BAB II PENGATURAN MENGENAI JUAL BELI ONLINE
E. Risiko Yang Timbul Dalam Jual Beli Online
E-commerce merupakan model perjanjian jual beli dengan karakteristik dan aksentuasi yang berbeda dengan model transaksi jual-beli konvensional, apalagi dengan daya jangkau yang tidak hanya lokal tapi juga bersifat global.
Risiko yang timbul dalam jual beli online, antara lain:
1. Otentikasi subjek hukum yang membuat transaksi melalui internet.
2. Saat perjanjian berlaku dan memiliki kekuatan mengikat secara hukum.
3. Objek transaksi yang diperjualbelikan.
4. Mekanisme peralihan hak.
5. Hubungan hukum dan pertanggungjawaban para pihak yang terlibat dalam transaksi.
6. Legalitas dokumen catatan elektronik serta tanda tangan digital sebagai alat bukti.
7. Mekanisme penyelesaian sengketa.
8. Pilihan hukum dan forum peradilan yang berwenang dalam penyelesaian sengketa.55
Berkembangnya online sebagai infrastruktur alternative modern dalam mengembangkan dunia perdagangan bukan berarti bahwa eksistensinya tidak
54 Ibid
55 Andi Tenri Ajeng P, Tinjauan Hukum Perjanjian Jual-Beli Melalui E-Commerce, Skripsi Program Studi Ilmu Hukum Fakultas Syari’ah Dan Hukum Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar 2017, hlm 48
memunculkan permasalahn-permasalahan. Permasalahan-permasalahn yang timbul dalam perjanjian jual beli online, antara lain:
1. Keabsahan perjanjian menurut Pasal 1320 KUHPerdata Disebutkan ada 4 syarat sahnya suatu perjanjian, antara lain kesepakatan antara kedua belah pihak untuk mengikatkan diri, kecakapan untuk membuat perjanjian, objek tertentu dan sebab yang halal. E-commerce merupakan metode perdagangan modern yang tidak mempertemukan penjual dan pembeli, maka untuk terjadinya suatu kesepakatan sulit untuk diketahui dengan jelas kapan kesepakatan antara kedua belah pihak itu terjadi. Selain tentang kecakapan kedua belah pihak juga dipertanyakan antara penjual dan pembeli tidak bertemu langsung maka tidak dapat diketahui dengan jelas kedua belah pihak tersebut cakap atau tidak menurut undangundang.
Biasanya secara umum yang dijumpai dalam hal tersebut, cara mengatasinya pelaku usaha dalam websitenya mencantumkan kategori umur atau didalam diperbolehkannya untuk memasuki website tersebut atau didalam registrasi data pribadi konsumen dicantumkan seperti nomor Kartu Tanda Penduduk (e-KTP) atau paspor dimana diharapkan dapat menjamin kecakapan seorang konsumen dalam bertransaksi. Berkaitan dengan suatu sebab yang halal juga menjadi permasalahan dalam transaksi jual beli melalui internet.
2. Tidak ada lembaga penjamin keabsahan toko online perusahaan atau akun jual beli online di dunia maya yang menjual toko online sangatlah mudah untuk didirikan dibandingkan dengan mendirikan perusahaan di dunia
nyata. Sebagaimana kenyataannya bahwa pendirian suatu perusahaan di dunia maya memerlukan izin dari pejabat/instansi tekait. Namun dalam mendirikan atau membangun toko online di dunia maya hanya menyewa tempat di dunia maya dan membuat web desain toko online pada ISP maka toko online ini sudah dapat beroprasi layaknya toko di dunia nyata.
3. Masalah keamanan transaksi terkait dengan jaminan kepastian hukum implikasi dari perkembangan jual beli online tersebut dirasa ada sisi positif dan sisi negatif. Aspek positifnya bahwa dengan adanya perdagangan di internet melalui jaringan online dapat meningkatkan peran dan fungsi perdagangan sekaligus memberikan efek efisiensi. Aspek negatifnya adalah persoalan keamanan dalam transaksi menggunakan media e-commerce dan secara yuridis terkait pula dengan jaminan kepastian hukum. Masalah keamanan yang dipermasalahkan dalam aspek ini adalah masalah kerahasiaan pesan, masalah bagaimana cara agar pesan yang dikirimkan itu keutuhannya sampai ke tangan penerima, masalah keabsahan pelaku transaksi dan masalah keaslian pesan agar bisa dijadikan barang bukti.56
Secara garis besar terdapat beberapa permasalahan yang terjadi pada proses transaksi jual beli online, yaitu:
1. Konsumen tidak dapat langsung mengidentifikasi, melihat, atau menyentuh barang yang akan dipesan.
56 Aprillita Zainati, Perjanjian Jual Beli Online Dalam Kitab Undang-Undang Hukum Perdata Dan Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah, Skripsi Program Studi Hukum Ekonomi Syariah Jurusan Mu’amalah Fakultas Syariah Isntitut Agama Islam Negeri Purwokerto 2018, hlm 102-103
2. Ketidakjelasan informasi tentang produk yang ditawarkan dan/atau tidak ada kepastian apakah konsumen telah memperoleh berbagai informasi yang layak diketahui, atau yang sepatutnya dibutuhkan untuk mengambil suatu keputusan dalam bertransaksi.
3. Tidak jelasnya status subyek hukum dari pelaku usaha.
4. Tidak ada jaminan keamanan bertransaksi dan privasi serta penjelasan terhadap risiko-risiko yang berkenaan dengan sistem yang digunakan, khususnya dalam hal pembayaran secara elektronik baik dengan credit card maupun elektronik cash.
5. Pembebanan risiko yang tidak berimbang karena umumya terhadap jual beli di internet, pembayaran telah lunas dilakukan di muka oleh konsumen, sedangkan barang belum tentu diterima atau akan menyusul kemudian, karena jaminan yang ada adalah jaminan pengiriman barang yang bukan penerimaan.
6. Transaksi yang bersifat lintas batas negara, borderlass, menimbulkan pertanyaan mengenai yurisdiksi hukum Negara mana yang sepatutnya dilakukan.57
Meskipun ada banyak permasalahan yang muncul dan terjadi dalam transaksi jual beli online, akan tetapi hal tersebut tidak menyurutkan para konsumen untuk tetap berbelanja lewat transaksi online.
57 https://perpuskampus.com/permasalahan-yang-timbul-pada-jual-beli-online/diakses tanggal 11 Desember 2019
BAB III
PENYELESAIAN SENGKETA WANPRESTASI DALAM HAL SALAH SATU PIHAK TIDAK MEMENUHI PRESTASINYA
A. Pengertian Wanprestasi
Situasi normal antara prestasi dan kontra prestasi akan saling bertukar, namun pada kondisi tertentu pertukaran prestasi tidak berjalan seagaimana mestinya. Terkait pembahasan ini terdapat beberapa faktor penting yang mengakibatkan kegagalan pelaksanaan pemenuhan kewajiban kontrak. Kegagalan kontrak dapat terjadi, karena faktor internal para pihak maupun faktor eksternal yang berpengaruh terhadap eksistensi kontrak yang bersangkutan. Salah satu faktor yang mengakibatkan gagalnya pelaksanaaan pemenuhan kontrak yaitu wanprestasi.58
Wanprestasi berasal dari istilah aslinya dalam bahasa Belanda
“wanprestatie” yang artinya tidak dipenuhinya prestasi atau kewajiban yang telah ditetapkan terhadap pihak-pihak tertentu di dalam suatu perikatan, baik perikatan yang dilahirkan dari suatu perjanjian ataupun perikatan yang timbul karena undang-undang.59
Adanya bermacam-macaam istilah mengenai wanprestsi ini, telah menimbulkan kesimpang siuran dengan maksud aslinya yaitu “wanprestasi”. Ada beberapa sarjana yang tetap menggunakan istilah “wanprestasi” dan memberi pendapat tentang pengertian mengenai wanprestasi tersebut.
58 Agus Yudha Hernoko, Hukum Perjanjian (Asas Proporsionalitas dalam Kontrak Komersial) Edisi Kesatu, Cetakan Pertama, Jakarta, Kencana Prenadamedia Group, 2010, hlm 260
59 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Op.Cit, hlm 20
R. Subekti mengemukakan bahwa “wanprestasi” itu adalah kelalaian atau kealpaan yang dapat berupa empat jenis antara lain:
1. Tidak melakukan apa yang telah disanggupi akan dilakukannya.
2. Melaksanakan apa yang telah diperjanjikannya, tetapi tidak sebagai mana yang diperjanjikan.
3. Melakukan apa yang diperjanjikan tetapi terlambat.
4. Melakukan suatu perbuatan yang menurut perjanjian tidak dapat dilakukan.60 Wanprestasi atau tidak dipenuhinya janji dapat terjadi baik karena disengaja maupun tidak disengaja. Pihak yang tidak sengaja wanprestasi ini dapat terjadi dikarenakan memang tidak mampu untuk memenuhi prestasi tersebut atau juga karena terpaksa untuk tidak melakukan prestasi tersebut. Wanprestasi dapat berupa:
1. Sama sekali tidak memenuhi prestasi.
2. Prestasi tidak dilakukan dengan sempurna.
3. Terlambat memenuhi prestasi.
4. Melakukan apa yang dilarang dalam perjanjian.61
Menurut A. Qirom Syamsudin Meliala wanprestasi itu dapat berupa:
1. Tidak memenuhi prestasi sama sekali, sehubungan dengan debitur yang tidak memenuhi prestasi maka dikatakan debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.
60 Subekti, Hukum Perjanjian. Jakarta, Intermasa, 2005hlm 50
61 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Hukum Perikatan (Penjelasan Makna Pasal 1233 Sampai 1456 BW), Jakarta, Rajagrafindo Persada, 2001, hlm 74
2. Memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktunya, apabila prestasi debitur masih dapat diharapkan pemenuhannya, maka debitur dianggap memenuhi prestasi tetapi tidak tepat waktu, sehingga dapat dikatakan wanprestasi.
3. Memenuhi prestasi tetapi tidak sesuai atau keliru, debitur yang memenuhi prestasi tapi keliru, apabila prestasi yang keliru tersebut tidak dapat diperbaiki lagi maka debitur dikatakan tidak memenuhi prestasi sama sekali.62
Berdasarkan pengertian di atas, maka dapat disimpulkan bahwa wanprestasi pelaksanaan kewajiban yang tidak tepat waktunya atau dilakukan tidak menurut selayaknya. Misalnya seorang debitur disebutkan dalam keadaan wanprestasi perjanjian telah terlambat dari jadwal waktu yang ditentukan atau dalam melaksanakan prestasi tidak menurut yang sepatutnya.
Wanprestasi mempunyai hubungan yang sangat erat dengan somasi.
Somasi sendiri merupakan terjemahan dari ingerbrekestelling. Somasi diatur dalam Pasal 1238 KUHPerdata dan Pasal 1243 KUHPerdata. Pada umumnya mulai terjadinya wanprestasi yaitu suatu wanprestasi baru terjadi jika debitur dinyatakan telah lalai untuk memenuhi prestasinya, atau dengan kata lain, wanprestasi ada kalau debitur tidak dapat membuktikan bahwa ia telah melakukan wanprestasi itu di luar kesalahannya atau karena keadaan memaksa. Apabila dalam pelaksanaan pemenuhan prestasi tidak ditentukan tenggang waktunya, maka seorang kreditur dipandang perlu untuk memperingatkan atau menegur debitur agar ia memenuhi kewajibannya. Teguran ini disebut dengan somasi.63
62 A. Qirom Syamsudin Meliala, Pokok-pokok Hukum Perjanjian Beserta Perkembangannya, Yogyakarta, Liberty, 2010, hlm. 26.
63 Salim H.S., Pengantar Hukum Perdata Tertulis (BW), Jakarta, Sinar Grafika, 2008, hlm. 180.
Seorang debitur baru dikatakan wanprestasi apabila ia telah diberikan somasi oleh kreditur atau juru sita. Somasi itu minimal telah dilakukan sebanyak tiga kali oleh kreditur atau Juru sita. Apabila somasi itu tidak diindahkannya, maka kreditur berhak membawa persoalan itu ke pengadilan. Pengadilanlah yang akan memutuskan, apakah debitur wanprestasi atau tidak.64
B. Bentuk-bentuk Wanprestasi
Menjalankan bisnis dalam e-commerce sebenarnya banyak sekali hal yang dapat digolongkan terhadap suatu bentuk dari wanprestasi, terkadang hal tersebut sering diabaikan dan dianggap sebagai suatu bentuk kesalahpahaman biasa dan masih bersifat permitif.
Bentuk-bentuk wanprestasi dalam perjanjian jual beli secara online, antara lain :
1. Ditinjau dari sisi pembeli, antara lain:
a. Keterlambatan membayar, dalam hal ini kerlambatan pembayaran biasanya pihak yang sering melakukan hal keterlambatan tersebut adalah pembeli. Beberapa merchant atau tahapan dalam urusan pembayaran dalam jual beli online misalnya ketika pembeli ingin membeli barang tertentu melalui internet, biasanya calon pembeli harus menyetujui berapa uang yang harus pembeli bayar. Setelah harga dirasa cocok atau pas, maka si pembeli harus melakukan semacam proses registrasi atau pra-dealing, kemudian pihak penjual akan mengkonfirmasi pembeli yang didalamnya juga ada perintah untuk membayar uang muka (down pointment) melalui
64 Ibid
bank yang telah ditentukan, maka si pembeli harus melakukan pelaporan atas pembayarannya kepada si penjual. Selanjutnya penjual yang akan mengirim barang yang telah disepakati oleh kedua belah pihak bersamaan dengan pelunasan akhir dari si pembeli. Sebagian penjual biasanya menunggu pelunasan dari si pembeli, setelah itu baru si penjual mengirim barangnya kepada pembeli. Keterlambatan dalam proses pembayaran yang dilakukan oleh pembeli, ini yang sering terjadi dalam jual beli online dan merupakan suatu bentuk wanprestasi.65
b. Tidak melakukan pembayaran. Setiap pembeli biasanya berbeda-beda, artinya dalam melakukan transaksi secara online mereka mempunyai tujuan dan maksud sendiri-sendiri. Praktiknya dilapangan ada sebagian dari pembeli yang tidak melakukan kewajiban mereka secara baik.
c. Melakukan pembayaran, namun tidak sesuai dengan apa yang diperjanjikan/ disepakati, hal ini jarang terjadi dalam jual beli online.
Pembeli yang melakukan bentuk wanprestasi seperti ini adalah pembeli yang bukan merupakan klien/pelanggan tetap dari suatu marchant tertentu.
Lebih rinci lagi dapat dijelaskan bahwa si pembeli tepat waktu dalam melakukan pembayaran atas suatu barang baik yang merupakan uang muka (down pointment) atau pelunasan pembayaran atau juga pembayaran secara total/kontan. Akan tetapi nilai/harganya tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati.
65 R. Subekti, Op.Cit, hlm 78
2. Ditinjau dari sisi penjual, yaitu
a. Mengirim barang, namun tidak sesuai dengan apa yang telah disepakati Salah satu hal utama dan penting dalam menjalankan bisnis jual beli online adalah komunikasi, apabila terjadi miss communication akan menimbulkan kerugian baik secara materiil ataupun non materiil (fungsional). Pada akhirnya itu juga itu semua akan menjadi bentuk wanprestasi.
b. Mengirim barang, namun terlambat bagi penjual dalam bisnis jual beli online harus berusaha tidak melakukan kesalahan terutama dalam melakukan proses pengiriman barang kepada si pembeli, harus sesuai dengan apa yang diperjanjikan, tetapi juga tidak mengalami keterlambatan.
Masalah keterlambatan dapat disebabkan oleh dua faktor yaitu:
1) Unsur kesengajaan dari si penjual. Keterlambatan dari si penjual yang disebabkan karena kesengajaan penjual itu sendiri biasanya dikarenakan barang yang telah diperjual belikan tidak ada stok ataupun terjadi kesalahan dalam proses pembuatannya/pengadaannya sehingga si penjual sengaja memperlambat pengirimannya.
2) Unsur force majure/over macht/keadaan memaksa. Keadaan memaksa ialah keadaan tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak penjual karena terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya. Peristiwa mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan. Dalam hukum anglo sacon (Inggris), keadaan memaksa ini dilukiskan dengan istilah fristration yang berarti
kehilangan, yaitu suatu keadaan atau peristiwa yang terjadi diluar tanggung jawab pihak-pihak yang membuat perikatan (perjanjian) itu tidak dapat dilaksanakan sama sekali.66
Bentuk-bentuk wanprestasi, antara lain:
1. Debitur tidak memenuhi prestasi sama sekali.
2. Debitur memenuhi sebagian prestasi.
3. Debitur terlambat di dalam melakukan transaksi 4. Debitur keliru dalam melaksanakan prestasinya.
5. Debitur melaksanakan sesuatu yang dilarang di dalam perjanjian.67
Wanprestasi (kelalaian atau kealpaan) seorang debitur dapat berupa empat jenis yaitu :68
1. Tidak melakukan apa yang disanggupi akan dilakukannya
2. Melaksanakan apa yang dijanjikannya, tetapi tidak sebagaimana dijanjikan 3. Melakukan apa yang dijanjikan tetapi terlambat
4. Melakukan sesuatu yang menuruti perjanjian tidak boleh dilakukannya.
Wanprestasi atau tidak dipenuhinya janji dapat terjadi baik, karena disengaja maupun tidak disengaja. Pihak yang tidak sengaja wanprestasi ini dapat terjadi karena memang tidak mampu untuk memenuhi prestasi tersebut atau juga karena terpaksa untuk tidak melakukan prestasi tersebut.69 Wanprestasi dapat berupa:
66 Ibid
67 Ahmad Syarifudin, Penyelesaian Sengketa Perbankan Syariah, Bandar Lampung, Pusat Penelitian dan Penerbitan LP2M Institut Agama Islam Negeri Lampung, 2015, hlm. 41.
68 Subekti, Op.Cit, hlm 46
69 Ahmadi Miru & Sutarman Yodo, Hukum Perlindungan Konsumen, Jakarta, Rajagrafindo Persada, 2010), hal.74
1. Sama sekali tidak memenuhi prestasi 2. Prestasi tidak dilakukan dengan sempurna 3. Terlambat memenuhi prestasi
4. Melakukan apa yang dilarang dalam perjanjian.70
Peringatan tertulis dapat dilakukan secara resmi dan dapat juga secara tidak resmi. Peringatan tertulis secara resmi yang disebut somasi. Somasi dilakukan melalui Pengadilan Negeri yang berwenang. Kemudian Pengadilan Negeri dengan perantara juru sita menyampaikan surat peringatan tersebut kepada debitur, yang disertai berita acara penyampaiannya. Peringatan tertulis tidak resmi misalnya melalui surat tercatat, telegram, atau disampaikan sendiri oleh kreditur kepada debitur dengan tanda terima. Surat peringatan ini disebut “ingebreke stelling”.71
C. Penyebab Terjadinya Wanprestasi
Tidak dipenuhinya suatu prestasi atau kewajiban (wanprestasi) ini dapat dikarenakan oleh dua kemungkinan alasan. Dua kemungkinan alasan tersebut antara lain yakni :
1. Karena kesalahan debitur, baik kesengajaan ataupun kelalaiannya. Dikatakan orang mempunyai kesalahan dalam peristiwa tertentu jika debitur sebenarnya dapat menghindari terjadinya peristiwa yang merugikan itu baik dengan tidak berbuat atau berbuat lain dan timbulnya kerugian itu dapat dipersalahkan kepadanya. Dimana tentu kesemuanya dengan memperhitungan keadaan dan suasana pada saat peristiwa itu terjadi. Kerugian dapat dipersalahkan kepada
70 Ibid
71 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia Op.Cit., hlm. 204.
debitur, jika ada unsur kesengajaan atau kelalaian dalam peristiwa yang merugikan itu pada diri debitur yang dapat dipertanggungjawabkan kepadanya. Dikatakan debitur sengaja apabila kerugian itu memang diniati dan dikehendaki oleh debitur, sedangkan kelalaian adalah peristiwa dimana seorang debitur seharusnya tahu atau patut menduga, bahwa dengan perbuatan atau sikap yang diambil olehnya akan timbul kerugian.72
Disini debitur belum tahu pasti apakah kerugian akan muncul atau tidak, tetapi sebagai orang yang normal seharusnya tahu atau bisa menduga akan kemungkinan munculnya kerugian tersebut. Kesalahan disini berkaitan dengan masalah “dapat menghindari” (dapat berbuat atau bersikap lain) dan “dapat menduga” (akan timbulnya kerugian).73
2. Keadaan memaksa (overmacht)
Keadaan memaksa merupakan keadaan tidak dapat dipenuhinya prestasi oleh pihak debitur, dikarenakan terjadi suatu peristiwa bukan karena kesalahannya, peristiwa mana tidak dapat diketahui atau tidak dapat diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan.74 Unsur-unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa itu ialah:
1) Tidak dipenuhi prestasi dikarenakan suatu peristiwa yang membinasakan benda yang menjadi objek perikatan, ini selalu bersifat tetap
72 J.Satrio, Hukum Perikatan Tentang Hapusnya Perikatan, Bandung, Citra Aditya Bakti, 1996, hlm.91
73 Ibid
74 Abdul Kadir Muhammad, Hukum Perdata Indonesia, Op.Cit, hlm 27
2) Tidak dapat dipenuhi prestasi dikarenakan suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi, ini dapat bersifat tetap atau sementara.
3) Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan baik oleh debitur maupun oleh kreditur. Jadi bukan karena kesalahan pihak-pihak, khususnya debitur.75
Keadaan memaksa ini debitur tidak dapat dipersalahkan dikarenakan keadaan memaksa tersebut timbul diluar kemauan dan kemampuan debitur.
Wanprestasi yang diakibatkan oleh keadaan memaksa biasa terjadi karena benda yang menjadi objek perikatan itu binasa atau lenyap, bisa juga terjadi karena perbuatan debitur untuk berprestasi itu terhalang seperti yang telah diuraikan di atas. Keadaan memaksa yang menimpa benda objek perikatan bias menimbulakan kerugian sebagian dan dapat juga menimbulkan kerugian total. Sedangkan keadaan memaksa yang menghalangi perbuatan debitur memenuhi prestasi itu bias bersifat sementara maupun bersifat tetap.76
Unsur-unsur yang terdapat dalam keadaan memaksa itu ialah :
1) Tidak dipenuhi prestasi, karena suatu peristiwa yang membinasakan benda menjadi objek perikatan, hal ini tentunya bersifat tetap.
2) Tidak dapat dipenuhi prestasi karena suatu peristiwa yang menghalangi perbuatan debitur untuk berprestasi, ini dapat bersifat tetap atau sementara.
75 Ibid, hlm 31
76 Abdulkadir Muhammad, Op. Cit, hlm. 27.
3) Peristiwa itu tidak dapat diketahui atau diduga akan terjadi pada waktu membuat perikatan baik oleh debitur maupun oleh kreditur, jadi bukan karena kesalahan para pihak, khususnya debitur.77
Keadaan memaksa yang menjadi salah satu penyebab timbulnya wanprestasi dalam pelaksanaan perjanjian. Dikenal dua macam ajaran mengenai keadaan memaksa tersebut dalam ilmu hukum, yaitu ajaran memaksa yang bersifat objektif dan subjektif yang mana ajaran mengenai keadaan memaksa (overmachtsleer) ini sudah dikenal dalam hukum romawi, yang berkembang dari janji (beding) pada perikatan untuk memberikan benda tertentu.78
D. Akibat Hukum Wanprestasi
Tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi tidak ditentukan, maka dipandang perlu untuk memperingatkan debitur guna memenuhi prestasinya tersebut dan dalam hal tenggang waktu pelaksanaan pemenuhan prestasi ditentukan, maka menurut ketentuan Pasal 1238 KUHPerdata debitur dianggap lalai dengan lewatnya waktu yang ditentukan.79
Akibat- akibat terhadap kelalaian atau kealpaan oleh debitur diancam beberapa sanksi atau hukuman, ada empat jenis, yaitu :
1. Membayar kerugian yang diderita oleh kreditur atau dinamakan ganti rugi.
2. Pembatalan perjanjian atau juga dinamakan pemecahan perjanjian 3. Peralihan risiko
77 Ibid
78 J. Satrio, Hukum Perikatan, Bandung, Alumni, 1999, hlm. 254
79 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Op. Cit, hlm. 8
4. Membayar biaya perkara, kalau sampai di perkarakan didepan hakim.80 Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi adalah hukuman atau sanksi hukum berikut ini:
1. Debitur diwajibkan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur (Pasal 1243 KUHPerdata).
2. Apabila perikatan itu timbal balik, kreditur dapat menuntut pemutusan atau pembatalan perikatan melalui hakim (Pasal 1266 KUHPerdata).
3. Apabila perikatan itu untuk memberikan sesuatu, risiko beralih kepada debitur sejak terjadi wanprestasi (Pasal 1237 ayat (2) KUHPerdata).
4. Debitur diwajibkan memenuhi perikatan jika masih dapat dilakukan, atau pembatalan disertai pembayaran ganti kerugian (Pasal 1267 KUHPerdata).
5. Debitur wajib membayar biaya perkara jika diperkenankan di muka Pengadilan Negeri, dan debitur dinyatakan bersalah.81
Pihak yang melakukan wanprestasi harus menanggung akibat dari tuntutan pihak lawan yang dapat berupa tuntutan antara lain:
1. Pembatalan kontrak saja;
2. Pembatalan kontrak disertai tuntutan ganti rugi;
3. Pemenuhan kontrak saja;
4. Pemenuhan kontrak disertai tuntutan ganti rugi.82
Akibat hukum bagi debitur yang telah melakukan wanprestasi, adalah hukuman atau sanksi sebagai berikut:83
80 Yahman, Karakteristik Wanprestasi dan Tindak Pidana Penipuan, Jakarta, Prenamedia Group, 2014, hlm.45
81Abdulkadir Muhammad, Op.Cit., hlm 203-205
82 Ahmadi Miru dan Sakka Pati, Op.Cit, hlm 75
1. Debitur diharuskan membayar ganti kerugian yang telah diderita oleh kreditur Pasal 1243 KUHPerdata menyatakan bahwa Penggantian biaya, rugi, dan bunga karena tidak dipenuhinya suatu perikatan, barulah mulai diwajibkan, apabila si berutang, setelah dinyatakan lalai memenuhi perikatannya, tetap melalaikannya atau jika sesuatu yang harus diberikan atau dibuatnya, hanya dapat diberikan dan dibuat dalam tenggang waktu yang telah dilampaukannya.
pasal tersebut di atas, ada dua cara penentuan titik awal penghitungan ganti kerugian, yaitu sebagai berikut :
a. Jika dalam perjanjian itu tidak ditentukan jangka waktu, pembayaran ganti kerugian mulai dihitung sejak pihak tersebut telah dinyatakan lalai, tetapi tetap melalaikannya.
b. Jika dalam perjanjian tersebut telah ditentukan jangka waktu tertentu, pembayaran ganti kerugian mulai dihitung sejak terlampauinya jangka waktu yang telah ditentukan tersebut.84
2. Dalam perjanjian timbal balik (bilateral), wanprestasi dari satu pihak memberikan hak kepada pihak lainnya untuk membatalkan atau memutuskan perjanjian lewat hakim Pasal 1266 KUHPerdata yang dinyatakan bahwa
2. Dalam perjanjian timbal balik (bilateral), wanprestasi dari satu pihak memberikan hak kepada pihak lainnya untuk membatalkan atau memutuskan perjanjian lewat hakim Pasal 1266 KUHPerdata yang dinyatakan bahwa