• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ridha Menerima Hukum Rasulullah

TEGAKKAN HUKUM SESUAI DENGAN

B. Ridha Menerima Hukum Rasulullah

Berbeda dengan informasi ayat di atas, ayat ini menekankan bahwa indikator seseorang itu dapat dikatakan beriman bagaimana sikap dia ketika menerima ketentuan hukuman atau ketetapan dari Rasulullah. Pada ayat ini dinyatakan dengan tegas tanda seorang itu beriman ia menerima keputusan yang di tetapkan Rasul. Hal ini seperti tergambar dalam penjelasan Q.S. an-Nisa’ ayat 64 dan 65:

                                          

Dan Kami tidak mengutus seseorang Rasul melainkan untuk ditaati dengan seizin Allah. Sesungguhnya Jikalau mereka ketika Menganiaya dirinya datang kepadamu, lalu memohon ampun kepada Allah, dan Rasulpun memohonkan ampun untuk mereka, tentulah mereka mendapati Allah Maha Penerima taubat lagi Maha Penyayang.

Maka demi Tuhanmu, mereka (pada hakekatnya) tidak beriman hingga mereka menjadikan kamu

hakim terhadap perkara yang mereka perselisihkan, kemudian mereka tidak merasa dalam hati mereka sesuatu keberatan terhadap putusan yang kamu berikan, dan mereka menerima dengan sepenuhnya. Penjelasan Kosa Kata (Tafsir al-Mufradat)

نذإ الله مكناذآ قرطو هيحو هب قطن يذلا هملاعإ : -لوسرلا اوعيطأو الله اوعيطأ :هلوقك -الله اورفغتسا ،اولعف ام ىلع اومدنو هترفغم اوبلط يأ : لوسرلا مهل رفغتساو الله اعد يأ : ،مهل رفغي نأ كومكحي ،كيلإ رملأا اوضوفيو امكح كولعجي : رجشو رملأا طلتخاو فلتخا : نم ذوخأم ،هيف فافتلا ،ضعب ىف هناصغأ ضعب لخادتت رجشلا نإف ،رجشلا اجرح ،اقيض : تيضق ،تمكح : ميلستلا ناعذلإاو دايقنلَا :

Iznu Allah: berarti informasi-Nya yang diucapkan

melalui wahyu-Nya, dan cara Dia mengizinkan kamu seperti terungkap dalam firman-Nya: Tha`atilah Allah dan tha`atilah Rasul-Nya-, istaghfiru Allah: pengertiannya adalah mintakanlah olehmu ampunan-Nya dan sesalilah apa yang telah kamu perbuat. Istaghfirlahum Rasul: artinya Rasul mendo`akan kepada Allah agar Ia mengampuni mereka. Yuhakkimuaka: maksudnya mereka

mau menjadikan engkau sebagai hakim dan

melimpahkan/menyerahkan urusan mereka kepadamu.

Syajara: berarti berbeda dan bercampur-baur urusan

padanya, yang terambil dari celaan dan perselisihan.

Harajan: maksudnya adalah kesempitan. Qadhaita: berarti

engkau menghukum/menyelesaikan perkara di antara

mereka. Taslim: berarti mematuhi dan menerimanya.11

11

Sebab Turun Ayat (Sabab al-Nuzul)

Imam Suyuthi memaparkan dalam kitabnya12

beberapa riwayat yang menerangkan tentang sebab turun ayat di atas di antara riwayat itu adalah sebagai berikut: ّيِئاَسَّنلاَو ّيِذِمْرِّتلاَو دُواَد وُبَأَو ملسُمَو ّيِراَخُبْلاَو ديمح نب دبعَو دمحأَو قاَّزَّرلا دبع جرخأ ا نْباَو ريرج نْباَو ةجام نْباَو ّيِرْهُّزلا قيِرَط نم ّيِقَهْيَبْلاَو ناَبح نْباَو مِتاَح يبأ نْباَو رذْنُمْل اًرْدَب دهش دق راَصْنَ ْلأا نم لاجر مصاَخ هنَأ :ماّوعلا نب ريبزلا نَع ثدح ريبزلا نب ةَوْرُع نَأ ِك ِهِب نايقسي اَناَك ةَّرحْلا نم جارش يِف ملسَو ِهْيَلَع الله ىلص الله لوُسَر َعَم لخّنلا اَمُه َلا َلاَقَف رمي ءاَملا حرس :ّيِراَصْن ْلأا َّمث ريبز اَي ِقْسا :ملسَو ِهْيَلَع الله ىلص الله لوُسَر َلاَقَف ِهْيَلَع ىبأَف كراَج ىَلِإ ءاَملا لسرأ هجَو نّولتف كتَّمَع نْبا َناَك نِإ الله لوُسَر اَي :َلاَقَو ّيِراَصْن ْلأا بضَغَف الله ىلص الله لوُسَر ردجْلا ىَلِإ عجري ىَّتَح ءاَملا ْاِبْحا َّمث ريبز اَي ِقْسا :َلاَق َّمث ملسَو ِهْيَلَع كراَج ىَلِإ ءاَملا لسرأ َّمث َناَكَو هقَح ريبزلل ملسَو ِهْيَلَع الله ىلص الله لوُسَر ىعرتساو يْأَرِب ريبزلا ىلع َراَشَأ كِلَذ لبق ملسَو ِهْيَلَع الله ىلص الله لوُسَر ُهَل ةَعسلا ِهيِف َداَرَأ يِف هقَح ريبزلل ىعرتسا ّيِراَصْن ْلأا ملسَو ِهْيَلَع الله ىلص الله لوُسَر ظفحأ اَّمَلَف يراصنلألو َنوُنمؤُي َلَ كبَرَو َلاَف{ كِلَذ يِف َّلَِإ تلزن ةَي ْلْا هِذَه بسحَأ اَم :ريبزلا َلاَقَف مكحلا حيِرَص َب رجش اَميِف كومِّكحي ىَّتَح ةَي ْلْا }مهني

Pada suatu ketika shahabat Zuber bin Awam pernah berselisih dengan seorang shahabat Anshar tentang pengairan kebun. Rasulullah Saw. bersabda: “Wahai Zuber, airilah dahulu kebunmu, setelah itu alirkanlah air itu ke kebun tetanggamu!”.

Mendengar kebijakan Rasulullah Saw. yang

demikian seorang laki-laki dari shahabat Anshar itu berkata: Ya Rasulullah engkau telah memerintahkan yang demikian karena Zuber itu adalah anak bibimu?”. Mendengar ocehan ini merah padamlah muka Rasulullah Saw., karena beliau merasa tersinggung. Selanjutnya beliau bersabda: “Wahai Zuber, siramilah kebunmu sehingga terbenam air

12 Abdurrahman bin Abi Bakar Jalaluddin as-Sayuthi, Dar al-Mantsur fi

pematangnya, baru kemudian berikanlah air itu kepada tentanggamu”. Akhirnya Zauber dapat menggunakan air dengan leluasa dan sepuas hati. Sesudah itu mereka menggunakan air dengan ketentuan yang telah ditentukan oleh Rasulullah Saw. Zuber bin `Awam mengemukakan pendapatnya, bahwa ayat ke- 65 ini diturunkan berkenaan dengan peristiwa yang menimpa dirinya tersebut.13

Penjelasan Kandungan Ayat (Al-Idhah)

Ayat di atas di awali ِنْذِإِب َعاطُيِل َّلَِإ ٍلوُسَر ْنِم انْلَس ْرَأ امَو( )ِ َّالله Allah menyampaikan melalui wahyu-Nya ini, bahwa telah menjadi sunah (ketentuan) Kami apa yang dibawa rasul ini (Muhammad) seperti apa yang berlaku pada rasul-rasul sebelumnya. Maka Kami tidak mengutus mereka melainkan untuk dipatuhi menurut izin Allah Swt., siapa yang tidak mematuhi mereka dan membenci hukum-hukum yang mereka tetapkan, berarti ia keluar dari hukum dan sunnah Kami sekaligus telah terjebak dengan dosa besar. Ungkapan penggalan ayat “ َِّالله ِنْذِإِب” berupa penjelasan sesungguhnya substansi kepatuhan itu tidak terwujud kecuali untuk dan karena Allah, Tuhan sekalian alam.

Selanjutnya Allah Swt. memperlihatkan bagaimana sifat-Nya yang mulia Maha Pengampun lagi Maha Penyayang bagi hamba-Nya yang menyesali perbuatannya,

13

Abdurrahman bin Abi Bakar Jalaluddin as-Sayuthi, Dar al-Mantsur fi

dan ingin kembali ke jalan yang benar sebagaimana firman-Nya:

ََّالله اوُدَجَوَل ُلوُسَّرلا ُمُهَل َرَفْغَتْساَو َ َّالله اوُرَفْغَتْساَف َكُؤاج ْمُهَسُفْنَأ اوُمَلَظ ْذِإ ْمُهَّنَأ ْوَلَو َّوَت

ًاميِحَر ًابا

Maksud potongan ayat ini adalah kalau mereka terlanjur berbuat zalim kepada dirinya dan membenci hukum yang ditetapkan Rasul Muhammad Saw. kepada hukum-hukum thaghut, lantas mereka datang menemui engkau Muhammad, maka mintakanlah ampunan untuk

mereka niscaya Allah akan mengampuni mereka.14

Sesungguhnya penyertaan permohonan ampunan Rasul dengan ampunan Allah, sebab dosa-dosa mereka bukan berarti menzalimi dirinya sendiri akan tetapi disebabkan mereka menyakiti Rasul Allah dengan cara menentang hukum-hukum yang ditetapkannya, padahal Rasul itu adalah sosok yang membawa kebenaran kepada umat manusia.

Dalam ayat terdapat isyarat bahwa taubah yang benar itu diterima secara pasti apabila terpenuhi beberapa persyaratan, di antaranya perbuatan dosa itu secara serta-merta langsung ditinggalkannya. Karena itu, orang-orang yang tidak patuh kepada rasul-Nya berarti ia telah berbuat zalim (aniaya) kepada dirinya sendiri, artinya telah berbuat kerusakan (fasad), sebab rasul itu adalah membawa petunjuk yang mengantarkan kepada kemashlahatan manusia di dunia dan di akhirat. Disebut kezaliman karena

14

mereka melakukan perlawanan, kejahatan, dan memilih berhukum dengan thaghut (hukum syaitan).

Pengampunan atau istighfar itu tidaklah diterima kecuali apabila dipanjatkan oleh seorang hamba kepada Tuhannya yang disertai oleh semangat untuk menjauhi dosa, bukan semata ditujukan dengan hati semata. Karena itu istighfar di sisi Allah pada tahap awal membutuhkan suatu perasaan jiwa betapa dosa itu suatu hal yang menjijikkan dan butuh pensuciannya beserta ada semangat yang kuat untuk meninggalkan bentuk kekotoran ini. Apabila ia secara tulus berdoa kepada Allah niscaya Ia akan mengampuni seraya memberikan dalam bentuk pahala.

Ayat ke 65 ini memberikan penekanan dengan tegas dan lugas, bahwa sebagai wujud pembuktian seseorang itu beriman kepada Allah Swt. mereka akan menerima keputusan hukum rasul-Nya, sebagaimana tertuang dalam firman-Nya sebagai berikut:

َرَجَش اميِف َكوُمِّكَحُي ىَّتَح َنوُنِم ْؤُي لَ َكِّبَرَو لاَف مِهِسُفْنَأ يِف اوُدِجَي لَ َّمُث ْمُهَنْيَب

dalam ayat ini Allah bersumpah dengan sifat ketuhanan untuk rasul-Nya (Muhammad Saw) sesungguhnya mereka-mereka yang membenci berhukum kepadamu dan orang-orang munafik mereka itu sebenarnya belum beriman dengan iman yang benar, yaitu iman yang melahirkan kepatuhan serta ketundukkan kecuali bila mereka

menyempurnakan tiga hal:15

15

1- Mereka menjadikan Rasul sebagai hakim dan menyerahkan kepada keputusannya tehadap segala hal yang mereka pertentangkan dan perselishkan 2- Mereka tidak merasakan keberatan dan juga

bantahan terhadap keputusan rasul dari hal-hal yang mereka perselisihkan itu.

3- Mereka patuh dan menerima keputusan hukum itu, sebab amat banyak ditemukan pribadi-pribadi yang telah diputus dengan benar namun mereka tetap saja ragu-ragu menerimanya karena ada jiwa menantang yang mereka perlihatkan.

Berdasarkan penjelasan ayat di atas, ada dua hal pokok yang dapat dipahami terkait dengan keputusan hukum yang ditetapkan oleh Rasul Allah Muhammad Saw. kedua hal itu adalah sebagai berikut:

(a) Terpeliharanya Nabi Muhammad Saw. dengan

pengertian bahwa ia tidak akan menetapkan suatu

keputusan hukum kecuali secara benar yang

disesuaikan dengan da’waan dan duduk perkaranya, tidak hanya berdasarkan kepada materi kejadian, sebab hukum itu ditetapkan menurut syari’at berdasarkan fakta-fakta zahirnya dan Allah yang mengetahui segala bentuk kerahasiaan, sesuai sabda Nabi Saw.:

نمف ،ضعب نم هتجحب نحلأ نوكي نأ مكضعب لعلف ّىلإ نومصتخت مكنإو رشب انأ امنإ قحب هل تيضق نلا نم ةعطق ىه امنإف ملسم اهكرتيل وأ اهذخأيلف را . ملسمو يراخبلا هاور ،ننسلا باحصأو

Hanya saja saya ini manusia biasa dan kamu mengajukan penyelesaian persengketaan kepada saya, maka tentu saja sebagian kamu lebih tahu dan menguasai dalil dan argumentasi dari yang lainnya. siapa yang saya putuskan baginya ada hak sauradanya yang muslim, maka berarti ia telah menerima potongan api, apakah ia mengambil atau menerimanya (H.R. Bukhari, Muslim dan Ashhabu Sunan).

(b) Sesungguhnya mereka belum lagi dikatakan menjadi mukmin yang benar serta berhak mendapatkan kemenangan berupa pahala dan selamat dari siksaan kecuali jika mereka mempunyai keyakinan yang kuat dalam jiwanya untuk membenarkan setiap apa saja yang dibawa oleh Nabi Muhammad Saw. terkait

dengan persoalan-persoalan agama. Di antara

tanda/indikatornya adalah mereka bersedia menjadikan rasul sebagai penengah dari pertikaian yang terjadi di antara mereka dan mereka tidak merasakan kesempitan dan kegelisahan jiwa ketika menerima keputusan Rasulullah.

C. Perintah Berhukum Kepada Allah dan Larangan