Inovasi ini merupakan inovasi pada gipsum kedokteran gigi yang telah dipatenkan oleh Doo Suek Nam pada tahun 2007. Inovasi ini dibuat agar para dokter gigi dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih mengantisipasi infeksi bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi.
Secara umum, gipsum plaster adalah gipsum yang sangat baik untuk membuat gigi tiruan dengan berbagai model, baik gigi tiruan total, gigi tiruan parsial, mahkota, jembatan gigi, dan lain lain. Dalam pembuatan gigi tiruan, diperlukan material cetak seperti agar dan alginat.
Material yang digunakan dalam pembuatan gigi tiruan harus memiliki dimensi yang tepat, tahan terhadap reaksi kimiawi, permukaannya lembut dan bisa kontak dengan bermacam-macam material cetak, mudah dibentuk, dan setting time baik. Untuk meningkatkan ketepatan dimensi, diperlukan penambahan zat yang dapat mencegah ekspansi seperti tartrat, sulfat, atau oksalat.
Agar diperoleh gipsum dengan kekuatan yang baik, kekerasan yang baik, dan permukaan yang lembut diperlukan penambahan metal sulfat dan melamin-formaldehid resin pada gipsum plaster. Material cetak hidrokoloid seperti agar dan alginat memiliki kekurangan yakni tidak memiliki permukaan yang lembut, akan tetapi material komposit yang terbentuk dari agar dan alginat yang telah dikembangkan akhir-akhir ini memberi kelebihan mudah dibentuk yang merupakan sifat dari agar dan efisiensi harga dari alginate dan akhirnya banyak digunakan pada aplikasi klinik.
Akan tetapi, komposisi material gipsum yang telah disebutkan sebelumnya tidak memiliki fungsi antibakteri maupun sterilisasi. Hal ini tidak menutup kemungkinan pada saat model gigi dibentuk di rongga mulut pasien, bermacam-macam bakteri pathogen yang ada di rongga mulut hinggap di gipsum dan menyebabkan infeksi pada model gipsum.
Inovasi yang dibuat oleh Doo Suek Nam ini dibuat untuk menyelesaikan masalah yang disebutkan diatas dan inovasi nyata yang dihasilkan ialah komposisi gipsum yang bersifat antibakteri agar dapat mencegah infeksi dari bakteri patogen. Inovasi ini juga dibuat agar dapat menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut pasien.
Untuk menyelesaikan masalah tersebut dibutuhkan komposisi material gipsum yang terdiri dari model gigi α-plaster dan kumpulan zat antibakteri organic yang tediri atas nitrogen. Biasanya zat antibakteri yang digunakan itu poliheksametilen guanidine fosfat. α-plaster dan zat antibakteri dicampur dengan rasio 1000:1.
Pada komposisi material gipsum, zat antibakteri yang digunakan haruslah zat yang aman dan tidak berbahaya bagi tubuh manusia, tidak menyebabkan iritasi dan cocok untuk pengobatan yang higienis baik. Terlebih lagi, poliheksametilen guanidine fosfat yang berbentuk bubuk putih dengan pH 6.5-7 ini sangat efektif dalam membasmi berbagai macam bakteri.
Metode pembuatan komposisi material gypsum antibakteri :
1. Gipsum alami dilumat hingga berukuran seperti buah apricot (30-50mm), lalu dibagi-bagi hingga berukuran gula(0.3-0.5mm)
2. Material yang sudah dibagiibagi tersebut dikeringkan dengan suhu 180°C dalam 2-3 jam, lalu material kering tersebut dimasukkan ke perapian dan dipanaskan dengan temperature 700-800°C selama 2,5 jam
3. α-plaster yang dihasilkan dibagi dengan tahap sebelumnya dibagi dengan cara disaring hingga berbentuk seperti tepung gandum(50µm)
4. Tambahkan poliheksametilen guanidine fosfat sebagai zat antibakteri ke α-plaster yang didapat dari tahap sebelumnya agar menghasilkan komposisi material gypsum antibakteri.
IV
PENUTUP
4.1 Kesimpulan
Dalam serangkaian pembahasan yang ada, tim penulis menyimpulkan bahwa: 1. Gipsum adalah hasil tambang mineral yang didapat dari berbagai belahan
dunia. Bahan ini merupakan produk samping dari beberapa proses kimia. Ditinjau dari sifat kimianya, gipsum yang dihasilkan untuk penggunaan dalam bidang kedokteran gigi adalah kalsium sulfat dihidrat (CaSO4 . 2H2O) murni.
2. Gipsum merupakan garam yang pertama kali mengendap akibat proses evaporasi air laut diikuti oleh anhidrit dan halit, ketika salinitas makin bertambah. Sebagai mineral evaporit, endapan gipsum berbentuk lapisan di antara batuan-batuan sedimen seperti batu gamping, serpih merah, batu pasir, lempung, dan garam batu, serta sering pula berbentuk lapisan endapan dalam satuan batuan sedimen.
3. Dalam manipulasi gipsum, terdapat beberapa proses yang perlu diperhatikan yaitu pemilihan tipe gipsum, suhu, pencampuran (mixing), waktu pengerasan (initial- final setting time), serta penyimpanan dan kebersihannya. Pada proses pengolahan gypsum itu sendiri harus tepat dalam memperhitungkan takaran air/bubuk (rasio w/p), bahan separasi, waktu pengadukan, proses pengadukan, dan kontaminasi.
4. Tahap setting time mempunyai metode khusus, yang dimulai dari penambahan maupun pengurangan kelarutan hemihidrat, kemudian jumlah nucleus kristalisasi sehingga sampai pada mengurangi maupun mempercepat waktu pengerasan. Sedangkan beberapa faktor yang mempengaruhi reaksi pengerasan gipsum yaitu kehalusan: semakin halus
ukuran partikel hemihidrat, semakin cepat adukan mengeras, rasio w/p: semakin banyak air yang digunakan untuk pengadukan, semakin sedikit jumlah nucleus pada unit volume. Lalu perlambatan dan percepatan: metode yang paling efektif dan praktis untuk mengendalikan waktu pengerasan adalah dengan cara menambahkan bahan kimia (aselerator) tertentu pada adukan plaster atau stone gigi.
4.2 Rekomendasi (berupa Inovasi)
Berdasarkan keseluruhan pembahasan dalam makalah ini, tim penulis mengajukan rekomendasi yang berisi beberapa inovasi yaitu:
2. Penggunaan Aditif untuk Meningkatkan Sifat Mekanik Produk Gypsum Combe dan Smith1 digunakan sebagai aditif lingnosulfonate untuk mengurangi kebutuhan air pada dental stone dengan cara meningkatkan kekuatan dan kekerasan batu dan dapat mengurangi kebutuhan air pada produk gipsum.
3. Papan Semen-Gypsum Dari Core-Kenaf (Hibiscus cannabinus L.) Menggunakan Teknologi Pengerasan Autoclave
Serat Kenaf dapat dikembangkan sebagai bahan baku pembuat papan semen-gypsum yang banyak digunakan sebagai material bahan bangunan. Papan semen-gypsum dihasilkan dari core-kenaf dengan mensubtitusi penggunaan semen dengan gypsum dan proses pengerasannya menggunakan teknologi autoclave.
4. Dempul Tulang dengan Gipsum
Bahan pengganti tulang yang lebih murah dan mudah didapat dengan memakai gipsum (CaSO4.2H2O). Gipsum mudah dapat dari limbah industri keramik dan industri kimia dengan produk yang dihasilkan berupa gipsum sintetis.
Dalam bidang kedokteran umum, produk gypsum tipe IV digunakan untuk pembuatan telinga palsu sedangkan produk gypsum tipe II digunakan untuk tangan yang patah.
6. Antibacterial gypsum composition
Inovasi ini dibuat agar para dokter gigi dan orang-orang yang berkecimpung di dunia kedokteran gigi bisa lebih mengantisipasi infeksi bakteri pathogen pada proses restorasi pada kedokteran gigi dengan cara menghancurkan bakteri patogen di rongga mulut pasien.