BAB II LANDASAN TEORI
B. Riba Dalam Pandangan Islam
Tumbuh, membesar dan bertambah banyak ini adalah pengertian riba menurut bahasa. Sedangkan menurut istilah riba yaitu pengambilan tambahan dari harta pokok atau modal secara batil. Dalam bahasa Inggris riba disebut usury yaitu pengambilan bunga atas pinjaman uang dengan berlebihan sehingga cenderung mengarah kepada eksploitasi atau pemerasan.
Al-Qur’an mengartikan riba sebagai setiap penambahan yang diambil tanpa adanya satu transaksi pengganti atau penyeimbang yang
15 Darsono, Dkk, perbankan syariah di indonesia kelembagaan dan kebijakan serta tantangan kedepan (jakarta : Raja wali Pers, 2017) hlm. 222
16 Ascarya, akad dan produk bank syariah (jakarta : PT Raja Grafindo Persada, 2008) hlm. 78
29
dibenarkan oleh syariah. Transaksi bisnis atau komersial yang melegitimasi adanya penambahan secara adil, seperti melalui transaksi jual beli, sewa-menyewa, atau bagi hasil hal ini lah yang dimaksud dengan transaksi pengganti atau penyeimbang.
Dalam jual beli, pihak pembeli wajib menyerahkan sejumlah uang sebagai harga barang/jasa, yang kemudian diimbangi oleh adanya kewajiban dari pihak penjual untuk menyerahkan barang atau jasa yang menjadi obyek perjanjian jual beli.
Adanya besaran presentase tertentu atas pinjaman pokok menjadi keniscayaan pada transaksi simpan pinjam dalam konvensional. Dengan berjalannya waktu pihak yang memberikan pinjaman akan mendapatkan penghasilan yang pasti, sedangkan pihak peminjam besar keuntungan tidak tentu. Hal inilah yang menunjukan adanya ketidakadilan dalam transaksi berbasis bunga (interest based transaction).
Prinsip time value of money yang berbasis pada bunga layaknya transaksi ekonomi konvensional islam tidak mengenal prinsip tersebut, karena islam meyakini tidak mungkin ada keuntungan tanpa risiko atau mendapatkan hasil tanpa biaya. Riba dalam bentuk apapun dan manifestasinya dilarang dalam islam.
Pelarangan riba pada ketentuan Al-Qur’an dapat dikelompokkan menjadi empat tahap. Keempat tahap pelarangan riba tersebut adalah sebagai berikut:
30
1. Tahap I, menolak anggapan bahwa pinjaman riba yang pada zahirnya seolah-olah menolong mereka yang memerlukan sebagai seuatu perbuatan mendekati atau taqarrub kepada Allah SWT, yaitu melalui firman Allah dalam surat al-Rum ayat 39, yang artinya :
“Dan sesuatu Riba (tambahan) yang kamu berikan agar Dia bertambah pada harta manusia, Maka Riba itu tidak menambah pada sisi Allah. dan apa yang kamu berikan berupa zakat yang kamu maksudkan untuk mencapai keridhaan Allah, Maka (yang berbuat demikian) Itulah orang-orang yang melipat gandakan (pahalanya).”
2. Tahap II, kepada orang yahudi yang memakan riba, riba merupakan sesuatu yang buruk yang disertai dengan ancaman yang keras kepada. Hal ini terdapat dalam al-Qur’an surat an-Nisa ayat 160-161 yang artinya:
“Maka disebabkan kezaliman orang-orang Yahudi, Kami haramkan atas (memakan makanan) yang baik-baik (yang dahulunya) Dihalalkan bagi mereka, dan karena mereka banyak menghalangi (manusia) dari jalan Allah, dan disebabkan mereka memakan riba, Padahal Sesungguhnya mereka telah dilarang dari padanya, dan menyediakan untuk orang-orang yang kafir di antara mereka itu siksa yang pedih.”
3. Tahap III, yang berkaitan dengan suatu tambahan yang berlipat ganda riba diharamkan. Hal ini dapat kita baca dalam Al-Qur’an surat Ali Imran ayat 130 yang artinya:
31
“Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan Riba dengan berlipat ganda dan bertakwalah kamu kepada Allah supaya kamu mendapat keberuntungan.”
4. Tahap IV, tambahan yang diambil dari pinjaman dalam jenis apapun diharamkan dengan tegas dan jelas oleh Allah SWT. Hal ini terdapat dalam Al-Qur’an surat al-Baqarah ayat 278-279 yang artinya:
“Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan tinggalkan sisa Riba (yang belum dipungut) jika kamu orang-orang yang beriman. Maka jika kamu tidak mengerjakan (meninggalkan sisa riba), Maka ketahuilah, bahwa Allah dan Rasul-Nya akan memerangimu. dan jika kamu bertaubat (dari pengambilan riba), Maka bagimu pokok hartamu; kamu tidak Menganiaya dan tidak (pula) dianiaya.”
Dengan demikian tahap keempat adalah final, yang benar-benar secara jelas dan tegas mengharamkan apapun jenis tambahan yang diambil dari pinjaman. Adanya larangan riba bukan berarti islam melarang manusia untuk mendapatkan keuntungan secara materi. Bahwa islam juga memerintahkan umat manusia bertebaran di muka bumi dalam rangka mendapatkan karunia dari Allah SWT. Rezeki harus dicari tentu saja melalui jalan yang diridhai oleh-Nya.
Ada dua jenis riba yang dapat dikelompokkan secara garis besar yaitu riba yang terjadi dalam pinjam meminjam uang dan riba yang terjadi dalam kegiatan jual beli.
32
Riba yang terjadi dalam transaksi pinjam meminjam terdiri dari 2 macam, yaitu :
1. Riba Qardh, adalah riba yang terjadi karena dalam akad yang bersangkutan, pihak yang meminjam menuntut pengembalian lebih kepada pihak yang dipinjam yang dituangkan dalam akad.
2. Riba Jahiliyah, adalah riba yang terjadi apabila ada permintaan dari pihak yang meminjamkan untuk melebihkan pengembalian, karena adanya keterlambatan dalam pengembalian hutang.17
Riba yang terjadi dalam transaksi jual beli terdiri 2 macam, yaitu :
1. Riba an-nasi’ah itu sudah sangat jelas ribanya. Tidak lagi membutuhkan penjelasan, karena terdapat banyak unsur-unsur pokok perbuatan riba di dalamnya. Unsur tersebut terdapat pada tambahan pada pokok harga.
Kemudian, adanya tempo yang menyebabkan harga tambahan ini. Begitu juga adanya bunga yang menjadi syarat sebagai jaminan dalam transaksi.
Artinya, tidak lain adalah lahirnya (bertambahnya) harga dari pokok harga yang disebabkan adanya tempo pelunasan pembayaran.
2. Riba al-fadhl itu tidak diragukan lagi di dalamnya terdapat berbagai perbedaan yang mendasar antara kedua barang sejenis dengan meminta tambahan. Hal itu terlihat jelas seperti peristiwanya Bilal ketika menukarkan dua sha’ kurma yang jelek dengan satu sha’ kurma yang bagus. Akan tetapi, karena dua jenis barang yang sama, maka
17 Abdul Ghofur dan Anshori. Perbankan Syariah Di Indonesia (Yogyakarta : Gadjah mada university press. 2009) hlm. 10-14
33
menimbulkan kecurigaan bahwa di sana ada transaksi riba. Prosesnya yaitu, kurma bertambah dengan kurma yang lain.18