BAB II LANDASAN TEORI
A. Uraian Teori
2. Return On Equity (ROE)
(ROE) pada masing-masing perusahaan kadang mengalami peningkatan kadang mengalami penurunan pada setiap tahunnya.
Jika dilihat dari rata-rata perusahaan, perusahaan yang paling rendah Return On Equity (ROE) nya adalah PT. Krakatau Steel (Persero) Tbk. (KRAS) yaitu -9,41% dan yang paling tinggi Return On Equity (ROE) nya adalah PT. Citra Tubindo Tbk. (CTBN) yaitu 15.32%.
Tabel I-2
Return On Equity (ROE) Perusahaan Logam Yang Terdaftar di BEI
Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI) (2018)
Berikut ini tabel rata-rata Return On Asset (ROA) pada beberapa Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 adalah sebagai berikut:
Berdasarkan table 1-3 Return On Assets (ROA) Perusahaan Logam mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Jumlah Harga Rata-rata Return On Asset (ROA) pada masing-masing perusahaan kadang mengalami peningkatan kadang mengalami penurunan pada setiap tahunnya
No. Perusahaan
Return On Equity ( ROE ) %
Jumlah Rata-Rata 2012 2013 2014 2015 2016 1 ALKA 9.34 -0.53 4.21 -1.90 0.23 11.35 2.27 2 ALMI 2.37 3.97 0.30 -9.94 -15.51 -18.81 -3.76 3 BAJA 7.35 44.26 7.48 -5.78 18.63 71.94 14.39 4 BTON 21.88 18.65 5.20 4.24 -5.99 43.98 8.80 5 CTBN 24.06 25.36 17.42 6.08 3.67 76.59 15.32 6 GDST 5.88 10.39 -1.60 -6.86 3.59 11.40 2.28 7 INAI 17.92 3.97 15.13 11.93 10.61 59.56 11.91 8 JKSW 4.21 1.95 2.31 5.24 -0.81 12.90 2.58 9 JPRS 2.77 4.15 -1.95 -6.61 -6.09 -7.73 -1.55 10 KRAS -1.75 -1.29 -17.59 -18.26 -6.80 -45.69 -9.14 11 LION 22.96 15.58 11.04 10.12 7.48 67.18 13.44 12 LMSH 42.33 13.02 6.38 1.73 1.79 65.25 13.05 13 NIKL -15.16 0.65 -20.02 -16.04 4.49 -46.08 -9.22 14 PICO 5.59 7.18 6.99 6.06 4.83 30.65 6.13 15 TBMS 13.50 -29.20 22.04 10.02 21.01 37.37 7.47 Jumlah 94.03 110.88 30.91 -21.86 1.53 215.49 43.10 Rata-Rata 9.40 11.09 3.09 -2.19 0.15 21.55 4.31
Tabel I-3
Return On Asset (ROA ) Pada Perusahaan Logam Yang Terdaftar di BEI
No. Perusahaan
Return On Assets ( ROA ) %
Jumlah Rata-Rata 2012 2013 2014 2015 2016 1 ALKA 3.46 -0.13 1.09 -0.81 0.04 3.65 0.73 2 ALMI 0.74 0.95 0.06 -2.45 -3.33 -4.03 -0.81 3 BAJA 2.30 -9.15 1.44 -0.99 4.16 -2.24 -0.45 4 BTON 17.07 14.69 4.38 3.45 -4.76 34.83 6.97 5 CTBN 12.78 13.96 9.80 3.53 2.77 42.84 8.57 6 GDST 4.00 7.71 -1.03 -4.66 2.57 8.59 1.72 7 INAI 3.78 0.66 2.46 2.15 2.08 11.13 2.23 8 JKSW -5.90 -3.04 -3.18 -8.71 0.26 -20.57 -4.11 9 JPRS 2.41 4.00 -1.87 -6.05 -5.65 -7.16 -1.43 10 KRAS -0.76 -0.57 -6.04 -8.82 -3.20 -19.39 -3.88 11 LION 19.69 12.99 8.71 7.20 5.38 53.97 10.79 12 LMSH 32.11 10.15 5.29 1.45 1.54 50.54 10.11 13 NIKL -5.85 0.22 -5.88 -5.29 1.60 -15.20 -3.04 14 PICO 1.87 2.48 2.58 2.47 2.07 11.47 2.29 15 TBMS 1.34 -2.63 2.45 1.66 4.76 7.58 1.52 Jumlah 89.04 52.29 20.26 -15.87 10.29 156.01 31.20 Rata-Rata 5.94 3.49 1.35 -1.06 0.69 10.40 2.08
Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI) (2018)
Jika dilihat dari rata-rata perusahaan, perusahaan yang paling rendah Return On Assets (ROA) nya adalah PT. Jakarta Kyoei Steel Work Tbk. (JKSW) yaitu -4.11% dan yang paling tinggi Return On Assets (ROA) nya adalah PT. Lion Metal Works Tbk. (LION) yaitu 10.79%.
Berikut ini tabel rata-rata Debt To Equity Ratio (DER) pada beberapa Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 adalah sebagai berikut:
Tabel I-4
Debt To Equity Ratio (DER) Pada Perusahaan Logam Yang Terdaftar di BEI
Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI) (2018)
Berdasarkan table diatas Debt To Equity Ratio (DER), Perusahaan Logam mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Jumlah Harga Rata-rata Debt To Equity Ratio (DER) pada masing-masing perusahaan kadang mengalami peningkatan kadang mengalami penurunan pada setiap tahunnya.
Jika dilihat dari rata-rata perusahaan, perusahaan yang paling rendah Debt To Equity Ratio (DER) nya adalah PT. Jakarta Kyoei Steel Work Tbk. (JKSW) yaitu -1.67% dan yang paling tinggi Debt To Equity Ratio (DER) nya adalah PT. Pelat Timah Nusantara Tbk. (NIKL) yaitu 37.59%.
No. Perusahaan
Debt To Equity Ratio (DER) %
Jumlah Rata-Rata 2012 2013 2014 2015 2016 1 ALKA 1.70 3.05 2.87 1.33 5.25 14.20 2.84 2 ALMI 2.20 3.19 4.01 2.87 3.66 15.93 3.19 3 BAJA 2.19 3.84 4.18 4.87 3.48 18.56 3.71 4 BTON 0.28 0.27 0.19 0.23 0.26 1.23 0.25 5 CTBN 0.88 0.82 0.78 0.72 0.32 3.52 0.70 6 GDST 0.47 0.35 0.56 0.47 0.40 2.25 0.45 7 INAI 3.74 5.06 5.15 4.55 4.10 22.60 4.52 8 JKSW -1.70 -1.64 -1.73 -1.60 -1.68 -8.35 -1.67 9 JPRS 0.15 0.04 0.04 0.09 0.08 0.40 0.08 10 KRAS 1.30 1.26 1.91 1.07 1.13 6.67 1.33 11 LION 0.17 0.20 0.35 0.41 0.39 1.52 0.30 12 LMSH 0.32 0.28 0.21 0.19 0.16 1.16 0.23 13 NIKL 1.59 1.90 2.40 2.04 180.00 187.93 37.59 14 PICO 1.99 1.89 1.71 1.45 1.34 8.38 1.68 15 TBMS 9.04 10.12 7.99 5.02 3.41 35.58 7.12 Jumlah 24.32 30.63 30.62 23.71 202.30 311.58 62.32 Rata-Rata 1.62 2.04 2.04 1.58 13.49 20.77 4.15
Berikut ini tabel rata-rata Debt To Asset Ratio (DAR) pada beberapa Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia periode 2012-2016 adalah sebagai berikut:
Tabel I-5
Debt To Asset Ratio (DAR) Pada Perusahaan Logam Yang Terdaftar di BEI
No. Perusahaan
Debt To Assets Ratio (DAR) %
Jumlah Rata-Rata 2012 2013 2014 2015 2016 1 ALKA 0.63 0.75 0.74 0.57 0.84 3.53 0.71 2 ALMI 0.69 0.76 0.80 0.74 0.79 3.78 0.76 3 BAJA 0.69 0.79 0.81 0.83 0.78 3.90 0.78 4 BTON 0.22 0.21 0.16 0.19 0.20 0.98 0.20 5 CTBN 0.74 0.45 0.44 0.42 0.24 2.29 0.46 6 GDST 0.32 0.26 0.36 0.32 0.28 1.54 0.31 7 INAI 0.79 0.84 0.84 0.82 0.80 4.09 0.82 8 JKSW 2.43 2.55 2.38 2.66 2.46 12.48 2.50 9 JPRS 0.13 0.04 0.04 0.08 0.07 0.36 0.07 10 KRAS 0.56 0.56 0.66 0.52 0.53 2.83 0.57 11 LION 0.14 0.17 0.26 0.29 0.28 1.14 0.23 12 LMSH 0.24 0.22 0.17 0.16 0.14 0.93 0.19 13 NIKL 0.61 0.65 0.71 0.67 0.64 3.28 0.66 14 PICO 0.67 0.65 0.63 0.59 0.57 3.11 0.62 15 TBMS 0.90 0.91 0.89 0.83 0.77 4.30 0.86 Jumlah 9.76 9.81 9.89 9.69 9.39 48.54 9.71 Rata-Rata 0.65 0.65 0.66 0.65 0.63 3.24 0.65 Sumber : Bursa Efek Indonesia (BEI) (2018)
Berdasarkan table diatas Debt To Asset Ratio (DAR), Perusahaan Logam mengalami fluktuasi setiap tahunnya. Jumlah Harga Rata-rata Debt To Asset Ratio (DAR) pada masing-masing perusahaan kadang mengalami peningkatan kadang mengalami penurunan pada setiap tahunnya
Jika dilihat dari rata-rata perusahaan, perusahaan yang paling rendah Debt To Asset Ratio (DAR) nya adalah PT. Jaya Pari Steel Tbk. (JPRS) yaitu 0,07% dan yang paling tinggi Debt To Asset Ratio (DAR) nya adalah PT. Tembaga Mulia Semanan Tbk. (TBMS) yaitu 0,86%.
B. Identifikasi Masalah
Berdasarkan latar belakang masalah di atas maka penulis mengidentifikasi masalah penelitian ini sebagai berikut :
1. Nilai Return On Equity (ROE) pada perusahaan Logam cenderung mengalami penurunan pada setiap tahunnya
2. Nilai Return On Asset (ROA) pada perusahaan Logam cenderung mengalami penurunan pada setiap tahunnya
3. Nilai Debt To Equity Ratio (DER) pada perusahaan Logam cenderung mengalami penurunan pada setiap tahunnya
4. Nilai Debt To Asset Ratio (DAR) pada perusahaan Logam cenderung mengalami penurunan pada setiap tahunnya
5. Harga Saham pada perusahaan Logam dan Sejenisnya cenderung mengalami penurunan pada setiap tahunnya.
C. Batasan dan Rumusan Masalah 1. Batasan Masalah
Untuk memfokuskan bidang kajian penelitian, maka penulis memberikan batasan masalah pada penelitian Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) dan Debt To Equity Ratio (DER) Debt To Asst Ratio (DAR) serta Harga
Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-2016.
2. Rumusan Masalah
Berdasarkan uraian latar belakang diatas, maka dapat dirumuskan masalah sebagai berikut :
a. Apakah Return On Equity (ROE) berpengaruh terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? b. Apakah Return On Assets (ROA) berpengaruh terhadap Harga Saham
pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia? c. Apakah Debt To Equity Ratio (DER) berpengaruh terhadap Harga
Saham pada Perusahaan Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
d. Apakah Debt To Asset Ratio (DAR) berpengaruh terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam dan Sejenisnya yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
e. Apakah Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) dan Debt To Equity Ratio (DER) Debt To Asset Ratio (DAR) secara bersama-sama berpengaruh terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia?
D. Tujuan Dan Manfaat Penelitian 1. Tujuan Penelitian
Sesuai dengan pokok permasalahan yang telah dirumuskan sebelumnya, maka tujuan dari penelitian ini yaitu :
a. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return On Equity (ROE) terhadap pada Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
b. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Return On Assets (ROA) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
c. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt To Asset Ratio (DER) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
d. Untuk mengetahui dan menganalisis pengaruh Debt To Asset Ratio (DAR) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
e. Untuk mengetahui dan menganalisis secara bersama-sama pengaruh Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) dan Debt To Equity Ratio (DER) Debt To Asset Ratio (DAR) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia.
2. Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan manfaat antara lain sebagai berikut :
a. Bagi penulis untuk menambah pengetahuan dan menambah wawasan mengenai pengaruh dan Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) dan Debt To Equity Ratio (DER) Debt To Asset Ratio (DAR) terhadap Harga Saham pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia tahun 2012-1016
b. Bagi pembaca yang berminat dapat berinvestasi pada Perusahaan Logam yang terdaftar di Bursa Efek Indonesia
c. Bagi investor penelitian ini diharapkan dapat menambah pengetahuanm bagi para investor atas informasi keuangan dalam melakukan pengambilan keputusan untuk berinvestasi di pasar modal, sehingga dapat memperkecil risiko yang mungkin terjadi akibat dalam pembelian saham di pasar modal.
d. Bagi pihak lain, sebagai bahan referensi untuk melakukan penelitian selanjutnya yang berkaitan dengan pengaruh Return On Equity (ROE) Return On Assets (ROA) dan dan Debt To Equity Ratio (DER) Debt To Asset Ratio (DAR) terhadap Harga Saham.
BAB II
LANDASAN TEORI
Uraian Teori
1. Harga Saham
a. Pengertian Saham
Saham adalah surat berharga yang diperdagangkan di pasar modal sering disebut efek atau sekuritas. Saham dapat didefinisikan tanda penyertaan atau kepemilikan seseorang atau badan dalam suatu perusahaan atau perseroan terbatas. Wujud saham adalah selembar kertas yang menerangkan bahwa pemilik kertas tersebut addalah pemilik perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.
Menurut Fahmi (2012, hal. 81) “Saham merupakan instrument pasar modal yang paling banyak diminati oleh investor, karena mampu memberikan tingkat pengembalian yang menarik. Saham adalah kertas yang tercantum dengan jelas nilai nominal, perusahaan, dan diikuti dengan hak dan kewajiban yang telah dijelaskan kepada setiap pemegangnya.”
Menurut Martalena dan Maya Malinda (2011, hal. 55) “Saham merupakan suatu instrumen pasar keuangan yang paling populer. Menerbitkan saham merupakan salah satu pilihan perusahaan ketika memutuskan untuk pendanaan perusahaan. Pada sisi lain saham merupakan instrumen investasi yang banyak dipilih para investor karena saham mampu memberikan tingkat keuntungan yang menarik.”
Menurut Jogiyanto (2008, hal. 167) pengertian dari harga saham adalah ”Harga suatu saham yang terjadi dipasar bursa pada saat tertentu yang ditentukan oleh pelaku pasar dan ditentukan oleh permintaan dan penawaran saham yang bersangkutan di pasar modal.”
Dari beberapa definisi diatas maka dapat disimpulkan bahwa saham menunjukkan kepemilikan atas suatu perusahaan dan memberikan hak kepada pemiliknya. Kepemilikan tersebut memberikan kontribusi kepada pemegangnya berupa return yang dapat diperolehnya, yaitu keuntungan modal (Capital Gain) atas saham yang memiliki harga jual lebih tinggi dari harga belinya, atau deviden atas saham tersebut.
b. Manfaat Saham
Investor yang melakukan pembelian saham, otomatis akan memiliki hak kepemilikan dalam perusahaan yang menerbitkannya. Banyak sedikitnya jumlah saham yang dibeli akan menentukan persentase kepemilikan dari investor tersebut. Semakin besar jumlah saham yang dimiliki investor, maka semakin besar juga hak nya atas perusahaan yang menerbitkan surat berharga tersebut.
Sedangkan menurut Dharmaji dan Fakhruddin (2012, hal. 9) manfaat saham yaitu sebagai berikut:
1. Deviden
Yaitu pembagian keuntungan yang diberikan perusahaan penerbitan saham tersebut atas keuntungan yang dihasilkan perusahaan. Deviden diberikan setelah mendapat persetujuan dari pemegang saham RUPS. Investor yang berhak menerima deviden adalah investor yang memegang saham hingga batas waktu
yang ditentukan oleh perusahaan pada saat pengumuman deviden. Umumnya deviden merupakan salah satu daya tarik bagi pemegang saham dengan orientasi jangka panjang, misalnya investor institusi atau dana pensiun dan lain-lain. Deviden yang dibagikan perusahaan dapat berupa deviden tunai dan deviden saham.
2. Capital Gain
Capital gain merupakan selisih antara harga beli dan harga jual. Capital gain terbentuk dengan adanya aktivitas perdagangan saham di pasar sekunder. Umumnya investor dengan orientasi jangka pendek mengejar keuntungan melalui capital gain. Misalnya seorang investor membeli saham pada siang hari jika saham mengalami kenaikan.
Menurut Nor Hadi (2013, hal. 76) deviden merupakan keuntungan yang diberikan oleh pemegang saham yang bersumber dari kemampuan emiten untuk mencetak laba bersih dari operasinya.
c. Jenis – Jenis Saham
Menurut Darmadji dan Fakhruddin (2012, hal. 6), ada beberapa jenis sahamyaitu: 1. Ditinjau dari segi kemampuan dalam hak tagih atau klaim, maka saham
terbagi atas:
a. Saham biasa (common stock) b. Saham preferen (preferen stock)
c. Dilihat dari cara pemeliharaannya, saham dibedakan menjadi: a. Saham atas unjuk (bearer stock)
b. Saham atas nama (registered stock)
a. Saham unggulan (blue-chip stock) b. Saham pendapatan (income stock)
c. Saham pertumbuhan (growth stock-well known) d. Saham spekulatif (spekulative stock)
e. saham sklikal (counter cyclical stock)
Menurut Rudianto (2012, hal. 285) adapun jenis-jenis saham sebagai berikut: 1. Saham biasa (Common stock)
2. Saham prioritas atau saham preferen
d. Faktor – Faktor Yang Mempengaruhi Harga Saham
Menurut Brigham dan Houston (2010, hal. 33) harga saham dipengaruhi oleh beberapa faktor utama yaitu:
1. Faktor internal
a. Pengumuman tentang pemasaran produksi penjualan seperti pengiklanan, rincian kontrak, perubahan harga, penarikan produk baru, laporan produksi, laporan keamanan, dan laporan penjualan.
b. Pengumuman pendanaan, seperti pengumuman yang berhubungan dengan ekuitas dan hutang.
c. Pengumuman badan direksi manajemen (management board of director announcements) seperti perubahan dan pergantiandirektur, manajemen dan struktur organisasi.
d. Pengumuman pengambilalihan diverifikasi seperti laporan merger investasi, investasi ekuitas, laporan take over oleh pengakuisisian dan diakuisisi, laporan investasi dan lainnya.
e. Pengumuman investasi seperti melakukan ekspansi pabrik pengembangan riset dan penutupan usah lainnya.
f. Pengumuman ketenagakerjaan (labour announcements), seperti negosiasi baru, kotrak baru, pemogokan dan lainnya.
g. Pengumuman laporan keuangan perusahaan, seperti peramalaba sebelum akhir tahun viscal dan setelah akhir tahun vicscalearning per share (EPS), dividen per shere (DPS), Price EarningRatio, Net profit margin, return on assets (ROA) dan lain-lain.
2. Faktor eksternal
a. Pengumuman dari pemerintah seperti perubahan suku bunga tabungan dan deposito kurs valuta asing, inflasi, serta berbagai regulasi dan regulasi ekonomi yang dikeluarkan oleh pemerintah.
b. Penguman hukum seperti tuntutan terhadap perusahaan atau terhadap manajernya dan tuntutan perusahaan terhadap manajernya.
c. Pengumuman industri sekuritas, seperti laporan pertemuan tahunan insider trading, volume atau harga saham perdagangan pembatasan atau penundaan trading.
Menurut Weston dan Brigham (2009, hal. 26) dialih bahasakan oleh alfonsus Sirait faktor-faktor yang mempengaruhi harga saham adalah :
1. Laba per lembar saham (Earning Per Share/EPS) 2. Tingkat Bunga
3. Jumlah Kas Deviden yang Diberikan 4. Jumlah laba yang didapat perusahaan 5. Tingkat Resiko dan Pengembalian
e. Alat Ukur Harga Saham
Menurut Dermawan (2008, hal. 260-261), saham terbagi atas dua bagian, yaitu: saham biasa (common stock) dan saham preferen (preferen stock). Rumusan untuk mengukur nilai suatu sekuritas atau saham adalah:
a. Untuk saham biasa, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Dimana :
Po = Harga Saham yang diharapkan Di = Dividen
Ks = Tingkat keuntungan yang disyaratkan investor pada saham.
b. Untuk saham preferen, dengan menggunakan rumus sebagai berikut:
Dimana :
Vps = Nilai Saham preferen Dps = Deviden Saham preferen
Kps = Tingkat keuntungan yang disyaratkan pada saham preferen
Menurut Tandelilin (2008, hal. 187) Model ini berasumsi bahwa deviden yang dibayar tidak mengalami pertumbuhan, dengan rumus :
Po
Dimana :Po = nilai intristik saham dengan model diskonto deviden pertumbuhan nol D = deviden yang diterima dalam jumlah konstanta selama pembayaran k = tingkat return
2. Return On Equity (ROE)
a. Pengertian Return On Equity (ROE)
Return On Equity (ROE) merupakan salah satu rasio profitabilitas dimana rasio ini menilai kemampuan perusahaan dalam mencari keuntungan. Maju mundurnya suatu perusahaan tercermin dari keuntungan yang diperoleh setiap satu tahun. Suatu perusahaan yang kadang-kadang menderita rugi menandakan bahwa perusahaan itu menghadapi stagman yang berbahaya. Apabila investor ingin memilih salah satu diantara banyak jenis saham, maka unsur-unsur neraca dan laporan laba rugi harus diperbandingkan untuk. mengetahui perusahaan mana yang paling produktif dilihat dari segi ReturnOn Equity (ROE).
Menurut Fahmi (2012, hal. 98), Return on Equity (ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas.
Menurut Syamsudin (2009, hal. 64) “Return On Equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan dalam perusahaan”.
Menurut Brigham dan Houston (2010, hal. 149), Return On Equity (ROE) merupakan rasio bersih terhadap ekuitas biasa mengukur tingkat pengembalian atas investasi pemegang saham biasa.
Menurut Irham (2012, hal. 98), Return On Equity ( ROE) adalah rasio yang digunakan untuk mengkaji sejauh mana suatu perusahaan mempergunakan sumber daya yang dimiliki untuk mampu memberikan laba atas ekuitas.
Menururt Syafri (2008, hal. 305) Return On Equity merupakan perbandingan antara laba bersih sesudah pajak dengan total ekuitas. Return On Equity merupakan suatu pengukuran dari penghasilan (income) yang tersedia bagi para pemilik perusahaan (baik pemegang saham biasa maupun pemegang saham preferen) atas modal yang mereka investasikan di dalam perusahaan.
Dari definisi diatas dapat disimpulkan bahwa Return On Equity (ROE) adalah perbandingan antara laba setelah biaya bunga dan modal sendiri. Return On Equity (ROE) merupakan suatu pengukuran dari penghasilkan Income yang tersedia bagi para pemilik perusahaan atas modal yang mereka investasikan didalam perusahaan. Dengan demikian pengambalian atas ekuitas.
b. Manfaat Return On Equity (ROE)
Menurut Kasmir (2015, hal. 204) “Hasil pengembalian ekuitas atau Return On Equity (ROE) atau rentabilitas modal sendiri merupakan rasio untukmengukur laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri. Rasio inimenunjukkan efesiensi penggunaan dana modal sendiri. Semakin tinggi rasioini, semakin baik artinya posisi pemiliki perusahaan semakin kuat, demikianpula sebaliknya”.
Menurut Riyanto (2008, hal. 44) “Rentabilitas modal sendiri atau sering juga dinamakan rentabilitas usaha adalah perbandingan antara jumlah laba yang tersedia bagi pemilik modal sendiri di satu pihak dengan jumlah modal sendiri yang menghasilkan laba tersebut di lain pihak”. Atau dengan kata lain dapatlah dikatakan bahwa rentabilitas modal sendiri adalah kemampuan suatu perusahaan dengan modal sendiri yang bekerja didalamnya menghasilkan keutungan. Laba yang dihitung retabilitas sendiri adalah laba usaha setelah dikurangi dengan bunga modal asing dari pihak perseroan atau tax. (EAT = Earning After Tax). Sedangkan
modal yang diperhitungkan hanyalah modal sendiri yang bekerja dalam perusahaan.
c. Faktor-Faktor Yang Mempengaruhi Return On Equity (ROE) Return On Equity (ROE) kesesuaian manajemen dalam memaksimalkan pengembalian pada pemengang saham, semakin tinggi rasio ini akan semakin baik karena memberikan tingkar pengembalian yang lebih besar pada pemegang
saham. Untuk meningkatkan Return On Equity (ROE) maka faktor-faktor yang mempengaruhinya.
Menurut Tandelilin (2010, hal. 373) adapun faktor – faktor yang mempengaruhi Return On Equity (ROE) dipengaruhi oleh 3 (tiga) faktor, yaitu :
a. Margin Laba Bersih / Profit Margin Besarnya keuntungan yang dinyatakan dalam persentase dan jumlah penjualan bersih. Profitmargin ini mengukur tingkat keuntungan yang dicapai oleh Perusahaan dihubungkan dengan penjualan.
b. Perputaran Total Aktiva / Turn Over dari Operating Assets Jumlah aktiva yang digunakan dalam operasi perusahaan terhadap jumlah penjualan yang diperoleh selama periode.
c. Rasio Hutang / Debt Ratio yang memperlihatkan proporsi antara kewajiban yang dimiliki dan total kekayaan yang dimiliki.
Menurut syamsudin (2011, hal 65) faktor- faktor yang mempengaruhi return on equity yaitu keuntungan atas komponen sales NPM,TATO dan DER
d. Alat Ukur Return On Equity (ROE)
Rasio ini menunjukkan kemampuan perusahaan untuk menghasilkan laba setalah pajak dengan menggunakan modal sendiri yang memiliki perusahaan.
Menurut Brigham dan Houston (2010, hal. 133) menyatakan bahwa : “Return On Equity (ROE) merupakan laba bersih bagi pemegang saham dibagi dengan laba ekuitas pemegang saham. Pemegang saham pastinya ingin mendapatkan tingkat pengambalian atas equity menunjukkan tingkat yang mereka peroleh. Jika pengembalian equity tinggi maka harga saham cenderung akan tinggi dan tindakan yang meningkatkan pengembalian atas equity kemungkinan juga akan meningkatkan harga saham”.
Menurut Fahmi (2014, hal. 291) rumus penggunaan Return On Equity (ROE) yaitu :
Menurut Sartono (2012, hal. 123) Return On Equity dapat dihitung dengan rumus:
Menurut Rudianto (2013, hal. 192) Return On Equity dapat dihitung dengan rumus:
3. Return On Assets (ROA)
a. Pengertian Return On Assets (ROA)
Return On Asset (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return OnAsset (ROA) merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelolah investasinya. Di samping itu hasil pengembalian investasi menunjukkan produktivitas dari seluruh dana perusahaan, baik modalpinjaman maupun modal
ROE =
ROE =
sendiri. Semakin rendah (kecil) rasio ini semakin kurang baik, demikian pula sebaliknya. Artinya rasio ini digunakan untuk mengukur efektivitas dari keseluruhan operasi perusahaan.
Menurut Sutrisno (2012, hal. 222) Return On Assets (ROA) adalah “Ukuran kemampuan perusahaan dan menghasilkan laba dengan semua aktiva yang dimiliki oleh perusahaan”.
Menurut Kasmir (2015, hal. 201) “Hasil pengembalian investasiatau lebih dengan nama Return On Investment (ROI) atau Return On Assets (ROA) merupakan rasio yang menunjukkan hasil (return) atas jumlah aktiva yang digunakan dalam perusahaan. Return On Investment (ROI) juga merupakan suatu ukuran tentang efektivitas manajemen dalam mengelola investasinya”.
Menurut Hanafi dalam bukunya Manajemen Keuangan (2008, hal. 42) pengertian ROA adalah “mengukur kemampuan perusahaan menghasilkan laba bersih berdasarkan tingkat aset yang tertentu”.
Menurut Syamsudin (2009, hal. 53) mengemukakan bahwa “Return On Assets (ROA) merupakan pengukuran kemampuan perusahaan secarakeseluruhan di dalam menghasilkan keuntungan dengan jumlah keseluruhanaktiva yang tersedia di dalam perusahaan”.
Sedangkan menurut Riyanto (2008, hal. 336), yang menyatakan bahwa “Return On Assets adalah kemampuan dari modal yang diinvestasikan dalam keseluruhan aktiva untuk menghasilkan keuntungan neto”.
Berdasarkan definisi diatas dapat disimpulkan bahwa bagaimanakemampuan perusahaan dalam memperoleh keuntungan atas keseluruhan asetyang
diinvestasikan perusahaan, maka untuk selanjutnya perusahaan dapatmenjalankan aktivitas lain kedepannya.
b. Manfaat Return On Assets (ROA)
Return On Investment (ROI) atau sering disebut juga dengan Return On Assets (ROA) memiliki tujuan dan manfaat tidak hanya bagi pihak usaha atau manajemen saja, tetapi juga bagi pihak diluar perusahaan, terutama pihak-pihak yang memiliki hubungan atau kepentingan dengan perusahaan.
Menurut Kasmir (2015, hal. 198) manfaat dari Return On Assets (ROA) adalah: 1. Mengetahui besarnya tingkat laba yang diperoleh perusahaan dalam satu
periode.
2. Mengetahui posisi laba perusahaan tahun sebelumnya dengan tahun sekarang 3. Mengetahui perkembangan laba dari waktu ke waktu
4. Mengetahui besarnya laba bersih sesudah pajak dengan modal sendiri
5. Mengetahui produktivitas dari seluruh dana perusahaan yang digunakan baik modal pinjaman maupun modal sendiri.
Menurut Munawir (2014, hal 91) kegunaan dari analisa Return On Asset (ROA) dikemukakan sebagai berikut :
1. Sebagai salah satu kegunaannya yang prinsip ialah sifatnya yang menyeluruh. Apabila perusahaan sudah menjalankan praktek akuntansi yang baik maka management dengan menggunakan teknik analisa Return On Asset (ROA) dapat mengukur efisiensi penggunaan modal yang bekerja, efisiensi produksi dan efisiensi bagian penjualan.
2. Apabila perusahaan dapat mempunyai data industri sehingga dapat diperoleh rasio industri, maka dengan analisa Return On Asset (ROA) ini
dapat dibandingkan efisiensi penggunaan modal pada perusahaannya dengan perusahaan lain yang sejenis, sehingga dapat diketahui apakah perusahaannya berada di bawah, sama, atau di atas rata-ratanya. Dengan demikian akan dapat diketahui dimana kelemahannya dan apa yang sudah kuat pada perusahaan tersebut dibandingkan dengan perusahaan lain yang sejenis.
3. Analisa Return On Asset (ROA) pun dapat digunakan untuk mengukur efisiensi tindakan-tindakan yang dilakukan oleh divisi/bagian, yaitu dengan mengalokasikan semua biaya dan modal ke dalam bagian yang bersangkutan. Arti pentingnya mengukur rate of return pada tingkat bagian adalah untuk dapat membandingkan efisiensi suatu bagian dengan bagian yang lain di dalam perusahaan yang bersangkutan.
4. Analisa Return On Asset (ROA) juga dapat digunakan untuk mengukur profitabilitas dari masing-masing produk yang dihasilkan perusahaan dengan menggunakan “product cost system” yang baik, modal dan biaya dapat dialokasikan kepada berbagai produk yang dihasilkan oleh perusahaan yang bersangkutan, sehingga dengan demikian akan dapat dihitung profitabilitas dari masing-masing produk. Dengan demikian manajemen akan dapat mengetahui produk mana yang mempunyai “profit potential” di dalam longrun.
5. Return On Asset (ROA) selain berguna untuk keperluan kontrol, juga berguna untuk keperluan perencanaan. Misalnya Return On Asset (ROA) dapat digunakan sebagian dasar untuk pengembalian keputusan kalau