• Tidak ada hasil yang ditemukan

BAB II MUSHA<RAKAH DALAM HUKUM ISLAM

C. Rukun dan Syarat Musha>rakah

26

ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ

ِﻪﻴِﺑَأ ْﻦَﻋ ﱢﻲِﻤْﻴﱠـﺘﻟا َنﺎﱠﻴَﺣ ِﰊَأ ْﻦَﻋ ِنﺎَﻗِﺮْﺑﱢﺰﻟا ُﻦْﺑ ُﺪﱠﻤَُﳏ ﺎَﻨَـﺛﱠﺪَﺣ ﱡﻲِﺼﻴﱢﺼِﻤْﻟا َنﺎَﻤْﻴَﻠُﺳ

ﺎَُﳘُﺪَﺣَأ ْﻦَُﳜ َْﱂ ﺎَﻣ ِْﲔَﻜﻳِﺮﱠﺸﻟا ُﺚِﻟﺎَﺛ ﺎَﻧَأ ُلﻮُﻘَـﻳ َﻪﱠﻠﻟا ﱠنِإ لﺎَﻗ ُﻪَﻌَـﻓَر َةَﺮْـﻳَﺮُﻫ ِﰊَأ ْﻦَﻋ

ُﻪَﻧﺎَﺧ اَذِﺈَﻓ ﻪَﺒِﺣﺎَﺻ

ُﺎَﻤِﻬِﻨْﻴَـﺑ ْﻦِﻣ ُﺖْﺟَﺮَﺧ

Artinya: Telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Sulaiman Al Mishshishi, telah menceritakan kepada kami Muhammad bin Az Zibriqan, dari Abu Hayyan At Taimi, dari ayahnya dari Abu Hurairah dan ia merafa'kannya. Ia berkata; sesungguhnya Allah berfirman: "Aku adalah pihak ketiga dari dua orang yang bersekutu, selama tidak ada salah seorang diantara mereka yang berkhianat kepada sahabatnya. Apabila ia telah mengkhianatinya, maka aku keluar dari

keduanya." (HR. Abu Daud no. 2936)15

C. Rukun dan Syarat Musha>rakah

Ulama fiqih berbeda pendapat dalam menetapkan rukun dan syarat

shirkah. Menurut ulama Hanafiyah, rukun shirkah adalah ijab kabul,

yakni pernyataan kehendak melakukan shirkah yang datang dari pihak

yang berakad. Pernyataan kehendak ini di tuangkan dalam kontrak kerja

sama yang ditandatangani oleh kedua belah pihak. Sementara itu

menurut jumhur ulama rukun akad ada empat, yakni dua orang berakad

(aqidain), ma’qu>d alaih, yang terdiri dari modal dan keuntungan, ijab dan

kabul, dengan syarat-syarat:

a. A<qidain (para pihak yang berserikat), disyaratkan mempunyai ahliyah

al-ada’ (kepantasan melakukan transaksi), yakni baligh dan berakal,

15

27

cerdas dan tidak di hajr (dicekal melakukan tasharuf terhadap harta

bendanya).16

b. Ma’qud alaih (objek shirkah), yakni modal dan keuntungan,

disyaratkan:

1) Modal harus jelas adanya dan diketahui jumlahnya,

2) Para ulama sepakat modal dalam shirkah harus dalam bentuk uang,

karena modal yang disertakan dalam shirkah harus dalam bentuk

modal liquid. Ini berarti modal yang digabungkan dalam akad

shirkah tidak bisa dalam bentuk komoditas. Namun ulama berbeda

pendapat kalau uangnya berbeda bentuknya misalnya satu pihak

dalam bentuk dinar, yang lain dalam bentuk dirham. Ibn al-Qasim,

seperti yang di kutip Ibn Rusyd membolehkan hal tersebut, ini

merupakan pendapat dari Imam Malik. Menurutnya nilai kedua

modal itu harus diperhitungkan.

3) Modal diserahkan secara tunai, bukan dalam bentuk utang.

4) Kedua modal yang dimiliki disatukan satu sama lain.

5) Masing-masing pihak harus mendapat izin dari pihak lain dalam

mengelola modal kerjasama.

6) Keuntungan dibagi antara anggota syarikat menurut kesepakatan.

16

28

7) Pembagian keuntungan dinyatakan secara jelas ketika akad,

misalnya seperdua, sepertiga, dan sebagainya.

8) Proporsi keuntungan ditetapkan berdasarkan penyertaan modal

anggota shirkah. Di samping itu juga dapat ditetapkan berbeda dari

penyertaan modal masing-masing.17 Dalam menentukan proporsi

keuntungan terdapat beberapa pendapat dari para ahli hukum Islam

sebagai berikut:

a) Imam Malik dan Imam Syafi’i berpendapat bahwa proporsi

keuntungan dibagi diantara mereka menurut kesepakatan yang

ditentukan sebelumnya dalam akad sesuai dengan proporsi

modal yang disertakan.

b) Imam Ahmad berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat

pula berbeda dari proporsi modal yang mereka sertakan.

c) Imam Abu Hanifah, yang dapat dikatakan sebagai pendapat

tengah-tengah, berpendapat bahwa proporsi keuntungan dapat

berbeda dari proporsi modal pada kondisi normal. Namun

demikian, mitra yang memutuskan menjadi sleeping partneri,

proporsi keuntungannya tidak boleh melebihi proporsi

modalnya.18

c. Ijab dan kabul, disyaratkan:

29

1) Jelas menunjukkan makna shirkah atau yang semakna dengan itu.

2) Dinyatakan dalam bentuk keizinan anggota berserikat untuk

mentasharufkan harta yang syarikatkan.

Pada zaman sekarang ijab dan kabul ini dinyatakan secara tertulis

dalam kontrak kerja sama maupun dalam bentuk MoU (Memorandum

of Understanding).19

Pada prinsipnya, dalam akad musha>rakah setiap mitra mempunyai

hak yang sama dalam manajemen bekerja dalam mengelola perusahaan.

Jika semua mitra sepakat untuk terlibat aktif dalam manajemen

perusahaan maka masing-masing mendapat perlakuan yang sama dalam

semua urusan perusahaan dan pembagian keuntungan. Namun demikian,

masing-masing anggota dapat menunjukkan salah seorang dari mereka

menjadi manajer perusahaan. Terhadap mitra kerja yang tidak terlibat

dalam manajemen perusahaan, ia memperoleh pembagian keuntungan

sebatas penyertaan modalnya. Ketika perusahaan mengalami kerugian,

masing-masing anggota shirkah menanggung kerugian sesuai dengan

porsi penyertaan modalnya.20

Para pihak (asy-shuraka>) yang bekerja sama harus kompeten dalam

memberikan atau diberikan kekuasaan perwakilan, modal yang diberikan

harus uang tunai atau aset yang bernilai sama atau dianggap tunai dan

19

Rozalinda, Fikih Ekonomi Syariah..., 194.

20

30

sidepakati para mitra, dan partisipasi para mitra dalam pekerjaan adalah

suatu hal mendasar, sekalipun salah satu pihak boleh menangani

pekerjaan lebih banyak dari yang lain dan berhak menuntut pembagian

keuntungan lebih bagi dirinya.21

D. Macam-Macam Musha>rakah

Secara garis besar shirkah ada dua macam, yaitu shirkah amla>k dan

shirkah ‘uqu>d. Shirkah amla>k adalah perkongsian dalam hal untuk

memiliki harta. Sementara shirkah ‘uqu>d adalah perkongsian dalam

transaksi.

Shirkah amla>k ada dua macam, yaitu shirkah amla>k

ikhtiyari>(perkongsian sukarela) dan shirkah amla>k jibari> (perkongsian

paksa). Perkongsian sukarela adalah kesepakatan dua orang atau lebih

untuk memiliki suatu barang tanpa adanya keterpaksaan dari

masing-masing pihak. Contohnya dua orang yang bersepakat untuk membeli

suatu barang, misalnya satu buah mobil truk untuk angkutan barang.

Sementara perkongsian yang bersifat memaksa adalah perkongsian di

mana para pihak yang terlibat dalam kepemilikan barang atau suatu aset

tidak bisa menghindar dari bagian dan porsinya dalam kepemilikan

tersebut, karena memang sudah menjadi ketentuan hukum. Misalnya

dalam hal bagian harta waris bagi saudara orang yang mewariskan,

31

apabila jumlah saudara lebih dari satu orang, maka mereka secara ijbari

berkongsi mendapatkan seperenam. Artinya seperenam harta warisan

dibagi sejumlah saudara yang ada.22

Shirkah ‘uqu>d adalah suatu akad yang dilakukan oleh dua pihak

atau lebih untuk menjalankan suatu usaha, baik barang maupun jasa dan

pembagian keuntungannya. Menurut kalangan Hanabilah, shirkah ‘uqu>d

terbagi menjadi lima, yaitu shirkah ‘ina>n, shirkah mufa>wadah, shirkah

abda>n, shirkah wuju>h, dan shirkah muda>rabah. Sementara menurut

kalangan Hana>fiyah, shirkah ‘uqu>d terbagi menjadi enam, yaitu shirkah

amwa>l, shirkah a’ma>l, dan shirkah wuju>h. Masing-masing dari tiga jenis

shirkah ini terbagi dalam shirkah mufawadah dan ‘ina>n.

Secara umum menurut ulama fiqih, termasuk kalangan M<alikiyah

dan Sya>fi’iyah menyatakan bahwa shirkah ‘uqu>d terbagi menjadi empat,

yaitu shirkah ‘ina>n, shirkah mufa>wadah, shirkah abda>n dan shirkah wuju>h.

Dalam KHES, shirkah dibagi menjadi shirkah amwa>l, shirkah abda>n dan

shirkah wuju>h. Shirkah amwa>l dan shirkah abda>n dapat berupa shirkah

‘ina>n, shirkah mufa>wadah dan shirkah muda>rabah.23 a. Musha>rakah/shirkah al-‘ina>n

Adalah kontrak antara dua orang atau lebih. Setiap pihak

memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam

22

Imam Mustofa, Fiqih Muamalah Kontemporer, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 2016), 130

23

32

kerja. Kedua pihak berbagi dalam keuntungan dan kerugian sebagaimana

yang disepakati di antara mereka. Akan tetapi, porsi masing-masing pihak,

baik dalam dana maupun kerja atau bagi hasil, tidak harus sama dan

identik sesuai dengan kesepakatan mereka.24

Contoh shirkan ‘ina>n: Fandi dan Rip berprofesi sebagai Akuntan

Publik. Fandi dan Rip sepakat membuka praktek pelayanan jasa Akuntan

Publik. Masing-masing memberikan kontribusi modal sebesar Rp.

350.000,00 dan keduanya sama-sama bekerja dalam shirkah tersebut.

b. Musha>rakah/shirkah al-mufa>wad}ah

Yaitu kontrak kerja sama antara dua orang atau lebih. Setiap pihak

memberikan suatu porsi dari keseluruhan dana dan berpartisipasi dalam

kerja. Setiap pihak membagi keuntungan dan kerugian secara sama.

Dengan demikian, syarat utama dari jenis musha>rakah ini adalah

kesamaan dana yang diberikan, kerja tanggungjawab, dan beban utang

dibagi oleh masing-masing pihak.

c. Musha>rakah/shirkah al-abda>n

Adalah kontrak kerjasama antara dua orang seprofesi untuk

menerima pekerjaan secara bersama dan berbagi keuntungan dari

pekerjaan yang menjadi kesepakatan bersama. Misalnya kerjasama

33

penjahit untuk menerima order pembuatan seragam pada sebuah

sekolahan.

Contohnya: A dan B keduanya adalah nelayan, bersepakat melaut

bersama untuk mencari ikan. Mereka sepakat pula, jika memperoleh ikan

dan dijual, hasilnya akan dibagi dengan ketentuan: A mendapat sebesar

60% dan B sebesar 40%.

Dalam shirkah ini tidak disyaratkan kesamaan profesi atau keahlian,

tetapi boleh berbeda profesi. Jadi, boleh saja shirkah abda>n terdiri dari

beberapa tukang kayu dan tukang batu. Namun disyaratkan bahwa

pekerjaan yang dilakukan merupakan pekerjaan halal. Tidak boleh berupa

pekerjaan haram, misalnya, beberapa pemburu sepakat berburu babi hutan

(celeng). Keuntungan yang diperoleh di bagi berdasarkan kesepakatan,

nisbahnya boleh sama dan boleh juga tidak sama di antara mitra-mitra

usaha.25

d. Musha>rakah/shirkah al-wuju>h

Yaitu kontrak antara dua orang atau lebih yang memiliki reputasi

dan prestise baik serta ahli dalam bisnis. Mereka membeli barang secara

kredit dari suatu perusahaan dan menjual barang tesebut secara tunai.

Mereka berbagi dalam keuntungan dan kerugian berdasarkan jaminan

kepada penyuplai yang disediakan oleh setiap mitra kerja. Jenis

musha>rakah ini tidak memerlukan modal karena pembelian secara kredit

25

34

berdasar pada jaminan tersebut. Karenanya, kontrak ini biasanya disebut

juga sebagai musha>rakah piutang.26

Misal: A dan B adalah tokoh yang diercaya pedagang. Lalu A dan B

bershirkan wuju>h, dengan cara membeli barang dari seorang pedagang

(misalnya C) secara kredit. A dan B bersepakat, masing-masing memiliki

50% dari barang yang di beli. Lalu keduanya menjual barang tersebut dan

keuntungannya dibagi dua, sedangkan harga pokoknya dikembalikan

kepada C (pedagang).

Dalam shirkah wuju>h ini, keuntungan dibagi berdasarkan

kesepakatan, bukan berdasarkan prosentase barang dagangan yang

dimiliki. Sedangkan kerugian ditanggung oleh masing-masing mitra usaha

berdasarkan prosentase barang dagangan yang dimiliki, bukan

berdasarkan kesepakatan.27

Para ulama Hanafiyah mensyaratkan syarat-syarat tertentu untuk

shirkah ‘uqu>d. Sebagaimana syarat tersebut berlaku untuk semua jenis

shirkah ‘uqu>d, sementara sebagian lagi khusus untuk jenis-jenis tertentu.

Agar shirkah ‘uqu>d sah, harus terpenuhi syarat-syarat berikut ini:

1. Bisa diwakilkan. Pekerjaan yang menjadi objek akad shirkah harus bisa

diwakilkan. Karena diantara ketentuan shirkah adalah adanya persekutuan

dalam keuntungan yang dihasilkan dari perdagangan. Dan keuntungan

26

Abu Azam Al Hadi, Fiqh Muamalah Kontemporer..., 33.

35

perdagangan tidak akan menjadi hak milik bersama, kecuali jika

masing-masing pihak bersedia menjadi wakil bagi mitranya dalam mengelola

sebagian harta shirkah, dan bekerja untuk dirinya sendiri atas sebagian

harta shirkah yang lain. Atas dasar hal itu, masing-masing pihak yang

tergabung dalam shirkah harus memberi izin kepada mitranya untuk

mempergunakan harta shirkah, baik untuk membeli barang, menjual atau

menerima pekerjaan. Karena wakil adalah orang yang bertindak atas izin

dari pihak lain. Dan mengingat shirkah dengan berbagai jenisnya

mengandung makna tawkil (pemberi kuasa), atau perwakilan dari

masing-masing mitra terhadap rekannya, maka disyaratkan agar akad yang ada

dalam shirkah tersebut bisa diwakilkan, dan masing-masing mitra

bersedia menjadi wakil atau mewakilkan.28

2. Jumlah keuntungan yang dihasilkan hendaknya jelas. Dengan kata lain,

bagian keuntungan tiap-tiap mitra harus jelas, seperti seperlima, sepertiga,

atau sepuluh persen. Jika keuntungannya tidak jelas, maka akad shirkah

menjadi tidak sah, karena keuntungan itulah yang menjadi objek transaksi,

dan tidak jelasnya objek transaksi akan merusak transaksi.

3. Bagian keuntungan yang diberikan hendaknya tidak dapat terbedakan

(syuyuu’) dan tidak tertentu. Jika keduanya menentukan keuntungan

tertentu untuk salah satu sekutu, seperti sepuluh atau seratus, maka

shirkah tersebut batal atau tidak sah. Pasalnya, transaksi shirkah

28

36

mengharuskan persekutuan dalam keuntungan, karena bisa saja

keuntungan itu tidak tercapai kecuali sesuai dengan keuntungan salah

satu mitra. Oleh karena itu, penentuan bagian keuntungan dalam jumlah

tertentu adalah bertentangan dengan konsekuensi akad shirkah.29

E. Berakhirnya Musha<rakah

Berakhirnya musha>rakah itu disebabkan beberapa hal, di antaranya:

1. Salah satu pihak membatalkannya, walaupun tanpa ada kesepakatan di

antara keduanya, sebab musha>rakah adalah perjanjian didasarkan atas

kerelaan kedua belah pihak yang tidak ada kepastian untuk dilaksanakan

apabila di antara keduanya tidak menginginkan lagi.

2. Salah satu di antara kedua yang melakukan perjanjian telah kehilangan

kecakapan bertindak dalam mengelola saham, baik disebabkan karena

hilang ingatan (gila) atau karena alasan lainnya yang menyebabkan

merugikan salah satu pihak.

3. Salah satu dari serikat kerja meninggal dunia. Akan tetapi apabila pihak

ahli waris yang meninggal dunia bersedia melanjutkan sesuai dengan

kesepakatan dengan yang masih hidup, maka akan dilakukan dengan

perjanjian baru yang tidak merugikan salah satu pihak.

37

4. Salah satu pihak dinyatakan pailit (bangkrut), sehingga salah satu pihak

tidak bisa memenuhi apa yang menjadi kesepakatan bersama.30

30

BAB III

PRAKTIK KERJASAMA USAHA TERNAK KAMBING DI DESA SEDAGARAN KECAMATAN SIDAYU KABUPATEN GRESIK

A. Gambaran Umum Lokasi Penelitian

Dalam kehidupan bermasyarakat, keadaan suatu wilayah sangat

berpengaruh dan menentukan watak dan sifat serta pola berpikir dari

masyarakat yang menempatinya, sehingga karakter masyarakat akan

berbeda-beda antara wilayah satu dengan wilayah lainnya. Seperti yang

terjadi pada masyarakat Desa Sedagaran Kecamatan Sidayu Kabupaten

Gresik, yang mana diantaranya adalah faktor geografis, sosial, keagamaan,

pendidikan, dan faktor ekonomi.

1. Letak Geografis

Desa Sedagaran merupakan salah satu desa yang terletak di

Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik dengan jarak 3 km dari kecamatan,

38 km dari kabupaten. Bapak Efen Budiawan selaku Sekretaris Desa

menjelaskan bahwa batas-batas Desa Sedagaran sebagai berikut:1

a. Sebelah Utara : Desa Srowo Kecamatan Sidayu

b. Sebelah Selatan : Desa Pengulu Kecamatan Sidayu

c. Sebelah Barat : Desa Purwodadi Kecamatan Sidayu

39

d. Sebelah Timur : Desa Mriyunan Kecamatan Sidayu

Desa Sedagaran Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik terdiri dari 3

RT dan 1 (satu) RW yang masing-masing di pimpin oleh ketua RT.

2. Luas Wilayah

Luas wilayah Desa Sedagaran Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik

adalah 43,5 ha yang terdiri dari:

a. Tanah Tambak : 33 ha

b. Tanah Usaha Ternak : 1,5 ha

c. Tanah Kampung : 9 ha.2

3. Keadaan Penduduk

a. Jumlah Kepala Keluarga : 389 KK

b. Jumlah Penduduk : 1205 jiwa

c. Laki-laki : 593 jiwa

d. Perempuan : 612 jiwa

Jenjang pendidikan penduduk Desa Sedagaran yaitu sebagai berikut:

a. Belum Sekolah : 45

b. Tidak Pernah Sekolah : 104

2

40 c. Tidak Tamat SD : 98 d. Tamat SD : 128 e. SMP : 281 f. SMA : 396 g. D3 : 23 h. S1 : 124 i. S2 : 63

4. Kondisi Sosial Keagamaan

Mengenai kehidupan sosial keagamaan penduduk Desa Sedagaran

sesuai dengan data dari kepala desa seluruhnya beragama Islam. Hal ini

dapat dilihat dari berbagai kegiatan keagamaan yang ada dan adat istiadat

yang dilaksanakan. Selain itu juga adanya sarana dan prasarana

peribadatan di Desa Sedagaran cukup memadai dengan adanya fasilitas

tempat ibadah yang ada yaitu 3 mushola serta tempat pendidikan

keagamaan seperti pondok pesantren dan Taman Pendidikan Al-Quran

(TPQ).

Mushola yang pertama terletak di wilayah bagian RT 1 yakni pada

gang sebelah barat, mushola kedua terletak di wilayah RT 2 dan mushola

ke tiga terletak di wilayah RT 3 yang mana berdekatan dengan kantor

41

kepala desa. Selain fasilitas tempat beribadah terdapat pula tempat

pendidikan keagamaan seperti pondok pesantren Al-Bayyinah yang

terletak di wilayah RT 1, serta Taman Pendidikan Al-Quran (TPQ) yang

mana di Desa Sedagaran terdapat 2 TPQ yang letaknya berada di mushola

RT 3 dan di sebelah mushola RT 2.

Kegiatan keagamaan masyarakat di Desa Sedagaran cukup

berkembang. Hal ini terbukti dari kegiatan-kegiatan yang cukup aktif.

Masyarakat di Desa Sedagaran mengadakan rutinitas kegiatan-kegiatan

keagamaan yang biasanya dilaksanakan setiap satu minggu atau satu

bulan sekali diantaranya:4

a. Dibaiyah untuk perempuan : 1 Minggu

b. Khotmil Quran untuk perempuan : 1 Minggu

c. Tahlil untuk laki-laki : 2 Minggu

d. Tahlil untuk perempuan : 1 Bulan

e. Pengajian rutin : 1 Bulan

f. Ceramah Agama : 1 Bulan

g. Pengajian rutin bulan purnama : 1 Tahun

Dari keterangan di atas dapat disimpulkan bahwa kondisi sosial

keagamaan masyarakat Desa Sedagaran sudah cukup maju dan

4

42

berkembang dilihat dari banyaknya kegiatan keagamaan yang ada dan

rutin terlaksana sesuai jadwal.5

5. Kondisi Sosial Pendidikan

Strata sosial kemasyarakatan dapat di ukur salah satunya dengan

tingkat pendidikan yang di tempuh. Hal ini akan berpengaruh pada sudut

pandang pemikiran serta peran masyarakat dalam pengembangan serta

kemajuan daerah. Dalam hal pendidikan, kesadaran masyarakat Desa

Sedagaran termasuk dalam kategori antusias serta bersemangat dalam

belajar di lembaga-lembaga pendidikan.

Mengenai fasilitas pendidikan formal di Desa Sedagaran tidak

begitu lengkap. Di mulai dari bagian masyarakat yang paling muda, yakni

untuk sekolah PAUD (Pendidikan Anak Usia Dini), dan TK (Taman

Kanak-Kanak) harus bersekolah di luar Desa Sedagaran dikarenakan tidak

ada sekolah PAUD dan TK. Akan tetapi terdapat SD (Sekolah Dasar) dan

juga Pondok Pesantren Ma’had al-Bayyinah yang menyelenggarakan

pendidikan Madrasah Diniyyah. Sayangnya mereka yang melanjutkan ke

jenjang sekolah SMP dan SMA harus bersekolah keluar Desa Sedagaran

atau bahkan bersekolah di daerah Kabupaten Gresik Kota, bahkan tidak

sedikit juga masyarakat memilih menyekolahkan anaknya keluar

kecamatan dengan alasan sekolah yang lebih maju. Adapun rincian sarana

pendidikan yang dapat dilihat dari uraian sebagai berikut:

43

a. SD : 1 Sekolah

b. Pondok Pesantren/ Madrasah Diniyyah : 1 Sekolah

6. Kondisi Sosial Ekonomi

Mengenai kehidupan sosial ekonomi penduduk Desa Sedagaran

sesuai dengan data dari kepala desa mayoritas bekerja sebagai petani

tambak. Sekitar 50% dari penduduk Desa Sedagaran yang bekerja

berprofesi sebagai petani tambak, baik itu mengelola tambaknya sendiri

ataupun mengelola tambak milik orang lain. Selanjutnya sekitar 20%

penduduk yang bekerja sebagai petani tambak ini memiliki pekerjaan

sampingan yakni mengelola ternak kambing. Selanjutnya ada yang mata

pencahariannya sebagai buruh pabrik sebanyak 20%. Profesi sebagai guru

sebanyak 10% dari penduduk Desa Sedagaran yang bekerja. Dan ada juga

yang membuka usaha rumahan sendiri yang menjadi produk unggulan di

Desa Sedagaran, yakni produksi kerupuk ikan. Sekitar 10% dari penduduk

Desa Sedagaran yang bekerja menjalankan usaha dagang kerupuk ikan

maupun usaha dagang yang lainnya. Dan ada juga penduduk Desa

Sedagaran yang berprofesi sebagai PNS, dokter, maupun perawat sekitar

10% dari penduduk Desa Sedagaran yang bekerja.6

6

44

B. Sistematika Kerjasama Ternak Kambing di Desa Sedagaran Kecamatan

Sidayu Kabupaten Gresik

Kerja sama ternak kambing yang terdapat di Desa Sedagaran

Kecamatan Sidayu Kabupaten Gresik ini merupakan akad kerjasama yang

terjadi antara para pemilik modal. Di mana dalam kerjasama ini melibatkan

antara 3 orang di mana 2 orang sebagai pemodal dan seorang lagi sebagai

pengelola ternak kambing. Dan ketiga orang ini ikut berkontribusi dalam

manajemen pengelolaannya. Lalu keuntungan dan kerugian dari hasil

kerjasama ini di bagi bersama.7

1. Latar Belakang Terjadinya Kerjasama Ternak Kambing antara Pemilik

Dana/Modal sebagai Mitra Usaha

Dalam kehidupannya, masyarakat di Desa Sedagaran mayoritas

bekerja sebagai petani tambak. Sebagai petani tambak mereka

menggarap tambak dengan di isi ikan bandeng, bader, dan udang vanami

atau bahkan udang windu. Hal tersebut merupakan aktifitas pertanian

yang biasa di lakukan oleh masyarakat Desa Sedagaran khususnya kaum

laki-laki.

Dalam menjalankan tugasnya sebagai petani tambak mayoritas

juga di dampingi dengan beternak kambing. Dalam praktiknya ada yang

beternak kambing miliknya sendiri, dan ada pula yang melakukan

kerjasama dengan pihak lain.

45

Kerjasama ternak kambing di Desa Sedagaran ini melibatkan tiga

pihak, di mana satu orang sebagai pemodal kambing yaitu orang yang

menjalankan kerjasama dengan bermodalkan kambing-kambing yang

akan di kelola. Satu orang lagi sebagai penyedia lahan yaitu tempat yang

akan di gunakan untuk mengelola ternak kambing tersebut. Dan satu

orang lagi sebagai pengelola kambing yaitu yang bertugas untuk

memberikan makan dan menjaga ternak kambing tersebut.8

Dalam kerjasama ternak kambing ini semua pihak ikut serta dalam

mengelola ternak meskipun dalam kapasitas yang berbeda-beda. Setelah

kambing yang di rawat memasuki usia siap jual, maka kambing-kambing

tersebut akan di jual dengan sistem menawarkan kepada siapapun yang

mau membeli, di sini semua pihak yang berserikat turut andil dalam

menawarkannya. Atau jika ada orang yang membutuhkan kambing bisa

langsung datang ke tempatnya tersebut. Ketika melakukan perjanjian,

ketiga orang yang melakukan kerjasama ini sepakat bahwa hasil yang di

peroleh akan di bagi tetapi tidak ada kesepakatan mengenai prosentase

pembagiannya, dan cenderung di atur oleh salah satu pihak saja yakni

pemilik kambing.

Menurut Bapak Khanif selaku pemilik modal yang menyediakan

kambing-kambing yang akan di ternakkan ini menuturkan bahwa

kerjasama ternak kambing ini sudah di lakukan sejak lama. Kerjasama

8

46

ternak kambing ini di lakukan karena pemilik modal memiliki kambing

yang banyak namun tidak memiliki cukup tenaga untuk mengelolanya

Dokumen terkait