BAB II KAJIAN PUSTAKA
B. Kajian Tentang Pembinaan
2. Ruang Lingkup Pembinaan
Pada pembinaan perencanaan merupakan suatu proses yang dilakukan sebelum melaksanakan suatu kegiatan. Perencanaan menurut
Sudjana (2004:57) adalah suatu proses sistematis dalam pengambilan keputusan tentang tindakan yang akan dilakukan pada waktu yang akan datang. Selain itu menurut Suryosubroto (2002:1) menjelasakan bahwa perencanaan adalah proses kerohaniah untuk memutuskan hal-hal tertentu sebelum melakukan suatu kegiatan yang sebenarnya serta guna mengarahkan proses kegiatan kepada tujuan yang akan dicapai. Berdasarkan definisi di atas dapat disimpulkan bahwa pada pembinaan, perencanaan diperlukan untuk mengambil keputusan dan tindakan yang akan dilakukan untuk mencapai tujuan sebelum melaksanakan suatu kegiatan agar tidak terjadi hal-hal yang tidak diharapkan.
Pada pembinaan perencanaan memiliki ciri-ciri sebagaimana menurut Sudjana (2004:59) sebagai berikut:
1. Perencanaan merupakan model pengambilan keputusan secara rasional dalam memilih dan menetapkan tindakan-tindakan untuk mencapai tujuan.
2. Perencanaan berorientasi pada perubahan keadaan masa sekarang kepada suatu keadaan yang diinginkan di masa datang sebagaimana dirumuskan dalam tujuan yang akan dicapai. 3. Perencanaan melibatkan orang-orang ke dalam suatu proses
untuk menentukan dan menemukan masa depan yang diinginkan.
4. Perencanaan memberi arah mengenal bagaimana dan kapan tindakan akan diambil serta siapa pihak yang akan terlibat dalam tindakan atau kegiatan itu.
5. Perencanaan melibatkan perkiraan tentang semua kegiatan yang akan dilalui atau akan dilaksanakan. Perkiraan itu meliputi kebutuhan, kemungkinan-kemungkinan keberhasilan, sumber-sumber yang digunakan, faktor-faktor pendukung dan penghambat, serta kemungkinan resiko dari suatu tindakan yang akan dilakukan.
6. Perencanaan berhubungan dengan penentuan prioritas dan urutan tindakan yang akan dilakukan. Prioritas ditetapkan berdasarkan urgensi atau kepentingannya, relevansi dengan
kebutuhan, tujuan yang akan dicapai, sumber-sumber yang tersedia, dan hambatan yang mungkin dihadapi.
7. Perencanaan sebagai titik awal untuk dan arahan terhadap kegiatan pengorganisasian, penggerakan, pembinaan, penilaian, dan pengembangan.
Ciri-ciri perencanaan tersebut dapat saling berhubungan ataupun saling menopang antara satu dengan lainnya dalam menyusun suatu program.
Berdasarkan definisi perencanaan pembinaan di atas dapat diketahui bahwa proses perencenaan merupakan suatu langkah awal dalam menyusun suatu program yang dilakukan untuk menentukan tujuan beserta langkah-langkah yang akan ditempuh, mengingat orientasi pada perencanaan baik pada pembinaan guna adanya perubahan.
b. Pendekatan
Dalam proses pembinaan, pendekatan merupakan salah satu langkah untuk mencapai sebuah tujuan yang telah ditetapkan. Pendekatan menjadi salah satu langkah penting dalam suatu proses. Menurut Mangunhardjana (1996:17) menjelaskan bahwa untuk melaksanakan pembinaan terdapat beberapa pendekatan yang harus diperhatikan, diantaranya adalah:
1. Pendekatan Informatif (Informatic Approach) yaitu, pendekatan yang dilaksanakan dengan cara menyampaikan informasi kepada peserta, dimana di dalam pendekatan ini peserta dianggap belum tahu dan tidak memiliki pengalaman.
2. Pendekatan Partisipatif (Partisipative Approach) yaitu, pendekatan yang menempatkan bahwa peserta sebagai sumber utama, pengalaman dan pengetahuan peserta dimanfaatkan sebagai kesatuan dalam belajar.
3. Pendekatan Eksperiensial (Experiencial Approach) yaitu, pendekatan yang menempatkan bahwa peserta langsung terlibat dalam pembinaan.
Selain itu pendekatan pembinaan yang diungkapkan oleh Sudjana (2004:174) bahwa pendekatan dapat dilaksanakan dengan menggunakan pendekatan langsung (direct contact) dan atau menggunakan pendekatan tidak langsung (indirect contact). Pendekatan langsung terjadi apabila pihak pembina melakukan tatap muka dengan pihak yang dibina melalui kegiatan diskusi, rapat, tanya jawab, atau kunjungan ke rumah, dan sebagainya. Sedangkan pendekatan tidak langsung terjadi apabila pembina melakukan upaya pembinaan melalui media massa seperti menggunakan media elektronik, bulletin, serta leaflet.
Dari ulasan pendekatan di atas, dapat diketahui adanya beberapa cara untuk melakukan pendekatan dalam pembinaan. Cara yang digunakan dalam pendekatan bergantung dari pelaksana kegiatan, namun idealnya proses pendekatan menggunakan pendekatan eksperiensial serta perpaduan antara pendekatan langsung dan tidak langsung.
c. Pelaksanaan
Pelaksanaan menurut Guntur Setiawan dalam Sofia Deken (2011:34) menyatakan bahwa pelaksanaan merupakan perluasan aktivitas yang saling menyesuaikan antara tujuan dan tindakan untuk mencapainya. Sedangkan menurut Nurudin Usman dalam Sofia Deken (2011:34) bahwa pelaksanaan akan bermuara pada aktivitas, aksi, tindakan, atau adanya
sistem. Pelaksanaan merupakan kegiatan yang terencana untuk mencapai tujuan kegiatan.
Berdasarkan pengertian pelaksanaan tersebut dapat diketahui bahwa pelaksanaan merupakan sebuah aktivitas atau kegiatan yang terencana dan dilakukan secara sungguh-sungguh berdasarkan ketentuan yang telah ditetapkan. Apabila pelaksanaan dituangkan ke dalam pembinaan maka pelaksanaan berdasarkan pada kegiatan yang telah terencana dan dilaksanakan secara sungguh-sungguh oleh pelaksana sesuai dengan ketentuan baik dengan kegiatan atau program-program yang telah disepakati.
d. Evaluasi
Evaluasi menurut Suharsimi Arikunto (2007:1) merupakan kegiatan untuk mengumpulkan informasi tentang sesuatu hal yang selanjutnya informasi tersebut akan digunakan untuk menentukan alternatif dalam mengambil keputusan. Selain itu menurut Sukardi (2014:3) bahwa evaluasi adalah proses mencari data atau informasi tentang obyek atau subyek yang dilaksanakan untuk tujuan pengambilan keputusan. Berdasarkan pendapat tersebut dapat disimpulkan bahwa evaluasi merupakan suatu proses pengumpulan data atau informasi yang dijadikan alternatif dalam pengambilan keputusan.
Untuk melaksanakan evaluasi pada pembinaan, terdapat beberapa model evaluasi pembinaan. Dua model evaluasi menurut Suharsimi Arikunto dan Cepi Safruddin (2007:26) yaitu:
1. Evaluasi Formatif
Evaluasi formatif merupakan evaluasi yang dilaksanakan ketika program masih berlangsung atau program masih dekat dengan permulaan kegiatan. Tujuan evaluasi formatif adalah untuk mengetahui sejauh mana program yang dirancang dapat berlangsung, sekaligus mengidentifikasi hambatan.
2. Evaluasi Sumatif
Evaluasi sumatif dilakukan setelah program berakhir. Tujuan evaluasi sumatif untuk mengukur ketercapaian program. Fungsi dari evaluasi sumatif adalah sebagai sarana untuk mengetahui posisi atau kedudukan individu dalam kelompoknya.
Berdasarkan pengertian di atas dapat diketahui bahwa evaluasi formatif digunakan apabila program masih berjalan, sedangkan evaluasi sumatif digunakan apabila program telah selesai atau berakhir.
Pembinaan sebagai suatu proses untuk mengendalikan keseluruhan sumber, baik manusia maupun non manusiawi guna mencapai tujuan yang ingin dicapai. Pada proses pembinaan terdapat beberapa langkah diantaranya adalah perencanaan, pendekatan, pelaksanaan, dan evaluasi. Langkah-langkah tersebut dilaksanakan guna mendukung keberlangsungan proses pembinaan.
C. Kajian Tentang Lanjut Usia