• Tidak ada hasil yang ditemukan

TINJAUAN TEORETIS

3. Rukun dan Syarat Perkawinan

Rukun dan syarat adalah hal yang harus diperhatikan dalam perkawinan,

karena rukun dan syarat akan menentukan sah dan tidaknya suatu perkawinan.

Rukun nikah adalah sesuatu yang wajib ada dalam sebuah pernikahan. Karena bila

rukun tidak terpenuhi maka pernikahan tersebut akan batal. Begitu juga dengan

syarat yang mengikuti rukun, apabila tidak terpenuhi maka pernikahan itu akan

fasid. Rukun nikah ada lima yaitu: calon mempelai pria, calon mempelai wanita, wali, dua orang saksi dan ijab qabul.30 Sedangkan dalam Kompilasi Hukum Islam

29

Munir Fuady. Konsep Hukum Perdata. (Depok: PT Rajagrafindo, 2016),h. 11.

30

Abi Bakr bin Muhammad al Hussaini, Kifayat al Ahyar fi Halli Ghayat al Ikhtishar, Beirut-Libanon: Dar al Fikr, 1994, hlm. 40.

20

menyebutkan rukun nikah ada lima, dalam pasal 14, yaitu calon suami, calon istri,

wali nikah, dua orang saksi, dan ijab dan qabul.31

Hal ini telah sesuai dengan apa yang disyaratkan didalam Islam

bahwasanya, harus ada kedua mempelai, wali nikah, saksi dan ijab kabul atau

akad. Namun hukum perdata Islam di Indonesia menentukan salah satu syarat

perkawinan adalah persetujuan calon mempelai ( pasal 6 ayat (1) jo. Pasal 16 yat

(1) KHI). Persetujuan ini penting agar masing-masing suami dan istri dalam

memasuki gerbang perkawinan dan berumah tangga, benar-benar dapat dengan

senang hati membangun biduk rumah tangga, membagi tugas, hak, dan kewajiban

masing-masing secara profesional.32 Untuk memperoleh gambaran yang jelas

mengenai syarat dan rukun perkawinan menurut hukum Islam maka syatrat-syarat

perkawinan mengikuti rukun-rukunnya, seperti sebagai berikut:

a. Calon mempelai pria, syarat-syaratnya:

1. Beragama Islam

2. Laki-laki

3. Jelas orangnya

4. Dapat memberikan persetujuan

5. Tidak terdapat halangan perkawinan

b. Calon mempelai wanita, syarat-syaratnya:

1. Beragama Islam

2. Perempuan

3. Jelas orangnya

4. Dapat dimintai persetujuan

5. Tidak terdapat halangan perkawinan.

31

Tim Redaksi Citra Umbara, Kompilasi Hukum Islam, Bandung: Citra Umbara, 2013, hlm. 327.

32

21

c. Wali nikah, syarat-syaratnya:

1. Laki-laki

2. Baligh (dewasa)

3. Mempunyaii hak perwalian

4. Tidak terdapat halangan perwaliannya

d. Saksi nikah syarat-syaratnya:

1. Minimal dua orang laki-laki

2. Hadir dalam ijab qabul

3. Dapat mengerti maksud akad

4. Islam

5. Dewasa33

e. Ijab dan Qabul, syarat-syaratnya:

1. Tamyiz (mampu membedakan). Kedua calon suami dan istri yang akan

melangsungkan akad harus mumayyiz. Artinya, kalau salah satunya

gila atau terlalu kecil sehingga belum mampu membedakan, maka

akad nikah tidak sah.

2. Kesamaan majelis ijab dan qabul tidak boleh disela oleh pembicaraan

lain atau sesuatu yang menurut hukum kebiasaan dianggap

menyimpang dan keluar dari permasalahan.

3. Qabul tidak menyimpang dari ijab, kecuali jika penyimpangan itu

mengarah kepada yang lebih baik daripada yang disebutkan dalam

ijab, sehingga justru menunjukkan persetujuan yang lebih kuat.

4. Setiap pihak yang melangsungkan akan mendengar ucapan lawan

bicaranya dengan mengerti bahwa maksud ucapannya adalah akad

33

Ahmad Rofiq. Hukum Perdata Islam Di Indonesia (Jakarta: PT RajaGrafindo Persada, 2013), h. 55.

22

nikah, sekalipun keduanya tidak paham betul arti setiap kata-kata yang

diucapkan. Sebab, substansinya adalah maksud dan niat.34

Sedangkan menurut KUH Perdata Barat (KUH Per), syarat-syarat sahnya perkawinan (syarat material) antara lain:

a. Berlaku asas monogami (pasal 27 KUH Per)

b. Harus ada kata sepakat dan kemauan bebas antara si pria dan wanita (pasal

28 KUH Per).

c. Seorang pria sudah berumur 18 tahun dan wanita berumur 15 tahun (pasal

29 KUH Per).

d. Ada masa tunggu bagi wanita yang telah bercerai, yaitu 300 hari sejak

perkawinan terakhir bubar (pasal 34 KUH Per).

e. Anak-anak yang belum dewasa harus memperoleh izin kawin dari kedua

orang tua mereka (pasal 35 KUH Per).35

Agar suatu perkawinan sah secara hukum sehingga dapat mempunyai

akibat hukum secara penuh, maka terhadap perkawinan yang berlaku tersebut

diharuskan memenuhi beberapa syarat sahnya perkawinan. Yaitu, sebagai berikut:

a. Kecuali ditentukan lain oleh undang-undang yang berlaku, maka pada

prinsipnya seseorang tidak boleh melangsungkan perkawinan jika agama

dan kepercayaan yang dianutnya melarang perkawinan tersebut.

b. Perkawinan haruslah dilakukan atas dasar persetujuan masing-masing calon mempelai. Jadi, apa namanya “Perkawinan paksa” dilarang oleh hukum.

c. Perkawinan haruslah dilakukan setelah calon pengantin menjadi dewasa,

yakni sudah berumur 19 tahun bagi pria, dan 16 tahun bagi wanita. Dalam

34

Sayyid Sabiq. Fiqih Sunnah, (Jakarta: Al-I‟tishom, 2008), h. 187-189.

35

23

hal salah satu atau kedua calon mempelai belum berumur 19 tahun (bagi

pria) dan/atau 16 tahun (bagi wanita), Tetapi mereka mempunyai cukup

alasan untuk melangsungkan perkawinan, maka calon mempelai yang

belum cukup umur untuk kawin tersebut dapat meminta dispensasi untuk

dapat melangsungkan perkawinan. Dispensasi mana dapat diminta di

pengadilan yang berwenang atau kepejabat lain yang ditunjuk oleh kedua

orang tua pihak pria maupun pihak wanita. Satu dan lain hal tersebut

berlaku selama agama dan kepercayaan masing-masing pihak tersebut

tidak menentukan lain.

d. Apabila salah satu pihak atau kedua belah pihak yang melangsungkan

perkawinan belum berumur 21 tahun, maka terhadap perkawinan tersebut

haruslah mendapat izin dari pihak kedua orang tua dari pihak yang masih

berumur dibawah 21 tahun tersebut. Jika salah seorang dari orang tua

tersebut telah meninggal dunia, atau dalam keadaan tidak mampu

menyatakan kehendaknya, maka izin tersebut cukup diminta dari orang

tuanya yang masih hidup atau dari orang tuanya yang dapat menyatakan

kehendaknya. Dan apabila kedua orang tuanya telah meninggal dunia atau

tidak mampu menyatakan kehendaknya, maka izin tersebut dapat

diperoleh dari walinya, atau dari orang yang memeliharanya, ataupun dari

keluarga yang mempunyai hubungan darah dalam garis keturunan lurus

keatas selama mereka masih hidup dan mampu menyatakan kehendaknya.

Dalam hal ada perbedaan pendapat diantara masing-masing pihak yang

harus memberikan izin tersebut, maka pengadilan dapat memberikan izin

setelah mendengar seluruh pihak tersebut. Satu dan lain tersebut berlaku

selama agama dan kepercayaan masing-masing pihak tersebut tidak

24

e. Satu orang laki-laki, hanya dapat melangsungkan perkawinan dengan satu

orang wanita saja. Kecuali memenuhi syarat, alasan dan prosedur untuk

beristri lebih dari satu (berpoligami).

f. Laki-laki hanya dapat melangsungkan perkawinan dengan wanita saja,

perkawinan sejenis kelamin dilarang oleh hukum.

g. Kecuali ketentuan agamanya memiliki ketentuan lain, maka seorang tidak

boleh kawin untuk ketiga kalinya degan pasangan yang sama. Artinya, jika

seseorang telah bercerai kemudian kawin lagi untuk kedua kalinya dengan

pasangan yang sama, kemudian cerai lagi, maka mereka tidak

diperkenankan kawin untuk ketiga kalinya dengan pasangan yang sama.

h. Wanita yang perkawinannya sudah putus, maka tidak boleh kawin lagi

sebelum berlalu masa tunggunya (masa iddah).

i. Perkawinan tidak boleh dilakukan dengan pihak-pikah yang dilarang oleh

undang-undang. Pihak-pihak yang menurut hukum tidak boleh dikawini

adalah sebagai berikut:

1. Mereka yang berhubungan darah dalam garis keturunan lurus kebawah

atupun keatas.

2. Mereka yang berhubungan darah dengan garis keturunan menyamping,

yaitu antara saudara, antara seorang dengan saudara orang tua dan

seorang dengan saudara neneknya.

3. Mereka yang berhubungan semenda, yaitu, mertua, anak tiri, menantu,

dan ibu atau bapak tiri.

4. Mereka yang berhubungan sesusuan. Yaitu orang tua susuan, anak

susuan, saudara susuan, dan bibi/paman susuan.

5. Mereka yang berhubungan saudara dengan istri atau sebagai bibi atau

25

6. Mereka yang mempunyai hubungan yang oleh agamanya atau

peraturan lain yang berlaku, dilarang kawin.36

Dokumen terkait