• Tidak ada hasil yang ditemukan

HASIL PENELITIAN

III. TAHAP OPERASIONAL

5.3 Risiko-risiko Dominan (Major Risk)

Risiko-risiko yang bersifat dominan (major risk) adalah risiko-risiko yang termasuk kategori unacceptable (risiko yang tidak dapat diterima) dan risiko-risiko yang termasuk kategori undesirable (risiko-risiko yang tidah diharapkan). Risiko-risiko ini merupakan Risiko-risiko dengan risk acceptability nilai perkalian likehood dan consequences sama dengan atau di atas 5 (lima). Keberadaan risiko-risiko dominan (major risk) akan berpengaruh besar pada Pembangunan Sentral Parkir di Pasar Badung. Dalam tingkat penerimaan risiko dapat dilihat bahwa risiko dominan besarnya 89.47%. Prosentase risiko-risiko dominan yang cukup besar menunjukkan banyak risiko-risiko yang tidak dapat diterima dalam proyek baik

pada tahap perencanaan, pelaksanaan dan operasional yang dapat menghambat dan memberi dampak negatif dalam pembangunan sentral parkir. Risiko-risiko dominan ini harus mendapatkan perhatian khusus dari pihak-pihak berkompeten yang memiliki tanggung jawab terhadap terjadinya risiko untuk dapat dilakukan tindakan mitigasi agar dapat mengurangi dampak negatif yang ditimbulkan dari risiko yang terjadi.

Berdasarkan gambar diagram tingkat penerimaan risiko di atas dapat dijelaskan persentase tingkat penerimaan risiko adalah sebagai berikut:

1. Unacceptable (tidak dapat diterima) : 9 risiko 2. Undesirable (tidak diharapkan) : 80 risiko 3. Acceptable (dapat diterima) : 5 risiko 4. Negligible (dapat diabaikan) : 1 risiko

Dari data dan prosentase di atas, dapat dijabarkan mengenai risiko-risiko dominan (major risk) yang teridentifikasi yaitu risiko dengan kategori unacceptable dan undesirable.

5.3.1 Risiko dengan Kategori Unacceptable

Risiko-risiko yang teridentifikasi sebagai risiko yang tidak dapat diterima (unacceptable) dalam Pembangunan Sentral Parkir di Pasar Badung ini adalah sebagai berikut:

1. Risiko Politis

Kurangnya koordinasi antar instansi dalam pengambilan keputusan yang mempengaruhi pengerjaan proyek. Instansi-instansi yang terlibat dalam proyek ini seperti Dinas TRP, Dinas PU dan PD. Pasar kurang berkoordinasi dengan baik termasuk dari SKPD lain sehingga terjadi perubahan-perubahan keputusan akibat dari masukan-masukan yang diberikan khususnya pada tahap perencanaan yang berdampak pada tertundanya penyelesaian dokumen gambar dan lain-lain oleh konsultan perencana karena menunggu keputusan akhir yang diambil.

2. Risiko Perencanaan

Adanya perubahan disain akibat kebijakan dan masukan dari pihak-pihak yang terkait dengan Pembangunan Sentral Parkir. Perubahan disain ini memberikan dampak yang sangat besar pada perencanaan. Perubahan disain

yang berdampak besar seperti perubahan disain dari dua lantai basement menjadi satu lantai basement menyebabkan perubahan disain secara total baik dari segi struktur, arsitektur dan MEP. Perubahan disain ini mengakibatkan bertambahnya waktu penyelesaian pekerjaan oleh konsultan perencana.

3. Risiko Ekonomi

Terjadinya eskalasi atau kenaikan harga bahan bangunan selama masa perencanaan dan pelaksanaan proyek yang dapat mengakibatkan membengkaknya biaya konstruksi pada tahap pelaksanaan yang pada saat perencanaan belum terjadi eskalasi harga. Hal ini akan menyulitkan pada saat pelaksanaan terutama bagi kontraktor yang menawar dan memenangkan tender pekerjaan.

4. Risiko Manusiawi

a. Terganggunya kegiatan perekonomian di Pasar Badung pada saat pelaksanaan proyek. Kegiatan perdagangan di Pasar Badung sebagai lokasi proyek akan sangat terpengaruh selama kegiatan proyek. Pedagang yang biasa berjualan di areal parkir akan direlokasi sementara ke areal lain dalam pasar. Selama pelaksanaan proyek akan mengakibatkan berkurangnya pendapatan para pedagang karena para pembeli kurang leluasa berbelanja selama pelaksanaan proyek.

b. Keterlambatan kedatangan tenaga kerja akibat libur hari raya. Keterlambatan datangnya tenaga kerja ini dapat disebabkan kurangnya manajemen tenaga kerja (man power) oleh kontraktor dalam

mengantisipasi adanya libur hari raya, terutama untuk tenaga kerja yang berasal dari luar daerah.

5. Risiko Alami

Adanya kerusakan pada bangunan selama pengerjaan proyek akibat bencana alam (force majeur). Adanya bencana alam akan berdampak buruk pekerjaan proyek dan kejadian bencana alam biasanya tidak dapat diprediksi. Bencana seperti banjir sangat rentan terjadi karena pelaksanaan proyek sangat dekat dengan sungai yang rentan mengalami banjir kiriman saat musim hujan. Terlebih lagi kejadian bencana alam banjir pernah menimpa pengerjaan proyek sentral parkir sebelumnya di Pasar Payuk.

6. Risiko Proyek

a. Tenaga kerja yang diperlukan kurang mencukupi secara langsung akan berpengaruh pada kinerja dan kualitas pekerjaan. Kejadian ini bisa saja disebabkan kurangnya koordinasi antara kontraktor utama dengan sub-kontraktor ataupun mandor penyedia tenaga kerja dalam hal pengadaan tenaga kerja.

b. Terjadinya keterlambatan penyelesaian proyek. Keterlambatan dapat disebabkan oleh kurangnya tenaga kerja, metode kerja yang tidak terencana dengan baik, penyediaan material yang kurang mencukupi, bencana alam dan lain-lain. Keterlambatan ini dapat mengakibatkan bertambahnya waktu yang akan berdampak adanya sanksi denda kepada kontraktor akibat keterlambatan yang terjadi.

7. Risiko Teknis

Adanya kemacetan yang terjadi di sekitar Sentral Parkir karena pengaturan arus keluar masuk kendaraan yang kurang baik dapat berakibat buruk pada proyek. Kemacetan akan terjadi karena volume kendaraan seperti dump truk pada saat pekerjaan galian akan sangat padat dan akan mengganggu kelancaran lalu lintas terutama di Jalan Gajah Mada. Demikian juga halnya pada saat pengecoran yang akan melibatkan banyak truk concrete mixer yang akan mengganggu lalu lintas du Jalan Gajah Mada yang sudah sangat padat.

5.3.2 Risiko dengan Kategori Undesirable

Risiko-risiko yang teridentifikasi sebagai risiko yang tidak diharapkan (undesirable) dalam Pembangunan Sentral Parkir di Pasar Payuk ini dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Risiko Politis

a. Terjadinya perubahan penanggung jawab pembangunan dari Dinas PU ke Dinas Tata Ruang yang menyebabkan review disain. Perubahan ini dapat mengakibatkan berubahnya semua administrasi proyek dan juga adanya penyempurnaan dan perubahan disain.

b. Adanya masukan-masukan dari pihak PD. Pasar dan PD. Parkir yang berakibat adanya perubahan disain. Masukan-masukan khususnya dari pihak PD. Pasar mempengaruhi disain karena PD. Pasar akan menjadi pengelola setelah sentral parkir ini terwujud.

c. Adanya perubahan prioritas pengerjaan proyek dalam tahun anggaran yang mempengaruhi pengerjaan proyek.

d. Opini masyarakat yang apatis terhadap pembangunan Sentral Parkir di Pasar Badung.

e. Adanya konflik kepentingan antara instansi yang terkait dengan pembangunan dalam hal ini pihak PD. Pasar dan PD. Parkir yang masing-masing mempunyai kepentingan, misalnya PD. Pasar ingin memanfaatkan lahan untuk pedagang namun di lain pihak PD. Parkir berkepentingan untuk memanfaatkan lahan sebagai areal parkir.

f. Adanya review disain setelah diadakannya presentasi dan rapat dengan anggota Komisi B DPRD Kota Denpasar. Sebelum dilaksanakan, rancangan dipresentasikan kepada anggota Komisi B DPRD yang memberikan masukan seperti ketinggian lantai (finish floor level) yang harus ditindaklanjuti dengan review disain.

g. Adanya perubahan kebijakan prioritas penggunaan anggaran yang dapat menghambat terlaksananya pembangunan Sentral Parkir. Perubahan ini disebabkan oleh pertimbangan pemerintah dalam menentukan skala prioritas penaganan proyek seperti mendahulukan renovasi Pasar Kumbasari yang mengalami musibah kebakaran.

2. Risiko Perencanaan

a. Adanya kesulitan dari konsultan perencana dalam melengkapi data dari disain terdahulu untuk melakukan review disain dikarenakan tidak adanya

back up data dan kurangnya koordinasi dengan konsultan perencana terdahulu.

b. Kurangnya survei pendahuluan tentang lokasi pembangunan oleh konsultan perencana. Kurangnya suvei ini dapat mengakibatkan disain kurang sesuai dengan kondisi terkini di lokasi.

c. Kurangnya kajian holistik dari konsultan perencana yang dapat menyebabkan ketidaksesuaian dengan masterplan pengembangan Pasar Badung dan sekitarnya.

d. Koordinasi antar tim ahli pada konsultan perencana kurang berjalan dengan baik (arsitek, sipil, ME/P). Kurangnya koordinasi dapat disebabkan kurang tegasnya team leader dalam pembagian tugas (job description) antar tim ahli serta kurang tepatnya metode kerja yang digunakan.

e. Konsultan perencana kurang berkoordinasi dengan instansi yang berkaitan dengan proyek yang dikerjakan. Dalam proses perancanaan konsultan perencana hanya berkoordinasi dengan Dinas PU atau Dinas TRP dan kurang berkoordinasi dengan PD. Pasar selaku pengelola lokasi pekerjaan. f. Data tanah dan hidrologi (kondisi lapangan) kurang terdata secara

terperinci seperti tidak adanya hasil tes tanah (sondir) untuk mengetahui kondisi lokasi pekerjaan.

g. Adanya kesalahan perhitungan volume pekerjaan oleh konsultan perencana, seperti konsultan hanya memperhitungkan volume galian tanah padat, tidak meninjau volume tanah ketika gembur.

h. Kurangnya analisis dari konsultan perencana mengenai jaringan listrik yang tersedia di lapangan. Hal ini dapat mengakibatkan terhambatnya pekerjaan jika terdapat kabel tanam di lokasi.

i.Adanya ketidaksesuaian antara gambar rencana dan kondisi riil di lapangan. Ketidaksesuaian ini dapat disebabkan karena kurangnya pengukuran dan analisis lapangan yang dapat menyebabkan perubahan disain dalam skala kecil ataupun skala besar.

j. Perbedaan spesifikasi teknis antara gambar rencana, rencana anggaran biaya (RAB) dan rencana kerja dan syarat-syarat (RKS). Perbedaan ini dapat menyebabkan perbedaan intepretasi bagi kontraktor yang akan mengerjakan terkait dengan sistem kontrak lump sum atau unit price. k. Adanya perubahan disain bangunan dari disain awal dengan sistem dua

lantai basement menjadi satu lantai basement di bawah ground floor. Perubahan ini diambil setelah mempertimbangkan posisi lantai basement yang berada di bawah level air sungai jika menggunakan sistem dua lantai basement.

l.Kurang lengkapnya gambar rencana, terutama detail-detail struktural, arsitektural ataupun mekanikal yang akan menyulitkan kontraktor dalam pelaksanaan pekerjaan di lapangan.

m. Kurangnya analisis dari konsultan perencana mengenai jaringan plumbing yang tersedia di lapangan. Hal ini dapat mengakibatkan terhambatnya pekerjaan jika terdapat pipa air di lokasi.

3. Risiko Proyek

a. Pengukuran lapangan (uitzet) untuk menentukan posisi, titik, garis dan ketinggian tidak sesuai gambar.

b. Pengukuran dilakukan secara manual tanpa pesawat ukur (teodolit), seperti penentuan titik-titik dan jarak antar kolom serta levelling dapat menyebabkan bangunan tidak presisi.

c. Adanya perbedaan interpretasi dokumen kontrak antara owner dengan kontraktor, seperti salah pengertian mengenai kontrak tipe lump sum atau unit price dan masalah perpanjangan waktu serta pembayaran termin pekerjaan.

d. Ketidaksesuaian antara volume pekerjaan di dalam BQ dan kondisi di lapangan. Hal ini disebabkan kurang telitinya analisa konsultan mengenai kondisi lapangan sehingga terjadi perbedaan volume.

e. Adanya bahaya longsoran tanah pada saat penggalian lantai basement. f. Adanya ceceran tanah bekas galian pada saat pengangkutan keluar lokasi

proyek, dikarenakan dump truck pengangkut tanah galian tidak menutup bak truk dengan penutup sebelum meninggalkan lokasi pekerjaan.

g. Adanya kerusakan bangunan sekitar terutama Pura Melanting akibat proses konstruksi khususnya saat pekerjaan pondasi bored-pile. Hal ini dapat terjadi mengingat sangat dekatnya lokasi khususnya pekerjaan bored-pile dengan Pura Melanting.

i. Kontraktor tidak mengajukan contoh material untuk disetujui terlebih dahulu oleh konsultan pengawas. Tidak adanya contoh material dapat mengakibatkan ketidaksesuaian antara material dengan spesifikasi teknis. j. Pengadaan material yang tidak sesuai dengan spesifikasi teknis.

k. Pekerjaan yang dilaksanakan kontraktor tidak sesuai dengan gambar dan spesifikasi teknis. Hal ini dapat disebabkan oleh kurangnya koordinasi antara kontraktor dengan konsultan pengawas.

l. Adanya perubahan disain yang yang berakibat pada terhambatnya prestasi pengerjaan proyek.

m. Adanya perubahan spesifikasi teknis yang mengganggu pelaksanaan proyek. Perubahan spesifikasi teknis pada saat pelaksanaan akan berpengaruh pada harga dan volume pekerjaan yang harus diperhitungkan dan dapat mengganggu kelancaran proyek.

n. Kontraktor tidak mengajukan request dan shop drawing kepada konsultan pengawas sebelum melaksanakan suatu pekerjaan. Setiap memulai pekerjaan kontraktor harus mengajukan request atau ijin kerja kepada konsultan dan mengajukan shop drawing jika diperlukan.

o. Kurangnya kualitas pekerjaan karena lemahnya pengawasan lapangan yang dapat disebabkan karena pengawas lapangan tidak secara rutin berada di lapangan dan mengawasi jalannya pekerjaan.

p. Kurangnya kualitas pekerjaan karena tidak mengikuti dan melaksanakan masukan dan instruksi dari pengawas lapangan.

q. Kurangnya pagar pengaman proyek yang dapat menyebabkan kecelakaan terutama bahaya terjatuh pada saat penggalian basement. Pagar pengaman yang kurang baik sangat berbahaya apalagi lokasi pelaksanaan adalah pasar dengan aktivitas yangg sangat padat.

r. Tenaga kerja yang ditugaskan tidak sesuai dengan kualifikasinya, misalnya tenaga tukang gali diberikan pekerjaan pembesian sehingga dapat berpengaruh pada kualitas pekerjaan.

s. Pekerjaan tambah yang lebih besar dari 10% akan menyebabkan harus diadakannya perhitungan ulang volume pekerjaan khususnya untuk kontrak unit price dan menerbitkan amandemen kontrak.

t. Adanya perbedaan perhitungan volume pekerjaan yang telah dikerjakan antara kontraktor dan konsultan pengawas.

u. Kekurangan pasokan daya listrik yang tersedia di lapangan dapat mengakibatkan terlambatnya pekerjaan misalnya untuk pemotongan besi dan untuk penerangan di malam hari pada saat pekerjaan lembur.

v. Kurang terawatnya instlasi listrik dan hidran eksisting sehingga menyulitkan dalam penyambungan/connecting.

4. Risiko Teknis

a. Ketidaksesuaian gambar dan spesifikasi teknis. Hal ini dapat menyebabkan kesalahpahaman bagi kontraktor, misalnya untuk lantai (slab) basement dalam gambar tercantum mutu beton K-175 sedangkan dalam spesifikasi teknis mensyaratkan mutu K-250.

b. Perbedaan hasil pengukuran kualitas dan kuantitas pekerjaan dengan kondisi aktual di lapangan.

c. Adanya perubahan disain akibat penyesuaian dengan kondisi di lapangan. d. Peralatan yang digunakan terutama alat berat dan kendaraan pengangkut

tanah sisa galian tidak mencukupi sehingga menghambat pekerjaan. Kurangnya peralatan khususnya jumlah dump truk pengangkut galian tanah akan memperlambat pekerjaan.

e. Kurangnya pengamanan pada jalur utama keluar masuk kendaraan yang menimbulkan kesemrawutan.

f. Kurangnya tanggung jawab dari kontraktor mengenai kerusakan-kerusakan yang terjadi selama masa pemeliharaan berkala. Kerusakan yang terjadi khususnya sistem mekanikal elektrikal tidak diperbaikai oleh kontraktor selama masa pemeliharaan berkala.

g. Kurangnya pengaturan parkir baik di area basement dan ground floor yang menyebabkan berkurangnya daya tampung optimal dari sentral parkir. Hal ini disebabkan kurangnya petugas parkir untuk membantu pengunjung memarkirkan kendaraan.

h. Kurangnya pertanda dan peringatan yang menyebabkan bingung pengguna parkir.

i. Mahalnya biaya perawatan bangunan khususnya instalasi listrik, plumbing dan hidran.

j. Tidak berfungsinya peralatan-peralatan pengaman bangunan seperti hidran, pompa banjir (sum pit) dan lain-lain. Peralatan ini kurang berfungsi

maksimal dapat disebabkan kurangnya perawatan dan jarangnya dilakukan uji coba untuk mendeteksi jika terjadi kerusakan.

k. Kurangnya keterampilan SDM / juru parkir dalam melakukan pengaturan perparkiran (hanya menarik retribusi tanpa membantu mengatur parkir). l. Peralatan yang digunakan juru parkir tidak mencukupi untuk melakukan

pengaturan parkir. 5. Risiko Lingkungan

a. Terjadinya kontaminasi tanah, polusi dan kebisingan yang mengganggu selama pelaksanaan Pembangunan Sentral Parkir di Pasar Badung. Terjadinya polusi terutama debu dapat terjadi pada saat pekerjaan galian dan pengangkutan hasil galian, sedangkan kebisingan terjadi pada saat penggunaan alat berat dan pada saat pengecoran yang menggunakan concrete mixer dan concrete pump.

b. Sulitnya akses masuk bagi alat berat yang akan digunakan selama pelaksanaan proyek. Akses alat berat cukup sulit karena lokasi sangat padat dan entrance ke lokasi sangat sempit.

c. Adanya kerusakan bangunan sekitar akibat pengerjaan proyek, khususnya Pura Melanting yang sangat berdekatan dengan lokasi.

d. Terganggunya kelancaran pekerjaan akibat tingginya tingkat kepadatan lalu lintas di sekitar lokasi pembangunan. Kepadatan yang tinggi akan menyulitkan terutama pada saat keluar masuk dump truk pengangkut, suplai material dan saat pengecoran.

a. Terjadinya kecelakaan akibat penggunaan alat berat terutama pada penggalian basement

b. Kurangnya pagar pengaman proyek yang dapat menyebabkan kecelakaan terutama bahaya terjatuh pada saat penggalian basement.

c. Kurangnya pengamanan di lokasi proyek. d. Terjadinya perusakan fasilitas proyek.

e. Adanya pungutan liar yang dilakukan preman.

f. Adanya penggunaan dana di luar yang tercantum dalam kontrak. g. Pekerja tidak menggunakan alat keselamatan pada saat bekerja. h. Kurangnya fasilitas sanitasi pada areal penampungan tenaga kerja. 7. Risiko Alami

a. Muka air tanah yang tinggi pada galian basement mengingat lokasi proyek sangat berdekatan dengan sungai.

b. Terganggunya pekerjaan karena kegiatan pasar yang tidak pernah berhenti sepanjang hari, khususnya pada saat loading unloading material di lokasi pekerjaan.

c. Adanya mata air pada galian basement.

d. Adanya rembesan air Tukad Badung selama pengerjaan proyek, khususnya pada saat pengerjaan lantai basement.

e. Terhambatnya pekerjaan akibat cuaca khususnya hujan karena pelaksanaan pekerjaan dijadwalkan pada Bulan Juli sampai Desember yang merupakan waktu musim hujan.

8. Risiko Ekonomi

Terjadinya kenaikan harga bahan bakar minyak selama masa pelaksanaan pekerjaan yang akan mempengaruhi kinerja proyek.

9. Risiko Kriminal

a. Hilangnya material dan peralatan kerja selama berlangsungnya proyek. 10. Risiko Manusiawi

a. Produktivitas pekerja yang rendah. b. Pemogokan oleh tenaga kerja.

c. Adanya pekerja yang sakit atau mengalami kecelakaan.

d. Adanya penolakan dari para pedagang yang akan direlokasi dengan adanya pembangunan Sentral Parkir.

e. Adanya keluhan dari warga akibat terganggunya aktivitas mereka termasuk kemacetan yang terjadi.

11. Risiko Keuangan

a. Adanya keterlambatan pembayaran termin oleh owner kepada pihak konsultan perencana, konsultan pengawas dan kontraktor.

b. Keterlambatan pembayaran oleh kontraktor utama kepada pihak sub kontraktor.

Berdasarkan sumbernya, risiko yang termasuk kategori tidak dapat diterima (unacceptable) dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Risiko Politis : 2 risiko (22.22%) 2. Risiko Perencanaan : 1 risiko (11.11%) 3. Risiko Ekonomi : 1 risiko (11.11%)

4. Risiko Lingkungan : 1 risiko (11.11%) 5. Risiko Alami : 1 risiko (11.11%) 6. Risiko Proyek : 2 risiko (22.22%)

Sedangkan untuk risiko yang termasuk kategori tidak diharapkan (undesirable) dapat diuraikan sebagai berikut:

1. Risiko Politis : 7 risiko (8.75%) 2. Risiko Perencanaan : 13 risiko (16.25%) 3. Risiko Proyek : 22 risiko (27.50%) 4. Risiko Teknis : 12 risiko (15.00%) 5. Risiko Lingkungan : 4 risiko (5.00%) 6. Risiko Keselamatan : 8 risiko (10.00%) 7. Risiko Alami : 5 risiko (6.25%) 8. Risiko Ekonomi : 1 risiko (1.25%) 9. Risiko Kriminal : 1 risiko (1.25%) 10. Risiko Manusiawi : 5 risiko (6.25%) 11. Risiko Keuangan : 2 risiko (2.50%)

Dokumen terkait