INFLASI
Tingkat infl asi Indonesia tercatat sebesar 8,36% di
sepanjang 2014. Angka ini mengalami penurunan sebesar 0.2% jika dibandingkan dengan pada 2013
yaitu 8,38%. Infl asi yang terkendali dan rendah hingga
Oktober 2014 kembali meningkat pada November 2014, terutama didorong oleh dampak kenaikan harga BBM. Selain itu, peningkatan ini disebabkan oleh serangkaian faktor yang saling berhubungan. Salah satu faktor utamanya adalah suku bunga BI. Penurunan suku bunga mendorong aktivitas ekonomi secara simultan. Kegiatan perekonomian yang semakin aktif dan cepat mendorong pekerja untuk meminta upah yang lebih tinggi. Produsen kemudian terpaksa menetapkan harga jual produk yang lebih tinggi kepada konsumen, dan memicu turunnya daya beli konsumen. Sehingga pada gilirannya, baik produsen maupun konsumen kurang
mampu memberikan kontribusi yang signifi kan terhadap
kekuatan pertumbuhan perekonomian Indonesia.
INFLASI INDONESIA 2008 - 2015
2008 2009 2010 2011 2012 2013 2014 2015
Infl asi / Infl ation 11,06 2,78 6,96 3,79 4,30 8,38 8,36 -
Target Bank Indonesia / Bank
Indonesia Target 5,00 4,50 5,00 5,00 4,50 4,50 4,50 4,00
Sumber / Source: Bank Indonesia
TINJAUAN INDUSTRI PERBANKAN
NASIONAL 2014
Sepanjang 2014, perbankan Indonesia menghadapi situasi sulit. Situasi ini diwarnai likuiditas yang ketat, penyaluran kredit yang melambat, dan margin bunga bersih yang menurun. Pada pertengahan 2014, likuiditas perbankan yang dihitung melalui rasio pinjaman
terhadap simpanan (LDR) telah mencapai 90,25% di atas
arahan Bank Indonesia dan Otoritas Jasa Keuangan. Namun, likuiditas kemudian melonggar tercermin dari
LDR menjadi 89,42% pada akhir 2014. Hingga akhir 2014,
kredit hanya tumbuh 11,6%. Pertumbuhan ini jauh lebih rendah daripada 2013 yang mencapai 21,6%.
Melambatnya pertumbuhan ekonomi dan pertumbuhan
kredit bank diikuti penurunan defi sit transaksi berjalan pada 2014. Menipisnya defi sit transaksi berjalan
INFLATION
Infl ation rate in Indonesia is 8.36% during 2014, decreasing 0,2% compared to 2013 that was 8,38%. Controlled and low infl ation until October 2014 increases on November 2014, it is mainly caused by the impact of fuel price increase. In addition, this increase is caused by interrelated factors, one of the them is BI interest rate. Lower interest rates encourage economic activity simultaneously. An active and fast economic activity encourages employee to ask for higher salary. The manufacturers then are forced to determine higher selling product price for the consumers, and trigger the decrease of consumers' purchasing power. Thus, both manufacturer and consumer, can not give signifi cant contribution to the strength of Indonesian economic growth.
INDONESIAN INFLATION 2008 - 2015
REVIEW OF NATIONAL BANKING INDUSTRY
2014
Throughout 2014, Indonesian banking faced diffi cult situations, that was marked by strict liquidity, the slowing of credit channeling, and the decrease of margin of net interest income. In the midst of 2014, banking liquidity calculated through Loan to Deposit Ratio (LDR) has achieved 90,25% over the direction of Bank Indonesia and Financial Service Authority. However, the liquidity loosened that can be refl ected from Loan to Deposit Ratio amounted to 89,42% in the end of 2014. Until the end of 2014, credit only grows by 11,6%, it is lower than 2013 that achieved 21,6%.
The slowing of economic growth and bank credit growth is followed by the decrease of current account defi cit in 2014. The decrease of current account defi cit amounted
Analisis dan Pembahasan Manajemen
PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL Tbk | LAPORAN TAHUNAN 2014
102
menjadi 26,23 miliar dollar AS pada akhir tahun 2014 sudah menjadi indikator positif. Margin bunga bersih
bank turun menjadi 4,23% pada akhir Desember 2014 dibanding pada Desember 2013, margin bunga bersih
perbankan masih 4,89% dan 5,49% pada 2012. Kenaikan biaya dana terutama disebabkan perang suku bunga deposito yang terjadi yang tercermin dari meningkatnya rasio beban operasional terhadap pendapatan (BOPO) yang naik menjadi 76,29% pada akhir 2014. Padahal, pada akhir 2013, BOPO tercatat 74,08%.
Pada 2014, stabilitas sistem keuangan tetap terjaga ditopang oleh industri perbankan yang solid sehingga mendukung pertumbuhan ekonomi. Meski demikian, pertumbuhan kredit pada 2014 berjalan melambat, sejalan dengan moderasi permintaan domestik. Secara sektoral, perlambatan kredit terjadi di hampir semua sektor termasuk sektor-sektor utama seperti perdagangan, hotel, restoran (PHR) dan industri pengolahan. Risiko kredit, risiko likuiditas dan risiko pasar pada industri perbankan relatif stabil dan terkendali. Selain itu, kondisi permodalan juga masih kuat untuk menopang industri perbankan secara keseluruhan. Industri perbankan memiliki peran sebagai penggerak ekonomi nasional. Kinerja intermediasi tercatat pada tingkat pertumbuhan yang aman bagi perekonomian. Pertumbuhan kredit mencapai 11,6% dan industri perbankan melaju dengan pertumbuhan laba cukup positif. Laba bersih perbankan dalam setahun mencapai Rp112 triliun atau tumbuh 4,7% dari tahun sebelumnya Rp107 triliun. Kinerja positif industri perbankan ini diharapkan akan semakin meningkat dan memacu perbankan nasional termasuk Bank Artha Graha Internasional dapat terus meningkatkan kinerjanya sehingga mampu menjadi benteng pertahanan ekonomi menghadapi krisis dari sisi eksternal.
Sebagai kesimpulan, di tengah tren moderasi permintaan domestik, ketahanan perbankan yang tercermin dari unsur permodalan bank tetap terjaga, diiringi risiko kredit yang relatif terkendali. Hingga akhir 2014, rasio kecukupan modal (Capital Adequacy Ratio/CAR) masih tinggi, yaitu sebesar 19,6%, jauh di atas ketentuan minimum 8%. Kondisi ini mencerminkan daya tahan perbankan yang masih kuat untuk mengatasi tekanan
to 26.23 billion US dollar in the end of 2014 is being a positive indicator. Margin of Bank net interest decreases amounted to 4,23% in the end of December 2014 compared to December 2013, margin of net interests of the Bank are still 4,89% and 5,49% in 2012. The increase of cost of fund is mainly caused by deposit rates confl ict refl ected from the increase of operating expense to revenue ratio that increases amounted to 76,29 in the end of 2014. Whereas, in the end of 2013, operating expense to revenue was 774,08%.
In 2014, the stability of the fi nancial system is still supported by a solid banking industry in order to support economic growth. Nevertheless, credit growth in 2014 is running slow along with the moderation of domestic demand. Sectorally, credit slowdown occurs in every sectors including main sectors such as trading, hotel, restaurant and management industry. Credit risk, liquidity risk and market risk in banking industry is relatively stable and controllable, and capital condition still could support banking industry. Banking industry plays a role as national economic pioneer. Intermediation performance is recorded on safe level of economy growth. Credit growth is 11,6% and banking industry develops with positive profi t growth. Bank's net income in a year is Rp112 billion or increasing by 4,7% of previous year net income that was Rp107 billion. Positive performance of banking industry is expected to increase and support national banking, including Bank Artha Graha Internasional that is expected to develop its performance in order to maintain its economic in facing the crisis from external side.
In conclusion, in the middle of moderation trend of domestic demand, banking defense refl ected from bank capital elements are still maintained, followed by controlled credit risk. Until the end of 2014, Capital Adequacy Ratio is still high enough, that is 19,6% above minimum provision of 8%. This condition refl ects Bank's durability to face the pressure and turbulence including trend of Bank's interest rate increase. Meanwhile, non
Analisis dan Pembahasan Manajemen
2014 ANNUAL REPORT | PT BANK ARTHA GRAHA INTERNASIONAL Tbk
103
dan gejolak termasuk berlanjutnya tren kenaikan suku bunga perbankan. Sementara itu, rasio kredit bermasalah (Non Performing Loan/NPL) tetap rendah dan stabil di kisaran 2,00%.
Tabel Kinerja Industri Perbankan Nasional (Bank Umum)
Satuan / Unit YoY (%) 2014 2013 2012
Aset / Assets (Rp triliun/billion) 13,3 5.615 4.954 4.263
DPK / Third Party Funds (Rp triliun/billion) 12,3 4.114 3.664 3.225
Kredit / Credit (Rp triliun/billion) 11,6 3.674 3.293 2.708
LDR / Loan to Deposit Ratio % (0,28) 89,42 89,70 83,58
CAR / Capital Adequacy Ratio % 1,44 19,57 18,13 17,43
NIM / Net Interest Margin % (0,66) 4,23 4,89 5,49
ROA / Return on Asset % (0,23) 2,85 3,08 3,11
BOPO % 2,21 76,29 74,08 74,10