• Tidak ada hasil yang ditemukan

Ritus Pemujaan Leluhur

Dalam dokumen Fungsi Matsuri dalam Perusahaan Jepang (Halaman 29-34)

2.2 Ritus-ritus dalam perusahaan Jepang

2.2.2 Ritus Pemujaan Leluhur

Orang Jepang sangat menggantungkan kehidupannya pada upaya menjaga dan mengukuhkan kekuatan ruh leluhur-pendiri (senso). Keberadaan ruh leluhur ini dijaga melalui keberadaan senior Apabila kita bertanya pada orang Jepang, apakah mereka memiliki agama. Sering dijumpai bahwa mereka agak sulit untuk menjawab pertanyaan itu. Namun, jika kita perhatikan sikap dan perilaku orang Jepang dalam fenomena kehidupan sehari - hari seperti dalam upacara pemujaan leluhur atau perayaan - perayaan yang berhubungan dengan pemujaan terhadap alam dan perayaan yang bertujuan untuk memanjatkan rasa syukur, maka kita akan mendapatkan kesan bahwa orang Jepang mempercayai atau meyakini adanya sesuatu.

Tradisi keagamaan yang terdapat dalam masyarakat jepang pemujaan kepada leluhur. Religi keluarga menjadi kepercayaan mereka, dimana religi keluaga yang dimaksud pada intinya merupakan pemujaan terhadapa leluhur. Pemujaan kepada arwah leluhur disebut sosensuhai (素線巣拝). istilah sosen dapat diartikan sebaga pembuka terdahulu, seperti terlihat pada karakter (祖) dan (先).

Penyembahan dari para keluarga yang masih hidup sangat diperlukan bagi roh ini. Karena jika tidak ada penyembahan terhadap roh maka roh akan tetap berada di kukai (dunia susah) dalam keadaan susah dan menjadi ruh gentayangan (muen botoke) atau setan kelaparan (gaki). Terlihat hubungan emosional antara

genkai (dunia nyata) dengan yuukai (dunia roh). Dalam hal ini adalah anggota keluarga yang masih hidup dengan roh orang mati tersebut.

Dengan adanya keyakinan ini, maka hubungan batin satu keluarga dengan anggotannya yang telah meninggal akan tetap terpelihara dan tidak putus secara tibia-tiba. Akibatnya secara emosi keluarga yang ditinggal mati oleh keluarganya tidak akan mengalami kekosongan yang dapat mengganggu kesejahteraan jiwa mereka (Danandjaja,1997:188)

Roh seseorang yang mengalami kematian masih dalam kondisi kekotoran maka dibutuhkan persembahan-persembahan dari keluarganya untuk membantu keluar dari kekotoran tersebut. Menurut Yazima (dalam Situmorang,2000:32-33) mengatakan : bahwa begitu manusia mati maka rohnya untuk waktu sementara akan jatuh kedalam dunia kesusahan (kukai), hal ini disebabkan dosanya pada waktu hidup. Tetapi akan kemudian akan tertolong oleh kuyo (persembahan-persembahan). apabila roh nenek moyang (sorei) tetap beradadalam kukai.Maka nasib keluarga dalam hal ini Ie akan buruk.

Untuk meningkatkan status roh seseorang supaya mencapai tingkat yang lebih tinggi maka diperlukan kuyo / persembahan dari anggota keluarga yang hidup. Menurt Yazima (dalam Situmorang, 2000:39) jenis-jenis kuyo adalah sebagai berikut:

1. Mendirikan kuil

2. Membuat patung budha 3. Membuat stupa

4. Pembacaan doa

Dari jenis-jenis kuyo diatas ada tiga jenis kuyo yang sering dilakukan yaitu: zotou, shakei,dokukei

1. Zotou

Zotou artinya membuat stupa, stupa ini disebut “gorintou” (stupa 5 tingkat). Stupa melambangkan isi jagad raya, sebagai tempat persembahan bagi orang mati.Pada masing-masing stupa, yaitu masing-masing 4 sisi yang disebut dengan “shimon” stupa tersebut biasanya didirikan ditengah-tengah makam. Kelima tingkat tersebut adalah :

a. Persegi empat sebagai dasarnya, melambangkan tanah b. Bulatan diatasnya, melambangkan air

c. Lingkaran kecil, melambangkan angina d. Setengah lingkaran melambangkan angina

2. Shakei

Shakei adalah penyembahan gambar orang meninggal.Biasanya gambar tersebut diletakkan di batsudan dan kamidan. Di dekat gambar tersebut di beri persembahan dan di puja.

Dokukei adalah kitab sutra bagi orang yang mati,yaitu kitab sutra di setiap acara yang dilaksanakan pada orang mati tersebut, misalnya pada saat acara pembakaran, pemakaman, dan lain-lain.

Acara-acara kuyo tersebut diatas ditujukan kepada orang yang meninggal yang bertujuan untuk menghilangkan kagare atau kekotoran supaya roh almarhum tidak jatuh ke gokido atau dunia yang lebih bawah lagi.Pada masyarakat, hal seperti ini menjadi kewajiban bagi keluarga.

Setelah menjalani rangkaian-rangkaian upacara tersebut, setelah 33 tahun ( menurut konsep budha) dan 50 tahun ( menurut konsep Shinto ), roh tersebut menjadi tenang dan suci. Roh-roh tersebut sebelum masa 33 tahun, dipercayai tinggal di Ihai ( papan nama) dimana pada papan nama tersebut dituliskan nama baru dan akan terus menerima doa-doa dari keluarga. Namun setelah menjalani masa 33 tahun roh tersebut tidak mempunyai nama pribadi lagi. Dan dia sudah suci dan tenang, dan dia akan disebut roh leluhur. Oleh karena itu tidak memerlukan persembahan-persembahan lagi. Namanya akan diturunkan dari altar keluarga, dari altar budha ( batsudan) maupun dari altar Shinto kamidana.

Setelah melewati masa 33 tahun, roh tersebut pergi kegunung.Roh tersebut menjadi hotoke (konsep budha) dan kami / dewa ( konsepShinto), dan menjadi dewa wilayah (ubusunagami atau ujigami). Pemujaan leluhur dalam keluarga juga akan berkembang menjadi pemujaan terhadap dewa wilayah hingga sampai kepada ruang lingkup tertinggi yaitu dewa Negara.

Seperti yang telah dijelaskan sebelumnya, pusat dari kepercayaan dalam masyarakat Jepang adalah keluarga / Ie. Keluarga menjadi wadah utama dalam

pemujaan roh di Jepang.Anggota keluarga bukan hanya terdiri dari orang-orang yang memiliki hubungan darah saja namun seseorang dapat mendirikan sebuah badan usaha / perusahaan, anggotanya adalah para pekerja serta keluarganya.Kepala keluarga tersebut adalahn yang mendirikan perusahaan.apabila seorang kepala keluarga meninggal maka karyawan lain dipilih lagi menjadi kepala. Roh kepala keluarga tersebut akan dipuja sehingga kelak bisa menjadi dewa keluarga atau Ie tersebut. Apabila keluarga tersebut tetap berlangsung, maka pemujaan roh-roh yang mati dari keluarga tersebut akan tersu berlangsung.

Bagi masyarakat Jepang dikenal juga roh-roh gentayangan yang disebut dengan istilah muenbotoke, adalah roh-roh yang tidak mempunyai keluarga sehingga tidak ada yang memberikan pemujaan terhadap rohnya, orang yang mati bunuh diri, orang yang dendam, serta orang-orang yang mati karena kekerasan, roh-roh yang mati tersebut akan terus berada dalam kondisi kotor sehingga menjadi roh gentayangan.Namun meskipun muenbotoke tersebut tidak mendapat upacara-upacara penyembahan dari keluarganya, dalam tradisi masyarakat Jepang dikenal adanya upacara Obon (bon Matsuri). Dalam perayaan ini setiap keluarga memberikan makanan dan minuman juga pembacaan-pembacaan doa agar roh-roh gentayangan tersebut tidak menganggu persembahan yang persembahan yang mereka berikan kepada roh-roh leluhur mereka. Dan pada waktu Higanatau Ziarah , pada waktu itu didirikan altar bagi roh-roh gentayangan tersebut di pintu-pintu kuil.

Menurut Ito kenji ( dalam Situmorang 2001:103) dikatakan bahwa ada 3 jenis jenjang peyembahan leluhur dalam Ie, penyembahan leluhur kaisar,

penyembahan leluhur desa atau wilayah, dan penyembahan leluhur keluarga. Untuk satu keluarga ada leluhur keluarga, untuk satu desa ada penyembahan roh leluhur desa /wilayah (Ubusunagami), dan untuk satu bangsa dilakukanpenyembahan terhadap dewa bangsa yaitu Amaterasu omikami.“Namun bagi masyarakat Jepang dewasa ini pemujaan terhadap leluhur hanya dilakukan di dalam keluarga saja” (Situmorang,2001:103).

Pemujaan leluhur merupakan suatu wujud pengabdian seseorang terhadap leluhurnya .pemujaan leluhur menjadi suatu wujud rasa terima kasih dan ucapan syukur atas berkat yang selama ini sudah diterima.Pemujaan leluhur merupakan satu bentuk permohonan akan keselamatan, perlindungan bagi anggota keluarga yang masih hidup dalam kehidupan mereka sehari-hari agar terhindar dari gangguan dan malapetaka. Oleh karena itu sangat penting bagi orang Jepang terjaminnya kelanjutan kesinambungan pemujaan leluhur antara generasi ke generasi selanjutnya.

Dalam dokumen Fungsi Matsuri dalam Perusahaan Jepang (Halaman 29-34)

Dokumen terkait