• Tidak ada hasil yang ditemukan

Dede Suhendra dilahirkan di Ciamis (Jawa Barat) pada tanggal 6 Febuari 1979 sebagai anak ketiga dari tiga bersaudara. Penulis mengawali pendidikan dasar di SD Negeri Pangandaran 5 (1986 – 1992). Penulis melanjutkan pendidikan di SMP Negeri 1 Pangandaran pada tahun 1992 – 1995, dan pada tahun 1995 – 1998 dilanjutkan di SMU Negeri 1 Ciamis. Selanjutnya penulis diterima di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan Institut Pertanian Bogor melalui jalur USMI (Undangan Seleksi Masuk IPB) pada tahun 1998, dan lulus pada tahun 2003).

Selama di IPB, penulis aktif dalam Himpunan Mahasiswa Manajemen Sumberdaya Perairan (HIMASPER), Fisheries Diving Club (FDC - IPB) dan Aquatic Mountain Zone (AMAZON). Penulis juga tercatat sebagai asisten luar biasa pada mata ajaran Biologi Perikanan dan Biologi Laut. Penulis juga banyak mengikuti kegiatan penelitian di dalam maupun di luar akademik. Kegiatan tersebut antara lain: Reef Check 2001 di Pangandaran (2001), monitoring terumbu karang di Daerah Perlindungan Laut (DPL) Pulau Sebesi, Lampung (2002), tergabung dalam team Ekspedisi Zooxantellae VI di Kepulauan Belitung (2002). Untuk menyelesaikan studi di Program Studi Manajemen Sumberdaya Perairan FPIK – IPB, penulis melakukan penelitian dengan judul “Studi Kondisi Ekosistem Terumbu Karang di Daerah Perlindungan Laut Pulau Sebesi, Lampung. Penulis dinyatakan lulus dan memperoleh gelar sarjana pada tanggal 17 Januari 2003.

Pada tahun 2003, penulis melanjutkan pendidikan pascasarjana pada Program Studi Ilmu Kelautan IPB. Selama menjadi mahasiswa pascasarjana, penulis aktif dalam berbagai kegiatan kemahasiswaan dan menjadi ketua umum Wahana Interaksi Mahasiswa Pascasarjana Ilmu Kelautan (WATERMASS) periode 2003/2004. Untuk menyelesaikan studi dan memperoleh gelar Magister Sains, penulis melakukan penelitian dengan judul ”Pengaruh Sedimentasi Terhadap Komunitas Karang Batu (Scleractinian Corals) di Kepulauan Derawan, Kalimantan Timur.

i

DAFTAR ISI

Halaman DAFTAR TABEL ... iv DAFTAR GAMBAR ... v DAFTAR LAMPIRAN ... vii

PENDAHULUAN ... 1 Latar Belakang ... 1 Tujuan dan Manfaat Penelitian ... 3 Hipotesis ... 3 Pendekatan Masalah ... 3

TINJAUAN PUSTAKA ... 7 Deskripsi Lokasi Penelitian ... 7 Administrasi dan kependudukan ... 7 Perekonomian ... 8 Kondisi iklim dan oseanografi ... 9 Sungai Berau ... 10 Terumbu Karang ... 11 Anatomi karang ... 11 Reproduksi karang ... 12 Alga simbion - zooxanthellae ... 13 Tipe-tipe terumbu karang ... 15 Sebaran dan faktor lingkungan ... 15 Bentuk pertumbuhan ... 17 Terumbu karang di Kepulauan Derawan ... 19 Sedimen ... 21 Karakteristik alami ... 21 Pengaruh sedimen terhadap terumbu karang ... 23 Adaptasi karang terhadap sedimen ... 24

ii BAHAN DAN METODE ... 26 Waktu dan lokasi penelitian ... 26 Peralatan yang digunakan ... 28 Tahapan Penelitian ... 28 Metode Pengambilan Data ... 29 Pengamatan terumbu karang ... 29 Pengamatan sedimen dan parameter kualitas air ... 30 Preparat histologis karang ... 31 Analisis Data ... 33 Persentase penutupan dan mortalitas karang batu ... 33 Padatan tersuspensi (TSS) ... 33 Analisis Sedimen ... 34 Pengelompokan jenis karang batu ... 35 Analisis Komponen Utama (PCA) ... 35 Analisis ragam (ANOVA) ... 36 Analisis regresi ... 36

HASIL DAN PEMBAHASAN ... 39 Parameter oseanografi ... 39 Suhu ... 39 Salinitas ... 40 Kecerahan ... 40 Padatan tersuspensi (TSS) ... 41 Nutrien ... 42 Arus permukaan ... 43 Sedimen ... 45 Analisis ukuran butir ... 45 Laju sedimentasi ... 48 Terumbu Karang ... 49 Persentase penutupan dan tingkat kematian karang batu ... 49 Analisis bentuk pertumbuhan karang batu ... 51 Analisis Komponen Utama (PCA) ... 57

iii Hubungan antara laju sedimentasi dengan karang batu ... 60 Pengelompokan spesies karang batu ... 62 Analisis Tingkat Jaringan ... 64

KESIMPULAN DAN SARAN ... 70 Kesimpulan ... 70 Saran ... 71

DAFTAR PUSTAKA ... 72 LAMPIRAN ... 76

iv

DAFTAR TABEL

Halaman 1 Jumlah penduduk dan pendapatan per kepala keluarga

di Kecamatan Derawan dan Maratua (Sumber: Profil Kepulauan

Derawan) ... 7 2 Kategori bentuk pertumbuhan karang (English et al. 1994) ... 18 3 Sepuluh spesies karang tertinggi yang ditemukan pada masing-masing

tipe komunitas (Turak, 2003). ... 20 4 Klasifikasi ukuran butir sedimen berdasarkan Skala Wentworth

(Dyer, 1986; Davis, 1993) ... 22 5 Posisi geografis stasiun penelitian ... 26 6 Peralatan dan metode yang digunakan untuk pengamatan

parameter perairan ... 28 7 Rerata dan standar deviasi parameter oseanografi pada

masing-masing stasiun pengamatan ... 39 8 Sebaran persentase fraksi sedimen pada masing-masing stasiun

pengamatan ... ... 46 9 Laju sedimentasi pada masing-masing stasiun pengamatan ... 48 10 Penutupan karang batu (%) pada masing-masing stasiun

pengamatan ... 50 11 Indeks mortalitas karang keras pada masing-masing stasiun

pengamatan ... 50 12 Uji taraf nyata (signifikansi) pada masing-masing stasiun

berdasarkan persentase penutupan karang batu (P<*0,05) ... ... 60 13 Densitas zooxanthellae pada spesimen karang Acropora formosa

v

DAFTAR GAMBAR

Halaman 1 Peta sebaran sedimen dari Sungai Berau menuju perairan

Kepulauan Derawan (Sumber: Citra Landsat ETM, 8 Juni 2001) ... 4 2 Kerangka konseptual pendekatan masalah ... 6 3 Anatomi karang (Veron, 2000) ... 12 4 Tipe-tipe terumbu karang (Sumber: Microsoft Encarta, 2006) ... 16 5 Variasi bentuk pertumbuhan Pocillopora damicornis di Great Barrier

Reef dalam kaitannya dengan lingkungan (Veron, 1995) ... 17 6 Peta stasiun pengamatan ... 27 7 Diagram alur tahapan penelitian ... 29 8 Metode pengambilan data karang dengan transek kuadrat ... 30 9 Pengukuran parameter oseanografi ... 31 10 Peta prediksi rata-rata bulanan arus dan suhu permukaan Laut

Sulawesi (sumber: TNC) ... 44 11 Karang batu yang mengalami kematian pada bagian tertentu

akibat sedimen ... 51 12 Grafik persentase penutupan karang batu di Stasiun 1 ... 52 13 Grafik persentase penutupan karang batu di Stasiun 2 ... 53 14 Penutupan sedimen pada bentuk Acropora tabulate di Stasiun 2 ... 54 15 Grafik persen penutupan karang batu di Stasiun 3 ... 54 16 Mekanisme pembersihan sedimen pada karang bentuk foliose

(Riegl et al, 1996) ... 55 17 Grafik persentase penutupan karang keras di Stasiun 4 ... 56 18 Zonasi berdasarkan distribusi sedimen dan bentuk pertumbuhan

vi 19 Grafik hasil analisis komponen utama (PCA): (a) korelasi antar

variabel. (b) distribusi individu (stasiun penelitian) pada

masing-masing kuadran ... 59 20 Grafik regresi antara (a). laju sedimentasi dengan persentase

penutupan karang batu, (b). laju sedimentasi dengan jumlah jenis

karang batu ... 61 21 Foto jaringan polip Acropora formosa (a: spesimen Acropora formosa;

b: jaringan perbrsaran.200x, c: perbesaran 400x). ... 68 22 Foto jaringan polip Porites cyllindrica (a: spesimen Porites cyllindrica;

vii

DAFTAR LAMPIRAN

Halaman 1 Bentuk pertumbuhan karang batu (English et al. 1994) ... 77 2 Peta TSM hasil interpretasi citra Sea Wifs (Sumber: TNC) ... 80 3 Hasil analisis Gradistat ... 82 4 Persentase penutupan karang dan biota penyusun substrat dasar

lainnya ... 84 5 Hasil pengolahan data dengan menggunakan PCA ... 86 6 Spesies karang yang ditemukan pada masing-masing stasiun ... 87 7 Hasil Cluster Analisis dengan menggunakan SPSS.10 ... 97 8 Profil terumbu karang di Stasiun 1... 103 9 Profil terumbu karang di Stasiun 2... 104 10 Profil terumbu karang di Stasiun 3... 105 11 Profil terumbu karang di Stasiun 4... 106

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Sebagai salah satu ekosistem pantai, terumbu karang memiliki peranan penting dan erat kaitannya dengan kehidupan masyarakat pesisir. Disadari maupun tidak, sebagian besar masyarakat pesisir menggantungkan perekonomian mereka pada sektor perikanan. Ekosistem terumbu karang hadir dengan keanekaragaman hayati yang cukup tinggi, baik keanekaragaman jenis biota karang sebagai penyusun utama ekosistem tersebut maupun keanekaragaman biota laut lainnya. Berbagai macam jenis ikan, Moluska, Krustasea, serta Ekhinodermata yang memiliki nilai ekonomis tinggi hidup berasosiasi dalam ekosistem tersebut. Biota laut ekonomis merupakan target utama penangkapan nelayan yang telah menghidupi mereka secara turun temurun.

Selain memiliki fungsi ekonomis, ekosistem terumbu karang juga memiliki fungsi secara ekologis. Fungsi ekologis ekosistem terumbu karang diantaranya adalah sebagai pelindung pantai dari energi mekanik gelombang yang dapat menyebabkan abrasi. Dalam kaitannya dengan siklus dan keberlanjutan hidup biota laut, ekosistem terumbu karang berperan sebagai daerah perlindungan, pemijahan, asuhan, dan tempat mencari makan.

Ekosistem terumbu karang di Indonesia memiliki keanekaragaman hayati yang tinggi. Lebih dari 480 jenis karang batu telah teridentifikasi di bagian timur Indonesia dan merupakan 60% dari jenis karang batu di dunia yang sudah dideskripsikan (Burke et al. 2002). Namun demikian kondisi saat ini berbagai ancaman baik dari faktor alam maupun manusia semakin meningkat. Sedimentasi merupakan salah satu bentuk ancaman yang secara langsung maupun tidak langsung telah mengakibatkan degradasi terumbu karang. Kasus di Kepulauan Derawan, berbagai aktifitas seperti penebangan hutan, kegiatan pertambangan serta kegiatan pengerukan pasir yang terjadi di sepanjang aliran Sungai Berau disinyalir sebagai pemasok terbesar sedimen di perairan Kepulauan Derawan (Wiryawan et al. 2005). Hal ini tentunya akan menjadi ancaman serius tehadap komunitas terumbu karang yang terdapat di Kepulauan Derawan.

2 Kajian mengenai pengaruh sedimentasi terhadap terumbu karang telah banyak dilaporkan oleh beberapa peneliti di dunia. Melalui mekanisme shading dan smothering sedimen dapat menyebabkan pertumbuhan karang terhambat atau bahkan mematikannya (Hubbard, 1997). Efek dari sedimentasi dapat menyebabkan bioerosi pada karang oleh berbagai organisme macroboring seperti spons, cacing, bivalva (Macdonald dan Perry 2003). Sedimentasi juga merupakan faktor utama yang mengakibatkan kematian karang batu pada saat proses rekrutmen melalui mekanisme smothering (Fabricius et al. 2003). Pada tingkat jaringan, sedimentasi mempengaruhi ketebalan jaringan polip karang (Barnes dan Lough, 1999). Kondisi stress pada karang yang diakibatkan oleh sedimentasi juga dapat terlihat dari menurunnya densitas zooxanthellae dan konsentrasi klorofil pada jaringan polip karang (Philipp dan Fabricius, 2003).

Bagaimanapun juga beberapa jenis karang batu masih dapat beradaptasi pada tingkat sedimentasi tertentu melalui sediment rejection. Sedimen rejection dilakukan secara aktif melalui destensi jaringan, aksi sillia dan tentakel, serta produksi mucus (Barnes dan Lough, 1999), atau secara pasif melalui morfologi koralum dan bentuk pertumbuhannya (Stafford-Smith dan Ormond 1992 dalam Tomascik et al. 1997). Terdapat beberapa jenis karang yang rentan terhadap sedimentasi, namun terdapat pula jenis karang yang tahan terhadap sedimentasi, yang tentunya akan berpengaruh terhadap ekologi serta komposisi dari komunitas karang batu (Stafford-Smith, 1993).

Hingga saat ini belum dilakukan penelitian yang secara khusus mengkaji mengenai pengaruh sedimentasi terhadap ekosistem terumbu karang di Kepulauan Derawan. Di sisi lain informasi ini sangat diperlukan sebagai dasar evaluasi terhadap pengelolaan terumbu karang di Kepulauan Derawan. Berdasarkan pertimbangan tersebut maka dilakukan penelitian dengan tujuan: (1) Mengetahui sebaran parameter oseanografi dan sedimen pada area terumbu karang; (2) Mengetahui perbedaan komunitas karang batu yang didasarkan atas kondisi sedimentasi pada masing-masing lokasi penelitian; (3) Mengkaji pengaruh sedimentasi terhadap komunitas karang batu.

3 Tujuan dan Manfaat Penelitian

Tujuan dari penelitian adalah ini adalah untuk:

1. Mengetahui sebaran parameter oseanografi dan sedimen pada area terumbu karang secara spasial.

2. Mengetahui perbedaan komunitas karang batu yang didasarkan atas kondisi sedimentasi pada masing-masing lokasi penelitian.

3. Mengkaji pengaruh sedimentasi terhadap komunitas karang batu.

Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberikan informasi mengenai pengaruh masukan sedimen dari darat terhadap ekosistem terumbu karang. Selanjutnya seluruh informasi tersebut dapat dijadikan sebagai bahan masukan untuk mengkaji dan mengevaluasi pengelolaan ekosistem terumbu karang secara berkelanjutan di Kepulauan Derawan.

Hipotesis

Pada penelitian kali ini, hipotesis yang dikemukakan adalah terdapatnya pengaruh sedimentasi terhadap karakteristik karang batu (sclerectinia) di Kepulauan Derawan. Semakin tinggi laju sedimentasi akan menyebabkan keragaman spesies karang batu semakin rendah.

Pendekatan Masalah

Di Kabupaten Berau mengalir dua sungai utama, yaitu Sungai Kelay dan Sungai Segah yang mulai dan berakhir di Kabupaten yang sama. Sistem sungai ini membentuk Daerah Aliran Sungai (DAS) seluas 15.000 kilometer persegi. Berbagai aktifitas terjadi di sepanjang aliran sungai tersebut, mulai dari kegiatan rumah tangga, transportasi, industri hingga penebangan hutan. Selanjutnya Sungai-sungai tersebut bergabung membentuk Sungai Berau di kota Tanjung Redeb, Iibu Kota Kabupaten Berau, dan mengalir sekitar 40 kilometer ke arah timur menuju Laut Sulawesi dimana Kepulauan Derawan berada.

Faktor anthropogenik yang menjadi ancaman terhadap ekosistem terumbu karang di Kepulauan Derawan memang cukup kompleks, diantaranya adalah kegiatan pengeboman, penggunaan trawl, sampah, serta kegiatan bekarang, yaitu

4 kegiatan masyarakat sekitar yang berjalan diatas terumbu karang untuk mengambil biota-biota yang berasosiasi di daerah tersebut. Akan tetapi faktor yang paling besar pengaruhnya terhadap ekosistem terumbu karang adalah sedimentasi yang sebagian besar merupakan pasokan dari keberadaan Sungai Berau. Hal ini didukung juga dengan semakin banyaknya kegiatan pembukaan hutan di daerah atas, serta iklim dimana hujan di daerah ini berlangsung sepanjang tahun dan jarang sekali terjadi bulan-bulan kering.

Berdasarkan citra Landsat ETM tanggal 8 Juni 2001, sedimen yang berasal dari Sungai Berau mencapai perairan di sekitar Pulau Panjang dan Pulau Derawan. Secara visual sedikit sekali dan bahkan tidak ada kandungan sedimen dari Sungai Berau yang mencapai Pulau Sangalaki dan Maratua (Gambar 1) Atas dasar sebaran sedimen tersebut penelitian difokuskan di Pulau Panjang, Pulau Derawan, Pulau Sangalaki, dan Pulau Maratua. Hal ini dimaksudkan untuk melihat perbedaan komunitas karang batu pada daerah yang terkena dampak sedimen berat hingga daerah yang tidak terekspose oleh sedimen.

Gambar 1. Peta sebaran sedimen dari Sungai Berau menuju perairan Kepulauan Derawan (Sumber: Citra Landsat ETM, 8 Juni 2001).

Pengaruh sedimen terhadap terumbu karang terjadi secara langsung maupun tidak langsung. Secara langsung sedimen yang terdeposit akan menutupi permukaan polip karang sehingga akan meningkatkan kebutuhan energi metabolik untuk menghilangkannya kembali. Secara tidak langsung sedimen yang

5 tersuspensi dapat menghalangi masuknya penetrasi sinar matahari yang dibutuhkan untuk fotosintesis alga simbion karang zooxanthellae. Apabila jumlah sedimen cukup tinggi dan melebihi batas kemampuan polip karang untuk beradaptasi, maka akan terjadi kematian dan penurunan penutupan terumbu karang pada daerah tersebut. Di sisi lain apabila sedimen mengandung sejumlah besar bahan organik akan terjadi invasi oleh alga.

Jenis-jenis karang tertentu dapat beradaptasi terhadap kondisi sedimen di sekitarnya sampai pada kisaran tertentu. Karang yang memiliki ukuran polip yang lebih besar akan lebih bertahan pada kondisi yang keruh daripada karang dengan ukuran polip yang kecil. Bentuk adaptasi lain dari terumbu karang terhadap sedimentasi adalah melalui adaptasi morfologi, yaitu dengan memiliki bentuk pertumbuhan tertentu. Dari uraian di atas dapat dikatakan bahwa sedimentasi baik yang terdeposit maupun yang tersuspensi akan berpengaruh terhadap struktur komunitas terumbu karang (kelimpahan, keanekaragaman, keseragaman dan dominansi).

Mengacu pada praduga interaksi di atas, secara lebih lanjut akan dilakukan kajian mengenai struktur komunitas karang pada daerah yang diduga mengalami sedimentasi tinggi, moderat, hingga sedimentasi rendah di Kepulauan Derawan. Selanjutnya kerangka pendekatan masalah dalam mengkaji hal ini dapat dilihat pada Gambar 2.

6 Gambar 2. Kerangka konseptual pendekatan masalah

Sedimen Laut Dangkal

Karang Batu (sclerectinia) Faktor

Anthropogenik Faktor Alami

Tersuspensi Terdeposit Penetrasi Cahaya Penutupan Polip Mortalitas Adaptasi Komunitas Karang Penutupan Karang Batu Jumlah dan Komposisi Jenis

TINJAUAN PUSTAKA

Deskripsi Lokasi Penelitian

Administrasi dan kependudukan

Kepulauan Derawan yang terdiri dari Kecamatan Pulau Derawan dan Kecamatan Maratua termasuk dalam wilayah administrasi Kabupaten Berau, Provinsi Kalimantan Timur. Kabupaten Berau bagian utara dan barat berbatasan dengan Kabupaten Bulungan, bagian timur berbatasan langsung dengan Selat Makassar, serta bagian selatan berbatasan dengan Kabupaten Kutai Timur. Secara keseluruhan Kabupaten Berau terdiri dari 13 kecamatan, yaitu Tanjung Redeb, Gunung Tabur, Teluk Bayur, Segah, Kelay, Sambaliung, Derawan, Maratua, Tabalar, Biatan Lempake, Talisayan, Batu Putih, dan Biduk-biduk.

Kepulauan Derawan secara geografis terletak di semenanjung utara dari wilayah perairan laut Kabupaten Berau yang terdiri dari beberapa pulau, yaitu Pulau Panjang, Pulau Rabu-rabu, Pulau Samama dan Pulau Sangalaki, Pulau Kakaban dan Pulau Maratua serta beberapa gosong karang seperti gosong Muaras, Pinaka, Buliulin, Masimbung, Tababinga dan beberapa gosong pulau lainnya.

Kecamatan Pulau Derawan dan Maratua terdiri dari beberapa desa/kampung, secara rinci sebaran penduduk berdasarkan Kepala Keluarga (KK) dan jiwa dapat dilihat pada Tabel 1 dibawah ini.

Tabel 1. Jumlah penduduk di Kecamatan Derawan dan Maratua (Sumber: Hasil survei Program Bersama Kelautan, 2005)

Kecamatan Kampung Jumlah KK Jumlah jiwa

Pulau Derawan Pulau Derawan 371 1.370

Tanjung Batu 547 2.188

Kasai 472 1.960

Teluk Semanting 80 458

Pegat Batumbuk 131 450

Pulau Maratua Payung payung 118 538

Bohe Silian 182 682

Teluk Harapan 162 707

8

Perekonomian

Secara umum perekonomian di Kepulauan Derawan sudah berkembang dengan baik, sebagian besar masyarakat memiliki mata pencaharian sebagai nelayan tangkap. Hasil tangkapan nelayan Kepulauan Derawan merupakan pemasok terbesar perekonomian Kabupaten Berau dari sektor perikanan. Jumlah kapal penangkapan yang ada di Kecamatan Derawan dan Maratua pada tahun 2001 sebanyak 426 unit, dengan jumlah perahu tanpa motor sebanyak 77 unit, motor tempel 93 unit, dan kapal motor sebanyak 256 unit. Jenis alat tangkap yang digunakan bermacam-macam, diantaranya adalah payang, purse sein, gill net, jaring angkat, pancing dan bubu.

Selain dari kegiatan perikanan, masyarakat Kepulauan Derawan juga menggantungkan hidupnya pada sektor perdagangan dan pariwisata dan perkebunan. Masyarakat membuka toko untuk menjual kebutuhan sehari-hari, peralatan rumah tangga, bahkan ada yang menjadi penjual bahan bakar seperti bensin dan solar untuk keperluan nelayan setempat. Perkebunan diusahakan sebatas untuk kebutuhan internal.

Kondisi alam di Kepulauan Derawan yang eksotis sangat mendukung kegiatan pariwisata di daerah tersebut. Masyarakat Pulau Derawan terlibat dalam kegiatan ekonomi dibidang pariwisata hanya pada skala kecil, mereka menyediakan penginapan, rumah makan, serta menyediakan jasa angkutan, baik untuk memancing, diving, maupun sarana transportasi ke darat. Masyarakat lokal yang sudah memiliki dive licence biasanya bekerja pada pengusaha resort sebagai dive guide. Di Pulau Maratua masih belum ada kegiatan pariwisata yang diusahakan masyarakat setempat. Untuk skala yang lebih besar kegiatan pariwisata diperankan oleh pihak swasta. Sampai saat ini terdapat 4 dive resort yang sudah berkembang di Kepulauan Derawan, yaitu: PT Bumi Manimboran Interbuwana (BMI) di P. Derawan, PT Sangalaki Dive Lodge (SDL) di P. Sangalaki, PT Nabucco Island Dive Resort dan PT Paradise Dive Resort di P. Maratua. Mereka menjual paket-paket wisata terutama wisata selam.

9

Kondisi iklim dan oseanografi

Kondisi iklim dan oseanografi kawasan Kepulauan Derawan sangat dipengaruhi oleh kondisi iklim di Samudra Pasifik. Secara umum iklim akan dipengaruhi oleh musim barat dan musim timur, dan untuk oseanografi akan dipengaruhi pergerakan arus secara musiman dan Arus Lintas Indonesia dari Samudra Pasifik Menuju Samudra Hindia yang melewati Selat Makasar.

Arah angin secara umum di kawasan Kepulauan Derawan akan mengikuti musim yang ada di Indonesia yaitu musim barat dan musim timur. Kecepatan angin yang paling rendah di Kepulauan Derawan pada bulan Oktober dan November yang mencapai 4,3 knot dengan arah rata-rata 330o dan kecepatan angin maksimum terjadi pada bulan Juli dan Agustus dengan arah 270o. Suhu udara berkisar antara 22,3 oC sampai 32 oC.

Iklim di kawasan Kepulauan Derawan berdasarkan klasifikasi Koppen diklasifikasikan sebagai iklim tipe alpha, menurut klasifikasi Schmidt dan Fergusson kawasan Kepulauan Derawan termasuk golongan iklim A yaitu hujan berlangsung sepanjang tahun dan jarang terjadi bulan kering. Curah hujan harian di Kepulauan Derawan berkisar antara 0,6 mm sampai 21,8 mm dengan jumlah hari hujan antara 4 sampai 28 hari.

Kondisi oseanografi Kepulauan Derawan dipengaruhi oleh dinamika aliran Sungai Berau dan dinamika laut lepas Selat Makasar. Kisaran suhu permukaan air laut yang ada Kepulauan Derawan berkisar antara 29,5 oC sampai 30,5 oC untuk kawasan yang berhadapan dengan Sungai Berau dan berkisar antara 29,5 oC sampai 30 oC untuk kawasan yang berhadapan dengan laut lepas. Kisaran suhu rata-rata pada dasar perairan untuk kawasan yang berhadapan dengan Sungai Berau berkisar antara 27,5 oC sampai 29 oC dan untuk kawasan yang berhadapan dengan laut lepas berkisar 21 oC sampai 28 oC.

Salinitas pada kawasan yang berhadapan dengan Sungai Berau berkisar antara 32,5 ppt sampai 33 ppt dan pada kawasan yang berdekatan dengan laut lepas mempunyai salinitas 33,5 ppt. Salinitas pada kedalaman 100 meter untuk kawasan yang berhadapan dengan sungai Berau adalah 33,5 ppt dan pada kawasan yang berhadapan dengan laut lepas berkisar antara 34 sampai 34,5 ppt.

10

Sungai Berau

Sungai Kelay adalah sungai yang terpanjang di Berau, sejauh 254 kilometer dari Gunung Mantam area di sebelah barat daya Berau, sebelah hulu kampung Dayak Long Gi. Sungai Kelay dan anak-anak sungainya mengaliri setengah area Berau sebelah selatan sampai bergabung dengan Sungai Segah di Tanjung Redeb membentuk Sungai Berau. Secara tradisional, Sungai Kelay melayani rute pengangkutan utama bagi penumpang dan barang ke bagian selatan Berau. Industri skala besar sepanjang Sungai Kelay tidak sebanyak seperti di sepanjang Sungai Segah, meskipun beberapa kegiatan HPH terbukti ada di sepanjang antara Tanjung Redeb dan kampung Pagat Bukur. Industri yang paling terkemuka sepanjang Sungai Kelay adalah PT Berau Coal di Desa Pagat Bukur. Pelayanan jalan yang ditingkatkan antara masyarakat sepanjang Sungai Kelay ke Tanjung Redeb dan daerah pesisir sekarang menjadi jalur utama untuk pengangkutan kayu dan batu bara.

Kebanyakan lahan di dekat Sungai Kelay, ditanami beberapa jenis produk pertanian, yang paling mencolok adalah perkebunan pisang ekstensif antara Pagat Bukur dengan Tumbit Melayu. Beberapa area sekitar Tumbit Dayak dan Long Lanuk telah dibuka untuk padang penggembalaan sapi dan babi. Di kalangan masyarakat ini sungai melayani fungsi pengangkutan tradisional, membantu pengangkutan produk pertanian masyarakat lokal menuju pasar di bagian hilir. Kegiatan yang mencolok lainnya di sepanjang Sungai Kelay, bagian hulu Tumbit Melayu adalah pendulangan emas.

Sungai Segah membentang sepanjang 152 kilometer dari hulu sungainya, di area Gunung Kundas, bagian hulu kota Malinau di sudut timur laut Berau, ke arah Tanjung Redeb. Sungai Segah mengaliri setengah area Berau sebelah utara, dan di pasok oleh beberapa sungai yang lebih kecil seperti Sungai Malinau (58 kilometer), Pura (72 kilometer), Siagung (38 km) dan Siduung (83 km). Sungai menjadi saluran utama untuk pengangkutan kayu dari pedalaman ke kapal, dan banyak jalan menghubungkan HPH dengan fasilitas pembongkaran sepanjang sungai Segah tampak antara Labanan dan Tanjung Redeb. PT Berau Coal juga menggunakan sungai untuk mengangkut batubara dari lokasi operasional dekat Teluk Bayur ke Tanjung Redeb dan sekitarnya. Pembabatan vegetasi dan lalu

11 lintas kendaraan pada fasilitas pembongkaran memberi kontribusi terhadap erosi tanah dan meningkatkan sedimentasi sungai.

Sungai Kelay dan Sungai Segah bergabung di Tanjung Redeb menjadi Sungai Berau. Sungai Berau lebar, berarus lambat dibatasi terutama oleh Nipah dan mangrove sepanjang 40 km dari Laut Sulawesi. Sungai tersebut merupakan koridor pengangkutan industri yang penting dengan banyak stasiun pembongkaran

Dokumen terkait