5.2 Rumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan
5.2.1 Rumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di
kemiskinan juga harus berbeda agar program-program yang diterapkan lebih efektif, fokus, terarah dan sesuai dengan kebutuhan masyarakat setempat sehingga masalah kemiskinan dapat segera diatasi.
5.2.1 Rumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Kawasan Barat Indonesia
Berdasarkan uraian faktor-faktor yang memengaruhi kemiskinan di Kawasan Barat Indonesia, jumlah penduduk merupakan variabel dengan nilai elastisitas tertinggi dibandingkan dengan variabel bebas lainnya. Permasalahan kependudukan yang sampai saat ini masih ada adalah tingginya angka pertumbuhan penduduk dan penyebaran penduduk yang tidak merata di setiap daerah. Penduduk di Kawasan Barat Indonesia, khususnya Pulau Jawa sudah sangat padat. Untuk mengatasi tingginya angka pertumbuhan penduduk, pencanangan program Keluarga Berencana (KB) sangat penting, mengingat pertumbuhan jumlah penduduk di Kawasan Barat Indonesia tergolong tinggi.
Berdasarkan UU no 10 tahun 1992 tentang perkembangan kependudukan dan pembangunan keluarga sejahtera, keluarga berencana adalah suatu upaya peningkatan kepedulian dan peran serta masyarakat melalui pendewasaan usia perkawinan, pengaturan kelahiran, pembinaan ketahanan keluarga, peningkatan kesejahteraan
keluarga kecil, bahagia dan sejahtera. Program KB yang selama ini dilakukan oleh pemerintah sudah cukup berhasil dimana peserta KB rata-rata diatas angka 60 persen (BPS 2009). Namun demikian, program ini dapat diperluas dengan lebih melibatkan keluarga miskin. Keluarga miskin yang mengikuti program KB dan mempunyai maksimal dua anak, diberikan jaminan kesehatan dan pendidikan gratis bagi kedua anaknya. Dengan cara ini maka keluarga miskin akan berfikir kembali untuk mempunyai banyak anak.
Selain pertumbuhan penduduknya yang tinggi, penyebaran penduduk di Kawasan Barat Indonesia tidak merata di setiap provinsi. Hal ini dapat dilihat dari angka kepadatan penduduk yang timpang antar provinsi.
Sumber: BPS, 2009 (diolah)
Gambar 23 Angka kepadatan penduduk di Kawasan Barat Indonesia, 2009. Pada Kawasan Barat Indonesia, Pulau Jawa dan Bali merupakan daerah yang sangat padat penduduk. Provinsi yang paling tinggi kepadatannya adalah DKI Jakarta, sedangkan yang paling jarang penduduk adalah Jambi. Berdasarkan fakta tersebut, kebijakan penanggulangan kemiskinan dapat dilakukan dengan program pemerataan penduduk yaitu transmigrasi. Menurut UU No. 15/1997, pengertian transmigrasi adalah perpindahan penduduk secara sukarela untuk meningkatkan kesejahteraan dan menetap di wilayah pengembangan transmigrasi atau lokasi permukiman transmigrasi. Transmigrasi dilakukan dari provinsi yang padat penduduk ke provinsi yang jarang penduduk. Secara rata-rata, angka kepadatan penduduk di Kawasan Barat Indonesia pada tahun 2009 sebesar 301,95
jiwa/km2. Bertolak dari angka tersebut, maka wilayah yang termasuk padat penduduk adalah provinsi-provinsi yang terletak di Pulau Jawa-Bali. Provinsi yang jarang penduduk meliputi provinsi-provinsi yang terletak di Pulau Sumatera. Jika migrasi dilakukan di Kawasan Barat Indonesia, maka penduduk dapat dimigrasikan dari Pulau Jawa-Bali ke Pulau Sumatera utamanya ke Provinsi Jambi, Nanggroe Aceh Darussalam, Riau, Sumatera Selatan, Bengkulu, Sumatera Barat dan Sumatera Utara. Berhubungan dengan kebijakan ketransmigrasian, Pemerintah Daerah Provinsi Lampung mengambil kebijakan untuk tidak menerima lagi transmigran nasional, namun masih melaksanakan transmigrasi lokal. Kebijakan tersebut didasarkan pada kondisi penduduk di Provinsi Lampung yang sudah padat dan pada masa sekarang ini Lampung sudah sebagai daerah pengirim transmigran.
Kebijakan transmigrasi dilakukan untuk meningkatkan pembangunan di daerah asal maupun daerah tujuan. Di daerah asal, akan terjadi pengurangan kepadatan penduduk, sehingga perekonomian yang tumbuh tidak habis digunakan untuk biaya konsumsi dan sebagian dari hasil perekonomian dapat digunakan untuk investasi. Perekonomian yang lebih baik dapat meningkatkan kesempatan kerja sehingga pengangguran dapat dikurangi. Dengan kesempatan kerja yang lebih banyak dan pengangguran yang berkurang maka kemiskinan juga akan berkurang.
Pada daerah tujuan transmigrasi terjadi penambahan penduduk yang mempunyai dua keuntungan, yaitu penambahan jumlah tenaga kerja dan penambahan penduduk akan menciptakan pasar domestik. Secara teoritis, penambahan tenaga kerja akan menambah output. Secara agregat penambahan output akan meningkatkan perekonomian daerah. Perekonomian yang meningkat akan menciptakan kesempatan kerja yang lebih banyak sehingga pengangguran dapat dikurangi, kesejahteraan masyarakat meningkat dan kemiskinan dapat diatasi.
Pemerintah sudah melakukan kebijakan transmigrasi sejak tahun 1905 kemudian dilanjutkan pada era orde lama, orde baru dan berlanjut hingga sekarang. Program transmigrasi telah banyak membantu dalam proses pembangunan. Meskipun begitu terdapat beberapa kelemahan, diantaranya:
pertama, kurang adanya inovasi dalam penyelanggaraan program transmigrasi dan kebijakan pembangunan nasional yang lebih menguntungkan Pulau Jawa menimbulkan ketimpangan wilayah antara Jawa dan Luar Jawa. Kebijakan tersebut tidak hanya berdampak pada arus balik ke pulau Jawa, bahkan penduduk dari luar Jawa pun tak jarang yang melakukan migrasi ke Pulau Jawa dengan harapan memperoleh kehidupan yang lebh baik.
Kedua, lokasi transmigrasi terlalu jauh dari fasilitas publik sehingga
warganya dalam kondisi terisolir dan aksesibilitasnya rendah. Dampaknya para transmigran mengalami hambatan dalam memasarkan hasil panen, melanjutkan pendidikan, dan kegiatan sosial ekonomi lainnya. Ketiga, secara administrasi kepemilikan lahan usaha warga transmigran belum jelas statusnya sehingga memicu sengketa gugatan masyarakat adat setempat. Keempat, sektor pertanian masih menjadi fokus pemerintah untuk mempekerjakan para transmigran. Kurangnya fasilitas dan dukungan dari sektor yang lain misalnya perdagangan, membuat para transmigran mengalami kesulitan untuk memperoleh barang input dan memasarkan hasil panennya. Kesulitan tersebut menyebabkan kinerja pertanian tidak efektif dan pada gilirannya membuat pendapatan para transmigran tidak menentu dan hidup dalam kemiskinan. Dengan demikian program transmigrasi seolah-olah hanya memindahkan penduduk miskin dari daerah asal ke daerah tujuan.
Menyikapi hal tersebut, kesiapan pemerintah dalam melaksanakan program transmigrasi sangat penting. Ketersediaan fasilitas publik untuk memenuhi kebutuhan dasar berupa pangan, sandang, papan, pendidikan dan kesehatan harus betul-betul dijamin oleh pemerintah. Pembangunan fasilitas layanan publik berupa pasar, gedung sekolah, puskesmas dan jarak ke rumah sakit yang tidak jauh sangat dibutuhkan. Tidak kalah pentingnya, admisnistrasi yang jelas tentang kepemilikan lahan sangat berguna agar peristiwa sengketa tanah bisa dihindarkan. Selain itu, lapangan kerja untuk para transmigran sebaiknya tidak hanya dipersiapkan untuk pertanian saja, namun diberikan pula kesempatan kerja di bidang yang lain seperti perdagangan, konstruksi, industri dan bidang lainnya.
Terkait dengan sektor pertanian di Kawasan Barat Indonesia, hasil estimasi menunjukkan bahwa banyaknya pekerja sektor pertanian berpengaruh pada
peningkatan kemiskinan. Kebijakan yang seharusnya diambil adalah mengembangkan usaha berbasis pertanian (agroindustri). Pengembangan usaha agroindustri menjadi alternatif untuk mengurangi banyaknya pekerja pertanian dan mengatasi tingginya pengangguran. Usaha ini akan sangat bermanfaat, dimana banyaknya pekerja pertanian dapat beralih menjadi pekerja di usaha agroindustri. Dengan berkembangnya usaha tersebut, lapangan pekerjaan akan semakin bertambah dan pengangguran dapat berkurang. Di sisi yang lain, usaha agroindustri akan menguntungkan banyak pihak, antara lain petani, pengusaha dan pekerjanya. Bagi petani, berkembangnya usaha agroindustri akan memudahkan mereka untuk memasarkan hasil panennya dan memacu semangat mereka untuk menghasilkan output yang lebih baik kuantitas maupun kualitasnya. Bagi pengusaha, hasil pertanian dan tenaga kerja yang banyak memudahkan mereka untuk mendapatkan input produksi sehingga akan menghasilkan output yang banyak. Output yang banyak akan menambah keuntungan bagi pengusaha dan meningkatkan kesejahteraannya. Bagi masyarakat, banyaknya output akan membuka kesempatan kerja yang lebih banyak bagi mereka sehingga penduduk yang tadinya menganggur dapat memperoleh pekerjaan. Lebih lanjut, output yang banyak akan menjadikan harga barang hasil produksi murah sehingga daya beli masyarakat meningkat, kesejahteraan meningkat dan kemiskinan menurun.
Dalam upaya menurunkan kemiskinan, kualitas sumberdaya manusia menjadi salah satu penentu keberhasilannya. Pendidikan menjadi sarana untuk mendapatkan keterampilan dan keahlian yang akan mempengaruhi produktivitas seseorang dalam bekerja. Menurut data BPS (2009), terdapat sekitar 28,63 persen penduduk di Kawasan Barat Indonesia yang hanya lulus setingkat SD dan 17,34 persen penduduk yang lulus setingkat SMP. Penduduk yang lulus setingkat SMU sekitar 19,24 persen. Fakta ini menunjukkan bahwa tingkat pendidikan penduduk masih rendah dan jika dikaitkan dengan produktivitas kerja maka rendahnya pendidikan akan menyebabkan produktivitas juga rendah. Produktivitas yang rendah hanya akan dihargai dengan upah yang rendah sehingga kesejahteraan sulit untuk meningkat dan kemiskinan tidak kunjung berkurang. Hasil penelitian menunjukkan bahwa banyakya lulusan SMP akan meningkatkan kemiskinan, sedangkan banyaknya penduduk lulusan SMU akan menurunkan kemiskinan.
Menanggapi realita ini, seyogyanya kebijakan pemerintah tidak hanya mewajibkan masyarakat untuk menempuh pendidikan sampai pada level pendidikan dasar. Ijazah pendidikan dasar belum cukup untuk melamar pekerjaan dengan penghasilan yang memadai. Kesempatan kerja bagi para lulusan pendidikan dasar terbatas, kebanyakan dari mereka menjadi pengangguran atau bekerja di sektor informal dengan pendapatan rendah dan tidak tetap. Jika hal ini terus terjadi maka penderitaan penduduk miskin akan berlangsung lama. Akibat kurangnya pendidikan, tidak sedikit masyarakat miskin yang beranggapan bahwa menyekolahkan anak-anak tidak penting. Anak-anak mereka dipaksa untuk ikut bekerja membantu orang tuanya. Jika keadaan ini tidak segera diatasi maka kemiskinan ini akan diwariskan pada generasi selanjutnya.
Langkah pemerintah untuk membantu penduduk miskin keluar dari kemiskinan salah satunya dengan memperbanyak beasiswa bagi masyarakat miskin sampai jenjang SMU agar membuka wawasan dan merubah pola pikir mereka ke arah yang lebih baik. Setelah lulus mereka dapat memasuki dunia kerja dengan bekal pengetahuan dan keterampilan. Dengan bekal inilah mereka dapat meningkatkan produktivitas kerjanya, yang selanjutnya dapat memperbaiki kondisi perekonomiannya, meningkatkan kesejahteraanya sehingga rantai kemiskinan bisa terputus.
Peningkatan pendidikan penduduk miskin selain menguntungkan mereka dari sisi peningkatan pendapatan, secara umum perekonomian akan mengalami pertumbuhan yang positif. Pertumbuhan ekonomi yang tinggi akan membuka peluang kerja bagi masyarakat sehingga mereka dapat meningkatkan kesejahteraannya. Dalam penelitian ini pertumbuhan ekonomi didekati dengan PDRB per kapita. Berdasarkan hasil estimasi, peningkatan PDRB perkapita akan menurunkan kemiskinan. Peningkatan PDRB perkapita sebesar 1 persen akan menurunkan junlah penduduk miskin sebesar 0,08 persen dengan asumsi ceteris
paribus.
Agar peningkatan PDRB perkapita lebih dirasakan oleh penduduk miskin, maka kebijakan yang seharusnya dilakukan adalah pertama, meningkatkan pertumbuhan sektor-sektor ekonomi dimana sebagian besar penduduk miskin bekerja. Menurut BPS (2008), sebanyak 56,35 persen penduduk miskin
menggantungkan hidupnya pada sektor pertanian. Peningkatan pertumbuhan sektor pertanian dapat dilakukan dengan mengurangi pekerja pertanian yang sudah sangat melimpah dan berupaya mengembangkan usaha agroindustri. Menurut Susilowati (2007), pengembangan usaha agroindustri makanan memiliki pengaruh yang baik dalam meningkatkan pemerataan pendapatan rumahtangga dan besar peranannya dalam meningkatkan penyerapan tenaga kerja. Sementara itu, usaha agroindustri nonmakanan akan berdampak pada peningkatan output, nilai tambah modal dan mengurangi kemiskinan.
Kebijakan kedua adalah mengupayakan peningkatan pendapatan penduduk miskin yang bekerja di luar sektor pertanian. Penduduk miskin yang berprofesi sebagai pengusaha kecil seringkali menghadapi kendala kurangnya modal untuk mengembangkan usaha mereka. Maka dari itu, kemudahan akses kredit ke lembaga keuangan sangat mereka butuhkan untuk mengembangkan usahanya. Usaha yang semakin berkembang dapat meningkatkan pendapatan dan kesehteraan mereka, sehingga hidup dalam kemiskinan tidak mereka alami lagi.
Kebijakan ketiga, pemberian bekal pengetahuan dan keterampilan kepada angkatan kerja sangat penting. Pengetahuan dan keterampilan kerja dapat diberikan melalui training, kursus-kursus dan percobaan-percobaan. Dengan memiliki bekal keterampilan, pekerja dapat meningkatkan produktivitasnya dan bagi pengusaha kecil, hasil dari pelatihan ini dapat dikembangkan dalam usaha mereka.
5.2.2 Rumusan Kebijakan Penanggulangan Kemiskinan di Kawasan Timur Indonesia
Hasil estimasi menunjukkan bahwa penambahan jumlah penduduk di Kawasan Timur Indonesia akan berpengaruh pada penurunan jumlah penduduk miskin. Penambahan jumlah penduduk diharapkan dapat memberikan tambahan input tenaga kerja bagi aktivitas produksi yang ada, menciptakan lapangan kerja yang baru sehingga dapat mengurangi pengangguran dan meningkatkan pembangunan di Indonesia bagian timur.
Penambahan penduduk dibutuhkan karena jika dibandingkan dengan Kawasan Barat Indonesia, maka angka kepadatan penduduk di Kawasan Timur
Indonesia jauh lebih kecil dibandingkan dengan kepadatan penduduk di Kawasan Barat Indonesia. Sumberdaya manusia yang sedikit dan fasilitas publik yang belum memadai membuat sebagian besar daerah masih tertinggal dan sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan. Menurut data BPS (2009), Kawasan Timur Indonesia mempunyai luas wilayah sekitar 67,76 persen dari luas wilayah Indonesia namun hanya dihuni sekitar 19,35 persen dari seluruh penduduk Indonesia. Berikut disajikan gambar angka kepadatan penduduk di Kawasan Timur Indonesia.
Sumber: BPS, 2009 (diolah)
Gambar 24 Angka kepadatan penduduk di Kawasan Timur Indonesia, 2009. Terkait dengan kurangnya sumberdaya manusia di Kawasan Timur Indonesia, maka kebijakan penanggulangan kemiskinan dapat diwujudkan melalui program pemerataan kepadatan penduduk antara Kawasan Barat Indonesia dengan Kawasan Timur Indonesia. Pemerataan penduduk dapat dilakukan dengan cara transmigrasi dari Kawasan Barat Indonesia yang padat penduduk ke Kawasan Timur Indonesia yang jarang penduduk. Diantara duabelas provinsi yang ada di Kawasan Timur Indonesia, ada beberapa provinsi yang menolak untuk dijadikan daerah tujuan transmigrasi. Provinsi Nusa Tenggara Barat, khususnya wilayah Lombok menolak untuk dijadikan daerah transmigrasi karena penduduknya sudah padat. Selain itu, Provinsi Papua juga menolak untuk dijadikan daerah tujuan transmigrasi nasional karena ada kekhawatiran dari penduduk asli akan semakin tersingkir keberadaannya jika penduduk pendatang semakin banyak. Namun demikian, Papua Barat masih mau menerima transmigran pendatang dari berbagai wilayah di Indonesia.
Transmigrasi masih menjadi solusi yang relevan untuk dilaksanakan karena dapat menanggulangi pengangguran dan kemiskinan. Daerah transmigrasi menyediakan lapangan pekerjaan berupa usaha pertanian terutama bagi kelompok penganggur di perdesaan melalui penyediaan aset lahan pertanian, sarana produksi pertanian, pelatihan, pendampingan dan introduksi teknologi. Selanjutnya, memberikan fasilitas kepada eks Pendatang Asing Tanpa Ijin (PATI) untuk mendapatkan tempat tinggal dan kesempatan kerja di kawasan transmigrasi.
Terkait dengan masalah kemiskinan, program transmigrasi memfasilitasi perkembangan masyarakat melalui peningkatan ketersediaan sarana dan prasarana, pemberian bantuan modal dana bergulir dan pendampingan khusus (lembaga keuangan mikro dan pengembangan usaha). Selanjutnya, memfasilitasi pemberdayaan masyarakat transmigrasi melalui pendampingan, penyediaan kebutuhan dasar (kesehatan, pendidikan, bantuan pangan) dan peningkatan kapasitas sosial dan ekonomi.
Luasnya wilayah di Kawasan Timur Indonesia masih memberikan peluang kepada penduduknya untuk berusaha mencari penghasilan di sektor pertanian. Sektor pertanian masih mendominasi perekonomian di Kawasan Timur Indonesia baik dari outputnya maupun tenaga kerjanya. Berdasarkan hasil penelitian, peningkatan pekerja sektor pertanian berpengaruh negatif terhadap jumlah penduduk miskin. Penambahan jumlah tenaga kerja pertanian akan meningkatkan
marginal product of labor pertanian dan akan meningkatkan outputnya sehingga
bisa memberikan tambahan penghasilan bagi masyarakatnya dan kemiskinan akan turun.
Program transmigrasi dapat dijadikan sarana untuk memajukan pembangunan pertanian di Kawasan Timur Indonesia. Sektor pertanian memiliki peranan penting di dalam pembangunan karena sektor tersebut memberikan kontribusi yang sangat besar sebagai sumber pendapatan masyarakat di perdesaan. Peningkatan investasi di sektor ini sangat diperlukan untuk meningkatkan produktivitasnya. Ini berarti akan memberikan hasil pertanian yang lebih besar, harga produk pertanian yang lebih murah dan pendapatan tenaga kerja meningkat sehingga akan mengurangi sebagian besar penduduk miskin, khususnya yang tinggal di daerah perdesaan.
Menanggapi hal tersebut, ada beberapa kebijakan dapat dilakukan antara lain: pertama, meningkatkan produktivitas pertanian. Produktivitas pertanian dapat ditingkatkan dengan bermacam-macam cara, antara lain dengan menambah pekerja pertanian, menambah investasi, mengembangkan teknologi pertanian, pemberian penyuluhan kepada para petani, memberikan kemudahan dalam memperoleh modal dan penyediaan input pertanian dengan harga terjangkau. Untuk membantu petani meningkatkan kesejahteraannya maka kemudahan untuk memasarkan hasil panen dan kebijakan untuk mengatur harga output pertanian dari pemerintah sangat penting sehingga pada musim panen harga output tidak jatuh dan pada saat paceklik harga pangan tidak melonjak tinggi.
Salah satu langkah untuk meningkatkan teknologi pertanian, pemerintah harus siap menyediakan fasilitas yang baik bagi ahli-ahli pertanian agar mereka dapat bekerja lebih optimal dalam mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi di bidang pertanian. Jika ini berhasil, maka keuntungan tidak hanya dirasakan oleh petani saja namun oleh seluruh masyarakat Indonesia. Dengan teknologi tinggi diharapkan biaya bahan baku menjadi murah, keuntungan petani meningkat, upah buruh tani meningkat dan harga bahan pangan menjadi lebih murah. Jika harga murah maka daya beli masyarakat meningkat, kesejahteraan meningkat dan kemiskinan dapat dikurangi.
Selain meningkatkan produktivitas pertanian, daya saing produk juga harus ditingkatkan. Beberapa hasil perkebunan di Kawasan Timur Indonesia menjadi barang ekspor yang banyak disukai oleh negara lain, salah satunya adalah kakao. Kakao merupakan bahan dasar cokelat dan Pulau Sulawesi menjadi daerah penghasil cokelat terbesar di Indonesia. Deptan (2009) mencatat bahwa 65,67 persen produksi kakao di Indonesia dihasilkan dari Pulau Sulawesi. Selain kakao, perkebunan sawit juga dihasilkan di Kawasan Timur Indonesia. Kalimantan Tengah merupakan wilayah penghasil sawit terbesar keempat setelah Riau, Sumatera Utara dan Sumatera Selatan. Selain tanaman perkebunan, sumberdaya laut menjadi kekayaan alam yang melimpah di Kawasan Timur Indonesia. Pengembangan budidaya laut mempunyai prospek yang baik bagi pengentasan kemiskinan terutama penduduk miskin yang bermata pencaharian sebagai nelayan.
Menurut Mardianto (2001), sektor pertanian menjadi sektor yang sangat berperan dalam pembentukan PDRB di Kawasan Timur Indonesia. Pada saat krisis ekonomi melanda Indonesia, sektor pertanian mampu memperkecil dampak krisis ekonomi terhadap perekonomian Kawasan Timur Indonesia. Untuk lebih meningkatkan kinerja sektor pertanian, investasi sektor pertanian sangat diperlukan. Berdasarkan penelitiannya, investasi sektor pertanian memberikan dampak langsung dan tidak langsung terhadap sub sektor pertanian. Dampak langsung maupun tidak langsung diterima oleh subsektor peternakan, perikanan dan kehutanan. Temuan berikutnya adalah komoditas andalan di Kawasan Timur Indonesia meliputi tanaman bahan makanan dan hortikultura, dimana kedua jenis komoditas ini mampu menciptakan nilai tambah dan kesempatan kerja yang tinggi.
Fenomena kemiskinan di Kawasan Timur Indonesia dapat dikatakan sebagai anomali dari faktor resource endowment, dimana kelimpahan sumberdaya alam yang seharusnya dapat menyediakan sumber kehidupan yang lebih baik bagi penduduknya namun sebagian besar penduduknya hidup dalam kemiskinan dan ketertinggalan. Keterbatasan sumberdaya manusia, modal fisik, keterisolasian dan kurangnya akses terhadap pelayanan publik dan infrastruktur menyebabkan peluang-peluang ekonomi menjadi terbatas pula. Maka dari itu, intervensi pemerintah sangat diperlukan terutama dalam membangun sumberdaya manusia yang berkualitas dan membangun infrastruktur yang memadai agar aktivitas ekonomi meningkat dan memberikan kemudahan bagi masyarakat dalam mengakses pelayanan publik.
Menurut World Bank (1994), manfaat pembangunan infrastruktur sangat bsar dalam meningkatkan pertumbuhan ekonomi, pengurangan kemiskinan dan keberlanjutan ekonomi. Semua manfaat itu bisa terwujud hanya jika infrastruktur tersebut mampu memenuhi permintaan secara efektif dan efisien dalam arti bisa memberikan pelayanan yang baik bagi seluruh masyarakat. Namun demikian, di negara berkembang sudah banyak investasi yang dipergunakan untuk membangun infrastruktur akan tetapi kurang maksimal dalam penggunaannya. Beberapa penelitian lain menyebutkan bahwa pembangunan infrastruktur sangat penting untuk mendorong aktivitas ekonomi (Perkins, et al 2005 ; Seetanah, et al 2009).
Sementara itu, beberapa peneliti menyatakan bahwa infrastruktur sangat berperan dalam meningkatkan kesejahteraan masyarakat (social welfare) dan distribusi pendapatan antar wilayah (Akatsuka 1999; Calderon dan Serven 2004).
Terkait dengan peran dominan sektor pertanian pada perekonomian, terdapat hubungan yang erat antara pembangunan infrastruktur dengan peningkatan nilai tambah sektor pertanian. Penelitian tersebut dilakukan oleh Antle dalam Felloni et.al (2001) dengan pendekatan fungsi produksi. Ada beberapa variabel yang secara nyata berpengaruh terhadap pendapatan nasional bruto di sektor pertanian, antara lain lahan pertanian, masyarakat pertanian aktif, konsumsi pupuk kimia, jumlah (stok) hewan, produk nasional bruto dari industri transportasi dan komunikasi per unit lahan yang digunakan sebagai pendekatan infrastruktur.
Dalam mendukung pembangunan ekonomi daerah, maka diperlukan pengembangan kompetensi, intelektualitas dan kreativitas sumberdaya manusia. Untuk mewujudkannya, kebijakan yang dapat dilakukan adalah: pertama, memprioritaskan penduduk untuk menempuh pendidikan dasar dan dilanjutkan pada pendidikan menengah. Kedua, berupaya untuk meningkatkan perekonomian di Kawasan Timur Indonesia dengan memperbanyak lapangan pekerjaan bagi penduduk lulusan PT. Menurut Sitepu (2007), dengan adanya kebijakan peningkatan investasi sumberdaya manusia untuk pendidikan, maka rasio kemiskian, indeks kesenjangan kemiskinan dan indeks intensitas kemiskian di seluruh segmen rumahtangga menurun. Lebih lanjut, dalam meningkatkan kualitas sumberdaya manusia maka kesehatan masyarakat harus senantiasa diperhatikan karena peningkatan kesehatan masyarakat akan menurunkan kemiskinan.
Terkait dengan kesejahteraan pekerja, pemerintah menetapkan upah minimum provinsi yang merupakan hasil kesepakatan antara pengusaha dan serikat buruh. Pengawasan pelaksanaan peraturan upah minimum provinsi harus dilakukan agar tidak terjadi pelanggaran dari perusahaan dalam menggaji karyawannya. Bagi perusahaan yang tidak melaksanakan peraturan ini, maka pemberian sanksi wajib dilakukan.
Yudhoyono (2004) menyatakan bahwa kemiskinan di perdesaan dipengaruhi secara nyata oleh upah. Selain upah, terdapat beberapa variabel lain yang berpengaruh terhadap kemiskinan antara lain pengeluaran pemerintah di sektor pertanian, pertumbuhan ekonomi dan dummy reformasi. Sementara itu kemiskinan di perkotaan dipengaruhi oleh pengeluaran untuk infrastruktur,