I. PENDAHULUAN
1.4. Ruang Lingkup dan Keterbatasan Penelitian
Ruang lingkup dan keterbatasan penelitian ekonomi rumahtangga nelayan tradisional adalah :
1. Penelitian ini dilakukan pada rumahtangga nelayan tradisional yang
menggunakan perahu dayung.
2. Aspek yang dianalisis dalam penelitian ini adalah : Pertama, peluang kerja
suami dan istri di luar sub sektor perikanan. Kedua, produksi nelayan, curahan waktu kerja rumahtangga, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga nelayan tradisional. Ketiga, peluang kemiskinan rumahtangga nelayan tradisional.
3. Anggota rumahtangga yang dianalisis adalah : suami dan istri.
4. Curahan waktu kerja anggota rumahtangga yang dianalisis adalah waktu untuk
bekerja produktif di pasar kerja (market production time) yaitu waktu yang
digunakan untuk mencari nafkah (income earning market production).
Penelitian ini tidak menganalisis curahan waktu luang atau kegiatan non ekonomi (misalnya : kegiatan sosial dan lain-lain).
5. Penelitian ini menggunakan data yang diperoleh dari dua musim penangkapan
yakni musim paceklik dan musim panen. Data musiman yang diperoleh diambil dalam satu bulan yang mewakili satu musim.
2.1. Peluang Kerja Anggota Rumahtangga
Bekerja diartikan sebagai aktivitas yang dilakukan dengan maksud untuk memperoleh pendapatan. Bekerja dianggap sebagai bagian yang terpenting dalam kehidupan manusia karena dengan bekerja seseorang akan mempunyai daya beli. Bekerja juga berfungsi sebagai status sosial dalam hidup bermasyarakat.
Kesempatan untuk mendapatkan pekerjaan formal dirasakan oleh sebagian besar penduduk masih sangat terbatas. Kurang dari setengah penduduk daerah kota dan hanya sepertiga penduduk daerah pedesaan yang menilai bahwa peluang bekerja di sektor formal tetap baik (BPS, 1999).
Peluang kerja merupakan kesempatan bagi seseorang untuk memperoleh pekerjaan dalam rangka memenuhi kebutuhan hidup pokok yaitu berusaha untuk memperbaiki tingkat pendapatan, sandang, pangan, perumahan, pendidikan maupun kesehatan. Hal tersebut dilakukan untuk membina kesejahteraan rumahtangganya agar lebih baik dari keadaan sebelumnya (Yuwono, 2000).
Sawit (1986) menyatakan bahwa banyaknya penduduk mencurahkan waktunya untuk bekerja lebih pada satu jenis pekerjaan. Hal ini disebabkan oleh hasil dari pekerjaan utama di sektor pertanian belum mencukupi biaya seluruh kebutuhan rumahtangga terutama bagi golongan miskin yang tidak menguasai sumber daya selain tenaga kerja.
Sitorus (1994) juga mendapatkan bahwa seluruh kasus rumahtangga miskin menerapkan strategi sumber nafkah ganda. Artinya rumahtangga tidak hanya mengandalkan hidup pada satu jenis pekerjaan saja. Di desa pantai, nelayan
menyadari bahwa perekonomian rumahtangga mereka sangat ditentukan oleh keadaan cuaca. Untuk itu, rumahtangga mencari sumber pendapatan lain yang menambah penghasilan rumahtangga mereka. Kasryno (1984) menyatakan bahwa pekerja di pedesaan sering melakukan pekerjaan lebih dari satu bahkan melakukan pekerjaan yang berbeda dalam waktu yang bersamaan.
Hermanto et al. (1995) menyatakan bahwa khusus untuk kawasan pantai
yang telah padat, perlu dicari usaha lain (secara terpadu). Usaha tersebut seperti : pengembangan sektor non perikanan guna mengalihkan mereka untuk menjauhi ketergantungan mereka dari sumber daya laut guna menjaga keberlanjutan sumber daya tersebut.
Pada agroekosistem pantai, aktivitas non perikanan yang berkembang masih merupakan rangkaian usaha perikanan yang umumnya masih dapat digolongkan sebagai industri pengolahan hasil perikanan (agroindustri) skala kecil atau rumahtangga berupa pembuatan ikan asin, terasi atau ikan panggang serta pindang. Untuk bidang jasa atau berdagang umumnya masih terbatas berdagang hasil perikanan atau kebutuhan pokok yang sangat terbatas jenis dan volumenya
(Indraningsih et. al, 1995).
Peranan setiap anggota rumahtangga dalam meningkatkan pendapatan rumahtangga dapat dilihat dari kontribusi kerja. Kontribusi kerja terhadap pendapatan diperoleh berturut-turut dari yang tertinggi disumbangkan oleh suami, istri, anak laki-laki dan anak perempuan (Mangkuprawira, 1985).
Gender adalah perbedaan antara laki-laki dan perempuan dalam peran, fungsi, hak, tanggungjawab dan perilaku yang dibentuk oleh tata nilai sosial, budaya dan adat istiadat (Handayani dan Sugiarti, 2001). Pola pengambilan
keputusan dalam rumahtangga tradisional umumnya adalah bahwa suami mengambil keputusan tentang pencarian nafkah dan istri memutuskan pada kegiatan rumahtangga. (Deacon dan Firebaugh dalam Tombokan, 2001).
Bagi perempuan, pekerjaan yang menghasilkan pendapatan dibidang usaha memerlukan modal, keberanian, dan pengetahuan. Hal ini sangat minim dimiliki oleh perempuan nelayan sehingga peluang berusaha tersebut menjadi terbatas. Sedangkan dibidang pekerjaan baik sebagai buruh maupun pekerjaan lainnya juga memerlukan ketrampilan dimana bagi perempuan nelayan ketrampilan yang
dimiliki juga terbatas sehingga peluang bekerja juga menjadi terbatas (Aryati, 1999).
Aminah (1980) dalam penelitiannya di Muncar Banyuwangi menunjukkan bahwa istri nelayan sebagai golongan kecil dengan pendidikan rendah ternyata produktif dalam mencari nafkah karena tuntutan keluarga. Disamping itu, usaha produktif dan dari perempuan nelayan tersebut jika didayagunakan secara maksimal maka tidak mustahil pada masa yang akan datang menjadi penggerak bagi rumahtangga nelayan.
Perbedaan peranan dalam keluarga disebabkan oleh faktor biologis dan juga disebabkan oleh faktor perbedaan sosial budaya lingkungan keluarga, siapa
yang meraja dalam sistem (matriarchal vs patriarchal), siapa yang mengasuh dan
mendidik anak, siapa yang mencari nafkah (Hutajulu dalam Rinaldi, 1999). Susanto dalam Rinaldi, 1999 menyatakan bahwa salah satu faktor yang memungkinkan wanita masa kini dapat memainkan peranan gandanya adalah peningkatan pendidikan kaum wanita, menurunnya jumlah anak yang dimiliki dan adanya dukungan keluarga dalam pengembangan karir.
Aryani (1994) menyatakan bahwa semakin baik kondisi ekonomi rumahtangga maka semakin besar sumbangan dari hasil kegiatan melaut terhadap total penerimaan rumahtangga, sebaliknya sumbangan curahan tenaga kerja rumahtangga intensitasnya terlihat dari tingkat partisipasi dan tingkat waktu kerja. Berdasarkan kondisi ekonomi rumahtangga semakin baik kondisi ekonomi rumahtangga semakin tinggi partisipasi kerja istri dan anggota rumahtangga sedangkan partisipasi kerja suami semakin menurun.
Prasodjo (1993) menyimpulkan bahwa faktor musim mempengaruhi
keragaan pola kerja antara pria dan wanita dalam rumahtangga dengan tahapan ekspansi demografi yang berbeda-beda dimana peran produktif pria di dua komunitas meningkat sedangkan pengalokasian tenaga kerja wanita rumahtangga nelayan kurang optimal karena terdapat waktu luang yang besar. Dengan kata lain, tenaga kerja rumahtangga respon terhadap perubahan musim tersebut dengan meningkatkan pola nafkah ganda.
Kishor dan Gupta (1999) mengadakan penelitian mengenai peranan wanita pedesaan dalam proses pengambilan keputusan di sektor pertanian di Kota Kairabad dan Desa Sitapur, India. Pengambilan keputusan dianalisis dengan tiga skala yaitu konsultasi, pertimbangan opini dan langsung dalam pengambilan keputusan akhir.
Hasil penelitian tersebut menunjukkan 28 persen wanita terlibat langsung dalam pengambilan keputusan akhir seperti penyimpanan hasil-hasil pertanian, jual beli tanah dan ternak serta pemasaran hasil-hasil pertanian. Tingkat partisipasi wanita dalam pengambilan keputusan dipengaruhi oleh umur, tingkat pendidikan, jumlah keluarga, modal, kepemilikan lahan dan status sosial ekonomi.
2.2. Ekonomi Rumahtangga Nelayan
Rumahtangga pertanian menghadapi persoalan kompleks dalam
hubungannya dengan produksi, konsumsi dan alokasi tenaga kerja. Hal ini menyebabkan analisa yang hanya melihat dari satu sisi untuk melihat tingkah laku ekonomi mereka sangatlah lemah.
Sawit dan O’Brein (1995) mencoba menggabungkan hal tersebut, atas landasan teori ekonomi rumahtangga kemudian diturunkan berbagai fungsi respons yaitu suplai tenaga kerja, suplai output dan konsumsi rumahtangga.
Variabel harga input atau output diperlakukan sebagai “exogeneous” yang
mempengaruhi pendapatan, konsumsi dan alokasi tenaga kerja rumahtangga. Model ekonomi rumahtangga memandang rumahtangga sebagai pengambil keputusan dalam kegiatan produksi dan konsumsi serta hubungannya dengan alokasi waktu dan pendapatan rumahtangga yang dianalisis secara simultan. Ada dua proses perilaku rumahtangga yaitu : (1) proses produksi rumahtangga dan 2) proses konsumsi rumahtangga yang merupakan pemilihan terhadap barang-barang yang dikonsumsi (Becker, 1981).
Barnum dan Squire (1979) menggunakan model ekonometrika dalam mengkaitkan perilaku produk usahatani, konsumsi dan suplai tenaga kerja pada situasi pasar tenaga kerja bersaing dengan menggunakan data cross section di Malaysia. Temuan penting dalam penelitian ini adalah adanya saling keterkaitan yang erat antara produksi dan keputusan konsumsi dalam rumahtangga petani.
Wilayah laut yang luas menyebabkan banyak kegiatan ekonomi penduduk khususnya mereka yang bermukim di wilayah pantai yang secara langsung atau tidak langsung berkaitan dengan sumber daya laut dalam memenuhi
kehidupannya. Kegiatan perekonomian di desa-desa pantai pada umumnya bersifat usaha kecil dan sangat terbatas, kemungkinan untuk bisa mengambil dan menciptakan manfaat ekonomi seperti yang dilakukan atau dinikmati oleh usaha yang berskala besar tidak mungkin.
Ciri-ciri lain dari kegiatan usaha atau perekonomian di desa-desa pantai adalah kenyataan mengenai pengaruh musim yang kuat. Sifat usaha musiman dan skala usaha yang kecil menyebabkan nelayan tidak mempunyai kemampuan untuk mengontrol baik produksi maupun harga dari produksi yang dihasilkan (Hasanuddin, 1985).
Nelayan tradisional merupakan istilah yang digunakan untuk
menggambarkan kondisi sosial nelayan yang dicirikan oleh sikap mental yang tidak mudah menerima inovasi teknologi baru, pemilikan aset produktif yang sangat minimal, pendapatan relatif rendah dan miskin, umumnya hanya memiliki perahu tanpa motor dengan alat tangkap yang sederhana atau hanya memiliki modal tenaga kerja.
Istilah tersebut digunakan untuk membedakan antara nelayan tradisional dengan nelayan modern (Bailey dan Zerner dalam Muhammad, 2002). Hasil penelitian Boer (1984) menyimpulkan bahwa nelayan tradisional merupakan lapisan sosial paling bawah di desa nelayan.
Indraningsih et.al. (1995) mengadakan studi mengenai identifikasi
kemiskinan di jawa timur dengan menggunakan model rumahtangga nelayan di agroekosistem pantai mengatakan bahwa Indikator kemiskinan rumahtangga yang digunakan : Pertama, penguasaan aset produksi nelayan, yakni berdasarkan
pemilikan alat tangkap Hasil tangkapan ikan ipengaruhi oleh cuaca dan teknologi peralatan tangkap yang digunakan.
Kedua, pola pengeluaran rumahtangga, dimana pendapatan suatu rumahtangga dapat diproksi dari tingkat pengeluaran rumahtangga baik pangan maupun non pangan. Pangsa pengeluaran penduduk miskin pada agroekosistem pantai untuk pangan relatif lebih besar dibanding non pangan yakni sebesar 66 persen dari pengeluarannya.
Ketiga, sumber pendapatan, dimana perolehan sumber pendapatan
rumahtangga nelayan pada agroekosistem pantai adalah dari hasil tangkapan ikan
atau usaha didalam perikanan (sekitar 60 persen) dan usaha non perikanan (23 persen). Gambaran ini menunjukkan bahwa usaha penangkapan ikan sebagai
sumber pendapatan rumahtangga tampaknya belum disubsitusi secara berarti oleh sumber pendapatan lain termasuk usaha non perikanan.
Keempat, aktivitas perikanan dan non perikanan, dimana nelayan di
agroekositem pantai masih sangat bergantung pada aktivitas sektor perikanan karena tingkat pendidikan yang rendah, ketrampilan yang sangat terbatas serta tidak adanya penguasaan modal menyebabkan diversifikasi usaha sulit dilakukan rumahtangga nelayan.
Kemampuan nelayan untuk memperluas jaringan interaksi sosial juga sangat terbatas karena sebagian besar waktu tersita untuk melaut. Untuk agroekosistem pantai, kegiatan anggota rumahtangga terutama istri nelayan dapat dikonsentrasikan pada kegiatan industri rumahtangga namun tetap dengan memanfaatkan bahan baku dari produk perikanan setempat.
Mangkuprawira (1985) menggunakan model ekonomi rumahtangga dalam disertasinya, yakni mengkaji alokasi waktu dan kontribusi kerja anggota keluarga dalam kegiatan ekonomi rumahtangga di Sukabumi yang melihat perilaku pembagian kerja antara anggota rumahtangga beserta faktor-faktor yang mempengaruhinya dan melihat perilaku rumahtangga dalam memanfaatkan kesempatan ekonomi yang ada.
Hasil penelitian yang diperoleh menunjukkan bahwa faktor yang mempengaruhi alokasi waktu suami dan istri bekerja yaitu imbalan kerja, pendapatan rumahtangga serta jumlah anggota rumahtangga (usia kerja dan bukan usia kerja). Sedangkan respon penawaran tenaga kerja suami dan istri terhadap imbalan kerja bertanda positif. Ada kecenderungan semakin rendah lapisan ekonomi rumahtangga maka semakin tinggi respon suami dan istri dalam mencapai nafkah.
Aryani (1994) meneliti tentang analisis curahan kerja dan kontribusi penerimaan keluarga nelayan dalam kegiatan ekonomi di Desa Pasir Baru, Kecamatan Cisolok, Kabupaten Sukabumi yang menyatakan bahwa semakin baik kondisi ekonomi rumahtangga maka semakin besar sumbangan dari hasil kegiatan melaut terhadap total penerimaan rumahtangga, sebaliknya sumbangan dari kegiatan non melaut semakin besar pada rumahtangga yang tidak memiliki asset.
Curahan tenaga kerja rumahtangga terlihat dari tingkat partisipasi dan waktu kerja. Berdasarkan kondisi ekonomi rumahtangga, semakin baik kondisi ekonomi rumahtangga maka semakin tinggi partisipasi kerja istri dan anggota rumahtangga sedangkan partisipasi kerja suami menurun.
Berdasarkan studi model ekonomi rumahtangga nelayan terdahulu maka yang membedakan penelitian ini dengan penelitian-penelitian sebelumnya adalah perbedaan dalam unit analisa yang digunakan dalam penelitian ini adalah hanya rumahtangga nelayan pemilik perahu dayung sebagai nelayan yang dianggap merupakan lapisan masyarakat yang miskin karena nelayan pemilik perahu dayung adalah lapisan bawah dalam kelompok nelayan yang memiliki alat tangkap dan perahu.
Penelitian ini menganalisis peluang kerja suami dan istri dalam rumahtangga nelayan tradisional, ekonomi rumahtangga nelayan seperti alokasi waktu, pendapatan dan pengeluaran rumahtangga dan peluang kemiskinan rumahtangga nelayan tradisional.
2.3. Kemiskinan Rumahtangga Nelayan di Wilayah Pesisir
Dirjen Pesisir Pantai dan Pulau Kecil (2000) telah berusaha memetakan permasalahan di pesisir antara lain : (a) pemanfaatan sumber daya melebihi kapasitas dan daya dukung; (b) kompetisi antara skala industri, yang skala kecil sering kalah bersaing yang membuat rendah produksi, produktivitas dan pendapatan; (c) distribusi hasil tidak seimbang dan adil karena akses terhadap usaha yang berbeda; (d) tumpang tindih yang tidak perlu membuat secara spasial banyak area yang rusak; (e) kelebihan investasi pada beberapa sektor, sementara yang lain memiliki investasi yang sangat terbatas dan (f) kemiskinan yang berkepanjangan struktural terutama di desa pesisir/desa nelayan. Sebagai wilayah homogen, wilayah pesisir merupakan wilayah sentra produksi ikan namun bisa juga dikatakan sebagai wilayah dengan tingkat pendapatan penduduknya tergolong dibawah garis kemiskinan (Budiharsono,2001).
Kemiskinan berkembang di pesisir karena beberapa faktor dibawah ini : sumber daya pesisir sering bersifat akses terbuka setidaknya secara de facto, wilayah yang paling tertekan karena berbagai kegiatan pembangunan dan dampak pembangunan, wilayah yang kurang diperhatikan, dilihat dari ketersediaan sarana dan prasarana umum. Selain itu, faktor-faktor yang mempengaruhi kemiskinan berkembang di pesisir adalah : padat penduduk, kualitas penduduk yang rendah; dan tidak adanya akses ke sumber modal, tekhnologi dan pasar (Dirjen Pesisir Pantai dan Pulau Kecil, 2000).
Kemiskinan secara umum dapat dibedakan dalam beberapa pengertian. Pengertian kemiskinan sekurang-kurangnya dalam lima kelas yaitu : kemiskinan absolut, kemiskinan relatif, kemiskinan kultural, kemiskinan kronis, dan kemiskinan sementara.
Pada kasus nelayan, akibat adanya perubahan yang bersifat musiman maka kemiskinanan nelayan digolongkan dalam kemiskinan sementara yakni kemiskinan yang disebabkan karena perubahan siklus ekonomi dari kondisi normal menjadi krisis ekonomi dan adanya perubahan yang bersifat musiman. (Darwis dan Nurmanaf, 2001).
Pada umumnya sebagian besar anggota rumahtangga miskin bekerja pada kegiatan-kegiatan yang memiliki produktivitas yang rendah dan mengandalkan pekerjaan fisik dengan ketrampilan yang minimal. Hal ini disebabkan karena rendahnya aksesibilitas angkatan kerja terhadap penguasaan faktor-faktor produksi (Darwis dan Nurmanaf, 2001).
Kemiskinan nelayan dicirikan oleh : pendapatan yang berfluktuasi, pengeluaran yang konsumtif, tingkat pendidikan keluarga rendah, potensi tenaga
kerja keluarga (istri dan anak) belum dapat dimanfaatkan dengan baik. Kemiskinan nelayan lebih dekat kepada bentuk kemiskinan struktural daripada
bentuk kemiskinan fisik (absolut) (Hermanto et. al. 1995).
Rivai (1989) meyatakan bahwa pembangunan di Indonesia tidak semata-mata berorientasi pada pertumbuhan ekonomi tetapi juga memperhatikan asas pemerataan pembangunan dan hasil-hasilnya. Upaya meningkatkan kesejahteraan msyarakat miskin / masyarakat lapisan bawah merupakan pengejawantahan dari asas pemerataan tersebut. kemudian pada gilirannya mempunyai kontribusi terhadap pertumbuhan ekonomi secara keseluruhan.
Dalam upaya untuk menanggulangi kemiskinan, ada dua strategi utama yang dapat ditempuh yaitu : (i) melakukan berbagai upaya untuk melindungi rumahtangga dan kelompok masyarakat miskin sementara sebagai akibat dampak krisis ekonomi dan (ii) membantu masyarakat yang mengalami kemiskinan struktural dengan memberdayakan mereka agar mempunyai kemampuan yang tinggi untuk berusaha. Strategi ini diharapkan dapat mencegah terjadinya kemiskinan baru (Darwis dan Nurmanaf, 2001).
Salah satu upaya untuk meningkatkan kemampuan masyarakat miskin yakni kebijaksanaan pembinaan dan perbaikan kualitas tenaga kerja. Kemampuan ini dapat dimiliki oleh golongan termiskin melalui kursus-kursus dan pembinaan yang tepat guna untuk melakukan diversifikasi usaha baik secara vertikal dan horizontal.
Untuk mengiringi aktifitas tersebut dan memperbaiki struktur pemilikan aset perlu kiranya disediakan kredit bersubsidi dan tanpa agunan diiringi dengan
subsidi / bantuan peralatan yang dibutuhkan masyarakat sesuai dengan pola usaha yang dipilih (Luthfi, 1993).
Menurut Suparmoko (1989) dalam rangka mencapai tujuan pokok membangun masyarakat nelayan dilakukan usaha sebagai berikut : peningkatan produksi dan produktivitas, peningkatan kesejahteraan nelayan melalui perbaikan pendapatan, penyediaan lapangan kerja. Menjaga kelestarian sumber daya hayati perikanan dan pola manajemen dalam pengelolaan sumber daya ikan juga merupakan usaha untuk membangun masyarakat nelayan.
3.1. Model Peluang Kerja Suami dan Istri di luar Sub Sektor Perikanan
Secara teoritis, setiap anggota rumahtangga akan mencurahkan waktunya pada pekerjaan tertentu. Hal tersebut dilakukan apabila pendapatan yang dihasilkan dari pekerjaan tersebut cukup menarik baginya dan dapat memenuhi kebutuhan hidupnya.
Pada daerah nelayan, kegiatan menangkap ikan di laut merupakan mata pencaharian utama sehingga menempati porsi utama dalam curahan waktu kerja rumahtangga nelayan. Usaha perikanan yang ditekuni oleh nelayan tradisional sebagian besar masih didominasi usaha berskala kecil dan teknologi sederhana.
Usaha perikanan juga sangat dipengaruhi oleh musim dan hasil-hasil produksinya pun terbatas hanya untuk konsumsi lokal. Selain itu, adanya
anggapan bahwa laut adalah milik bersama (common property) dapat
menyebabkan semua orang dapat menangkap ikan di laut.
Setiap orang bebas memanfaatkan laut (open access resource) tanpa
memperhatikan akibat-akibat yang mungkin timbul seperti kelestarian sumber daya tersebut dapat rusak atau terganggu kemudian mengakibatkan tangkapan ikan nelayan semakin lama semakin menurun dan hal ini menyebabkan pendapatan nelayan semakin menurun.
Apabila pendapatan yang diterima dari pekerjaan utama tidak akan mencukupi seluruh kebutuhan rumahtangga maka rumahtangga yang rasional akan mencari pekerjaan yang lain di luar pekerjaan utamanya yang memiliki peluang yang lebih besar.
Pekerjaan di sektor perikanan memiliki sifat yang fluktuatif karena adanya masa sibuk dan sepi sehingga para nelayan memiliki waktu yang bisa dimanfaatkan untuk mendorongnya mencari pekerjaan lain disamping pekerjaan utamanya.
Adanya usaha lain (secara terpadu) misalnya usaha di sektor non perikanan perlu diupayakan. Hal ini bertujuan untuk mengalihkan nelayan untuk menjauhi ketergantungan mereka dari sumber daya laut sehingga keberlanjutan sumber daya tersebut dapat terjaga dengan baik.
Kehidupan nelayan tradisional yang miskin juga diliputi oleh kerentanan misalnya ditunjukkan oleh terbatasnya anggota rumahtangga yang secara langsung ikut dalam kegiatan produksi dan adanya ketergantungan nelayan yang sangat besar dalam menangkap ikan.
Rumahtangga nelayan memiliki kebiasaan tidak mengikutsertakan perempuan dan anak-anak dalam penangkapan ikan. Demikian pula, dalam kegiatan pemasaran dan pengolahan, umumnya hasil penangkapan ikan dijual kepada pedagang tanpa melalui pengolahan.
Becker (1981) menyatakan bahwa pembagian peran gender antara mengurus rumahtangga dan bekerja di sektor publik disebabkan oleh dua hal
yakni karena prioritas investasi human capital dan oleh faktor intrinsik biologis
masing-masing jenis kelamin.
Biologis perempuan komit untuk melahirkan dan menyususi anak. Lebih dari itu, perempuan lebih ikhlas menyediakan waktu dan tenaganya untuk mengasuh anak karena menghendaki agar investasi biologisnya untuk produksi yang lebih bermanfaat.
Untuk meningkatkan kadar keberdayaan rumahtangga nelayan maka perlu adanya pengembangan terhadap kegiatan usaha yang beranekaragam. Pekerjaan lain selain pekerjaan utama dan anggota rumahtangga yang produktif seperti istri perlu digerakkan untuk mampu memberikan kontribusi pendapatan rumahtangga dalam rangka pemenuhan kebutuhan anggota rumahtangga.
Peluang suami dan istri bekerja di luar sub sektor dipengaruhi oleh faktor-faktor intern rumahtangga nelayan tersebut. Model peluang kerja suami dan istri berdasarkan model yang ditunjukkan oleh Reniati (1998) yang memiliki variabel yang berasal dari faktor intern rumahtangga nelayan.
Pemanfaatan tenaga kerja dalam rumahtangga untuk berbagai kegiatan produktif dipengaruhi oleh tingkat pendapatan yang digunakan untuk memenuhi
kebutuhan rumahtangga. Tenaga kerja yang berumur produktif dan
berpengalaman dapat diharapkan untuk berpartisipasi dalam kegiatan produktif yang akan dikembangkan baik di dalam aktivitas sub sektor perikanan dan aktivitas di luar sub sektor perikanan.
Lama pendidikan akan mempengaruhi kemampuan dan motivasi untuk perbaikan taraf hidup. Sumbangan tenaga kerja istri dibatasi oleh tuntutan pemeliharaan anak balita yang membawa konsekuensi sebagian besar tenaga dan waktu istri untuk kegiatan reproduksi tersebut.
Persamaan peluang kerja rumahtangga nelayan tradisional di luar sub sektor perikanan adalah :
PKj = f (Pj , Uj, PKL, Ej, JAB) ...(3.1)
dimana :
PKj = Peluang kerja anggota rumahtangga
Uj = Umur anggota rumahtangga
PKL = Pengalaman kerja suami di luar sub sektor perikanan
Ej = Lama pendidikan anggota rumahtangga
JAB = Jumlah anak balita
3.2. Model Ekonomi Rumahtangga Nelayan Tradisional
Becker (1965) mengembangkan teori yang mempelajari tentang perilaku
rumahtangga (household behaviour). Teori tersebut memandang rumahtangga
sebagai pengambil keputusan dalam kegiatan produksi dan konsumsi serta hubungannya dengan alokasi waktu dan pendapatan rumahtangga yang dianalisis secara simultan.
Asumsi yang digunakan adalah dalam mengkonsumsi, kepuasan rumahtangga berasal dari barang dan jasa yang dapat diperoleh di pasar dan berbagai komoditi yang dihasilkan dari rumahtangga. Beberapa asumsi yang dipakai dalam model rumahtangga pertanian yaitu : (1) waktu dan barang atau jasa merupakan unsur kepuasan; (2) waktu dan barang atau jasa dapat dipakai sebagai input dalam fungsi produksi rumahtangga dan (3) rumahtangga bertindak sebagai produsen dan konsumen.
Rumahtangga sebagai produsen dan konsumen diasumsikan bersifat rasional dalam memaksimumkan kepuasannya. Sebagai produsen, rumahtangga