• Tidak ada hasil yang ditemukan

Suhu Udara Rata-rata Periode 2006

PERUBAHAN HIERARKI 2000 2003

20 RIAU SILIP BERBURA 1 3 3

Dari Tabel 43, pada tahun 2003 yaitu pada saat adanya kegiatan penambangan, diketahui bahwa desa yang tidak mengalami perubahan hierarki sebanyak 11 desa yaitu Desa Jurung, Penyamun, Air Duren, Bukit Layang, Lumut, Riding Panjang (Belinyu), Gunung Muda, Kuto Panji, Pangkal Niur, Cit dan Berbura. Desa yang mengalami peningkatan hierarki sebanyak 4 desa terdiri atas 3 desa ring 1 (Baturusa, Air Anyir dan Merawang) dan 1 desa ring 2 (Pagarawan). Desa yang mengalami penurunan hierarki sebanyak 5 desa terdiri atas 2 desa ring 1 (Riding Panjang Kec.Merawang dan Pemali) dan 3 desa ring 2 (Kenanga, Air Ruai dan Karya Makmur). Peningkatan hierarki lebih banyak terjadi pada desa ring 1 dan sebaliknya penurunan hierarki pada desa ring 2.

Pada tahun 2008 yaitu pada saat kegiatan penambangan berakhir, desa yang tidak mengalami perubahan hierarki sebanyak 14 desa yaitu Desa Baturusa, Riding Panjang (Kecamatan Merawang), Jurung, Penyamun, Pemali, Air Duren, Air Ruai, Bukit Layang, Lumut, Riding Panjang (Kecamatan Belinyu), Gunung Muda, Kuto Panji, Cit dan Berbura. Peningkatan hierarki hanya pada desa ring 2 yaitu Kenanga dan Pangkal Niur. Desa yang mengalami penurunan hierarki sebanyak 4 desa terdiri atas 2 desa ring 1 (Air Anyir dan Merawang) dan 2 desa ring 2 (Pagarawan dan Karya Makmur).

5.8. Pembahasan Umum

Pengembangan pemanfaatan sumberdaya alam melalui kegiatan penambangan dalam pengembangan wilayah merupakan stategi supply side.

Strategi supply side adalah suatu strategi pengembangan wilayah yang diupayakan melalui investasi modal untuk kegiatan-kegiatan produksi yang berorientasi ke luar. Tujuan penggunaan strategi adalah untuk meningkatkan pasokan komoditas yang pada umumnya diproses dari sumberdaya alam lokal. Kegiatan produksi ditujukan untuk ekspor yang akhirnya akan meningkatkan pendapatan lokal. Adanya kegiatan penambangan tersebut akan menarik kegiatan usaha lain ke wilayah tersebut. Keuntungan penggunaan strategi ini adalah prosesnya cepat sehingga efek yang ditimbulkan cepat terlihat (Rustiadi

et al., 2008).

Kegiatan penambangan di lokasi penelitian pada periode 2003-2008 memberikan dampak adanya peningkatan pendapatan masyarakat sekitar tambang yang cukup signifikan. Pendapatan masyarakat desa/kelurahan ring 1 dan ring 2 mengalami peningkatan sebesar 199% dan 132% dibandingkan pada periode sebelum adanya kegiatan penambangan. Seiring dengan meningkatnya pendapatan masyarakat sekitar tambang, hierarki wilayah desa-desa sekitar tambang juga mengalami peningkatan pada saat adanya kegiatan penambangan. Hal ini disebabkan munculnya kegiatan usaha lain di sekitar lokasi tambang sebagai penunjang usaha pertambangan antara lain munculnya toko-toko/ warung makanan, toko kelontong, usaha perbengkelan alat-alat pertambangan, jasa sewa alat berat dan usaha penyediaan bahan bakar minyak.

Seiring dengan berjalannya waktu, cadangan kasiterit (mineral timah) yang ada di lokasi penelitian semakin menipis dan habis sehingga sebagian besar masyarakat tidak lagi bekerja sebagai penambang. Pada akhir masa tambang, potensi ekonomi tersebut menurun dan hilang sehingga berakibat pada penurunan pendapatan masyarakat di sekitar tambang. Penurunan pendapatan masyarakat sekitar tambang dapat dilihat dari pendapatan rata-rata masyarakat pada periode 2009-2011. Pada periode tersebut terjadi penurunan pendapatan sebesar 17% untuk desa/kelurahan ring 1 dan 10% untuk desa/kelurahan ring 2. Penurunan pendapatan ini juga diiringi dengan penurunan hierarki pada desa- desa sekitar tambang yang disebabkan berkurangnya fasilitas-fasilitas akibat menurunnya sektor perekonomian dan jasa penunjang lainnya yang juga melibatkan masyarakat dalam jumlah cukup besar.

Dampak sosial ekonomi pascatambang tersebut seharusnya diprediksi sebelum penambangan timah dilaksanakan. Reklamasi lahan pascatambang timah harus mengantisipasi dampak sosial ekonomi tersebut selain melakukan upaya perbaikan lingkungan. Untuk mencapai maksud tersebut reklamasi dapat dilaksanakan dengan penanaman tanaman cepat tumbuh (fast growing species) atau tanaman serbaguna (multi purposes tree species) yang melibatkan partisipasi aktif stakeholders (masyarakat, perusahaan, akademisi, LSM dan pemerintah).

Berdasarkan analisis kesesuaian lahan dan analisis finansial, jenis tanaman cepat tumbuh (fast growing species) dan tanaman serbaguna (multi purposes tree species) yang sesuai untuk lahan pascatambang timah dan memiliki manfaat ekonomi adalah sengon, akasia dan karet. Pemanfaatan hasil tanaman reklamasi tersebut secara legal-formal lebih mudah mengingat lokasi penelitian merupakan lahan pascatambang timah yang berada dalam Areal Penggunaan Lain (APL) atau di luar kawasan hutan sehingga perizinan pemanfaatannya hanya dikeluarkan oleh Pemerintah Daerah.

Penanaman tanaman seperti sengon dan akasia pada lahan pascatambang timah sudah memenuhi kriteria perbaikan lingkungan, namun hanya memberikan sedikit manfaat terhadap sosial ekonomi masyarakat. Hal tersebut dapat dilihat dari banyaknya areal reklamasi yang sudah ditanami dengan sengon dan akasia dirusak oleh masyarakat yang melakukan penambangan timah kembali (remining). Berdasarkan analisis AHP didapatkan bahwa karet merupakan tanaman prioritas utama berdasarkan persepsi

stakeholders untuk ditanam pada lahan reklamasi pascatambang timah, kemudian sengon dan prioritas terakhir adalah akasia.

Penyusunan arahan jenis tanaman untuk reklamasi lahan pascatambang dilakukan berdasarkan hasil analisis kesesuaian lahan dan prioritas tanaman persepsi stakeholders. Penanaman karet (Hevea brasiliensis) diarahkan pada lahan pascatambang timah dengan jumlah bobot lebih dari 10 yang berada pada skala persentil lebih dari 50%. Lahan pascatambang timah yang memiliki jumlah bobot >6-10 diarahkan ditanami dengan sengon (Paraserianthes falcataria) yang berada pada skala persentil antara >25-50%. Penanaman akasia (Acacia auriculiformis) diarahkan pada lahan pascatambang timah dengan jumlah bobot kurang atau sama dengan 6 (enam) yang berada pada skala persentil sampai 25%.

Arahan jenis tanaman reklamasi di Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam adalah karet (73%), sengon (6%) dan akasia (21%); Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang: karet (77%), sengon (11%) dan akasia (12%); Desa Lumut Kecamatan Belinyu: karet (37%), sengon (19%) dan akasia (44%). Arahan teknik reklamasi berdasarkan pola reklamasi PT. Timah untuk masing-masing jenis tanaman adalah untuk karet dengan teknik reklamasi pola 1, sedangkan untuk sengon dan akasia dengan teknik reklamasi pola II, III atau IV.

Penanaman karet pada lokasi reklamasi lahan pascatambang timah merupakan prioritas stakeholders sehingga diharapkan areal yang sudah direklamasi tidak terganggu akibat penambangan timah kembali oleh masyarakat. Penanaman sengon dan akasia tetap dilakukan pada beberapa areal di lokasi tersebut karena tidak semua areal memiliki lahan yang sesuai untuk penanaman karet.

Arahan teknik dan jenis tanaman reklamasi lahan pascatambang timah di Desa Bukit Layang Kecamatan Bakam, Desa Riding Panjang Kecamatan Merawang dan Desa Lumut Kecamatan Belinyu selain memberikan manfaat bagi perbaikan lingkungan juga diharapkan dapat memberikan manfaat sosial ekonomi bagi masyarakat. Penanaman karet dilakukan sebagai alternatif sumber penghasilan masyarakat setelah penambangan berakhir.

VI. KESIMPULAN DAN SARAN

Dokumen terkait