E. Kajian Pustaka
4. Rumah Tangga sebagai Lingkungan Pendidikan Anak
Berbicara tentang rumah tangga sebagai lingkungan pendidikan, tidak terlepas pada pembahasa kedudukan rumah tangga sebagai lingkungn pendidikan anak dan peranan orang tua sebagai pendidik. Kedua hal tesebut akan diuraikan dalam uraian berikut.
a. Peranan Rumah Tangga Sebagai Lingkungan Pendidikan
Menentukan di lingkungan mana anak dapat memperoleh pendidikan.
Sepintas saja dapat diberikan jawaban, yaitu: di lingkungan mana saja yang memungkinkan berlangsungnya pendidikan maka dalam lingkungan itu pulah anak dapat memperoleh suatu pendidikan. Untuk memastikan kebenaran keluarga sebagai salah satu lingkungan pendidikan dapat kita liat dari penjelasan di bawah ini.
Keluarga merupakan tempat pertama untuk menjalankan fungsinya yaitu program kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan. hal ini bermaksud bahwa
21Syamsuddin AB, Sistem Pengasuhan Orang Tua agar Anak Berkualitas, h. 26.
keluarga merupakan wahana pertama untuk membentuk karakter anak.22 Seorang anak dapat berbudi pekerti baik disebabkan karena pendidikan orang tuanya dalam keluarga. Begitupun sebaliknya jikalau anak berbudi pekerti buruk juga disebabkan karena ketidak pedulian orang tua pada anaknya.
Sekiranya cinta kasih sayang dari orang tua tidak terealisasikan secara memadai dan seimbang, maka anak akan mendapat kesulitan dalam menyelaraskan kehidupan bermasyarakatnya, tidak mampu bergaul, tidak pula mampu hidup secara tolong menolong atau mendahulukan kepentingan orang lain dan menyisihkan kepentingan diri sendiri. Kemudian pada saat ia tumbuh dewasa, kadangkala tidak dapat menjadi seorang ayah yang penyayang, atau suami yang dapat bergaul dengan baik dengan istrinya, dan mendaptkan kesulitan dalam hidup bertetangga. Demikianlah seterusnya.23
Pada hal ini peranan orang tua dalam mendidik, sangat dibutuhkan oleh sang anak, karena orang tua adalah guru pertama bagi anak-anaknya. Ketika guru di sekolah mempunyai kewajiban untuk mendidik murid-muridnya maka orang tua juga punya kewajiban agar mendidik anak-anaknya, dalam sebuah rumah tangga.
Dengan demikian, jelas bahwa rumah tangga atau keluarga dengan anggota kelompoknya pada dasarnya dapat diamati sebagai sebuah kelas yang menjalankan proses perubahan perilaku terhadap pengetahuan anak dan sikap anak, terutama sikap terampil dan mandiri. Rumah tangga berfungsi sebagai lembaga pendidikan berkepentingan menyediakan pendidikan pra-nikah agar
22Kamsinah, Pembaharuan Pendidikan di Rumah Tangga (Cet. I; Makassar: Alauddin University Press, 2014), h. 108.
23Abdurrahman an-Nahlawi, Prinsip-Prinsip dan Metoda Pendidikan Islam dalam Keluarga, di Sekolah dan Masyarakat (Cet. III; Bandung: Diponegoro, 1996), h. 197.
keharmonisan yang dicapai oleh keluarga tersebut dapat diwariskan kepada anak-anaknya.24Sehingga dapat diaplikasikan dalam kehidupan selanjutnya.
b. Peranan Orang Tua Sebagai Pendidik
Menjadi orang tua merupakan salah satu proses yang dijalani oleh pasangan suami istri yang mempunyai anak. Masa transisi menjadi orang tua sering terjadi ketika kelahiran anak pertama, sebab orang tua pada masa ini belum mempunyai pengalaman terhadap bagaimana cara mendidik seorang anak.25
Mendidik anak merupakan salah satu tugas yang mulia, seorang ibu sangat berperan penting dalam pengsuhan anak. Karena keluarga adalah sebuah madrasah dan seorang ibu harus menjadi guru yang baik dalam sebuah madrasah tersebut. Teristimewa pada saat anak masih kecil maka seorang ibu harus senantiasa memberikan pendidik dan dapat menjadi teman mereka yang baik.26 Agar anak dapat dengan mudah berinteraksi ketika berada di lingkungan masyarakat.
Seorang ibu jangan sampai melupakan pendidikan nilai-nilai keagamaan untuk anaknya, sebab agama memegang peranan penting dalam membangun keharmonisan dalam keluarga. Keluarga yang tumbuh dengan nilai-nilai keagamaan maka ketenangan, kedamaian dan kesejahteraan akan diberikan oleh Allah swt kepada keluarga tersebut. Sebaliknya jikalau dalam sebuah keluarga jauh dari nilai-nilai keagamaan maka kesengsaraan, kelaparan dan kemiskinan akan melanda keluarga tersebut.
Hasil penelitian menunjukan bahwa keluarga yang tidak religius, yang tidak punya komitmen atau yang komitmennya lemah, mempunyai resiko empat
24Ulfatmi, Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam (Cet. I; Padang: Kementrian Agama RI, 2011), h. 27.
25Sri Lestari, Psikologi Keluarga Penanaman Nilai dan Penanganan Konflik dalam Keluarga (Cet. III; Jakarta: Kencana, 2013), h. 16.
26Syamsuddin AB, Sistem Pengasuhan Orang Tua agar Anak Berkualitas, h. 98.
kali untuk tidak mendapatkan kebahagiaan dalam berkeluarga, bahkan berakhir dengan perselingkuhan, penceraian dan kecanduan NAZA (Narkotika, Alkhol dan zat adiktif).27
Orang tua yang tidak memberikan pendidikan pada anaknya sesungguhnya telah melakukan kekeliruan. Sebab anak yang dilahirkan itu disebabkan oleh perbuatan mereka (suami-istri). Karena anda telah menjadi penyebab hadirnya mereka di dunia ini, maka berdasarkan kewajiban agama dan nilai-nilai kemanusiaan, pendidikan dan pengajaran menjadi tanggung jawab anda sebagai orang tua.28
Tanggung jawab yang mendorong orang tua untuk senantiasa berperan sebagai pendidik itu diperkuat lagi dalam alquran. Sebagai mana Allah swt.
berfirman dalam QS al-Tahrim/66: 6 sebagai berikut.
Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allah terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan.29
Dari ayat tersebut tampak bahwa dalam kondisi bagaimanapun orang tua harus tetap bertanggungjawab agar selalu mengutamakan pendidikan untuk anaknya. Karena masa depan anak dalam sebuah rumah tangga tak luput dari bimbingan orang tua sebagai pendidik yang pertama. Misalnya tentang masa depan sikap keagamaan seorang anak, taat atau ingkarnya dia kepada Allah swt itu
27Ulfatmi, Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam, h. 120.
28Ibrahim Amini, Anakmu Amanatnya (Cet. I; Jakarta: Al-Huda, 2006), h. 7.
29Departemen Agama RI, Al-Qur’an dan Terjemahnya, h. 560.
semua tergantung dari bagaimana orang tua memberikan pendidikan pada anaknya. Hal ini sebagaimana dikemukakan oleh nabi Muhammad saw dalam sebuah hadisnya. Sebagai berikut:
َﻢﱠﻠَﺳ َو ِﮫْﯿَﻠَﻋ ُ ﱠ ﻰﱠﻠَﺻ ﱡﻲِﺒﱠﻨﻟا َلﺎَﻗ َلﺎَﻗ ُﮫْﻨَﻋ ُ ﱠ َﻲ ِﺿ َر َة َﺮْﯾ َﺮُھ ﻲِﺑَأ ْﻦ َﻋ :
ْﻦ ِﻣ ﺎَﻣ
ِة َﺮْﻄِﻔْﻟا ﻰَﻠَﻋ ُﺪَﻟ ْﻮُﯾ ﱠﻻِإ ٍد ْﻮُﻟ ْﻮَﻣ ِﻞَﺜَﻤَﻛ ِﮫِﻧﺎَﺴ ِّﺠَﻤُﯾ ْوَأ ِﮫِﻧا َﺮ ِّﺼَﻨُﯾ ْوَأ ِﮫِﻧاَدِّﻮَﮭُﯾ ُها َﻮَﺑَﺄَﻓ
ُﺞَﺘْﻨُﺗ ِﺔَﻤﯿِﮭَﺒْﻟا َءﺎَﻋْﺪَﺟ ﺎَﮭﯿِﻓ ى َﺮَﺗ ْﻞَھ َﺔَﻤﯿِﮭَﺒْﻟا
Dari Abu Hurairah ra. meriwayatkan bahwa Rasulullah saw. bersabda:
Setiap anak itu dilahirkan dalam keadaan fitrah. Kedua orang tuanyalah yang membuatnya menjadi seorang Yahudi, seorang Nasrani, ataupun seorang Majusi. Sebagaimana seekor binatang yang melahirkan anaknya tanpa cacat, apakah kamu merasakan (melihat) ada yang terpotong hidungnya?30
Masing –masing dalil di atas mengandung agar setiap orang tua senantiasa mendidik anak-anaknya, walaupun waktunya sangat terbatas, disebabkan oleh aktifitas di luar rumah seperti berkebun, kerja kantoran, berjualan di pasar dan masi banyak lagi aktivitas yang menyita waktu untuk berkumpul dengan keluarga.
tetapi aktivitas tersebut jangan sampai membuat kita lupa akan tugas dan tanggung jawab kita terhadap pendidikan yang harus kita berikan kepada anak, apalagi sampai melupakannya.
c. Beberapa faktor dalam rumah tangga yang kurang menguntungkan bagi pendidikan anak.
Beberapa faktor dalam rumah tangga yang kurang menguntungkan bagi keberhasilan pendidikan terhadap anak. Faktor-faktor yang dimaksud adalah sebagai berikut:
1) Tidak utuhnya anggota rumah tangga
30Ahmad Ali, Kitab Shahih Al-Bukhari dan Muslim, (Cet. I; Jakarta: Alita Aksara Media, 2012), h. 742.
Melihat realita kehidupan sekarang di mana membuktikan banyak hal yang membuat rumah tangga hancur (broken home), suatu kenyataan yang harus diakui dan tidak dapat diingkari ketika terjadi kehancuran rumah tangga dan mempertahankannya pun suatu perbuatan yang sia-sia.31
Padahal Islam telah mengatur penyelesaian konflik dalam rumah tangga yang dapat dimulai dari saling terbuka dan saling mengingatkan antara pasangan suami istri, jika tidak selesai maka dapat melakukan pisah ranjang, kemudian mencari juru damai, selanjutnya boleh menggunakan pukulan yang bersifat mendidik dan terakhir jika semua itu tidak mampu menyelesaikan masah, barulah boleh menjatuhkan talak yang disahkan oleh pengadilan. Namun bagi suami atau istri yang saleh dan memiliki pengendalian diri, tentulah akan terus mencari solusi demi solusi agar masah ini tidak sampai ke pengadilan.32
Keutuhan anggota rumah tangga yang dimaksud di sini adalah suami dan istri harus menjadi syarat untuk dapat terlaksananya tugas-tugas pendidikan terhadap anak dalam rumah tangga dengan baik. Sebaliknya bila salah satu diantara keduanya tidak ada, maka akan kurang memberikan hasil yang maksimal dalam penyelenggaraan tugas-tugas pendidikan itu.
Apalagi di zaman sekarang dimana kesibukan orang tua dengan pekerjaan sering membuat mereka lalai terhadap pendidikan untuk anaknya. Coba bayangkan ketika orang tua kembali dari kerja mereka mendapati anak-anaknya sudah pergi bermain di luar, ketika anaknya pulang orang tuanya sudah istirahat (tidur) dan begitu seterusnya. Sehingga sering orang tua tidak dapat berkomunikasi dengan anaknya disebabkan oleh kesibukan masing-masing. Hal ini pasti sangat tidak menguntungkan bagi perkembangan sang anak.
31Abdul Aziz Muhammad Azzam dan Abdul Wahhab Sayed, Fiqih Munakahat Khitbah, Nikah dan Talak, (Cet. III; Jakarta: Amzah, 2014), h. 252.
32Ulfatmi, Keluarga Sakinah dalam Perspektif Islam (Cet. I; Padang: Kementrian Agama RI, 2011), h. 103-104.
Dapat disimpulkan ketidakutuhan keluarga di sini maksudnya ketika salah satu anggota keluarga tidak menjalankan fungsinya dengan maksimal, seperti hal di atas. Orang tua meninggalkan anak-anaknya di rumah demi sebuah pekerjaan, maka jelas anak-anak akan kurang memperoleh pendidikan dari kedua orang tuanya.
Adanya kesibukan seperti di atas orang tua masih mampu menjalankan kedudukan dan fungsinya sebagai pendidik, tetap saja waktu yang dipergunakan pun sangat terbatas. Sehingga keterbatasan waktu merupakan salah satu faktor dalam rumah tangga sebagai faktor yang kurang mendukung terlaksananya upaya pendidikan anak dalam rumah tangga oleh orang tuanya sendiri.
2) Keterbatasan waktu
Waktu adalah sumber daya yang unik, setiap orang memilikinya dalam jumlah yang sama. Ia tidak dapat dibeli dan setiap urusan kita di dunia ini pasti memerlukan waktu.33 Termasuk pendidikan kepada anak-anak di dalam rumah tangga juga terpengaruh terhadap waktu yang disediakan oleh orang tua.
Memang pendidikan bagi anak yang berlangsung dalam sebuah keluarga, pasti memerlukan waktu yang panjang dan kesediaan orang tua bagaimana mengisi waktu itu untuk anak-anaknya. Berangkat dari permasalahan di atas membuat kita berkosentrasi pada kurangnya waktu orang tua untuk memberikan pendidikan pada anaknya yang di sebabkan oleh perubahan zaman.
Dampak yang timbul disebabkan oleh perubahan zaman salah satunya adalah dampak perpanjangan waktu jam kerja, sehingga memperpanjang pula waktu orang tua berada di luar rumah berpisah dengan anak-anaknya. Dengan panjangnya waktu orang tua berada di luar rumah itu menunjukan semakin sedikitnya waktu untuk mendidik anaknya dalam rumah tangga.
33A Dale Timpe, Seri Manajemen Sumber Daya Manusia Mengelola Waktu (Cet.IV;Jakarta: Pt Elex Media Komputindo, 1999), h. 69.
Dari faktor yang disebutkan di atas ini menunjukan kemungkinan besar munculnya dampak negatif terhadap pertumbuhan seorang anak, sehingga orang tua diharapkan harus pandai-pandai mengelola waktu agar dapat memberikan pendidikan yang semestinya untuk anak-anaknya
B. Perpanjangan Waktu Jam Kerja Bagi Pegawai Negeri Sipil (PNS)