PENGECUALIAN ASAS LEGALITAS DALAM HUKUM PIDANA
1. Retroaktif Dalam Pengadilan Internasional
Berdasarkan London Agreement tanggal 8 Agustus 1945, oleh pemerintah Amerika, Perancis, Inggris, Irlandia Utara, dan Sovyet, didirikanlah The International Military Tribunal At Nuremberg, yang bertugas untuk menyelenggarakan peradilan yang cepat dan adil untuk menghukum tokoh-tokoh utama penjahat perang dari negara-negara European AXIS3.
Pembentukan Pengadilan Nuremberg, menurut Geoffrey di dasarkan bahwa tidak ada hak-hak tanpa pemulihan kembali. Sama halnya bahwa tidak ada hak-hak asasi manusia tanpa pemulihan untuk setiap pelanggarannya. Pendekatan
3 Pasal 6 dari Statuta, yang menyatakan “The Tribunal established by the Agreement
referred to in Article 1 hereof for the trial and punishment of the major war criminals of the European Axis countries shall have the power to try and punish persons who, acting in the interests of the European Axis countries, whether as individuals or as members of organizations, committed any of the following crimes”.
inilah yang dipergunakan sebagai dasar untuk menghukum mereka yang bersalah atas kejahatan terhadap kemanusiaan4.
Tribunal ini mempunyai kewenangan untuk mengadili dan menghukum para pelaku baik secara individual maupun sebagai suatu organisasi yang telah melakukan kejahatan sebagaimana disebut dalam Statuta. Adapun jenis kejahatan tersebut adalah 5 : (a). Kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace); (b) Kejahatan perang (war Crime); (c). Kejahatan terhadap Kemanusiaan (crimes against Humanity). Peradilan yang berlangsung dari tanggal 14 November 1945 sampai dengan 1 Oktober 1946 ini mengatur beberapa hal, yaitu6:
1. Setiap orang yang melakukan suatu perbuatan yang merupakan suatu kejahatan internasional bertanggung jawab atas perbuatannya dan harus dihukum;
2. Fakta bahwa hukum internal (nasional) tidak mengancam dengan pidana atas perbuatan yang merupakan suatu kejahatan menurut hukum internasional tidaklah membebaskan orang yang melakukan perbuatan itu dari tanggung jawab menurut hukum internasional;
3. Fakta bahwa orang tersebut melakukan perbuatan yang merupakan suatu kejahatan menurut hukum internasional bertindak sebagai Kepala Negara atau pejabat pemerintah yang bertanggung jawab, tidak membebaskan dia dari tanggung jawab menurut hukum internasional;
4. Fakta bahwa orang tersebut melakukan perbuatan itu untuk melaksanakan perintah dari Pemerintahnya atau dari atasannya tidaklah membebaskan dia dari tanggung jawab menurut hukum internasional, asal saja pilihan moral (moral choice) yang bebas dimungkinkan olehnya;
5. Setiap orang yang didakwa melakukan kejahatan menurut hukum internasional mempunyai hak untuk mendapatkan peradilan yang adil berdasarkan fakta dan hukum;
6. Kejahatan-kejahatan tersebut di bawah ini dapat dihukum menurut hukum internasional:
(a) Kejahatan terhadap perdamaian (jus ad bellum):
i. Merencanakan, menyiapkan, memulai atau menggerakkan perang yang bersifat agresi yang melanggar treaty, persetujuan (agreements), atau jaminan (assurances) internasional;
4 Geoffrey Robertson QC, Crimes Against Humanity, The Struggle For Global Justice, Penguin Books, England, 2000, hal. 203. Lihat pula: Mardjono Reksodiputro, Hak
Asasi Manusia Dalam Sistem Peradilan Pidana, Kumpulan Karangan Buku Ketiga,
Pusat Pelayanan Keadilan Dan Pengabdian Hukum (d/h Lembaga Kriminologi), Universitas Indonesia, Jakarta, 1999, hal. 8.
5
Roger S. Clark, Nuremberg and Tokyo In Contemporary Perspective, dalam Timothy L.H. McCormack dan Gerry J. Simpson, Editor, The Law of War Crime, National and
International Approaches, Kluwer Law International, Netherlands, 1997, hal 173.
6
Machteld Boot, Nullum Crimen Sine Lege and The Subject Matter Jurisdiction of The
International Criminal Court, Genocide, Crimes Against Humanity, War Crimes,
ii. Turut serta dalam menyusun rencana umum atau berkonspirasi untuk melaksanakan perbuatan apa saja yang tercantum dalam (i). (b) Kejahatan Perang (jus in bello);
Pelanggaran terhadap hukum atau kebiasaan perang meliputi, tapi tak terbatas kepada pembunuhan, perlakuan tidak manusiawi (ill-treatment) atau deportasi ke tempat kerja paksa sebagai budak untuk tujuan apapun, juga terhadap penduduk sipil dari atau yang berasal dari wilayah yang dikuasai; pembunuhan atau perlakuan yang tidak manusiawi terhadap tawanan perang, orang-orang di lautan (kapal), membunuh tawanan, merampok milik umum atau pribadi, perusakan yang berkelebihan atau tidak diperlukan atas kota-kota, desa-desa atau pemusnahan yang secara militer tidak dianggap perlu.
(c) Kejahatan Terhadap Kemanusiaan
Pembunuhan, pemusnahan, perbudakan, deportasi dan perbuatan yang tidak manusiawi terhadap penduduk sipil, atau penyiksaan tersebut berdasarkan politik, ras, atau agama, apabila perbuatan-perbuatan tersebut dilakukan atau penyiksaan tersebut diambil dalam pelaksanaan atau berkaitan dengan kejahatan terhadap perdamaian atau kejahatan perang apa saja.
7. Keterlibatan dalam pelaksanaan suatu kejahatan terhadap perdamaian, suatu kejahatan perang, atau suatu kejahatan terhadap kemanusiaan seperti disebutkan dalam Prinsip VI adalah suatu kejahatan menurut hukum internasional.
Ketujuh hal tersebut di atas, kemudian diformulasikan menjadi prinsip-prinsip hukum internasional, yang kemudian pada tanggal 29 Juli 1950 oleh International Law Commission dikenal sebagai Nuremberg Principles. Prinsip-prinsip inilah kemudian yang menjiwai peradilan HAM yang dibentuk pada masa berikutnya, seperti International Criminal Tribunal For Yugoslavia (ICTY), International Criminal Tribunal For Rwanda (ICTR) dan International Criminal Court (ICC).
Beberapa hal baru yang diberlakukan dan dilaksanakan di peradilan Nuremberg, adalah: (1) tanggung jawab pribadi yang secara jelas tercantum dalam Pasal 6 Statuta; (2) keberlakuan hukum pidana secara retroaktif, di mana statuta yang dibuat pada tahun 1945 ini diberlakukan secara retroaktif untuk kejahatan yang dilakukan sebelumnya, yaitu selama Perang Dunia II dan berlangsung di mana saja.
Pemberlakuan secara retroaktif ini, dalam persidangan telah ditolak dan mendapatkan tantangan dari para pengacara terdakwa karena bertentangan dengan prinsip hukum pidana yang berlaku. Bantahan ini ditolak oleh Majelis Hakim IMT Nuremberg dengan alasan bahwa prinsip non retroaktif hanya berlaku: (a) bagi kejahatan biasa (ordinary crimes), dan (b) yang terjadi di wilayah hukum nasional, di mana yang berlaku adalah hukum nasional. Para terdakwa di Pengadilan Nuremberg tidak dapat membantah lagi, meskipun mereka tetap mencoba berdalih bahwa adalah merupakan pelanggaran terhadap aturan bila mereka diajukan ke
pengadilan atas pelanggaran yang tidak memiliki kesepadanan dalam hukum Nazi Jerman. Pelanggaran tersebut terdapat dalam hukum internasional.7
Lebih lanjut dikemukakan oleh Majelis Hakim bahwa asas non-retroaktif tidak berlaku bagi kejahatan internasional, terlebih hukum internasional, konvensi-konvensi internasional, dan hukum perang telah ada sebelumnya dan telah diterima oleh negara-negara di dunia.8
Perdebatan tentang pemberlakuan secara retroaktif tidak hanya terjadi ketika persidangan berlangsung, tetapi juga terjadi ketika Statute Nuremberg dirumuskan. Justice Jakson menyatakan “I want these acts defined as crime”.9 Keinginan ini disepakati oleh Trainin, seorang guru besar, yang menyatakan “it is quite true that the American draft is quite precise in that states these are violations”.10 Tidak ada argumen yang memuaskan untuk menjelaskan, mengapa diberlakukan secara retroaktif.
Dalam kaitan dengan pemberlakuan secara retroaktif, Kelsen menyatakan bahwa11:
“the infliction of an evil, if not carried out as a reaction against a wrong, is a wrong itself. The non-aplication of the rule against ex post facto law is a first sanction inflicted upon those who have violated this rule and hence have forfeited the privilege to be protected by it.”
Pernyataan Jackson dan Kelsen tersebut di atas, jelas menunjukkan bahwa suatu kejahatan haruslah mendapatkan hukuman. Pembiaran terhadap kejahatan karena adanya asas non retroaktif merupakan suatu sikap yang salah. Dengan demikian, menurut penulis, nampak bahwa keadilan yang diterapkan dalam pengadilan Nuremberg adalah keadilan retributif. Para pelaku kejahatan yang telah menghilangkan nyawa orang lain, harus dapat mempertanggung jawabkan segala perbuatannya.
Setahun setelah dibentuknya IMT Nuremberg, pada tanggal 19 Januari 1946, MacArthur dengan mendapatkan persetujuan dari negara-negara sekutu lainnya yang memenangkan peperangan, mengeluarkan piagam yang dikenal sebagai Charter of the International Military Tribunal for the Far East. Charter ini merupakan dasar untuk pembentukan pengadilan yang ditujukan untuk mengadili para pelaku pencetus Perang Dunia II, yang mereka sebut sebagai para penjahat perang, di wilayah Timur Jauh.
Pengadilan yang berkedudukan di Tokyo ini, memiliki yurisdiksi terhadap beberapa kejahatan, yaitu: (a) kejahatan terhadap perdamaian (crimes against peace); (b) kejahatan perang konvensional (Conventional war crimes); (c) kejahatan terhadap kemanusiaan (crime against humanity), Sebagaimana halnya
7
Ibid., hal. 112.
8 Ibid.
9
M. Cherif Bassiouni, Crimes Against Humanity in International Criminal Law, Cluwer Law International, Netherland, 1999, hal. 147.
10 Ibid.
11
Pengadilan Nuremberg, di Pengadilan Tokyo mayoritas berpendapat bahwa nullum crimen sinus lege bukanlah suatu pembatasan kedaulatan yang akan mencegah pemberlakuan secara retroaktif, tetapi hanyalah merupakan prinsip keadilan.12
Dalam kaitannya dengan pemberlakuan secara retroaktif, Hakim dari Philipina menyatakan “nullum crimen, nulla poena sine lege not applicable to international law, distinguishing between national laws and national violators of those laws on the one hand, and authors of international crimes on the other13.
Dalam IMT Nuremberg dan Tokyo nampak bahwa keadilan yang diterapkan adalah keadilan retributif. Proses pembentukan Statuta, yang dilakukan oleh beberapa Negara pemenang perang –bahkan untuk IMT Tokyo hanya dibuat oleh McArthur saja—menunjukkan bahwa hanya Negara-negara besar dan kuat yang akan mengadili para pelaku penjahat perang. Dalam sejarah tidak pernah pengadilan internasional terbentuk oleh Negara yang kalah perang. Oleh karena itu tidak salah bila dikatakan bahwa pembentukan IMT Nurember dan Tokyo didasarkan atas keadilan para pemenang (victor justice).14 Bahkan, Geoffrey, mengatakan bahwa pengadilan Nuremberg menciptakan kejahatan terhadap kemanusiaan dan menghukum mereka secara tidak manusiawi. Dikatakan menghukum secara tidak manusiawi karena pengadilan Nuremberg telah menghukum gantung 12 orang terdakwa, yang kemudian jenasahnya dikremasi untuk kemudian dibuang di sungai yang tidak teridentifikasi.15 Bahkan salah seorang terdakwa yang bernama Goering memilih menenggak racun daripada harus menghadapi proses eksekusi.16
Prinsip-prinsip Nuremberg yang telah diterima sebagai prinsip-prinsip umum dalam hukum internasional, menunjukkan bahwa keadilan retributive lebih mendasari proses pengadilan Nuremberg dan Tokyo. Dengan adanya kalimat ―setiap orang yang melakukan perbuatan kejahatan internasional harus dihukum‖ menunjukkan bahwa keadilan yang diterapkan adalah keadilan retributif. Tidaklah salah bila Ruti G. Teitel menyatakan bahwa “retribution justification related to punishment”.17
International Criminal Tribunal For The Former Yugoslavia (ICTY) dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan No.827 Tahun 1993, dengan tujuan untuk menghukum para pelaku kejahatan perang, genosida, dan kejahatan kemanusiaan, yang terjadi sejak 1 Januari 1991 di wilayah bekas negara Yugoslavia. Pembentukan ICTY oleh Dewan Keamanan PBB ini didasarkan pada Chapter VII, Piagam PBB. Sedangkan International Criminal Tribunal For The Rwanda (ICTR) dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB No. 955
12
Machteld Boot, op.cit.hal. 199.
13 Ibid.
14
Roger S. Clark, Nuremberg and Tokyo in Contemporary Perspective, dalam McCormack, Timothy L.H., dan Gerry J. Simpson, Ed., The Law of War Crime National and
International Approaches, Kluwer Law International, Netherlands, 1997, hal. 180.
Lihat pula: Geoffrey Robertson QC, op.cit. hal. 220.
15
Geoffrey Robertson QC, op.cit. hal. 220.
16 Ibid.
17
Tahun 1994, dengan tujuan untuk mengadili dan menghukum para pelaku genosida, pelanggaran terhadap Konvensi Genewa, dan kejahatan terhadap kemanusiaan, yang berlangsung sejak tanggal 1 Januari 1994 sampai 31 Desember 1994, di wilayah Rwanda.
ICTY merupakan peradilan internasional ad hoc pertama yang dibentuk untuk mengadili dan menghukum mereka yang bertanggung jawab telah menghilangkan 800.000 orang dalam konflik yang terjadi di Yugoslavia. Berbeda dengan IMT Nuremberg yang dibentuk hanya oleh empat Negara pemenang Perang Dunia II, ICTY dibentuk berdasarkan Resolusi Dewan Keamanan PBB. Dalam resolusi tersebut dinyatakan ―pengadilan internasional harus diselenggarakan untuk mengadili orang-orang yang bertanggung jawab atas pelanggaran serius terhadap hukum humaniter internasional, yang dilakukan di wilayah bekas Yugoslavia sejak 1991‖. Dalam Statuta, dinyatakan bahwa yurisdiksi ICTY adalah18: (a) pelanggaran berat terhadap the Genewa Convention of 1949; (b) pelanggaran terhadap hukum atau kebiasaan perang; (c) Genosida; (d) kejahatan terhadap kemanusiaan.
Permasalahan yang berkaitan dengan pemberlakuan secara retroaktif, dalam Statuta ICTY, dikemukakan oleh Sekretaris Jenderal PBB, bahwa aplikasi dari prinsip nullum crimen sine lege di pengadilan internasional perlu menggunakan ketentuan dari hukum humaniter internasional yang diyakini sebagai bagian dari hukum kebiasaan. Hal ini penting dalam konteks pengadilan internasional yang menuntut orang yang bertanggung jawab untuk pelanggaran yang serius terhadap hukum humaniter internasional.19 Dengan demikian jelas bahwa nullum crimen sine lege tidak hanya didasarkan pada hukum nasional tetapi juga hukum internasional.
Prinsip legalitas merupakan hak terdakwa. Hal ini penting untuk menyatakan bahwa Yugoslavia adalah negara peserta konvensi, yakni Konvensi Genewa, Konvensi Hague dan Konvensi Genosida.20 Hakim ICTY dalam kasus Delalic, menyatakan bahwa prinsip legalitas ada dan dikenal di dalam sistem peradilan pidana di dunia. Prinsip tersebut tidaklah begitu luas, meliputi apa yang mereka telah akui sebagai bagian dari praktek undang-undang yang bersifat internasional. Hal ini sangat penting karena adanya metoda yang berbeda dalam menentukan kriminalisasi di dalam hukum nasional dan sistem peradilan pidana internasional. Dalam hukum nasional, kriminalisasi sangat tergantung pada waktu dan materi dari larangan tersebut. Sedangkan dalam sistem peradilan pidana internasional kriminalisasi dilakukan melalui perjanjian atau konvensi, atau praktek sepihak dari suatu Negara.21 Oleh karena itu dapat didalilkan bahwa prinsip legalitas dalam hukum pidana internasional memiliki standar aplikasi yang berbeda dengan sistem undang-undang nasional.
18 Machteld Boot, op.cit., hal. 237-242
19
John R.W.D. Jones dan Steven Powless, International Criminal Practice, Oxford, hal. 401.
20 Ibid.
21
Hakim yang mengadili Delalic menyatakan bahwa untuk memberikan makna dari prinsip legalitas, dua kesimpulan penting harus diterima, pertama, hukum pidana harus dikonstruksikan secara jelas, kedua, hukum pidana tidak berlaku surut. Ini adalah bagian tambahan yang merupakan tugas dari judicial interpreter atau hakim untuk menafsirkan dan menyimpulkan bahasa dari badan pembuat undang-undang. Dengan demikian nampak bahwa prinsip ini dapat dipastikan untuk badan pembuat undang-undang dan bukan pengadilan atau hakim untuk menentukan kejahatan dan hukumannya.22
Kritik terhadap pengadilan yang memberlakukan hukum secara retroaktif merupakan suatu kewajaran. Oleh karena itu dikatakan bahwa ICTY dan ICTR yang diberlakukan secara retroaktif hanyalah merupakan prosedural. Substansi hukum yang melarang perbuatan tersebut telah ada sebelumnya, hanya saja pengadilan untuk memproses mereka baru kemudian diwujudkan. Oleh karena itu, pengadilan yang baru harus memastikan bahwa ia hanya menghukum pelanggar sebagaimana mereka telah mendefinisikan perbuatan tersebut dan dapat dijatuhi pidana.23 Di samping itu, tuduhan tentang pemberlakuan secara retroaktif bagi terdakwa Serbia dan Kroasia, juga tidak dapat dibenarkan karena tindakan yang dilakukan telah berlawanan dengan hukum humaniter internasional dan hukum Yugoslavia.24 Bahkan, hukum Yugoslavia mengancam perbuatan tersebut dengan ancaman pidana mati. Dengan demikian jelas bahwa keberatan atas pemberlakuan secara retroaktif yang diajukan oleh para pembela terdakwa, merupakan upaya untuk menyelamatkan para terdakwa dari tuntutan pengadilan.
Christopher L. Blakesley memaparkan bahwa berdasarkan Pasal 1 dan 2 Statuta Yugoslavia dan Rwanda, pemberlakuan secara retroaktif mendapatkan pembenaran atas dasar konvensi hukum humaniter dan hukum kebiasaan internasional25. Demikian pula argument yang dikemukakan oleh Sekjen PBB, ketika pembentukan Pengadilan ad hoc untuk Yugoslavia dan Rwanda.26
Masalahnya adalah bahwa “customary international law” tidak dicantumkan
22
Ibid., hal 406.
23 Ibid., hal 405.
24
Geoffrey Robertson QC, op.cit., hal. 301. Pasal 125 Penal Code Yugoslavia telah mencantumkan materi konvensi Genewa. Lihat Roamn A. Kolodkin, An Ad Hoc
International Tribunal for the Prosecution of Serious Violations of InternationalHumanitarian Law in the Former Yugoslavia, Roger S. Clark dan
Madeleine Sann, Ed., The prosecution Of International Crimes, op.cit., hal. 179.
25 Christopher L. Blakesley, Atrocity and Its Prosecution: The Ad Hoc Tribunals for the
Former Yugoslavia dan Rwanda, Timothy L.H. McCormack dan Gerry J. Simpson, Ed., The Law of War Crimes, National and International Approaches, Kluwer Law
International, USA, hal 205.
26
Menurut Sekjen Security Council, hukum kebiasaan internasional telah diadopsi melalui beberapa konvensi, yaitu The Genewa Conventions of 12 August 1949 for the
protection of War Victims; the (fourth) Hague Convention Respecting the Laws and Customs of War on Land and the Regulations annexed thereto of 18 October 1907; the Convention on the Prevention and Punishment of the Crime of Genocide of 9 Desember1948; the Charter of the International Military Tribunal of 8 August 1945. Ibid.
secara tertulis. Machteld Boot, menyatakan bahwa ICTY dan ICTR didirikan berdasarkan pada system common law, yang berbeda dengan civil law, dimana setiap perbuatan yang dinyatakan sebagai kejahatan serta dapat dipidana harus dituangkan dalam aturan tertulis.27 Dalam ICTR, hakim yang mengadili Akayesu menyatakan bahwa untuk memenuhi persyaratan Nullum crimen sine lege, pengadilan berpegang pada hukum humaniter internasional yang merupakan bagian dari hukum kebiasaan. Hakim yang mengadili Akayesu menyatakan28:
(a)lthough the Secretary Council elected to take a more expansive approach to the choice of the subject-matter jurisdiction of the Tribunal than that of the ICTY, by incorporating international instruments regardless of whether they were considered part of customary international law or whether they entailed the individual criminal responsibility of the perpetrator of the crime, an essential question which should be addressed at this stage is whether Article 4 of the Statute includes norms which did not, at the time the crimes alleged in the Indictment were committed, form part of existing international customary law.
Hakim yang mengadili Kayishema dan Ruzindana, para tersangka pelaku pelanggaran HAM berat di Rwanda, secara gambling menyatakan bahwa Rwanda merupakan Negara yang telah meratifikasi Konvensi Genewa dan Protokol II. Oleh karena itu tidak ada masalah dengan retroaktif, karena semua konvensi tersebut merupakan hukum kebiasaan internasional.29
Pengadilan terhadap Masema, Akayesu dan Tadic, merupakan pengadilan yang memiliki permasalahan yang sama, yaitu mempermasalahkan hukum kebiasaan. Dengan demikian, baik dalam ICTY maupun ICTR, tidak ada pelanggaran terhadap asas nullum delictum.