BAB II TINJAUAN HUKUM TENTANG JUAL BELI
B. Salam dalam Islam
3. Rukun dan Syarat Salam
Ulama Hanafiyah menyatakan bahwa rukun jual beli pesanan hanya
ijab dan qabul. Lafadz yang digunakan dalam jual beli pesanan menurut
ulama Malikiyah, Hanafiyah dan Hanabali adalah lafaz salam atau salaf, atau lafaz ba’i. Sedangkan menurut Syafi’iyah, lafaz yang boleh dipergunakan dalam jual beli pesanan hanyalah salam dan salaf. Alasan ulama Syafi’iyah adalah menurut kaidah umum, jual beli seperti ini tidak diperbolehkan, karena barang yang dibeli belum kelihatan diwaktu akad. Akan tetapi, syara memperbolehkan jual beli ini dengan mempergunakan lafadz salam dan salaf. Oleh sebab itu, perlu pembatasan dalam pemakaian kata itu sesuai dengan pemakna syara.46
Adapun rukun jual-beli pesanan menurut jumhur ulama, selain Hanafiyah, terdiri atas :47
a. Yang terkait dengan harga dan modal, diisyaratkan harus jelas dan terukur, serta dilakukan terima yang jelas, dan diserahkan seluruhnya ketika akad telah disetujui. Oleh sebab itu, jika harga barang yang dibayar seluruh setelah barang selesai atau dibayar uang panjar pada
45 M. Yazid Afandi, Fiqh Muamalah, (Yogyakartta: Logung Printika), 2009 hlm. 160.
46 Masjupri, Fiqh Mualamah, (Sleman: Asnalitera, 2013), hlm. 134.
waktu akad, maka jual beli itu tidak disebut jual beli salam bertujuan untuk membantu pekerja trampil yang tidak mempunyai modal, sehingga ia dapat bekerja.
b. Yang terkait dengan objek yang dipesan, harus jelas jenis, ciri-ciri dan ukurannya, serta dijelaskan kapan penyerahan barang itu kepada pemesan. Menurut ulama Hanafiyah, Malikiyah, dan Hanabilah, dalam jual beli pesanan barangnya harus diserahkan kemudian, sesuai dengan waktu yang telah disepakati, karena Rasulullah SAW dalam sabdanya menyatakan bahwa yang dipesan itu harus jelas ukurannya, ciri-cirinya, dan diserahkan di kemudian hari sesuai dengan waktu yang telah ditentukan.
Dalam Fatwa DSN NO:05/DSNMUI/IV/2000 tentang akad Salam telah memutuskan ketentuan tentang pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati. Dan apabila keduanya telah berpisah sebelum pembayaran harga atau mereka telah mengambil kesepakatan akad sebelum pembayaran diterima, akad tersebut batal. Kecuali bila sebagian harga telah dibayar, sedang sebagian yang belum diserahkan berikut barang pesanan yang menjadi kompensasi pembayaran tersebut, hukumnya sah. Ketentuan tentang pembayaran meliputi48 :
1. Alat bayar harus diketahui jumlah dan bentuknya, baik berupa uang, barang, atau manfaat.
2. Pembayaran harus dilakukan pada saat kontrak disepakati.
3. Pembayaran tidak boleh dalam bentuk pembebasan hutang. Ketentuan barang Akad Salam tidak disyaratkan harus kredit (ditangguhkan), menurut al-madzhab. Sebagimana telah disinggung di depan akad Salam sah dilakukan baik secara tunai maupun ditangguhkan hingga waktu tertentu. Apabila akad Salam diharuskan secara mutlak menentukan tunai atau kredit, sementara barang pesanan telah ada, maka akad tersebut haruslah berlangsung secara tunai.49 Ketentuan barang salam meliputi :
1. Harus jelas ciri-cirinya dan dapat diakui sebagai hutang. 2. Harus dapat dijelaskan spesifikasinya.
3. Penyerahannya dilakukan kemudian.
4. Waktu dan tempat penyerahan barang harus ditetapkan berdasarkan kesepakatan.
5. Pembeli tidak boleh menjual barang sebelum menerimanya. 6. Tidak boleh menukar barang, kecuali dengan barang sejenis
sesuai kesepakatan.
Penyerahan Barang Sebelum atau pada Waktunya :
1. Penjual harus menyerahkan barang tepat pada waktunya dengan kualitas dan jumlah yang telah disepakati.
2. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih tinggi, penjual tidak boleh meminta tambahan harga.
3. Jika penjual menyerahkan barang dengan kualitas yang lebih rendah, dan pembeli rela menerimanya, maka ia tidak boleh menuntut pengurangan harga (diskon).
4. Penjual dapat menyerahkan barang lebih cepat dari waktu yang disepakati dengan syarat kualitas dan jumlah barang sesuai dengan kesepakatan, dan ia tidak boleh menuntut tambahan harga.
5. Jika semua atau sebagian barang tidak tersedia pada waktu penyerahan, atau kualitasnya lebih rendah dan pembeli tidak rela menerimanya, maka ia memiliki dua pilihan: membatalkan kontrak dan meminta kembali uangnya, menunggu sampai barang tersedia.
Menurut Kompilasi Hukum Ekonomi Syariah Pasal 101 s/d Pasal 103, bahwasyarat ba’i salam adalah sebagai berikut :50
a. Kualitas dan kuantitas barang harus jelas.
b. Kuantitas barang dapat diukur dengan takaran, atau timbangan, dan atau meteran. Spesifikasi barang yang dipesasn harus diketahui secara sempurna oleh para pihak.
c. Barang yang dijual, waktu, dan tempat penyerahan dinyatakan dengan jelas.
d. Pembayaran barang dapat dilakukan pada waktu dan tempat yang disepakati.
Diperbolehkannya salam sebagai salah satu bentuk jual beli merupakan pengecualian dari jual beli secara umum yang melarang jual beli
forward sehingga kontrak salam memiliki syarat-syarat ketat yang harus
dipenuhi, antara lain (Usmani, 1999) sebagai berikut :
a. Pembeli harus membayar penuh barang yang dipesan pada saat akad
salam ditandatangani. Hal ini diperlukan karena jika pembayaran belum
penuh, maka akan terjadi penjualan utang dengan utang secara ekplisit dilarang. Selain itu, hikmah dibolehkannya salam adalah untuk memenuhi kebutuhan segera dari penjual. Jika harga tidak dibayar penuh oleh pembeli, tujuan dasar dari transaksi ini tidak tepenuhi. Oleh karena itu, semua ahli hukum Islam sepakat bahwa pembayaran penuh dimuka pada akad salam adalah perlu. Namun demikian, Imam Malik berpendapat bahwa penjual dapat memberikan kelonggaran dua atau tiga hari kepada pembeli, tetapi hal ini bukan merupakan bagian dari akad. b. Salam hanya boleh digunakan untuk jual beli komoditas yang kualitas
dan kuantitasnya dapat ditentukan dengan tepat (fungible goods atau
dhawat al-amthal). Komoditas yang tidak dapat ditentukan kuantitas dan
kualitasnya (termasuk dalam kelompok non-fungible goods atau dhawat
al-qeemah) tidak dapat dijual menggunakan akad Salam karena tidak
c. Salam tidak dapat dilakukan untuk jual beli komoditas tertentu atau produk dari lahan pertanian atau peternakan tertentu.
d. Kualitas dari komoditas yang akan dijual dengan akad salam perlu mempunyai spesifikasi yang jelas tanpa keraguan yang dapat menimbulkan perselisihan. Semua yang dapat dirinci harus disebutkan secara ekplisit.
e. Ukuran kuantitas dari komoditas perlu disepakati dengan tegas. Jika komoditas tersebut dikuantifikasi dengan berat sesuai kebiasaan dalam perdagangan, beratnya harus ditimbang, dan jika biasa dikuantifikasi dengan diukur, ukuran pastinya harus diketahui. Komoditas yang biasa ditimbang tidak boleh diukur dan sebaliknya.
f. Tanggal dan tempat penyerahan barang yang pasti harus ditetapkan dalam kontarak.
g. Salam tidak dapat dilakukan untuk barang-barang yang harus diserahkan langsung.