oleh nasabah, mendanai pertumbuhan aset dan memenuhi kewajiban sesuai kontrak melalui akses tak terbatas untuk pendanaan pada tingkat suku bunga pasar yang wajar. Risiko likuiditas juga timbul dalam situasi dimana Bank tidak dapat mencairkan atau menjual asetnya karena pasar tidak bisa memperdagangkan aset tersebut.
Kunci pengukuran yang digunakan oleh Bank untuk mengelola risiko likuiditas adalah dengan menggunakan rasio-rasio seperti secondary reserve ratio, rasio-rasio aset dan kewajiban likuid, rasio-rasio limit 25 nasabah terbesar, serta dengan memantau limit dari posisi bersih arus kas harian dan arus kas keluar kumulatif bersih dalam jangka waktu 1 hari dan 1 bulan ke depan dan aktivitas pendanaan antar bank.
Di sisi aset, kebijakan untuk pembelian instrumen-instrumen keuangan untuk posisi banking book telah ditetapkan, yang juga meliputi kriteria-kriteria atau jenis aset yang bisa dibeli. Sementara itu di sisi kewajiban analisa jenis-jenis kewajiban dan jangka waktunya selalu dilakukan secara konsisten agar likuiditas bisa terjaga sepanjang waktu. Bank juga mempunyai kemungkinan untuk mengalami kesulitan likuiditas yang dipicu oleh menurunnya credit rating Bank sehingga mengakibatkan terjadi penarikan-penarikan dana yang mendadak, atau terjadinya suatu kondisi dimana counterparty tidak mau melakukan transaksi atau meminjamkan dana ke Bank. Atas kemungkinan-kemungkinan tersebut maka pengelolaan risiko harus disentralisasi, dimana yang terlibat bukan hanya dari
perspektif risiko pasar tetapi juga komponen-komponen lainnya, seperti dari risiko kredit dan operasional. Selanjutnya produk-produk/transaksi-transaksi/ aktifitas-aktifitas baru yang mengakibatkan adanya penambahan aset dan kewajiban, selalu melalui proses review dan persetujuan yang seksama sebelum produk/transaksi/aktifitas baru tersebut dijalankan. Disamping itu pengukuran rasio-rasio likuiditas dan analisa gap, telah dilaksanakan secara konsisten, kebijakan liquidity contingency plan telah ditetapkan serta limit-limit telah ditentukan yang semuanya bertujuan untuk mengontrol risiko likuiditas.
RISIKO LIKUIDITAS
Sehingga jika terjadi perubahan suku bunga yang mungkin dapat mempengaruhi kinerja Bank, maka Bank dapat segera merestruktur aset dan kewajiban yang dimiliki, baik tanggal repricing date-nya ataupun jenis suku bunganya (tetap atau variable). Limit risiko repricing gap by tenor telah ditetapkan untuk mengelola risiko suku bunga di posisi banking book dengan hati-hati.
RISIKO PASAR (Lanjutan)
Limit risiko likuiditas seperti, Interbank taking limit, FX swap liquidity limit, secondary reserve limit, limit aset dan kewajiban likuid, limit 25 deposan terbesar, dan dealers transaction limit telah ditetapkan untuk mengelola risiko likuiditas dengan hati-hati.
Disamping itu sebagai tambahan, beberapa limit yang ditetapkan BI yang berkaitan dengan pengelolaan risiko likuiditas seperti: rasio limit 25 deposan terbesar, rasio limit aset likuid/kewajiban likuid, rasio limit 1-month maturity mismatch , juga terus dipantau agar pengelolaan risiko likuiditas dilaksanakan secara hati hati.
Risiko operasional adalah potensi timbulnya kerugian sebagai akibat dari kejadian-kejadian yang melibatkan manusia, proses, sistem dan kejadian-kejadian diluar Bank.
Dalam rangka menjaga pengelolaan risiko Bank, risk-taking-unit bertanggungjawab atas seluruh risiko yang terjadi di unitnya masing-masing termasuk risiko operasional. Cara pengendalian risiko-risiko tersebut telah diatur melalui kebijakan bank secara menyeluruh, kebijakan dan prosedur pada masing-masing unit, serta metode-metode pengendalian dan pemantauan yang ada.
1.
2.
3.
Loss Event Database, merupakan metode yang digunakan untuk mencatat setiap peristiwa risiko operasional yang menimbulkan dampak finansial secara langsung maupun tidak langsung. Setiap kali unit pemilik risiko mengalami kejadian risiko operasional, maka unit tersebut harus melaporkan dengan menggunakan formulir Laporan Kejadian Risiko Sekitar Kita (LKS). Dari formulir LKS ini akan diketahui tipe risiko yang terjadi, penyebab kejadian tersebut, lokasi (lini bisnis) tempat terjadinya risiko serta besarnya kerugian yang terjadi atau
kewajiban hukum yang terjadi serta recoverynya (bila ada). Sarana ini sangat penting untuk memonitor profil risiko operasional secara teratur, serta data yang diperoleh merupakan input data utama bila bank akan mengaplikasikan pendekatan maju (advance) dalam pengukuran kecukupan modal minimumnya.
Hasil dari penggunaan metode tersebut diatas telah disampaikan kepada departemen dan divisi terkait, senior manajemen, manajemen eksekutif dan Direksi melalui “Operational Risk Management Highlight Report”, me lalui “Risk Management Committee (RMC) Meeting dan “Risk Oversight Committee” (ROC) untuk memantau dan mengantisipasi risiko operasional yang mungkin timbul.
Key Risk Indicators , yang merupakan serangkaian parameter pengukuran kuantitatif risiko operasional yang mengindikasikan tingkat risiko pada suatu fungsi/proses/bisnis dengan tujuan agar potensi risiko manajemen dapat teridentifikasi melalui analisa dari trend statistic individual , juga melalui pengendalian lingkungan yang tercermin dari data-data. Diharapkan penyimpangan-penyimpangan dapat teridentifikasi secara dini, serta dapat diperbaiki sebelum permasalahan tersebut berkembang menjadi lebih serius.
Manajemen risiko operasional, bekerjasama dengan risk-taking-unit, telah mengembangkan tiga metode utama untuk membantu mengelola, memantau dan mengikhtisarkan risiko operasional, yaitu:
Daftar Penilaian Kontrol Risiko Operasional, yaitu metode yang digunakan oleh unit-unit kerja untuk mengidentifikasi, mengukur dan mengalihkan sumber-sumber risiko operasional secara mandiri. Metode ini juga digunakan sebagai sarana untuk memperbaiki pemahaman kepada personil kantor cabang akan pentingnya manajemen risiko serta menegaskan bahwa aktivitas mereka akan selalu dipantau oleh Divisi Operational Risk Management .
efek tersedia untuk di jual penggunaannya penggunaanya
Saldo pada 31 Desember 2010 548,608 106,253 12,048 (9,343) 15,506 27,696 700,768
Agio Saham 23 - - - - -
-Modal Disetor 24 - - - - -
-DIviden tunai 23, 31 - - - - -
-Pembentukan cadangan umum 23 - - - - -
-Laba Bersih periode berjalan 30 - - - - 2,342 2,342 Pembalikan keuntungan (kerugian) belum di realisasi
kenaikan nilai wajar efek tersedia untuk di jual 2h - - 9,343 - - 9,343 Keuntungan (kerugian) belum di realisasi atas perubahan
nilai wajar efek tersedia untuk di jual-bersih 2h - - (20,100) - - (20,100) Saldo pada 31 Maret 2011 548,608 106,253 12,048 (20,100) 15,506 30,038 692,353 Saldo pada 31 Desember 2011 548,608 113,255 12,048 4,928 17,940 (73,685) 623,094 Agio Saham 23 - - - - -
-Modal Disetor 24 - - - - -
-Dividen tunai 23, 31 - - - -
-Pembentukan cadangan umum 23 - - -
-Modal lainnya 25 - 1,966 - - - - 1,966 Laba Bersih periode berjalan 30 - - - - 5,979 5,979 Pembalikan keuntungan (kerugian) belum di realisasi (4,928) (4,928) kenaikan nilai wajar efek tersedia untuk di jual 2h - - - - -
-Keuntungan (kerugian) belum di realisasi atas perubahan (9,565) (9,565) nilai wajar efek tersedia untuk di jual-bersih 2h - - - - - -Saldo pada 31 Maret 2012 548,608 115,221 12,048 (9,565) 17,940 (67,706) 616,546
Lihat catatan atas laporan keuangan yang merupakan bagian tak terpisahkan dari laporan keuangan secara keseluruhan