BAB II TINJAUAN UMUM TENTANG UPAH
D. Rukun dan Syarat Upah
1. Rukun Upah
Rukun adalah unsur-unsur yang membentuk sesuatu itu terwujud karena adanya unsur-unsur tersebut yang membentuknya. Misalnya rumah, terbentuk karena ada unsur-unsur yang menbentuknya, yaitu pondasi, tiang, lantai, dinding, atap, dan seterusnya. Dalam konsep Islam unsur-unsur yang membentuk itu disebut rukun.44
Adapun menurut Jumhur Ulama, Rukun Ijarah ada (4) empat, yaitu:
a. Aqid (orang yang berakad)
43Ibid, h, 130.
44Muhammad Al-Bani, Shahih Sunan Ibnu Majah, (Jakarta: Pustaka Azzam, 2007), h.
303.
47
Yaitu orang yang melakukan akad sewa menyewa atau upah mengupah.
Orang yang memberikan upah yang menyewakan disebut mu’ajjir dan orang yang menerima upah untuk melakukan sesuatu dan menyewa sesuatu disebut musta’jir.45
b. Sighat
Pernyataan kehendak yang lazimnya disebut sighat akad
(sighatul-‘aqad),46terdiri atas ijab dan qabul dapat melalui: a). Ucapan, b). Utusan dan tulisan, c). Isyarat, d). Secara diam-diam, e). Dengan diam-diam semata. Syarat-syarat nya sama dengan ijab dan qabul pada jual beli hanya saja dalam ijarah hanya menyebutkan masa atau waktu yang ditentukan.47
c. Upah
Yaitu sesuatu yang diberikan musta’jir atas jasa yang telah diberikan atau diambil manfaatnya oleh mu’ajjir.
d. Manfaat
Untuk mengontrak seseorang musta’jir harus diketahui bentuk kerjanya, waktu, upah, serta tenaganya. Oleh karena itu jenis pekerjaannya harus
45Hendi Suhendi, Fiqih Muamalah, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2010), h.117.
46Sohari Sahari, Fiqih Muamalah, (Bogor: Ghalia Indonesia, 2011), h.43.
47Moh. Saefulloh, Fiqih Islam Lengkap, (Surabaya, Terbit Terang, 2005), h. 178.
48
dijelaskan, sehingga tidak kabur. Karena transaksi upah yang masih kabur hukumnya adalah fasid.48
2. Syarat Upah (Ijarah)
Sebagai sebuah transaksi umum, al-ijarahbaru dianggap sah apabila telah memenuhi rukun dan syaratnya sebagaimana yang berlaku secara umum dalam transaksi lainnya. Adapun syarat-syarat akad ijarah adalah sebagai berikut:49
a. Pelaku ijarah haruslah berakal
Kedua belah pihak yang berakad, menurut Ulama Syafi’iyah dan Hanabilah, disyaratkan telah baligh dan berakal. Oleh sebab itu, apabila orang yang belum atau tidak berakal, seperti anak kecil dan orang gila, menyewakan harta mereka atau diri mereka (sebagai buruh), menurut mereka, al-ijarah tidak sah.
Secara umum dapat dikatakan bahwa para pihak yang melakukan ijarah mestilah orang-orang yang sudah memiliki kecakapan bertindak yang sempurna, sehingga segala perbuatan yang dilakukannya dapat dipertanggung jawabkan secara hukum.
48M. Ali Hasan, Op. Cit, h. 231.
49Ghufran A. Mas’adi, Fiqih Muamalah Kontekstual, (Jakarta: PT. Raja Grafindo Persada, 2002), h. 186.
49
Para ulama dalam hal ini berpendapat bahwa kecakapan bertindak dalam lapangan mualamalah ini ditentukan oleh hal-hal yang bersifat fisik dan kewajiban, segala tindakan yang dilakukannya dapat dipandang sebagai suatu perbuatan yang sah.
b. Keridhaan pihak yang berakad
Kedua belah pihak yang berakad menyatakan kerelaannya untuk melakukan akad al-ijarah. Apabila salah seorang diantaranya terpaksa melakukan akad itu, maka akadnya tidak sah. Hal ini berdasarkan kepada firman Allah SWT dalam surah An-Nisa ayat 29, yang berbunyi:
Artinya: ‚Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu memakan harta sesama dengan jalan yang bathil, kecuali dengan jalan perniagaan yang berlaku dengan suka sama suka diantara kamu. Dan janganlah kamu membunuh dirimu. Sesungguhnya Allah adalah maha penyayang kepadamu. (Q.S. An-Nisa : 29)50
Ayat diatas menjelaskan bahwa diperintahkan kepada umat islam untuk mencari rezeki yang didapat dengan jalan yang halal bukan dengan jalan yang bathil, dan juga tidak dengan unsur yang merugikan antara kedua belah pihak.
50Departemen Agama RI, Al-qur’an dan Terjemah, h. 83.
50
Akad sewa menyewa tidak boleh dilakukan salah satu pihak atau kedua-duanya atas dasar keterpaksaan, baik dari pihak yang berakad atau dari pihak lain.51
c. Objek Al-Ijarahdiserahkan secara langsung dan tidak cacat.
Objek Al-Ijarah itu boleh diserahkan dan dipergunakan secara langsung dan tidak cacat. Oleh sebab itu, para Ulama fiqh sepakat menyatakan bahwa tidak boleh menyewakan sesuatu yang tidak boleh diserahkan dan dimanfaatkan langsung oleh si penyewa.
d. Objek al-ijarah sesuatu yang dihalalkan oleh syara’
Islam tidak membenarkan terjadi sewa-menyewa atau perburuhan terhadap sesuatu perbuatan yang dilarang agama, misalnya sewa rumah untuk maksiat, menyewa orang untuk membunuh orang (pembunuh bayaran), karena dalam kaidah fiqih menyatakan bahwa ‚sewa menyewa dalam masalah maksiat tidak boleh‛.
e. Objek al-ijarah berupa harta tetap yang dapat diketahui
Jika manfaat itu tidak jelas dan menyebabkan perselisihan, maka akadnya tidak sah karena ketidak jelasannya menghalangi penyerahan dan penerimaan sehingga tidak tercapai maksud akad tersebut. Kejelasan objek akad
51Nasrun Haroen, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Gaya Mega Pratama, 2007), h. 232-233.
51
(manfaat) terwujud dengan penjelasan tempat manfaat, masa waktu dan penjelasan, objek kerja, dalam penyewaan para pekerja.
1) Penjelasan tempat manfaat
Disyaratkan bahwa manfaat itu dapat dirasakan, ada harganya dan dapat diketahui.
2) Penjelasan waktu
Ulama hanafiyah tidak mensyaratkan untuk menetapkan awal waktu akad, sedangkan ulama Syafi’iyah mensyaratkannya, sebab bila tidak dibatasi hal itu dapat menyebabkan ketidaktahuan waktu yang wajib dipenuhi
3) Penjelasan jenis pekerjaan
sangat penting dan diperlukan ketika menyewa orang untuk bekerja sehingga tidak terjadi kesalahan atau pertentangan.
4) Penjelasan waktu kerja
Tentang batas waktu kerja sangat bergantung pada pekerjaan dan kesepakatan dalam akad.52
5) Pembayaran (uang) sewa
Seharusnya bernilai dan jelas jumlah jumlah pembayaran uang sewa hendaklah dirundingkan terlebih dahulu antara kedua belah pihak
52Helmi Karim, Fiqih Muamalah, (Jakarta: Raja Grafindo Persada, 1997), h. 36-37.
52
atau dengan cara mengembalikan adat kebiasaan yang sudah berlaku agar tidak menimbulkan keraguan antara kedua belah pihak.
Sementara Wahbah Az-Zuhaili berpendapat bahwa syarat sah ijarah berkaitan dengan pelaku akad, objek akad, tempat, upah, dan akad itu sendiri.
Diantara syarat sah akad ijarah adalah sebagai berikut:
a. Kerelaan kedua pelaku akad
b. Hendaknya objek akad yang disewakan dapat diketahui manfaatnya, diketahui sifatnya guna menghindari perselisihan.
c. Hendaknya objek akad dapat diserahkan baik secara nyata maupun syara’.
d. Hendaknya manfaat yang dijadikan objek ijarah dibolehkan secara syara’.
e. Hendaknya pekerjaan yang ditugaskan bukan kewajiban bagi penyewa sebelum akad ijarah
f. Orang yang disewa tidak boleh mengambil manfaat dari pekerjaannya g. Manfaat dari akad itu harus dimaksudkan dan bisa dicapai melalui akad
ijarah.
Adapun syarat sah ujrah (upah) menurut Wahbah Az-Zuhaili ada dua macam yaitu sebagai berikut:
53
a. Hendaknya upah tersebut harta yang bernilai dan diketahui
Syarat ini disepakati oleh para ulama. Maksud syarat ini sudah dijelaskan dalam pembahasan akad jual beli. Dasar hukum disyaratkan mengetahui upah adalah sabda Rasulullah,
‚Barang siapa mempekerjakan pekerja maka hendaklah ia memberitahu upahnya.‛
Mengetahui upah tidak sah kecuali dengan isyarat dan penentuan ataupun dengan penjelasan. Syarat mengetahui upah ini memiliki beberapa bentuk masalah, seperti jika seseorang menyewa orang lain dengan upah tertentu ditambah makan, atau menyewa hewan dengan upah tertentu ditambah makannya, maka akad itu tidak dibolehkan. Hal itu karena makanan tersebut menjadi bagian dari upah, padahal ukurannya tidak jelas sehingga membuat status upahnya tidak jelas.
b. Upah tidak berbentuk manfaat dan sejenis dengan ma’quud alaih (objek akad)
Upah tidak berbentuk manfaat yang sejenis dengan ma’quud alaih (objek akad). Misalkan, ijarah tempat tinggal dibayar dengan tempat tinggal, jasa dibayar dengan jasa, penunggang dibayar dengan penunggang, dan pertanian dibayar dengan pertanian. Syarat ini menurut ulama malikiyah adalah cabang dari riba.
54
Syarat-syarat pokok dalam Alquran maupun As-sunnah mengenai hal pengupahan adalah para mu’ajir harus memberi upah kepada musta’jir sepenuhnya atas jasa yang diberikan, sedangkan musta’jir harus melakukan pekerjaan dengan sebaik-baiknya, kegagalan dalam memenuhi syarat-syarat ini dianggap sebagai kegagalan moral baik dari pihak musta’jir maupun mu’ajjir dan ini harus dipertanggung jawabkan kepada Allah SWT.