Politik Nasional Republik : 1946 –
4.3.7 Revolusi Sosial Di Sumatera Timur
Kalau marxisme dapat diabaikan perannya dalam revolusi sosial di Aceh ; ia memainkan peranan lebih besar di Sumatera Timur. Keresidenan itu berada ditengah – tengah arus gerakan nasional sebelum perang. Kontras antara ploretariat perkebunannya yang besar dengan kekayaan yang berlimpah – limpah yang diperoleh beberapa rajanya dari sumber minyak dan konsensi perkebunan , merupakan jaminan bahwa marxisme dominan dalam percaturan politik.35
Memasuki tahun 1946 beberapa jabatan kunci di Sumatera Timur telah berada ditangan kaum komunis. Markas Agung , sentral posisi dari beberapa kesatuan bersenjata organisasi massa berada ditangan Nathar Zainuddin ( biro khusus PKI ) bersama dengan gembong komunis lainnya seperti Bustami , Xarim M.S ( ketua PKI Sumatera ) dan Yunus Nasution serta Sarwono ( ketua PESINDO mantelnya organisasi PKI ) , telah duduk pula Mr. Luat Siregar ( ketua PKI Sumatera Timur ) dan lalu mengadakan gerakan pembersihan dalam tubuh KNI dengan mengeser tokoh – tokoh yang beraliran moderat / liberal dan bangsawan. Dalam bulan Febuari 1946 ditingkatkan suhu penggayangan terhadap “kaum feodal” ( diartikan sebagai kaum bangsawan ) dengan tuduhan bahwa raja – raja dan para bangwasan itu “pro Belanda” dan “penghisap darah rakyat”. Menurut Nip Xarim , pakcinya Nathar Zainuddin itulah otak dibelakang layar revolusi sosial di Aceh dan Sumatera Timur. Pada 6 Febuari 1946 Gubernur T. M. Hasan bersama Xarim MS mengadakan tour ke Sumatera Selatan dan menyerahkan pimpinan harian di Medan kepada wakil Gubernur Dr. Amir. Untuk menggalang kaum kiri ; kaum
34Reid Op. Cit , hal. 152 – 157. 35Ibid., hal. 114.
komunis mensponsori berdirinya “volksfront” ( persatuan perjuangan ). Dari sini digodoklah suatu rencana untuk merevolusi raja – raja dan mengambil alih harta benda mereka karena kaum komunis takut jika ditunggu lama lagi maka tentara Belanda akan mendarat. Revolusi sosial di Sumatera Timur bukanlah merupakan aksi massa yang spontan tetapi suatu gerakan yang telah direncanakan secara serius oleh Markas Agung yang sudah berada ditangan volksfront dengan tokoh – tokoh komunis antara lain Nathar Zainuddin , Xarim M.S , Sarwono , M. Saleh Umar , Zainal Baharuddin , dan lain – lain. Ketua PESINDO dan volksfront Sarwono memerintahkan secara serentak diadakan pada penyerangan atas raja – raja di Sumatera Timur. Gerakan serentak diadakan pada 3 Maret 1946 tengah malam. Korban pertama ialah Raja Raya di Simalungun yang dibunuh atas instruksi kepala “barisan harimau liar” ; Saragih Ras. Pembunuhan banyak terjadi juga di Labuhan Batu yang dipimpin oleh Panji Aflus dari PESINDO. Di Langkat pembunuhan dan perkosaan dilakukan atas perintah ketua PKI , Marwan dan di Deli ditangkapi anggota organisasi “persatuan anak Deli Islam” ( PADI ) yang bekerjasama dengan pasukan ke – V pimpinan Dr. Nainggolan.36
Pada 3 Maret 1946 terjadi suatu peristiwa yang disebut sebagai revolusi sosial. Gerakan revolusiener ini telah mencapai puncaknya dengan dihentikannya residen pihak republik yang pertama. Revolusi sosial di Sumatera Timur dilancarkan atas instruksi Persatuan Perjuangan setempat yang sudah menjalankan kekuasaan semi – pemerintah sebab ia secara efektif mewakili kaum pemuda bersenjata. Pada waktu raja – raja Melayu , Simalungun , dan Karo ditangkap bersama relasi – relasi mereka diseluruh Sumatera Timur dan pejabat – pejabat baru sayap kiri dipilih menggantikannya ; angkatan darat dan pejabat gubernur
36Wawancara dengan Bapak Tengku Luckman Sinar , SH ; dirumah : JL. Abdulla Lubis No. 42 / 47 Medan ,
menyetujuinya “dengan perasaan syukur kepada Allah”. Reaksinya hanya terjadi pada tanggal 13 Maret 1946 setelah peristiwa pertama dalam serangkaian pembunuhan dan kekejaman terhadap bangsawan yang dipenjarakan. Suatu pertarungan segitiga terjadi antara angkatan darat , kaum nasionalis tua yang moderat , dan pihak revolusioner yang kurang rapi tersusun. Kedua pihak pertama masing – masing berusaha dengan caranya sendiri mengakhiri revolusi sosial , sedangkan dikalangan pihak terahir sekelompok kaum komunis secara konsisten berusaha menggunakannya untuk menstransformasi struktur pemerintahan secara mendasar. Namun kaum komunis sendiri tidak berdisiplin dan tidak sekasama dalam tujuan mereka. Struktur partai mereka dengan badan perjuangan yang mendukung , merupakan anak revolusi sama seperti saingan – saingannya dan tidak dapat diharapkan untuk membawa jenis disipil yang baru. Suatu badan ekonomi yang dipimpin oleh kaum komunis memperoleh pengesahan pemerintah untuk waktu yang singkat dalam periode ini guna mengambil alih perusahan – perusahaan dan perkebunan – perkebunan serta merencanakan perekonomian , namun kelihatannya ia tidak kebal dari kepentingan pribadi sama seperti badan – badan lainnya.37
Revolusi sosial di Serdang tidak separah yang terjadi di daerah – derah lain ; pada daerah – daerah seprti di Langkat , Asahan , Labuhan Batu , dan Siamlungun terjadi penangkapan dan pembunuhan – pembunuhan terhadap bangsawan. Setelah mendapat laporan di Simalungun , maka kolonel Ahmad Tahir memerintahkan kepada kapten Tengku Nurdin ( komandan batalion III TKR di Melati Perbaungan ) agar mengambil kebijaksanaan melindungi Sultan Sulaiman dan kaum bangsawan lainnya dari serangan pengganas. Segera kapten Tengku
Nurdin mengadakan perembukan dengan para Orang Besar Serdang yang dikumpulkan. Maka pada keesokan harinya pada 4 Maret 1946 diadakanlah upacara serah terima pemerintahan kerajaan Serdang kepada pihak tentara keamanan rakyat RI yang dihadiri oleh pimpinan komite nasional Indonesia Serdang ( ketua Tengku Nizam dari PNI ) dan wakil ormas dan orpol serta kepolisian dan lain – lain. Maka resmilah pemerintahan militer berlaku di wilayah Serdang , kemungkiman ini merupakan suatu peristiwa pertama kali dalam sejarah Indonesia. Atas kesepakatan TKR dengan komite nasional Indonesia maka semua Orang Besar dan bangsawan yang utama serta keluarga Sultan Sulaiman ditempatkan dalam istana kota Galuh serta dijaga oleh kesatuan batalion III TKR dan semua biaya sehari – hari ditanggung oleh Sultan Sulaiman. Sejak 3 Maret 1946 itu terjadilah penyerbuan / penangkapan / pembunuhan di semua kerajaan – kerajaan di Sumatera Timur , kecuali di Serdang. Adanya raja beserta Orang Besar di istana Serdang merupakan duri dalam daging buat pihak kiri , karena “kaum feodal” di kerajaan – kerajaan lain sudah ditangkap dan dibawa ke kamp kosentrasi “kampung Merdeka” dekat Brastagi. Kesempatan itu terbuka ketika Mayor Tengku Nurdin pada 1 Mei 1946 diangkat menjadi komandan resimen I berkedudukan di Brastagi dan komandan batalion III dipegang kapten Zeid Ali. Dalam suatu rapat raksasa dilapangan kota Perbaungan pada 3 Mei 1946 , ketua PKI Alwi dan konconya Kocik berpidato dan sambil membuka baju mereka berteriak “tidak perlu lagi memakai baju ini jika pengecut”. Rupanya ini merupakan kode karena segera laskar rakyat PESINDO yang didatangkan dari Tembung menyergap tokoh – tokoh moderat dari komite nasional Indonesia seperti Tengku Nizam , Harun Bacik , Dr. Namora dan lain – lain. Juga berdasarkan daftar hitam semua golongan bangsawan bergelar Orang Kaya ,
Wan , Tengku , dan bekas pejabat kerajaan ditangkap dan dimasukan ke penjara Lubuk Pakam. Pada waktu tengah hari , pimpinan bersenjata anggota volksfront / PESINDO kemudian menyergap kapten Zeid Ali dipenginapannya dan dengan todongan senjata ia diperintahkan agar pasukan TKR yang menjaga istana agar angkat tangan dan tidak menembak lalu mereka dilucuti. Seluruh penghuni istana lalu kemudian menyerahkan perhiasan emas , berlian , mutu manikam , dan lain – lainnya dan dimasukan kedalam 4 peti kayu besar termasuk tiara mahkota kerajaan Serdang sebagai dana sumbangan untuk perjuangan kemerdekaan Indonesia. Serah terima ini disaksikan oleh kepala polisi Karip Harahap , anggota – anggota komite nasional Indonesia dan wakil – wakil partai serta pemerintahan kabupaten. Lalu harta – harta itu dibawa dan digembok beserta semua penghuni istana dengan kereta api ke Pematang Siantar. Tetapi Sultan Sulaiman yang ketika itu sudah terbaring sakit tua , atas permintaan wakil – wakil partai beserta Tengku Suri Darwisyah , Encik Hj. Zahrah dan beserta pembantu diminta tinggal ditempatkan di istana Tengku Suri. Sultan Syarif Karim dari Siak , Sultan Sulaiman dari Serdang , dan Raja Gunung Sailan ( Riau ) adalah tiga tokoh penguasa yang secara spontan menyatakan berdiri dibelakang Republik setelah proklamasi kemeredekaan diumumkan. Harta yang diseimpan didalam peti – peti kayu itu yang digembok lalu diserahkan kepada Gubernur T. M. Hasan di Siantar dan disimpan didalam kluis bannk dagang nasional Indonesia untuk sumbangsih dalam membiayai perjuangan Indonesia. Istana kota Galuh kemudian dipakai sebagai kantor pemerintahan NRI kabupaten Deli Serdang ( Bupati Munar S. Hamijoyo ). Juga perkebunan karet Tanjung Purba dan perkebunan kelapa Pantai Labu dikelola oleh legium penggempur naga terbang dari Timur Pane.38
38Wawancara dengan Bapak Tengku Syahrial ; dirumah : JL. Kalimantan III No. 18 B
Pada akhir bulan April 1946 gerakan revolusioner sosial sudah jelas berahir dan pemimpin – pemimpinnya yang paling radikal telah dipenjarakan atau menyembunyikan diri. Ia telah mencapai penghancuran banyak negara – negara kecil secara permanen dan memberikan peran lebih besar dalam stuktur kekuasaan yang formal kepada organisasi – organisasi pemuda , angkatan darat , dan beberapa politisi. Namun harga yang harus dibayar tidak hanya terbatas pada beberapa ratus bangsawan yang menjadi korban revolusi sosial ; yang termasuk penyair terbesar Indonesia zaman pra kemerdekaan , Amir Hamzah. Salah satu akibat adalah dipercepatnya pengambrukan kekuasaan di Sumatera Timur dari sejumlah badan perjuangan yang saling bersaing yang lebih dirancangkan untuk mengembangkan kepentingan – kepentingan ekonomi dan politik mereka masing – masing ketimbang melindungi daerah itu terhadap serangan Belanda. Akibat lainnya adalah memburuknya hubungan antar suku di Sumatera Timur maupun diluarnya. Bagi kaum bangsawan pribumi dan pendukung – pendukungnya yang berjumlah besar diantara orang Melayu dan Simalungun ; revolusi melambangkan kekalahan mereka yang berdarah ditangan kelompok – kelompok luar.
Tetapi sampai dengan bulan April 1946 garis maxis “internasional” moderat praktis tidak terwakili. Pejabat – pejabat republik setempat tidak mendapat dukungan efektif dalam kebijaksanaannya sebagai pengatara antara para pemuda dengan raja yang saling bermusuhan. Para raja – raja di Sumatera Timur dapat dikatakan bersifat konservatif ( kecuali Serdang ) namun kurang keras kepala ketimbang rekan – rekan mereka di Aceh. Pada bulan Febuari ketika kelemahan pihak Belanda tanpak dengan jelas , mereka menyadari bahwa satu – satunya harapan mereka adalah pemerintah republik dan mulai perundingan – perundingan serius dengannya bagi “demokratisasi” wilayah – wilayah mereka
yang otonom dibawah pimpinan republik. Hal ini hanya memperbesar keurigaan pemimpin – pemimpin pemuda radikal yang khawatir akan bengkinya kembali secara artifisial kerajaan – kerajaan yang praktis sudah lumpuh sebagai akibat politik revolusioner.39
Lagi pula usaha yang gagal untuk mengekspor “revolusi sosial” ke Tapanuli mengakibatkan bentrokan – bentrokan sengit di Sidikalang yang pada bulan Mei 1946 telah bersifat etnis secara eksklusif antara orang Karo ( dengan sekedar dukungan orang Aceh ) dengan Batak. Kira – kira 300 orang diperkirakan dibunuh dalam perkelahian – perkelahian selama enam minggu.40