Penulis dilahirkan di Purwokerto pada tanggal 21 November 1989 dari ayah Sukandar dan ibu Sunaryati. Penulis adalah putri kedua dari dua bersaudara. Tahun 2007 penulis lulus dari SMA N 5 Purwokerto dan pada tahun yang sama penulis lulus seleksi masuk Universitas Jenderal Soedirman melalui jalur undangan dan diterima di Fakultas Biologi. Tahun 2011 penulis lulus dari Universitas Jenderal Soedirman dan melanjutkan studi strata dua di Sekolah Pascasarjana IPB melalui jalur Beasiswa Unggulan Calon Dosen yang diberikan oleh Dirjen Pendidikan Tinggi (DIKTI).
Selama studi strata satu, penulis mengikuti seminar nasional seperti seminar nasional biodiversitas dan bioteknologi tahun 2010. Penulis juga pernah menjadi asisten mata kuliah seperti aplikasi komputer, apikultur, ekologi magrove, biologi gulma dan pengendalian hayati. Selain itu penulis juga aktif dalam berbagai aktivitas kemahasiswaan. Penulis pernah menjadi bendahara umum Himpunan Mahasiswa Bio-Symphoni (HMBS) pada tahun 2009. Selama jenjang strata dua, penulis mengikuti seminar yang dilaksanakan di IPB seperti seminar perubahan iklim yang diadakan oleh Kementrian Lingkungan Hidup.
Ekosistem mangrove tergolong ekosistem yang unik. Ekosistem mangrove merupakan salah satu ekosistem dengan keanekaragaman hayati tertinggi di daerah tropis. Selain itu, mangrove juga merupakan ekosistem utama di perairan estuarin yang memiliki sumber daya hayati dan dapat dimanfaatkan oleh masyarakat untuk menunjang kehidupan serta kesejahteraannya (Tis’in, 2008). Ekosistem ini memiliki beberapa fungsi diantaranya fungsi ekologis, fisik dan ekonomi. Ditinjau dari fungsi ekologis berperan sebagai daerah nursery, spawning dan feeding ground beberapa biota laut sekaligus sebagai tempat persinggahan burung. Secara fisik, ekosistem mangrove sebagai penjaga garis pantai (abrasi), penahan angin dan penangkap zat tercemar. Ekosistem mangrove digunakan sebagai sumber bahan baku beberapa produk (kayu arang, bahan bangunan, kertas, makanan dan obat-obatan) merupakan beberapa contoh fungsi mangrove dari segi ekonomi (Gunarto, 2004). Salah satu ekosistem mangrove yang potensial di Pulau Jawa adalah kawasan ekosistem mangrove Segara Anakan.
Segara Anakan terletak di Pantai Selatan Pulau Jawa. Secara administratif masuk dalam wilayah kecamatan Kampung Laut Kabupaten Cilacap dengan koordinat 07º34’29.42” - 07º47’32.39” LS dan 108º46’30.12” - 109º03’21.02” BT (Ardli et al., 2010). Wilayah ini termasuk ke dalam DAS Segara Anakan yang merupakan bagian hilir dari sungai Citanduy. Berdasarkan PERDA no. 6 tahun 2001 tentang Tata Ruang Kawasan Segara Anakan, kawasan tersebut dibagi menjadi kawasan lindung, kawasan penyangga dan kawasan budidaya (Hartati et al., 2005). Bila dipandang dari prespektif lingkungan hidup, Segara Anakan sangat unik karena terdiri dari laguna berair payau, hutan mangrove dan lahan dataran rendah yang dipengaruhi pasang surut (BPKSA, 2007). Kondisi ini menjadi potensial bagi berbagai spesies ikan, udang, kepiting dan biota lain untuk memijah dan mencari makan. Salah satu biota yang hidup dalam ekosistem mangrove adalah Polymesoda erosa.
P. erosa merupakan anggota filum Molluska kelas Bivalvia yang hidup di ekosistem mangrove. Kerang ini banyak dijumpai di hutan mangrove Indo-Pasifik Barat mulai dari India, Malaysia, Indonesia, Thailand, Vietnam, Burma, Philipina (Morton, 1984), Costa Rica, Amerika Selatan (Campos et al.,1998) dan Australia Utara. P. erosa pada wilayah Indonesia dilaporkan terdapat di hutan mangrove Papua, Makasar (Dwiono, 2003), Pulau Lombok dan mangrove Segara Anakan Cilacap, Jawa Tengah (Widowati et al., 2005). Kerang ini hidup di habitat yang berlumpur. Selain itu P. erosa dikenal oleh masyarakat sekitar Segara Anakan sebagai kerang totok yang hidup di hutan mangrove.
P. erosa mempunyai nilai ekonomi dan ekologi bagi kehidupan. Masyarakat sekitar Segara Anakan memanfaatkan daging kerang ini sebagai sumber pangan yang memiliki nilai gizi. Kebanyakan masyarakat mengolah kerang sebagai lauk masakan khas setempat. Khasanah et al., (2010) menyebutkan bahwa kerang totok ukuran 6.0 – 6.9 cm mengandung rata-rata nilai protein hewani 55.96% dan lemak 6.53%. Secara ekonomi, kerang ini juga tergolong potensial. Nelayan di kawasan mangrove Segara Anakan dalam satu hari (06:00 – 15:00) dapat menangkap + 200 kg kerang totok dan menjualnya Rp 5.000 sampai Rp 6.000 per kg di wilayah
Cilacap. Pemasaran kerang ini juga merambah hingga ke daerah Jawa Barat seperti Ciamis (Kresnasari, 2010). Oleh karena itu dapat dikatakan bahwa konsumsi masyarakat akan kerang ini cukup tinggi. Kemungkinan frekuensi penangkapan ataupun eksploitasi kerang totok menjadi tinggi. Penangkapan yang dilakukan oleh masyarakat tentunya tidak pernah memperhatikan ukuran maupun komposisi dari kerang. Akibatnya kerang yang masih dalam tahap tumbuh ataupun memijah menjadi ikut tertangkap. Kondisi tersebut memungkinkan mempengaruhi populasi kerang pada saat ini atau masa mendatang. Kekhawatiran ini menjadi mungkin karena minimnya data kondisi biologi dan lingkungan dari P. erosa sehingga sulit untuk melakukan pengelolaan kerang ini.
Menurunnya kondisi kawasan mangrove Segara Anakan sebagai habitat dari P. erosa juga merupakan aspek yang dapat mempengaruhi keberadaan kerang. Degradasi habitat disebabkan oleh adanya beberapa faktor diantaranya sedimentasi, eksploitasi sumberdaya, konversi dan penebangan mangrove, migrasi penduduk serta faktor lain seperti belum terintegrasinya semua stakeholder dalam pengelolaan kawasan Segara Anakan (Ardli dan Widyastuti, 2001; BPKSA, 2003; Yuwono et al., 2007; Ardli dan Wolff, 2008). Menurut BPKSA (2007) jumlah lumpur yang masuk ke wilayah Segara Anakan melalui DAS yang bermuara di laguna Segara Anakan diperkirakan mencapai 7 juta m3 per tahun yang dibawa ketiga sungai besar yaitu sungai Citanduy mencapai 5 juta m3, sungai Cimeneng 0.4 juta m3, dan Cikonde 1.2 juta m3. Laju sedimentasi tersebut tergolong cepat karena penurunan luas laguna Segara Anakan dari tahun 1984 – 2010. Menurut Kresnasari (2010), luas laguna Segara Anakan tahun 1984 mencapai 2.906 ha, sedangkan pada tahun 2010 hanya mencapai + 700 Ha. Selain itu untuk luas mangrove Segara Anakan menurut Ardli dan Wolff (2008) pada tahun 1987 mencapai 15827.6 ha, tahun 1995 mencapai 10974.6 ha, tahun 2004 mencapai 9271.6 ha dan tahun 2006 mencapai 9237.8 ha. Secara keseluruhan dari tahun ke tahun luas mangrove Segara Anakan mengalami penurunan.
Indikasi degradasi ekosistem mangrove dapat diukur dari penurunan luas hutan. Penurunan luas terjadi karena secara fisik dan perkembangan tumbuhan mangrove menjadi tidak memungkinkan. Berkurangnya luas dapat diakibatkan oleh laju sedimentasi tinggi, abrasi ataupun perubahan fisik lahan akibat intervensi manusia (Buana Katulistiwa, 2002). Menurut Ardli et al. (2008), penurunan luas mangrove di Segara Anakan dari tahun 1996 – 2007 terjadi sangat signifikan dan tergantikan dengan adanya lahan persawahan. Ekosistem mangrove yang terus menerus mengalami tekanan akan berakibat bagi biota yang terdapat di dalamnya. Salah satunya adalah P. erosa yang hidup di ekosistem mangrove Segara Anakan. Degradasi mangrove yang ditimbulkan dapat menyebabkan menurunnya populasi P. erosa dan memungkinkan merubah ataupun terputusnya rantai makanan pada ekosistem tersebut. Menurut penelitian Pribadi tahun 2003, kerang totok di kawasan mangrove Segara anakan mencapai 10.48 ind/m2. Lain halnya dengan penelitian yang dilakukan Widowati et al. pada tahun 2005, kerang totok hanya mencapai 9.7 ind/m2. Penelitian Listyaningsih et al. pada tahun 2011 menyatakan kepadatan P. erosa mencapai 6.53 ind/m2. Hal ini menunjukan penurunan populasi yang terjadi pada kerang ini. Kondisi ekosistem mangrove yang rusak total dapat menyebabkan P. erosa menurun tentunya dengan perubahan kondisi lingkungan yang drastis. Hal ini tentunya berpengaruh pada kelangsungan hidup mahluk lain yang ikut berinteraksi di dalamnya. Bila kondisi lingkungan menjadi
tidak normal, maka manusia juga akan mengalami dampaknya berupa tidak tersedianya sumber protein hewani yang biasa mereka konsumsi. Pengetahuan mengenai kajian keterkaitan degradasi ekosistem mangrove dengan kondisi P. erosa di Segara Anakan, Cilacap diperlukan.
Perumusan Masalah
Berbagai peristiwa alam dan prilaku manusia yang tentunya akan mengubah tatanan kehidupan di ekosistem mangrove Segara Anakan. Hal ini dikenal dengan degradasi. Degradasi dapat terjadi secara cepat maupun lambat. Proses degradasi yang terjadi secara cepat merupakan kondisi dimana seluruh komponen penyusun ekosistem (hewan dan vegetasi) mati, hilang ataupun rusak total (Wibisono dan Suryadiputra, 2006).
Degradasi yang terjadi terus-menerus di ekosistem mangrove Segara Anakan dapat menyebabkan perubahan kondisi dari ekosistem tersebut. Tentunya hal ini berpengaruh juga terhadap P. erosa karena kerang ini bergantung pada kondisi mangrove sebagai habitat dan tempat mencari makanan. Penurunan populasi hingga ancaman kepunahan dapat terjadi bila degradasi berlangsung dalam kurun waktu tertentu. Hal ini diperparah dengan adanya penangkapan dari masyarakat sekitar. Masyarakat menangkap kerang P. erosa tanpa memperhatikan ukuran ataupun bobot dari kerang tersebut karena kerang ini memiliki nilai ekonomis yang cukup tinggi. Selain itu kandungan gizi yang dimilikinya ataupun menjadi komoditi penting. Cangkangnya dapat dimanfaatkan sebagai bahan kerajinan (Kresnasari, 2010). Oleh karena itu penelitian mengenai kondisi populasi P. erosa dan keterkaitan dengan degradasi ekosistem mangrove perlu dilakukan.
Tujuan dan Manfaat Penelitian
Tujuan umum penelitian ini adalah mengkaji kondisi populasi P. erosa dan mengalisa keterkaitannya dengan degradasi ekosistem mangrove yang terjadi di Segara Anakan, Cilacap. Secara khusus tujuan penelitian ini adalah:
1. Mengkaji degradasi mangrove yang terjadi di Segara Anakan, Cilacap.
2. Mengkaji kondisi populasi P. erosa di ekosistem mangrove Segara Anakan, Cilacap.
3. Menganalisis keterkaitan antara populasi P. erosa dengan degradasi ekosistem mangrove yang terjadi di Segara Anakan, Cilacap.
4. Mengkaji pemanfaatan P. erosa di ekosistem mangrove Segara Anakan, Cilacap.
Manfaat dari penelitian ini adalah untuk pengelolaan dalam upaya memperbaiki lingkungan dan populasi P. erosa di ekosistem mangrove Segara Anakan, Cilacap.
Kerangka Pikir
Salah satu fungsi ekosistem mangrove adalah sebagai habitat (spawning, nursery, dan feeding ground) bagi biota yang hidup di dalamnya. Salah satunya yaitu P. erosa yang memiliki peran cukup penting di ekosistem mangrove. Selain bermanfaat bila dipandang dari segi ekologis, kerang ini juga memiliki nilai ekonomis dengan memanfaatkannya sebagai bahan makanan dan berbagai kerajinan tangan. P. erosa digunakan sebagai bahan makanan karena kerang ini mengandung protein yang cukup tinggi. Manfaat sebagai pemenuh kebutuhan gizi bagi masyarakat seiring dengan harga yang terjangkau sehingga kerang ini banyak dicari oleh masyarakat daerah lain. Atas dasar inilah masyarakat sekitar ekosistem mangrove Segara Anakan mulai memiliki kebiasaan mengambil P. erosa tanpa memperhatikan prinsip kelestariannya. Pemenuhan permintaan kerang P. erosa yang mengandalkan dari stok alami saja dapat menimbulkan penurunan populasi karena terlalu banyak pengambilan oleh masyarakat sekitar. Hal ini terjadi ketika kondisi habitat dari P. erosa mengalami degradasi yang tentunya mempengaruhi kondisi kehidupan kerang itu sendiri.
Proses pertumbuhan dan perkembangan yang baik dari P. erosa membutuhkan kondisi habitat yang normal dan mendukung. Berbagai elemen dari ekosistem mangrove yang dapat mendukung terdiri dari vegetasi mangrove (kerapatan, komposisi dan sebaran), kualitas perairan dan substrat yang mendukung. Kondisi yang terjadi di Segara Anakan adalah sebaliknya. Degradasi yang terjadi memungkinkan memperparah kondisi dari populasi P. erosa. Degradasi yang terjadi di Segara Anakan berupa adanya sedimentasi serta penurunan luas hutan mangrove. Kondisi lingkungan suatu organisme sangat mempengaruhi aspek biologi (pertumbuhan, kelimpahan dan sebaran) dari organisme itu sendiri. Adanya upaya melakukan kajian mengenai keterkaitan kondisi mangrove yang terdegradasi dengan status populasi P. erosa di Segara Anakan diharapkan dapat dijadikan bahan referensi bagi pengelolaan sember daya P. erosa secara berkelanjutan. Keseluruhan pemikiran ini tertuang dalam kerangka pemikiran dan secara skematis dapat dilihat pada Gambar 1.1.
Gambar 1.1. Kerangka pemikiran kajian degradasi ekosistem mangrove terhadap populasi P. erosa di Segara Anakan, Cilacap
Ekosistem Mangrove Segara Anakan, Cilacap
Populasi P. erosa
Aktivitas Penangkapan Degradasi Mangrove
Kondisi Populasi P. erosa
Parameter Lingkungan Parameter Biologi
Mangrove (komposisi, kerapatan, sebaran) Kualitas Perairan (fisika- kimia) Kualitas substrat (fisika- kimia) Pertumbuhan: Kelimpahan dan ukuran Sebaran Spasial Sebaran Umur Analisis Keterkaitan Populasi P. erosa dengan
Kondisi ekosistem mangrove
Hasil Penelitian
Rekomendasi Pengelolaan
Sistematika, Morfologi dan Anatomi
P. erosa merupakan salah satu spesies kerang yang hidup di dalam lumpur pada daerah estuari, di hutan mangrove air payau dan di sungai – sungai besar. Kerang ini tersebar di wilayah Indopasifik barat yaitu dari India sampai Vanuatu, Utara sampai Selatan Kepulauan Jepang dan Selatan. Wilayah Indonesia selain di Kalimantan Barat, kerang ini juga terdapat di Segara Anakan dan Irian Jaya (Poutiers, 1988). Kerang ini tergolong dalam kelas bivalvia (Pelecypoda) dan termasuk ke dalam filum molluska. Alasan bivalvia juga dapat disebut Pelecypoda karena jaringan kakinya berbentuk seperti kapak. Berikut merupakan klasifikasi P. erosa:
Phylum : Mollusca Classis : Bivalvia Sub Classis : Euheterodonta Ordo : Veneroida Familia : Corbiculidae Genus : Polymesoda
Species : Polymesoda erosa (Solander, 1786)
Ciri khas dari hewan ini yaitu memiliki dua cangkang dikedua sisinya dengan engsel di bagian dorsalnya. Cangkang ini memiliki fungsi utama sebagai pelindung tubuh dari serangan predator, lingkungan dan mengatur aliran air yang masuk ke dalam insang. Jaringan tubuh yang terlindungi oleh cangkang memiliki organ yang disebut mantel. Mantel ini melekat pada bagian dalam cangkang dengan bantuan otot yang ditandai dengan bekas lengkungan yang disebut pallial line. Bentuk tubuh dari kerang ini tergolong simetris bilateral (Romimohtarto dan Juwana, 2009).
P. erosa memiliki insang sebagai organ respirasi. Insang terdapat pada jaringan mantel yang terletak di bagian sisi kaki (Kastawi, 2005). Sistem sirkulasi dari kerang ini terdiri dari jantung yang terbagi menjadi dua bagian aurikel dan sebuah ventrikel. Ventrikel terdiri dari aorta anterior yang berfungsi menyalurkan darah ke jaringan kaki, lambung dan mantel. Aorta posterior menyalurkan darah ke rektum dan mantel. Pertukaran oksigen yang terjadi di insang dibantu oleh darah untuk diproses menuju jantung. Organ pencernaan kerang ini terdiri dari mulut, esofagus, lambung dan usus. Makanan yang didapatkan dari insang akan diseleksi. Habitat P. erosa yang terdapat di daerah pasang surut menyebabkan kegiatan mencari makan dipengaruhi oleh gerakan pasang surut air. Sewaktu pasang, kerang ini aktif menyaring makanan yang melayang dalam air sedangkan pada masa surut, kegiatan ini menurun (Maulana, et al., 2010). Suspension feeder merupakan cara yang digunakan P. erosa untuk memperoleh makanan. Bila dilihat dari cara hidupnya membenamkan diri di dalam substrat, maka dipastikan bahan organik yang terdapat di sekitar perairan akan ikut terserap (Dwiono, 2003). Menurut Hari (1999), makanan utama P. erosa 40% terdiri dari plakton dan detritus.
Sistem saraf dari P. erosa terdiri dari tiga ganglion yang tersebar di bagian kaki, otot dan esofagus. Selain itu pada bagian mantel terdapat urat yang dapat
merespon rangsang kimia. Sel berpigmen merupakan sistem indra dari kerang ini. Sel ini berbentuk cangkir dengan lensa tembus pandang dan terdapat pada sisi kanan kiri benang insang. Sel ini hanya merespon perubahan cahaya (Romimohtarto dan Juwana, 2009).
Sistem reproduksi dari kerang ini bersifat diocius yang berarti setiap kelamin memiliki gonad. Perkembangan gonad tergantung pada fase dari daur kelamin saat itu. Kematangan kelamin tercapai hingga umur tiga tahun. Gonad jantan berwarna susu sedangkan betina berwarna oranye. Proses pembuahan terjadi pada perairan terbuka.
Umur, Kelimpahan dan Pertumbuhan
Umur P. erosa dapat diketahui dengan melihat lingkar tahun yang terdapat pada cangkang. Pengukuran umur dapat dilakukan dengan menghitung banyaknya lingkar tahun yang ada. Pengukuran lain yang lebih akurat dapat dilakukan dengan menggunakan sinar X, radioisotop dan penanda tetracycline (Ramesh et al., 2009). Metode pengukuran dengan menghitung banyaknya lingkar tahun terkandang terkendala oleh hilangnya sebagian besar garis pertumbuhan akibat terkikis oleh kondisi lingkungan. Faktor lain yang mempengaruihi garis pertumbuhan sebagai penentu umur adalah musim, temperatur, makanan dan salinitas.
Kelimpahan dipengaruhi oleh pertumbuhan populasi, interaksi antar spesies dan pengaturan populasi secara alami. Interaksi dapat berupa kompetisi dan predasi. Kedua interaksi ini memungkinkan terjadinya hilangnya suatu bentuk populasi (Nyabakken, 1992). Hal ini dapat terjadi dalam hal perebutan makanan, tempat tinggal dan reproduksi.
Pertumbuhan identik dengan peningkatan jumlah dan ukuran sel yang terjadi pada seluruh jaringan dan organ. Pertumbuhan yang terjadi pada setiap organ tidak sama satu dengan yang lainnya. Hal ini terjadi pada P. erosa yaitu pertumbuhan cangkang tidak selalu sebanding dengan pertumbuhan beratnya. Ini yang menyebabkan kerang memiliki variasi pertumbuhan yang cukup unik baik isometrik maupun allometrik (Natan, 2008). Sesuai dengan data penelitian Listyaningsih et al. (2011) menyebutkan bahwa P. erosa di Segara Anakan memiliki pola pertumbuhan allometrik, mengelompok dan didominasi individu betina.
Pertumbuhan dapat terjadi bila ada kelebihan input energi dan asam amino yang berasal dari makanan (Yuwono, 2001). Pertumbuhan cangkang pada P. erosa dipengaruhi oleh ketersediaan kalsium karbonat. Faktor yang mempengaruhi pertumbuhan P. erosa dapat berupa faktor internal dan eksternal. Faktor internal dapat berupa keturunan, jenis kelamin dan umur sedangkan faktor eksternal dapat berupa makanan dan kondisi lingkungan (Panggabean, 2007).
Habitat
P. erosa hidup di ekosistem mangrove yang memiliki substrat liat berpasir, dapat bertahan pada kondisi pH yang rendah dan fluktuasi salinitas yang tinggi. Akibat dari kondisi lingkungan yang berfluktuasi menyebabkan cangkang kerang ini mengalami pengikisan. Vegetasi mangrove yang mendukung pola hidup kerang ini antara lain Derris trifoliata, Achantus illicifolius dan Rhizophora sp.
Kondisi temperatur toleran untuk kerang ini yaitu 0– 40 oC. Selain itu kondisi lain yang mempengaruhi hidup kerang ini adalah kandungan bahan organik dan oksigen. Bila berbagai faktor di atas sebagai habitat berada di luar range hidup dari P. erosa akan dapat mempengaruhi pola pertumbuhan dari kerang itu sendiri (Bahtiar, 2005).
Ekosistem Mangrove
Kata mangrove berasal dari bahasa Portugis yaitu mangue dan bahasa Inggris grove. Dalam bahasa Inggris, kata mangrove digunakan untuk komunitas hutan atau semak yang tumbuh dipantai/pulau walaupun beberapa spesies lain berasosiasi didalamnya. Sedangkan dalam bahasa Portugis mangrove untuk 18 spesies secara individu dan untuk komunitas hutan yang terdiri dari spesies mangrove (Tomlinson, 1994).
Ekosistem mangrove sering dijumpai di sepanjang estuaria daerah tropis dan subtropis. Interaksi antara ekosistem mangrove, lamun dan terumbu karang dengan lingkungannya mampu menciptakan suatu kondisi perairan yang cocok untuk berlangsungnya proses biologi dan menguntungkan berbagai macam organisme akuatik. Daerah mangrove juga memegang kunci dalam perputaran nutrien sehingga eksistensinya dapat berperan menopang dan memberikan tempat hidup bagi biota laut (Pramudji, 2007).
Ekosistem mangrove disebut juga dengan hutan pasang surut karena hutan ini secara teratur atau selalu digenangi air laut, atau dipengaruhi oleh pasang surut air laut dan terdapat didaerah litoral yaitu daerah yang berbatasan dengan darat. Ekosistem hutan ini juga disebut ekosistem hutan payau karena terdapat didaerah payau dengan salinitas antara 0,5 % dan 30 % (Indriyanto, 2006). Surat keputusan yang dikeluarkan oleh Direktorat Jenderal Kehutanan No. 60/Kpts/DJ/1978, yang dimaksud dengan hutan mangrove adalah tipe hutan yang terdapat disepanjang pantai atau muaranya sungai yang dipengaruhi oleh pasang surut air laut. Sebagian masyarakat hutan mangrove disebut juga hutan bakau, namun menurut Khazali (1999) penyebutan mangrove sebagai bakau nampaknya kurang tepat karena bakau merupakan salah satu nama kelompok spesies tumbuhan yang ada di mangrove.
Ekosistem ini bersifat kompleks dan dinamis, namun labil. Dikatakan kompleks karena ekosistemnya di samping dipenuhi oleh vegetasi mangrove, juga merupakan habitat berbagai satwa dan biota perairan. Jenis tanah yang berada di bawahnya termasuk tanah perkembangan muda (saline young soil) yang mempunyai kandungan liat yang tinggi dengan nilai kejenuhan basa dan kapasitas tukar kation yang tinggi. Kandungan bahan organik, total nitrogen, dan ammonium termasuk kategori sedang pada bagian yang dekat laut dan tinggi pada bagian arah daratan (Kusmana, 1994). Bersifat dinamis karena hutan mangrove dapat tumbuh dan berkembang terus serta mengalami suksesi sesuai dengan perubahan tempat tumbuh alaminya. Labil karena mudah sekali rusak dan sulit untuk pulih kembali seperti sediakala (Anwar dan Hendra, 2007).
Banyak spesies mangrove yang berbeda di dunia. Tercatat telah dikenali sebanyak sampai dengan 24 familia dan antara 54 sampai dengan 75 spesies, tentunya tergantung kepada pakar mangrove yang mana pertanyaan kita tujukan (Tomlinson, 1994). Asia merupakan daerah yang paling tinggi keanekaragaman dan spesies mangrovenya. Thailand memiliki 27 spesies mangrove, di Ceylon ada
32 spesies, dan sebanyak 41 spesies di Filipina. Benua Amerika hanya memiliki sekitar 12 spesies mangrove. Indonesia memiliki spesies tidak kurang dari 89 spesies mangrove. Menurut FAO terdapat sebanyak 37 spesies. Berbagai spesies mangrove tersebut hidup di daerah pasang surut, tahan air garam dan berbuah vivipar terdapat sekitar 12 familia (Irwanto, 2006).
Irwanto (2006) menyatakan bahwa sekian banyak spesies mangrove di Indonesia, mangrove yang banyak ditemukan antara lain adalah spesies api-api (Avicennia sp.), bakau (Rhizophora sp.), tancang (Bruguiera sp.), dan bogem atau pedada (Sonneratia sp.). Spesies ini merupakan tumbuhan mangrove utama yang banyak dijumpai. Spesies mangrove tersebut tergolong kelompok mangrove yang menangkap, menahan endapan dan menstabilkan tanah habitatnya.
Mangrove sendiri merupakan sumberdaya yang dapat dipulihkan (renewable resources) dan menyediakan berbagai jenis produk (produk langsung dan produk tidak langsung). Pelayanan lindungan lingkungan seperti proteksi terhadap abrasi, proteksi lahan daratan pesisir dari tiupan angin kencang dan arus gelombang laut, menstabilisasi substrat/sedimen, proteksi terumbu karang dari suspensi koloid tanah dalam air, pengendali intrusi air laut, mengurangi tinggi dan kecepatan arus gelombang tsunami, pembersih air dari pencemaran polutan, dan tempat rekreasi. Semua sumberdaya dan jasa lingkungan tersebut disediakan secara gratis oleh ekosistem mangrove. Mangrove menyediakan berbagai jenis produk dan jasa yang berguna untuk menunjang keperluan hidup penduduk pesisir dan berbagai kegiatan ekonomi, baik skala lokal, regional, maupun nasional serta sebagai penyangga sistem kehidupan masyarakat sekitar hutan. Semua fungsi mangrove tersebut akan tetap berlanjut bila keberadaan ekosistem mangrove dapat dipertahankan dan pemanfaatan