• Tidak ada hasil yang ditemukan

RESUME SARAN DAN PERTIMBANGAN KPPU TAHUN 2006

Tabel 11

Resume Saran dan Pertimbangan KPPU 2006 No./Tgl.

Surat/

Tujuan Surat

Sumber, Materi Kebijakan,

dan Isu Persaingan Usaha Isi Saran dan Pertimbangan Tangapan Pemerintah/

Sumber Kebijakan: SK Ketua Bapepam No. Kep. 09/PM/2005 tentang Pendaftaran Profesi Penunjang Pasar Modal, Butir 3 huruf e yang menyebutkan bahwa “Penilai Usaha yang melakukan kegiatan di pasar modal wajib menjadi anggota Masyarakat Profesi Penilai Indonesia (MAPPI).

Landasan hukum Keputusan tersebut adalah SK Menteri Keuangan No.

57/KMK.017/1996 tentang Jasa Penilai.

Isu Persaingan Usaha:

Pembatasan hanya pada satu asosiasi saja dapat berpotensi menimbulkan persaingan usaha yang tidak sehat berupa:

1. Munculnya entry barrier untuk masuk ke dalam pasar

Agar pemerintah memperbaiki substansi pengaturan Profesi Penilai sebagaimana yang diatur dalam SK Menteri Keuangan No.

57/KMK.017/1996 tentang Jasa Penilai, terutama mengenai klausul yang menetapkan ”MAPPI sebagai satu-satunya Asosiasi Profesi Penilai”. Klausul tersebut perlu diperbaiki dengan substansi pengaturan yang ”terbuka” bagi kehadiran lebih dari satu asosiasi profesi.

Pengaturan yang ”terbuka” ini diharapkan dapat menciptakan beberapa hal positif dalam

perkembangan Profesi Penilai, yaitu:

1. Meningkatnya kualitas Profesi Penilai Indonesia.

2. Hilangnya peluang terdistorsinya pengelolaan profesi oleh

No./Tgl.

Surat/

Tujuan Surat

Sumber, Materi Kebijakan,

dan Isu Persaingan Usaha Isi Saran dan Pertimbangan Tangapan Pemerintah/

Perkembangan Permasalahan

1 2 3 4

hanya karena tidak memiliki sertifikat profesi dari satu organisasi tertentu.

2. Munculnya potensi

diskriminasi Penilai Usaha jika pengelolaan profesi hanya dilakukan oleh satu organisasi.

3. Munculnya beberapa bentuk persekongkolan

antaranggota Profesi Penilai Usaha.

3. Mendorong berlakunya mekanisme pasar yang sehat terkait dengan kualitas Profesi Penilai.

4. Munculnya dorongan bagi kehadiran regulator yang kuat, transparan, dan akuntabel. Negeri No. 470-1007 Tahun 2005 tentang Penetapan Perusahaan Pencetak Blangko Dokumen Penduduk.

Pengaturan tersebut

menetapkan bahwa hanya ada empat pelaku usaha yang memiliki hak untuk dapat ikut serta dalam pencetakan blangko dokumen penduduk di seluruh Indonesia.

Surat keputusan tersebut juga meniadakan peran distributor dokumen kependudukan yang selama ini berperan penting dalam distribusi blangko dokumen penduduk dengan tujuan mereduksi ekses negatif yang selama ini muncul.

Misalnya, pemalsuan untuk mewujudkan single identity number (SIN).

Isu Persaingan Usaha:

Pembatasan jumlah pelaku usaha yang berhak mencetak blangko dokumen penduduk menimbulkan ketidakpuasan di antara pelaku usaha yang tidak terpilih dengan alasan proses

KPPU menyarankan agar pemerintah -- dalam hal ini Departemen Dalam Negeri – memperbaiki beberapa pengaturan dalam proses seleksi pencetakan blangko dokumen penduduk, antara lain melalui:

1. Penyusunan Pedoman Seleksi Perusahaan Pencetak Blangko Dokumen Penduduk yang transparan dan terbuka serta mengatur substansi penyeleksian guna menghindari munculnya potensi persaingan usaha yang tidak sehat, seperti,

persekongkolan, tindakan diskriminatif, dan sebagainya.

2. Proses Seleksi Perusahaan Pencetak Blangko Dokumen Penduduk harus dilaksanakan secara terbuka dan transparan kepada publik dengan

menggunakan parameter-parameter terukur guna menghadirkan perusahaan

percetakan dokumen sekuriti yang mampu menghasilkan kualitas terbaik dengan harga murah.

Surat KPPU sedang dibahas di Direktorat

Administrasi Kependudukan.

No./Tgl.

Surat/

Tujuan Surat

Sumber, Materi Kebijakan,

dan Isu Persaingan Usaha Isi Saran dan Pertimbangan Tangapan Pemerintah/

Perkembangan Permasalahan

1 2 3 4

pemilihan tidak transparan dan akuntabel. Peredaran Garam di Provinsi Sumatera Utara. Dalam Rancangan Perda tersebut terdapat: (1) ketidaksesuaian antara kebijakan pemerintah pusat dan kebijakan

pemerintah daerah dalam hal kualitas standar Garam Bahan Baku serta adanya pengaturan Garam Bahan Baku Belum Dicuci dalam rancangan Perda tersebut dapat menciptakan hambatan pasar bagi pelaku usaha tertentu; (2) adanya duplikasi pengujian garam yang masuk ke Sumatera Utara sehingga dapat

dominan oleh Komite Nasional Garam.

KPPU menyarankan beberapa hal berikut ini:

1. Agar pengaturan mengenai kualitas garam dan pencucian garam mengacu pada kebijakan pemerintah pusat dan agar menghilangkan semua hal yang berpotensi pada persaingan usaha tidak sehat, seperti hambatan masuk (entry barrier) bagi pelaku usaha pencucian garam.

2. Pengujian garam yang cukup dilakukan satu kali dengan proses pemilihan/penunjukan

laboratorium penguji agar diatur selaras dengan prinsip-prinsip persaingan usaha yang sehat dan tidak terbatas pada satu

laboratorium penguji.

3. Pengawasan atas kualitas garam yang dilakukan oleh Komite Nasional Garam (KNG) perlu dibatasi untuk menghindari penyalahgunaan peran dominan dan kolusi dengan pelaku usaha.

Tidak terdapat

No./Tgl.

Surat/

Tujuan Surat

Sumber, Materi Kebijakan,

dan Isu Persaingan Usaha Isi Saran dan Pertimbangan Tangapan Pemerintah/ usaha yang tidak sehat dalam pelaksanaan pengadaan alat-alat medis kedokteran di RSUD Bekasi.

KPPU menyarankan Walikota Bekasi agar dalam melaksanakan lelang pengadaan barang/jasa dalam Satuan Kerja Perangkat Daerah di lingkungan Pemerintah Kota Bekasi pada waktu mendatang lebih memperhatikan dan melaksanakan ketentuan peraturan perundangan yang berlaku tentang Pedoman Pelaksanaan Pengadaan Barang dan Jasa Pemerintah. di lebih dari satu bank.

Terkait dengan kebijakan tersebut, KPPU menyampaikan beberapa hal sebagai berikut:

a. Kebijakan tersebut tidak bertentangan dengan UU No.

5/1999 tentang Larangan Praktek Monopoli dan Persaingan Usaha Tidak Sehat, terutama Pasal 26 tentang Jabatan Rangkap dan Pasal 27 tentang Kepemilikan Saham.

b. Akan tetapi, kebijakan tersebut perlu disertai dengan kebijakan lain untuk mencegah terjadinya merger atau konsolidasi

perbankan yang dapat

mengakibatkan terjadinya praktik monopoli dan atau persaingan usaha yang tidak sehat

sebagaimana diatur dalam Pasal 28 UU No. 5/1999 tentang Penggabungan, Peleburan, dan Pengambilalihan.

Untuk itu, KPPU menyarankan adanya koordinasi dan kerja sama antara Bank Indonesia dan KPPU dalam Harmonisasi Kebijakan yang sistematis. Koordinasi dan kerja sama ini bertujuan menciptakan stabilitas sistem perbankan nasional

No./Tgl.

Surat/

Tujuan Surat

Sumber, Materi Kebijakan,

dan Isu Persaingan Usaha Isi Saran dan Pertimbangan Tangapan Pemerintah/

Perkembangan Permasalahan

1 2 3 4

serta menjaga iklim persaingan usaha dalam industri yang bersangkutan.

Dokumen terkait