• Tidak ada hasil yang ditemukan

rotundiformis pada setiap perlakuan jenis pakan selama masa kultur bervariasi

HASIL PENELITIAN

B. rotundiformis pada setiap perlakuan jenis pakan selama masa kultur bervariasi

Persentase miksis paling tinggi yaitu pada perlakuan pakan N. oculata sebesar 27,77%, sedangkan untuk pakan Prochloron sp. 19,44%. Menurut Hagiwara dan Hirayama (1993), miksis dapat terjadi karena adanya pengaruh dari faktor internal dan faktor eksternal. Hagiwara dan Hirayama (1993) melaporkan bahwa jenis pakan merupakan salah satu faktor yang merangsang terjadinya miksis pada rotifera atau jenis alga mikro merupakan faktor penginduksi miksis. Berdasarkan hasil penelitian menunjukkan faktor jenis pakan memberi pengaruh sebagai

perangsang miksis. Diyakini dalam penelitian ini bahwa perubahan kondisi lingkungan yang menyebabkan peningkatan persentase miksis tersebut.

0 5 10 15 20 25 30 35 1 2 3 4 5 6 7 8

Periode kultur (Hari)

Pr os en ta se m ik sis N. oculata Prochloron sp.

4.2 Bioaktif

4.2.1 Aktivitas Antibakteri B. rotundiformis dengan Pakan N. oculata

Senyawa bioaktif rotifera masih dalam taraf penjajakan, dan laporan tentang biokimia rotifera serta jenis-jenis senyawa bioaktif belum banyak publikasinya. Terdeteksinya senyawa bioaktif dalam penelitian ini merupakan langkah awal yang penting.

Untuk menguji aktivitas antibakteri pada B. rotundiformis maka dilakukan pengamatan terhadap pembentukan zona bening yang dicoba pada tiga jenis bakteri. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengujian aktivitas antibakteri dari

B. rotundiformis yang dikultur pada salinitas 4 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 50 ppt, 60 ppt

dengan pakan N.oculata terhadap tiga bakteri uji V. cholerae, B. subtilis, dan

E. coli terlihat adanya pembentukan zona bening (Gambar 33). Tabel 11

menunjukkan adanya perbedaan aktivitas dari masing-masing ekstrak kasar terhadap masing-masing bakteri uji serta antibiotik pembanding dan metanol sebagai kontrol. Antibiotik pembanding yang digunakan adalah amoksisilin dan tetrasiklin. Amoksisilin digunakan pada bakteri uji B. subtilis karena amoksisilin digunakan untuk infeksi yang disebabkan oleh bakteri gram positif dan infeksi yang disebabkan oleh bakteri Streptococci, Staphilococcus non penicilin dan

Bacillus. Tetrasiklin pada bakteri V. cholerae karena tetrasiklin digunakan untuk

infeksi yang disebabkan oleh mikroorganisme seperti V. cholerae, Mucoplasma (gram negatif, spiral) dan E. coli (gram negatif, bulat) (Schunack et al. 1990; Winotopradjoko 2000).

Tabel 11 Diameter zona bening (mm) B. rotundiformis yang diberi pakan N. oculata terhadap tiga jenis bakteri pada salinitas yang berbeda

Diameter zona bening (mm) Salinitas

(ppt) V. cholera n B. subtilis n E. coli N

4 4,33 ± 2,30 3 0 3 2,50 ± 0 3 20 2,25 ± 0,35 3 2,50 ± 0 3 2,76 ± 2,19 3 40 3,75 ± 0,35 3 3,50 ± 0,50 3 4,66 ± 0,57 3 50 3,25 ± 1,06 3 4,50 ± 1,41 3 2,60 ± 1,04 3 60 3,00 ± 0 3 4,25 ± 1,77 3 1,60 ± 1,15 3

0 5 10 15 20 25 D ia m et er zo na b en in g ( m m ) 4 20 40 50 60 Metanol Antibiotik Salinitas (ppt) Pakan N. oculata V.cholerae B.subtilis E.coli Gambar 33 Diameter zona bening B. rotundiformis yang diberi pakan N. oculata

pada salinitas yang berbeda

Aktivitas antibakteri dari ekstrak kasar senyawa B. rotundiformis yang diberi pakan N. oculata terdeteksi menghambat aktivitas ketiga jenis bakteri uji, tetapi tidak semua tingkatan salinitas, jadi terdapat perbedaan diameter zona bening pada ketiga jenis bakteri uji. Zona bening paling besar terbentuk pada bakteri E.

coli salinitas 40 ppt yaitu 4,66 mm, sedangkan bakteri uji yang tidak terbentuk

zona bening adalah bakteri uji B. subtilis salinitas 4 ppt.

Respons bakteri uji terhadap ekstrak kasar B. rotundiformis berbeda menurut salinitas dan jenis pakan. Jika dibandingkan respons bakteri uji terhadap ekstrak senyawa dari B. rotundiformis yang diberi pakan N. oculata dan

Prochloron sp. secara umum terlihat ketiga jenis bakteri uji tersebut lebih rentan

terhadap ekstrak B. rotundiformis dengan pakan N. oculata dari pada dengan pakan Prochloron sp. Salinitas 40 ppt paling potensial memicu B. rotundiformis memproduksi senyawa yang memiliki aktivitas antibakteri, diduga pada salinitas ini terjadi rangsangan miksis yang mampu merubah pola reproduksi. Rotifera dapat merubah pola reproduksi dari aseksual menjadi seksual diawali dengan adanya stimulus dari luar. Fenomena biologi ini mengindikasikan adanya metabolisme sekunder oleh rotifera yang diyakini merupakan senyawa bioaktif. Senyawa bioaktif dari rotifera sangat dipengaruhi oleh kondisi lingkungannya,

jika kondisi lingkungan berubah atau terjadi rangsangan miksis, maka rotifera mengalami perubahan pola reproduksi. Karena menurut Hagiwara dan Hirayama (1993), faktor yang dapat menyebabkan terjadinya rangsangan miksis adalah salinitas dan jenis pakan. Jadi salinitas 40 ppt dan pakan N. oculata yang menunjukkan aktivitas antibakteri yang besar jika dibandingkan dengan pakan dan salinitas lain. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa salinitas rendah tidak selalu memicu B. rotundiformis memproduksi senyawa bioaktif yang memiliki aktivitas antibakteri. Respons jenis bakteri terhadap senyawa aktif yang dihasilkan terlihat berbeda menurut jenis bakteri. Diameter zona bening yang terbentuk pada ekstrak

B. rotundiformis yang dikultur dengan alga mikro N. oculata, menunjukkan

bakteri E. coli yang memiliki zona bening paling besar kemudian bakteri B.

subtilis dan V. cholerae.

Pada bakteri uji V. cholerae, zona bening yang terbesar terdapat pada ekstrak hasil kultur salinitas 4 ppt yaitu 4,33 mm, kemudian diikuti oleh salinitas 40 ppt (3,75 mm), 50 ppt (3,25 mm), 60 ppt (3 mm), dan yang terkecil adalah 20 ppt (2,25 mm). Perbedaan besarnya zona bening pada salinitas 4 ppt, 40 ppt, 50 ppt, dan 60 ppt tidak menyolok, tetapi pada salinitas 20 ppt zona bening yang dihasilkan adalah yang terkecil. Aktivitas ekstrak kasar B. rotundiformis hasil kultur pada salinitas 4 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 50 ppt dan 60 ppt semua ampuh terhadap bakteri uji V. cholerae (Gambar 34 dan Lampiran 12). Hal ini menandakan bahwa substan antibakteri yang terkandung pada semua ekstrak kasar

B. rotundiformis mampu menghambat mikroorganisme (Lay 1994).

Gambar 34 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri V. cholerae pakan

N. oculata. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt, 50= 50 ppt,

60= 60 ppt, M= Metanol, T= Tetrasiklin.

Ekstrak kasar B. rotundiformis yang diuji pada bakteri B. subtilis tidak semua menghasilkan zona bening seperti pada bakteri V. cholerae. Pada bakteri

B. subtilis, diameter zona bening terbesar terdapat pada salinitas 50 ppt yaitu 4,50

mm, selanjutnya diikuti oleh salinitas 60 ppt (4,25 mm), salinitas 40 ppt (3,50 mm) dan salinitas 20 ppt (2,50 mm), sedangkan pada salinitas 4 ppt tidak terdeteksi pembentukan zona bening. Aktivitas ekstrak kasar dari B. rotundiformis yang dikultur pada salinitas 4 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 50 ppt dan 60 ppt tidak semua ampuh terhadap bakteri uji B. subtilis (Tabel 12, Gambar 35 dan Lampiran 12).

Gambar 35 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri B. subtilis, pakan

N. oculata. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt, 50= 50 ppt, 60= 60 ppt, M= Metanol, A= Amoksisilin. 40 T M 60 50 V. cholerae 4 20 60 50 A M B. subtilis 4 20 40

Hasil pengujian pada ekstrak kasar B. rotundiformis dari hasil kultur lima tingkatan salinitas yang diuji pada bakteri E. coli menunjukkan diameter zona bening terbesar yaitu pada salinitas 40 ppt dengan diameter 4,66 mm, kemudian diikuti oleh salinitas 20 ppt (2,76 mm), salinitas 50 ppt (2,60 mm), salinitas 4 ppt (2,50 mm), dan salinitas 60 ppt (1,60 mm). Ekstrak kasar B. rotundiformis dengan bakteri E. coli terlihat pada semua tingkatan salinitas terbentuk zona bening (Gambar 36 dan Lampiran 12).

Gambar 36 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri E. coli, pakan

N. oculata. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt, 50= 50 ppt,

60= 60 ppt, M= Metanol, T= Tetrasiklin.

4.2.2 Aktivitas Antibakteri B. rotundiformis dengan Pakan Prochloron sp. Hasil pengujian aktivitas antibakteri ekstrak kasar B. rotundiformis yang dikultur pada salinitas 4 ppt, 20 ppt, 40 ppt, 50 ppt, dan 60 ppt dengan pakan

Prochloron sp. terhadap tiga bakteri uji V. cholerae, B. subtilis, E. coli

menunjukkan adanya perbedaan aktivitas dari masing-masing perlakuan. Jika dibandingkan aktivitas antibakteri B. rotundiformis hasil kultur dengan pakan

N. oculata dan Prochloron sp. maka aktivitas dengan pakan Prochloron sp. lebih

kecil. Aktivitas antibakteri B. rotundiformis yang diberi pakan Prochloron sp. terdeteksi menghambat aktivitas dari ketiga jenis bakteri uji, tetapi tidak semua tingkatan salinitas. Terdapat perbedaan diameter zona bening yang terbentuk dari ketiga jenis bakteri uji.

50 40 E.coli 4 20 M T 60

Tabel 12 dan Gambar 37 menunjukkan hasil pengukuran diameter zona bening ekstrak kasar B. rotundiformis yang diberi pakan Prochloron sp. terhadap 3 jenis bakteri uji. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlakuan pakan

Prochloron sp. dan salinitas 4 ppt, 40 ppt, 50 ppt, 60 ppt yang terbentuk zona

bening, sedangkan pada salinitas 20 ppt tidak terbentuk zona bening. Tabel 12 Diameter zona bening (mm) B. rotundiformis yang diberi pakan

Prochloron sp. terhadap tiga jenis bakteri pada salinitas yang berbeda

Diameter zona bening (mm) Salinitas

(ppt) V. cholerae n B. subtilis n E. coli N

4 2,00 ± 0 3 2,25 0 0,35 3 0 3

20 0 3 0 3 0 3

40 3,33 ± 1,75 3 2,50 ± 0,87 3 2,00 ± 0 3

50 3,00 ± 0 3 2,00 ± 0 3 2,25 ± 0,18 3

60 0 3 2,00 ± 0 3 3,00 ± 0 3

Keterangan : Nilai rata-rata ± standar deviasi

0 5 10 15 20 25 D ia m et er z on a b en in g (m m ) 4 20 40 50 60 Metanol Antibiotik Salinitas (ppt) Pakan Prochloron sp. V.cholerae B.subtilis E.coli Gambar 37 Diameter zona bening B. rotundiformis yang diberi pakan

Prochloron sp. pada salinitas yang berbeda

Ekstrak kasar B. rotundiformis dengan pakan Prochloron sp. yang memiliki

aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji V. cholerae hanya pada salinitas 4 ppt, 40 ppt dan 50 ppt. Diameter zona bening yang paling besar yaitu 3,33 mm pada

salinitas 40 ppt, kemudian diikuti oleh salinitas 50 ppt (3 mm) dan salinitas 4 ppt (2 mm), sedangkan pada salinitas 20 ppt dan salinitas 60 ppt tidak terdeteksi adanya aktivitas terhadap bakteri uji V. cholerae (Gambar 38).

Gambar 38 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri V. cholerae, pakan Prochloron sp. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt,

50= 50 ppt, 60= 60 ppt, M= Metanol, T= Tetrasiklin.

Ekstrak kasar B. rotundiformis hasil kultur dengan pakan Prochloron sp. yang diuji pada bakteri B. substilis, tidak semua perlakuan salinitas terdeteksi adanya aktivitas antibakteri. Diameter zona bening yang paling besar yaitu pada salinitas 40 ppt (2,50 mm), kemudian diikuti oleh salinitas 4 ppt (2,25 mm), 50 ppt (2 mm) dan 60 ppt (2 mm), pada salinitas 20 ppt tidak terdeteksi adanya aktivitas antibakteri terhadap bakteri uji B. subtilis (Gambar 39).

Gambar 39 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri B. substilis, pakan Prochloron sp. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt,

50= 50 ppt, 60= 60 ppt, M= Metanol, A= Amoksisilin. 20 4 20 B. subtilis 60 A 40 50 M 4 20 60 A 40 B. subtilis M 4 60 20 50 40 M 50 T 40 60 20 4 V. cholerae

Ekstrak kasar B. rotundiformis yang dikultur pada salinitas 40 ppt, 50 ppt dan 60 ppt terhadap bakteri uji E. coli terdeteksi adanya aktivitas antibakteri, sedangkan hasil kultur pada salinitas 4 ppt dan 20 ppt tidak terdeteksi aktivitas antibakteri. Diameter zona bening yang terbesar adalah 3 mm pada salinitas 60 ppt, kemudian 2,25 mm pada salinitas 50 ppt dan 2 mm pada salinitas 40 ppt (Gambar 40).

Gambar 40 Zona bening B. rotundiformis terhadap bakteri E. coli, pakan

Prochloron sp. Ket : 4= 4 ppt, 20= 20 ppt, 40= 40 ppt, 50= 50 ppt, 60= 60 ppt, M= Metanol, T= Tetrasiklin.

Berdasarkan hasil penelitian diketahui bahwa zona bening terbesar yang terbentuk pada perlakuan jenis pakan N. oculata maupun pakan Prochloron sp. yaitu pada salinitas 40 ppt.

4.2.3 Aktivitas Antibakteri Alga mikro N. oculata dan Prochloron sp.

Alga mikro N. oculata dan Prochloron sp. yang digunakan sebagai pakan

B. rotundiformis juga diuji aktivitas antibakterinya untuk mengetahui sejauh mana

pengaruh alga mikro terhadap pembentukan zona bening pada ekstrak kasar

B. rotundiformis. Alga mikro N. oculata dan Prochloron sp. diekstrak dan diuji

terhadap tiga jenis bakteri V. cholerae, B. subtilis, dan E. coli. Hasil uji aktivitas antibakteri dari alga mikro N. oculata dan alga mikro Prochloron sp. menunjukkan bahwa alga mikro N. oculata terdeteksi memiliki aktivitas antibakteri dengan terbentuknya zona bening, sedangkan ekstrak dari alga mikro

Prochloron sp. tidak terdeteksi aktivitas antibakteri dengan pembentukan zona

50 T 60 40 4 20 M E. coli

bening. Tabel 13 dan Gambar 41 menunjukkan besarnya diameter zona bening yang terbentuk pada alga mikro N. oculata dan alga mikro Prochloron sp.

Tabel 13 Diameter zona bening (mm) alga mikro N. oculata dan alga mikro Prochloron sp. terhadap tiga jenis bakteri uji

Zona Bening (mm)

Pakan V. cholerae B. subtilis E. coli

N. oculata 1,5 ± 0 1,5 ± 2,30 2,66 ± 1,15 Prochloron sp. 0 0 0 0 5 10 15 20 25 D ia m et er z on a b en in g ( m m )

N. oculata Prochloron sp. Metanol Antibiotik

Perlakuan Pakan

V. cholerae

B. subtilis

E. coli

Gambar 41 Diameter zona bening alga mikro N. oculata dan alga mikro

Prochloron sp.

Hasil pengujian terhadap rotifera B. rotundiformis diketahui bahwa dalam tubuh B. rotundiformis terdeteksi senyawa antibakteri, tetapi jenis pakan juga memberi pengaruh. Hasil penelitian menunjukkan ada perbedaan aktivitas dari ekstrak B. rotundiformis yang diberi alga mikro yang berbeda, karena yang diberi alga mikro N. oculata zona beningnya lebih besar jika dibandingkan dengan yang diberi alga mikro Prochloron sp.

Hasil penelitian menunjukkan rata-rata diameter zona bening pada ekstrak alga mikro N. oculata lebih kecil jika dibandingkan dengan diameter zona bening dari B. rotundiformis dengan pakan N. oculata, sehingga dapat dipastikan bahwa

B. rotundiformis itu sendiri, tetapi ada juga kontribusi dari alga mikro sebagai

pakan B. rotundiformis. Konsentrasi zat aktif dalam ekstrak uji mempengaruhi diameter zona bening, semakin tinggi konsentrasi zat aktif dalam ekstrak uji maka semakin besar diameter zona bening yang dibentuk (Pelczar dan Chan 1988). Berdasarkan perlakuan salinitas, secara umum B. rotundiformis yang dikultur pada salinitas 40 ppt dengan pakan alga mikro N. oculata memiliki aktivitas antibakteri yang relatif lebih besar jika dibandingkan dengan B. rotundiformis yang dikultur dengan alga mikro Prochloron sp. dan salinitas lainnya. Disamping itu juga dari hasil perhitungan persentase miksis diketahui bahwa persentase miksis terbesar terlihat pada B. rotundiformis dengan pakan N. oculata. Informasi persentase miksis mengindikasikan keadaan stres pada B. rotundiformis dan diyakini hal ini memicu produksi senyawa bioaktif.

Analisis ragam terhadap diameter zona bening menunjukkan bahwa pada ketiga jenis bakteri V. cholerae, B. subtilis, dan E. coli, diameter zona bening dipengaruhi oleh interaksi antara jenis pakan dan salinitas. Pengaruh utama jenis pakan dan salinitas secara nyata berpengaruh terhadap besarnya zona bening. Uji beda rata-rata diameter zona bening menunjukkan bahwa B. rotundiformis hasil kultur pada salinitas 20 ppt lebih kecil dari pada salinitas 4 ppt dan 50 ppt pada bakteri V. cholerae, kemudian lebih kecil dibanding dengan salinitas 40 ppt pada

E. coli dan lebih kecil lagi jika dibandingkan dengan salinitas 40 ppt, 50 ppt dan

60 ppt pada B. subtilis. Lebih kecilnya zona bening pada salinitas 20 ppt karena salinitas 20 ppt merupakan salinitas optimal bagi B. rotundiformis sehingga