BAB III METODE PENELITIAN
G. Rumusan Klasifikasi Konsep Pecahan dan Operasinya
Dalam penelitian ini, peneliti menggunakan klasifikasi konsep yang disusun peneliti berdasarkan materi pecahan yang telah dipaparkan pada bab II. Klasifikasi konsep tersebut digunakan untuk menentukan apakah siswa mengalami kesalahan terkait konsep pecahan dan operasinya atau tidak. Jawaban siswa yang mengalami kesalahan akan di analisis lebih lanjut.
Rumusan klasifikasi konsep pecahan dan operasinya yang akan digunakan, adalah sebagai berikut:
Tabel 3.3:Klasifikasi Konsep Pecahan dan Operasinya
No. Klasifikasi Konsep Pecahan No. soal
Konsep yang digunakan
1. Pengertian bilangan pecahan 1 Dalam matematika (Suwarsono, 2010) * , pecahan dimaknai dalam dua arti, yaitu:
Pecahan sebagai bilangan rasional yang bukan bilangan bulat.
Pecahan sebagai suatu simbol atau cara tertentu untuk menuliskan bilangan real yang bisa berupa pecahan biasa ( b a ), pada pecahan campuran ( c b a ), atau pecahan desimal (a,b1b2b3...).
2. Mengubah bentuk pecahan ke dalam bentuk gambar
4
Pecahan
b a
dapat dinyatakan dalam bentuk gambar. Sebuah gambar dibagi menjadi b bagian yang sama besar, kemudian mengarsir sebanyak a bagian.
Dalam lambang bilangan
b a
, ”a” disebut pembilang yang menunjukkan banyaknya bagian yang diperhatikan dari keseluruhan bagian yang sama dan “b” disebut penyebut yang menunjukkan banyaknya bagian-bagian yang sama dari suatu keseluruhan (utuh).
3. Mengubah bentuk gambar ke dalam bentuk pecahan
7 Pada sebuah gambar yang dibagi menjadi b bagian yang sama besar dan terdapat a bagian yang diarsir, bagian yang diarsir tersebut dapat dinyatakan dalam bentuk pecahan, yaitu
b a
dengan bagian yang diarsir sebagai pembilang dan semua bagian sebagai penyebut.
Dalam lambang bilangan
b a
, ”a” disebut pembilang yang menunjukkan banyaknya bagian yang diperhatikan dari keseluruhan bagian yang sama dan “b” disebut penyebut yang menunjukkan banyaknya bagian-bagian yang sama dari suatu keseluruhan (utuh).
4. Menentukan pecahan yang senilai
6,10 Pecahan senilai adalah pecahan-pecahan yang bernilai sama.
Pecahan senilai dapat ditentukan dengan mengalikan atau membagi pembilang dan penyebut dengan bilangan asli yang sama.
Jika diketahui pecahan
b a dengan 0 b , maka berlaku: m b m a b a atau n b n a b a , dengan m dan n sembarang bilangan asli.
5. Menyederhanakan pecahan 2 Menyederhanakan pecahan berarti mencari pecahan yang lebih sederhana dengan cara membagi pembilang dan penyebut dengan faktor pembagi yang sama yang lebih dari satu.
Dalam menyederhanakan sebarang pecahan b a , dengan b0, berlaku: c b c a b a
, dimana c faktor persekutuan dari a dan b.
Untuk memperoleh pecahan yangpaling sederhana, kita dapat melakukan penyederhanaan dengan menggunakan FPB (faktor persekutuan terbesar). 6. Menentukan hubungan antara
2 pecahan
5 Notasi untuk pecahan senilai ”=”
Notasi kurang dari ”<”
Notasi lebih dari ”>”
Pecahan senama adalah pecahan-pecahan yang penyebutnya sama
Pecahan tak senama adalah pecahan-pecahan yang penyebutnya berbeda.
Pecahan tak senama dapat diubah menjadi pecahan senama dengan cara mencari kelipatan dari penyebut masing-masing pecahan
Untuk membandingkan dua pecahan, perlu diperhatikan besar pembilang dan penyebutnya.
Untuk membandingkan dua pecahan yang penyebutnya sama (pecahan senama), bandingkanlah pembilangnya
Untuk membandingkan dua pecahan tak senama, ubahlah pecahan itu dengan cara menyamakan pembilangannya, kemudian bandingkan pecahan itu dengan melihat penyebutnya
Untuk membandingkan dua pecahan tak senama, dapat pula dengan mengubah pecahan itu ke pecahan senama lalu bandingkan pecahan itu dengan melihat pembilangnya
7. Mengurutkan pecahan 13 Pecahan yang diketahui harus merupakan pecahan senama.
Jika pecahan tak senama, maka langkah awal yang harus dilakukan adalah mengubah pecahan itu menjadi pecahan senama, kemudian melihat urutan pembilang dari pecahan senama tersebut.
Notasi kurang dari ”<” dan lebih dari ”>”
Mengurutkan pecahan secara naik adalah mengurutkan dari kecil ke besar dengan notasi ”<”
Mengurutkan pecahan secara turun adalah mengurutkan dari besar ke kecil dengan notasi ”>”
8. Menentukan dan menggambarkan letak pecahan pada garis bilangan
3, 9 Bentuk garis bilangan
Dalam garis bilangan semakin ke kiri semakin kecil nilai bilangannya, sebaliknya semakin ke kanan semakin besar nilai bilangannya.
Bilangan pecahan terletak di antara dua bilangan bulat.
Jika suatu ruas garis dibagi menjadi a
bagian yang sama panjang, maka panjang setiap bagian adalah seper-a
(
a 1
) bagian dari panjang seluruhnya.
Menggambarkan dua pecahan yang tak senama dalam satu garis bilangan dapat dilakukan dengan mengubah kedua pecahan tersebut menjadi pecahan senama kemudian bandingkan pembilangnya untuk menentukan letak pecahan pada garis bilangan.
9. Menentukan letak pecahan diantara 2 pecahan
11 Pecahan yang diketahui harus merupakan pecahan senama.
Jika pecahan tak senama, maka samakan penyebut dari kedua pecahan. Kemudian, tentukan nilai pecahan yang terletak di antara kedua pecahan tersebut dengan memperhatikan pembilangnya.
Ubah lagi penyebutnya jika belum diperoleh pecahan yang dimaksud dengan cara mengalikan pembilang dan penyebut dengan bilangan yang sama, kecuali satu dan nol.
10. Penjumlahan pecahan 8 Menjumlahkan pecahan-pecahan yang memiliki penyebut sama dapat diperoleh dengan cara menjumlahkan pembilang-pembilangnya, sedangkan penyebut tetap. Dapat ditulis
b c a b c b a , dengan b≠ 0
Jika pecahan-pecahan yang akan dijumlahkan memiliki penyebut yang berbeda, terlebih dahulu disamakan penyebutnya masing-masing.
11. Pengurangan pecahan 14 Pengurangan pecahan yang memiliki penyebut sama dilakukan dengan cara mengurangi pembilangnya saja, sedangkan penyebutnya tetap.
Dapat ditulis b c a b c b a , dengan b≠ 0
Pengurangan pecahan yang berbeda penyebutnya dilakukan dengan menyamakan dahulu penyebutnya masing-masing.
12. Perkalian pecahan 12 Hasil kali pecahan diperoleh dengan cara mengalikan penyebut dengan penyebut dan pembilang dengan pembilang. Dapat ditulis d b c a d c b a dengan b, d ≠ 0
Jika dalam perkalian pecahan terdapat pecahan campuran, maka pecahan campuran harus dinyatakan dahulu menjadi pecahan biasa.
e d c b a c e d c b a ( ) dengan c, e ≠ 0 13. Pembagian pecahan 15
Untuk sembarang pecahan
b a
dan
d c
dengan b ≠ 0 dan d ≠ 0 berlaku: c d b a c d b a c d d c c d b a d c b a d c b a 1 : Pecahan c d
adalah kebalikan dari
d c
.
Jika dalam pembagian pecahan terdapat pecahan campuran, maka pecahan campuran harus dinyatakan dahulu menjadi pecahan biasa.
e d c b a c e d c b a ( ) dengan c, e ≠ 0
Catatan: * Komunikasi lisan Sdr. Basilius Agung Wikaryanto dengan Bpk. St. Suwarsono pada tanggal 13 November 2010.
H. Prosedur Pelaksanaan Penelitian