DAFTAR LAMPIRAN
V. GAMBARAN UMUM
5.2. Karakteristik Responden Petani dan Penyuling
5.3.2. Risiko Harga Output
Risiko harga output diindikasikan dengan adanya fluktuasi harga output yang diterima petani sampel. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 28. Fluktuasi harga akarwangi mengindikasikan adanya harga tertinggi, harga terendah, dan harga normal yang pernah diterima petani akarwangi sampel selama mengusahakan dan menjual akarwangi.
Tabel 28. Produksi dan Peluang Harga Output Budidaya Akarwangi Pada Setiap Kondisi
Kondisi Peluang Harga (Rp)
Tertinggi 0,20 2.821
Normal 0,62 1.808
Terendah 0,18 511
Faktor penyebab munculnya risiko harga output budidaya pada kondisi harga output tertinggi disebabkan oleh tingginya tingkat permintaan namun
ketersediaan akarwangi rendah. Tingginya tingkat permintaan akarwangi oleh para penyulng sedangkan ketersediaan akarwangi di petani rendah menyebabkan harga output akarwangi menjadi lebih tinggi. Hal ini menyebabkan para penyuling untuk berkompetisi untuk menjamin ketersdiaan akarwangi agar kegiatan penyulingan terus berjalan
Selain itu, faktor faktor penyebab munculnya risiko harga output budidaya pada kondisi harga output terendah disebabkan oleh ketersediaaan akarwangi yang melimpah. Hal ini dikarenakan terjadinya over supply sebagai akibat musim panen yang serempak.
5.4. Risiko Penyulingan 5.4.1. Risiko Produksi
Kegiatan penyulingan akarwangi dihadapkan pada risiko baik risiko produksi maupun risiko harga output. Indikasi adanaya risiko produksi dalam penyulingan akarwangi yaitu ditunjukkan oleh adanya variasi atau fluktuasi produksi yang diperoleh penyuling sampel pada setiap kondisi. Hal tersebut dapat dilihat pada Tabel 29.
Tabel 29. Produksi dan Peluang Harga Output penyulingan Akarwangi Pada Setiap Kondisi
Kondisi Peluang Produksi (kg)
Tertinggi 0,11 5.739
Normal 0,72 4.993
Terendah 0,17 2.587
Faktor penyebab munculnya risiko produksi penyulingan pada kondisi produksi tertnggi disebabkan oleh tingginya ketersediaan akarwangi, kadar minyak yang tinggi. Risiko produksi mucul akibat adanya fluktuasi produksi pada kegiatan penyulingan. Faktor penyebab tersebut antara lain:
76
a. Ketersediaan akarwangi tinggi
Ketersediaan akarwangi yang tinggi dari petani akan menyebabkan jumlah produksi minyak akarwangi meningkat. Hal ini dikarenakan penyuling akan memaksimalkan ketel untuk menyuling akarwangi. Hal ini akan meningkatkan pendapatan mereka.
b. Kadar minyak yang tinggi
Akarwangi yang akan disuling dalam keadaan kering akan menghasilkan akar yang memiliki kadar minyak tinggi. Hal ini dikarenakan kadar minyak akarwangi lebih tinggi bila dibandingkan kadar air yang terkandung didalamnya.
Faktor penyebab munculnya risiko produksi penyulingan pada kondisi produksi terendah disebabkan oleh rendahnya ketersediaan akarwangi dan kadar minyak yang rendah. Risiko produksi mucul akibat adanya fluktuasi produksi pada kegiatan penyulingan. Faktor-faktor penyebab tersebut antara lain:
a. Ketersediaan akarwangi rendah
Ketersediaan akarwangi yang rendah dari petani akan menyebabkan jumlah produksi minyak akarwangi menurun. Hal ini dikarenakan penyuling tidak bisa memaksimalkan ketel untuk menyuling akarwangi. Hal ini akan menurunkan pendapatan mereka.
b. Kadar minyak yang rendah
Akarwangi yang akan disuling dalam keadaan basah akan menghasilkan akar yang memiliki kadar minyak rendah Hal ini dikarenakan kadar minyak akarwangi lebih kecil bila dibandingkan kadar air yang terkandung didalamnya.
5.4.2. Risiko Harga Output
Risiko harga output diindikasikan dengan adanya fluktuasi harga output yang diterima penyuling sampel. Hal ini dapat dilihat pada Tabel 30. Fluktuasi harga minyak akarwangi mengindikasikan adanya harga tertinggi, harga terendah, dan harga normal yang pernah diterima penyuling akarwangi sampel selama mengusahakan dan menjual minyak akarwangi.
Tabel 30. Produksi dan Peluang Harga Output Penyulingan Minyak Akarwangi Pada Setiap Kondisi
Kondisi Peluang Harga (Rp)
Tertinggi 0,11 582.000
Normal 0,72 511.692
Terendah 0,17 466.923
Faktor penyebab munculnya risiko harga output pada kondisi harga output tertnggi yaitu mekanisme pasar yang lebih panjang serta tingginya tingkat permintaan namun rendahnya ketersediaan minyak akarwangi. Risiko harga outpuit terjadi akibat adanya fluktuasi harga output yang diterima penyuling.
Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Mekanisme Pasar yang lebih panjang
Harga minyak akarwangi ditentukan oleh mekanisme pasar yang terjadi dalam kegiatan penyulingan akarwangi. Berdasarkan analisis yang dilakukan, bahwa harga minyak akarwangi yang dijual oleh petani langsung ke pedagang pengumpul relatif lebih murah yakni dengan harga Rp. 511.692/kg, sedangkan jika penyuling langsung menjual ke pedagang besar (eksportir) harga yang diterima relatif lebih mahal yakni pada kisaran Rp. 541.692/kg, tapi ketika penyuling menjual akarwanginya langsung ke eksportir, penyuling tersebut akan
78
mengeluarkan biaya transportasi tambahan, karena sebagian besar eksportir ada di luar Kota Garut, yakni Jakarta dan Medan.
b. Tingginya tingkat permintaan namun ketersediaan minyak akarwangi rendah Produk akarwangi yakni minyak akarwangi merupakan produk ekspor yang sebagian besar hasil produksinya ditujukan untuk kegiatan ekspor. Sebagian besar minyak akarwangi yang dihasilkan penyuling dijual ke pengumpul tingkat kabupaten. Permintaan minyak akarwangi dari pengumpul tingkat kabupaten biasanya disesuaikan dengan permintaan eksportir. Sehingga bila permintaan minyak akarwangi meningkat namun ketersediaan minyak akarwangi di tingkat penyuling sedikit maka akan meningkatkan harga jual minyak akarwangi. Bila permintaan minyak akarwangi meningkat namun ketersediaan minyak akarwangi di tingkat penyuling rendah maka akan meningkatkan harga jual minyak akarwangi.
Faktor penyebab munculnya risiko harga output pada kondisi harga output terendah yaitu mekanisme pasar yang lebih pendek serta rendahnya tingkat permintaan namun tingginya ketersediaan minyak akarwangi. Risiko harga output terjadi akibat adanya fluktuasi harga output yang ditrima penyuling. Faktor-faktor tersebut antara lain:
a. Mekanisme Pasar yang lebih pendek
Perbedaan nilai jual antara para pedagang pengumpul dan eksportir yang juga ditentukan oleh panjang tidaknya rantai pemasaran, ternyata juga memberikan pengaruh pada pembentukan risiko yang diterima atau ditanggung oleh penyuling. Namun sebagian besar penyuling, juga tidak mau mengambil risiko yang lebih besar untuk menanggung biaya transportasi, mereka lebih
banyak menjual hasil minyak akarwanginya kepada pedagang pengumpul, hal ini dapat dimaklumi karena sistem ini telah berjalan bertahun-tahun atas dasar saling percaya dalam penentuan harga oleh pedagang pengumpul.
b. Rendahnya tingkat permintaan namun ketersediaan minyak akarwangi tinggi Bila permintaan minyak akarwangi rendah namun ketersediaan minyak akarwangi di tingkat penyuling tinggi maka akan menurunkan harga jual minyak akarwangi. Hal ini menyebabkan rendahnya pendapatan yang diterima penyuling.