Modul I ASAM / BASA
2. Ruang Lingkup
a. pengukuran konsentrasi alkalinitas dilakukan terhadap air yang jernih, keruh dan tidak berwarna;
b. Pengukuran menggunakan metode potensiometrik dengan alat pH meter dan titrimetri.
3. Prinsip
Ion-ion hidroksil yang terdapat di dalam air sebagai hasil disosiasi atau hidrolisis senyawa-senyawa tersebut direaksikan dengan larutan standar asam sehingga diperoleh nilai alkalinitas air.
4. Pengertian
Beberapa pengertian yang berkaitan dengan metode pengukuran ini:
a. alkalinitas adalah kapasitas air untuk menetralkan asam kuat sampai suatu nilai pH tertentu, yang dapat dinyatakan dalam meq/L atau mg/L CaCO3 atau mg/L OH- atau mg/L CO3= atau mg/L HCO3-. Alkalinitas air penting ditetapkan nilainya karena akan dapat menentukan tingkat kelayakan penggunaan air dan jenis pengolahan air dan jenis pengolahan air limbah yang diperlukan.
b. larutan induk adalah larutan baku kimia yang dibuat dengan kadar tinggi dan akan digunakan untuk membuat larutan baku dengan kadar yang lebih rendah
c. larutan baku adalah larutan yang mengandung kadar yang sudah diketahui secara pasti dan langsung digunakan sebagai pembanding dalam pengukuran.
a. Peralatan
Peralatan yang digunakan terdiri atas:
1. pH meter yang mempunyai kisaran pH 0-14 dengan ketelitian 0,01 dan telah dikalibrasi pada saat digunakan;
2. buret 25 mL atau alat titrasi lain dengan skala yang jelas; 3. gelas ukur 100 mL;
4. pipet ukuran 10 mL;
5. labu erlenmeyer 300 dan 500 mL. b. Bahan
Bahan kimia yang berkualitas p.a dan bahan lain yang digunakan dalam pengukuran ini terdiri atas:
1. asam sulfat pekat (H2SO4) 0,02 N
2. larutan natrium karbonat (Na2CO3) 0,02 N;
3. air suling atau air demineralisasi yang mempunyai DHL 0,5-2,0 mhos/cm
c. Persiapan Pengukuran
1. Pembuatan larutan baku Asam Sulfat H2SO4;
Buat larutan baku asam sulfat 0,1 N dan 0,02 N dengan tahapan sebagai berikut:
a. ukur 100 mL air suling dan masukan ke dalam labu ukur 1000 mL; b. pipet 3,0 mL H2SO4 pekat dan masukkan ke dalam labu ukur
tersebut;
c. tambahkan air suling sampai tepat pada tanda tera;
d. tetapkan kenormalan larutan baku asam sulfat tersebut dengan natrium karbonat, Na2CO3, 0,1 N dan larutan ini adalah larutan baku asam 0,1 N;
e. ukur 200 mL larutan baku asam sulfat 0,1 N ke dalam labu ukur 1000 mL;
g. tetapkan kenormalan larutan baku asam sulfat tersebut dengan natrium karbonat,Na2CO3, 0,02 N dan larutan ini adalah larutan baku asam 0,02 N.
2. Penetapan kenormalan larutan asam sulfat
Tetapkan kenormalan larutan baku asam sulfat, H2SO4, 0,1 N dengan tahapan sebagai berikut:
a. pipet 40 mL larutan natrium karbonat (Na2CO3) 0,1 N secara duplo dan masukkan ke dalam labu erlenmeyer 300 mL; b. tambahkan dengan air suling 60 mL;
c. titrasi dengan larutan baku asam sulfat 0,1 N sampai pH 5; d. didihkan larutan tersebut selama 3-5 menit, setelah dingin
titrasi dengan larutan baku asam 0,1 N sampai pH 4,5; e. catat jumlah mL pemakaian larutan baku asam;
f. hitung kenormalan larutan baku asam sulfat 0,1 N sebagai berikut: kenormalan larutan H2SO4 = C B A 53 dengan penjelasan:
A = berat Na2CO3(g) yang dilarutkan ke dalam air suling; B = mL larutan Na2CO3 yang digunakan;
C = jumlah mL larutan baku asam sulfat yang diperlukan. g. gunakan nilai kenormalan tersebut untuk perhitungan kadar
alkalinitas;
h. tetapkan kenormalan larutan baku asam sulfat 0,02 N secara duplo dengan 15 mL larutan natrium karbonat 0,02 N dan ikuti langkah c) sampai dengan g) diatas;
i. apabila perbedaan pemakaian asam secara duplo lebih dari 0,10 mL ulangi pengukuran, apabila kurang atau sama dengan 0,10 rata-ratakan hasilnya untuk perhitungan kenormalan larutan asam sulfat.
6. Prosedur
a. Alkalinitas Fenolftalia Dengan pH meter
Uji kadar alkalinitas fenolftalin dengan pH meter tahapan sebagai berikut : 1. ukur 100 mL contoh / sample dan masukkan ke dalam labu
Erlenmeyer 300 mL;
2. celupkan elektroda pH meter ke dalam contoh / sample;
3. titrasi contoh / sample dengan larutan baku asam sulfat 0,02 N sampai pH 8,3;
4. catat pemakaian larutan baku asam untuk perhitungan; Dengan indikator PP
Uji kadar alkalinitas dengan indikator PP adalah sebagai berikut: 1. Pipet 50 mL contoh air, dan tambahkan 2 tetes indikator PP.
2. Titrasi dengan larutan standar asam sulfat 0.02 N hingga warna tepat hilang, catat jumlah asam sulfat yang dipakai.
b. Alkalinitas Total
Uji kadar alkalinitas total dengan tahapan sebagai berikut:
1. ukur 100 mL contoh / sample dan masukkan ke dalam labu Erlenmeyer mL;
2. celupkan elektroda pH meter ke dalam contoh / sample;
3. titrasi contoh / sample dengan larutan baku asam sulfat 0,02 N sampai pH 4,9;
4. catat pemakaian larutan asam untuk perhitungan;
5. apabila pemakaian larutan baku asam sulfat 0,02 N lebih dan ulangi pengukuran sebagai berikut:
a. ukur contoh / sample 100 mL dan masukkan ke dalam labu erlemeyer 300mL;
b. titrasi contoh / sample dengan larutan baku asam sulfat 0,1 N sampai pH 4,6;
c. catat pemakaian larutan asam untuk perhitungan;
d. apabila pemakaian larutan baku asam sulfat 0,1 N lebih dari 3 mL, ulangi pengukuran seperti langkah a) di atas dan lanjutkan titrasi sampai pH 4,3 dan catat pemakaian larutan baku asam
6. apabila perbedaan pemakaian asam secara duplo lebih dari 0,10 mL ulangi pengukuran, apabila kurang atau sama dengan 0,10 mL rata-ratakan hasilnya untuk perhitungan kadar alkalinitas.
7. Perhitungan
Hitung kadar alkalinitas dalam contoh / sample dengan menggunakan rumus-rumus berikut:
a. Alkalinitas fenolftalin (mg/L CaCO3)
Alkalinitas fenoltalin = C
B
A 100050
dengan penjelasan:
A = banyaknya mL larutan baku asam yang digunakan sampai 8,3; B = kenormalan larutan baku asam;
C = volume contoh / sample dalam mL
b. Alkalinitas total (meq/L)
Kelindian total = C
B A 1000
c. Alkalinitas total (mg/L CaCO3)
Kelindian total = C
B
A 100050
A = banyaknya mL larutan baku asam yang digunakan pada pH 4,5-4,9; B = kenormalan larutan baku asam;
C = volume contoh / sample dalam mL.
d. Alkalinitas metil jingga (mg/L CaCO3)
Alkalinitas metil jingga =
C B P T 100050 dengan penjelasan:T = banyaknya mL larutan baku asam yang digunkan sampai pH 4,3 - 4,9;
P = banyaknya mL larutan baku asam yang digunakan sampai pH 8,3; B = kenormalan larutan baku asam;
C = volume contoh / sample dalam mL. e. Alkalinitas Hidroksida
1. Apabila alkalinitas fenolftalin ½ alkalinitas total, alkalinitas hidroksida dalam mg/L OH
alkalinitas (mg/L OH-)= (2P-T) 50 17 ; dengan penjelasan:
P = alkalinitas fenolftalia dalam mg; T = kelindian total, dalam mg/L;
2. Alkalinitas Karbonat
a. apabila alkalinitas fenolftalin lebih keci atau sama dengan ½ alkalinitas total, alkalinitas karbonat dalam mg/L CO3=;
alkalinitas karbonat = 50 30 2P
b. apabila alkalinitas fenolftalin ½ alkalinitas total, alkalinitas karbonat dalam mg/L CO3=;
alkalinitas karbonat =
50 30 2TP 3. Alkalinitas bikarbonata. apabila alkalinitas fenolftalin = 0, alkalinitas bikarbonat dalam mg/L HCO3-;
alkalinitas bikarbonat = 50 61
T
b. apabila alkalinitas fenolftalin ½ alkalinitas total, alkalinitas bikarbonat dalam mg/L HCO3- ;
alkalinitas bikarbonat =
50 61 2 P T 8. Kepustakaan 1. SNI 06-2420-1991Modul II WARNA
(METODE PERBANDINGAN)
1. Ruang Lingkup
Cara uji ini digunakan untuk menentukan warna air secara visual. 2. Istilah dan definisi
2.1 Warna
Warna alami dari air yang dapat disebabkan oleh adanya ion logam (besi dan mangan), humus, plankton, tumbuhan air dan dinyatakan dalam satuan warna unit Pt-Co.
2.2 Visual
Pengamatan yang dilakukan dengan mata 2.3 Warna Semu ( Apparent Color )
Warna yang disebabkan oleh partikel-partikel penyebab kekeruhan (tanah,pasir dll), partikel/dispersi halus besi dan mangan, partikel-partikel mikroorganisme (algae/lumut), warna yang berasal dari pemakaian zat warna oleh industri seperti bahan pencelup, cat, pewarna makanan, dan lain-lain.
2.4 Warna Sejati (True Color)
Warna yang berasal dari penguraian zat organik alami yaitu zat humus (asam dan asam sulfat), lignin, tanin, dan asam organik lainnya.
3. Cara uji