E. Analisis Data
1. Riwayat Hidup dan Karier M. Quraish Shihab
H. M. Quraish Shihab lahir tanggal 16 Februari 1944 di Rapang, Sulawesi Selatan. Ayahnya bernama Abdurrahman Shihab adalah keturunan Arab yang terpelajar, dan menjadi ulama sekaligus guru besar tafsir di IAIN Alauddin, Ujung Pandang. Sebagai seorang yang berfikiran maju, Abdurrahman percaya bahwa pendidikan adalah merupakan agen perubahan. Sikap dan pandangannya yang demikian maju itu dapat dilihat dari latar
belakang pendidikannya, yaitu Jami’atul Khair. Dan Jami’atul Khair itu
adalah sebuah lembaga pendidikan Islam tertua di Indonesia. Murid-murid yang belajar di lembaga ini diajari tentang gagasan-gagasan pembaruan gerakan dan pemikiran Islam. Hal ini terjadi karena lembaga ini memiliki hubungan yang erat dengan sumber-sumber pembaruan di Timur Tengah seperti Hadramaut, Haramain dan Mesir. Banyak guru-guru didatangkan ke lembaga tersebut, diantaranya Syaikh Ahmad Soorkati yang berasal dari
Sudan, Afrika.1
Quraish Shihab menyelesaikan sekolah dasarnya di kota Ujung Pandang. Ia kemudian melanjutkan sekolah menengahnya di kota Malang sambil belajar agama di Pesantren Dar al-Hadist al-Fiqhiyah. Pada tahun 1958, ketika berusia 14 tahun, ia berangkat ke Kairo, Mesir untuk melanjutkan studi, dan diterima di kelas II Tsanawiyah Al-Azhar.
Selanjutnya pada tahun 1967, pada usia 23 tahun, ia berhasil
mengambil gelar Lc (Lince) atau setingkat dengan Sarjana Strata Satu, pada
Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir dan Hadits Universitas al-Azhar Kairo, dan kemudian melanjutkan studinya pada fakultas yang sama. Dua tahun
berikutnya, ia berhasil meraih gelar M.A (Master of Art) dalam spesialisasi
1 Abuddin Nata, Tokoh-Tokoh Pembaharuan Pendidikan Islam di Indonesia, (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada , 2005), h. 362.
pada bidang Tafsir al-Qur’an, dengan tesis berjudul ”al-I’jaz al-Tasyri Li al-Qur’an Al-Karim”. Pilihan untuk menulis tesis kemu’jizat al-Qur’an ini bukanlah suatu kebetulan, tetapi didasarkan pada pengamatannya terhadap
realitas masyarakat muslim. Menurutnya, gagasan tentang kemu’jizatan al
-Qur’an di kalangan masyarakat muslim telah berkembang sedemikian rupa
sehingga sudah tidak jelas lagi, apa itu mu’jizat dan apa itu keistimewaan al
-Qur’an. Mu’jizat dan keistimewaan al-Qur’an menurut Quraish Shihab
merupakan dua hal yang berbeda, tetapi keduanya masih sering
dicampuradukkan bahkan oleh kalangan ahli tafsir sekalipun.2
Setelah menyelesaikan studinya dengan gelar M.A tersebut, untuk sementara ia kembali ke Ujung Pandang. Dalam kurun waktu lebih sebelas tahun (1969-1980) ia terjun ke berbagai aktivitas sambil menimba pengalaman empirik, baik dalam bidang kegiatan akademik di IAIN Alauddin maupun di berbagai institusi pemerintah setempat. Dalam masa menimba pengalaman dan karier ini, ia terpilih sebagai Pembantu Rektor III IAIN Ujung Pandang. Selain itu ia juga terlibat dalam pengembangan pendidikan perguruan tinggi swasta wilayah Timur Indonesia dan diserahi tugas sebagai koordinator wilayah, dan juga aktif di luar kampus seperti Pembantu Pimpinan Kepolisian Indonesia Timur dalam bidang pembinaan
mental.3 Di tengah-tengah kesibukannya itu, ia juga aktif melakukan
kegiatan ilmiah yang berbasis kesarjanaannya.4
Selama masa karirnya sebagai dosen pada periode pertama di IAIN Alauddin Ujung Pandang, Quraish Shihab telah melakukan beberapa
penelitian, antara lain penelitian tentang “Penerapan Kerukunan Hidup
Beragama di Indonesia Timur” (1975) dan “Masalah Wakaf Sulawesi Selatan” (1978).5 Selama periode pertama tugasnya sebagai staf pengajar di
2 M. Quraish Shihab, Mu’jizat Al-Qur’an Ditinjau dari Aspek Kebahasaan, Isyarat Ilmiah dan
Pemberitaan Gaib, (Bandung: Mizan, 2001), h. 2.
3 M. Quraish Shihab, Membumikan Al-Qur’an; Fungsi dan Peran Wahyu dalam Kehidupan Masyarakat, (Bandung: Mizan, 1997), Cet. XV
4 Abuddin Nata, op. cit,. h. 363. 5 M. Quraish Shihab, op. cit,.
IAIN Alauddin Ujung Pandang, Quraish Shihab belum menunjukkan produktivitas yang tinggi dalam melahirkan karya tulis.
Pada tahun 1980, H.M. Quraish Shihab kembali ke Mesir untuk melanjutkan studinya di Program Pascasarjana Fakultas Ushuluddin Jurusan Tafsir Hadist, Universitas Al-Azhar. Pada 1982, dengan disertasi
berjudul Nazhm Al-Durar li Al-Biqa’iy, Tahqiq wa Dirasah, dia berhasil
meraih gelar doktor dalam ilmu-ilmu Al-Qur’an dengan yudisium Summa
Cum Laude disertasi penghargaan tingkat I (Mumtaz ma’a Martabat al-Syaraf al-‘Ula).6
Tahun 1984 adalah babak baru tahap kedua bagi H.M.Quraish Shihab untuk melanjutkan kariernya. Untuk itu ia pindah tugas dari IAIN Ujung Pandang ke Fakultas Ushuluddin di IAIN Jakarta. Di sini ia aktif
mengajar bidang Tafsir dan Ulum al-Qur’an di Program S1, S2 dan S3
sampai tahun 1998. Di samping melaksanakan tugas-tugas pokoknya sebagai dosen, ia juga dipercaya menduduki jabatan sebagai Rektor IAIN Jakarta pada tahun 1992-1998, setelah itu ia dipercaya menduduki jabatan sebagai menteri Agama selama kurang lebih dua bulan di awal tahun 1998, hingga kemudian diangkat sebagai Duta Besar Luar Biasa dan Berkuasa Penuh Republik Indonesia untuk Negeri Republik Mesir merangkap Negara Republik Djibouti berkedudukan di Kairo.
Semenjak kehadiran H.M. Quraish Shihab di Ibukota Jakarta telah memberikan suasana baru dan disambut hangat oleh masyarakat. Hal ini terbukti dengan adanya berbagai aktivitas yang dijalankannya di tengah-tengah masyarakat. Di samping mengajar ia juga dipercaya untuk menduduki sejumlah jabatan. Diantaranya adalah sebagai Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI) Pusat (sejak 1984), anggota Lajnah Pentashih
al-Qur’an Departemen Agama (sejak 1989). Dia juga terlibat dalam beberapa
organisasi profesional; antara lain: Ilmu-ilmu Syari’ah; Pengurus
Konsorium Ilmu-ilmu Agama Departemen Pendidikan Asisten Ketua
6 Ibid.
Umum Ikatan Cendekiawan Muslim se-Indonesia (ICMI).7 Aktifitas
lainnya yang ia lakukan sebagai Dewan Redaksi Studi Islamika: Indonesia
Journal for Islamic Studies, Ulumul Qur’an, Mimbar Ulama, dan Refleksi Jurnal Kajian Agama dan Filsafat. Semua penerbitan ini berada di
Jakarta.8 Dan aktivitas utama sekarang adalah Dosen (Guru Besar)
Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Jakarta dan Direktur Pusat
Studi al-Qur’an (PSQ) Jakarta.9
Di samping kegiatan tersebut di atas, H.M. Quraish Shihab juga dikenal sebagai penulis dan penceramah yang handal. Berdasar pada latar belakang keilmuan yang kokoh yang ia tempuh melalui pendidikan formal serta ditopang oleh kemampuannya menyampaikan pendapat dan gagasan dengan bahasa yang sederhana, tetapi lugas, rasional dan kecenderungan pemikiran yang moderat, ia tampil sebagai penceramah dan penulis yang bisa diterima oleh semua lapisan masyarakat.
Dari latar belakang karir dan pendidikan seperti ini, nampak bahwa hal inilah yang menjadikannya seseorang yang mempunyai kompetensi yang cukup menonjol dan mendalam di bidang tafsir di Indonesia.