• Tidak ada hasil yang ditemukan

Penulis dilahirkan di Jakarta pada tanggal 24 November 1985 dari ayah Athaillah Abdi dan ibu Wiwin Hendarti. Penulis merupakan putri kedua dari tiga bersaudara. Tahun 2003 penulis lulus dari SMK Negeri 30 Pakubuwono, Kebayoran Baru, Jakarta Selatan Program Studi Tata Boga dan pada tahun yang sama lulus seleksi masuk Universitas Negeri Jakarta (UNJ) melalui jalur Penelusuran Minat dan Kemampuan (PMDK). Penulis memilih Program Studi Tata Boga, Jurusan Ilmu Kesejahteraan Keluarga, Fakultas Teknik dan lulus tahun 2008.

Tahun 2008 penulis melanjutkan pendidikan S2 Pascasarjana di Institut Pertanian Bogor (IPB), Fakultas Ekologi Manusia (FEMA) Departemen Gizi Masyarakat, Program Studi Ilmu Gizi Masyarakat. Pada bulan Januari 2011 penulis diterima sebagai Calon Pegawai Negeri Sipil Daerah Kota Tangerang di UPTD SMK Negeri 3 Kota Tangerang sebagai guru Tata Boga. Selain menjabat sebagai guru, penulis juga menjabat sebagai Sekretaris Jurusan Tata Boga dan sebagai Pembimbing siswa dalam melaksanakan Praktek Kerja Lapang (PKL) di Restoran.

1

PENDAHULUAN

Latar Belakang

Indonesia dihadapkan kepada beban ganda masalah gizi, yaitu: masalah gizi kurang, termasuk tubuh pendek “stunting”, dan masalah gizi lebih, termasuk obesitas. Kekurangan gizi berdampak pada lambatnya pertumbuhan tubuh terutama pada anak-anak, penurunan daya tahan tubuh serta penurunan tingkat kecerdasan dan produktivitas kerja, sedangkan kelebihan gizi berisiko terserang penyakit degeneratif (BALITBANG Depkes 2010). Hasil Riset Kesehatan Dasar status gizi penduduk umur 6-14 tahun (Usia Sekolah) menunjukkan prevalensi anak kurus sebanyak 9.5% laki-laki dan 4.4% perempuan, sedangkan prevalensi anak gemuk sebanyak 1.3% laki-laki dan 1.5% perempuan. Masalah ini menjadi penting untuk diperhatikan sebagai suatu masalah yang serius untuk ditangani.

Anak Usia Sekolah (AUS) merupakan investasi bangsa, karena anak adalah generasi penerus bangsa. Kualitas bangsa di masa depan ditentukan kualitas anak- anak saat ini. Upaya peningkatan kualitas sumber daya manusia harus dilakukan sejak dini, sistematis dan berkesinambungan. Tumbuh berkembangnya anak usia sekolah yang optimal tergantung pemberian gizi dengan kualitas dan kuantitas yang baik serta benar (BALITBANG DepKes 2008).

Timbulnya masalah gizi disebabkan karena pola makan salah. Pola makan tidak hanya melalui makanan yang beragam, seimbang dan dalam jumlah cukup, tetapi harus memperhatikan keamanan pangan (BPOM 2010). Salah satu masalah utama keamanan pangan yang sering dijumpai di sekitar kita adalah pangan yang tercemar oleh mikroba. Berdasarkan data Kejadian Luar Biasa (KLB) keracunan pangan dari Badan POM RI tahun 2001-2009 menunjukkan bahwa rata-rata persentase penyebab KLB keracunan pangan adalah akibat cemaran mikroba sebesar 23,41 % dan jenis pangan penyebab keracunan terbanyak adalah masakan rumah tangga dengan rata-rata persentase sebesar 38,69%.

Banyak sekali kejadian keracunan pangan akibat makanan yang diolah tidak diperhatikan keamanan dari bahan yang digunakan serta cara pengolahan. Praktek sanitasi dan higiene seseorang menentukan tingkat pencemaran makanan maupun minuman jajanan. Hal ini sejalan dengan penelitian Ariyani (2006) yang menyatakan bahwa terdapat hubungan antara praktek sanitasi dan higiene dengan total mikroba minuman jajanan. Keracunan pangan dapat berasal dari masakan rumah tangga yang dibawa sebagai bekal sekolah maupun dijual di kantin dan penjaja luar sekolah. Siswa membeli jajanan yang tersedia tanpa memperhatikan unsur gizi maupun keamanan pangannya.

Pendidikan gizi atau lebih dikenal dengan kegiatan KIE (Komunikasi, Informasi dan Edukasi) yang bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan, mengubah sikap dan perilaku gizi adalah salah satu upaya penanggulangan beban ganda masalah gizi yang paling efektif dan mempunyai daya ungkit tinggi untuk mengubah perilaku konsumsi makanan ke arah yang lebih sehat (Thaha et al. 2012). Peningkatan pengetahuan, sikap dan praktek gizi siswa terlihat setelah diberi intervensi pendidikan gizi melalui pemutaran video dan pemberian komik mengenai piramida makanan (Talib et al. 2007), sedangkan intervensi pendidikan

2

gizi di Slovenia menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan gizi siswa SD (Kostanjevec et al. 2011).

Guru sebagai pendidik yang tidak hanya berperan sebagai pengajar, tetapi juga dapat membimbing, mengarahkan, memberikan contoh yang baik sehingga guru diharuskan memiliki pengetahuan yang luas. Guru dapat menyampaikan ilmu yang dimiliki dengan baik, menunjukkan sikap yang positif dan praktek yang baik terutama dalam mengkonsumsi makanan yang bergizi dan aman. Praktek pemilihan jajanan guru dapat ditiru oleh siswa sehingga guru harus dapat memilih makanan yang bergizi dan aman. Penelitian Octaviana (2011) menunjukkan bahwa guru yang tidak sempat sarapan atau membawa bekal juga menyukai jajan di sekolah.

Penelitian dengan sasaran guru SD di Kota Bogor menunjukkan peningkatan pengetahuan guru terhadap materi gizi seimbang setelah diberi pelatihan (Atmaja 2010). Pelatihan dengan sasaran guru SD ditujukan untuk meningkatkan pengetahuan gizi siswa di kalangan sekolah. Harapannya apabila guru memiliki pengetahuan yang baik, sikap yang positif dan praktek yang baik maka guru dapat mentransfer ilmunya dengan baik kepada siswanya.

Intervensi berupa pelatihan tentang gizi dan keamanan pangan dirasakan mendesak. Guna keperluan tersebut dibutuhkan media maupun alat bantu dalam penyampaiannya. Media atau alat bantu yang biasa digunakan dalam proses pembelajaran berupa modul. Sejalan dengan perkembangan ilmu dan teknologi, terdapat banyak media yang dapat digunakan dan lebih bervariasi dalam berbagai bentuk penyajiannya, seperti leaflet, booklet, flip chart, poster, buku cerita bergambar dan masih banyak lagi.

Persepsi merupakan tingkat pertama dalam ranah praktik. Persepsi merupakan pengenalan dan pemilihan berbagai objek sehubungan dengan tindakan yang akan diambil (Notoatmodjo 2007). Seorang guru dapat memilih makanan yang bergizi bagi keluarganya merupakan salah satu contoh bahwa guru dapat mempersepsikan gizi dengan baik. Persepsi guru diperlukan untuk memberikan gambaran mengenai media pendidikan gizi yang akan digunakan dalam intervensi pendidikan gizi di SD. Sebelum media digunakan diperlukan saran yang dapat dijadikan sebagai bahan acuan.

Beberapa penelitian mengenai pengetahuan, sikap dan praktek gizi dan keamanan pangan pada guru Sdmenunjukkan hasil yang masih rendah (Fitriyanti 2009) sehingga dalam memberikan intervensi pendidikan gizi diperlukan suatu upaya untuk meningkatkan pengetahuan, sikap dan praktek gizi dan keamanan pangan guru SD. Intervensi pendidikan gizi tidak terlepas dari peran media. Media pendidikan gizi yang dibuat harus tepat sasaran sehingga diperlukan penilaian atau persepsi guru pada media pendidikan gizi yang akan digunakan sebelum intervensi dilaksanakan dengan tujuan untuk meningkatkan kualitas pengajaran guru SD. Penelitian mengenai persepsi guru SD pada berbagai media pendidikan gizi terkait perilaku (pengetahuan, sikap, praktek) gizi dan keamanan pangan diharapkan dapat meningkatkan efektifitas pemberian materi atau transfer ilmu dari guru kepada siswanya terutama dalam hal pendidikan gizi dan keamanan pangan.

3 Tujuan Penelitian

Tujuan Umum

Menganalisis pengaruh pengetahuan, sikap, praktek gizi dan keamanan pangan guru sekolah dasar terhadap persepsi pada media pendidikan gizi menurut wilayah dan akreditasi sekolah.

Tujuan Khusus

1. Menganalisis karakteristik sosial ekonomi guru

2. Menganalisis pengetahuan, sikap, praktek gizi dan keamanan pangan guru 3. Menganalisis persepsi guru pada media berupa modul, leaflet, poster,

flipchart, booklet pendidikan gizi

4. Menganalisis pengaruh pengetahuan, sikap, praktek gizi dan keamanan pangan guru terhadap persepsi guru pada media pendidikan gizi.

Manfaat Penelitian

Penelitian mengenai persepsi guru pada media pendidikan gizi terkait perilaku gizi dan keamanan pangan diharapkan akan dapat memberikan informasi kepada peneliti, penyuluh gizi dan keamanan pangan dan menjadi bahan pertimbangan dalam rangka pengembangan intervensi pendidikan gizi pada guru SD di daerah lain. Selain itu penelitian ini diharapkan dapat digunakan sebagai bahan tambahan informasi bagi pembuat kebijakan untuk lebih memperhatikan pentingnya pengembangan media pendidikan gizi.

5

2

TINJAUAN PUSTAKA

Guru Sekolah Dasar

Guru adalah salah satu komponen manusiawi dalam proses belajar mengajar, yang ikut berperan dalam usaha pembentukan sumberdaya manusia (Sadirman 2004). Menurut Peraturan Pemerintah Republik Indonesia Nomor 78 Tahun 2008 tentang Guru, guru adalah pendidik profesional dengan tugas utama mendidik, mengajar, membimbing, mengarahkan, melatih, menilai, dan mengevaluasi peserta didik pada pendidikan anak usia dini jalur pendidikan formal, pendidikan dasar, dan pendidikan menengah.

Guru SD adalah profesi yang secara formal mendapat tugas utama mengajar dan mendidik siswa SD, di sekolah formal baik negeri maupun swasta. Peraturan Pemerintah Nomor 19 Tahun 2005 menyebutkan bahwa kualifikasi akademik pendidikan untuk guru SD/MI minimal adalah S1 dengan latar belakang pendidikan tinggi di bidang pendidikan SD/MI, kependidikan lain, atau psikologi serta sertifikat profesi guru untuk SD/MI. Namun ternyata kondisi pendidikan guru SD di Kota dan Kabupaten Bogor masih belum menunjukkan seperti yang diharapkan. Hal ini dapat dilihat dari persentase jumlah guru SD yang belum S1 di Kota dan Kabupaten Bogor mencapai 79.3% dan 82.6% (Hardini 2008).

Pendidikan Gizi di Sekolah Dasar

Tujuan pendidikan yakni meningkatkan pengetahuan seseorang mengenai suatu hal sehingga ia menguasainya dan akan tercapai jika prosesnya komunikatif. Pengetahuan yang diperoleh akan didapat manfaat lebih apabila sesuai dengan kebutuhan. Pendidikan gizi selalu dimaksudkan agar siswa didik mengubah perilaku konsumsi gizi menuju ke perilaku yang lebih baik (Khomsan 2000). Dalam pendidikan gizi yang diberikan harus diperhatikan isi dari materi yang akan disampaikan sehingga mudah dipraktekkan, karena perbedaan cara penyampaian informasi yang sama oleh satu orang dapat diinterpretasikan secara berbeda oleh siswa didik.

Masalah gizi kurang dan gizi lebih yang terjadi dapat diatasi dengan upaya pendidikan atau penyuluhan gizi. Salah satu usaha ini sangat penting untuk dilakukan dengan harapan orang bisa memahami pentingnya makanan dan gizi, sehingga mau bersikap dan bertindak mengikuti norma-norma gizi (Suhardjo 2003). Pendidikan gizi merupakan hal yang penting dan harus dimasukkan sebagai bagian dari kebijakan gizi dalam pembangunan nasional. Pendidikan gizi harus menjadi bagian integral dari pendidikan formal mulai dari SD, Sekolah Menengah sampai Perguruan Tinggi.

Pendidikan gizi di sekolah mempunyai beberapa keuntungan antara lain siswa-siswa mempunyai pikiran yang terbuka dibandingkan orang dewasa, dan pengetahuan yang diterima dapat merupakan dasar bagi pembinaan kebiasaan makannya. Di tingkat sekolah dasar, pendidikan gizi sebaiknya ditujukan agar siswa dapat memilih dan menikmati beragam makanan yang mengandung zat-zat gizi yang diperlukan untuk pertumbuhan dan perkembangan siswa secara baik dan

6

sehat. Guru dapat mengetahui keadaan gizi siswa dengan mengukur berat badan dan tinggi badan, menanyakan konsumsi pangannya di rumah, kebiasaan makan sebelum ke sekolah, apakah suka jajan, apakah sudah biasa makan sayur-sayuran, buah-buahan dan sebagainya. Informasi ini dapat digunakan sebagai bahan pertimbangan dalam memberikan pelajaran tentang gizi (Suhardjo 2003).

Pengetahuan, Sikap dan Praktek Gizi dan Keamanan Pangan Pengetahuan Gizi dan Keamanan Pangan

Pengetahuan gizi merupakan landasan yang penting dalam menentukan konsumsi makanan. Seseorang yang memiliki pengetahuan gizi yang baik akan mampu menerapkan pengetahuan gizinya dalam pemilihan bahan makanan sehingga konsumsi makanan dapat tercukupi (Khomsan 2000). Tingkat pengetahuan gizi dapat dilihat dari skor beberapa pertanyaan yang berbentuk multiple choice. Selanjutnya tingkat pengetahuan gizi dikategorikan dengan menetapkan cut of point dari skor yang telah dijadikan persen. Kategori untuk tingkat pengetahuan gizi dibagi ke dalam tiga kelompok yaitu baik (>80%), sedang (60-80%), dan kurang (<60%).

Memiliki pengetahuan gizi tidak berarti seseorang mau mengubah kebiasaan makannya. Walaupun seseorang paham tentang protein, karbohidrat, vitamin dan zat gizi lainnya yang diperlukan untuk keseimbangan diit tetapi tidak pernah mengaplikasikan pengetahuan gizi ini dalam kehidupan sehari-hari (Khomsan 2000). Oleh karena itu, pemahaman terhadap latar belakang guru sebelum melakukan intervensi pendidikan gizi penting untuk dipelajari.

Pengetahuan gizi dapat diperoleh dari berbagai sumber informasi selain dari pendidikan formal juga dapat diperoleh dari lingkungan sekitar. Hasil penelitian Patriasih (2005) mengungkapkan bahwa lebih dari setengah (66.7%) manula di panti werdha Kota Bandung mendapatkan informasi mengenai gizi dan kesehatan dari televisi, penyuluhan (65.7%), teman dan saudara (52.2%), serta melalui bacaan (23.3%). Hal ini sejalan dengan penelitian Megasari (2006) yang menyatakan bahwa guru memperoleh pengetahuan terkait gizi dari bacaan seperti koran atau majalah (20.1%) dan televisi (17.3%).

Pengetahuan gizi dan manfaatnya bagi kesehatan dapat diintegrasikan pada mata pelajaran yang relevan di dalam kurikulum dan/atau pada kegiatan ekstrakurikuler (DepKes RI 2005). Pada tingkat SD, pengetahuan gizi dapat ditemukan pada beberapa mata pelajaran seperti Pendidikan Jasmani dan Kesehatan (Penjaskes), Ilmu Pengetahuan Sosial (IPS), Bahasa Indonesia, Pendidikan Agama Islam (PAI), Ilmu Pengetahuan Alam (IPA). Mata pelajaran yang terkait dengan gizi adalah mata pelajaran IPA yaitu sebanyak 69.7% yang secara umum terdapat dua bab yang membahas materi berkaitan dengan gizi seimbang. Kedua bab tersebut adalah Bab Pencernaan Makanan pada Manusia serta Bab Hubungan Makanan dan Kesehatan. Kemudian mata pelajaran Penjaskes sebanyak 21.2%, sedangkan sebanyak 9.1% mata pelajaran yang terkait gizi adalah mata pelajaran lainnya seperti Fiqih, Pendidikan Lingkungan Hidup (PLH) dan Bahasa Indonesia (Atmaja 2010).

Pengetahuan gizi dan keamanan pangan pada sasaran guru telah diteliti oleh beberapa peneliti. Penelitian Atmaja (2010) menyatakan bahwa sebanyak 75% guru pada saat pre test memiliki pengetahuan gizi mengenai gizi seimbang pada

7 pada kategori kurang, sedangkan pada saat post test terjadi peningkatan ke arah lebih baik; tidak ada lagi guru yang memiliki pengetahuan gizi yang kurang setelah dilakukan pelatihan tentang materi gizi seimbang. Fitriyanti (2009) yang melakukan penelitian terkait perilaku gizi dan keamanan pangan guru secara umum menyatakan bahwa lebih dari separuh guru (52.9%) memiliki tingkat pengetahuan terkait gizi dan keamanan pangan dengan kategori sedang dan 42.6% guru memiliki tingkat pengetahuan gizi dan keamanan pangan kategori kurang. Hal ini memberikan gambaran bahwa perlu adanya upaya peningkatan mutu guru dalam hal pengetahuan gizi dan keamanan pangan. Salah satu upaya yang dapat dilakukan yaitu melalui suatu kegiatan intervensi pendidikan gizi dan keamanan pangan. Intervensi tersebut tidak hanya berupa pemberian materi tambahan kepada guru akan tetapi juga berupa pelatihan metode penyampaian materi gizi dan keamanan pangan yang efektif.

Sikap Gizi dan Keamanan Pangan

Sikap merupakan reaksi atau respon seseorang yang masih tertutup terhadap suatu stimulus atau objek di lingkungan tertentu sebagai suatu penghayatan terhadap objek (Notoatmodjo 2003). Sikap merupakan tingkat keyakinan atau pendapat seseorang tentang hal-hal yang berhubungan dengan informasi yang diperoleh, pengalaman dan perilaku. Sikap terdiri dari berbagai tindakan seperti menerima, merespon, menghargai, dan bertanggung jawab. Pengukuran sikap dapat dilakukan secara langsung dan secara tidak langsung. Pengukuran sikap secara langsung dapat dilakukan dengan cara menanyakan pendapat atau pernyataan seseorang terhadap suatu objek (Notoatmodjo 2007).

Sikap gizi dan keamanan pangan merupakan suatu respon evaluatif berupa respon positif atau respon negatif terhadap gizi dan keamanan pangan. Penelitian Anderson et al. (2004) di Skotlandia mengenai dampak intervensi pendidikan gizi di sekolah dasar terhadap asupan makanan serta variabel pengetahuan dan sikap terkait dengan buah dan sayur menunjukkan peningkatan terhadap pengetahuannya, sedangkan pada sikap terjadi penurunan preferensi terhadap makanan atau minuman tinggi lemak dan gula. Hal ini dapat dipahami bahwa pengetahuan gizi yang diberikan mempengaruhi sikap gizi sehingga siswa SD lebih memilih untuk mengonsumsi makanan sehat dibandingkan makanan tinggi lemak dan gula. Sedangkan penelitian pada level guru menyatakan sebanyak 64.7% memiliki sikap netral terhadap gizi dan keamanan pangan dan tidak ada guru yang memiliki sikap negatif, hal ini menggambarkan bahwa pengetahuan yang benar akan memberikan sikap yang positif terhadap gizi dan keamanan pangan (Fitriyanti 2009). Sejalan dengan penelitian Patriasih (2005) yang menunjukkan hasil bahwa pengetahuan gizi yang baik (67.8%) diikuti dengan sikap yang baik pula (58.9%).

Praktek Gizi dan Keamanan Pangan

Setelah seseorang mengetahui stimulus atau rangsangan yang ada, maka orang tersebut akan mengadakan penilaian terhadap apa yang diketahui, sehingga proses selanjutnya diharapkan dapat melaksanakan atau mempraktikkan apa yang diketahui atau disikapinya (dinilai baik) (Notoatmodjo 2007). Selanjutnya dikatakan bahwa praktek merupakan respon seseorang terhadap suatu rangsangan

8

(stimulus). Respon atau reaksi ada yang bersifat pasif (pengetahuan, persepsi sikap) dan bersifat aktif (tindakan nyata atau praktek).

Praktek gizi dan keamanan pangan merupakan suatu tindakan atau kegiatan seseorang dalam kehidupan sehari-hari terkait dengan pemeliharaan gizi dan keamanan pangan serta kebiasaan makan dan kebiasaan berperilaku hidup bersih dan sehat. Praktek gizi dan keamanan pangan memiliki beberapa tingkatan diantaranya yaitu persepsi, respon terpimpin, mekanisme dan adopsi. Persepsi terhadap gizi dan keamanan pangan ini terkait dengan pemilihan dan pengenalan mengenai gizi dan keamanan pangan yang berhubungan dengan tindakan yang akan diambil. Respon terpimpin berhubungan dengan tindakan yang telah dilakukan sesuai dengan urutan yang benar dalam mengonsumsi makanan bergizi, mengolahnya maupun memperhatikan keamanannya, sedangkan mekanisme diartikan sebagai tindakan yang secara otomatis dilakukan tanpa menunggu adanya perintah dan adopsi merupakan tindakan yang sudah dimodifikasi tanpa mengurangi kebenaran praktek tersebut seperti seorang ibu dapat memilih dan memasak makanan yang bergizi tinggi berdasarkan bahan-bahan yang murah dan sederhana (Notoatmodjo 2007).

Praktek gizi dan keamanan pangan yang diteliti oleh Fitriyanti (2009) memberikan gambaran sebanyak 77,9% guru memiliki praktek terkait gizi dan keamanan pangan yang cukup. Praktek gizi yang paling banyak dilakukan dengan tepat adalah pada praktek penggunaan garam di rumah yaitu sebanyak 98,5% guru menggunakan garam beryodium. Sedangkan praktek keamanan pangan yang paling banyak dilakukan dengan tepat adalah praktek pembelian makanan yang aman. di sekolah guru yang tidak membawa makanan dari rumah akan membeli makanan atau jajanan di sekitar sekolah, seperti pada penelitian Octaviana (2011) yang menyatakan bahwa kadang-kadang sebanyak 100% guru membeli jajanan seperti mie, bakso, 80% guru membeli snack, gorengan, dan sebanyak 40% guru suka membeli dan mengkonsumsi jajanan es sirup, minuman kemasan, permen.

Persepsi Guru pada Media Pendidikan Gizi

Persepsi adalah sebuah proses saat individu mengatur dan menginterpretasikan kesan-kesan sensoris mereka guna memberikan arti bagi lingkungan mereka (Robbins, Stephen P 2007). Perilaku individu seringkali didasarkan pada persepsi mereka tentang kenyataan, bukan pada kenyataan itu sendiri. Persepsi pada hakikatnya merupakan proses penilaian seseorang terhadap obyek tertentu. Dalam hal ini guru sebagai seorang pendidik diharapkan mampu untuk menilai media pendidikan gizi yang diberikan untuk dapat dipahami oleh isinya oleh peserta didik.

Media dalam pendidikan gizi merupakan alat bantu yang memiliki fungsi untuk mempermudah penyampaian pesan-pesan gizi dan kesehatan dalam kegiatan pendidikan gizi. Khomsan (2000) menggolongkan tiga jenis media sebagai berikut: 1.Audio aids yaitu alat peraga yang didengar (berupa suara); 2.Visual aids yaitu alat peraga yang dilihat (berupa gambar, foto, benda); 3.Audio visual aids yaitu alat peraga yang bisa dilihat da didengar (kombinasi gambar dan suara), berupa siaran televisi, film, slide and sound, dan sebagainya.

9 Dalam dunia pendidikan, sering kali istilah alat bantu atau media komunikasi digunakan secara bergantian atau sebagai pengganti istilah media pendidikan (pembelajaran). Seperti yang dikemukakan oleh Hamalik (1994) bahwa dengan penggunaan alat bantu berupa media komunikasi, hubungan komunikasi akan dapat berjalan dengan lancar dan dengan hasil yang maksimal. Media yang digunakan dalam menyampaikan materi pendidikan gizi berupa modul, leaflet, poster, booklet, flipchart.

Penelitian penggunaan media dalam pendidikan gizi masih tergolong jarang. Salah satu penelitian yang dilakukan terkait penggunaan media dalam pendidikan gizi adalah penelitian Ikada (2010), yang melakukan penelitian terhadap pengaruh buku cerita bergambar terhadap pengetahuan gizi siswa SD Ciriung 02 Cibinong, memberikan hasil yang positif. Pengetahuan gizi siswa secara signifikan bertambah setelah dilakukan pendidikan gizi menggunakan media buku cerita bergambar.

Modul Pendidikan Gizi

Modul adalah suatu kesatuan bahan belajar yang disajikan dalam bentuk

self- instruction”, artinya bahan belajar yang disusun di dalam modul dapat dipelajari siswa secara mandiri dengan bantuan yang terbatas dari guru atau orang lain (Depdiknas 2002). Modul pendidikan gizi disusun dengan tema Gizi dan Keamanan Makanan Siswa Sekolah Dasar. Ukuran kertas yang digunakan A5 (14.8 cm x 21 cm) dengan font size 16 jenis tulisan times new roman. Materi yang terdapat pada modul yaitu Peranan Pangan dan Gizi, Gizi dan Kesehatan untuk Anak Sekolah, Keamanan Pangan, Peranan Kantin Sehat. Uraian materi peranan pangan dan gizi mencakup definisi pangan, zat-zat gizi dalam pangan, fungsi gizi bagi tubuh dan masalah gizi pada siswa SD. Materi Gizi dan Kesehatan untuk anak sekolah terdiri dari perhitungan IMT, AKG anak usia sekolah, dan contoh menu untuk siswa SD. Materi keamanan pangan terdiri dari uraian materi tentang analisis bahaya pada pangan dan lima kunci untuk keamanan pangan. Materi terakhir berisi uraian materi terkait dengan fungsi kantin dan jenis-jenis makanan yang dijual dikantin.

Leaflet Pendidikan Gizi

Leaflet atau handout merupakan secarik kertas berukuran kecil, berisi suatu informasi atau inovasi, bisa dicetak atau ditulis tangan dan disertai gambar- gambar sederhana, biasanya dibuat dalam jumlah yang besar (Khomsan 2000). Ukuran leaflet kurang dari 20 x 30 cm, sehingga mudah dibawa-bawa. Pesan yang ingin disampaikan tidak boleh terlalu banyak dan terlalu penuh dengan gambar sehingga dapat membingungkan guru. Kata-kata yang dipilih harus jelas dan gambar-gambarnya sederhana. Media berbentuk selembar kertas ini pada umumnya lebih banyak tulisan pada kedua sisi kertas serta dilipat sehingga berukuran kecil dan praktis dibawa. Pada umumnya kertas yang digunakan berukuran A4 yang dilipat menjadi tiga bagian. Media ini berisikan suatu gagasan

Dokumen terkait