• Tidak ada hasil yang ditemukan

Berdasarkan hasil analisis data dan pembahasan yang telah di kemukakan di atas, maka dapat dirumuskan rekomendasi sebagai berikut :

Tabel 9. Rekomendasi Intervensi

No Hasil Penelitian Rekomendasi Intervensi 1 Mayoritas responden di Desa

Getas Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul menggunakan obat secara tidak

rasional (81,63%).

Ketidakrasionalan ini paling banyak disebabkan oleh dosis obat yang tidak tepat (42,86%) dan ketidak waspadaan masyarakat terhadap efek samping obat yang digunakan (63,27%).

Perlu adanya suatu promosi penggunaan obat yang rasional dalam bentuk komunikasi, informasi dan edukasi yang efektif serta terus-menerus yang diberikan oleh tenaga kesehatan kepada masyarakat. Edukasi lebih menekankan pada materi tentang dosis dan efek samping obat.

2 Pengetahuan masyarakat Desa Getas terkait DAGUSIBU obat demam tergolong cukup (82,65%). Namun, pengetahuan

Perlu adanya edukasi/seminar untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat tentang DAGUSIBU obat

28 responden tentang cara mendapatkan obat masih tergolong buruk (58,37%).

Mayoritas responden tidak mengetahui jenis logo obat yang terdapat pada kemasan obat.

yang lebih menekankan pada jenis logo obat.

3 Variasi tingkat pendidikan, jumlah penghasilan perbulan per-keluarga, status pernikahan dan tingkat pengetahuan tentang DAGUSIBU obat, memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kerasionalan swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat Desa Getas.

Perlu adanya penyusunan strategi promosi kesehatan terkait penggunaan obat yang rasional dengan mempertimbangkan variasi sosio-demografi masyarakat. Edukasi perlu mempertimbangkan per-kelompok umur, tingkat pendidikan, dan tingkat pengetahuan.

29 BAB V

KESIMPULAN DAN SARAN A. KESIMPULAN

1. Demam yang dialami masyarakat paling banyak disertai dengan gejala lain seperti batuk, flu, dan sakit kepala (74,49%), parasetamol sediaan tunggal maupun kombinasi merupakan obat yang paling banyak digunakan oleh masyarakat (93,88%), dan keluarga merupakan sumber informasi terbanyak dalam melakukan swamedikasi demam (52,04%)

2. Pengetahuan masyarakat Desa Getas terkait DAGUSIBU obat demam tergolong cukup (82,65%)

3. Mayoritas responden di Desa Getas Kecamatan Playen Kabupaten Gunung Kidul menggunakan obat secara tidak rasional (81,63%).

4. Variasi tingkat pendidikan (0,000), status pernikahan (0,040), jumlah penghasilan perbulan perkeluarga (0,000), dan tingkat pegetahuan (0,005) memberikan perbedaan yang signifikan terhadap kerasionalan swamedikasi demam yang dilakukan oleh Desa Getas. Sedangkan variasi umur (0,102), jenis kelamin (0,981), pekerjaan (0,123), dan jumlah anggota keluarga (0,244), tidak memiliki perbedaan yang signifikan terhadap rasionalitas swamedikasi demam.

B. SARAN

1. Dinas Kesehatan Kabupaten Gunung Kidul dapat menindaklanjuti rekomendasi dari hasil penelitian ini.

2. Organisasi IAI dapat berperan aktif dalam kegiatan edukasi peningkatan rasionalitas swamedikasi

3. Peneliti selanjutnya dapat melakukan penelitian lanjutan dengan menganalisis variasi sosio-demografi dan faktor lain yang paling berkontribusi pada kerasionalan swamedikasi demam.

30 REFERENSI

1. Widayati A. Health Seeking Behavior di Kalangan Masyarakat Urban di Kota Yogyakarta. J Farm Sains Dan Komunitas. 2012;9(2):59–65.

2. Restiyono A. Analisis Faktor yang Berpengaruh dalam Swamedikasi Antibiotik pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Kajen Kebupaten Pekalongan. J Promosi Kesehat Indones.

2016;11(1):14.

3. BPS. Badan Pusat Statistik. Statistik Indonesia 2020 [Internet]. 2020. xl + 746 pages.

Available from:

https://www.bps.go.id/publication/2020/02/28/6e654dd717552e82fb3c2ffe/statistik-indonesia--penyediaan-data-untuk-perencanaan-pembangunan.html

4. Wardiyah A, Setiawati S, Setiawan D. Perbandingan Efektifitas Pemberian Kompres Hangat dan Tepidsponge Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Anak yang Mengalami Demam RSUD dr. H. Abdul Moeloek Provinsi Lampung. J Ilmu Keperawatan (Journal Nurs Sci.

2016;4(1):44–56.

5. Kurniati HS. Gambaran Pengetahuan Ibu dan Metode Penanganan Demam Pada Balita di Wilayah Puskesmas Pisangan Kota Tangerang Selatan [Internet]. 2016. Available from:

http://repository.uinjkt.ac.id/dspace/handle/123456789/33032

6. Rahayu, K. Faktor yang Mempengaruhi Perilaku Masyarakat dalam Membeli Obat di Warung. Orphanet J Rare Dis. 2020;21(1):1–9.

7. Fitriah R, Mardiati N, Ilmu T, Lestari KB. Jurnal Farmasi Sains dan Praktis Pengetahuan dan Sikap pada Penggunaan Antibiotik di Kalangan Masyarakat Pedesaan : Studi

Observasional di Kecamatan Cempaka Banjarbaru the Influence of Sociodemographic Factors on Knowledge and Attitudes Abaut the Use of A. 2021;7(1):34–43.

8. Novila EE. Penggunaan Obat Tradisional Untuk Swamedikasi Diare Didesa Plembutan, Playen, Gunungkidul, Yogyakarta. 2020;

9. Muwachidah C, Purwanti S, Sulistyowati E. Tentang Swamedikasi Penyakit Kulit Infeksi Fungi the Identification of Sociodemographic Characteristics and Its Correlation With the Knowledge Level Citizens in Malang on Skin Fungal Infection Self-Medication.

2021;(0341):1–11.

10. Kusuma DPI. Hubungan Faktor Sosiodemografi Dengan Tingkat Pengetahuan Swamedikasi Pada Masyarakat Di Desa Sinduharjo Kabupaten Sleman. 2019;

11. Rashid M, Chhabra M, Kashyap A, Undela K, Gudi SK. Prevalence and Predictors of Self-Medication Practices in India: A Systematic Literature Review and Meta-Analysis. Curr Clin Pharmacol. 2019;15(2):90–101.

12. Kemenkes RI. Modul Penggunaan Obat Rasional Dalam Praktek. Modul Pengguna Obat Rasional. 2011;3–4.

13. Octavia DR. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Swamedikasi yang Rasional di

31 Lamongan. J Surya. 2019;11(03):1–8.

14. Aswad PA, Kharisma Y, Andriane Y, Respati T, Nurhayati E. Pengetahuan dan Perilaku Swamedikasi oleh Ibu-Ibu di Kelurahan Tamansari Kota Bandung. J Integr Kesehat Sains.

2019;1(2):107–13.

15. Harahap NA, Khairunnisa, Tanuwijaya J. Patient Knowledge and Rationality of Self-Medication in three Pharmacies of Panyabungan City, Indonesia. J Sains Farm Klin.

2017;3(2):186–92.

16. Purnamayanti NPD, Artini IGA. Pengaruh Karakteristik Sosiodemografi Terhadap Tingkat Pengetahuan Tentang Swamedikasi OAINS Pada Mahasiswa Universitas Udayana. J Med Udayana. 2020;9(1):12–7.

17. Jayanti M, Arsyad A. Profil Pengetahuan Masyarakat Tentang Pengobatan Mandiri (Swamedikasi) Di Desa Bukaka Kecamatan Kotabunan Kabupaten Bolaang Mongondow Timur. Pharmacon. 2020;9(1):115.

18. Yusrizal. Gambaran Penggunaan Obat Dalam Upaya Swamedikasi Pada Pengunjung Apotek Pandan Kecamatan Jati Agung Kabupaten Lampung Selatan Tahun 2014 The Picture of Medication Use In An Effort Swamedikasi On Visitors Pharmacies Pandan Districts Jati Agung Regency Sout. J Anal Kesehat. 2015;4(1):446–9.

19. Khasanah ery W. Tingkat Pengetahuan Dan Perilaku Masyarakat Terhadap Penggunaan Antibiotik pada Konsumen Apotek Alam Farma di Kecamatan Nusawungu, Kab Cilacap.

Pharm J Islam Pharm. 2019;3(2):1–11.

20. Qommarudin A, Jami’atusholihah IP, Martdina DE, Hermawan IP, Faisal M, Hanifa AR, et al. Profil Pengetahuan Ibu-Ibu Pkk Tentang Penggunaan Obat Antipiretik Secara

Swamedikasi. J Farm Komunitas. 2016;3(1):7–11.

21. Agustini NPD. Tingkat Pengetahuan Ibu Tentang Demam. J Ilm Medicam. 2017;3(1):34–8.

22. Wahyuni A, Diah A. Gambaran Pengetahuan Pasien dalam Swamedikasi Demam di Apotek Utama Handil Bakti Banjarmasin. J Insa Farm Indones. 2018;1(6):51–6.

23. Rafila, Miyarso CS. Tingkat Pengetahuan Swamedikasi dalam Penanganan Demam pada Anak oleh Ibu di RW 5 Dusun Sidoharum Sempor Kebumen. J Ilm Kesehat Keperawatan.

2018;14(1):8–11.

24. Zuzana, Nurmallia AI. Gambaran Pengetahuan Masyarakat dalam Pengobatan Sendiri (Swamedikasi) Terhadap Penyakit Demam di Cilandak Jakarta Selatan. 2021;8:11–7.

25. Asyikin A, Tanri A, Nurisyah N, Wibowo W. Studi Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Penggunaan Obat Influenza Secara Swamedikasi Di Desa Waepute Kecamatan Topoyo Kabupaten Mamuju Tengah Provinsi Sulawesi Barat Tahun 2018. Media Farm.

2019;15(1):56.

26. Sari YK. Gambaran Tingkat Pengetahuan dan Perilaku Masyarakat Tentang Swamedikasi di Rumah Tangga Kecamatan Pakulaman Yogyakarta. 2020;3(2017):54–67. Available from:

http://repositorio.unan.edu.ni/2986/1/5624.pdf

32

27. Riberu YL. Profil Swamedikasi Masyarakat di RT 027 RW 012 Lingkungan Naspanaf Kelurahan Penfui Kota Kupang. 2019;

28. Wardiyah A, Setiawati, Setiawan D. Perbandingan Efektifitas Pemberian Kompres Hangat dan Tepid Sponge Terhadap Penurunan Suhu Tubuh Anak yang Mengalami Demam di Ruang Alamanda Rsud Dr . H . Abdul Moeloek. J Ilmu Keperawatan [Internet].

2016;4(1):44–56. Available from:

https://www.e-journal.unper.ac.id/index.php/PHARMACOSCRIPT/article/view/105

29. Salgado P de O, da Silva LCR, Silva PMA, Chianca TCM. Physical Methods for the Treatment of Fever in Critically Ill Patients: A Randomized Controlled Trial. J Sch Nurs USP. 2016;50(5):823–30.

30. Syahbuki A. Profil pelayanan swamedikasi terhadap kasus diare pada anak di Wilayah Kota Medan. 2018;

31. Barbi E, Marzuillo P, Neri E, Naviglio S, Krauss B. Fever in Children: Pearls and Pitfalls.

Children. 2017;4(9):1–19.

32. Djuria RF. Peningkatan Pengetahuan Tentang Dagusibu Terhadap Kader Gerakan Keluarga Sadar Obat ( Gkso ) Desa Tanjung Gunung Bangka Tengah Increased Knowledge About Dagusibu To Cadres Conscious Family Medicine ( Gkso ) in Tanjung Gunung Village Central Bangka Regency. J Kesehat Poltekkes Pangkalpinang. 2018;6(1).

33. Lambe P, City P, Hamdan DF. Pengetahuan Pasien Terhadap Penerapan Dagusibu Di Pkm Padang Lambe Kota Palopo. 2021;7(2):140–7.

34. Aurianti JI. Hubungan Pengetahuan dan Praktik Terkait Dagusibu pada Ibu PKK Pedukuhan Sumberjo, Desa Ngalang, Gedangsari, Gunung Kidul. Univ Sanata Dharma [Internet].

2020;3(1):1–8. Available from:

http://search.ebscohost.com/login.aspx?direct=true&AuthType=ip,shib&db=bth&AN=9294

8285&site=eds-live&scope=site%0Ahttp://bimpactassessment.net/sites/all/themes/bcorp_impact/pdfs/em_st akeholder_engagement.pdf%0Ahttps://www.glo-bus.com/help/helpFiles/CDJ-Pa

35. Ratnasari. Penyuluhan Dapatkan-Gunakan-Simpan-Buang (DAGUSIBU) Obat. Jces.

2019;3(1):55–61.

36. Yulianto MD. Gambaran Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang DAGUSIBU Obat di Desa Mertoyudan Kecamatan Mertoyudan Kabupaten Magelan. Umm. 2020;1–22.

37. Gili G, Banggo T. Tingkat Pengetahuan Masyarakat Tentang Dagusibu Obat Di Desa Ndetundora iii Kabupaten Ende. Karya Tulis Ilm. 2018;1–47.

38. Rikomah SE. Tingkat Pengetahuan Masyarakat tentang Dagusibu Obat di Kelurahan Tanah Patah Kota Bengkulu. J Penelit Farm Indones. 2021;9(2):51–5.

39. Putera OAM. Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Swamedikasi Batuk Pada Mahasiswa Universitas Islam Negeri Maulana Malik Ibrahim Malang. 2017;1–23.

40. Asnasari L. Hubungan Pengetahuan Tentang Swamedikasi Dengan Pola Penggunaan Obat Pada Masyarakat Dusun Kenaran, Sumberharjo, Prambanan, Sleman, Yogyakarta. Skripsi

33

Fak Farm USD [Internet]. 2017;1–54. Available from:

https://repository.usd.ac.id/16343/2/148114031_full.pdf

41. Tanaem MI. Mariana Imelda Tanaem PO.530333215671. Tingkat Pengetah Masy tentang Swamedikasi di RT02 RW03 Desa Manufui Kec Santian Kabupaten Timor Teng Selatan.

2018;5–8.

42. Anis F. Hubungan Faktor Sosiodemografi Terhadap Tengetahuan Swamedikasi dan Penggunaan Obat Common Cold di Desa Wukirsari Kecamatan Cangkringan Kabupaten Sleman Yogyakarta. 2017;87(1,2):149–200.

43. Narulloh AR. Pengetahuan, Sikap dan Penggunaan Obat Analgetik Pada Masyarakat di Kecamatan Air Putih, Batu Bara, Sumatera Utara. Pap Knowl Towar a Media Hist Doc.

2021;

44. Kemenkes RI. Profil Kesehatan Indonesia. Kementrian Kesehatan Indonesia.

Pusdatin.Kemenkes.Go.Id. 2014. 182 p.

45. Siahaan S, Usia T, Pujiati S, Tarigan IU, Murhandini S. Pengetahuan , Sikap , dan Perilaku Masyarakat dalam Memilih Obat yang Aman di Tiga Provinsi di Indonesia Knowledge , Attitude , and Practice of Communities on Selecting Safe Medicines in Three Provincies in Indonesia Pengawasan Obat dan Makanan ( BPOM ). J Kefarmasian Indones.

2017;7(2):136–45.

46. Thaha, Baharuddin SM. Penyalahgunaan Obat Keras Oleh Buruh Bangunan Di Pergudangan Parangloe Indah Kota Makassar. Media Kesehat Masy [Internet].

2016;12(2):118–26. Available from: https://media.neliti.com/media/publications/212678-penyalahgunaan-obat-keras-oleh-buruh-ban.pdf

47. Sorena E, Slamet S, Sihombing B. Efektifitas Pemberian Kompres Hangat Terhadap Suhu Tubuh Pada Anak Dengan Peningkatan Suhu Tubuh Di Ruang Edelweis Rsud Dr. M.

Yunus Bengkulu. J Vokasi Keperawatan. 2019;2(1):17–24.

48. Zein U. Buku Saku Demam. Vol. 29, Cardiology Clinics. 2012. 289–299 p.

49. Azis F. Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Swamedikasi Demam. J Chem Inf Model [Internet]. 2020;2(1):5–7. Available from:

http://jurnal.globalhealthsciencegroup.com/index.php/JPPP/article/download/83/65%0Ahttp ://www.embase.com/search/results?subaction=viewrecord&from=export&id=L603546864

%5Cnhttp://dx.doi.org/10.1155/2015/420723%0Ahttp://link.springer.com/10.1007/978-3-319-76

50. Dipiro JT, Talbert GC., Yee GR., Matzke BG., Wells LMP. Pharmacotherapy: A Pathophysiology Approach, 10th Edition. Mc-Graw Hill Med. 2017;6007–48.

51. Jozwiak-Bebenista M, Nowak JZ. Paracetamol: Mechanism of action, applications and safety concern. Acta Pol Pharm - Drug Res. 2014;71(1):11–23.

52. Indira S MAN, Artini IGA, Ernawati DK. Pola penggunaan parasetamol atau ibuprofen sebagai obat antipiretik single therapy pada pasien anak. E-Jurnal Med. 2018;7(8):1–13.

53. DIH. Drug Information Handbook. Vol. 148, Book. 2013. 148–162 p.

34

54. Dinkes kalteng. Laporan Kinerja Satuan Kerja 149013 Program Kefarmasian Dan Alat Kesehatan. 2019;(09).

55. Kementrian Kesehatan. Rencana Aksi Dirjen Kefarmasian dan Alat Kesehatan tahun 2020-2024 Kementrian Kesehatan. 2020;1:7–8.

56. Farquharson E, Torres de Mästle C, Yescombe ER. Managing Procurement. How to Engag with Priv Sect Public-Private Partnerships Emerg Mark. 2011;111–31.

57. Wulandari A, Permata, M. A. Hubungan Tingkat Pengetahuan Mahasiswa Farmasi ISTN Terhadap Tindakan Swamedikasi Demam. Sainstech Farma. 2016;9(2):7–11.

58. I. Nurtiana Syafitri, I. Ratna H. LP. Jurnal Farmasi Dan Ilmu Kefarmasian Indonesia Vol. 4 No. 1 Juli 2017 19. Farm Dan Ilmu Kefarmasian Indones. 2017;4(1):19–26.

59. Ardyah C H, Mualimah M. Hubungan Tingkat Pendidikan Terhadap Tingkat Pengetahuan Orangtua Dalam Swamedikasi Demam Pada Anak Menggunakan Obat Parasetamol.

2019;(1).

60. Supriyati. Metode Penelitian Gabungan (Mixed Methods). Widyaiswara BDK. 2015;1–24.

61. Parjaman T, Akhmad D. Pendekatan Penelitian Kombinasi : Sebagai “ Jalan Tengah ” Atas Dikotomi Kuantitatif-Kualitatif. J Moderat [Internet]. 2019;5(4):530–48. Available from:

https://jurnal.unigal.ac.id/index.php/moderat

62. Imran HA. Peran Sampling dan Distribusi Data dalam Penelitian Komunikasi Pendekatan Kuantitatif. 2017;21(1):111–26.

63. Febrianti W. Evaluasi Tingkat Pengetahuan Dan Rasionalitas Swamedikasi Dengan Karakteristik Masyarakat Dusun I Desa Telaga Suka …. iIstitut Kesehat Helv [Internet].

2019;51–2. Available from: http://repository.helvetia.ac.id/id/eprint/2461

64. Rambe. Evaluasi Pengetahuan Dan Rasionalitas Penggunaan Obat Swamedikasi Pada Pasien Yang Berkunjung Ke Apotek Yang Berada Di Kecamatan Medan Baru. Univ sumatera utara. 2020;7–37.

65. Roslin YC. Hubungan Tingkat Pengetahuan Terhadap Perilaku Pembuangan Obat Tidak Terpakai Di Rumah Tangga Di Wilayah Sungai Durian Kecamatan Sintang. Univ Sanata Dharma [Internet]. 2021; Available from: https://emea.mitsubishielectric.com/ar/products-solutions/factory-automation/index.html

66. Yusup F. Uji Validitas dan Reliabilitas Instrumen Penelitian Kuantitatif. J Tarb J Ilm Kependidikan. 2018;7(1):17–23.

67. Faradiba. Penggunaan Aplikasi Spss Untuk Analisis Statistika Program. SEJ (School Educ J [Internet]. 2020;10(1):65–73. Available from:

https://jurnal.unimed.ac.id/2012/index.php/school/article/view/18067

68. Heryana A. Jumlah kelompok Fungsi Syarat data. Univ Esa Unggul. 2020;(May):1–20.

69. TI UII. Modul II ANOVA. Modul II ANOVA. 2013;49.

70. Heriyanto H. Thematic Analysis sebagai Metode Menganalisa Data untuk Penelitian

35 Kualitatif. Anuva. 2018;2(3):317.

71. Oktaviana E, Hidayati IR, Pristianty L. Pengaruh Pengetahuan terhadap Penggunaan Obat Parasetamol yang Rasional dalam Swamedikasi (Studi pada Ibu Rumah Tangga di Desa Sumberpoh Kecamatan Maron Kabupaten Probolinggo). J Farm Dan Ilmu Kefarmasian Indones. 2017;4(2):44.

72. Pratiwi PN, Pristianty L, Noorrizka V. A G, Impian S A. Pengaruh Pengetahuan terhadap Perilaku Swamedikasi Obat Anti-Inflamasi Non-Steroid Oral pada Etnis arab di Surabaya. J Farm Komunitas. 2014;1(2):36–40.

36 LAMPIRAN Lampiran 1. Luaran Berupa Naskah Publikasi

Bukti Accepted Pada Jurnal Majalah Farmaseutik UGM

Gambaran Pengetahuan Masyarakat Tentang Swamedikasi Demam: Kajian Literatur

Knowledge About Self-Medication for Fever Among Community Members: A Literature Review

Melansia Susanti Wolla1, Aris Widayati1

Fakultas Farmasi Universitas Sanata Dharma, Jl. Affandi, Mrican, Caturtunggal, Depok, Sleman, DIY 55281

Corresponding author: Melansia Susanti Wolla: E-mail:

[email protected]

ABSTRAK

Swamedikasi untuk mengatasi demam merupakan tindakan yang lazim di kalangan masyarakat Indonesia. Namun demikian, swamedikasi yang dilakukan oleh masyarakat dapat berpotensi menimbulkan permasalahan terkait penggunaan obat, karena kurangnya pengetahuan masyarakat tentang penyakit yang diderita dan obat yang digunakan, serta bagaimana menggunakannya dengan tepat. Oleh karena itu, kajian literatur ini bertujuan untuk menggambarkan pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi untuk demam.

Penelusuran literatur dilakukan pada data-base Google scholar dan portal Garuda. Kriteria inklusi literatur yang dicari adalah artikel yang dipublikasikan lima tahun terakhir dan yang

37

membahas pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi demam. Terdapat empat literatur yang ditemukan dari pencarian dan memenuhi kriteria inklusi. Hasil kajian terhadap empat literatur menunjukkan bahwa pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi demam termasuk dalam kategori baik dan cukup.

Kata Kunci : pengetahuan, swamedikasi, demam, kajian literatur

ABSTRACT

Self-medication for fever is prevalent among Indonesians. However, self-medication performed by people can potentially cause drug-related problems due to the lack of knowledge about the disease, the medicines used, and how to use them appropriately. This literature review aims to determine knowledge regarding self-medication for fever. The literature items were searched through Google Scholar and Portal Garuda database. The inclusion criteria of the literature searched were published in the last five years and discuss people's knowledge of self-medication for fever. There were four items of literature included in this review. The review found that people's knowledge about self-medication for fever was at good and moderate levels.

Keywords: knowledge, self-medication, fever, literature review

PENDAHULUAN

Seseorang yang merasa sakit akan melakukan upaya untuk mendapatkan kesehatannya kembali salah satunya dengan cara melakukan pengobatan sendiri atau swamedikasi dengan memakai obat-obatan konvensional maupun tradisional [1]. Perilaku swamedikasi di Indonesia cukup tinggi [2]. Alasan masyarakat Indonesia melakukan swamedikasi karena keluhan yang dialami dianggap ringan, jarak yang lebih mudah dijangkau, dan faktor-faktor pendukung lainnya seperti periklanan produk obat, pengalaman mengkonsumsi suatu obat, kondisi ekonomi, riwayat pendidikan dan faktor lingkungan sekitar [3]. Pada penelitian Riset Kesehatan Dasar tahun 2014 terhadap 294.959 rumah tangga mendapatkan 103.860 (35,2%) melakukan penyimpanan obat untuk upaya swamedikasi [4].

Demam merupakan keadaan dimana suhu tubuh mengalami peningkatan [5]. Suhu tubuh normal manusia berkisar antara 36°- 37°C, ketika demam maka suhu tubuh dapat melebihi 37°C [6]. Demam dapat disebabkan oleh infeksi atau terjadi ketidakseimbangan antara produksi panas dan pengeluarannya [7]. Walaupun demikian, demam berperan dalam meningkatkan imunitas spesifik dan nonspesifik untuk membantu pemulihan, pertahanan terhadap infeksi, dan sinyal bahwa tubuh sedang mengalami gangguan kesehatan [5]. Demam adalah alasan mengapa terjadi 15-25% kunjungan pasien di fasilitas pelayanan kesehatan atau unit gawat darurat [8].

Pada pelaksanaanya, swamedikasi bisa menyebabkan masalah terkait obat (Drug Related Problem) karena kurangnya pengetahuan tentang obat dan cara penggunaannya [9]. Swamedikasi seharusnya dilakukan sesuai dengan gejala yang dirasakan.

Swamedikasi yang kurang tepat selain menimbulkan beban untuk pasien, dapat pula

38

menyebabkan masalah kesehatan tertentu yang kurang menguntungkan seperti resistensi obat, efek samping, interaksi obat, bahkan kematian [10].

Tingkat pengetahuan tentang penyakit ringan dan pemilihan obat sangat penting dalam pelaksanaan swamedikasi, agar mendapatkan hasil yang sesuai antara pengobatan dengan gejala yang dialami oleh pasien [11]. Oleh karena itu, kajian literatur ini dilakukan dengan tujuan mengetahui gambaran pengetahuan masyarakat tentang swamedikasi untuk mengatasi demam.

METODE

Kajian literatur ini bersifat konvensional, bukan systematic review atau meta analysis. Metode yang digunakan dalam kajian literatur ini adalah dengan menelusuri pustaka yang membahas tentang gambaran pengetahuan masyarakat terkait swamedikasi demam. Sumber pencarian literatur menggunakan data-base elektronik meliputi Google Scholar dan Portal Garuda. Kata kunci yang digunakan untuk penelusuran yakni:

Pengetahuan, Swamedikasi, dan Demam.

Kriteria inklusi pada penelusuran pustaka ini adalah (1) Artikel dengan terbitan maksimal lima tahun terakhir; (2) Terindeks oleh data-base Google Scholar dan Portal Garuda: (3) Membahas pengetahuan masyarakat indonesia tentang swamedikasi demam.

Dari hasil penelusuran literatur diperoleh sembilan literatur dan terdapat empat literatur yang memenuhi kriteria inklusi. Lima literatur dieklusi karena literatur tersebut tidak dapat diakses naskah lengkapnya, literatur tersebut terbitan lebih dari lima tahun dan literatur tersebut tidak mencantumkan Daftar Pustaka.

Tabel 1 Jumlah literatur Hasil Penelusuran

Jenis DataBase Hasil penelusuran literatur

Literatur yang

Karakteristik Literatur yang dikaji

Terdapat empat literatur tentang pengetahuan swamedikasi untuk demam yang dikaji pada kajian literatur ini. Karakteristik dan ringkasan literatur dapat ditemukan pada Tabel 2.

Tabel 2. Karakteristik Literatur yang dikaji

No. Judul Peneliti Tahun Ringkasan Hasil

1 Gambaran

Pengetahuan Masyarakat dalam

Zuzana dan Nurmallia

2021 Pada literatur ini ditemukan bahwa dari total 220 responden, 46.8%

responden memiliki pengetahuan

39

tentang swamedikasi demam kategori baik, 36.4% memiliki pengetahuan cukup, dan 16,8% memiliki pengetahuan kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p=0,015) dan pendapatan

(p=0,007) dengan tingkat

pengetahuan.

2018 Pada literatur ini disampaikan bahwa dari 145 responden yang membeli obat demam dalam bentuk tablet sebanyak 46,21% memiliki tingkat pengetahuan baik, 37,93% cukup, dan 15,86% kurang. Sejumlah 76 pasien yang membeli obat demam dalam bentuk sediaan syrup memiliki tingkatan pengetahuan baik 36,84%, 51,32% cukup dan 11,84% kurang.

3 Hubungan Tingkat

2016 Literatur ini mengungkapkan bahwa dari 232 responden, 73,7% memiliki tingkat pengetahuan swamedikasi demam kategori baik. Sejumlah 50 responden (21,6%) semester 8 berpengetahuan baik. Terdapat hubungan antara tingkat pengetahuan dengan tindakan swamedikasi demam pada mahasiswa Farmasi ISTN.

4 Tingkat pengetahuan responden tentang swamedikasi demam masuk dalam kategori cukup.

40 Literatur 1: Gambaran Pengetahuan Masyarakat dalam Pengobatan Sendiri (Swamedikasi) Terhadap Penyakit Demam di Cilandak Jakarta Selatan.

Literatur pertama yaitu Zuzana dan Nurmallia (2021), menunjukkan bahwa dari total 220 responden, 46.8%

responden memiliki pengetahuan tentang swamedikasi demam kategori baik, 36.4% memiliki pengetahuan cukup, dan 16,8% memiliki pengetahuan kurang. Terdapat hubungan yang signifikan antara jenis kelamin (p=0,015) dan pendapatan (p=0,007) dengan tingkat pengetahuan [12]. Hal ini sesuai temuan dari Lukovic et al (2014) [13]

yang menjelaskan bahwa salah satu faktor yang mempengaruhi swamedikasi adalah jenis kelamin, dimana perempuan lebih mempertimbangkan biaya pengobatan, serta menganggap pencegahan dan pengobatan menggunakan obat lebih efektif.

Notoadmodjo (2007) mengatakan bila seseorang berpenghasilan cukup besar maka orang tersebut akan lebih mempunyai kesempatan untuk menyediakan atau membeli fasilitas-fasilitas sumber informasi. Jika sumber informasi tersedia maka pengetahuan akan bertambah. Hasil penelitian pada literatur pertama ini memberikan informasi awal bahwa strategi intervensi peningkatan pengetahuan tentang swamedikasi demam seharusnya mempertimbangkan target berdasarkan jenis kelamin dan pendapatan

Literatur 2: Gambaran Pengetahuan Pasien dalam Swamedikasi Demam di Apotek Utama Handil Bakti Banjarmasin.

Pada literatur kedua, Wahyuni dan Astuti (2018) hasil penelitian menunjukkan dari 145 responden yang

membeli obat demam dalam bentuk tablet sebanyak 46,21% memiliki tingkat pengetahuan baik, 37,93% cukup, dan 15,86% kurang. Sejumlah 76 pasien yang membeli obat demam dalam bentuk sediaan sirup memiliki tingkatan pengetahuan baik 36,84%, 51,32%

cukup dan 11,84% kurang [14]. Pasien memilih bentuk sediaan tablet karena harga tablet yang lebih murah dibandingkan dengan yang lainnya.

Selain itu, penggunaan tablet lebih praktis dan dapat dibeli sesuai kebutuhan. Bentuk sediaan sirup kadangkala menjadi alternatif untuk pasien yang susah menelan tablet seperti bayi, anak-anak maupun pasien yang sudah lanjut usia. Temuan pada literatur kedua memberikan petunjuk awal akan pentingnya edukasi tentang bentuk-bentuk sediaan obat (dosage form). Masyarakat perlu mengetahui

Selain itu, penggunaan tablet lebih praktis dan dapat dibeli sesuai kebutuhan. Bentuk sediaan sirup kadangkala menjadi alternatif untuk pasien yang susah menelan tablet seperti bayi, anak-anak maupun pasien yang sudah lanjut usia. Temuan pada literatur kedua memberikan petunjuk awal akan pentingnya edukasi tentang bentuk-bentuk sediaan obat (dosage form). Masyarakat perlu mengetahui

Dokumen terkait