang diperiksa, dan formulir pemeriksaan produk. SOP tersebut menjadi acuan dalam setiap melakukan pengawasan seperti SOP pelaksanaan pemeriksaan sarana apotek, SOP pelaksanaan pemeriksaan sarana produksi obat tradisional, SOP pemeriksaan toko obat, SOP pelaksanaan pemeriksaan sarana produksi pangan, dan SOP pelaksanaan sarana distribusi pangan.

Pihak Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan semua kegiatan pengawasan terhadap peredaran produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya berupa pengawasan sarana produksi dan distribusi produk obat dan makanan serta pengawasan sampling produk obat dan makanan melalui prosedur-prosedur administrasi. Prosedur administrasi dalam pengawasan Balai Besar POM Yogyakarta dimulai dari sebelum dilakukannya pengawasan, saat di sarana produksi dan distribusi maupun setelah melakukan pengawasan. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Kita itu dalam setiap melakukan pengawasan itu sudah ada prosedur administrasinya, sebelum malakukan pengawasan kita biasanya bikin perencanaaan pengawasan yang meliputi 1 bulan harus kemana saja, harus menyiapkan apa saja, siapa saja

personil yang akan diturunkan. Lalu ketika akan melakukan pengawasan kita dibekali surat tugas. Lalu ketika di sarana produksi dan distribusi kita lakukan opening meeting dulu, lalu membuat berita acara pemeriksaan. untuk laporan pemeriksaannya bulanan. Laporan pemeriksaan tersebut juga dievaluasi setiap bulan. Laporan-laporan bulanan tersebut setiap tahunnya di satukan menjadi laporan tahunan dan laporan kinerja”.

Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Ibu D saat wawancara pada selasa, 14 Januari 2014 yang mengatakan bahwa:

“Kegiatan pengawasan dan program layanan informasi konsumen tu ada perencanaannya, Lalu setelah selesai pengawasan atau program kita membuat RHPK (Resume Hasil Pelaksanaan kegiatan). Dan laporannya satu bulan sekali”. Dari penuturan kedua informan di atas menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta telah mematuhi segala prosedur administrasi dalam melakukan setiap pengawasan baik sebelum pengawasan dengan membuat perencanaaan pengawasan dan surat tugas pengawasan, saat dilokasi pengawasan dengan membuat berita acara pemeriksaan, dan setelah pengawasan dengan membuat RHPK (Resume Hasil Pelaksanaan kegiatan) dan laporan pengawasan. Untuk setiap tahunnya, Balai Besar POM Yogyakarta juga membuat laporan tahunan dan laporan kinerja untuk di serahkan ke Badan POM pusat di Jakarta.

Balai Besar POM Yogyakarta dalam pelaksanaan penyidikan dan penindakan terhadap suatu kasus pelanggaran berpedoman pada dua cara penindakan yaitu dengan secara non-justisia dan pro-justisia. Cara penindakan secara non-justisia yaitu berupa pemusnahan produk,

pembinaan, dan pemanggilan pemilik sarana untuk dimintai keterangan terkait temuan produk. Sedangkan penindakan secara pro-justisia yaitu dengan penyidikan oleh penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Balai Besar POM Yogyakarta yang akan dilimpahkan hingga ke pengadilan untuk mendapatkan putusan pengadilan. Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak S saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Tindakan non-justisia itu kita bina produsennya atau distributornya, tergantung siapa yang melanggar dan ada yang kita musnahkan. Sementara pro-justisia itu misalnya ada kasus lalu ditangani penyidik pegawai negeri sipil (PPNS), PPNS melakukan pengawasan dan penyidikan lalu jika ada pelanggaran, penyidik diberi Surat Perintah Dimulainya Penyidikan (SPDP), penyidik mulai mengumpulkan bukti-bukti dan panggil saksi, setelah mendapat tersangka, penyidikan menjadi buku berkas perkara, lalu diserahkan ke kejaksaan memalui korwas (koordinator pengawasan) kepolisian. Dari korwas serahkan kekejaksaan dan dikejaksaan di keluarka P-16 untuk menentukan siapa jaksa yang akan mengawal kasus ini, setelah berkas lengkap ada P-21, penyidik menyerahkan/melimpahkan kewenangan berupa tersangka dan barang bukti ke pengadilan untuk proses penuntutan dan keluarlah vonis pengadilan”.

Pernyataan yang senada juga disampaikan oleh Ibu A saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Kalo non-justisia itu kasus pelanggarannya masih berupa peringatan. Jadi nanti bisa di dibina produsennya atau dimusnahkan produknya. Tapi kalo pro-justisia itu kasus pelanggarannya dibawa ke jalur hukum jadi nanti sampai putusan pengadilan”.

Pendapat kedua informan diatas didukung oleh dokumen hasil penyidikan dan penyelidikan Balai Besar POM Yogyakarta seperti pada tabel 10 sebagai berikut.

Tabel 10. Hasil Penyidikan dan Penyelidikan Tindak Pidana Bidang Obat dan Makanan Tahun 2012

No Jenis

Produk Tindak Lanjut

Jumlah kasus Non-justisia % Pro- justisia % 1. Obat 25 10 14,08 15 21,13 2. Makanan 4 2 2,82 2 2,82 3. Kosmetik 19 19 26,76 0 0 4. Obat tradisonal 22 21 29,58 1 1,41 5. Produk komlemen 1 1 1,41 0 0 Total 71 53 74,65 18 25,36

Sumber : Laporan Tahunan Balai Besar POM Yogyakarta 2012

Dari penuturan informan dan tabel 10 di atas menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta dalam penindakan terhadap setiap kasus pelanggaran telah berpedoman pada dua jenis penindakan yaitu penindakan non-justisia dan penindakan pro-justisia. Penindakan non-justisia yaitu berupa pemusnahan produk, pembinaan, dan pemanggilan pemilik sarana untuk dimintai keterangan terkait temuan produk. Sedangkan penindakan pro-justisia yaitu dengan penyidikan oleh penyidik pegawai negeri sipil (PPNS) Balai Besar POM Yogyakarta yang akan dilimpahkan hingga ke pengadilan untuk mendapatkan putusan pengadilan.

b. Faktor Penghambat Kinerja Balai Besar POM Yogyakarta dalam Pengawasan Produk Obat dan Makanan yang Mengandung Zat Berbahaya

Berbagai hambatan dialami oleh Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan pengawasan terhadap produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta. Hambatan yang dialami oleh Balai Besar POM Yogyakarta dibagi menjadi dua yaitu hambatan internal dan hambatan eksternal. Hambatan internal yaitu hambatan yang ditimbul dari dalam organisasi Balai Besar POM Yogyakarta. Sedangkan hambatan eksternal yaitu hambatan yang timbul di luar organisasi Balai Besar POM Yogyakarta.

Hambatan internal yang dialami oleh Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan pengawasan terhadap produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut.

1) Sumber daya manusia tidak sebanding dengan cakupan pengawasan sarana produksi dan distribusi.

Balai Besar POM Yogyakarta dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi dalam hal pengawasan terhadap peredaran produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta masih kekurangan dari segi sumber daya manusia. Sumber daya manusia yang dimiliki Balai Besar POM Yogyakarta tidak sebanding dengan besarnya cakupan pengawasan sarana produksi

dan distribusi yang ada di seluruh provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu D saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Jumlah SDM kita kurang, Kita tidak bisa berbuat banyak. Misal SD di DIY ada 2660, setiap tahun kita hanya mengawsai 200 SD, jika dihitung dari tahun 2010-2014, selama 4 tahun hanya 800 SD. Masih tersisa 1860 SD sehingga masih banyak anak-anak yang belum terlindungi. Dengan kurangnya pegawai pekerjaan kita jadi overload ”.

Hal senada juga di ungkapkan oleh Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Dalam pemeriksaan dan pengawasan tidak semua sarana kita awasi, seperti apotek di DIY ada 600, hanya yang sudah direncanakan dan di tentukan yang kita awasi. Kita belum bisa mengawasi semuanya karena keterbatasan SDM”. Dari penuturan informan di atas menerangkan bahwa Balai Besar POM Yogyakarta belum bisa melakukan pengawasan secara menyeluruh terhadap sarana produksi dan distribusi yang ada di seluruh wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta karena keterbatasan sumber daya manusia.

2) Kompetensi dan kualitas pegawai Balai Besar POM Yogyakarta belum merata.

Kompetensi dan kualitas pegawai Balai Besar POM Yogyakarta masih belum merata. Ada pegawai yang mempunyai kualitas bagus dan ada pula pegawai yang kualitas dan kompetensi kurang. Belum meratanya kompentensi dan kualitas pegawai ini menghambat kinerja pengawasan produk obat dan makanan. Artinya,

pegawai yang mempunyai kompetensi bagus dalam hal melakukan pengawasan sarana produksi dan distribusi dapat menjalankan tugasnya secara cepat dan cermat. Sedangkan pegawai yang kompetensi kurang, belum dapat menjalankan tugas pengawasannya secara cepat dan cermat. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu D saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Hambatan pengawasan pada sarana produksi dan distribusi itu juga pada kompetensi pegawai mas. Masih ada pegawai kita yang belum mempunyai kompetensi pengawasan yang kita harapkan”.

Hal senada juga di ungkapkan oleh Ibu A saat wawancara pada kamis, 16 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Hambatan kita salah satunya ya kompetensi pegawai yang masih kurang. Kompetensi pegawai kita ada yang sudah bagus dan ada pula yang masih kurang. Kurangnya kompetensi itu nanti berkaitan dengan pengawasan. Nanti ada pengawasan yang cepat dan cermat dalam melakukan pemeriksaan tapi adapula yang belum”.

Dari penuturan kedua informan di atas menerangkan bahwa kompetensi dan kualitas pegawai Balai Besar POM Yogyakarta masih belum merata. Hal ini menjadi hambatan bagi Balai Besar POM Yogyakarta dalam menjalankan tugas pokok dan fungsi dalam pengawasan produk obat dan makanan.

Hambatan eksternal yang dialami oleh Balai Besar POM Yogyakarta dalam melakukan pengawasan terhadap produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya di wilayah Daerah Istimewa Yogyakarta adalah sebagai berikut.

1) Masih rendahnya pelaku usaha untuk memenuhi ketentuan persyaratan cara produksi yang baik.

Rendahnya pelaku usaha untuk memenuhi ketentuan persyaratan cara produksi yang baik merupakan faktor penghambat dalam kinerja pengawasan produk obat dan makanan. Rendahnya pelaku usaha untuk memenuhi ketentuan persyaratan cara produksi yang baik akan mengakibatkan masih adanya produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya beredar di masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta. Dengan semakin banyak produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya beredar di masyarakat akan menambah beban pengawasan Balai Besar POM Yogyakarta. Hal ini sesuai dengan pendapat Ibu I saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Pelaku usaha tu diharapkan memproduksi produknya sesuai dengan prosedur dan cara produksi yang benar untuk menghasilkan produk yang aman dan bermutu. Tapi kenyataannya masih ada yang belum, jadi ya menghambat kerja kita dalam pengawasan, kerja kita tambah banyak”. Pendapat informan diatas didukung oleh dokumen pemeriksaan sarana produksi tahun 2012 seperti pada tabel 11 sebagai berikut. Tabel 11. Pemeriksaan Sarana Produksi Pangan dan Obat Tradisonal

Tahun 2012

Produk Indikator Sarana Produksi

Memenuhi Kriteria Tidak Memenuhi Kriteria

Pangan 68,91 % 31,09 %

Obat Tradisonal 41,03 % 58,97 %

Dari penuturan informan dan tabel 11 menerangkan bahwa para produsen pangan dan obat tradisional belum patuh dan belum konsisten dengan penerapan prosedur cara produksi yang baik sehingga mengakibatkan masih adanya produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya beredar di masyarakat Daerah Istimewa Yogyakarta.

2) Rendahnya sangsi hukum kepada pelanggar hukum tindak pidana bidang obat dan makanan.

Sangsi hukum yang relatif rendah kepada pelanggar tindak pidana bidang obat dan makanan menyebabkan penegakan hukum yang dilakukan kepada para pelanggar menjadi tidak optimal. Putusan pengadilan yang dijatuhkan tidak sebanding dengan keuntungan finansial yang didapat oleh pelanggar. Hal ini menyebabkan tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku pelanggar sehingga masih ditemukannya produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya di DIY. Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak S saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Untuk tahun 2013 ini ada 20 kasus, 6 sudah mendapat putusan pengadilan, 14 masih dalam proses penyidikan. 6 kasus masih rendah dalam putusan pengadilan padahal jika dilihat dari pasal yang disangkakan, kasus obat denda maksimal 100 juta tapi kenyataannya hanya 1-2 juta”.

Putusan pengadilan yang masih relatif rendah disebabkan karena kurangnya koordinasi antara pihak Balai Besar POM Yogyakarta, kepolisian, jaksa penuntut umum, dan pihak pengadilan.

Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak S saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Kuncinya ada di koordinasi, seharusnya ada koordinasi yang baik, saling komunikasi dari penyidik komunikasikan dengan jaksa penuntut umum, jaksa penuntut umum komunikasi ke pengadilan, tidak saling intervensi, hanya koordinasi”.

Faktor lain yang menyebabkan putusan pengadilan yang masih relatif rendah juga karena pada proses penyidikan di PPNS (Penyidik Pegawai Negeri Sipil) secara fokus masih belum tajam. Dari segi penuntutan, jaksa penuntut umum juga kurang berani dalam memberi tuntutan yang tegas. Hal ini sesuai dengan pendapat Bapak S saat wawancara pada jumat, 17 Januari 2014 yang mengatakan bahwa :

“Hasil dari vonis pengadilan yang rendah secara tidak langsung bisa dipengaruhi oleh penyidikan kurang tajam dan kurang fokus, atau mungkin dari penyidikan sudah fukus namun dari segi penuntutan jaksa kurang berani”.

Dari penuturan informan di atas menerangkan bahwa sangsi hukum yang relatif rendah kepada pelaku pelanggar produk obat dan makanan disebabkan karena kurangnya koordinasi antara pihak Balai Besar POM Yogyakarta dengan pengadilan serta proses penyidikan yang kurang fokus. Sangsi hukum yang relatif rendah menyebabkan tidak menimbulkan efek jera bagi pelaku pelanggar sehingga mengakibatkan masih ditemukannya produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya. Masih ditemukannya produk obat dan makanan yang mengandung zat berbahaya ini menjadi penghambat kinerja pengawasan Balai Besar POM Yogyakarta.

B. Pembahasan

1. Kinerja Balai Besar POM Yogyakarta Dalam Pengawasan Produk Obat

Dokumen terkait