PEDOMAN PENERAPAN MANAJEMEN RISIKO UNTUK MASING-MASING RISIKO II. I Risiko Strategi
II.IV Risiko Pasar 1. Definisi
1. Risiko pasar adalah Risiko pada posisi aset, liabilitas, ekuitas, dan rekening administratif termasuk transaksi derivatif akibat perubahan secara keseluruhan dari kondisi pasar.
2. Risiko Pasar antara lain meliputi Risiko suku bunga, Risiko nilai tukar, dan Risiko ekuitas.
3. Penerapan Manajemen Risiko untuk Risiko ekuitas diterapkan oleh Perseroan yang melakukan konsolidasi dengan Perseroan anak.
2. Tujuan
Tujuan utama Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar adalah untuk meminimalkan kemungkinan dampak negatif akibat perubahan kondisi pasar terhadap aset dan permodalan Perseroan.
3. Penerapan Manajemen Risiko
1. Pengawasan Aktif Direksi dan Dewan Komisaris
a) Kewenangan dan Tanggung Jawab Direksi, Dewan Komisaris
1. Direksi dan Dewan Komisaris harus memastikan bahwa Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar dilakukan secara efektif dan terintegrasi dengan
Manajemen Risiko untuk lainnya yang dapat berdampak pada profil Risiko Perseroan secara keseluruhan.
2. Direksi harus memastikan kejelasan wewenang dan tanggung jawab pengelolaan Risiko Pasar, kecukupan sistem untuk mengukur Risiko Pasar, struktur limit yang memadai untuk pengambilan Risiko, pengendalian internal yang efektif, dan sistem pelaporan yang komprehensif, berkala, dan tepat waktu;
b) Sumber Daya Manusia (SDM)
Kecukupan SDM untuk Risiko Pasar mengacu pada pedoman umum organisasi manajemen risiko Perseroan.
c) Organisasi Manajemen Risiko bagi Risiko Pasar
Kecukupan organisasi Manajemen Risiko bagi Risiko Pasar mengacu pada pedoman umum organisasi manajemen risiko Perseroan
2. Kecukupan Kebijakan dan Prosedur Manajemen Risiko serta Penetapan Limit
a) Strategi Manajemen Risiko
Dalam menetapkan strategi Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar juga harus mempertimbangkan strategi trading Perseroan, posisi pasar Perseroan, komposisi instrumen atau kegiatan usaha Perseroan, dan kategori debitur
b) Tingkat Risiko yang akan diambil (Risk Appetite) dan Toleransi Risiko
Penetapan tingkat Risiko yang akan diambil dan toleransi Risiko untuk Risiko Pasar mengacu pada cakupan penerapan secara umum.
c) Kebijakan dan Prosedur
1. Perseroan harus memiliki kebijakan kebijakan dan proses penetapan selisih antara suku bunga referensi dan suku bunga pasar dalam suatu transaksi tertentu dengan mempertimbangkan kondisi keuangan secara keseluruhan dan prinsip kehati-hatian.
2. Perseroan harus memiliki kebijakan dalam rangka menghadapi perubahan harga pasar atas aset yang dimiliki oleh Perseroan. Kebijakan tersebut harus mempertimbangkan posisi aset dan liabilitas Perseroan baik secara jangka pendek, maupun jangka panjang.
3. Perseroan harus memiliki prosedur penilaian investasi yang memadai dalam rangka menghadapi perubahan kondisi pasar.
d) Penetapan Limit
1. Perseroan harus memastikan konsistensi penetapan limit bagi berbagai jenis instrumen yang memiliki eksposur Risiko Pasar.
2. Perseroan dapat menetapkan limit berdasarkan pengelompokkan jenis instrumen yang memiliki karakteristik yang sama.
3. Kecukupan Proses Identifikasi, Pengukuran, Pengendalian, dan Pemantauan Risiko, serta Sistem Informasi Manajemen Risiko Bagi Risiko Pasar
a) Identifikasi Risiko Pasar
Perseroan harus memiliki proses identifikasi Risiko yang disesuaikan dengan Risiko Pasar yang melekat pada aktivitas bisnis Perseroan yang meliputi Risiko suku bunga, nilai tukar, dan ekuitas.
b) Pengukuran Risiko Pasar
1. Dalam mengukur Risiko Pasar, antara lain dapat menggunakan indikator/parameter berupa:
a) Strategi dan kebijakan bisnis terkait dengan Risiko Pasar.
b) Volume dan komposisi portofolio aset yang memiliki eksposur Risiko Pasar; dan
c) Volume dan komposisi portofolio liabilitas yang terekspos Risiko Pasar.
2. Perseroan harus memiliki sistem atau model pengukuran Risiko Pasar untuk mengukur posisi dan sensitivitas yang terkait Risiko Pasar baik pada kondisi normal maupun kondisi stress.
3. Perseroan harus melakukan pengukuran Risiko Pasar secara kuantitatif.
Beberapa contoh metode pengukuran yang dapat dilakukan antara lain sensitivity analysis, earnings at risk, value at risk, dan economic value of equity;
4. Sistem pengukuran Risiko Pasar paling sedikit mempertimbangkan:
a) Menyediakan informasi mengenai posisi outstanding dan potensi keuntungan atau kerugian secara rutin, termasuk informasi mengenai posisi setiap nasabah;
b) Mencakup seluruh eksposur Risiko Pasar baik saat ini maupun potensi pada masa depan, dan mampu melakukan marked to market;
c) Dapat mengakomodasi peningkatan volume eksposur, perubahan teknik penilaian nilai wajar, perubahan metodologi, dan kegiatan usaha baru;
d) Memperhitungkan eksposur Risiko Pasar yang dikaitkan dengan opsi, baik opsi yang eksplisit maupun opsi yang melekat;
e) Memiliki asumsi dan parameter yang terdokumentasi dan dievaluasi secara berkala;
f) Didukung oleh sistem pengumpulan data yang memadai;
g) Dilengkapi dengan analisis skenario dan stress testing; dan
h) Terintegrasi dengan proses Manajemen Risiko secara rutin baik dari aspek pengambilan keputusan, struktur governance maupun proses alokasi modal internal.
5. Perseroan harus dapat mengukur potensi keuntungan atau kerugian secara berkala atas aktivitas penyaluran dana yang memiliki eksposur Risiko Pasar.
6. Perseroan harus mendokumentasikan setiap asumsi, data, dan informasi yang digunakan dalam pengukuran Risiko Pasar, termasuk
perubahannya, serta pengkinian data dan informasi yang dilakukan secara berkala.
7. Perseroan harus memahami kelemahan dari metode yang digunakan, serta memperhitungkan dan memitigasi dampak dari kelemahan dari metode tersebut.
8. Perseroan harus melakukan kaji ulang atas model pengukuran Risiko Pasar, termasuk melakukan back testing dan penyempurnaan dalam hal diperlukan.
9. Dalam pengukuran Risiko pada tingkat portofolio, Perseroan harus memperhitungkan korelasi antar pasar dan antar kategori Risiko pada saat mengevaluasi posisi Risiko Pasar secara komprehensif, misalnya dengan memasukkan korelasi tersebut sebagai salah satu skenario stress testing.
10. Dalam analisis skenario dan stress testing, dapat digunakan skenario dengan menggunakan analisis data historis, menggunakan asumsi hipotesis atau menggunakan skenario yang ditetapkan oleh Otoritas Jasa Keuangan.
c) Pengendalian Risiko Pasar
1. Manajemen harus mengambil langkah-langkah dalam rangka
pengendalian Risiko termasuk pencegahan terjadinya kerugian Risiko Pasar yang lebih besar.
2. Perseroan yang memiliki surat berharga dan obligasi melakukan kaji ulang secara berkala terhadap kondisi, kredibilitas, dan kemampuan membayar kembali penerbit surat berharga dan obligasi. Kaji ulang tersebut harus didokumentasikan dan dilakukan paling sedikit setiap 6 (enam) bulan.
3. Dalam hal Perseroan memiliki surat berharga dan obligasi yang terdaftar atau diperdagangkan di pasar modal dan berdasarkan hasil kaji ulang terdapat kemungkinan peningkatan kegagalan penerbit surat berharga dan obligasi, Perseroan harus melakukan pengendalian antara lain
dengan memantau secara ketat credit spread surat berharga dan obligasi tersebut serta mengambil tindakan yang diperlukan untuk mengurangi kerugian misalnya dengan membentuk cadangan.
d) Pemantauan Risiko Pasar
Perseroan harus melakukan pemantauan terhadap kepatuhan limit secara harian dan tindak lanjut untuk mengatasi dalam hal terjadi pelampauan, yang selanjutnya dilaporkan secara harian kepada pihak yang berkepentingan sebagaimana diatur dalam kebijakan internal Perseroan.
e) Sistem Informasi Manajemen Risiko bagi Risiko Pasar
1. Sistem informasi Manajemen Risiko untuk Risiko Pasar paling sedikit harus dapat mengukur secara kuantitatif eksposur Risiko dan memantau perubahan faktor pasar (suku bunga, nilai tukar, dan harga ekuitas) secara real time basis, dapat digunakan untuk memperkirakan potensi kerugian pada masa depan. Untuk Risiko suku bunga pada banking book, proses kuantifikasi eksposur Risiko paling sedikit dilakukan secara
bulanan.
2. Sistem informasi Manajemen Risiko harus dapat memfasilitasi stress testing terutama untuk mengindentifikasi Risiko secara cepat sehingga dapat segera melakukan tindakan perbaikan termasuk sebagai respon perubahan faktor pasar yang dapat berdampak negatif pada rentabilitas dan modal Perseroan.
f) Sistem Pengendalian Internal yang Menyeluruh
1. Perseroan harus memiliki sistem pengendalian internal yang memadai untuk memastikan transaksi dan proses terkait dengan market risk taking dilakukan dengan mengacu pada kebijakan, prosedur, dan limit yang telah ditetapkan.
2. Penerapan pemisahan fungsi harus memadai dan dilaksanakan secara konsisten agar tidak terdapat benturan kepentingan.
3. Perseroan dapat memiliki fungsi yang melakukan valuasi posisi trading dan melakukan validasi terhadap model pengukuran Risiko Pasar. Fungsi tersebut harus independen terhadap fungsi bisnis dan operasional (risk taking function).
4. Fungsi atau unit yang melakukan valuasi harus independen terhadap fungsi atau unit pengambil Risiko dan fungsi atau unit yang melakukan validasi model independen dari yang melakukan pengembangan model pengukuran Risiko Pasar.
II.V Risiko Likuiditas