1. Faskes Lanjutan membuat pertanggungjawaban Dana pelayanan kesehatan
dengan menggunakan Software INA-CBG’s.
2. Selanjutnya pertanggungjawaban tersebut akan diverifikasi oleh Verifikator
Independen dengan menggunakan Software verifikasi Klaim Jamkesmas.
3. Setelah verifikasi dinyatakan layak oleh Verifikator Independen, selanjutnya
pertanggungjawaban tersebut ditandatangani oleh Direktur Rumah Sakit/Kepala Balai Kesehatan Masyarakat dan Verifikator Independen.
4. Pertanggungjawaban dana Jamkesmas di faskes lanjutan menjadi sah setelah
mendapat persetujuan dan ditandatangani Direktur/Kepala PPK lanjutan dan Verifikator Independen.
5. Selanjutnya PPK lanjutan mengirimkan secara resmi laporan
pertanggungjawaban dana Jamkesmas dalam bentuk hard copy yaitu form
kepada Tim Pengelola Jamkesmas Pusat dan tembusan kepada Tim Pengelola
Jamkesmas Kabupaten/kota dan Provinsi berupa hardcopy form 3 sebagai
bahan monitoring, evaluasi dan pelaporan.
6. Pertanggungjawaban dana yang diterima oleh Tim Pengelola Jamkesmas
Pusat akan dilakukan telaah dan selanjutnya diberikan umpan balik sebagai upaya pembinaan.
7. Pelaporan pertanggungjawaban dana disertai dengan hasil kinerja atas
pelayanan kesehatan di PPK lanjutan meliputi kunjungan Rawat Jalan Tingkat Lanjutan (RJTL), kunjungan kasus Rawat Inap Tingkat Lanjutan (RITL), disertai dengan karakteristik pasien, sepuluh penyakit terbanyak dan sepuluh penyakit dengan biaya termahal.
Pertanggungjawaban dana Jamkesmas untuk Rumah Sakit khusus jiwa menggunakan ketentuan sebagai berikut:
1. Termin 1 hari 1 - hari 35 = Tarif INA-CBGs 2. Termin 2 hari 36 - hari 103 = Rp. 90.000,- 3. Termin 3 hari 104 – hari 180 = Rp. 45.000,-
Sedangkan untuk Rumah Sakit khusus kusta menggunakan ketentuan: 1. Termin 1 hari 1 - hari 35 = Tarif INA-CBGs
2. Termin 2 hari 36 - hari 103 = Rp. 50.000,- 3. Termin 3 hari 104 – hari 180 = Rp. 25.000,-
2.4. Indikator Keberhasilan Jamkesmas
Sebagai dasar dalam menilai keberhasilan dan pencapaian dari pelaksanaan penyelenggaraan program Jamkesmas secara nasional, diukur dengan indikator-indikator sebagai berikut:
2.4.1. Indikator Input
Untuk indikator input yang akan dinilai yaitu:
a. Tersedianya data kepesertaan yang sesuai dengan kebijakan; b. Tersedianya data jaringan faskes;
c. Tersedianya pedoman pelaksanaan (Manlak) dan petunjuk teknis (Juknis);
d. Adanya penyelenggaraan Jamkesmas;
e. Adanya Tim Pengelola Jamkesmas di tingkat Pusat/Provinsi /Kabupaten / Kota;
f. Adanya Tim Koordinasi Jamkesmas di tingkat
Pusat/Provinsi/Kabupaten/ Kota;
g. Adanya tenaga Pelaksana Verifikasi di semua faskes lanjutan;
h. Tersedianya dana APBN untuk penyelenggaraan Jamkesmas sesuai dengan perencanaan yang telah ditetapkan;
i. Tersedianya APBD untuk mendukung penyelenggaraan Jamkesmas; j. Dimanfaatkannya Sistem Informasi Manajemen Jamkesmas.
2.4.2. Indikator Proses
Untuk indikator proses yang akan dinilai yaitu:
a. Terlaksananya kebijakan tentang data kepesertaan;
b. Terlaksananya pelayanan kesehatan yang terkendali biaya dan mutu di semua faskes;
c. Terlaksananya penyaluran dana penyaluran sesuai kebutuhan faskes; d. Terlaksananya INA-CBG’s sebagai dasar pembayaran dan
pertanggungjawaban dana Jamkesmas di seluruh faskes lanjutan; e. Terlaksananya verifikasi pertanggungjawaban dana Jamkesmas;
f. Terlaksananya penyampaian pertanggungjawaban dana dari faskes Jamkesmas ke Tim Pengelola Jamkesmas Pusat;
g. Terlaksananya pencatatan dan pelaporan penyelenggaraan Jamkesmas secara periodik dan berjenjang sesuai dengan sistem informasi Jamkesmas;
h. Terlayaninya peserta Jamkesmas di seluruh faskes. 2.4.3. Indikator Output
Untuk indikator Output yang diinginkan dari program ini yaitu: a. Terlayaninya seluruh peserta Jamkesmas;
b. Seluruh faskes lanjutan melaksanakan INA-CBGs sebagai upaya kendali biaya dan kendali mutu (KBKM);
c. Tersedianya data dan informasi penyelenggaraan Jamkesmas; d. Terpenuhinya kecukupan dana dalam penyelenggaraan Jamkesmas;
e. Jumlah faskes lanjutan swasta sebagai pemberi pelayanan kesehatan Jamkesmas.
2.5. Penelitian Terdahulu
Penelitian sebelumnya dalam kajian jaminan kesehatan, menurut hasil penelitian Nadjib dkk (2006) studi telaah efisiensi dan efektifitas admininstrasi dan keuangan penyelenggara JPKMM (Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin) propinsi Bali, NTB, Banten dan Jawa Barat bahwa dari aspek kebijakan bahwa kebijakan JPKMM meski sosialisasi telah dilakukan, belum optimal, antara lain karena pada masa transisi PT Askes disibukkan dengan target pendistribusian kartu dan telah dipahami pentingnya forum konsultasi, pengawasan dan monitoring evaluasi, namun di lapangan forum-forum ini belum banyak dikembangkan dan kalaupun ada belum berjalan optimal, perubahan kebijakan dalam waktu setahun membuat berbagai kendala di lapangan untuk menyesuaikan. Dari aspek kepesertaan kuota ditetapkan berdaasarkan data BPS 2004, dan hanya mencakup jumlah secara nasional dan estimasi menurut daerah dan banyak terdapat banyak perbedaan, mekanisme pendataan keluarga miskin dalam PJKMM berbeda antar daerah.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Mukti (2007) evaluasi kebijakan JPKMM (Program Jaminan Kesehatan Masyarakat Miskin) di Daerah Istimewa Yogyakarta (DIY) bahwa kebijakan JPKMM yang ditetapkan pemerintah sangat penting dalam meningkatkan akses pelayanan masyarakat miskin, akan tetapi kebijakan yang dikeluarkan terkesan terburu-buru dan kurang siap dalam
pelaksanaannya di lapangan. Hal ini terlihat dari masalah identifikasi peserta miskin, pembagian kartu, sosialisasi dan masalah implemntasi lainnya. Peran pemerintah daerah tidak diatur dengan jelas sehingga mengganggu program yang telah berjalan dengan cukup baik di daerah yang telah mengembangkan program kearifan lokal. Transparansi dan akuntabilitas program tidak terlihat sehingga menimbulkan ketidakjelasan tanggung jawab terhadap program.
Menurut hasil penelitian yang dilakukan oleh Mahmudah (2010) bahwa implementasi kebijakan pemerintah tentang program jamkesmas di Kota Medan tidak berjalan dengan baik, dilihat dari keterlambatan pelaksanaan program yang dilakukan oleh Puskesmas Kota Matsum, sosialisasi yang tidak dilakukan secara intensif sehingga menyebabkan masyarakat miskin di wilayah kerja mereka tidak mengetahui dengan baik sehingga kembali menimbulkan kasus salah sasaran. Implementasi program jamkesmas mengalami hambatan, diantaranya koordinasi dan komunikasi yang kurang baik, ketidaktahuan implementor mengenai kriteria keluarga miskin, kurangnya komitmen yang dimiliki implementor dalam mengimplementasikan program serta kurangnya kesadaran aparatur puskesmas akan tugas dan tanggung jawab sebagai pelaksana program jamkesmas.
2.6. Landasan Teori
Menurut Dunn (1991) dalam Suharto (2005) ada bentuk atau model analisis kebijakan, yaitu model prospektif, model retrospektif dan model integratif, yaitu salah satunya dalam penelitian ini antara lain model retrospektif adalah analisis kebijakan
yang dilakukan terhadap akibat-akibat kebijakan setelah suatu kebijakan diimplementasikan. Model ini biasanya disebut sebagai model evaluatif, karena banyak melibatkan pendekatan evaluasi terhadap dampak-dampak kebijakan yang sedang atau telah diterapkan.
Menurut Mukti (2007) dalam Tritantoro (2009) bahwa dalam mengukur efektifitas suatu program jaminan kesehatan adalah sebagai berikut:
A.Evaluasi kegiatan utama program jamkesmas
1. Manajemen administrasi dan keuangan, mencakup: a. Jumlah dana
b. Alokasi dana
c. Mekanisme pembayaran dan kalim d. Laporan keuangan yang transparansi e. Peran Pemda
f. Monitoring dan evaluasi 2. Aspek Kepesertaan, mencakup:
a. Jumlah keluarga miskin b. Kriteria keluarga miskin
c. Mekanisme pendataan dan penentuan gakin d. Keterlibatan stakeholder
B. Evaluasi hasil program
1. Manajemen Pelayanan, terdiri dari konsumen internal (PPK) dan konsumen eksternal (peserta jamkesmas/ pasien) yang mencakup:
a. Konsumen Internal (PPK)
1.Proses negoisasi dan kontrak kerja PPK 2.Paket pelayanan
3.Pemilihan dan penentuan PPK 4.Utilisasi pelayanan
5.Ketersediaan SDM 6.Kepuasan konsumen b. Konsumen Eksternal (pasien)
1. Kepuasaan konsumen
2.7. Lingkup Kajian
Lingkup kajian dalam penelitian ini meliputi 3 institusi:
1.Dinas Kesehatan dan PT. Askes, sebagai badan pelaksana atau penanggung jawab pelaksanaan kebijakan kesehatan di daerah
2.Pemberi Pelayanan Kesehatan (PPK), Rumah Sakit dan Puskesmas sebagai penyedia pelayanan kesehatan
3.Keluarga miskin sebagai triangulasi (cross check)
Berdasarkan masalah, tinjauan pustaka dan tujuan penelitian yang hendak dicapai, maka kerangka konsep penelitian adalah sebagai berikut:
− Man. Administrasi dan Keuangan − Kepesertaan
− Manajemen Pelayanan
Berdasarkan kerangka lingkup kajian di atas aspek-aspek yang ditelaah kemudian dijabarkan menjadi variabel-variabel yang mencakup aspek-aspek manajemen administrasi dan keuangan, kepesertaan dan manajemen pelayanan, maka diperlukan suatu penelitian kualitatif yang mampu menggali bagaimana efektivitas Jamkesmas di kota medan.
Badan Pelayanan Jaminan sosial - PT. Askes - Dinas Kesehatan Kota PPK - Rumah Sakit - Puskesmas Peserta Monitoring dan Evaluasi
Gambar 2.2. Kerangka Lingkup Kajian Pemerintah Daerah
Sekertaris Daerah