• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENODAAN AGAMA PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENODAAN AGAMA

KEBIJAKAN HUKUM PIDANA TERHADAP PENANGGULANGAN TINDAK PIDANA PENODAAN AGAMA

B. Kebijakan Hukum Pidana Terhadap Penanggulangan Tindak Pidana Penodaan Agama

6. Teori Restorative Justice

Konsep restorative justice, proses penyelesaian tindakan pelanggaran hukum yang terjadi dilakukan dengan membawa korban dan pelaku (tersangka) bersama-sama duduk dalam satu pertemuan tersebut mediator memberikan kesempatan kepada pihak pelaku untuk memberikan gambaran yang sejelas- jelasnya mengenai tindakan yang telah dilakukannya.109

Bazemore dan Lode Walgrave mendefinisikan restorative justice sebagai “setiap aksi yang pada dasarnya bermaksud melakukan/membuat keadilan dengan melakukan perbaikan atas kerugian yang terjadi oleh kriminal”.110

Restorative justice menawarkan solusi terbaik dalam menyelesaikan kasus

kejahatan yaitu dengan memberikan keutamaan pada inti permasalahan dari suatu kejahatan. Penyelesaian yang penting untuk diperhatikan adalah memperbaiki kerusakan atau kerugian yang disebabkan terjadinya kejahatan tersebut. Perbaikan tatanan sosial masyarakat yang terganggu karena peristiwa kejahatan merupakan bagian penting dari konsep restorative justice.111

Pelaksanaan restorative justice harus memenuhi prasyarat, yaitu: 112 1. Harus ada pengakuan atau pernyataan bersalah dari pelaku;

2. Harus ada persetujuan dari pihak korban untuk melaksanakan penyelesaian di luar sistem peradilan pidana anak yang berlaku;

109

Marlina, Peradilan Pidana Anak di Indonesia : Pengembangan Konsep Diversi dan

Restorative Justice, Bandung : PT.Refika Aditama, 2009, hlm. 180.

110 Ibid, hlm. 201. 111 Ibid, hlm. 198. 112 Ibid, hlm. 206.

3. Persetujuan dari kepolisian atau dari kejaksaan sebagai institusi yang memiliki kewenangan diskresioner;

4. Dukungan komunitas setempat untuk melaksanakan penyelesaian di luar sistem peradilan pidana anak.

Adapun kasus yang bisa dilaksanakan penyelesaiannya dengan konsep

restorative justice adalah :113

1. Kasus tersebut bukan kasus kenakalan anak yang mengorbankan kepentingan orang banyak dan bukan pelanggaran lalu lintas jalan.

2. Kenakalan anak tersebut tidak mengakibatkan hilangnya nyawa manusia, luka berat atau cacat seumur hidup.

3. Kenakalan anak tersebut bukan kejahatan terhadap kesusilaan yang serius yang menyangkut kehormatan.

Bertolak dari teori-teori pemidanaan diatas, maka perumusan tujuan pemidanaan juga dirumuskan secara eksplisit pada Rancangan Kitab Undang- Undang Hukum Pidana Tahun 2008. Perumusan yang eksplisit itu untuk menegaskan bahwa tujuan pemidanaan merupakan bagian integral dari system pemidanaan.

Tujuan pemidanaan dalam RKUHP Tahun 2008 dirumuskan dalam Pasal 54 sebagai berikut :

(1) Pemidanaan bertujuan untuk :

1. Mencegah dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat;

113

Marlina, Ibid, hlm. 207, dikutip dari Hasil Workshop Draff Pedoman Diversi untuk Perlindungan bagi Anak yang berhadapan dengan Hukum yang diadakan oleh Unicef pada tanggal 1-2 Juni 2005 di Jakarta.

2. Memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna;

3. Menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana, memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat;

4. Membebaskan rasa bersalah pada terpidana.

(2) Pemidanaan tidak dimaksudkan untuk menderitakan dan merendahkan martabat manusia.

Uraian di atas dapat memberi penjelasan bahwa bila ditarik benang merah antara penjatuhan pidana/pemidanaan dalam suatu perundang-undangan pidana dengan perumusan tujuan pemidanaan, maka tampak jelas adanya keterkaitan yang sangat erat dengan landasan filsafat pemidanaan, teori-teori pemidanaan dan aliran-aliran hukum pidana yang dianut oleh atau yang mendominasi pemikiran dalam kebijakan kriminal (criminal policy) dan kebijakan penal (penal policy). Pernyataan ini juga terlihat dalam pendapat Romli Atmasasmita yang menegaskan bahwa perumusan empat tujuan pemidanaan di dalam RKUHP sebagaimana yang telah dijelaskan diatas, tersimpul pandangan social defence, pandangan rehabilitasi dan resosialisasi terpidana, pandangan hukum adat dan tujuan yang bersifat spiritual berlandaskan Pancasila.114

Secara khusus pada Tindak Pidana terhadap Agama dan Kehidupan Beragama sebagaimana diatur dalam Bab VII Pasal 341-348 RKUHP Tahun 2008 dan secara umum terhadap semua tindak pidana yang diatur dalam RKUHP ini maka tujuan pemidanaan yang tepatnya itu adalah sebagaimana dirumuskan

114

dalam Pasal 54, yaitu sebagai upaya pencegahan (deterrence), membina si terpidana (treatment), memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat (social defence).

Pembaharuan hukum pidana sekaligus merubah konsep pemikiran tujuan pemidanaan sebagai pembalasan. Praktek yang terjadi dalam pemidanaan sebagaimana yang diatur dalam KUHP bersendikan pada falsafat retributif atau pembalasan, maka penjatuhan pidana ditujukan untuk menderitakan pelanggar, terlepas apakah penderitaan tersebut berhubungan dengan penderitaan korban atau tidak. Keadilan diukur dengan penderitaan pelanggar, maka kelayakan dalam penjatuhan pidana menjadi ukuran dalam penjatuhan pidana. Pembalasan sebagai landasan filsafat dalam pemidanaan pada mulanya bersifat individual dan kolektif yang bersifat emosional dan kadang tak terukur kemudian bergeser seiring dengan perkembangan organisasi negara modern menjadi pembalasan yang terwakili oleh institusi negara, profesional, rasional, dan terukur serta terkendali.115

Apakah filsafat yang mendasari dalam perumusan RKUHP akan tetap berpijak pada filsafat retributif atau menggantinya dengan filsafat lain yang cocok dengan alam pikiran masyarakat Indonesia? Jika ingin mengganti landasan filsafat dalam pemidanaan, berarti perlu ada inovasi baru dalam pemidanaan, khususnya mengenai jenis pidana yang cocok dengan filsafat pemidanaan yang baru tersebut116

115

Mudzakir, Makalah disampaikan pada Sosialisasi Rancangan Kitab Undang-undang Hukum Pidana yang diselenggarakan oleh Direktorat Jenderal Peraturan Perundang-undangan

Departemen Kehakiman dan HAM RI, Jakarta : 29 Juli 2004, dari

dan tujuan pemidanaan sebagaimana yang dirumuskan dalam Pasal 54

pada Hari Minggu 18 Maret 2012 Pukul 13.00 WIB.

116 Ibid

RKUHP Tahun 2008 sudah cocok untuk diterapkan dalam penegakan hukum pidana Indonesia.

BAB IV PENUTUP

A. Kesimpulan

Berdasarkan pembahasan diatas, maka dapat ditarik kesimpulan sebagai berikut :

1. Pengaturan tentang delik agama terlihat dalam Pasal 156a KUHP (penodaan terhadap agama dan melakukan perbuatan agar orang tidak menganut agama), termasuk juga Pasal 156 KUHP dan Pasal 157 KUHP (penghinaan terhadap golongan/penganut agama; dikenal dengan istilah

group libel). Tindak pidana penodaan agama dalam Pasal 156a KUHP

tidak berasal dari Wetboek van Strafrechts (WvS) Belanda, melainkan dari Undang-Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama. Namun demikian, delik penodaan agama juga dimasukkan dalam KUHP yaitu pada Pasal 156a yang merupakan bagian dari Pasal 156 yang ditempatkan pada Bab V “Kejahatan terhadap Ketentuan Umum” KUHP yang mengatur perbuatan menyatakan perasaan permusuhan, kebencian atau penghinaan terhadap orang atau golongan lain di depan umum, juga terhadap orang yang berlainan suku, agama, keturunan dan sebagainya. Alasan aturan penodaan agama perlu dimasukkan dalam KUHP itu sendiri adalah konsideran dalam Undang- Undang No. 1/PNPS/1965 tersebut. Selain itu, dasar yang digunakan untuk memasukkan delik agama dalam KUHP adalah sila Ketuhanan Yang

Maha Esa sebagai “causa prima” Negara Indonesia, UUN NRI Tahun 1945 pasal 29 juga menyebutkan bahwa Negara berdasar Ketuhanan Yang Maha Esa. Karena itu, kalau ada orang yang mengejek dan penodaan Tuhan yang disembah tidak dapat dibiarkan tanpa pemidanaan. Atas dasar itu, dengan melihat Ketuhanan Yang Maha Esa sebagai titik sentral dari kehidupan kenegaraan, maka delik Goslastering sebagai blasphemy menjadi prioritas dalam delik agama. Undang No. 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama masih banyak mengandung kelemahan baik dari segi pengaturan, rumusan, dan kaidah- kaidah hukumnya sehingga perlu disempurnakan. Rumusan tindak pidana penodaan agama dalam undang-undang a quo sudah tidak efektif karena rumusan undang-undang a quo sudah tidak mengikuti asas-asas berlakunya undang-undang khususnya asas legalitas, asas pembentukan peraturan perundang-undangan yang baik dan perkembangan masyarakat. 2. Kebijakan hukum pidana dalam Rancangan Kitab Undang-Undang

Hukum Pidana versi tahun 2008 telah mengatur tindakan penodaan agama dengan rumusan dan pasal yang jauh lebih lengkap dan ancaman hukuman yang lebih berat. Dalam RKUHP, penodaan agama diatur dalam BAB VII yaitu Tindak Pidana terhadap Agama dan Kehidupan Beragama yang didalamnya ada delapan pasal. Dari delapan pasal itu dibagi dalam dua bagian, yaitu bagian pertama mengatur tentang tindak pidana terhadap agama. Bagian ini terdiri dari dua paragraph yang mengatur tentang Penghinaan terhadap Agama (Pasal 341-344) dan Penghasutan Untuk

Meniadakan Keyakinan terhadap Agama (Pasal 345); bagian kedua mengatur tentang Tindak Pidana terhadap Kehidupan Beragama dan Sarana Ibadah. Bagian ini terdiri dari dua paragraf yang mengatur dua hal, yaitu Gangguan terhadap Penyelenggaraan Ibadah dan Kegiatan Keagamaan (Pasal 346-347) dan Perusakan Tempat Ibadah (Pasal 348). Mengenai sanksi yang hendaknya dijatuhkan pada pelaku delik penodaan agama ini, maka penjatuhan pidana dalam RKUHP bertujuan untuk

deterrence yang berarti membuat jera atau mencegah penjahat sebagai

individual mengulangi perbuatannya (individual deterrence/speciale

preventie) dan menakut-nakuti orang lain yang potensial melakukan

kejahatan (general deterrence/generale preventive). Akan tetapi, karena delik-delik penodaan agama sering sekali dikaitkan dengan ajaran sesat/menyimpang, maka penjatuhan pidana penjara atau denda terhadap pelaku perlu ditinjau kembali. Hal ini karena menyangkut keyakinan/pemikiran yang tidak akan mudah hilang sekalipun dipidana penjara atau denda, sehingga pelaku masih sangat mungkin mengulangi perbuatannya. Dalam menentukan sanksi pidana untuk delik penghinaan agama juga harus mengingat prinsip-prinsip dan teori-teori penjatuhan pidana, yaitu prinsip ultimum remedium, pendekatan humanistis (hak asasi manusia), pendekatan ekonomis, pembatasan sanksi pidana, pendekatan kemanfaatan (utility) dan teori-teori kriminalisasi. Selain itu perumusan tujuan pemidanaan sebagaimana yang diatur pada Pasal 54 RKUHP juga sudah tepat untuk dijadikan tujuan pemidanaan nasional, yaitu mencegah

dilakukannya tindak pidana dengan menegakkan norma hukum demi pengayoman masyarakat (deterrence); memasyarakatkan terpidana dengan mengadakan pembinaan sehingga menjadi orang yang baik dan berguna

(treatment); menyelesaikan konflik yang ditimbulkan oleh tindak pidana,

memulihkan keseimbangan dan mendatangkan rasa damai dalam masyarakat (social defence) dan Membebaskan rasa bersalah pada terpidana. Tidak lagi sebagai upaya pembalasan (retributif).

B. Saran

Berdasarkan kesimpulan diatas, maka saran yang dapat diberikan adalah sebagai berikut :

1. Perlu dilakukan revisi terhadap Undang-Undang Nomor 1/PNPS/1965 tentang Pencegahan Penyalahgunaan dan/atau Penodaan Agama mengingat rumusan tindak pidana dalam undang-undang ini sudah tidak sesuai dengan perkembangan masyarakat, tidak adil dan diskriminatif, dan bahkan tidak dapat menjamin kepastian hukum.

2. Perlu ditinjau kembali mengenai penetapan perbuatan yang merupakan tindak pidana penodaan agama dan penjatuhan sanksi pidananya. Perumusan mengenai perbuatan yang merupakan tindak pidana hendaknya dirumuskan dengan lebih jelas dan tegas (lex certa dan lex stricta). Penetapan sanksi pidana juga harus diarahkan pada prinsip-prinsip dan teori-teori penjatuhan pidana khususnya pendekatan humanisitis,

pendekatan ekonomis, prinsip kegunaan, dan prinsip pembatasan sanksi pidana agar sanksi yang dijatuhkan mencapai tujuan pemidanaan.

3. Perlu dilakukan pembahasan kembali pada pasal tertentu yang berpotensi mengundang pertanyaan, khususnya terkait dengan penjatuhan pidana, misalnya antara Pasal 342 dan Pasal 343 disebutkan mengenai perbuatan pidananya berbeda tetapi mengapa ancaman pidananya sama.

4. Pasal-pasal dalam RKUHP tentang agama ini semestinya diorientasikan disamping untuk melindungi kepentingan umum, juga untuk melindungi kebebasan beragama baik mayoritas maupun minoritas dan juga melindungi minoritas penganut aliran kepercayaan dari ancaman diskriminasi dan kesewenang-wenangan mayoritas.

Dokumen terkait