H. Nilai – Nilai Operasional Sintuwu Maroso dapat di jabarkan sebagai berikut:
I. Revitalisasi Sintuwu Maroso Pasca Konflik
1. Nilai-nilai Sintuwu Maroso bersifat Universal dan Ideal
Dalam kehidupan sosial masyarakat di Poso, sintuwu maroso tidak hanya menjadi semboyang daerah. Akan tetapi budaya sintuwu maroso ini merupakan salah satu ciri masyarakat Poso secara umum terutama dalam hal pandangan individu-individu dalam kelompok terhadap orang lain dan interaksi sosial. Sudah sejak lama sintuwu maroso menjadi bagian dalam kehidupan masyarakat Poso yang sifatnya menyatukan baik itu menyatukan penduduk asli Poso maupun pendatang di Poso.
Lima puluh satu tahun sebelum awal terjadinya konflik antar warga Poso, Raja Talasa Tua yang merupakan sesepuh masyarakat di Poso menegaskan karakter masyarakat Poso yang senantiasa mendambakan kehidupan yang damai. Hal ini tercermin
dalam Pidato/maklumat tertulis yang disampaikan kepada para pendatang yang berkeinginanan membangun kehidupan di wilayah tanah Poso. Pidato/maklumat tersebut disampaikan pada 11 Mei 1947 di kantor Raja Poso :
Tasi Tomini Baree Kuwaya, ndi kamaimo, to Gorontalo, Manado, Bugis, To Siwa, dll. Paikanya ane Baree ntibunaka Ada mami nDipewalili riRanami, ane nDipapolepe daa ritanamami da kairi mPuasu komi. “ Laut Tomini saya tidak pagari, silahkan datang orang dari Gorontalo, Manado, Bugis, Cina,dll. Dengan ketentuan kalau kalian idak menghormati adat kami, silahkan pulang ke daerah asal masing-masing dan jikakalian menumpahkan darah di tanah kami, maka kami akan mengusir kalian dari tanah kami”.48
Salah satu bentuk penerimaan Raja Talasa terhadap para pendatang adalah pemberian tanah secara cuma-cuma kepada para pendatang. Itulah sebabnya, di Kota Poso dan sekitarnya dikenal dengan beberapa kampung yang kental dengan nuansa daerah, misalnya, kampung Arab, kampung Gorontalo, kampung Bugis, kampung Minahasa, dan kampung Cina.49
Dalam praktek sehari-hari tidak aneh jika terdengar orang tionghoa berbahasa Pamona ketika berinteraksi dengan orang Pamona demikian juga dengan orang Bugis, Jawa dan Bali. Dari situ dapat dilihat tidak ada masalah dalam pembauran antar etnis. Burhanuddin S. Adu, Ketua Muslim to Poso (sebuah perkumpulan masyarakat Muslim di Poso yang merasa bahwa mereka juga orang Poso karena lahir dan besar di Poso) berpendapat:
“siapa pun yang berdomisili di Poso, dan mau membangun Poso, maka mereka bisa disebut orang Poso. Jadi kita tidak mengenal istilah penduduk asli dan pendatang”50
Hal ini menunjukan bahwa masyarakat yang ada di daerah Poso memang mengutamakan sebuah kebersamaan dan menjunjung tinggi nilai-nilai persatuan.
48 R. Damanik., Tragedi Kemanusiaan Poso: Menggapai Surya Pagi Melalui Kegelapan Malam (Jakarta Palu: PBHI/LPSHAM Sulteng, 2003), 38-42.
49 Alpha Amirrachman, Revitalisasi Kearifan Lokal..., 248.
Sintuwu maroso merupakan suatu bentuk kesadaran sosial kolektif yang melembaga dimana setiap orang terikat secara moral untuk terlibat di dalamnya. Sehingga fungsi budaya sintuwu maroso pada dasarnya adalah memelihara keseimbangan, kesamaan dan keutuhan kohesi sosial. Rasa tanggung jawab moral yang terkandung dalam sintuwu maroso sangatlah eklusif. Dimana kesedian individu untuk mosintuwu (sebagai suatu wujud nyata budaya sintuwu maroso) atau berbagi kehidupan dengan orang lain dalam kehidupan sosial tidak terbentur pada batasan-batasan tertentu (sasial, suku dan agama).
Pada umumnya masyarakat Poso baik penduduk asli maupun pendatang sudah mengetahui sintuwu maroso sebagai kearifan lokal masyarakat asli Poso. Pengetahuan masyarakat didukung juga dengan adanya pemberlakuan logo dan motto sintuwu maroso yang digunakan pemerintahan Poso sebagai lambang pemerintahan Kabupaten Poso. Penerimaan masyarakat pendatang terhadap kearifan lokal sintuwu maroso juga sangat baik. Misalnya: kesediaan masyarakat pendatang dalam mengikuti sebuah aktifitas atau tindakan yang disebut dengan kata mosintuwu. Istilah mosintuwu mengandung pengertian: ikut serta dalam suatu usaha atau turut serta dalam kesusahan orang lain dengan jalan memberi sesuatu, baik tenaga maupun materi, untuk kepentingan orang yang memerlukannya. Dasar mosintuwu adalah kebersaamaan. Mosintuwu yang dikenal ialah mosintuwu tuwu dan mosintuwu mate. Mosintuwu tuwu biasanya dilaksanakan pada waktu pesta kawin atau mengerjakan sawah-ladang dan lain-lain. Mosintuwu mate dilaksanakan pada waktu ada kedukaan.51 Pemberian atau sumbangan barang yang di berikan disebut dengan kata posintuwu. Posintuwu merupakan salah satu bangunan relasi sosial. Posintuwu adalah tindakan memberikan benda secara materiil, kunjungan secara aktif terhadap pihak yang sedang mengalami kedukaan maupun sukacita. Dukungan moril
dan materil ini tidak hanya diwujudkan dalam bentuk sumbangan tetapi pada keseluruhan penyelenggaraan acara mulai persiapan, penyediaan bahan hingga memasak bersama dan prosesi acara. Posintuwu ini sifatnya tidak bebas atau bersifat mengikat di mana penerima posintuwu membalas memberikan Posintuwu disaat pemberi posintuwu mengalami keadaan atau membutuhkan bantuan karena alasan tertentu. Apabila kewajiban membalas tidak dilaksanakan, maka tidak ada sangsi fisik maupun materi yang harus ditanggung akan tetapi yang ada hanyalah sangsi moral. kebiasaan – kebiasaan ini terus berlaku dalam kehidupan sehari-hari orang yang tinggal di daerah Poso baik itu masyarakat pendatang maupun masyarakat asli walaupun berbeda latar belakang sosial misalnya budaya dan agama.
Secara umum, budaya sintuwu maroso mengandung unsur-unsur yang bersifat sangat universal yaitu,
Kebersamaan dan keseimbangan sosial, memandang bahwa dalam kehidupan haruslah ada suatu keseimbangan baik antar individu, individu dengan kelompok, dan antar kelompok (duduk sama rendah, berdiri sama tinggi) atau antar manusia dengan alam. Pandangan ini mencakup segala bidang dalam kehidupan sosial kemasyarakatan.
Solidaritas sosial, dalam artian bahwa memandang perlu adanya suatu bentuk kepeduliaan sosial terhadap orang lain dalam suatu ikatan tertentu dalam kehidupan bermasyarakat sebagai wujud nyata dan pendukung untuk terciptanya keseimbangan sosial.
Ketergantungan sosial, sebagai individu memiliki ketergantungan yang tinggi terhadap kelompoknya. Oleh karena itu perlu adanya keharmonisan dalam kelompok.52
Melihat sintuwu maroso merupakan suatu falsafah yang universal maka masih sangat relevan dan ideal untuk digunakan sebagai simbol interaksi dalam masyarakat Poso pasca konflik untuk mencapai perdamaian.
Pasca konflik Poso, masyarakat Poso menghadapi masalah-masalah yang baru bukan hanya masih adanya ketegangan sosial akibat konflik di masa lalu, tetapi juga perdamaian yang masih rentan dimana masih adanya beberapa peristiwa penembakan dan pembunuhan yang di lakukan sekelompok orang yang masih mengatasnamakan agama. Ini terjadi karena kerena belum jelasnya visi, orientasi dan arah perdamaian ke depan. Mengikuti John Paul Lederach, membangun perdamaian di daerah yang dilanda konflik komunal dengan segregasi sosial yang tajam, membutuhkan perspektif transformasi konflik dan rekonsiliasi jangka panjang, bukan hanya melakukan respons sesaat atas konflik yang terjadi tetapi juga merumuskan dan membangun strategi perdamaian kedepan untuk mengatasi kesenjangan, ketidakadilan, kemiskinan, dan rekonstruksi komunitas yang telah hancur akibat konflik menuju perdamaian berkelanjutan dan berkeadilan.53 Dalam masyarakat Poso menyimpan potensi Perdamaian yang harus dipertahankan dan dikembangkan yaitu akar perdamaian yang sudah tertanam dalam kearifan lokal yaitu sintuwu maroso.
2. Nilai-nilai Sintuwu Maroso perlu disosialisasikan dalam kehidupan
52 Lihat Tony Tampake, Bias Budaya Sintuwu Maroso,Makalah dalam perkuliahan Agama dan Perubahan Sosial Program Studi Magister Sosiologi Agama UKSW, 2006.
53 Jhon Paul Lederach, Building Peace: sustainable Reconciliation in Divided societies (Washington, DC: US Institute for Peace, 1998).
a. Berpolitik
Konflik pertikaian berlatar belakang SARA dan menjerumus kearah disintegrasi bangsa banyak sekali terjadi setelah pada tahun 1998 yaitu, ketika Indonesia memasuki era reformasi dengan ditandai jatuhnya rezim Orde Baru pimpinan Presiden Soeharto. Jatuhnya pemerintahan Soeharto ini membuat rakyat Indonesia mengalami euforia kebebasan dalam berpolitik, pola pemerintahan yang lebih demokratis dan perubahan pola pemerintahan dan sentralisasi menjadi desentralisasi kekuasaan (otonom daerah).
Adanya efek euforia yang berlebihan akan kebebasan politik, demokrasi dan otonom daerah tersebut sebenarnya menimbulkan permasalahan baru karena jadi menimbulkan datangnya hasrat persaingan di tingkat elit politik lokal daerah, untuk saling bersaing dan berkonflik mendapatkan jabatan guna mencapai kepentingan politik daerahnya. Disini para elit politik dengan kepentingan politiknya tersebut melakukan dengan cara memobilisasi massa melaui isu sensitif yaitu isu etnis dan agama. Sehingga konflik komunal pun dapat dengan mudah terjadi melalui peran elit politik yang ikut membawa dan melibatkan perseteruan antara etnis dan agama. Hal ini berlaku juga di Kabupaten Poso. Dimana penyebab konflik tersebut mengenai perebutan kekuasaan oleh para elit politik yang ingin mewakili suatu kelompok tertentu dalam kekuasaan di pemerintahan.
Dalam prakteknya para elit politik itu harus memiliki keinginan yang membumi untuk memerangi semua bentuk penyelewengan, ketidakadilan, perlakuan yang melanggar HAM. Modal dasar bagi segenap elit adalah perlu adanya ketulusan untuk mengakui kelemahan, ikhlas membuang egoisme, keserakahan, bersedia menggali kekuatan nilai-nilai budaya yang ada pada kelompok masyarakat, dan bersedia berbagi dengan pihak lain sebagai entitas dari bangsa yang sama. Para elit di berbagai tingkatan
harus mampu menjadi garda depan, bukan sekedar bisa berbicara dalam janji, tapi harus mampu memberikan bukti tindakan nyata dalam bentuk keberpihakan pada kepentingan masyarakat. Harapannya adalah untuk menyatukan gerak langkah antara satu sama lain, masyarakat bersama-sama menggali sumber kehidupan secara arif dan bijak, sehingga ada jalan menuju kehidupan yang lebih baik, damai, adil dan sejahtera.
Upaya yang perlu dilakukan adalah merevitalisasi makna substantif nilai kearifan lokal sintuwu maroso sebuah nilai kebersamaan dalam membangun masyarakat tanpa melihat latar belakang. Melalui Sintuwu maroso keterbukaan dikembangkan menjadi kejujuran dalam setiap aktualisasi pergaulan, pekerjaan dan pembangunan, beserta nilai-nilai budaya lain yang menyertainya. Budi pekerti dan norma kesopanan diformulasi sebagai keramahtamahan yang tulus. Harga diri diletakkan dalam upaya pengembangan prestasi, bukan untuk membangun kesombongan. Ketulusan, memang perlu dijadikan modal dasar. Ketulusan untuk membuang egoisme, keserakahan, serta mau berbagi dengan yang lain sebagai entitas dari bangsa yang sama, kemudian menjadikannya sebagai semangat nasionalisme yang kokoh. Sehingga tercipta sebuah masyarakat yang adil dan beradab.
b. Bermasyarakat
Sebagai mahluk sosial, setiap orang tidak akan pernah hidup dengan sendirinya, tanpa bergantung pada orang lain di sekitarnya. Seseorang akan selalu butuh dengan yang lain, tidak hanya untuk saling bantu dan tolong-menolong, tetapi juga untuk membangun komukasi sosial yang saling mendukung dan berkerja sama untuk mencapai tujuan tertentu. Keberadaan manusia bersama dengan sesamanya merupakan kenyataan yang tidak dapat disangkal. Suatu masyarakat akan berada dalam ketertiban, ketentraman, dan
keyamanan, bila berhasil membangun sebuah keharmonisan dalam kebersamaan sebagai masyarakat.
Suasana seperti diatas sudah sulit ditemukan dalam masyarakat Poso hal ini di sebabkan konflik yang pernah terjadi, dan pasca konflik dimana masih adanya sikap takut, benci dan curiga terhadap pihak yang pernah berkonflik.54 Sikap takut, benci dan curiga inilah yang membuat komunikasi sosial dalam masyarakat Poso masih belum terjadi secara menyeluruh. kerugian sosial saat konflik dan pasca konflik yang dialami sangat besar, karena kerugian ini tidak bisa ditakar dengan uang dan benda. Kerugian sosila ini adalah hancurnya pranata organisasi sosial yang berbasis sintuwu maroso yang dinarasikan oleh masyarakat Poso sebagai pengikat integrasi masyarakat sejak jaman dahulu. Nilai ini diyakini oleh penduduk lokal tidak hanya menjadi kekuatan integrative masyarakat setempat (penduduk lokal) sebagai satu satuan kekerabatan luas tetapi juga penghormatan terhadap orang lain yang tidak sekerabat (pendatang).
Merevitalisasi kembali sintuwu maroso dalam bermasyarakat di Poso merupakan suatu langkah untuk mencapai kembali keharmonisan bersama dalam masyarakat Poso. Sintuwu maroso adalah sebuah persatuan. Dalam hubungan kekerabatan bagi masyarakat Poso, sintuwu maroso hadir untuk mempererat hubungan tersebut yang juga sebagai tonggak moral yang memberikan keseimbangan, keselarasan dan solidaritas bersama. Sintuwu maroso adalah ikrar perdamaian di Poso yang digali dari khasanah kearifan lokal. Sintuwu maroso adalah sebuah pengikat bagi masyarakat Poso untuk dapat hidup dalam semangat persaudaraan dan kerja sama antar masyarakat yang majemuk dengan latar belakang yang berbeda-beda baik agama, maupun budaya.
c. Beragama
Agama tidak mengajarkan kekerasan kepada umatnya. Agama justru mengabarkan adanya perdamaian dan cinta kasih kepada sesama umat maupun umat lain yang mempunyai keyakinan berbeda. Adanya konflik berbau agama sendiri justru dipertayakan karena telah menjadi distorsi dalam ajaran agama tersebut. Agama hanya menjadi menjadi identitas artifisial dalam suatu konflik untuk memberikan legitimasi moral untuk berbuat kekerasan terhadap pihak lainnya. Selain halnya legitimasi moral dan identitas, menyulutnya kekerasan atas nama agama juga disebabkan oleh kesalahan dalam penafsiran ajaran agama sehingga menimbulkan pemahaman sempit dan sikap chauvinistik. Maka dalam konteks ini, konflik anarkisme agama sejatinya tidak ada. Yang ada justru adalah konflik berupa revalitas sumber ekonomi dan politik maupun persaingan memperebutkan jabatan publik dalam pemerintahan.55
Agama bukanlah faktor utama dalam konflik, namun hanya menjadi faktor konsideran maupun pendukung. Dalam berbagai kasus konflik mengatasnamakan agama seperti konflik Kristen-Islam di Poso, agama justru terpolitisasi menjadi identitas konflik yang sebenarnya hanya menjadi topeng atas rivalitas perebutan sumber ekonomi, politik maupun birokrasi antar masyarakat.
Pada kenyataannya dalam masyarakat Poso yang agamais-pluralistik pernah hidup berdampingan dengan damai dan rukun. Masyarakat Poso hidup secara bersama-sama sebagai komunitas sosial yang saling menerima, menghargai dan membaur satu sama lain dalam kegiatan-kegiatan keagamaan. dahulu orang Poso hidup rukun, gotong royong, dan penuh toleransi antar pemeluk agama. Dulu saat Natal, orang-orang Islam berkunjung dan mengucapkan selamat Natal kepada saudara, tetangga, dan sahabatnya yang beragama Kristen. Sebaliknya ketika Lebaran, orang Kristen pun mendatangi rumah
55 S. Rizal Pangabean, Pola-pola Konflik Keagamaan Di Indonnesia (1990-2008) (Jakarta: Asia Foundation, 2009), 7.
orang Islam untuk mengucapkan selamat Idul Fitri.56 Bahkan dalam pembangunan rumah ibadah dilaksanakan secara bersama-sama tanpa melihat latar belakang agama. Juga dalam upacara-upacara adat seperti pesta kawinan dan upacara penguburan orang mati, tetap terjalin kepedulian dan persaudaraan, baik dalam suka dan duka.57 Namun kondisi itu berubah ketika terjadi konflik Poso yang mengatasnamakan agama terjadi. Sikap masyarakat Poso berubah menjadi parsial, sektarian, dan intoleran apabila berhadapan dengan masalah hubungan sosial antarwarga berbeda agama.
Dalam Masyarakat Poso pasca konflik menjadi “terbelah”. Masyarakat berbondong-bondong mencari wilayah yang aman dalam standar keagamaan mereka,terjadi segregasi penduduk hampir total. Orang Muslim mengungsi atau mengelompok di wilayah yang mayoritas penduduknya Muslim. Sedangkan orang Kristen juga mengelompok di wilayah Kristen. Yang lebih parah, pasca konflik membakitkan fanatisme dalam beragama, memunculkan prasangka dan hilangnya kepercayaan dalam masyarakat antar kelompok, saling diwaspadai dan mewaspadai lalu muncul istilah “orang sablah”58
Dalam kondisi masyarakat Poso yang beragam atau heterogen, kerukunan harus dapat diwujudkan dengan baik agar cita-cita untuk hidup damai, harmonis, saling menerima dan saling menghargai perbedaan sebagai ide multikulturalisme bisa terealisasikan. Pedoman yang dapat diangkat dalam mewujudkan kerukunan tentu tidak bisa hanya berdasarkan ketentuan yang ada dalam satu agama untuk semua golongan agama. Oleh karena itu, untuk membina kerukunan dalam masyarakat yang heterogen, kearifan lokal sangat efektif untuk dijadikan landasan bersama dalam mewujudkan
56 Wawancara dengan Y. Labiro, pada tanggal 17 Januari 2014
57 Wawancara FGD pada tanggal 19 Januari 2014
58
Orang sablah adalah sebuah penyebutan bagi mereka yang beragama lain. Penyebutan di jumpai oleh penulis ketika melakukan penelitian dimana sebagian besar responden menyebut pihak yang beragama Muslim dengan sebutan Orang sablah.
kerukunan. Kearifan lokal merupakan sarana yang baik untuk membangun dialog dan meningkatkan hubungan antaragama. Untuk membangun kembali kerukunan dan kebersamaan dalam masyarakat Poso yang bersifat lintas agama dan etnis yaitu dengan menerapkan kembali kearifan lokal masyarakat Poso yakni budaya sintuwu maroso.
Penerapan sintuwu maroso dapat membangkitkan kembali semangat kerbersaman dalam masyarakat yang berdasar pada kekeluargaan guna menciptakan persatuan dan perdamaian walaupun dengan latar belakang agama yang berbeda. Sifat universal dari sintuwu maroso dapat meruntuhkan fanatisme keagamaan yang dapat membuat masyarakat terpecah belah. Sehingga masyarakat akan melihat dirinya bukan hanya dari satu golongan agama saja tetapi melihat sebagai suatu kesatuan yakni masyarakat Poso. Tidak ada keengganan untuk bergaul, bersahabat dan berkerja sama dengan orang lain yang berbeda agama. Setiap orang memegang teguh keyakinan agamanya masing-masing tanpa bisa di pengaruhi oleh orang lain yang berbeda keyakinan sehingga sikap toleransi yang tinggi antar umat beragama yaitu sikap untuk bersedia saling menerima satu sama lain dengan penuh kasih dan ketulusan, tanpa adanya rasa curiga atau prasangka buruk terhadap satu sama lain dapat terwujud.
d. Berekonomi
Masyarakat Poso adalah masyarakat majemuk. Kemajemukan itu merupakan fakta yang harus di tanggapi sebagai tantangan besar yang harus di tanggulangi pada masa kini dan masa depan. Dalam konteks sosial budaya, kemajemukan terwujud dalam konteks etnisitas, rasial dan golongan. Persoalan dan tantangan semakin serius tatkala kesenjangan ekonomi meningkat dalam masyarakat.
Persoalan kesenjangan ekonomi dalam masyarakat Poso adalah masalah yang tidak dapat di pungkiri dalam konflik Poso. Meskipun pada awalnya isyu kesenjangan
ekonomi tidak langsung berkaitan dengan konflik Poso, isyu ini telah berimplikasi negatif terhadap hubungan penduduk lokal dan pendatang pada masa konflik. Toko-toko di pasar Poso, mobil-mobil, rumah-rumah orang kaya, dan atribut lain yang menandai golongan yang memiliki modal, menjadi sasaran penyerangan dan pembakaran oleh massa. Hampir tidak dapat lagi dibedakan antara aspek agama, ekonomi dan politik dalam konflik Poso. Ketiga aspek ini melebur menjadi satu dalam kondisi konflik yang belangsung.
Kesenjangan ekonomi terkait dengan dengan kedatangan pendatang dari luar Poso. Kedatangan para pendatang menyebabkan peralihan lahan dari penduduk asli ke pendatang dan lambat laun mendominasi perekonomian lokal kemudian secara alamiah menggeser kedudukan penduduk asli ke perifer. Meskipun tidak ada kajian mendalam mengenai perbandingan tingkat kesejahteraan ini, fakta kasat mata menunjukan bahwa kepemilikan kaum pendatang lebih baik dari penduduk asli. Sebagaian besar kepemilikan toko-toko dipasar, pegawai tingkat menengah keatas di pemerintahan maupun swasta, pemilik perusahaan berbagai jenis, penguasaan sektor pertanian dan perkebunan, dan lain-lain berada di tangan kaum pendatang. Penduduk asli nampaknya sukar bersaing dengan kecepatan pendatang dalam mencapai hasil yang tinggi.
Dalam struktur sosial masyarakat Poso awalnya dikenal dengan istilah waangkabosenya yang terbagi dalam dua klas, kabosenya adalah klas masyarakat atas (borjuis atau pemilik modal) dan watua merepresentasikan klas bawah (proletariat buruh tani). Kabosenya meski sebagai klas borjuis, mereka juga memposisikan diri sebagai pelindung bagi watua yang berkerja pada kabosenya. Ekspansi yang di lakukan pendatang juga berdampak pada pola pergeseran tatanan nilai budaya waangkabosenya, bukan pada kelasnya tetapi eksistensi kelas tersebut. Penguasaan alat-alat produksi seperti tanah oleh pendatang menempatkan mereka sebagai klas kabosenya yang baru, sementara sebagaian
kabosenya yang lama, terutama generasi selanjutnya menjadi watua. Pergeseran terjadi di wilayah substansi klas tersebut, sebab yang berlangsung kemudian adalah klas kabosenya tidak lagi bertindak sebagai pelindung bagi klas watua. Salah satu inti masalahnya terletak dalam konteks ini. Kabosenya dan watua tidak lagi saling melindungi tetapi lebih pada watak ekonomi dan seringkali bersifat eksploitatif.
Bergesernya makna waangkabosenya ikut mempengaruhi budaya Sintuwu maroso yang selama ini dititik beratkan pada modal interaksi antar etnis dalam kontek sosial. Masyarakat terjebak dalam logika kapitalisme dimana prinsip saling membantu dan berkerja sama tidak lagi nampak. Kehidupan harmonis yang dilandasi sintuwu maroso, nampak hanya berada dalam logika sosial dan kekerabatan tanpa menyentuh aspek lain, seperti munculnya penciptaan sistem ekonomi yang mengedepankan prinsip saling membantu sebagaimana diamanatkan oleh simbol budaya tersebut. Tidak munculnya satu kerja sama ekonomi dengan memakai substansi budaya sintuwu maroso dan tidak berkembangnya pemaknaan terhadap sintuwu maroso, berdampak pada tidak kuatnya simbol budaya tersebut menahan beban cultural sebagai akibat kuatnya gesekan ekonomi dalam struktur kehidupan masyarakat. Seperti rasa cemburu akibat adanya ketimpangan penguasaan sumber daya, kecemasan akan kelamnya harapan penduduk asli jika pendatang yang dominan, dan status sosial sebagai watua bagi sebagian masyarakat lokal.