• Tidak ada hasil yang ditemukan

Bab V : Memuat penutup, kesimpulan dan saran saran

4. Rumah Singgah

a. Pengertian Rumah Singgah

Dalam pengertian rumah singgah secara terminologi rumah berarti bangunan untuk tempat tinggal25. Sedangkan singgah adalah mampir atau berhenti sebentar disuatu tempat ketika dalam perjalanan26. Dari pengertian diatas rumah singgah diartikan sebagai bangunan atau tempat tinggal yang di tempati dalam waktu yang tidak lama. Sedangkan secara etimologi, rumah singgah adalah suatu wahana yang dipersiapkan sebagai perantara antara anak jalanan dengan pihak pihak yang membantu mereka27.

25

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jakarta, 1990, hlm. 757

26

Departemen Pendidikan dan Kebudayaan, Kamus Besar Bahasa Indonesia, Balai Pustaka, Jalarta, 1990. Hlm. 843

27

Badan Kesejahteraan Sosial Nasional (BKSN), (Model Pelatihan Pimpinan Rumah Singgah), Jakarta 2000. Hlm.96

Rumah singgah merupakan suatu shelter yang berfungsi sebagai tempat tinggal, pusat kegiatan dan pusat informasi bagi orang orang yang memiliki kerendahan ekonomi atau merupakan kaum yang berbeda dari yang lain seperti waria yang menjadi objek penelitian ini. Dari pengertian diatas rumah singgah merupakan tempat informal yang memberikan suasana resosialisasi kepada individu yang membutuhkan pada penelitian ini yaitu waria terhadap sistem nilai dari norma yang berlaku di masyarakat setempat. Rumah singgah merupakan tahap awal bagi seorang waria untuk memperoleh pelayanan selanjutnya, oleh karenanya penting menciptakan rumah singgah sebagai tempat yang aman, nyaman, menarik dan menyenangkan bagi kaum waria.

b. Fungsi Rumah Singgah Peran Sosial

Kehidupan waria yang hidup berkelompok, mereka mengalami hambatan-hambatan sosial dalam pergaulan dan perilaku mereka. Waria banyak menghadapi berbagai tekanan-tekanan sosial, posisi kurang mendapat tempat di lingkungan masyarakat. Penerimaan sosial dalam lingkungan dimana waria menjadi sebuah ancaman. Streotipe waria yang timbul di kalangan masyarakat menciptakan keterasingan secara sosial baik oleh keluarga maupun lingkungannya. Kondisi ini lah yang kemudian membuat mereka harus lari dari rumah dan lingkungannya, sehingga mereka memilih untuk hidup berkelompok.

Waria yang selalu dipandang negatif oleh masyarakat dalam berkehidupan keseharian mereka, dapat mempengaruhi kehidupan sosial waria.

Sebagai contoh, mereka menjadi malas untuk bersosialisasi, tertutup dan menjadi takut bersosialisasi dengan orang diluar kelompok mereka. Hambatan sosial yang dialami kaum waria meliputi hampir diseluruh aspek kehidupan sosial seperti dalam hal kesempatan pendidikan, kesempatan bekerja, kesempatan dalam kegiatan keagamaan, kesempatan dalam kehidupan keluarga dan hambatan kesempatan perlindungan hukum. Permasalahan waria berkaitan dengan kondisi dirinya tersebut mengakibatkan renggangnya hubungan waria dengan lingkungan sosialnya baik dalam lingkungan kerja, lingkungan beragama, maupun lingkungan sosial.Uraian diatas disimpulkan bahwa dalam memenuhi kebutuhan kebutuhannya waria tak lepas dari interaksi sosial dengan lingkungan sosialnya.

Melihat fenomena seperti ini rumah singgah waria mempunyai tugas untuk memberikan tempat dan membantu waria agar bisa membaur dengan masyarakat di lingkungan sekitar mereka. Dan fungsi rumah singgah dalam peranan sosial waria yaitu bagaimana membangun rasa peduli waria terhadap lingkungan sekitar mereka.

Peran Budaya

Membahas mengenai budaya dan sosial, kedua hal ini merupakan suatu yang terikat dan berkesinambungan. Dalam konteks budaya, perilaku yang dihadirkan oleh waria tidak hanya dipandang sebagai sebuah tatanan yang menyimpang, namun perilaku mereka belum mendapat tempat didalam peran peran sosial yang menyatu dengan masyarakat. Hidup sebagai waria mengandung sebuah pengertian bahwa seorang waria harus mampu bertahan dari berbagai

macam tekanan yang menghimpit dirinya, karena kultur mereka belum sepenuhnya diterima didalam ruang sosial.

Hidup sebagai waria dalam konteks kebudayaan mengandung satu pengertian bahwa kebudayaan itu menjadi satu pedoman dalam bagaimana cara waria berperilaku. Di sisi yang lain, kehidupan waria yang mengelompok, baik melalui arena kehidupan malam diberbagai tempat maupun organisasi soaial kaum waria pada akhirnta telah melahirkan satu sub kultur sendiri. Tekanan yang diberikan oleh lingkungan sosialnya membuat waria merasa rendah diri, minder, takut, tidak percaya diri dan jauh dari nilai nilai kehidupan dan norma.

Fungsi rumah singgah dalam peranan budaya yaitu menanamkan waria dengan nilai dan norma. Mengingat waria yang kurang diterima oleh masyarakat dan jarangnya kesempatan mereka dalam mendapatkan pekerjaan maka perlu ditanamkan rasa tidak bergantung pada orang lain dengan memberikan mereka keterampilan untuk bisa hidup mandiri, sabar dalam menjalani kehidupan, mengajarkan betapa pentingnya kedisiplinan. Untuk kehidupan waria yang jauh lebih baik.

5. Waria

Kata “waria” sudah menjadi makanan di telinga kita sehari hari. Memang

dalam peristilahannya, waria adalah seorang laki lakiyang berbusana dan bertingkah laku sebagaimana layaknya seorang wanita.Istilah ini awalnya muncul dari masyarakat Jawa Timur yang merupakan akronim dari “wanita tapi pria’ pada

lazim digunakan untuk kaum ini adalah banci yang kemudian mengalami metamorfosa dengan melahirkan kata bencong. Wadam kependekan dari wanita adam. Namun, istilah ini sudah kurang begitu popular lagi.Wandu berasal dari bahasa Jawa yang mungkin artinya wanito dhudhu (wanita bukan). Pernah juga ada istilah binan, namun penggunaannya juga kian berkurang menjadi kata yang umum. Kaum ini juga terkenal kreatif dalam menghasilkan kosakata baru, yang acap membingungkan kita kaum kebanyakan, dikarenakan kaum semacam ini cenderung menggunakan istilahyang ditujukan bagi komunitasnya belaka. Kata

“Waria” ini lah yang kini menjadi kata baku dalam bahasa Indonesia.

Waria dalam bahasa psikologi disebut transeksual. Dikalangan awam, tidak sedikit yang mempertautkannya dengan homoseks – seakan akan waria identik dengan gay. Padahal waria dan gay merupakan dua fenomena yang terpisah betapapun dalam batasan tertentu keduanya masih bisa digolongkan sebagai penyimpangan seksual. Dalam pengertian umum, waria adalah seorang laki laki yang berdandan dan berlaku sebagai wanita.Kelainan ini, sebenarnya bisa digolongkan kedalam penyakit. Istilah waria memang ditujukan untuk penderita transeksual yaitu seseorang yang memiliki fisik berbeda dengan keadaan jiwanya). Artinya istilah ini bisa juga dikenakan pada seseorang yang secara fisik perempuan tapi berdandan dan berlaku sebagai laki laki.28

Waria sebagai individu yang sejak lahir memiliki jenis kelamin laki-laki, akan tetapi dalam proses berikutnya menolak bahwa dirinya seorang laki-laki. Maka waria melakukan berbagai usaha untuk menjadi perempuan seutuhnya, dimulai dari sikap, perilaku dan penampilannya. Mereka berkeinginan untuk diterima sebagai jenis kelamin yang berbeda. Transseksual merupakan dimana identitas jenis kelamin yang dimiliki seseorang transseksual ini berlawanan

28

Atmojo Kemala, Kami Bukan Laki-Laki (Jakarta Utara : Pustaka Utama Grafiti 1987) hlm 2

dengan jenis kelamin yang ”dikenakan” kepada bentu fisiknya. Ada pula

seseorang merasa terjebak dalam tubuh dan anatomi seksual yang salah.

Di Indonesia, fenomena tentang waria sebenarnya bukanlah masalah atau fenomena baru. Kehidupan kaum waria yang bertolak belakang dengan kebiasaan hidup manusia secara normal dalam berperilaku dan menentukan sikap membuat komunitas maupun individunya tidak memiliki tempat di masyarakat. Itu semua dikarenakan pola kehidupan mereka dianggap akan mempengaruhi kehidupan masyarakat lain. Permasalahan yang tengah dihadapi oleh kaum waria adalah bagaimana menempatkan diri dalam kehidupan bermasyarakat. Karena keberadaan mereka masih dibilang asing dalam kehidupan masyarakat dan sedikit sulit untuk diterima.Banyak masyarakat luas beranggapan menjadi seorang waria hanya menjadi aib yang dapat memalukan diri sendiri, keluarga dan orang orang terdekat yang berada disekitarnya.

Kemunculan seorang waria yang merupakan sebuah fenomena social tersendiri bagi masyarakat kita dimana sampai saat ini waria adalah salah satu kaum yang terpinggirkan. Banyak orang yang memandang sebelah mata terhadap eksistensi waria, bahkan secara terang terangan mereka beranggapan negatif, seperti waria dianggap sampah masyarakat, penyebar penyakit masyarakat dan kesemuanya itu seolah menyiratkan bahwa waria selama ini diperlakukan sebagai sebuah objek bukan subjek.

Waria dan diskriminasi, bagai dua sisi mata uang yang sulit dipisahkan.Keberadaan waria ditengah masyarakat merupakan suatu fenomena yang ikut meramaikan fakta sosial baru didalam masyarakat.Hal ini menimbulkan

adanya suatu pandangn pandangan-pandangan yang beraneka ragam didalam masyarakat, mulai dari pemberian cap bahwa mereka sampah masyarakat, penyakit sosial, beperilaku negatif, sumber penyakit hingga tidak diakui eksistensi sosialnya.

Keberadaan waria ditengah tengah masyarakat sama halnya dengan keberadaan setiap individual manusia yang lainnya. Ada yang bersikap baik dan ada pula yang bersikap tidak baik, ada yang memiliki nilai moral dan begitu pula sebaliknya.Semua itu kembali lagi kepada sikap pribadi perorangan masing masing.Waria juga sering mengalami diskriminasi dalam memperoleh lapangan pekerjaan.Karena sebagian masyarakat tidak mau mempercayakan pekerjaan untuk waria. Hal ini tidak bisa terlepas dari pandangan masyarakat yang memandang waria sebagai kelompok penentang kodrat manusia, berdosa dan menjijikkan. Penolakan masyarakat ini jelas menimbulkan masalah bagi komunitas waria termasuk dalam memperoleh pekerjaan.Bagi waria yang berpendidikan dan mempunyai keterampilan banyak yang berusaha memperoleh penghasilan sesuai dengan latar belakang pendidikan atau keterampilannya. Sedangkan waria yang berpendidikan rendah atau waria yang tidak mempunya skill atau keterampilan khusus tentunya akan sanagat sulit untuk mendapatkan pekerjaan. Hal yang termudah yang bisa dilakukan adalah bekerja sebagai pengamen dijalanan dan menjadi PSK.Atau biasanya siangnya mereka mengamen dan malam nya mereka menjajakan dirinya sebagai PSK.

32

Dokumen terkait