• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB III GAMBARAN SEMENTARA RAD

E. Rincian Strategi

1. Strategi Operasional Utama: Meningkatkan kualitas pelayanan kesehatan ibu – KB berbasis hak dan pelayanan rujukan melalui peningkatan tata kelola integrasi Kesehatan Ibu – KB Berbasis Hak. Strategi Operasional Utama dijabarkan ke dalam 6 program beserta indicatornya yaitu:

a) Program Peningkatan akses dan kualitas penjaringan WUS berisiko

 Indikator Outcome 1a: Proporsi WUS DO dan anak jalanan berisiko yang mendapat KIE tentang kesehatan reproduksi (Untuk Kabupaten Aceh Barat dab Kabupaten Lahat: Proporsi WUS berisiko yang membaik)

 Indikator Outcome 1b: Proporsi WUS-PUS berisiko yang hamil b) Program Peningkatan kualitas tatakelola bumil dan bulin berisiko

 Indikator Outcome 2: Proporsi kegawatdaruratan bumil dan bulin berisiko

c) Program Peningkatan kualitas tatakelola kegawatdaruratan bumil dan bulin normal

 Indikator outcome 3: Proporsi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan bumil dan bulin normal

d) Program Peningkatan kualitas tata kelola bufas berisiko

 Indikator Outcome 4: Proporsi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan bufas berisiko

e) Program Peningkatan tata kelola pelayanan KB dalam integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak

 Indikator Oucome 5: Proporsi PUS yang dikelola yang menjadi akseptor KB f) Program Peningkatan tata kelola pelayanan KB Berbasis Hak

 Indikator Outcome 6: Proporsi akseptor KB yang terpenuhi haknya.

Masing-masing indicator outcome dari setiap program dijabarkan ke dalam sejumlah indicator output.

25

Tabel 1 Indikator untuk Strategi Operasional Utama

Indikator

No Outcome No Output

1a Proporsi WUS DO & anak jalanan yang mendapat KIE kespro

(Untuk Kab. Aceh Barat & Kab. Lahat: Proporsi WUS berisiko yang

membaik)

1.1.1 Proporsi WUS DO berisiko yang terjaring

1.1.2 Proporsi WUS anak jalanan berisiko yang terjaring Proporsi WUS SMP/sederajat berisiko yang terjaring

Proporsi WUS SMP/sederajat berisiko yang dipulihkan/diobati Proporsi WUS SMA/sederajat berisiko yang terjaring

Proporsi WUS SMA/sederajat berisiko yang dipulihkan/diobati 1b Proporsi WUS-PUS berisiko yang

hamil

1.2.1 Proporsi WUS catin berisiko yang terjaring

1.2.2 Proporsi WUS catin berisiko yang dipulihkan dan atau diobati 1.3.1 Proporsi WUS-PUS berisiko yang terjaring

1.3.2 Proporsi WUS-PUS berisiko yang dipulihkan dan diobati 2 Proporsi kegawatdaruratan bumil

dan bulin berisiko

2.1.1 Proporsi bumil berisiko yang mendapat ANC

2.1.2 Proporsi bumil berisiko yang membawa Buku KIA saat ANC 2.1.3 Proporsi bumil berisiko yang dirujuk saat kehamilan 2.1.4 Proporsi bumil berisiko yang memanfaatkan RTK menjelang

persalinan di RS PONEK 3 Proporsi keterlambatan penanganan

kegawatdaruratan bumil dan bulin normal

3.1.1 Proporsi rujukan kegawatdaruratan bumil dan bulin normal ke RS PONEK yang didampingi bidan

3.1.2 Proporsi bumil dan bulin normal yang mengalami

kegawatdaruratan dengan kondisi umum stabil saat tiba di RS PONEK

4 Proporsi keterlambatan penanganan kegawatdaruratan bufas berisiko

4.1.1 Proporsi bufas berisiko yang mendapat pendampingan oleh bidan

4.1.2 Proporsi bufas berisiko yang memanfaatkan RTK 4.1.3 Proporsi bufas berisiko yang yang dirujuk ke RS PONEK 5 Proporsi WUS-PUS yang dikelola

yang menjadi akseptor KB

5.1.1 Proprosi WUS-PUS yang menjadi akseptor KB selama proses penyembuhan/pemulihan

5.1.2 Proporsi bufas berisiko yang menjadi akseptor KB 5.1.3 Proporsi bumil dan bulin normal yang mengalami

kegawatdaruratan yang menjadi akseptor KB 6 Proporsi akseptor KB yang terpenuhi 6.1.1 Proporsi calon akseptor yang menerima KIE

26

haknya

6.1.2 Proporsi calon akseptor yang menerima konseling

6.1.3 Meningkatnya proporsi calon akseptor yang menerima Informed Choice

6.1.4 Proporsi calon akseptor yang menerima Informed Concent 6.1.5 Proporsi calon akseptor yang menerima screening

6.2.1 Proporsi akseptor MKJP yang menerima layanan H+1 6.2.2 Proporsi akseptor MKJP yang menerima layanan H>7 6.3.1 Proporsi mantan akseptor pasca pencabutan MKJP yang

menerima layanan H+1

6.3.2 Proporsi mantan akseptor pasca pencabutan MKJP yang menerima layanan H>7

6.4.1 Proporsi akseptor non MKJP yang menerima Informed Choice 6.4.2 Proporsi akseptor non MKJP yang menerima Informed Concent 6.4.3 Proporsi akseptor non MKJP yang menerima screening 6.4.4 Proporsi akseptor non MKJP yang ganti metode ke MKJP yang

menerima layanan H+1

6.4.5 Proporsi akseptor non MKJP yang ganti metode ke MKJP yang menerima layanan H>7

2. Strategi Operasional Pendukung 1: Menjamin ketersediaan sumberdaya untuk mendukung integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak. Strategi Operasional Pendukung 1 dijabarkan ke dalam program yaitu:

a) Program Peningkatan ketersediaan sumberdaya untuk mendukung integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak

 Indikator Outcome 7a: Proporsi WUS berisiko yang terkelola  Indikator Outcome 7b: Proporsi WUS-PUS berisiko yang terkelola

 Indikator Outcome 7c: Proporsi bumil dan bulin normal yang mengalami kegawatdaruratan yang terkelola

 Indikator Outcome 8a: Proporsi proses pelayanan integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak di desa yang berjalan

 Indikator Outcome 8b: Proporsi proses pelayanan integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak di Puskesmas PONED yang berjalan

27  Indikator Outcome 8c: Proporsi proses pelayanan integrasi kesehatan ibu - KB

berbasis hak di RS PONEK yang berjalan.

 Indikator Outcome 8d: Terintegrasi/tidaknya sistem informasi pendukung penggerakan, pengawasan, dan pengendalian integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak.

Masing-masing indicator outcome dijabarkan ke dalam sejumlah indicator output.

Tabel 2 Indikator untuk Strategi Operasional Pendukung 1

Indikator

No Outcome No Outcome

7a Proporsi WUS berisiko yang terkelola 7.1.1 Tersedia/tidaknya “pos komando” penggerak, pengawas, dan pengendali implementasi integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak 7.2.1 Proporsi temuan WUS DO berisiko yang terjaring dan dikawal

secara periodic

7.2.2 Proporsi temuan WUS anak jalanan berisiko yang terjaring dan dikawal secara periodic

7b Proporsi WUS-PUS berisiko yang terkelola

7.3.1 Proporsi temuan WUS catin berisiko yang terjaring dan dikawal secara periodic

7.3.2 Proporsi temuan WUS-PUS berisiko yang terjaring dan dikawal secara periodic

7.3.3 Proporsi temuan bumil berisiko yang terjaring dan dikawal secara periodic

7.3.4 Proporsi penanganan bulin berisiko yang dikawal secara ketat 7.3.5 Proporsi temuan bufas berisiko yang terjaring dan dikawal secara

periodic 7c Proporsi bumil dan bulin normal

yang mengalami kegawatdaruratan yang terkelola

7.4.1 Proporsi penanganan kegawatdaruratan bumil dan bulin normal yang dikawal secara ketat

8a Proporsi proses pelayanan integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak di desa yang berjalan

8.1.1 Merata/tidaknya distribusi bidan desa 8.2.1 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan minimal PLKB 8b Proporsi proses pelayanan integrasi

kesehatan ibu - KB berbasis hak di Puskesmas PONED yang berjalan

8.3.1 Tersedia/tidaknya fasilitas PONED sesuai standar

8.4.1 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan obat untuk implementasi integrasi kesehatan ibu – KB Berbasis Hak di Puskesmas PONED

8.4.2 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan reagen untuk implementasi integrasi kesehatan ibu – KB Berbasis Hak di Puskesmas PONED 8.4.3 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan alat kontrasepsi untuk

28

Puskesmas PONED

8.4.4 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan peralatan kesehatan untuk implementasi integrasi kesehatan ibu – KB Berbasis Hak di Puskesmas PONED

8c Proporsi proses pelayanan integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak di RS PONEK yang berjalan

8.5.1 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan dokter spesialis untuk pelayanan PONEK 24 jam setiap hari

8.5.2 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan dokter umum untuk pelayanan PONEK 24 jam setiap hari di RSUD Lawang

8.5.3 Tersedia/tidaknya fasilitas PONEK sesuai standar 8.5.4 Terpenuhi/tidaknya kebutuhan alat kontrasepsi untuk

implementasi integrasi kesehatan ibu – KB Berbasis Hak di RS PONEK

8d Terintegrasi/tidak-nya sistem informasi pendukung penggerakan, pengawasan, dan pengendalian integrasi kesehatan ibu - KB berbasis hak

8.6.1 Tersedianya system informasi pendukung yang sesuai dengan kapasitas dan teknologi informasi yang tersedia

3. Strategi Operasional Pendukung 2: Meningkatkan peranserta aktif masyarakat untuk mendukung integrasi kesehatan ibu –KB berbasis hak. Strategi Operasional Pendukung 2 dijabarkan ke dalam program yaitu:

a) Program Peningkatan peran serta masyarakat

 Indikator Outcome 9a: Proporsi kelompok masyarakat yang peduli terhadap keselamatan ibu berisiko

 Indikator Outcome 9b: Proporsi

Masing-masing indicator outcome dijabarkan ke dalam sejumlah indicator output.

Tabel 3 Indikator untuk Strategi Operasional Pendukung 2

Indikator

No Outcome No Output

9a Proporsi kelompok masyarakat yang peduli terhadap keselamatan ibu berisiko

9.1.1 Proporsi kelompok masyarakat peduli kesehatan ibu 9.1.2 Proporsi kader kesehatan yang mendampingi ibu berisiko 9b Proporsi akseptor MKJP

(Untuk Kab. Aceh Barat & Kab. Lahat: Proporsi PUS yang pertama kali ber-KB dengan kontrasepsi modern)

9.2.1 Jumlah penyuluhan tentang kontrasepsi modern jangka panjang oleh tokoh masyarakat, tokoh adat, tokoh agama dll yang dibiayai pemerintah

29 4. Strategi Operasional Pendukung 3: Memantapkan Kepemimpinan Dalam Mendukung Integrasi Kesehatan Ibu – Kb Berbasis Hak. Strategi Operasional Pendukung 3 dijabarkan ke dalam program yaitu:

a) Program Penyusunan kebijakan pendukung integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak

 Indikator Outcome 10: Proporsi kebijakan pendukung integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak yang telah dibuat

Indicator outcome 10 dijabarkan ke dalam 3 indicator output.

Tabel 4 Indikator untuk Strategi Operasional Pendukung 3

Indikator

No Outcome No Output

10 Proporsi kebijakan pendukung integrasi kesehatan ibu – KB berbasis hak yang telah dibuat

10.1.1 Proporsi kebijakan tata kelola integrasi kesehatan ibu – KB Berbasis Hak yang terbit

10.2.1 Proporsi kebijakan untuk memperkuat supply side yang terbit 10.3.1 Proporsi kebijakan untuk memperkuat demand side (sisi

permintaan) masyarakat terhadap pelayanan kesehatan ibu – KB berbasis hak

Dokumen terkait