BAB IV HASIL DAN PEMBAHASAN
4.1.3. Deskripsi Informan
4.1.3.2. Rizka Gusti Sitanggang
Informan kedua dalam penelitian ini adalah Rizka Gusti Sitanggang, yang biasa akrab disapa Rizka. Rizka merupakan anak dari pasangan Alm. Agusman R. Sitanggang dan Yusria Ningsih yang bertempat tinggal di Jalan Besar Namo Rambe Gang Sejarah Dusun IV Desa Deli Tua Kecamatan Namo Rambe. Saat ini Rizka tinggal bersama nenek dan ibunya karena ayahnya telah meninggal dunia, sehingga Ibu Rizka menjadi tulang punggung keluarga setelah ayahnya meninggal dunia dengan bekerja sebagai pedagang sembako. Penghasilan ibu Rizka juga tidak tetap. Di rumah Rizka memiliki televisi berbayar, komputer, radio, dan smartphone yang digunakan untuk mengakses media.
. Gadis kelahiran Medan tanggal 5 Januari tahun 1997 ini sangat aktif bermedia sosial dan juga aktif di beberapa kegiatan luar dan dalam kampus, selain itu ia juga sering menjadi delegasi berbagai konferensi hingga tingkat internasional, seperti Delegasi Youth Excursion 2016 di Thailand, Delegasi 3rdASEAN Youth Leader Association Advocacy Camp (AYLA) di Philipina, dan berbagai kegiatan lainnya.
Rizka memilih untuk masuk ke Departemen Ilmu Komunikasi karena berbagai hal yang tidak ia sangka sebelumnya. Pada awal SMA, Rizka masuk jurusan IPA karena ia berpikir bahwa jurusan IPA mudah untuk masuk ke jurusan apa saja saat kuliah nanti, namun selama ia berada di jurusan tersebut Rizka merasa bosan dan penat dengan semua pelajaran kelasnya. Aktif di organisasi memang sudah dilakukan Rizka sejak di masa sekolahnya, seperti masuk dalam organisasi kesiswaan OSIS. Itulah yang membuat Rizka menjadi sosok yang senang mengemukakan pendapatnya secara langsung, dengan komunikasi lisan maupun tulisan. Setelah lulus sekolah, ia mencari-cari jurusan kuliah yang tepat
dengan minat yang ia punya, hingga ia menemukan dua jurusan yang sesuai yaitu Ilmu Komunikasi dan Kesejahteraan Sosial. Setelah memikirkan ulang mengenai jurusan yang paling tepat baginya, Rizka pun memutuskan untuk masuk ke Ilmu Komunikasi, karena menurutnya Ilmu Komunikasi bisa berbaur ke segala aspek, dan tidak terbatas, sementara Ilmu Kesejahteraan Sosial bagi Rizka tidak jauh dari hal-hal yang berkaitan dengan sosial saja. Untuk penjurusan nanti, Rizka sudah memutuskan untuk memilih jurnalistik.
Menurut Rizka, jurnalistik merupakan sesuatu yang menantang, sehingga setiap hari ada sesuatu yang baru untuk dihadapi, selain itu, dengan mendalami jurnalistik, seseorang tidak akan pernah berhenti belajar untuk belajar, karena ilmu akan terus digali, untuk mencari tahu tentang segala sesuatunya dan menggali informasi sampai ke pokok permasalahan, selain itu menjadi jurnalis bagi Rizka adalah sebuah pembuktian diri kepada orang tuanya bahwa perempuan dapat menjadi seorang jurnalis.Perempuan berdarah Batak Toba ini menyelesaikan di Sekolah Dasar Swasta Sriwijaya Medan, dan melanjutkannya ke SMP Kemala Bhayangkari 1 Medan, kemudian ia mengambil pendidikan lanjutannya di SMA Angkasa 1 Lanud Medan. Sejak masa sekolahnya, Rizka memang sudah sering meraih berbagai penghargaan dari berbagai perlombaan yang diikutinya seperti Juara 1 Best Student Competition of Abacus tingkat nasional pada tahun 2005.
Kegiatan yang Rizka ikuti tidak membuatnya melewatkan waktu khusus bersama keluarganya di akhir pekan. Biasanya ia menghabiskan waktu libur ataupun akhir pekan bersama dengan ibunya atau sesekali ia akan pergi ke toko buku atau menonton film bioskop jika ada film yang disukainya, selain itu ia juga suka membaca berbagai berita online seperti Kompas.com, Remotivi.com, BBC.com, Detik.com dan Kompasiana. Menurutnya, mengisi waktu yang ada dengan membaca itu sangat penting, karena selain menambah informasi dan meluaskan wawasan, juga bisa membantunya dalam menulis.
4.1.3.3.Muhammad Arief
Informan ketiga dalam penelitian ini adalah seorang mahasiswa Ilmu Komunkasi angkatan tahun 2014 bernama Muhammad Arief. Pria yang merupakan anak ketiga dari pasangan Nurleni Bahar dan Refrijon Tanjung ini bertempat tinggal di Komplek Griyah Sunda, Lubuk Pakam. Arief, begitu ia biasa disapa, adalah kelahiran Medan, tanggal 5 Maret tahun 1996. Ia merupakan anak ketiga dari empat bersaudara. Kedua orang tuanya bekerja sebagai wiraswasta dan memiliki penghasilan dua dan lima juta rupiah dalam sebulan. Arief dan keluarga memiliki televisi kabel, smartphone, dan koran untuk mengakses media. Arief menempuh pendidikan dasarnya di Sekolah Dasar 1 Lubuk Pakam, kemudian ia melanjutkannya di Sekolah Menengah Pertama Lubuk Pakam. Tingkat lanjutan atasnya ditempuhnya di Sekolah Menengah Atas 1 Lubuk Pakam. Ia memiliki beberapa prestasi baik sejak sekolah hingga memasuki masa kuliah, yaitu Juara Pidato Bahasa Inggris SMA Negeri 1 Lubuk Pakam, Juara Debat Sosial Politik di Kegiatan Porseni FISIP USU, dan beberapa prestasi lainnya
Arief sangat aktif di luar jam kuliahnya, ia mengikuti beberapa organisasi yang membantunya mengasah kemampuan public speaking, seperti, PRASTA, IMAJINASI, dan beberapa kegiatan lainnya yang nantinya dapat ia manfaaatkan untuk mencapai cita-citanya yang ingin menjadi seorang Duta Besar. Keputusannya untuk mengambil Ilmu Komunikasi sebagai jurusannya di pendidikan perguruan tinggi tidak jauh dari apa yang dicita-citakanya. Ketika penjurusan, Arief akan memilih untuk menjadi seorang Public Relations atau biasa disebut Humas, karena pada akhir masa sekolah, Arief sangat ingin mengambil jurusan Hubungan Internasional, namun berhubung di Kota Medan belum ada jurusan tersebut, maka ia memutuskan untuk menjadi seorang PR yang menurutnya memiliki tugas yang hampir mirip dengan menjadi seorang Dubes yang merupakan impian Arief sejak awal. Sebelum mengambil jurusan Ilmu Komunikasi, Arief juga sempat berpikiran untuk mengambil jurusan Hukum, namun kembali izin orang tua menjadi kendala Arief, sehingga mengharuskannya untuk masuk jurusan Ilmu Komunikasi.
Arief memiliki beberapa hobi seperti fotografi, membaca dan menulis. Biasanya Arief memilih untuk membaca novel dibandingkan yang lain, selain itu Arief juga membaca berita online yang biasa dibacanya seperti Tribun dan Analisa. Di akhir pekan, Arief tidak memiliki agenda khusus yang mengharuskannya melakukan sesuatu, ia lebih menghabiskannya dengan kegiatan rutin yang sama seperti hari-hari lainnya.
4.1.3.4.Laura Arya Wienanta
Informan keempat ini bernama Laura Arya Wienanta, yang merupakan salah satu mahasiswa di Ilmu Komunikasi FISIP USU angkatan tahun 2014. Laura, begitu ia akrab disapa, adalah anak pertama dari empat bersaudara dari pasangan Burhan Agus dan Yurike Artika yang bertempat tinggal di Jalan Sunggal Pekan, No. 437 Medan. Perempuan berdarah Tionghoa ini lahir di Medan, pada tanggal 26 Februari 1997. Ayahnya merupakan berprofesi sebagai seorang supir dengan pendapatan sekitar satu setengah juta hingga dua juta perbulan, dan ibunya merupakan seorang ibu rumah tangga. Laura dan keluarganya memiliki televisi dan smartphone untuk mengakses media. Laura menempuh pendidikan tingkat dasar hingga menengah atasnya di sebuah yayasan bernama Yayasan Supriyadi. Laura sangat aktif di berbagai kegiatan kampusnya selain di jam kuliah. Ia mengikuti beberapa oraganisasi kampus seperti Persma Pijar, USU Chanel, Mepro USU, dan ia juga aktif di IMAJINASI. Selain itu, Laura juga merupakan seorang guru les privat yang sudah ia mulai sejak masuk sekolah menengah pertama. Ia memiliki murid-murid dari berbagai tingkatan, dari mulai tingkat dasar, hingga tingkat menengah atas.
Laura menjelaskan bahwa alasan memilih untuk masuk Ilmu Komunikasi itu pada awalnya tidak terduga. Pada awalnya Laura tidak berpikir untuk masuk jurusan Ilmu Komunikasi sampai ia melihat tayangan Net TV. Ia mengamati berbagai hal seperti produksi, dan kualitas dari film-film yang ada di Net TV, sehingga Laura memutuskan untuk memilih Ilmu Komunikasi sebagai jurusannya di dunia perkuliahan. Dalam memilih jurusan konsestrasi nanti, Laura mengatakan bahwa ia masih bingung dalam menentukan apakah akan memilih jurnalistik atau public relations (hubungan masyarakat). Hal ini dikarenakan Laura merasa bahwa
ia memiliki kemampuan di bidang hubungan masyarakat, dan juga banyak orang-orang yang sudah ia kenal di bidang tersebut, sedangkan untuk keinginan pribadi Laura ingin mengambil jurnalistik, namun ia masih ragu karena jurnalistik dikenal memiliki sisi yang keras baginya.
Laura yang memiliki hobi membaca ini sering menghabiskan waktu akhir pekannya bersama saudaranya di Glugur, dan menginap. Ia lebih mengutamakan quality time bersama keluarga. Laura juga sering membaca beberapa berita online seperti Hipwee, Media Pijar, dan Nyunyu, terkadang ia juga sering membuka link yang ada di Twitter yang terhubung langsung ke sebuah website berita.
4.1.4. Penggunaan Media Sosial Mahasiswa
Pada informan pertama, yaitu Lucky Andriansyah, pertama kali menggunakan media sosial yaitu saat memasuki Sekolah Menengah Pertama (SMP) kelas satu. Akun pertama yang ia buat saat itu adalah Facebook, yang pada saat itu sedang populer karena belum lama dirilis, namun pada saat itu ia belum begitu aktif menggunakannya hingga ia memasuki Sekolah Menegah Atas (SMA). Lucky bersekolah tingkat SMP di Madrasah Tsanawiyah Swasta Nurhasanah Medan, dan melanjutkan tingkat SMA di Madrasah Aliyah Negeri 2 Model Medan. Sejak dari masa sekolah, Lucky memang aktif di beberapa organisasi sekolah dan menjadikannya seorang yang bijak ketika berbicara di depan orang banyak. Salah satu oraganisasi yang diikuti Lucky pada saat SMA adalah Dokter Remaja.
Jumlah jam pemakaiannya untuk mengakses media sosial cenderung tidak tetap, hal ini dikarenakan Lucky hanya mengakses media sosial ketika ia memiliki waktu luang atau di saat yang mengharuskannya untuk membuka media sosial, seperti bertugas sebagai admin dari sebuah komunitas atau organisasi, atau ketika ia sedang chatting dengan saudara atau temannya. Di waktu luang yang ia miliki, Lucky lebih memilih untuk mencari informasi-informasi terbaru, karena ia beranggapan bahwa ia harus update karena ia merupakan anggota salah satu situs berita online kampus dan mendapat tugas sebagai humas di beberapa organisasinya. Ia juga merasa bahwa ketika zaman semakin canggih dan
mengharuskan orang-orang untuk saling berkomunikasi via media sosial, maka seseorang yang tidak memiliki media sosial akan dianggap ketinggalan zaman. Hal tersebutlah yang melatarbelakangi Lucky untuk memiliki media sosial. Perangakat yang Lucky gunakan untuk mengakses media sosial adalah smartphone, laptop, dan komputer. Perkembangan akun yang dimiliki oleh Lucky sekarang tidak hanya Facebook saja, namun sekarang ia memiiki beberapa akun media sosial seperti Instagram, Twitter, Path, Line, Blackberry Messenger, dan Ask.fm.
Lucky mengatakan bahwa saat ini media sosial yang paling sering digunakannya untuk menyebarkan dan memperoleh informasi adalah Line dan Instagram, namun Instagram sendiri lebih banyak ia gunakan untuk sekedar hobi dan membagikan informasi dari berbagai akun official grup yang ia kelola. Akun instagram pribadinya lebih ia gunakan dalam hal berbagi foto-foto momen tertetu, selain itu dalam penulisan caption, Lucky lebih menggunakan bahasa buku, sedangkan untuk Line ia mengaku lebih sering membagikan info-info dari grup yang satu ke grup yang lain. Seperti informasi lowongan pekerjaan, info acara, perlombaan, dan lain-lain. Informasi-informasi yang ada di media sosial yang sering muncul di beranda Line dan Instagram, Lucky mengatakan bahwa ia sering memberikan like terhadap informasi tersebut, namun ia sangat jarang memberikan komentar, meskipun begitu ia sangat memilah informasi apa yang pantas ia like karena ketika sebuah kiriman mendapat like, maka kiriman itu akan muncul di beranda milik sendiri.
Lucky sebagai pengguna media sosial sejak SMP mengaku hingga saat ini ia telah menghapus beberapa fotonya di Facebook dan di beberapa akun media sosial yang lain, karena baginya foto-foto tersebut tidak berguna untuk ia bagikan. Ada beberapa pertanyaan yang ada di dalam dirinya yang harus ia jawab jawab ketika ingin membagikan sebuah kiriman, atau membagikan sebuah foto, agar kiriman yang ia bagikan tidak sia-sia. Hal ini dikarenakan Lucky pernah membagikan sebuah postingan mengenai lowongan kerja sebuah perusahaan swasta, namun ternyata kabar tersebut adalah hoax, dan sejak itu ia belajar agar selalu memastikan kejelasan informasi.
Informan kedua, yaitu Rizka Gusti Sitanggang, awal mula ia menggunakan media sosial adalah saat kelas tiga Sekolah Menengah Pertama dengan akun pertama yang dibuatnya yaitu Facebook, namun hingga saat ini, akun media sosial yang digunakan oleh Rizka tidak hanya Facebook saja, tetapi ada Twitter, Line, Path, Ask.fm, dan Blogger. Ia juga memiliki akun Youtube, namun Rizka mengaku bahwa ia sangat jarang menggunakan akun media sosial tersebut. Ia lebih sering menggunakan Line dibandingkan dengan akun-akun media sosial lain yang ia miliki. Rizka menjelaskan alasannya dalam menggunakan media sosial-media sosial tersebut adalah karena untuk memberikan kuliah singkat di media sosial yang sama seperti tren kultweet yang sempat populer beberapa waktu yang lalu dan juga untuk mencari informasi-informasi yang dibutuhkannya, selain itu ia juga menggunakan media sosial sesuai dengan karakter dari media sosial tersebut, seperti Line, banyak orang menyukainya dikarenakan adanya stiker-stiker lucu yang membuat pembaca lebih bersemangat. Rizka lebih melihat apa media sosial yang sedang diminati oleh anak muda.
“Jadi sebenernya, karena mikir apa sih kebutuhan yang sekarang lagi diganderungin sama anak-anak sekarang, gitu. Misalnya Facebook, anak-anak sekarang malas baca kan, jadi lebih ke yang sifatnya singkat-singkat. Terus kalau line kan karena ada stikernya kan, jadi lucu. Jadi kalau baca chat ada stikernya jadi semangat, jadi ngikutin apa yang lagi diganderungin sama anak-anak muda sekarang.”
Waktu yang digunakan Rizka dalam mengakses media sosial dalam sehari-hari juga tidak terlalu intens, ia mengaku bahwa hanya sekitar empat sampai lima jam perharilah ia menghabiskan waktunya untuk bermedia sosial. Penulisan dan kiriman yang Rizka bagikan di media sosial biasanya hal-hal yang dibutuhkan oleh banyak orang seperti informasi tentang beasiswa, dan informasi yang bermanfaat lainnya. Rizka sendiri jarang menuliskan mengenai kehidupan atau status pribadinya di media sosial, paling tidak ia menuliskannya lebih ke dalam bentuk dakwah. Jadi sebelum membagi kiriman apapun, biasanya Rizka memikirkan tentang segala sesuatu yang berkaitan dengan kirimannya, seperti pemilihan kata-kata yang lebih bersifat sastra, dan bagaimana agar orang tidak langsung mengetahui apa yang sedang ia rasakan saat menuliskan tulisan atau
kiriman tersebut. Lebih tepatnya , Rizka menempatkan dirinya saat menuliskan sesuatu sama seperti bagaimana seorang pembaca melihat tulisannya, agar orang lain juga bisa mengambil makna dari tulisan tersebut dan tidak begitu terlihat satu arah. Hal itu lah yang membuatnya sangat memperhatikan tulisan ataupun kirimannya.
“Rizka pikir dulu sih, terus Rizka perhatiin itu kan dibaca banyak orang, jadi sebelum diposting tuh Rizka baca berulang-ulang. Itu Rizka menempatkan diri Rizka sebagai seorang pembaca, yang gak melihat dari sisi apa yang Rizka rasain, gitu. Jadi Rizka buat gimana caranya supaya orang gak langsung tahu apa Rizka rasain. Jadi Rizka mikir gimana caranya agar aku sebagai penulis sekaligus pembaca bersikap netral terhadap apa yang aku posting, dan dalam pemilihan kata, aku lebih gunain kata-kata yang bersifat sastra. Supaya lebih slow, lebih enak dibaca juga gak ngebosenin juga, tapi buat orang mikir, gitu.”
Informan ketiga, yaitu Muhammad Arief, ia menggunakan media sosial sejak ia memasuki tahun ketiganya di bangku Sekolah Mengah Pertama, dan akun yang pertama kali ia gunakan adalah akun Facebok , yang memang selalu menjadi media sosial paling populer di masa tersebut, namun saat ini akun media sosial yang dimiliki oleh Arief tidak hanya Facebook saja, melainkan ada beberapa akun media sosial lain yang sudah berkembang di masa sekarang seperti Twitter, Instagram, Path, Line, Blackberry Messenger, dan yang terkahir adalah Ask.fm. Akun-akun media sosial tersebut dikenal memang sangat diminati oleh kaum muda, khususnya mahasiswa seperti Arief. Alasan Arief menggunakan akun-akun media sosial tersebut adalah karena kebutuhan akan komunikasi sesama rekan mahasiswa, selain itu seperti akun Instagram, ia menggunakannya hanya karena ia suka fotografi, sedangkan akun media sosial yang berbasis chat seperti Line, ia menggunakannya untuk mengobrol dengan teman-temannya, dan mencari informasi yang bermanfaat. Blackberry Messenger sendiri Arief mengaku jarang menggunakannya.
Media sosial juga merupakan tempat untuk mengekspresikan diri bagi penggunanya, sehingga banyak yang melebih-lebihkan dan tidak menjadi diri sendiri saat di media sosial, namun menurut Arief, dalam bermedia sosial ia berusaha untuk selalu menjadi dirinya sendiri dan sama dengan di dunia nyata, karena ia beranggapan bahwa ketika pengguna media sosial tidak sepenuhnya menjadi dirinya yang sebenarnya, maka hal itu bukanlah hal yang seharusnya
dilakukan dan bukanlah hal yang patut untuk ditiru. Ia mengatakan bahwa menjadi diri sendiri itu contohnya ketika di Path, beberapa orang terkadang suka membuat check in palsu agar terlihat berkelas dan keren di kalangannya, sedangkan Arief mengaku sejauh ini ia tidak melakukan hal-hal yang seperti itu. “Cara mengekspresikannya dengan bagaimana diri saya di dunia nyata. Kadang kan orang menggunakan media massa berubah 60 persen dari diri dia di dunia nyata kak. Nah, hal ini tuh yang gak seharusnya, dan bukan hal yang bagus juga untuk ditiru.”
Beragam kiriman dan informasi yang ada di media sosial dari setiap orang berbeda-beda isinya, begitu pula dengan Arief. Ia mengatakan bahwa hal-hal yang sering ia bagikan di media sosial tidak jauh apa yang menjadi hobinya, yaitu foto. Biasanya Arief membagikan foto tersebut di akun Instagram dan Path, dan foto-foto yang sering di post oleh Arief merupakan foto-foto-foto-foto yang dimana ada sebuah momen atau kenangan dalam kiriman fotonya tersebut, sedangkan untuk akun Line, ia mengaku juga sering membagikan kiriman berupa informasi-informasi yang menarik yang bahkan ia beri tanda like di kiriman tersebut. Hal-hal yang sering dibagikan oleh Arief di media sosial cenderung kepada akun-akun yang berisikan cerita dan nasehat, seperti Love Islam, Quotes, dan informasi-informasi yang ada di akun official organisasinya. Penulisan informasi yang biasa dibagikan dan dikirimkan Arief di media sosial lebih ke penulisan yang yang sewajarnya, tidak dengan menggunakan kata-kata gaul yang biasa disebut alay. Sebagai pemakai yang aktif di media sosial sendiri Arief sendiri mengaku bahwa ia menggunakan media sosial dalam sehari yaitu relatif, ia juga terkadang menghabiskan waktu selama lima jam untuk bermedia sosial.
“Kalau tulisan, biasanya yang diperhatiin sih kata-kata yang dipakai engga alay. Yang di share itu ya kayak video-video keren dari akun-akun awesome. Cerita-cerita dan nasehat-nasehat dari akun Love Islam, Quotes, terus akun kayak Imajinasi itu sering di share juga kak.”
Informan terakhir, yaitu Laura Arya Wienanta mengatakan bahwa ia memiliki akun media sosial sudah sejak ia memasuki tahun pertamanya si sekolah menengah pertama dengan Facebook sebagai akun pertama yang dibuat olehnya, sedangkan untuk saat ini Laura memiliki beberapa akun media sosial yang digunakannya selain Facebook, yaitu Twitter, Instagram, Line, Ask.fm dan Path.
Dari seluruh akun media sosial yang dimilikinya, Laura mengatakan bahwa Twitter adalah akun media sosial yang paling sering digunakannya. Alasan Laura menggunakan media sosial tidak lain adalah untuk memenuhi kebutuhannya akan informasi, selain itu ia juga membutuhkannya untuk saling terhubung dengan orang-orang sekitar dan terdekatnya. Ia menekannya bahwa media sosial adalah tempat yang disana terdapat kebutuhan dan juga keinginan. Laura mengatakan bahwa ia menggunakan media sosial hanya di waktu luang dan saat ada waktu bebas saja, ia menghabiskan waktu lebih dari dua jam dalam menggunakan media sosial.
“Karena nyari informasi dari sana, berhubungan dengan banyak orang dari sana, kayak Line, gitu juga. Ada kebutuhan dan ada keinginan disana. Dimana ada waktu luang, kayak lagi nunggu-nunggu, akses. Kalau misalnya ada waktu bebas aja. Kira-kira ya lebih dari dua jam lah.”
Laura mengatakan bahwa ia mengekspresikan diri di media sosial lebih kepada apa yang dialaminya sehari-hari seperti apa yang dialaminya saat kuliah, dan untuk menuliskannya Laura juga memperhatikan penulisanya agar tidak alay, namun dikarenakan ia juga anggota dari organisasi Pijar, merupakan keharusan bagi Laura untuk menuliskan berita yang nantinya ia bagikan tulisannya tersebut di media sosial. Laura menyesuaikan gaya penulisannya dengan ketetentuan organisasinya tersebut, yaitu informatif, jujur, dan transparan, selain itu Laura