Penulis dilahirkan di Desa Sugihen, Kecamatan Juhar, Kabupaten Karo, Propinsi Sumatera Utara, pada tanggal 4 Februari 1971 dari Bapak Paginting Ginting (alm) dan Ibu Ndolit Br Perangin-angin. Penulis merupakan anak ke tujuh dari tujuh bersaudara.
Tahun 1990 penulis lulus dari SMA Negeri I Kabanjahe, Kabupaten Karo, Sumatera Utara dan pada tahun 1991 masuk Universitas Sumatera Utara, Medan, melalui jalur SIPENMARU (Seleksi Penerimaan Mahasiswa Baru). Penulis memilih Fakultas Pertanian, Jurusan Hama dan Penyakit Tumbuhan. Penulis lulus pada tahun 1996.
Pada tahun 2001 sampai sekarang penulis bekerja di Balai Uji Standar Karantina Tumbuhan yang sekarang menjadi Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian. Pada tahun 2007 penulis menerima beasiswa dan berkesempatan melanjutkan pendidikan ke Program Magister Sains pada Sekolah Pascasarjana, IPB.
Halaman DAFTAR TABEL ... xi DAFTAR GAMBAR ... xii DAFTAR LAMPIRAN ... xiii PENDAHULUAN Latar Belakang ... 1 Permasalahan .. . 2 Tujuan Penelitian .... . 3 Manfaat Penelitian .. . 3 TINJAUAN PUSTAKA Lalat Buah ... ... 4 Morfologi ... 4 Bioekologi .. ... 5 Gejala Serangan ... 6 Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan .... ... 6 Persebaran ... 7 Analisis Risiko Hama (Pest Risk Analysis) ... 9 BAHAN DAN METODE
Waktu dan Tempat ... 11 Metode Penelitian... 12 Pembuatan dan Penempatan Perangkap ... 12 Pengumpulan Hasil Perangkap ... 14 Penanganan Sampel ... 14 Identifikasi ... 14 Analisis Data ... 15 Kajian Analisis Risiko Hama ... 15 HASIL DAN PEMBAHASAN
Spesies yang Ditemukan... 16 Indeks Keanekragaman Jenis ... 19 Kunci Identifikasi Spesies yang Ditemukan ... 21 Model Kajian Penyusunan Analisis Risiko Hama ... 24 KESIMPULAN DAN SARAN
Kesimpulan ... 30 Saran ... 30 DAFTAR PUSTAKA ... 31 LAMPIRAN... 34
DAFTAR TABEL
Halaman
1 Spesies lalat buah di Indonesia yang dikumpulkan selama survei
tahun (2005-2006)... 8 2 Ketinggian tempat dan ordinat lokasi pengambilan sampel... 11 3 Spesies lalat buah yang dikumpulkan dari lima lokasi penelitian ... 16 4 Nilai indeks keanekaragaman jenis di lima lokasi penelitian... 20
Halaman 1 Peta lokasi penelitian di Jakarta, Depok, dan Bogor... 12 2 Perangkap lalat buah: bagian luar (a), bagian dalam (b), pemberian
bahan kimia (c) ... 13 3 Penempatan perangkap lalat buah di lokasi penelitian ... 13 4 Pengumpulan hasil perangkap: sampel dalam perangkap (a), sampel
dikumpulkan di atas kertas tisu (b), kotak karton wadah sampel (c) ... 14 5 Spesies dan jumlah lalat buah di lima lokasi penelitian... 18
DAFTAR LAMPIRAN
Halaman
1 Perhitungan indeks keanekaragaman jenis di Pasar Induk Kramat Jati.... 34 2 Perhitungan indeks keanekaragaman jenis di Gudang Buah Tanjung
Priok ... 34 3 Perhitungan indeks keanekaragaman jenis di Hutan UI ... 35 4 Perhitungan indeks keanekaragaman jenis di Cimanggis ... 35 5 Perhitungan indeks keanekaragaman jenis di Cihanyawar ... 36 6 Morfologi spesiesBactrocera albistrigata... 37 7 Morfologi spesiesBactrocera calumniata... 38 8 Morfologi spesiesBactrocera carambolae... 39 9 Morfologi spesiesBactrocera caudata... 40 10 Morfologi spesiesBactrocera cucurbitae... 41 11 Morfologi spesiesBactrocera impunctata... 42 12 Morfologi spesiesBactrocera melastomatos... 43 13 Morfologi spesiesBactrocera minuscula... 44 14 Morfologi spesiesBactrocera neocognata... 45 15 Morfologi spesiesBactrocera occipitalis... 46 16 Morfologi spesiesBactrocera papayae... 47 17 Morfologi spesiesBactrocera umbrosa... 48 18 Morfologi spesiesBactrocerasp. . ... 49 19 Morfologi spesiesDacus longicornis... 50 20 Karakter morfologi dari bagian-bagian tubuh lalat buah ... 51
Latar Belakang
Lalat buah (Diptera: Tephritidae) merupakan salah satu hama penting yang menarik perhatian dunia karena peranannya yang penting secara ekonomi. Terdapat sekitar 4000 spesies lalat buah di dunia dan 35% di antaranya menyerang buah-buahan yang berkulit lunak dan tipis, termasuk di dalamnya buah-buahan komersial yang mempunyai nilai ekonomi tinggi. Di samping menyerang buah-buahan yang lunak, sekitar 40% lalat buah juga hidup dan berkembang pada bunga tanaman famili Asteraceae (Compositae); selebihnya hidup pada bunga tanaman famili lainnya atau menjadi pengorok pada daun, batang, atau jaringan akar. Famili Tephritidae memiliki beberapa subfamili. Subfamili yang spesiesnya terkenal sebagai hama lalat buah adalah Dacinae dan Trypetinae yang terdiri atas dua genus yaitu Dacus (Fabricus) dan Bactrocera (Macquart) (White & Harris 1992; Landolt & Quilici 1996).
Di Indonesia, survei lalat buah pertama kali dilakukan oleh Hardy pada tahun 1985 dan menemukan 66 spesies. Pada tahun 1992 sampai dengan 1994, Pusat Karantina Pertanian secara nasional melakukan survei dan menemukan sekitar 47 spesies, 20 spesies di antaranya merupakan kompleks Bactrocera dorsalis (Drew & Hancock 1994; Hamzah 2004). Laporan AQIS (2008) menunjukkan bahwa pada saat ini di Indonesia terdapat 63 spesies lalat buah, tetapiCeratitis capitata Wied. yang dikenal dengan sebutanMediterranean Fruit Fly atauMedfly yang menjadi hama penting pada tanaman jeruk di wilayah sekitar laut Tengah (White & Harris 1992), belum ditemukan di Indonesia.
Mencegah pemasukkan dan persebaran suatu organisme pengganggu tumbuhan/organisme pengganggu tumbuhan karantina (OPT/OPTK) dari luar negeri ke dalam wilayah Republik Indonesia (RI), atau dari suatu area ke area lain di dalam wilayah negara RI, atau keluar dari wilayah negara RI merupakan tugas pokok karantina tumbuhan. Tugas ini tertera dalam UU No 16 Tahun 1992. Penerapan peraturan karantina banyak dilakukan di berbagai negara di dunia, terutama negara-negara pengimpor buah-buahan (BKP 1994).
Globalisasi perdagangan buah dan sayuran segar membuat semua negara harus memperhatikan kesehatan tanaman dari serangan hama khususnya lalat
2
buah. Banyak kasus penolakan ekspor komoditas buah dan sayur segar oleh suatu negara pengimpor yang disebabkan adanya gejala serangan lalat buah (Suputa et al. 2006). Permasalahan klasik yang sering dihadapi Indonesia dalam hal ekspor komoditas hortikultura adalah standar mutu (kualitas) produk. Standar yang ditetapkan adalah bahwa suatu produk tidak mengandung residu berbahaya melebihi ambang batas, tidak mengandung hama penyakit (OPT), dan suatu negara harus menyediakan daftar spesies (pest list)/deskripsi yang cukup tentang OPT suatu komoditas apabila ingin memperluas pasar perdagangan komoditas pertanian tersebut (BKP 2007a).
Informasi tentang keberadaan jenis-jenis lalat buah yang ada di suatu daerah perlu diketahui dan dilaporkan sebagai langkah antisipasi untuk melakukan surveilens dan pengendalian pada tanaman buah maupun sayuran yang dibudidayakan. Hal ini penting karena spesies lalat buah tertentu mempunyai preferensi terhadap jenis inang tertentu (Muryatiet al. 2005)
Analisis risiko organisme pengganggu tumbuhan (AROPT) merupakan suatu proses untuk menetapkan suatu hama termasuk OPTK atau organisme pengganggu tumbuhan penting (OPTP). Analisis ini juga menetapkan syarat- syarat atau tindakan karantina yang sesuai untuk mencegah masuk dan tersebarnya OPT tersebut. Tujuan dilakukannya analisis risiko suatu OPT adalah untuk mengklasifikasikan OPT/OPT eksotik sebagai OPT karantina atau OPT non karantina berdasarkan bukti biologi dan ekonomi serta potensi merusak OPT tersebut (ISPM 1995; Ikin 2003).
Permasalahan
Badan Karantina Pertanian sebagai benteng terdepan negara dalam mencegah masuk dan tersebarnya OPTK, baik antar negara maupun antar area di dalam wilayah negara Republik Indonesia, berkewajiban melengkapi sertifikat kesehatan dari area asal bagi tumbuhan dan bagian-bagian tumbuhan, yang dikirim dari suatu area ke area lain. Persyaratan tersebut berlaku bagi media pembawa OPT yang dikeluarkan dari wilayah negara Indonesia apabila disyaratkan oleh negara tujuan. Salah satu OPT yang banyak menjadi perhatian dunia adalah lalat buah. Oleh karena itu perlu penelitian mengenai
keanekaragaman spesies lalat buah di area produksi atau area tertentu dan membuat daftar spesies, pemetaan daerah sebar dan deteksi lalat buah baru dari seluruh wilayah Indonesia. Di samping itu perlu dilakukan studi literatur sebagai informasi pendukung dalam upaya penyusunan analisis risiko hama.
Tujuan Penelitian
Penelitian ini bertujuan untuk memperoleh data keanekaragaman spesies lalat buah di Jakarta, Depok, dan Bogor, serta mendapatkan informasi dalam upaya penyusunan analisis risiko hama, dan untuk mendukung pembuatan daftar spesies lalat buah.
Manfaat Penelitian
Hasil penelitian ini diharapkan dapat memberi sumbangan dalam melengkapi daftar spesies lalat buah, menjadi sumber informasi daerah sebar lalat buah, serta sumber informasi dalam pembuatan kajian penyusunan suatu analsis risiko hama.
TINJAUAN PUSTAKA
Lalat BuahMorfologi
Telur lalat buah umumnya berwarna putih atau putih kekuningan berbentuk bulat panjang. Panjang telur antara 0.3 mm-0.8 mm dan lebar 0.2 mm dengan micropyle protruding yang tipis di bagian akhir anterior (CABI 2007). Telur akan menetas menjadi larva dua hari setelah diletakkan di dalam buah (Ditlin Hortikultura 2006).
Larva berwarna putih keruh kekuningan, berbentuk bulat panjang dan salah satu ujungnya runcing. Kepala berbentuk runcing, mempunyai alat pengait dan bintik yang jelas. Larva instar ketiga berukuran sedang, dengan panjang 7.0 mm- 9.0 mm dan lebar 1.5-1.8 mm (White & Harris 1994). Puparium lalat buah berbentuk oval berwarna kuning kecoklatan dengan panjang ± 5 mm (Ditlin Hortikultura 2006).
Imago lalat buah umumnya memiliki ciri-ciri penting di kepala, toraks, sayap, dan abdomen. Kepala terdiri atas antena, mata, dan spot. Pada toraks terdapat dua bagian penting yakni skutum dan skutelum. Sayap mempunyai bentuk dan pola pembuluh yakni costa, radius, median, cubitus, anal, r-m dan dm-cu (pembuluh sayap melintang). Pada genus Bactrocera ruas-ruas abdomen terpisah dan genus Dacus ruas-ruas abdomen menyatu. Pada abdomen, Bactrocera, tergum I dan II menyatu, tergum III-V terpisah. Pada Dacus, antara toraks dan abdomen mempunyai pinggang ramping (petiole) sehingga menyerupai tawon (Siwiet al. 2006).
Lalat buah komplek B. dorsalis memiliki membran sayap yang cerah, kecuali padacostal band (tidak mencapai R4+5); cell basal costa dancosta tidak berwarna dan tidak adamicrotrichia. Skutum umumnya berwarna hitam dengan pita kuning di sisi lateral dan tidak memiliki pita kuning di bagian tengah skutum. Skutelum berwarna kuning kecuali pada bagian basal dengan pita hitam yang tipis. Abdomen dengan garismedial pada tergum III-V dan berwarna hitam di sisi lateral (CABI 2007). Abdomen umumnya mempunyai pita melintang dan pita membujur berwarna hitam atau berbentuk huruf T yang kadang-kadang tidak jelas
(Lawsonet al. 2003). Ujung abdomen lalat betina lebih runcing dan mempunyai alat peletak telur (ovipositor) yang cukup kuat untuk menembus kulit buah. Pada jantan, abdomen lebih bulat dan pada tergum III di kedua sisi lateral abdomen terdapatpecten (Drew 1989).
Bioekologi
Siklus hidup lalat buah mengalami perkembangan sempurna atau dikenal dengan perkembangan holometabola yang memiliki 4 fase metamorfosis yaitu: telur, larva, pupa, dan imago (Vijaysegaran & Drew 2006). Telur lalat buah diletakkan berkelompok 2-15 butir. Lalat buah betina dapat meletakkan telur 1- 40 butir/hari. Seekor lalat betina dapat meletakkan telur 100-500 butir (Sodiq 1992 dalam Siwi 2005). Menurut Vijaysegaran dan Drew (2006), satu ekor betina B. dorsalis dapat menghasilkan telur 1200 - 1500 butir. Telur-telur diletakkan pada buah di tempat yang terlindung dan tidak terkena sinar matahari langsung serta pada buah-buah yang agak lunak dan permukaannya agak kasar (Ditlin Hortikultura 2006)
Larva terdiri atas 3 instar. Larva hidup dan berkembang di dalam daging buah selama 6-9 hari. Pada instar ke tiga menjelang pupa, larva akan keluar dari dalam buah melalui lubang kecil. Setelah berada di permukaan kulit buah, larva akan melentingkan tubuh, menjatuhkan diri dan masuk ke dalam tanah. Di dalam tanah larva menjadi pupa (Djatmiadi & Djatnika 2001).
Pupa awalnya berwarna putih, kemudian berubah menjadi kekuningan dan akhirnya menjadi coklat kemerahan. Masa pupa berkisar antara 4-10 hari (Ditlin Hortikultura 2006). Pupa berada di dalam tanah atau pasir pada kedalaman 2-3 cm di bawah permukaan tanah atau pasir. Setelah 6 -13 hari, pupa menjadi imago (Djatmiadi & Djatnika 2001).
Siklus hidup lalat buah dari telur sampai imago di daerah tropis berlangsung lebih kurang 27 hari. Lama hidup imago betina berkisar antara 23-27 hari dan imago jantan antara 13-15 hari. Imago betina setelah kopulasi akan meletakkan telur setelah 3-8 hari. Nisbah kelamin jantan berbanding dengan betina yakni 1:1 (Sodiq 1992 dalam Siwi 2005). Lalat buah dewasa hidup bebas di alam dan bergerak secara aktif. Lalat betina sering dijumpai di sekitar tanaman buah-
6
buahan dan sayuran pada pagi dan sore hari, sedangkan lalat buah jantan bergerak aktif dan memburu lalat buah betina untuk melakukan kopulasi (Siwi 2005).
Gejala Serangan
Lalat buah meletakkan telur pada jaringan buah. Tempat peletakan telur ini ditandai dengan adanya noda/titik kecil berwarna hitam yang tidak terlalu jelas. Noda-noda kecil bekas tusukan ovipositor ini merupakan gejala awal serangan lalat buah. Bekas tusukan ovipositor ini akan diikuti dengan munculnya nekrosis di sekitar tusukan. Telur kemudian menetas dan larva memakan daging buah yang menyebabkan noda-noda kecil berkembang menjadi bercak coklat, selanjutnya larva akan merusak daging buah sehingga buah menjadi busuk dan gugur sebelum mencapai kematangan yang diinginkan. Buah yang gugur ini jika tidak segera dikumpulkan dan dimusnahkan akan menjadi sumber infestasi lalat buah generasi berikutnya (BALITJERUK 2006; Ditlin Hortikultura 2006; Wharton 1989).
Faktor yang Mempengaruhi Perkembangan
Faktor yang mempengaruhi lalat buah adalah faktor suhu, kelembaban, cahaya, angin, tanaman inang, dan musuh alami. Faktor iklim berpengaruh pada pemencaran, perkembangan, daya bertahan hidup, perilaku, reproduksi, dinamika populasi, dan peledakan hama (McPheron & Steck 1996). Menurut Messenger (1976 dalam Siwi 2005), iklim berpengaruh terhadap perilaku seperti aktifitas kawin dan peletakan telur. Populasi juga dipengaruhi angka kelahiran, kematian, dan penyebaran serangga.
Menurut Bateman (1972), suhu berpengaruh terhadap perkembangan, keperidian, lama hidup, dan mortalitas Bactrocera spp. Lalat buah umumnya dapat hidup dan berkembang pada suhu 10-30ºC. Pada suhu antara 25-30oC telur lalat buah dapat menetas dalam waktu yang singkat yaitu 30-36 jam.
Kelembaban yang rendah dapat menurunkan keperidian lalat buah dan meningkatkan mortalitas imago yang baru keluar dari pupa. Kelembaban udara yang terlalu tinggi (95-100%) dapat mengurangi laju peletakan telur (Bateman 1972). Semakin tinggi kelembaban udara maka lama perkembangan akan semakin panjang. Kelembaban optimum perkembangan lalat buah berkisar antara
70-80%. Lalat buah dapat hidup baik pada kelembaban antara 62-90% (Landolt & Quilici 1996).
Intensitas cahaya dan lama penyinaran dapat mempengaruhi aktivitas lalat betina dalam perilaku makan, peletakan telur, dan kopulasi. Lalat aktif pada keadaan terang, yaitu pada siang hari dan kopulasi pada intensitas cahaya rendah. Lalat betina yang banyak mendapat sinar akan lebih cepat bertelur (Siwi 2005).
Tingkat kemasakan buah berpengaruh terhadap kehidupan lalat buah. Buah yang lebih masak lebih disukai oleh lalat buah untuk meletakkan telur daripada buah yang masih hijau. Tingkat kemasakan buah sangat mempengaruhi populasi lalat buah. Jenis pakan yang banyak mengandung asam amino, vitamin, mineral, air, dan karbohidrat dapat memperpanjang umur serta meningkatkan keperidian lalat buah. Peletakan telur dipengaruhi oleh bentuk, warna, dan tekstur buah. Bagian buah yang ternaungi dan agak lunak merupakan tempat ideal untuk peletakan telur (Siwi 2005).
Musuh alami adalah salah satu faktor penyebab kematian lalat buah. Musuh alami dapat berupa parasitoid, predator, dan patogen. Di lapang dijumpai parasitoid famili Braconidae (Hymenoptera), yaitu Biosteres spp. dan Opius spp. Predator yang memangsa lalat buah antara lain semut, laba-laba, kumbang, dan cocopet. Patogen yang menyerang lalat buah diduga cendawanMucor sp. (Siwiet al. 2006).
Lalat buah yang menyerang buah-buahan musiman, akan mempunyai dinamika populasi yang erat hubungannya dengan keberadaan buah. Lalat buah yang menyerang tanaman sayuran mempunyai dinamika populasi yang berbeda karena keberadaan inang tanaman sayuran ada sepanjang tahun. Berdasarkan hasil penelitian Muryatiet al. (2005),B. carambolae danB. papayae merupakan spesies lalat buah yang paling banyak ditemukan. Hal ini disebabkan tanaman inang kedua spesies tersebut tersedia sepanjang waktu. Inang tersebut antara lain jambu biji, jambu air, belimbing, manggis, nangka, pisang, dan cabe.
Persebaran
Di Indonesia bagian barat dilaporkan sudah menyebar B. albistrigata, B. carambolae, B. cucurbitae, B. dorsalis, B. papayae, B. tau, B. umbrosa, dan D. longicornisyang merupakan hama penting (Orr 2002). Menurut Vijaysegaran dan
8
Drew (2006), B. albistrigata, B. carambolae, B. cucurbitae, B. occipitalis, B. papayae, B. philippinensis, dan B. umbrosa, adalah spesies yang sudah menyebar luas di Asia Tenggara dengan populasi sangat tinggi.
Menurut AQIS (2008), di Indonesia saat ini terdapat 63 spesies lalat buah, 11 spesies tertarik pada zat atraktan Methyl eugenol dan 52 spesies tertarik pada Cue lure (Tabel 1).
Tabel 1 Spesies lalat buah di Indonesia yang dikumpulkan selama survei tahun (2005 2006)
Spesies Atraktan Spesies Atraktan
GenusBactrocera
B. abdonigella (Drew) CUE B. limbifera(Bezzi) CUE
B. abnormis(Hardy) CUE B. makilingenisDrew & Hancock CUE
B. aemulaDrew CUE B. megaspilus(Hardy) CUE
B. affinidorsalisDrew & Hancock CUE B. melastomatosDrew & Hancock CUE
B. albistrigata(de Meijere) CUE B. merapiensisDrew & Hancock CUE
B. angustifinis(Hardy) CUE B. minusculaDrew & Hancock ME
B. apicalis(de Meijere) CUE B. moluccensis(Perkins) CUE
B. beckerae(Hardy) CUE B. neocognataDrew & Hancock CUE
B. bimaculataDrew & Hancock CUE B. nigrotibialis(Perkins) CUE
B. bryoniae(Tryon) CUE B. occipitalis(Bezzi) ME
B. calumniata(Hardy) CUE B. papayaeDrew & Hancock ME
B. carambolaeDrew & Hancock ME B. paramusaeDrew CUE
B. caudata(Fabricius) CUE B. persignata(Hering) CUE
B. cibodasaeDrew & Hancock CUE B. pseudocucurbitaeWhite CUE
B. contiguaDrew ME B. recurrens(Hering) CUE
B. cucurbitae(Coquillett) CUE B. ritsemaiWeyenbergh CUE
B. curvifera(Walker) ME B. rufula(Hardy) CUE
B. elegantula(Hardy) CUE B. sembaliensisDrew & Hancock CUE
B. emittens(Walker) CUE B. sulawesiaeDrew & Hancock ME
B. enigmatica(Hardy) CUE B. sumbawaensisDrew & Hancock CUE
B. epicharis(Hardy) CUE B. synnephes(Hendel) CUE
B. exornata(Hering) CUE B. tau(Walker) CUE
B. flavipennis(Hardy) CUE B. thistletoniDrew CUE
B. floresiaeDrew & Hancock ME B. trifasciata(Hardy) CUE
B. frauenfeldi(Schiner) CUE B. umbrosa (Fabricus) ME
B. fulvicauda(Perkins) ME B. usitataDrew & Hancock CUE
B. fuscitibiaDrew & Hancock CUE B. verbascifoliaeDrew & Hancock CUE
B. heinrichi(Hering) CUE B. vulta(Hardy) CUE
B. hochii(Zia) CUE GenusDacus
B. impunctata(de Meijere) ME Dacus leongiDrew & Hancock CUE
B. lata(Perkins) CUE D. longicornisWiedemann CUE
B. latifrons(Hendel) CUE D. nanggalaeDrew & Hancock CUE Keterangan: Sumber: AQIS (2008), ME = Methil eugenol, CUE = Cue lure
Menurut White dan Hancock (1997), daerah sebar lalat buah sudah kosmopolitan hampir terdapat di seluruh belahan dunia. Daerah sebarannya antara lain: Australia (P. Chrismas), Vanuatu, Indonesia (Sumatera, Jawa, Sulawesi, Sumbawa, Lombok, Maluku, Flores, Kalimantan), Malaysia, Singapore, Brunei, Taiwan, Hong Kong, Thailand, Laos, Vietnam, India (P. Andaman), Sri Lanka, Myanmar, China, Pulau Bagian Selatan Jepang, Indian Oceania, Afrika, Timur Tengah, Eropa, Guiana Perancis, Surinam, Amerika Utara, California, Laut pasifik, dan Palau.
Analisis Risiko Hama (Pest Risk Analysis)
Analisis risiko organisme penganggu tumbuhan merupakan metode yang sangat penting dalam menentukan status suatu OPT dan menentukan persyaratan maupun tata cara pelaksanaan tindakan karantina. Risiko OPT perlu mempertimbangkan seluruh aspek setiap OPT baik itu informasi tertentu tentang identifikasi OPT, biologi, tanaman inang, identifikasi jalur penularan, cara pergerakan dan penyebarannya, daerah sebaran maupun dampak ekonomisnya. Oleh karena itu membuat suatu kajian OPT sangat penting dan merupakan langkah awal dalam melengkapi pelaksanaan analisis risiko hama (BKP 2007b).
Persyaratan umum dalam melakukan suatu analisis risiko OPT/OPTK berdasarkan ISPM 2 (ISPM 1995) mengikuti proses yang terdiri atas beberapa tahap yakni:
Inisiasi. Inisiasi merupakan pengenalan proses analisis risiko OPT. Pada umumnya ada dua hal proses pengenalan untuk analisis risiko, yaitu identifikasi jalur penularan (by pathway) dan identifikasi OPT (by pest) yang memungkinkan kualifikasi sebagai OPTK.
Penilaian Risiko. Penilaian risiko OPT yaitu mempertimbangkan OPT tersebut secara individual. Tahap ini menguji apakah masing-masing kriteria untuk status OPTK telah terpenuhi, yaitu suatu OPT yang mempunyai nilai ekonomi penting dan keberadaannya berpotensi membahayakan suatu area, belum terdapat maupun sudah terdapat tetapi tidak tersebar luas dan berada dalam pengendalian resmi.
10
Pengelolaan Risiko. Pengelolaan risiko OPT untuk melindungi area dalam bahaya harus proporsional terhadap risiko yang telah diidentifikasi dalam penilaian risiko OPT. Hal ini didasarkan pada informasi yang dikumpulkan selama penilaian risiko. Ketentuan fitosanitari harus diterapkan pada area minimal yang penting untuk perlindungan efektif dari suatu area dalam bahaya.
Dokumentasi. Dalam suatu analisis risiko OPT, harus didokumentasikan secukupnya sehingga bila muncul suatu tinjauan atau suatu perselisihan, maka dapat dinyatakan dengan jelas sumber informasi dan alasan yang digunakan dalam mencapai suatu keputusan pengelolaan tentang ketentuan ffitosanitari yang telah atau yang akan diambil.
Inisiasi daftar OPT yang terkait dengan jalur penularan (misalnya di bawa oleh suatu komoditas), dapat diproleh dari sumber informasi resmi, sumber data, literatur ilmiah dan lainnya, atau konsultasi dengan para ahli. Inisiasi diutamakan untuk pembuatan daftar berdasarkan penilaian para ahli terhadap distribusi OPT dan tipe-tipe OPT. Jika tidak ada OPTK potensial yang teridentifikasi melalui jalur penularan, analisis risiko OPT dapat dihentikan pada titik ini (ISPM 11) (ISPM 1995; Ikin 2003).
Penilaian risiko OPT secara luas dapat dibagi ke dalam tiga langkah yang saling berkaitan, yaitu kategorisasi OPT, penilaian kemungkinan introduksi dan penyebaran, dan penilaian potensi konsekuensi ekonomi (termasuk dampaknya terhadap lingkungan). Standar ini memungkinkan suatu analisis risiko OPT dinilai dalam hal prinsip-prinsip kebutuhan, dampak minimal, transparansi, dan kesetaraan (ISPM 11) (ISPM 1995).
Pengelolaan risiko OPT adalah proses identifikasi cara-cara untuk bertindak terhadap risiko yang dirasakan, evaluasi keefektifan tindakan tersebut, dan identifikasi terhadap pilihan yang paling sesuai. Ketidakpastian yang diperoleh dalam penilaian dari konsekuensi ekonomi dan kemungkinan introduksi juga harus dipertimbangkan dan dimasukkan dalam seleksi pilihan pengelolaan OPT (ISPM 11) (ISPM 1995; Ikin 2003).
Waktu dan Tempat
Penelitian dilaksanakan mulai bulan Agustus sampai Nopember 2008. Pengambilan sampel dilakukan di lima lokasi yang berbeda yaitu di Pasar Induk Kramat Jati, Kelurahan Tengah, Kecamatan Kramat Jati, dan Gudang Buah Tanjung Priok, Kelurahan Sunter Jaya, Kecamatan Tanjung Priok (Jakarta); Taman Hutan UI, Kelurahan Srengseng Sawah, Kecamatan Srengseng, dan lahan pertanaman belimbing Cimanggis, Kelurahan Beji, Kecamatan Beji (Depok); serta lahan pertanaman cabe di Desa Cihanyawar, Kecamatan Megamendung, Kabupaten Bogor (Bogor). Ketinggian dan ordinat tempat penelitian tercantum pada Tabel 2. Lokasi penelitian dalam peta dapat dilihat pada Gambar 1. Pengamatan lebih lanjut dilakukan di Laboratorium Balai Besar Uji Standar Karantina Pertanian, Rawamangun, Jakarta Timur.
Tabel 2 Ketinggian tempat dan ordinat lokasi pengambilan sampel
Ordinat
Lokasi Ketinggian
m dpl LS BT
Jakarta:
Psr. Induk Kramat Jati 63 06°17 37.2 106°51 13.2
Gdg. Buah Tj. Priok 74 06°07 48.6 106°51 19.0 Depok: Hutan UI 97 06°21 33.4 106°49 37.8 Cimanggis 113 06°22 20.2 106°30 34.8 Bogor: Cihanyawar 811 06°41 23.4 106°54 40.8
Keterangan: BT = Bujur Timur, LS = Lintang Selatan, dpl = di atas permukaan laut, Gdg = gudang, m = meter, Psr = pasar, Tj = tanjung
12
Keterangan: