• Tidak ada hasil yang ditemukan

RISIKO OPERASIONAL (lanjutan) OPERATIONAL RISK (continued)

2006 Nilai tercatat/

48. RISIKO OPERASIONAL (lanjutan) OPERATIONAL RISK (continued)

Dalam rangka memenuhi peraturan BI No.5/8/PBI/2003 tentang Penerapan Manajemen Risiko bagi Bank Umum, Bank telah mengembangkan metodologi Pengelolaan Risiko Operasional yang handal dan mencakup kerangka kerja Pengelolaan Risiko Operasional, fungsi-fungsi pengawasan oleh manajemen Bank dan seluruh aspek dari siklus pengelolaan risiko (Identifikasi, Pengukuran, Pengawasan dan Pengelolaan).

In reference to BI Regulation No.5/8/PBI/2003 on the Application of Risk Management for Commercial Bank, Bank has developed robust Operational Risk Management methodologies which cover the Operational Risk Management framework, Management overseeing function and all aspects of the risk management cycle (Identification, Measurement, Controlling and Managing).

Bank juga terlibat secara aktif sebagai anggota dari Tim kerja Basel II guna memastikan kepatuhan terhadap jadwal implementasi yang telah dipersyaratkan BI, baik untuk pendekatan Basic Indicator, Standardised

maupun Advance Measurement Approach.

The Bank is also actively involved as a member of the Indonesian Working Group on Basel II compliance to ensure the concurrence to BI’s implementation timelines for the Basic Indicator, Standardised as well as Advance Measurement Approach.

Beberapa aktivitas utama yang dijalankan secara berkesinambungan antara lain:

The main activities which are being consistently conducted are:

1. Identifikasi/penilaian dan mitigasi risiko yang mungkin terjadi atas setiap produk dan aktifitas baru maupun atas inisiatif perubahan produk dan aktifitas yang sudah berjalan, yang diikuti dengan pendefinisian mekanisme kontrolnya;

1. Risk identification/assessment and the related mitigation are continuously performed over all new products and activities as well as over changes/modifications to the existing product and activities; related control mechanisms were then developed based on the results;

2. Aktivitas Risk Control Self Assessment (RCSA) secara triwulanan yang dilakukan oleh semua unit kerja untuk keperluan pemetaan pemaparan risiko, mengukur kepatuhan/kesiapan dan kecukupan mekanisme kontrol pada proses-proses utama yang berisiko. Tindakan koreksi segera dilakukan untuk memperbaiki proses dimana ditemukan kelemahan kontrol;

2. Quarterly Risk Control Self Assessment (RCSA) exercises which are conducted by all working units to map the risk exposures, measure the level of control concurrence/readiness and sufficiencies over risky key processes. Related corrective actions were immediately taken to rectify the processes which contain control weakness;

3. Pencatatan dan analisa kejadian-kejadian yang terkait dengan risiko operasional di seluruh Unit Kerja Bank serta penyebab maupun nilai kerugian yang ditimbulkannya terus dilakukan secara konsisten dalam suatu database.

3. Every operational risk and loss event occurred in Bank’s Working Units are being consistently recorded into a risk/loss event database and analysed based on its root causes and the significance of losses impacted.

4. Program kerja sistem Kontrol Internal dan Audit Internal yang kuat sebagai bagian dari Kerangka Kerja Pengelolaan Risiko Operasional yang memperkuat identifikasi atas kelemahan yang ada.

4. Strong Internal control and Internal Audit programs that identify any possible weaknesses as part of the Operational Risk Management framework.

Pengelolaan risiko operasional Bank dilengkapi pula dengan infrastruktur Sistem Pengelolaan Risiko Operasional yang ter-integrasi dan berjalan secara

online-real time, serta memungkinkan seluruh Unit Kerja untuk turut terlibat secara aktif dalam mendukung inisiatif-inisiatif pengelolaan risiko operasional.

The operational risk management in the Bank is also equipped with an integrated Operational Risk Management System, an online-real time infrastructure to enable all Working Units to be actively involved in supporting the operational risk management initiatives.

Pada tahun 2005, terdapat pelampauan BMPK kepada pihak terkait oleh Bank karena penerapan peraturan Bank Indonesia No. 7/3/PBI/2005 tentang BMPK yang berlaku efektif sejak 20 Januari 2005. Pada tanggal 20 April 2005, Bank telah menyampaikan rencana tindak lanjut untuk menyelesaikan pelampauan tersebut.

In year 2005, the Bank exceeded its LLL to related parties upon implementation of Bank Indonesia’s regulation No. 7/3/PBI/2005 regarding LLL which become effective as of 20 January 2005. On 20 April 2005, the Bank has submitted an action to resolve the excess.

Peraturan tersebut menetapkan batas maksimum penyediaan dana kepada pihak terkait tidak melebihi 10% dari modal Bank.

This regulation requires the maximum lending limit to related parties do not exceed 10% of the Bank’s capital.

Pada tanggal 31 Desember 2005, terdapat pelampauan BMPK sebesar 2,46% kepada pihak terkait oleh Bank.

As at 31 December 2005, the Bank exceeded its LLL of 2.46% to related parties.

Sesuai dengan ketentuan BI, batas waktu penyelesaian pelampauan ini adalah 18 bulan sejak tanggal penyampaian laporan rencana tindak lanjut. Pelaksanaan penyelesaian pelampauan tersebut secara bertahap sudah dilakukan dan pelampauan tersebut telah diselesaikan semuanya di September 2006. Pada tanggal 31 Desember 2006, tidak terdapat pelampauan BMPK kepada pihak terkait maupun pihak tidak terkait.

According to the BI regulation, the deadline to resolve this is 18 months since the action plan is submitted. The implementation of the action has been done partially and the excess of LLL have been fully resolved in September 2006. As at 31 December 2006, there was no excess of LLL to both related parties and non-related parties.

Pada tanggal 31 Maret 2007, terdapat pelampauan BMPK sebesar 0.16% kepada pihak terkait yang disebabkan oleh penurunan modal yang telah diselesaikan semuanya di bulan Mei 2007 dan pada tanggal 31 Desember 2007, tidak terdapat pelampauan BMPK kepada pihak terkait maupun pihak tidak terkait.

As at 31 March 2007, the Bank exceeded its LLL by 0.16% to related parties due to decrease in capital which was fully resolved in May 2007, and at 31 December 2007, there was no excess of LLL to both related parties and non-related parties.

Mulai tanggal 31 Desember 2007, Bank telah menerapkan peraturan BI No. 8/6/PBI/2006 tentang penerapan manajemen risiko secara konsolidasi bagi bank yang melakukan pengendalian terhadap perusahaan anak dalam perhitungan BMPK Bank.

Starting 31 December 2007, the Bank has implemented BI regulation No. 8/6/PBI/2006 regarding the implementation of consolidated risk management to the subsidiaries which are controlled by the Bank in the Bank’s LLL calculation.

50. AKTIVITAS FIDUCIARY 50. FIDUCIARY ACTIVITIES

Bank menyediakan jasa kustodian, agen sekuritas,

trustee, pengelolaan investasi discretionary dan reksadana kepada pihak ketiga. Aktiva yang terdapat dalam aktivitas fiduciary tidak termasuk dalam laporan keuangan konsolidasian ini. Jumlah komisi yang diterima dari pemberian jasa ini untuk tahun yang berakhir 31 Desember 2007 adalah Rp 10.823 (2006: Rp 7.184; 2005: Rp 5.246).

The Bank provides custodial, securities agency, trustee, investment management discretionary and mutual fund services to third parties. Assets that are held in a fiduciary activities are not included in these consolidated financial statements. Total fees received from these services for the year ended 31 December 2007 was Rp 10,823 (2006: Rp 7,184; 2005: Rp 5,246).

51. RASIO KEWAJIBAN PENYEDIAAN MODAL