• Tidak ada hasil yang ditemukan

LANDASAN KONSEPSIONAL A. Pengertian Perkawinan dan Akad Perkawinan

B. Rukun dan Syarat Perkawinan

1. Rukun Perkawinan

Tentang jumlah dan rukun nikah ini, para ulama berbeda pendapat:

1) Imam Malik mengatakan bahwa rukun nikah itu ada empat macam, yaitu:

a) Wali dari pihak perempuan b) Mahar

c) Calon pengantin laki-laki d) Sighad aqad nikah.99

2) Imam Syafi‟i berkata bahwa rukun nikah itu ada lima macam yaitu:

a) Calon pengantin laki-laki b) Calon pengantin perempuan c) Wali

d) Dua orang saksi e) Sighad aqad nikah

3) Menurut ulama Hanafiyah, rukun nikah itu hanya ijab dan qabul saja yaitu:

(akad yang dilakukan oleh pihak wali perempuan dan calon pengantin laki-laki).

4) Sedangkan menurut golongan yang lain rukun nikah itu ada empat macam yaitu:

a) Sighat (ijab dan qabul) b) Calon pengantin laki-laki c) Calon pengantin perempuan

d) Wali dari calon pengantin perempuan

99 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah, (Yogyakarta, Perpustakaan Nasional, 2017), hal. 39

Alasan pendapat ini karena calon pengantin laki-laki dan pengantin perempuan digabung menjadi satu rukun seperti di bawah ini:

1. Dua orang yang saling melakukan perkawinan, yakni mempelai laki-laki dan mempelai perempuan.

2. Adanya wali

3. Adanya dua orang saksi

4. Dilakukan dengan sighat tertentu.100

Sebuah pernikahan akan sah apabila telah terpenuhi rukun dan syaratnya. Adapun yang termasuk dalam rukun pernikahan antara lain adalah:

a. Adanya kedua mempelai (laki-laki dan wanita), b. Adanya wali dari calon istri,

c. Adanya saksi, d. Adanya mahar, dan

e. Adanya akad (sighat), yaitu perkataan dari pihak wali wanita atau wakinya (ijab) dan diterima oleh pihak laki-laki atau wakilnya (qabul)

a) Adanya Kedua Mempelai (Laki-laki dan Wanita)

Untuk melangsungkan akad nikah, tentunya harus ada dua orang (laki-laki dan wanita) yang akan dinikahkan. Dalam hal ini, kedua mempelai tidak memiliki penghalang keabsahan nikah, seperti adanya hubungan mahram dari keturunan, sepersusuan atau semisalnya.

Bagi kedua mempelai, mereka bisa dinikahkan jika memenuhi beberapa syarat, seperti berakal dan mumayyiz, mendengar ijab dan qabul.

100 Abdul Rahman Ghazali, Fiqih Munakahat, (Jakarta: Kencana, 2010), Cet Ke-4, Hal.49

Selain itu, bagi calon laki-laki, ia harus memenuhi syarat, seperti tidak dalam keadaan ihram, meskipun diwakilkan, kehendak sendiri, mengetahui nama, nasab, orang, serta keberadaan wanita yang akan dinikahi, serta jelas laki-laki. Sedangkan bagi calon istri, ia harus memenuhi syarat, seperti tidak dalam keadaan ihram, tidak bersuami, dan tidak dalam keadaan iddah (masa penantian).101

Selain itu, kedua calon mempelai memang benar-benar sepakat untuk menikah. Para ulama sepakat bahwa adanya persetujuan dari kedua calon pasangan merupakan salah satu syarat sahnya akad nikah. Mereka mensyaratkan hal itu karena adanya persetujuan dari kedua belah pihak merupakan rukun yang sebenarnya bagi akad nikah.Sedangkan, ijab dan qabul hanya merupakan manifestasi dari persetujuan tersebut. Dengan kata lain, kedua belah pihak harus memperlihatkan secara jelas adanya persetujuan dan kesepakatan tersebut pada waktu akad nikah berlangsung.

b) Adanya Wali dari Calon Istri

Wali nikah merupakan salah satu rukun pernikahan. Oleh karena itu, tidak sah sebuah pernikahan tanpa adanya wali dan pernikahannya wajib dibatalkan. Wali disini adalah wali dari pihak mempelai wanita, sedangkan bagi laki-laki, keberadaan wali tidak diwajibkan. Alasan pernikahan harus disertai wali karena untuk menjaga kemaslahatan wanita agar hak-hak wanita terlindungi. Sebab, kodrat kaum wanita meiliki sifat yang lemah.

101 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 41

Dalil tentang wali ini adalah berdasarkan hadis dari „Aisyah

Artinya; "Perempuan mana saja yang menikah tanpa seizin walinya, maka pernikahannya batal.(HR. Ahmad, Abu Daud, Ibnu Majah, Tirmidzi, dan ia menambahkan: "Hadis ini Hasan. Kata Qurtubi:

"Hadis ini shahih").

Secara umum, ada beberapa jenis wali nikah, di antaranya adalah sebagai berikut:

a. Menurut Kewenangannya103

Jika dilihat dari kewenangannya, wali nikah masih dibagi menjadi dua yaitu:

1) Wali Mujbir

Wali mujbir adalah wali yanga berhak menikahkan wanita perawan, baik wanita tersebut masih kecil atau sudah besar tanpa meminta persetujuan terlebih dahulu kepada wanita tadi. Adapun yang tergolong dalam wali mujbir adalah ayah dan kakek dari si wanita.Tanda persetujuan menerima pernikahan ialah “diam” jika masih perawan, sedangkan bila

102 Hafizah Bin Hajar Al-„Asqalani, Bullugul Muram, (Bairut Libanon: Darul Fikri 1995), hal.172

103 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, 41

sudah janda, maka persetujuannya adalah dengan lisannya. Hal ini didasarkan pada hadits berikut:

Rasulullah Saw. bersabda yang artinya:

“Janda lebih berhak atas dirinya disbanding walinya.Sedangkan gadis diminta izin tentang urusan dirinya.Izinnya adalah diamnya” (HR.

Muttaafaqun „Alaih).

Dalam hadits lain dari Abu Hurairah Ra., Rasullah Saw.

menegaskan:

“Seorang wanita janda tidak boleh dinikahkan sebelum diminta pertimbangan dan seorang gadis perawan tidak boleh dinikahi sebelum diminta persetujuan. Para sahabat bertanya, „Ya Rasulullah, bagaimana tanda setujunya?‟ Rasulullah Saw. menjawab, „ bila ia diam” (HR.

Muslim)

2) Wali Mukhayyir

Menurut para ulama dari madzhab Syafi‟i, yang dimaksud dengan mukhayyir adalah semua wali (termasuk ayah dan kakek) bagi janda, yang harus ditanya terlebih dahulu persetujuan dari janda tersebut, ketika wali memilih calon suami atau maskawin untuknya.

Jika janda masih kecil, belum akil-baligh, maka wali tidak boleh menikahkannya sehingga ia sudah akil-baligh.104

Sementara itu, para ulama dari madzhab Hanafi dan Hambali memiliki pendapat yang berbeda. Menurut mereka, yang dimaksud dengan wali mukhayyir adalah semua wali, ketika menikahkan wanita yang sudah dewasa, tenpa memandang apakah ia perawan atau janda.

104 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 42

b. Menurut Garis Keturunan dan Sebab Lainnya

Menurut para ulama ada banyak jenis wali, baik yang berhubngan dengan nasab/garis keturunan ataupun sebab lainnya. Di antara wali-wali tersebut adalah:105

1. Wali nasab,

2. Wali karena membeli hamba sahaya, 3. Wali karena memerdekakan hamba sahaya, 4. Wali karena wasiat,

5. Wali karena perjanjian tertentu, 6. Wali hakim, dan

7. Wali muhakkam.

Dari banyaknya wali tersebut, yang bisa dijadikan sebagai pedoman dalam wali nikah adalah wali nasab, hakim, dan muhakkam.

Berikut penjelasan ketiga wali nikah tersebut:

1) Wali Nasab

Wali nasab adalah orang yang terdiri dari keluarga calon mempelai wanita yang berhak menjadi wali menurut urutan sebagai berikut:

a) Laki-laki yang menurunkan calon mempelai wanita dari keturunan laki-laki murni (dalam garis keturunan itu tidak ada penghubung yang wanita), seperti ayah, kakek dan seterusnya ke atas.

105 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 42

b) Laki-lakiketurunandari ayah mempelai wanita, seperti saudara kandung, anak dari saudara seayah, anak dari saudara kandung anak dari saudara seayah, dan seterusnya ke bawah.

c) Laki-laki keturunan dari ayahnya ayah dalam garis laki-laki, yaitu saudara kandung dari ayah, saudara sebapak dari ayah kandung dari ayah dan seterusnya ke bawah.

Dari uraian tersebut, maka dapat diurutkan secara sederhana mengenai wali nasab sebagai berikut:106

a) Ayah kandung,

b) Kakek (dari garis ayah) dan seterusnya ke atas dalam garis laki-laki c) Saudara laki-laki sekandung

d) Saudara laki-laki seayah

e) Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki sekandung, f) Anak laki-laki dari anak laki-laki saudara laki-laki seayah, g) Saudara laki-laki ayah sekandung (paman),

h) Saudara laki-laki ayah seayah (paman seayah), i) Anak laki-laki paman sekandung,

j) Anak laki-laki paman seayah, k) Saudara laki-laki kakek sekandung,

l) Anak laki-laki saudara laki-laki kakek sekandung, m) Anak laki-laki saudara laki-laki kakek seayah

106 Dedi Junaidi, Bimbingan Perkawinan, (Jakarta: Akademi Presindo, 2003), hal. 112

2) Wali Hakim

Wali hakim adalah orang yang diangkat oleh pemerintah (menteri agama) untuk bertindak sebagai wali dalam suatu pernikahan, atau orang yang mendapatkan mandate dan kuasa untuk mewakilinya. Adapun dalil yang dijadikan dasar di perbolehkan wali hakim ialah hadits dari Aisyah Ra berikut:

“Apabila seorang wanta menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batal. Maka, ia menerima mahar sekedar untuk menghalalkan farjinya.

Apabila walinya enggan atau menolak menikahkannya, maka sultan (hakim)lah yang berhak menjadi wali bagi wanita yang tidak memiliki wali” (HR. Imam Emapat, Kecuali Nasa‟i).

Penggunaan wali hakim diperbolehkan jika memenuhi beberapa syarat. Di antaranya syarat tersebut ialah:

a. Tidak mempunyai wali nasab sama sekali,

b. Walinya mafqud (hilang tidak diketahui keberadaannya),

c. Wali sendiri yang akan menjadi mempelai laki-laki, sedangkan wali yang sederajat dengannya tidak ada,

d. Wali berada di tempat sejauh masafaqhatulqashri (sejauh perjalanan yang memboleh shalat qhasar),

e. Wali berada dalam penjara atau tahanan yang tidak boleh dijumpai, f. Wali adhal (tidak bersedia ataua menolak untuk menikahkan), dan g. Wali sedang melaksanakan ibadah haji atau umrah.107

Dengan demikian, wali hakim baru diperbolehkan menjadi wali nikah jika salah satu dari poin tersebut terpenuhi. Akan tetapi, bila wali nasabnya

107 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 45

telah mewakilkan kepada orang lain untuk bertindak sebagai wali, maka orng yang mewakilkan itulah yang berhak menjadi wali dalam pernikahan tersebut.

3) Wali Muhakkam

Wali muhakkam ialah wali yang diangkat oleh kedua calon suami istri untuk bertindak sebagai wali dalam akad nikah mereka.Wali muhakkam baru diperbolehkan menjadi wali nikah apabila wali nasab dan wali hakim tidak ada.Ini artinya, kebolehan wali muhakkam tersebut harus terlebih dahulu dipenuhi salah satu syarat bolehnya menikah dengan wali hakim, kemudian ditambah dengan tidak adanya wali hakim yang semestinya melangsungkan akad pernikahan di wilayah terjadinya peristiwa pernikahan itu.

Bagi kedua calon suam istri yang akan menggunakan wali hakim, hendaknya mengangkat orang yang mengerti tentang agama untuk menjadi wali dalam pernikahnya. Pada hakikatnya, diperbolehkannya penggunaan wali muhakkam ini merupakan hikmah yang diberikan oleh Allah Swt, kepada hamba-Nya yang akan melangsungkan pernikahan. Allah Swt, tidak menghendaki kesulitan dan kemudharatan bagi hamba-Nyayang ingin beribdah kepada-Nya.108

Dari beberapa macam wali yang disebutkan itu, tidak semuanya berhak menjadi wali nikah. Ada beberapa syarat tertentu yang harus mereka miliki agar bisa menjadi wali nikah, di antara syarat tersebut adalah:

108 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 46

a. Islam, b. Baligh, c. Berakal, d. Merdeka e. Laki-laki, f. Adil, g. Mursyid h. Tidak dipaksa,

i. Tidak sedang dalam keadaan ihram haji,

j. Haknya tidak dicabut dalam menguasai harta, dan k. Tidak tua renta/pikun.109

Pada dasarnya, di dalam Al-Qur‟an maupun hadits, tidak disebutkan secara rinci mengenai urutan wali nikah. Akan tetapi, menurut pendapat para sahabat dan ulama, urutan wali nikah sama halnya sama urutannya dalam hal warisan.

c) Saksi

Mayoritas ulama, seperti Imam Abu Hanifah, Imam Syafi‟i, dan Imam Malik, bersepakay bahwa saksi termasuk salah satu syarat sahnya sebuah pernikahan. Mayoritas ulama juga mengatakan bahwa pernikahan tidak sah hukumnya apabila dalam pengucapan ijab dan qabul tidak jelas, serta tidak boleh dilaksanakan, kecuali dengan adanya saksi-saksi yang

109 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 47

hadir langsung dalam pernikahan agar mengumumkan atau memberitahukan kepada orang-orang.

Dengan demikian, saksi dalam pernikahan merupakan salah satu rukun dalam pelaksanaan akad nikah. Dalam hal ini, saksi harus hadir dan menyaksikan secara langsung akad nikah, serta mendatangani akta pada waktu dan di tempat akad nikah dilangsungkan.

Penetapan adanya saksi sebagai salah satu rukun nikah ini,

110 Hafizh Bin Hajar Al-„Asqalani, Bulughul Maram, (Bairut Libanon: Darul Fikri, 1995), hal. 172

111 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 48

Menurut Imam Syafi‟i, saksi mengandung dua arti, yaitu pengumuman dan penerimaan. Oleh karena itu, disyaratkan saksi yang adil.Sementara itu, Ibnu Taimiyah mengatakan bahwa kriterial adil dalam masalah saksi, kembali kepada standar yang ada dimasyarakat. Artinya, jika seseorang itu masih diaanggap sebagai orang baik-baik di mata masyarakatnya, maka ia layak untuk menjadi saksi.112

Para ulama dari madzhab Syafi‟iyah dan Hanabilah sepakat bahwa yang boleh menjadi saksi harus seorang laki-laki. Namun, para ulama dari madzhab Hanafiyah memiliki pendapat yang berbeda. Menurut mereka, saksi adalah dua orang laki-laki atau boleh dengan satu orang laki-laki dan dua orang wanita. Pendapat mereka didasarkan pada firman Allah Swt.

Artinya: Dan persaksikanlah dengan dua orang saksi dari orang-orang lelaki (di antaramu). Jika tak ada dua oang lelaki, Maka (boleh) seorang lelaki dan dua orang perempuan dari saksi-saksi yang kamu ridhai, supayajika seorang lupa maka yang seorang mengingatkannya…(QS. Al-Baqarah: 282)

Meskipun ada perbedaan pendapat dari beberapa imam mazdhab tersebut, tetapi sebaiknya, saksi dalam pernikahan adalah dua orang laki-laki. Sebab, dalam pelaksanaan akad pernikahan biasanya dihadiri oleh banyak orang, terutama oleh kaum laki-laki. Tentunya, lebih pantas bila

112 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 48

yang menjadi saksi adalah kaum laki-laki. Selain itu, di dalam ayat tersebut juga diterangkan bahwa diperbolehkannya saksi dengan dua orang wanita itu, “hanya” apabila tidak ada dua orang laki-laki yang bisa menjadi saksi.

d) Adanya Mahar

Mahar atau maskawin adalah harta yang diberikan oleh phak mempelai laki-laki (atau keluarganya) kepada mempelelai wanita saat pernikahan. Jika pemberian itu dilakukan secara sukarela di luar akad nikah, maka tidak disebut mahar, tetapi hanyalah pemberian biasa, baik sebelum akad nikah ataupun setelah selesainya pelaksanaan akad nikah. Demikian pula pemberian yang diberikan mempelai laki-laki dalam waktu akad nikah, namun tidak pada mempelai wanita, tidak disebut mahar.113

Menurut Imam Malik, Mahar adalah harta yang diberikan oleh seorang laki-laki kepada calon isterinya sebagai penghalal hubungan mereka. Sedangkan para ulama dari madzhab Hambali mengemukakan bahwa mahar sebagai imbalan suatu pernikahan, baik disebut secara jelas dalam akad nikah, ditentukan setelah akad dengan persetujuan kedua belah pihak, maupun ditentukan oleh hakim.

Dalam al-Qur‟an surat An-Nisaa‟ ayat 4, Allahberfirman:



Artinya: Berikanlah maskawin (mahar) kepada wanita (yang kamu nikahi) sebagai pemberian dengan penuh kerelaan. Kemudian jika mereka menyerahkan kepada kamu sebagian dari maskawin itu dengan senang hati, Maka makanlah (ambillah) pemberian itu (sebagai makanan) yang sedap lagi baik akibatnya.

113 Amir Syarifuddin, Hukum Perkawinan Islam di Indonesia antara Fiqih Munakahat dan UU Perkawinan, (Jakarta: Kencana, 2009), hal. 85

Berdasarkan ayat tersebut, maka wajib hukumnya seorang laki-laki memberikan mahar kepada wanita yang akan dinikahinya. Mahar ini merupakan hak seorang wanita atau istri dan tidak boleh siapa pun yang mengambilnya, baik ayah ataupun pihak lainnya, kecuali bila istri ridha memberikan mahar tersebut kepada orang yang memintanya.114

Di dalam meminta mahar kepada calon suami, seorang calon istri tidak diperkenankan menuntut sesuatu yang besar nilainya atau yang memberatkan beban calon suaminya. Bagi calon isteri, sebagaimana diajarkan Islam, dianjurkan untuk meminta mahar yang meringankan beban calon suaminya dan bisa memudahkan dalam proses pernikahan.

Islam tidak memberikan batasan atau besar kecilnya mahar yang harus diberikan oleh seorang laki-laki kepada calon isterinya. Akan tetapi, barang yang dijadikan mahar ini adalah sesuatu yang bernilai.

Dalam sebuah hadits dari Sahal bin Sa‟ad, dikisahkan bahwa Rasulullah Saw. didatangi oleh seorang wanita yang berkata “Ya Rasulullah, kuserahkan diriku untukmu”.

Akan tetapi, beliau tidak tertarik kepada wanita itu. Hingga datanglah seorang laki-laki dalam majelis tersebut dan meminta supaya wanita itu dinikahkan dengannya. Laki-laki itu berkata, “Ya Rasulullah, nikahkan dengan saya saja jika engkau tidak ingin menikahinya”.

Kemudian, Rasulullah Saw. bertanya, “Apakah kamu memiliki sesuatu untuk dijadikan mahar?”.

114 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 50

“Tidak, demi Allah, wahai Rasulullah,” Jawabnya. “Pergilah ke keluargamu, lihatlah mungkin kamu mendapatkan sesuatu,” pinta Rasulullah Saw. Laki-laki itu pun pergi, tak beberapa lama kemudian, ia kembali, “Demi Allah, saya tidak mendapatkan sesuatu pun,” ujarnya.

Lalu, Rasulullah Saw bersabda, “Carilah walaupun hanya berupa cicin besi”

Laki-laki itu pun pergi dan tak berapa lama kemudian ia kembali lagi seraya berkata, “Demi Allah, wahai Rasulullah! saya tidak mendapatkan walaupun cincin dari besi, tetapi ini sarung saya, setengahnya untuk wanita ini”.

Lalau, Rasulullah Saw. berkata, “Apa yang kamu perbuat dengan sarung itu? Jika memakainya, berarti wanita itu tidak mendapat sarung itu.

Dan jika ia memakainya berarti kamu tidak memakai sarung itu”.

Laki-laki itu pun duduk cukup lama, lalu ia bangkit. Rasulullah Saw.

melihatnya berbalik pergi, kemudian beliau memerintahkan seseorang untuk memanggil laki-laki tersebut. Ketika laki-laki itu telah ada di hadapan Rasulullah Saw., beliau bertanya, “Apakah kamu hafal al-Qur‟an?”.115

“Ya, surat ini dan itu (sambil menyebutkan surat yang dihafalnya)”

jawab laki-laki itu.

“Benar-benar kamu menghafalny di dalam hatimu?” Rasulullah Saw.

kembali bertanya.

“Iya”, jawab laki-laki itu.

Rasulullah Saw. bersabda, “Bila demikian, baiklah! sungguh,, aku telah menikahkan kamu dengan wanita ini dengan mahar berupa surat-surat al-Qur‟an yang kamu hafal”. (HR. Bukhari dan Muslim).116

Dalam riwayat yang lain juga diriwatkan bahwa pada zaman Rasulullah Saw., ada seorang laki-laki yang sangat miskin, tidak memiliki

115 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 51

116 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 52

harta, tetapi ia ingin menikah. Satu-satunya harta yang dimiliki adalah sepasang sandal. Kemudian, Rasulullah Saw. bertanya kepada wanita yang akan dinikahi oleh laki-laki tersebut, “Relakah kamu dinikahi jiwa dan hartamu dengan sepasang sandal?”117

Wanita tersebut menjawab, “Rela”.

Kemudian, Rasulullah Saw. mengizinkannya. (HR. Ahmad, Tirmidzi, dan Ibnu Majah).

Secara fiqhiyah, kalangan Hanafiyah berpendapat bahwa batasan mahar minimal ialah 10 dirham. Sedangkan, kalangan Malikiyah mengatakan bahwa batasan mahar minimal 3 dirham. Sebagian ulama lainnya mengatakan bahwa mahar tidak ada batasan minimalnya.

Sementara itu, dalam kitab Al-Umm (5/63), Imam Syafi‟i mengatakan bahwa batasan minimal boleh dijadikan mahar adalah harta ukuran minimal yang masih dihargai masyarakat, yang andaikan harta ini diserahkan seseorang kepada orang lain, masih dianggap bernilai, layak diperdagangkan. Selain itu, para ulama dari madzhab Syafi‟i dan pendapat mayoritas ulama, ukuran mahar adalah yang disepakati kedua pihak (suami istri), baik banyak maupun sedikit.118

Imam Nawawi juga mengatakan bahwa tidak ada ukuran untuk mahar. Menurutnya, yang bisa digunakan untuk membeli atau layak dibeli, atau bisa digunakan untuk upah, boleh dijadikan mahar. Jika nilainya sangat

117 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 52

118 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 53

sedikit, sampai pada batas tidak lagi disebut harta oleh masyarakat, maka hal itu tidak bisa disebut mahar.119

Dari penjelasan tersebut, maka nilai minimal sebuah barang yang bisa dijadikan mahar adalah suatu yang masih bisa disebut harta, sehingga orang akan menghargainya. Karena itu, ketika ada mahar yang tidak memiliki nilai, maka belum bisa dianggap mahar, dan suami berkewajiban menggantinya denan benda yang lebih bernilai.120

e) Adanya Ijab Qabul

Salah satu rukun nikah yang wajib dipenuhi dalam proses akad nikah adalah adanya ijab qabul, dan pernikahan tidak sah tanpa adanya ijab qabul.121 Ijab adalah perkataan wali penganti wanita kepada pengantin laki-laki, misalnya kalimat zawwajtuka ibnati (saya nikahkan kamu dengan putriku). Sedangkan qabul adalah jawaban dari penganti laki-laki, misalnya kalimat saya terima nikahnya. Jika sudah dilakukan ijab qabul dan dihadiri oleh dua saksi laki-laki atau diumumkan, maka nikahnya sah.122

Dalam pengucapan ijab qabul, tidak disyatkan menggunakan kalimat tertentu. Akan tetapi, semua kalimat yang dikenal masyarakat sebagai kalimat ijab qabl akad nikah, maka status nikahnya sah. Mayoritas ulama sepakat bahwa orang yang tida bisa berbahasa Arab, boleh melakukan akad nikah dengan bahasa kesehariannya.

119Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 53

120 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 53

121 Abdurrahman al-Jaziri, Fiqh „Ala Madzhab al-„Arba‟ah (Kairo: Al-Maktab Attijariyyati al-Qubro, Tanpa Tahun), hal. 20

122 Abdul Syukur Al-Azizi, Sakinah Mawaddah wa Rahmah,…, hal. 54

Menurut para ulama dari madzhab Hanafiyah dan Syafi‟iyah, akad nikah sah dengan bahasa apa pun, meskipun orangnya bisa berbahasa Arab.

Sementara itu, menurut Ibnu Taimiyah dan Ibnu Qudamah, orang yang menggunakan bahasa selain Arab, memiliki maksud yang sama dengan orang yang berbahasa Arab.

Dalam hal tertentu, ucapan qabul nikah dapat dilakukan oleh laki-laki dengan ketentuan calon mempelai laki-laki-laki-laki memberi kuasa yang tegas secara tertulis bahwa penerima wakil atas akad nikah itu adalah untuk mempelai laki-laki.123

Dari uraian yang telah dijelaskan tersebut, apabila salah satu syarat dan rukun itu ada yang tidak dipenuhi, maka pernikahan dianggap tidak sah.oleh karena itu, diharamkan bagi keduanya berkumpul (berhubungan badan).

Dokumen terkait