BAB II LANDASAN TEORI LANDASAN TEORI
C. Ruang Lingkup Pendidikan Agama Islam
Islam telah memberikan konsep-konsep yang mendasar tentang
pendidikan, dan menjadi tanggungjawab manusia dan menjabarkan dan
mengaplikasikan konsep-konsep dasar tersebut dalam praktik kependidikan.
Pendidikan Agama Islam secara praktis telah ada dan dilakukan sejak
Islam lahir. Usaha dan kegiatan yang dilakukan Nabi Muhammad SAW,
dalam lingkup pendidikan dengan jalan menanamkan nilai-nilai dan
norma-norma budaya Islam yang dikembangkan dalam hidup dan kehidupan dengan
menggunakan media yang berdasarkan wahyu Allah SWT, sehingga warga
Mekkah yang tadinya bercorak diri yang bodoh berubah menjadi ahli dan
cakap, dan dari yang kafir dan musyrik penyembah berhala menjadi
penyembah Allah SWT.69
Menurut H.M. Djumberasyahindir, dalam Ilmu Pendidikan Islam
mengatakan bahwa:
Pendidikan Islam sebagai alat pembudayaan Islam memiliki watak lentur terhadap perkembangan cita-cita kehidupan manusia sepanjang zaman, namun watak itu tetap berpedoman pada prinsip- prinsip nilai Islami. Juga pendidikan agama Islam mampu mengkomodasikan tuntutan hidup manusia dari masa ke masa termasuk di bidang ilmu pengetahuan dan teknologi dengan sikap mengarah dan mengendalikan tuntutan hidup tersebut dengan nilai- nilai fondamental yang bersumber dari iman dan taqwa kepada Allah SWT.
H.M. Arifin dalam bukunya Ilmu Pendidikan Islam mengatakan
bahwa:
Ruang lingkup pendidikan Islam mencakup kegiatan-kegiatan kependidikan yang dilakukan secara konsisten dan berkeseimbangan dalam bidang atau lapangan hidup manusia meliputi:
69
1. Lapangan hidup beragama, perkembangan pribadi manusia sesuai dengan norma-norma ajaran Islam.
2. Lapangan hidup berkeluarga, agar berkembang menjadi keluarga yang sejahtera.
3. Lapangan hidup ekonomi, agar dapat berkembang menjadi sistem kehidupan yang bebas dari menghisapan manusia oleh manusia.
4. Lapangan hidup kemasyarakatan, agar terbina masyarakat yang adil dan makmur dibawah ridha dan ampunan Allah.
5. Lapangan hidup politik, agar supaya tercipta sistem demokrasi yang sehat dan dinamis sesuai dengan ajaran Islam.
6. Lapangan hidup seni budaya, agar menjadikan hidup manusia penuh keindahan dan kegairahan yang tidak gersang dari nilai- nilai normal agama.
7. Lapangan hidup ilmu pengetahuan, agar perkembangan menjadi alat untuk mencapai kesejahteraan hidup manusia yang dikendalikan oleh iman.70
Selanjutnya mengacu kepada hadist Nabi Muhammad SAW, tentang
anjuran menuntut ilmu dari ayunan sampai ke lubang lahat dan menuntut ilmu
itu adalah kewajiban pria dan wanita, maka ruang lingkup pendidikan agama
Islam tidak mengenal batas umur dan perbedaan jenis kelamin. Bahkan
pendidikan Islam tidak mengenal batasan tempat, sebagaimana sabda nabi
Muhammad SAW, yang artinya “Tuntutlah ilmu walau sampai ke negeri Cina”. Dengan demikian ruang lingkup Islam harus digali dari ajaran Islam sendiri, kalau tidak demikian, maka tidak dapat dikatakan sebagai pendidikan
agama Islam. Pendidikan Islam harus mengerahkan dirinya jauh ke masa
depan.71
1. Shalat Dzuhur
Shalat Dzuhur adalah merupakan satu dari lima shalat wajib selain
70
Ibid., h. 15
71
subuh, ashar, magrib dan isya‟.72
Shalat merupakan hubungan langsung
antara hamba dengan Tuhannya, dengan maksud untuk mengagungkan dan
bersyukur kepada Allah dengan rahmat dan istighfar untuk memperoleh
berbagai manfaat yang kembali untuk dirinya sendiri di dunia dan
akhirat.73
Menurut terminologi bahasa Arab, shalat berarti do‟a. Shalat
adalah do‟a yang mendekatkan diri kepada Allah untuk beristighfar,
memohonkan ampunan atau menyatakan kesyukuran atas nikmat Allah
atau untuk memohon kepada-nya perlindungan dari bahaya atau untuk
beribadah (berbuat amal karena mematuhi seruan-Nya dan bimbingan
Rasulullah Saw). Begitu pula shalat adalah wujud pernyataan kehendak,
nikmat dan harapan kepada Allah dengan ungkapan dan perbuatan.74
Shalat merupakan ibadah yang wajib dilaksanakan oleh orang
mukmin bagi yang sudah baligh dan berakal. Shalat merupakan
manifestasi gerak ibadah yang menjelmakan hubungan langsung dengan
Allah yang dapat meniscayakan tambatan tenaga batin dan menjelmakan
petunjuk Tuhan berupa intuisi dan inspirasi. Oleh sebab itu, shalat
merupakan ibadah yang bisa menunjukkan jalan yang lurus menuju Allah
Swt, sebagaimana firman-Nya yang artinya: “Dan hendaklah kamu
menyembah-Ku. Inilah jalan lurus” (QS. Yasin: 61)
72
Abbas Arfan, Fiqh Ibadah Praktis, (Malang: UIN Maliki Press, 2011), h. 59
73
Ahmad bin Salim Baduewilan, Misteri Pengobatan dalam Salat, (Jakarta: Mirqat Publishing, 2008), h. 3
74
Shalat juga bukan ibadah yang memberatkan manusia, sebaliknya
shalat adalah alat bantu gerakan menuju Allah untuk mendekatkan diri
kepada-Nya agar mendapatkan pertolongan, perlindungan, dan
keridhaan-Nya.75
Sebagai ibadah, shalat merupakan suatu bentuk kepatuhan hamba
kepada Allah yang dilakukan untuk memperoleh ridha-Nya, dan
diharapkan pahalanya kelak di akhirat. Shalat merupakan tata cara
mengingat Allah secara khusus, di samping akan menghindarkan
pelakunya dari berbagai perbuatan tercela, shalat juga bisa menjadikan
kehidupan ini tenteram.76
Ibadah shalat mempunyai karakteristik landasan ideal, struktural,
dan landasan dari Allah. Karena itu, tidak ada peluang bagi seseorang
untuk mengarang tata cara, acara, dan upacara shalat karena semuanya
harus ada rujukan sesuai dengan al- Qur‟an dan al-hadist. Dari takbiratul
ikhram hingga salam semuanya sudah merupakan urutan yang tertata
sesuai maksud dan tujuan. Mendirikan shalat ialah menunaikannya dengan
teratur, dengan melengkapi syarat-syarat, rukun-rukun, dan adab- adabnya,
baik yang lahir ataupun yang batin untuk mengingat Allah.77
Tujuan Shalat, diantaranya untuk mengingat Allah agar manusia
selalu mengingat Allah di mana pun dan dalam keadaan apa pun, untuk
mencegah manusia dari perbuatan tercela, sebagai penebus dosa-dosa yang
75
Muhammad Makhdlori, Menyingkap Mukjizat Shalat Dhuha, (Yogyakarta: Diva Press, 2007), h. 36
76
Hasan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. 53
77
telah diperbuat, untuk mengadu kepada Allah, disiplin waktu, untuk
menyelamatkan manusia dari siksa neraka.78
Setiap ibadah shalat memiliki keutamaan, selain menjalankan
kewajiban shalat dzuhur, yakni mendapatkan pahala, menghapus dosa
yang telah lalu, serta menjadi cahaya di dunia dan akhirat. Dalam suatu
hadist, dijelaskan pula bahwa pada waktu dzuhur, pintu langit dibuka
sehingga rasulullah lebih senang melakukan amalan soleh di waktu
dzuhur.
ٌسْمَخ ُيَدْحََ ِمُجَّرنا ِة َلاَص ىَهَػ ِتَػاَمَجنا ِةَلاَص ُمْضَف :مهسَ ًيهػ الله ىهص يبىنا لاق
ِة َلاَص ِمْضَفَك ِدِجْسَمْنا ىِف اٍَِهْؼِف ىَهَػ ِجْيَبْنا ىِف ِعَُُّطَّخنا ِة َلاَص ُمْضَفََ ًتَجَرَد َنَُْرْشِػََ
ِدرَفْىُمْنا ِة َلاَص ىَهَػ ِتَػاَمَجْنا
Keutamaan shalat berjamaah atas shalatnya seseorang yang sendirian adalah dua puluh lima derajat, sedangkan keutamaan shalat sunnah di rumah ata sshalat yang dilakukan di masjid adalah seperti keutamaan shalat berjamaah atas shalat sendirian.”Hadis ini diriwayatkan oleh Ibnu As-Sakan dari Dhamrah dari bapaknya; HabibKetika berjamaah, maka akan ada imam dan makmum. berikut
bacaan niat shalat dzuhur sebagai imam:
ىَناَؼَح ِللهِ اًمُُْمْأَم ًءاَدَا ِتَهْبِقْنا َمِبْقَخْسُم ٍثاَؼَكَر َغَبْرَاِرٍُّْظنا َضْرَف ىّهَصُا
Artinya: “Aku berniat shalat fardhu dzuhur empat rakaat menghadap kiblat sebagai imam karena allah ta‟ala.”
Sekali- kali Allah tidak akan mengingkari dan sekali-kali Allah
tidak akan mendustai apabila hamba-Nya memohon dengan
sungguh-sungguh dan khusyuk tentang apa yang diminta. Karena Allah pun akan
78
Hassan Saleh, Kajian Fiqh Nabawi dan Fiqh Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2008), h. 56
mengabulkan hingga hambanya benar-benar merasa puas dan bahagia.79
Shalat sunnah memiliki banyak fadhilah. Keutamaan tersebut merupakan
bagian dari ungkapan kasih sayang Allah terhadap hamba-hamba-Nya
yang rajin beribadah dan mendekatkan diri kepada-Nya dengan
mendirikan shalat sunnah.
Keutamaan tersebut antara lain:80
a. Menyempurnakan nilai shalat fardhu
Untuk memperbaiki nilai shalat fardhu yang dilaksanakan
kurang sempurna, maka Allah memberikan solusi yakni shalat sunnah.
b. Mengurangi dosa yang telah lalu
Banyak dosa-dosa kecil yang tidak sengaja dilakukan dalam
aktivitas sehari-hari. Dengan membiasakan diri untuk melaksanakan
shalat sunnah, dosa-dosa tersebut dapat dikurangi.
c. Mengangkat derajat
Allah akan mengangkat derajat hamba-hamba-Nya yang
melaksanakan shalat-shalat sunnah secara kontinue dengan niat yang
ikhlas beribadah kepada Allah. Mereka adalah hamba-hamba yang
telah bisa menjadikan shalat sunnah sebagai bagian tidak terpisahkan
dalam ibadah keseharian kepada Allah Swt.
Disamping shalat sunnah sebagai penyempurna shalat wajib,
adakalanya dan menjadi anjuran bahwa shalat sunnah dilakukan untuk
79
Muhammad Makhdlori, Menyingkap Mukjizat Shalat Dhuha., h. 42
80
suatu tujuan tertentu. Seperti halnya yang berkaitan dengan rejeki,
terutama tentang kemudahan rejeki, maka dianjurkan untuk segera
mengerjakan shalat dhuha.81
2. Tadarus Al-Qur‟an
Qur‟an sebagai rahmat bagi pembaca. Allah menjadikan
Al-Qur‟an sebagai kabar gembira bagi orang-orang yang berpegang teguh kepadanya, juga sebagai peringatan bagi mereka yang mau mengambil
pelajaran darinya. Ia pun dijadikan sebagai petunjuk menuju jalan yang
lurus. Seseorang yang gemar bertadarus Al-Qur‟an dan menghayatinya,
serta bercermin kepada ayat-ayatnya, niscaya ia akan menemukan dalam
Al-Qur‟an itu sebagai ilmu dan pelajaran, yang menambah dan
memperkokohimannya. Sehingga ketika melantunkan Al-Qur‟an, ia
mampu merasakan kekuatan baru dan menghadirkan nuansa terindah
dalam kehidupan.82
Ketika manusia memiliki kesadaran akan isi kandungan Al-Qur‟an,
niscaya mereka akan mempersembahkan diri mereka kepada Al-Qur‟an
dengan segala risikonya. Membaca Al-Qur‟an dengan perenungan akan
maknanya dan bercermin dengan akhlaknya adalah lebih utama dari pada
membaca Al-Qur‟an yang tujuannya hanya sekedar mengkhatamkan tanpa
disertai perenungan dan bercermin diri kepadanya. Hal itu karena
pembacaan yang disertai perenungan akan lebih membawa manfaat bagi
hati, lebih sesuai untuk meningkatkan iman serta merasakan membaca
81
Muhammad Mukhdlori, Menyingkap Mukjizat Shalat Dhuha., h. 39
82
Qur‟an.83
Tadarus Al-Qur‟an atau kegiatan membaca Al-Qur‟an
merupakan bentuk peribadatan yang diyakini dapat mendekatkan diri pada
Allah Swt, dapat meningkatkan keimanan dan ketakwaan yang
berimplikasi pada sikap dan perilaku positif, dapat mengontrol diri, lisan
terjaga, dan istiqomah dalam beribadah.84
Al-Qur‟an memiliki banyak keutamaan, baik bagi
pembacanya maupun bagi orang yang menyimak membacanya.
Keutamaan membaca Al-Qur‟an sebagai berikut:
a. Al-Qur‟an dapat memberikan syafa‟at bagi pembacanya kelak di
hari kiamat
b. Seseorang menjadi baik dengan mempelajari dan mengajarkan Al-Qur‟an.
c. Pada hari kiamat nanti, Al-Qur‟an akan mempertahankan orang-orang
yang mengamalkannya
d. Al-Qur‟an akan menaikkan derajat seseorang.
e. Besarnya pahala membaca Al-Qur‟an.
f. Orang mukmin yang senantiasa membaca Al-Qur‟an bagaikan jeruk
yang menebar aroma harum dan memiliki rasa yang manis memikat.
g. Membaca satu huruf dari Al-Qur‟an dibalas dengan sepuluh kali lipat
kebaikan.
h. Derajat seseorang di akhirat (surga) tergantung pada ayat Al-Qur‟an
yang dibacanya.85
83
Ibid., h. 59
84
Asmaun Salman, Mewujudkan Budaya Religius di Sekolah: Upaya Mengembangkan PAI
dari Teori ke Aksi, (Malang: UIN Maliki Press, 2010), h. 1 85
Segala sesuatu yang baik itu menyangkut ibadah kepada Allah Swt,
ataupun menyangkut hubungan sesama makhluk, pada dasarnya menuntut
adanya tata cara dan adab sopan santunnya. Adapun diantara adab dalam
membaca Al-Qur‟an, sebagai berikut:
a. Tidak membaca atau menyentuh Al-Qur‟an kecuali dalam keadaan
suci (berwudhu).
b. Membacanya diawali dengan bacaan ta‟awwudz.
c. Membaca basmalah ketika memulai membaca Al-Qur‟an
d. Disunnahkan memperindah suara ketika melantunkan Al-Qur‟an,
selama bacaan itu tidak berlebihan dan tidak terlalu panjang.
e. Membaca Al-Qur‟an harus berpedoman pada kaidah ilmu tajwid,
sebab salah dalam memanjangkan, memendekkan, mentasydidkan atau
salah dalam melafalkan bacaan harakat, itu semua dapat mengubah
makna.
f. Membaca Al-Qur‟an dengan tartil dan tidak tergesa-gesa.
g. Mendengarkan dan menyimak bacaan Al-Qur‟an dengan tenang.
h. Membaca dengan khusyu‟, tawadhu‟, serta merenungkan makna ayat
yang sedang dibaca.86