• Tidak ada hasil yang ditemukan

BABI 1 PEN DAHULUAN

1.4 Overmacht, Risiko dan Somasi

1.4.2 Risiko

Kata “risiko” dalam Kamus Besar Bahasa Indonesia (1999 : 844) sebagai akibat kurang menyenangkan (merugikan, membahayakan) dari suatu perbuatan atau tindakan. Dalam hukum perikatan, risiko mempunyai pengertian yang khusus. Risiko adalah suatu ajaran tentang siapakah yang harus menanggung ganti rugi apabila debitur tidak memenuhi prestasi dalam keadaan memaksa (Badrulzaman, 2001 : 30).

Sedangkan Subekti (1984 : 24), mengatakan risiko adalah kewajiban yang memikul kerugian yang disebabkan oleh suatu kejadian (peristiwa) di luar kesalahan salah satu pihak. Misalnya barang yang diperjualbelikan musnah di perjalanan karena kapal laut yang mengangkutnya karam di tengah laut akibat serangan badai atau rumah yang sedang disewakan terbakar habis karena korstluting aliran listrik.

Siapakah menurut hukum yang harus memikul kerugian tersebut? Inilah persoalan yang istilah hukum dinamakan persoalan “risiko”.

Pihak yang menderita karena barang yang menjadi obyek perjanjian ditimpa oleh kejadian yang tidak disengaja dan diwajibkan memikul kerugian itu tanpa adanya keharusan bagi pihak lawannya mengganti kerugian itu, dinamakan pihak yang memikul risiko atas barang tersebut (Subekti, 1984 :24).

Dengan demikian, persoalan risiko berpokok pangkal pada terjadinya suatu peristiwa di luar kesalahan salah satu pihak, yang dikenal dengan sebutan “keadaan memaksa” (overmacht/force majeur).

Kitab Undang-undang Hukum Perdata mengatur persoalan risiko menyebar dalam berbagai ketentuannya.

b. Risiko dalam Perjanjian Sepihak.

Perjanjian sepihak artinya suatu perjanjian yang prestasinya hanya ada pada salah satu pihak saja. Bagaimanakah ketentuan risiko dalam perjanjian sepihak? Pasal 1237 KUHPerd mengatakan bahwa

“Dalam hal adanya perikatan untuk memberikan suatu kebendaan tertentu, kebendaan itu semenjak perikatan dilakukan adalah tanggungan si berpiutang, jika si berutang lalai akan mnyerahkannya, maka semenjak kelalaian kebendaan adalah atas tanggungannya”. Ketentuan pasal tersebut di atas menetapkan risiko (ganti rugi) kepada pihak yang menyerahkan kebendaan (kreditur atau debitur).

Pasal 1444 KUHPerd menyebutkan bahwa apabila barang dapat diperdagangkan atau hilang, sedemikian hingga sama sekali tidak

diketahui, apakah barang itu masih ada, hapuslah perikatannya asal barang itu musnah atau hilang di luar salahnya si berutang dan sebelum ia lalai menyerahkannya.

Misalnya suatu perjanjian menghadiahkan suatu benda, debitur tidak dapat menyerahkan benda itu karena benda itu hilang atau musnah, maka kreditur tidak dapat menuntut ganti rugi kepada debitur.

Ini berarti risiko ada pada kreditur. Asas ini menurut Badrulzaman, (2001 :30) dapat juga berlaku bagi perjanjian untuk berbuat sesuatu.

c. Risiko dalam Perjanjian Timbal Balik.

Dalam KUHPerd tidak ada diatur tentang risiko dalam perjanjian timbal balik. Menurut Badrulzaman (2001 : 30), para ahli mencari solusi penyelesaian melalui asas “kepatutan” (biblijkheid).

Menurut kepatutan dalam perjanjian timbal balik, risiko ditanggung oleh pihak yang tidak melakukan prestasi.

Hal tersebut di atas dapat ditemukan dalam ketentuan Pasal 1545 KUHPerd: “ Jika suatu barang tertentu yang telah dijanjikan untuk ditukar, musnah di luar salah pemiliknya, maka suatu persetujuan dianggap sebagai gugur, dan siapa yang dari pihaknya telah memenuhi persetujuan, dapat menuntut kembali barang yang ia telah berikan dalam tukar menukar”.

Pasal 1553 KUHPerd menyebutkan juga bahwa selama waktu sewa, barang yang disewakan sama sekali musnah, karena suatu kejadian yang tidak disengaja, maka persetujuan gugur demi hukum.

Kedua ketentuan pasal tersebut di atas, menunjukkan bahwa di dalam perjanjian timbal balik, bila terjadi overmacht atau force majeur, yang mengakibatkan pihak tidak memenuhi prestasi, maka risiko

menjadi tanggungan dari pemilik barang. Menurut hemat penulis, ketentuan risiko yang demikian adalah pantas dan adil untuk perjanjian yang bertimbal balik, dimana pihak lain dibebaskan dari beban kewajiban menyerahkan barang.

Uraian di atas dapat lebih jelas dipahami melalui ilustrasi sebagai berikut, bahwa bila A mengadakan perjanjian tukar menukar dengan B, dimana disepakati A menyerahkan sepeda motor, sedangkan B TV- nya. Apabila kemudian A tidak dapat menyerahkan sepeda motornya, karena sebelum menyerahkan sepeda motornya hilang dicuri orang, maka B tidak harus menyerahkan TV- nya kepada A. Ini artinya risiko dibebankan pada pundak pemilik barang dan hal ini seolah-olah tidak pernah terjadi perjanjian tukar menukar antara A dan B.

d. Ketentuan Risiko yang Berlawanan.

Ketentuan risiko yang berlawanan dengan kedua pasal tersebut di atas yaitu diatur dalam Pasal 1460 KUHPerd yang menyatakan bahwa “Jika kebendaan itu berupa suatu barang yang sudah ditentukan, maka barang ini sejak saat pembelian, adalah atas tanggungan si pembeli, meskipun penyerahannya belum dilakukan, dan sipenjual berhak menuntut harganya”.

Seorang yang baru menyetujui harga barang, belum merupakan pemilik (karena belum dilakukan penyerahan) telah dibebani memikul risiko kepada pemnbeli. Asas yang terkandung dalam pasal jual beli ini berlawanan dengan asas yang terkandung di dalam perjanjian tukar menukar dan sewa menyewa (yang telah disebutkan di muka), yang

sama-sama dalam perjanjian timbal balik.

Perbedaan ini disebabkan dari sejarah pembentukan Pasal 1460 KUHPerd (BW) yang berasal dari Code Civil yang di dalam sistemnya tidak mengenal lembaga penyerahan terjadinya kepemilikan, seperti yang terjadi dalam KUHPerd (BW). Berdasarkan itu para ahli sepakat menggunakan ketentuan Pasal 1545 KUHPerd sebagai ketentuan pokok, dan ketentuan Pasal 1460 KUHPerd sebagai ketentuan yang mati (Badrulzaman, 2001 :32).

Menurut penjelasan Subekti (1984 : 26), mengenai risiko yang diatur dalam Pasal 1460 KUHPerd yang membebankan risiko di pundak pembeli, walau barang yang dibeli belum dilever, ada kaitannya dengan sejarah pembentukan pasal itu, yaitu dengan mengutip sistem hukum code civil Perancis, yang tidak mengenal kepemilikan melalui penyerahan (levering), melainkan terjadi pada saat terjadinya konsensus (penutupan perjanjian itu). Dalam konteks sistem hukum Code Civil Perancis, dengan ditutup perjanjian itu, wajar dan adil risiko dibebankan pada pundaknya si pembeli, karena kepemilikan terjadi saat kesepakatan itu.

Dengan menyadari keganjilan itu, yurisprudens i Nederland telah menafsirkan ketentuan Pasal 1460 BW secara sempit, maksudnya pada perkataan “barang tertentu”. Dan ini harus diartikan sebagai barang yang dipilih dan ditunjuk oleh pembeli. Dengan pengertian tidak lagi dapat ditukar dengan barang yang lain. Dengan penafsiran secara sempit itu keganjilan sudah agak berkurang. Karena si pembeli yang sudah menunjuk sendiri barang yang dibelinya,

dapat dianggap seolah-olah menitipkan barangnya sampai diantar ke rumahnya (dalam hal diperjanjikan demikian).

Selain itu, berlakunya Pasal 1460 BW dibatasi lagi, yaitu hanya dipakai jika terjadi dalam keadaan memaksa mutlak (obsolute overmacht), dalam arti bawa barang yang dibeli, tetapi belum diserahkan musnah sama sekali. Kalau terjadi dalam keadaan memaksa relatif (relatieve overmacht). Misalnya tiba-tiba pemerintah mengeluarkan peraturan larangan mengekspor barang, sedangkan barang yang dibeli terkena larangan itu, sehingga tidak bisa dikirim oleh penjual kepada pembeli, maka dirasa ganjil/tidak adil bila pembeli tetap membayar harga barang yang tidak diterimanya itu.

Sehubungan dengan itu, MA-RI dengan Surat Edarannya No. 3 Tahun 1963 telah menyatakan beberapa pasal (termasuk 1460) KUPerd tidak berlaku lagi. Anggapan Subekti (1984 : 27), SEMA RI itu merupakan suatu anjuran kepada semua Hakim atau Pengadilan untuk membuat yurisprudensi yang menyatakan ketentuan Pasal 1460 KUHPerd sebagai pasal yang mati dan karena itu tidak boleh berlaku lagi.

Dokumen terkait