• Tidak ada hasil yang ditemukan

19b: kerapatan isi benih (0.676 g/cm

4. Roda Tugal

Agar tanah dapat terlubangi dengan rapi dan seragam maka diperlukan roda tugal yang bekerja dengan sistem yang continuous dengan jarak mata tugal yang telah disesuaikan jarak tanamnya. Roda tugal dirancang dengan diameter pada velknya 45.72 cm . Kemudian mata tugal dirancang dengan bentuk prisma segitiga dengan ukuran lebar 5cm dan tinggi 6 cm. Jarak tanam yang diharapkan oleh roda tugal ini adalah 80 x 20 cm dan ke dalam penugalan adalah 2.5–5 cm, sehingga volume mata tugal yang menekan tanah sekitar 36 cm3 seperti pada skema yang di tunjukkan pada Gambar 16.

20

Gambar 15. Rancangan Roda tugal

Gambar 16. Rancangan mata tugal

Gambar 17. Skema tahanan penetrasi tanah

Ø 45.72 cm

57.72 cm

benih Titik centroid

21

5.

Poros Roda Tugal

Poros roda tugal mengalami pembebaban yang berasal dari beban alat keseluruhan. Dengan adanya pembebanan yang terjadi maka ukuran dan jenis poros tidak boleh sembarangan. Harus melalui perhitungan yang memperhitungkan berbagai aspek, perhitungan diameter poros dengan beban lentur murni:

W = 29 kg, g = 80 cm = 800 mm, j = 100 cm = 1000 mm h = 106 cm = 1060 mm, V = 0.325 m/s = 1.17 km/h, r = 24.13 cm = 241.3 mm 1= 1000−800 4 × 29 = 1450 . αV = 0.4, αL = 0.3 M2 = 0.4 × 1450 = 580 kg.mm ɑ = 10 cm = 100 mm, l = 60 mm P = 0.3 × 29 = 8.7 kg Q0 = 8.7 × 1060/1000 = 9.22 kg �₀ = 8.7 1060 +241.3 800 = 14.15 kg M3 = 8.7 × 241.3 + 9.22 ×(100 + 60) – 14.15 ×(100+60) – (1000 – 800/2) = 2725.51 kg.mm

Poros pengikut, kelas 1, σwb = 10 km/mm2, m = 1 ≧ 10.2 × 1 × (1450 + 580 + 2725.51) 10 1/3 = 16.93 = 17 = 10.2 × 1 × (1450 + 580 + 2725.51) 173 = 98.7 2 n = 10/9.87 = 1.01, baik

Diameter poros berdasarkan perhitungan adalah 17 mm dan untuk mempermudah perakitan digunakan diameter poros 1 inchi = 2.54 cm yang mudah diperoleh.

22

6.

Pembuka Alur Pupuk

Rancangan pembuka alur pupuk ini dibuat berbentuk piringan atau blade yang terletak di belakang hopper. Jarak yang diharapkan untuk membuat alur pupuk adalah 5-10 cm dari alur lubang tanam dan dengan kedalaman 2–5 cm dari permukaan tanah karena pupuk disarankan berada tidak jauh dari permukaan tanah agar lebih mudah diserap oleh akar tanaman. Selain itu piringan pembuka alur pupuk ini dirancang dengan kemiringan 13.6° agar piringan dapat berputar, berobek dan membalik tanah dengan baik, selain itu agar tanah juga menutup lubang tanam dengan sempurna.

Perhitungan sudut piringan pada pembuka alur pupuk:

�= sin−1 2

8.5 = 13.6°

Gambar 18. Rancangan piringan (blade) pembuka alur pupuk

30 cm Ø 13 cm 5 cm 6.5 cm 8.5 cm a = 8.5 cm b = 2 cm

α

23

7.

Sumber Tenaga

Sumber tenaga untuk rangkaian elektronika adalah aki (accu) kering 5Ah., sedangkan sumber tegana dorong alat dari tenaga manusia. Untuk mengetahui besarnya daya listrik yang dibutuhkan untuk mengoperasikan keseluruhan sistem kerja dari kontrol elektronika, maka diperlukannya perhitungan daya listrik yang tersedia oleh aki dan daya yang akan digunakan. Perhitungan kebutuhan kosumsi daya listrik:

Daya Aki 12V, 5Ah = 60 W

Mikon = 0.02 A, 12V = 0.24 W EMS 2A = 2A, 5V = 10 W Oph-Amp = 0.02 A, 5V = 0.1 W Sensor magnet = 0.025 A, 5V = 0.125 W Motor DC MD = 0.06 A, 12V = 0.72 W × 4 buah = 2.88 W Motor DC OG = 0.025 A, 5V = 0.125 W × 2buah = 0.5 W Total daya = 0.24 + 10 + 0.24 + 0.125 + 2.88 + 0.5 = 13.845 W

Ketika daya yang berasal dari aki kering habis maka aki dapat diisi kembali dayanya dengan bantuan charger.

Daya charger aki 18 V, 800mA = 14.4 W Daya aki 60 W

maka waktu yang dibutuhkan untuk mengisi daya pada aki = 60/14.4 = 4.16 jam Untuk mengetahui besarnya daya yang diperlukan untuk mengoperasikan alat, perlu diketahui terlebih dahulu analisis kebutuhan tenaga dorong yang terjadi ketika alat beroperasi.

Dimana:

Frr = tahanan gelinding pada roda tugal (N)

Ftp = tahanan potong piringan pembuka alur pupuk (N) Wr = bobot dinamis roda (N)

Crr = koefisien tahanan gelinding Fd = gaya dorong yang diperlukan (N) ds = draft per unit area

Kecepatan maju operator = 1.17 km/h = 0.325 m/s

Daya manusia laki-laki dewasa (asumsi berat badan 60 kg) = 0.3 Hp = 223.71 W Fd

Ftp Frr

24

Fd = Ftp + Frr

Frr = Crr × Wr

Dimana Wr dihitung dari kebutuhan untuk menekan tugal (pada roda) menembus tanah hasil olahan.

A = 6 cm × 6 cm 36 cm2 = 5 2 2= 2.5 2 � = 3 5× 36 2= 21.6 2 = 21.6 × 2 × 2.5 × 2 = 108 = 1058 = 0.3 × 1058 = 317

Ftp dihitung menggunakan persamaan draft per unit area

Asumsi tanah gembur yang sudah diolah menggunakan persamaan Sandy Loan Draft per unit area:

ds = 2.8 + 0.013V = 2.8 + (0.013 × 1.17) = 2.815 N/cm2 � = 5 × 2 2 × 2 = 10 2 = × � = 2.815 × 10 = 28.15 = + = 317 + 28.15 = 345.15 � = ×�= 345.15 × 0.325 = 112

Tenaga dorong yang tersedia (tenaga dorong manusia laki-laki dewasa) 223.71 Watt, sehingga dapat disimpulkan alat dapat didorong.

25

V.

HASIL DAN PEMBAHASAN

A.

Pembuatan Prototipe

1.

Rangka Utama

Bagian terpenting dari alat ini salah satunya adalah rangka utama. Rangka ini merupakan bagian yang menopang poros roda tugal, hopper benih dan furadan, dudukan kotak komponen elektronika dan sebagai tempat menyambungnya stang kendali. Rangka utama terbuat dari material utama besi dengan berbagai macam bentuk besi seperti besi pipa, besi plat, dan besi hollow yang dilas dan dibentuk sesuai desain.

(a) (b) Gambar 19. (a) rangka utama (b) roda bantu

2.

Roda Tugal

Roda tugal adalah komponen yang berfungsi untuk melubangi tanah. Roda tugal ini terbagi menjadi dua bagian yaitu velk roda dan mata tugal. Velk rodal tugal merupakan velk motor 18 inchi yang digunakan pada sepeda motor dan dimodifikasi pada bagian jari-jari dan bagian lubang porosnya, serta dilapisi bagian luar dengan plat besi sebagai dudukan mata tugal. Roda tugal dirancang untuk mendapatkan hasil penugalan dengan jarak antar lubang tanam 20 cm dan lebar antar barisan 80 cm.

Mata tugal dirancang berbentuk prisma segitiga dengan bahan plat besi dengan ketebalan 3 mm. Dimensi mata tugal lebar 6 cm, tinggi 5 cm, dan panjangnya 6 cm dengan penambahan baut pada bagian bawah mata tugal untuk menempelkan pada velk.

26

Gambar 20. Roda tugal

3.

Hopper Benih dan Furadan

Hoper benih dibuat dari bahan akrilik atau mika transparan dengan tebal 3 cm dan kemiringan bagian celah lempengan penjatah 45o. Akrilik dipotong sesuai desain yang telah dibuat dengan pisau khusus plastik kemudian potongan-potongan disatukan sesuai bentuk dengan lem super. Bahan dasar hopper yang menggunakan akrilik transparan dimaksudkan untuk mempermudah pemantauan ketika benih akan habis saat di lahan. Selain itu juga menghindari terjadinya korosi yang biasa terjadi pada besi plat yang ditakutkan dapat tercampur pada benih dan mengganggu proses perkecambahan benih. Volume hopper benih sekitar 2467.1 cm3 atau 1666.9 g, sehingga dapat menampung sebesar ±1.65 kg benih.

Gambar 21. Hopper benih

Hopper furadan dibuat dengan bahan yang sama dengan hopper benih yaitu akrilik transparan. Desain hopper furadan memilik perbedaan di bagian posisi penjatahan furadannya. Posisi penjatahan furadan adalah horizontal sejajar dengan alas hopper.

Mata tugal

27

Gambar 22. Hopper furadan

Gambar 23. Posisi peletakan hoper benih dan furadan

4.

Penjatah Benih dan Furadan

Penjatah benih dan pupuk dibuat dari bahan yang tidak mudah berkarat dan mudah dalam pembuatannya. Penjatah ini dibuat dari bahan plastik polietilen/nylon dengan diameter penjatah benih 12 cm dan penjatah furadan 8 cm (Gambar 28). Pada penjatah benih terdapat 8 buah lubang celah berdiameter 8 mm yang dimaksudkan agar mudah mensinkronisasikan tugal dengan penjatahan benih, sehingga ketika tugal melubangi saat itu juga metering device akan menjatah benih. Serta 4 buah lubang celah pada penjatah furadan berdiameter 8 mm, karena lempengan penjatah furadan lebih kecil diameternya dibanding benih maka jumlah lubang penjatah lebih sedikit dan kecepatan putar dari motor DC juga lebih dipercepat. Kedua penjatah ini digerakkan oleh motor DC yang diberi tegangan masing-masing 12 V dengan kecepatan 15 RPM.

Hopper furadan

Hopper benih

28

(a) (b) Gambar 24. (a) penjatah benih (b) penjatah furadan

5.

Tabung Penyalur dan Open Gate

Tabung penyaluran benih dibuat dari selang pipa berdiameter 1 inchi dan tabung penyaluran furadan dari bahan selang pipa berdiameter 0.5 inchi. Tabung penyaluran yang digunakan selang pipa yang berbahan karet agar pipa mudah dan fleksibel ketika dibengkokkan, selain itu selang pipa juga mudah dibongkar pasang.

Open gate digunakan untuk mengatur jatuhnya benih dan furadan tepat pada lubang tanam. Open gate dibuat dari bahan akrilik transparan yang di tempelkan switch dan sebagai dudukan motor DC penggerak katup. Bahan akrilik dipakai karena bahan ini memiliki koefisien gesek yang cukup kecil agar pergerakan katup tidak tersendat dan berjalan lancar. Open gate terdiri dari dua bagian yaitu dudukan switch dan motor DC serta katup penjatahan. Posisi open gate diletakkan di bagian bawah tabung penyaluran yang dihubungkan dengan baut dan mur.

Gambar 25. Gambar tabung penyalur dan open gate

Tabung penyaluran

29

Gambar 26. Skema pergerakan open gate

6.

Pembuka Alur Pupuk

Pembuka alur pupuk terbuat dari besi plat yang ditempa hingga berbentuk cekung seperti piring dengan poros dan dudukannya terbuat dari besi pipa. Pembuka alur pupuk ini berfungsi membelah tanah sebagai tempat diletakkannya pupuk secara manual. Komponen ini terletak di bagian bawah belakang hopper furadan yang terhubung oleh roda belakang.

Gambar 27. Piringan (blade) pembuka alur pupuk

7.

Komponen Elektronika

Untuk mendapatkan hasil yang presisi digunakan komponen elektronika yang bekerja saling terintegrasi.

a.

Mikrokontroler

Komponen utama adalah mikrokontroler yang berfungsi mengontrol seluruh sistem kecuali gaya dorong maju alat, penutup lubang tanam, dan pembuka alur pupuk. Mikrokontroler yang digunakan adalah tipe DT-51 ATMega 8535 yang akan mengontrol sistem open gate pada tabung penyaluran benih dan furadan, putaran motor penjatah benih dan furadan, dan menerima input dari sensor magnet. ATMega 8535 diberikan catu daya 5 V sebagai input, kemudian ATMega 8535 mendapat input berupa tegangan yang berasal dari sensor magnet yang selanjutnya diproses pada IC yang telah diprogram untuk menjalankan motor driver sesuai dengan sistem kerja pada metering device dan open gate.

(a) Posisi awal open gate

(b) Posisi open gate ketika sensor magnet membaca

medan magnet

(c) Posisi open gate ketika switch membalik arah putaran motor DC

30

Gambar 28. Gambar DT-51 ATMega 8535

b.

EMS Dual H-bridge 2 A

Selanjutnya adalah komponen motor driver sebagai penghubung driver motor DC dan mikrokontroler, atau dengan kata lain agar perintah dari mikrokontroler dapat diterjemahkan dengan baik oleh motor DC. Motor driver yang digunakan adalah tipe EMS Dual H-bridge 2A yang mampu mengontrol 2 motor sekaligus yang di rangkai pararel maupun seri. EMS ini mengontrol putaran penjatah benih dan furadan, serta putaran pada sistem buka-tutup pada tabung penyaluran benih dan furadan sebelum jatuh tepat pada lubang tanam. Sistem kerja dari EMS ini adalah dengan diberikan catu daya 5 V sebagai input pada driver. EMS ini akan bekerja ketika mendapatkan input perintah yang berasal dari mikrokontroler ketika perintah diproses pada driver selanjutnya driver motor membagi-bagi input perintah yang diberikan mikrokontroler dan driver akan menggerakkan motor DC pada metering device dan open gate berdasarkan program yang telah dibuat.

Gambar 29. Gambar EMS Dual H-bridge 2 A

c.

Rangkaian pembagi tegangan

Rangkaian pembagi tegangan ini adalah rangkaian yang berfungsi membagi tegangan yang berasal dari aki kering 12 V. Rangkaian ini akan meneruskan tegangan input 12 V dan akan membagi-bagikan tegangan yang melewati IC seri 78xx sehingga keluaran tegangannya menjadi 5 V, 9 V, atau 12 V berdasarkan keluaran seri IC yang di lewati tegangan input.

31

Gambar 30. Rangkaian pembagi tegangan

d.

Sensor Magnet

Sensor magnet berfungsi sebagai penanda penugalan yang terhubung oleh mikrocontroler untuk melakukan perintah pada motor DC pada open gate. sensor yang digunakan adalah sensor magnet Allegro 3144E. Sensor magnet diletakkan di rangka dengan dudukannya yang sejajar dengan magnet yang ditempelkan sejajar pada velk tiap-tiap mata tugal.

Gambar 31. Sensor magnet Allegro 3144E

Gambar 32. Posisi magnet magnet

32

e.

Rangkaian penguat Op-Amp

Rangkaian penguat ini merupakan rangkaian yang bisa menguatkan tegangan pada masukan serta membalik hasil penguatan tersebut, jadi keluaran dari rangkaian ini akan selalu memiliki polaritas yang berlawananan dengan sinyal masukannya. Rangkaian ini menggunakan komponen IC LM324 dan trimpot 10 kΩ. Rangkaian ini digunakan sebagai penguat tegangan pada kaki output sensor magnet sebelum menuju mikrokontroler sebagai indikasi pemrogramannya.

Gambar 33. Rangkaian penguat op-amp

f.

Motor DC

Motor DC yang digunakan adalah motor DC yang memiliki kecepatan putar sebesar 15 RPM. motor DC berfungsi untuk memutar piringan penjatah benih dan furadan, selain itu juga untuk memutar open gate pada tabung penyaluran benih dan furadan sebelum jatuh di lubang tanam.

Sistem kerja motor DC pada metering device yang telah dikontrol akan bergerak atau berputar selama 1 detik setiap sensor magnet membaca medan magnet pada mata tugal, kemudian motor DC akan berhenti berputar atau posisi OFF dalam selang waktu 500 milisecond dan kembali berputar (kondisi ON) saat sensor magnet membaca magnet pada tugal dan situasi ini akan terus berlangsung saat dan kondisi yang sama secara terus menerus.

33

8.

Hasil Perancangan Alat

Hasil perancangan alat tanam jagung otomatis ini berdimensi (130 x 100 x 90) cm dengan panjang stang kendali 110 cm.

Gambar 35. Alat tanam benih jagung dan furadan otomatis

Gambar 36. Bagian - bagian alat Hopper furadan Stang kendali Mata tugal Velk roda Hopper benih Rangka dudukan hopper Dudukan sensor magnet Rangka dudukan poros

34

Gambar 37. Rangkaian elektronika

B.

Kinerja Alat Tanam Benih dan Furadan

1.

Kemacetan Metering Device Benih dan Furadan

Salah satu masalah yang terjadi pada sistem penjatahan adalah tidak masuknya benih jagung pada celah metering device benih yang menyebabkan adanya kekosongan benih pada beberapa lubang tanam. Pada pengujian alat benih yang digunakan adalah benih jagung manis yang berukuran sedang dan tidak seragam. Benih yang berukuran tidak seragam merupakan faktor utama terjadi kemacetan metering device. Benih yang berukuran kecil terkadang masuk dua buah benih ke dalam celah penjatahan yang menyebabkan penyempitan celah metering device terhadap hopper sehingga terkadang membuat metering device berhenti, selain itu benih yg berukuran terlalu besar terkadang juga tidak masuk ke dalam celah metering device yg membuat kekosongan benih saat penjatahan.

Gambar 38. Kemacetan metering device benih

Pada metering device furadan juga terjadi kemacetan yang cukup tinggi, hal ini dikarenakan bentuk furadan yang seperti pasir dan bersifat mengisi ruang kosong sehingga banyak butiran furadan yang masuk ke dalam celah antara hopper dan metering device, sehingga membuat putaran metering device terhambat. Hal ini mengakibatkan penjatahan furadan tidak berjalan lancar dan membuat motor DC dipaksa berputar dengan hambatan yang besar.

Kotak mikrokontroler dan EMS Accu kering Kotak pembagi tegangan dan Op- Amp Penumpukan benih membuat metering device macet

35

2.

Kinerja Penanaman

Jarak tanam benih diukur berdasarkan jarak hasil penugalan yang dilakukan oleh mata tugal. Jarak tanam yang dihasilkan sudah memenuhi target capaian yaitu 20-22 cm, hal ini dikarenakan bentuk roda tugal yang continious dan seragam. Kedalaman lubang tanam berkisar antara 3-5 cm dengan rata–rata kedalaman yang dihasilkan 3.65 cm.

Pengujian alat di lapangan menghasilkan jumlah tiap lubang berkisar antara 1–2 benih per lubang. Banyaknya benih tiap lubang tanam dipengaruhi oleh ukuran benih dan tingkat keseragaman benih. Celah metering device akan terisi oleh satu benih yang berukuran rata–rata, sedangkan benih yang berukuran kecil akan dapat mengisi celah lebih dari satu butir benih.

Pengukuran alur pemupukan mendapatkan hasil jarak 4–7 cm dari lubang tanam. Pembuka alur pupuk memiliki perbedaan jarak dikarenakan desain dudukan blade dapat naik turun sehingga blade sedikit bergerak. Hasil penutupan lubang tanam sangat baik, karena seluruh lubang tanam tertutup tanah dari hasil pembukaan alur pupuk yang didorong oleh roda penahan rangka hopper.

36

(a) (b)

(c) (d)

Gambar 40. Pengujian alat (a) lebar penanaman, (b) hasil penugalan dan pembuatan alur pupuk, (c) pengujian kedalaman lubang tanam dan alur pupuk, (d) lahan terolah

37

Gambar 41. Hasil penanaman

38

3.

Kinerja Penjatahan Furadan

Pengujian dosis furadan di lapangan tidak bisa dilakukan karena furadan sudah beterbaran di tanah. Oleh karena itu pengujian furadan hanya dapat dilakukan pengujian tanpa lahan dan diperoleh dosis penjatahan furadan rata–rata perlubang 0.896 gram, sedangkan sesuai dosis yang seharusnya diberikan adalah 1.6 g per lubang tanam. Hal ini terjadi karena hopper dan metering device kurang presisi dalam proses pembuatannya, sehingga saat proses penjatahan furadan terjadi kemacetan yang dikarenakan furadan mengisi celah samping antara metering device dan hopper sehngga metering device sulit berputar, selain itu juga banyak butir-butir furadan yang keluar dari lubang penjatah saat metering device berputar melalui celah yang ada antara metering device dan hopper yang mengakibatkan dosis tiap lubangnya berkurang.

Gambar 43. Penjatahan furadan

39

4.

Hasil Pengujian

Berdasarkan pengujian di lahan yang berukuran 15 x 20 m diperoleh data pengujian alat pada Tabel 4 sebagai berikut.

Tabel 5. Data hasil pengujian alat

Jenis Pengujian Rataan hasil pengujian

Kedalaman lubang (cm) 3.65

Penjatahan benih pada lubang tanam (benih/lubang) 1 Penjatahan furadan pada lubang tanam (g/lubang) 0.896

Kecepatan maju (m/s) 0.325

KLE (ha/jam) 0.086

KLT (ha/jam) 0.101

Efisiensi penanaman (%) 85

40

VI.

SIMPULAN DAN SARAN

A.

Simpulan

1. Alat tanam benih jagung dan furadan telah berhasil dibuat dan diuji coba. Alat ini digerakkan oleh satu orang operator dan sumber tenaga accu sebagai penggerak komponen elektronika.

2. Hasil penanaman jagung rapi dan presisi sesuai dengan jarak tanam 20 x 80 cm.

3. Penjatahan furadan kurang seragam dan pesisi dikarenakan kemacetan pada metering device.

4. Kapasitas lapangan teoritis alat adalah 0.101 ha/jam, kapasitas lapangan efektif 0.086 ha/jam, serta efisiensi lapangan 85%.

B.

Saran

Untuk memperbaiki kemacetan pada metering device furadan sebaiknya menggunakan jenis metering device tipe rotor atau menggunakan tipe penjatahan lain yang memiliki tingkat gesekan dengan butiran pupuk dan dinding hopper lebih kecil. Ditambahkan penjatah pupuk agar semakin efisien dalam penanaman. Selain itu perlu pengembangan mikrokontroler yang lebih canggih untuk penambahan LCD dan mempermudah pengaturan jarak tanam ketika ingin mengubah jarak tanam. Selain itu perlu adanya kajian pada aspek biaya atau ekonomi teknik dan waktu ekonomis alat.

41

DAFTAR PUSTAKA

Bainer RR, Kepner RA, and Barger EL. 1960. Principles of Farm Machinery. New York: Jhon Wiley & Sons Inc.

Budiharto W. 2007. Belajar Sendiri Membuat Robot Cerdas. Jakarta: PT. Elex Media Komputindo. Campbell JK. 1990. Dibble Stick, Donkeys, and Diesel Machines in Crop Production. Manila,

Philiphines: International Rice Research Institute.

Departemen Pertanian. Basis Data Statistik Pertnian. Query Indikator. 2010. http://database.deptan.go.id/bdsp/newind.asp. [12 februari 2011]

Dieter GE. 2000. Engineering Design: A Material and Processing Approach. 3rd edition. McGraw- Hill Companies, Inc. United States.

Gill WR, Berg GEB. 1967. Soil Dynamics in Tillage and Traction. Agricultural Reaserch Service Department of Agriculture. United States.

Hutagalung B. 2005. laporan Praktek Kerja Magang Industri Perakitan Corn Planter JB/TS 1199 di PT General Agromesin Lestaari. Laporan Magang. Program Studi Manajer Alat Dan Mesin Pertanian. Fateta. Institut Pertanian Bogor.

White J dan Lawrence A. 2003. CORN: Chemistry and Technology. 2nd ed. American Assosiation of Cereal Chemists, Inc. St. Paul, Minesota, USA.

Munayo AW. 2010. “CO Seeder” Alat Tanam Benih Presisi dan fleksibel.

Nugroho BD. 2007. Rancangan dan Uji Fungsional Aplikator Pupuk Granular Tipe Tugal untuk Tanaman Buah.

Nurdin, et al. 2008. Pertumbuhan dan Hasil Jagung yang Dipupuk N, P, dan K pada Tanah Vertisol Isimu Utara Kabupaten Gorontalo. Gorontalo

Puriwigati A. 2008. Pengelolaan Lapangan, Pengolahan dan Pemanfaatan Limbah pada Produksi Benih Jagung Hibrida di PT. Branita Sandhini, Monsanto Indonesia. Laporan PL. Fateta. IPB. Purwono dan Hartono R. 2007. Bertanam Jagung Unggul. Penebar Swadaya. Jakarta.

Richey CB, Jacobuson P and Hall CW. 1961. Agricultural Engineer’s Hand Book. Mc Graw Hill. New York.

Saripudin EY. 2007. Analisis Parameter Rancang Bangun Roda Besi Bersirip dengan Mekanisme Sirip Berpegas. Skripsi. Fateta. IPB.

Sembiring EN. 1996. Analisis Tahanan Olah (Draft) Lempeng Datar Pengolah Tanah pada Bak Uji Pengolahan Tanah. Disertasi. Program Pasca Sarjana. IPB.

Srivastava AK, Goering CE, dan Rohrbach RP. 1996. Engineering Principles of Agricultural Machines. ASAE. Michigan.

Smith HP dan Wilkes LH. 1977. Farm Machinery and Equipment. Mc Graw Hill. New Delhi.

Subandi IM dan Blumenschein A. 1988. Koordinasi Program Penelitian Nasional: Jagung. Pusat Penelitian dan Pengembangan Tanaman Pangan, Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian. Bogor.

Sularso dan Suga K. 2004. Dasar Perencanaan dan Pemilihan Elemen Mesin. Pradnya Paramita. Jakarta.

Syafri E. 2010. Desain Mesin Penanam Jagung Terintegrasi dengan Penggerak Traktor Roda Dua [tesis]. Program Pascasarjana. Institut Pertanian Bogor.

Wisnubrata R. 2003. Desain Uji Performasi Tugal Semi-Mekanis Penanam dan Pemupuk Kedelai (pupuk granular) untuk Lahan Kering.

42

2

Dokumen terkait