Program promosi kesehatan merupakan kegiatan yang dilakukan untuk upaya memasarkan, menyebarluaskan, memperkenalkan pesan-pesan kesehatan sehingga masyarakat menerima tujuan dari pesan yang disampaikan tersebut. Program-program kesehatan yang direncanakan oleh Dinas Kesehatan Kota Medan tahun 2016 berdasarkan apa yang menjadi kebutuhan untuk masyarakat yang ada di Kota Medan. Dapat dilihat bahwa jumlah biaya yang didapat oleh bidang promosi kesehatan untuk anggaran promosi kesehatan dari pemerintah adalah sebesar Rp. 6,361,736,000,00,-.
Dana Pemerintah ditujukan untuk pembangunan kesehatan, khususnya diarahkan untuk pembiayaan upaya kesehatan masyarakat dan upaya kesehatan perorangan dengan mengutamakan masyarakat rentan dan keluarga miskin dan daerah terpencil. Selain itu, program-program kesehatan yang mempunyai daya ungkit tinggi terhadap peningkatan derajat kesehatan menjadi prioritas untuk dibiayai. Dalam menjamin efektivitas dan efisiensi penggunaan dana kesehatan, maka sistem pembayaran pada fasilitas kesehatan harus dikembangkan. Adapun pembelanjaan dana kesehatan dilakukan melalui kesesuaian antara perencanaan pembiayaan kesehatan, penguatan kapasitas manajemen perencanaan anggaran dan kompetensi pemberi pelayanan kesehatan dengan tujuan pembangunan kesehatan.
Di Indonesia pembiayaan kesehatan yang terbatas, dimanfaatkan secara kurang efisien, hal ini dapat dilihat dari alokasi yang timpang antar program
kesehatan. Ketidakefisienan juga kelihatan dimana dana yang dicarikan melalui rangkaian perjalanan yang panjang sehingga nilai dana menurun ketika sampai pada tingkat operasional. Rincian kegiatan yang ada di Dinas Kesehatan Kota Medan lebih banyak digunakan untuk biaya transport, makanan, dan honor untuk para pegawai non PNS serta kader-kader yang ada di Kota Medan. Dari beberapa kegiatan dapat dilihat untuk bentuk kegiatannya lebih menjuru pada biaya honor dan transportasi serta pembelian hadiah lainnya. Untuk spesifik program promosi kesehatan lainnya hanya sebagian kecil saja kegiatan yang lebih kearah promosi kesehatannya.
Dapat dilihat pemanfaatan yang kurang baik atau kurang terarah dapat menimbulkan masalah yang mana dana yang dialokasikan tersebut harus tepat sasaran dan membuat masyarakat dapat merasakannya. Karena dari uraian bentuk kegiatan yang terselenggara di Dinas Kesehatan Kota Medan lebih banyak pada pembiayaan biaya operasional saja, akan tetapi kegiatan untuk penyuluhan serta promosi kesehatan tidak dilebih banyakkan. Padahal apabila berhasil dan tepat sasaran maka pembangunan kesehatan di Kota Medan dapat mencapai derajat kesehatan yang setinggi-tingginya.
Pembangunan kesehatan dapat terwujud bila adanya kerja sama dari pemerintah, penyelenggara kegiatan, dan masyarakat itu sendiri. Akan tetapi kenyataan dilapangan terlihat bahwa kesediaan dan partisipasi dari masyarakat sendiri juga kurang dalam kegiatan yang dilaksanakan. Walaupun peran pemerintah dalam penyedia dana sudah diperbaiki, penyelenggara dalam membuat kegiatan sudah dibuat semenarik mugkin agar masyarakat mau dan ingin
berpartisipasi tetapi kalau kemauan dari masyarakat juga kurang maka sama saja halnya derajat kesehatan dan perbaikan kesehatan Kota Medan tetap rendah.
Diharapkan program yang telah disusun dan disetujui dapat memberdayakan masyarakat untuk memelihara, meningkatkan dan melindungi kesehatannya dan orang-orang yang ada di sekitarnya dengan berbagai cara seperti penyuluhan kesehatan secara langsung, penyuluhan dengan melalui berbagai macam media, membuat perkumpulan dan memberikan pemahaman, dan dengan berbagai cara lainnya yang bertujuan untuk mempromosikan pentingnya menjaga kesehatan.
Program dan kegiatan yang telah diuraikan pada dasarnya semua dibuat dengan tujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat yang ada dikota medan seperti beberapa kegiatan yang tujuannnya selain memotivasi masyarakat dengan hadiahnya akan tetapi ada pesan untuk menjaga Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dan Lingkungan Bersih dan Sehat (LBS). Itulah guna diadakannya kegiatan perlombaan dan penilaian kesatuan gerak PKK KB Kesehatan tingkat Kota dan penyiapan hadiah perlombaan, dari kegiatan ini dapat memicu masyarakat agar tetap menjaga kesehatan serta perilaku bersih dan sehat kepada dirinya sendiri dan keluarganya.
5.2.2 Proses Perencanaan Anggaran
Gambar 5.1 Tahapan dalam Proses Perencanaan Kegiatan Program Promosi Kesehatan bersumber Pemerintah
Kegiatan perencanaan di bidang kesehatan merupakan proses merumuskan masalah kesehatan yang berkembang di masyarakat, menentukan kebutuhan dan sumber daya yang tersedia, menetapkan tujuan dan menyusun langkah-langkah praktis dalam mencapai tujuan tersebut. Dengan kata lain, perencanaan adalah proses untuk menentukan tindakan di masa depan yang tepat melalui urutan pilihan dengan memperhitungkan kemampuan sumber daya yang tersedia (UU No 25 Tahun 2004).
Proses perencanaan kegiatan program promosi kesehatan bersumber APBD secara umum dilakukan dengan pendekatan bottom up. Proses perencanaan dilakukan melalui forum Musyawarah Perencanaan Pembangunan (Musrenbang) yang dimulai dari tingkat dusun, selanjutnya desa, kecamatan dan kabupaten. Rencana Kerja Pembangunan Daerah Musrenbang
Kabupaten Musrenbang Kecamatan Musrenbang Desa/Kelurahan Puskesmas Forum SKPD Dinas Kesehatan Bidang KesMas Seksi Promkes
Sementara itu, perencanaan di tingkat SKPD (Dinas Kesehatan dan Sosial), dimulai dari usulan kegiatan seksi promosi kesehatan, didiskusikan dalam rapat di tingkat bidang dan selanjutnya dibahas dan ditetapkan dalam rapat di tingkat Dinas Kesehatan. Perencanaan ini dilakukan dengan tetap memperhatikan dan mengakomodir kebutuhan tingkat bawah melalui mekanisme Musrenbang dan koordinasi dengan puskesmas dan rumah sakit biasanya setiap bulan itu kita rapat Koordinasi, kemudian di akomodir dan di rencanakan serta di tuangkan dalam Renja (Rencana Kerja) Dinas Kesehatan Kota Medan dan meminta persetujuan dari Pemerintah Kota Medan tentang Rencana kerja beserta program dan kegiatan Dinas Kesehatan Selama setahun.
Setelah disetujui Pemerintah Kota barulah Dinas Kesehatan membuat Dokumen Pelaksana Anggaran (DPA) dan membuat detail program kegiatan mana yang akan dilaksanakan per triwulannya. Untuk membantu proses penyusunan anggaran Dinas Kesehatan juga dibantu dengan dokumen Peraturan Daerah Kota Medan, Peraturan Wali Kota, Peraturan Pemerintah, RPJMD, dan lainnya agar lebih mempermudah penyusunan program dan kegiatan apa saja yang sesuai dengan ketetapan pemerintah dan kebutuhan masyarakat Kota Medan.
Perbandingan antara jenis kegiatan dalam DPA dinas kesehatan dengan usulan kegiatan yang ada di dokumen-dokumen Musrenbangcam, menunjukkan adanya suatu koherensi. Hal ini mengindikasikan bahwa Musrenbang merupakan forum yang sangat menentukan jenis kegiatan dan program yang akan dijalankan oleh setiap SKPD yang ada. Kegiatan-kegiatan dalam DPA lebih banyak yang bersifat fisik.
Banyaknya usulan kegiatan yang berupa fisik di forum Musrenbang menunjukkan bahwa kegiatan kesehatan non fisik yang berkaitan dengan peningkatan promosi kesehatan bukan merupakan suatu masalah yang penting ditingkat masyarakat. Jumlah kegiatan promosi kesehatan yang sangat sedikit dalam dokumen perencanaan yang dibiayai APBD mengindikasikan bahwa program promosi kesehatan sepertinya bukan merupakan program prioritas bagi daerah. Namun hal ini bertentangan dengan apa yang disampaikan informan di dinas kesehatan, bahwa kegiatan yang ada di Dinas Kesehatan semuanya berlandaskan promosi kesehatan karenanya program promosi kesehatan begitu umum sifatnya.
Tidak dapat dipungkiri bahwa mekanisme Musrenbang adalah salah satu pendekatan yang masih perlu dipertahankan sesuai dengan aturan perundangan- undangan. Untuk mengatasi kelemahan Musrenbang, maka perlu dilakukan perbaikan yang dimulai dari: (1) peningkatan peran dan keterlibatan tenaga kesehatan dalam membuat sosialisasi tentang pentingnya kegiatan non fisik dalam sektor kesehatan (2) pengambilan keputusan untuk penetapan usulan kegiatan harus berbasis bukti (evidence based) sehingga pengumpulan data dan perbaikan kualitas data dan pelaporan harus dimulai dari proses Musrenbang desa sampai Musrenbang kabupaten dan (3) tenaga kesehatan harus terlibat aktif dalam kegiatan Musrenbang dan membangun hubungan erat dengan berbagai kalangan penting dalam urusan kesehatan khususnya untuk program promosi kesehatan.
5.3 Output (Keluaran)